My Family
Naruto by : Masashi Kishimoto
Story by : Awy77Andrian
Warning : OOC, Typo(s), AU, Dsb.
Rated : T
Genre : Family, Drama, Romance
Main Pair : Narusaku (slow)
Mohon maklumi semua kegajean, keanehan dan hal yang tidak masuk akal dalam cerita ini. Bukan tanpa alasan ini disebut Fanfic, kan?
If you don't like don't read
Happy Reading :)
-oOo-
.
.
.
.
.
Angin malam yang berhembus cukup kencang menjadi pelengkap bagi suasana langit mendung dengan tidak terlihatnya 'matahari malam' serta bintang-bintang yang biasanya menyertainya.
Surai lembut berwarna merah muda seorang gadis terayun-ayun akibat ulah dari angin malam yang datang menerpa. Gadis dengan balutan sweater merah muda yang senada dengan warna rambutnya itu berdiri di balkon kamarnya seraya kedua lengannya bersandar pada tembok pembatas dengan jari-jemari yang memegang sebuah cangkir berisi Hot Choccholatte dengan cukup erat. Berharap mendapat kehangatan dari cangkir di tangannya.
'Akan hujan'.
Batinnya. Saat kepala pink-nya menengadah ke atas sesaat guna melihat suramnya langit malam.
Beberapa menit berlalu-
-Dan ia masih betah berada di posisi yang sama.
Whusss...
Angin malam lagi-lagi berhembus tapi kali ini berbeda karena diiringi dengan tetesan air yang jatuh dari langit. Jika kita menganggap suasana suram dan langit yang mendung seakan menggambarkan seseorang yang sedang dalam suasana hati yang buruk dan diselimuti oleh kesedihan, maka kita bisa menganggap air hujan yang turun sebagai air mata yang tidak bisa lagi dibendung.
Pluk!
Setetes air jatuh tepat ke dalam cangkir di tangannya yang masih memiliki isi di dalamnya. Membuatnya menunduk sekilas untuk melihat gelombang yang tercipta lalu menengadahkan kepala berambut merah mudanya ke atas kemudian wajahnya mendapat hadiah dari langit berupa tetesan air, tentu saja.
Setelah beberapa detik kemudian ia menurunkan kepalanya lalu berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Saat akan menggeser pintu kaca balkon ia membiarkan tangan kirinya membawa cangkir dan mengangkat tangan kanannya setinggi wajah putih mulusnya lalu mengusap wajahnya yang basah karena air hujan-karena akibat dari ia mendongakkan kepalanya, lebih tepatnya.
Setelah mengunci pintu kaca balkonnya lalu menutup gorden putih tipis dan di akhiri dengan menutup gorden tebal berwarna abu-abu muda, ia kemudian beranjak mendekati tempat tidurnya.
Saat akan meletakkan cangkirnya ke meja disamping tempat tidurnya netra indah dengan warna hijau emerald itu terpaku pada sebingkai foto kecil tepat disamping miniatur Big ben, bangunan menara jam yang menