"Ibu meminta kita untuk pergi berkunjung."
Sakura Haruno mengangkat kepalanya selama beberapa saat. Ia mengangguk-angguk beberapa kali sebelum akhirnya kembali memusatkan perhatian pada layar ponselnya.
"Baiklah… kapan?"
"Akhir minggu ini."
"Hari Sabtu...? Hari Minggu aku tidak bisa, ada pemotretan pukul dua." Ujar Sakura pelan.
Kakashi diam-diam menghela napas. Di depannya, pesan singkat dari ibunya yang dikirim beberapa hari lalu masih juga tidak terbalas. Waktu makan siang hampir habis dan dia masih juga belum bisa mencocokkan jadwal mereka agar bisa berkunjung akhir pekan ini.
"Ya... Haruno."
Sakura sudah kembali sibuk menjawab panggilan. Ia memberikan sinyal pada Kakashi lewat tatapan mata, lalu berlalu begitu saja dari hadapannya.
Terkadang Kakashi bingung sendiri kenapa mereka berdua bisa berkencan seperti ini. Tentu saja pada awalnya mereka saling suka—Kakashi sampai-sampai rela untuk menghabiskan jadwal cuti tahunannya demi menemani Sakura pemotretan di luar negeri tahun lalu. Sayangnya, semakin lama mereka bersama, pria itu semakin merasa bahwa Sakura sebenarnya tidak terlalu menikmati waktu-waktu bersamanya.
Kakashi tersentak pelan. Ia cepat-cepat mendekatkan ponsel ke telinga saat sebuah telepon masuk.
"Kakashi..."
"Ibu." Ujarnya sambil tersenyum. "Apa kabar?"
"Baik..." balas Rika Hatake. "Bagaimana denganmu?"
"Tentu saja baik..."
.
.
"Sakura tidak akan datang, Bu, aku lupa memberitahukannya dan dia ada pekerjaan akhir minggu ini. Kuharap Ibu mengerti."
Kakashi mencoba untuk mengalihkan pikirannya dari percakapan siang hari bersama ibunya. Ia berjalan keluar dari lift dengan langkah lesu—lelah bukan hanya karena pekerjaan, tapi juga hubungannya dengan Sakura yang terasa sangat sepi dan monoton—lalu tertegun saat mendapati seseorang tengah berdiri di depan pintu apartment -nya.
"Mitarashi-san?" tanyanya bingung.
Anko Mitarashi sendiri terlihat tidak terlalu senang. Ia menurunkan ponsel dari pandanganya dan bersidekap.
"Dimana Sakura?"
Apa Sakura dan orang-orang di sekitarnya memang sekasar ini? Pikir Kakashi dalam hati.
"Aku tidak tahu. Aku baru saja pulang kerja." Jawab Kakashi jujur. "Kau mau masuk ke dalam?"
"Cih, untuk apa?" Anko mendengus pelan. "Bilang saja pada Sakura bahwa aku akan memotong komisinya enam puluh persen bulan ini. Kontrak pemotretan dengan majalah Blizz sangatlah ketat dan mereka meminta agensi untuk ganti rugi sepenuhnya—semua karena pacarmu itu seenaknya saja membatalkan janji."
Kakashi masih memandangnya dengan tatapan tidak mengerti, tapi Anko sudah keburu balik badan sambil terus menggumam.
"...hanya karena wajahnya cantik, ia kira ia bisa memperlakukan orang lain seenaknya... kalau saja..."
"Ada apa sebenarnya?" gumam Kakashi bingung. Ia menekan pin kunci unit dengan gerakan lambat dan terdiam melihat Sakura berada disana, tertidur di atas sofa.
"Sakura?" panggil Kakashi.
Gadis itu tidak menjawab. Kakashi meletakkan tasnya di atas meja, berjalan mendekat ke arah Sakura dan mencoba untuk membangunkannya. Ketika guncangan halus tidak juga menyadarkan Sakura, tangannya bergerak untuk menyentuh kening gadis itu.
Panas.
"Sakura? Kau baik-baik saja?" tanya Kakashi dengan suara yang lebih keras.
Sakura pada akhirnya membuka mata dan mengangguk. "Ya. Hanya sedikit pusing."
"Tapi suhu tubuhmu tinggi."
"...aku tahu."
"Kau tidak pergi ke rumah sakit?"
"Aku tidak mau."
"Tidak mau?" tanya Kakashi tidak percaya. "Apa kau sedang bercanda?"
Sakura tidak menjawab. Ia juga tidak menolak ketika Kakashi membantunya berdiri dan membawanya ke dalam kamar agar dia bisa beristirahat dengan benar.
Sakura memperhatikan Kakashi yang tanpa banyak bicara langsung masuk ke kamar mandi, meninggalkannya sendirian tanpa kata-kata. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, teringat akan kata-kata yang diucapkan Anko dan beberapa rekan kerjanya saat di tempat pemotretan tadi.
"Lebih baik kita manfaatkan saja Sakura sebelum dia benar-benar berhenti. Aku akan mencari model pengganti sebelum akhir bulan ini."
"Lakukanlah dengan cepat. Aku sudah muak dengan orang bodoh itu."
Saat itu Sakura benar-benar tersulut emosinya. Orang bodoh?! Ia adalah ketua perkumpulan para mahasiswi di kampusnya selama dua tahun penuh! Ia juga mendapat nilai A untuk semua mata kuliahnya di semester satu sampai empat—dan bisa-bisanya mereka memanggil Sakura bodoh?!
"Hei."
Sakura menurunkan kedua telapak tangannya dan mendapati Kakashi berdiri di sebelahnya, dengan handuk tersampir di rambutnya yang masih setengah basah.
"Kau benar-benar sakit, ya? Kenapa kau tidak pergi ke rumah sakit tadi?"
"...tidak bisa." Jawab Sakura sambil memunggungi Kakashi. "Kepalaku terlalu pusing."
"Kenapa tidak menelponku?"
Sakura terdiam selama beberapa saat. Ia merasa Kakashi duduk disebelahnya, tangannya terulur untuk mengusap kepala Sakura.
"Kakashi."
"Hm?"
"Kukira kau sudah tidak menyayangiku."
Kali ini Kakashi yang terdiam. Ia memandangi kepala merah muda di depannya dengan tatapan bingung.
"Kenapa berpikir begitu?"
"...entahlah. Aku hanya merasa kita sudah tidak sedekat dulu. Ada... jarak."
Ternyata bukan hanya aku yang merasa seperti itu, pikir Kakashi dalam hati. Sebenarnya konyol kalau ada orang yang berpikir ia sudah tidak menyayangi Sakura. Ia malahan merasa Sakura yang sebenarnya sedang menghitung hari untuk mengakhiri hubungannya—tapi sepertinya perkirannya itu juga salah saat Sakura menarik dan menggenggam tangannya.
"Aku sangat senang... sepertinya kau masih menyayangiku."
Kakashi memutuskan untuk tidak menjawab. Ia melempar handuknya ke sembarang tempat dan ikut berbaring di sebelah Sakura. Tangannya ia tarik perlahan-lahan dan mendarat di atas pinggang gadis itu, memeluknya dari belakang.
"Kenapa kau tidak pernah mengajakku berbicara lagi?"
"Kau selalu pulang malam, Sakura. Aku tidak mau mengganggu waktu istirahatmu."
"Saat bersamamu—apapun itu, adalah waktu istirahat bagiku."
Kakashi tersenyum kecil. "Anak ini... siapa yang mengajarimu berbicara seperti itu?"
"Hei—" sergah Sakura langsung, membalikkan tubuh hingga hampir saja keningnya bersentuhan dengan kening Kakashi. "Aku tidak asal bicara. Aku—"
Perkataannya terhenti ketika Kakashi mendekatkan wajah dan menciumnya. Setelah sekian lama, pada akhirnya ciuman mereka bukan lagi ciuman singkat di setiap pagi ketika mereka akan berpisah untuk pekerjaan, tapi ciuman yang sama ketika mereka masih berada di fase-fase awal berpacaran dulu.
"Aku tahu." Ujar Kakashi, memberikan ciuman singkat di hidung gadis itu.
Sakura tersenyum kecil. Ia membenamkan diri pada pelukan Kakashi, tidak terlalu mempermasalahkan rambut pria itu yang masih lembab-cenderung-basah.
"Aku sebetulnya penasaran, Sakura." Kakashi angkat suara tiba-tiba. "Mitarashi-san tadi berada di luar apartment dan dia terlihat tidak terlalu senang. Dia terus-terusan berkata tentang kontrak ganti rugi... atau apa, aku lupa."
"Ah, itu." ujar Sakura pelan. "Aku membatalkan pemotretan untuk hari Minggu nanti. Aku juga baru saja mengirimkan surat resign-ku via email."
"Huh? Memangnya kenapa? Kau akan pergi kemana?"
Sakura mengangkat kepalanya. Ia tersenyum lebar.
"Ke Kyoto, bersamamu, akhir minggu ini."
.
.
"Kakashi! Ah, Sakura, kau juga datang!"
Kakashi tersenyum dan memperhatikan Sakura yang berjalan untuk memeluk ibunya. Ia masih mencoba untuk membaca apa yang sebenarnya akan dilakukan gadis itu ke depannya—setelah beberapa hari lalu mengatakan bahwa ia telah mengirimkan surat pengunduran diri.
"Kakashi bilang kau tidak akan bisa datang!"
"Ada beberapa perubahan rencana, Bibi Hatake, jadi aku—"
"Bibi? Panggil aku ibu!"
Sakura dan Kakashi sama-sama tertegun mendengar perkataan polosnya. Tanpa ambil pusing, Rika menarik Sakura masuk ke dalam, meninggalkan Kakashi berdua saja di depan rumah bersama ayahnya.
"Kau terlihat sehat." Ujar Sakumo sambil memeluk putranya. "Selamat datang."
"Selamat tahun baru, ayah."
Kakashi memberikan sebuah kotak beludru hitam ke arah Sakumo. Dengan sebuah senyuman mengembang, pria tua itu menerimanya sambil membawa Kakashi untuk masuk ke dalam rumah.
Sakura dan ibunya sudah terduduk manis di meja makan. Ketika melihat ibunya dengan bersemangat memberikan semangkuk penuh nasi ke arah gadis itu, Kakashi cepat-cepat mengulurkan tangan dan menahannya.
"Kalau kau memang mau kita berpacaran, kau harus bisa menahan diri untuk tidak mencampuri pola makanku. Aku, Kakashi, adalah seorang model. Aku tidak makan nasi. Karbohidrat adalah musuh terbesarku."
"Tidak apa-apa."
Kakashi terdiam saat Sakura dengan lembut menyentuh tangannya, dan dengan cepat menerima mangkuk hijau gelap pemberian Rika.
"Ini adalah kali pertamaku mencicipi makanan Ibu..."
.
.
Bunyi deritan pintu menyadarkan Sakura dari lamunannya. Kakashi datang dan duduk di sebelahnya, ikut memandangi danau hitam di depan mereka yang terlihat begitu tenang dan sedikit menyeramkan.
Sakura menyandarkan kepalanya saat pria itu membawanya dalam pelukan.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Kakashi pelan.
Sakura tidak langsung menjawab. Ia sedang menikmati ketenangan seperti ini—tidak ada bunyi kendaraan yang menganggu waktu istirahatnya, pemandangan danau yang benar-benar menghipnotis, dan juga Kakashi yang berada di sebelahnya.
"Aku akan beristirahat selama dua bulan." Ujar Sakura lirih. "Aku mendapat tawaran kontrak diagensi baru... tapi aku meminta mereka untuk memberikan waktu dua bulan bagiku untuk beristirahat."
Kakashi memandangnya dengan raut khawatir. "Apa kau sedang sakit?"
"Oh, tidak, tidak..." gumam Sakura. "Aku hanya ingin... bisa bersamamu lebih sering lagi."
Kakashi terdiam selama beberapa saat. Entah kenapa, meskipun perkataan Sakura membuatnya senang bukan main, ada sedikit rasa sedih yang muncul di hatinya.
"Kau mencintai pekerjaanmu, Sakura."
"Betul. Tapi aku jauh lebih mencintaimu."
Kakashi menatap perempuan di depannya. Tidak ada seorangpun yang dikenalnya akan menyangka bahwa Sakura Haruno, model yang sedang naik daun sekarang, adalah pacarnya dengan kata-kata semanis tadi. Apa yang dilakukannya di kehidupan masa lalu sampai-sampai hidupnya seperti ini sekarang?
Sakura tersenyum geli.
"Apa-apaan, Hatake? Kenapa bersemu seperti itu?" tanyanya sambil menarik kedua telinga Kakashi. "Telingamu memerah!"
"Aku tidak bersemu, Sakura."
"Kakashi..."
Kakashi tertawa kecil dan menyerah. Mereka berdua pada akhirnya berbaring pada rumput yang lembab karena udara yang terlalu dinging, saling memeluk satu sama lain dalam kegelapan.
Mungkin mereka sempat merasa jenuh dan lelah. Mungkin mereka hanya kurang mengutarakan isi hati masing-masing. Apapun itu, Kakashi dan Sakura bersyukur karena mereka diijinkan untuk saling jatuh cinta... lagi.
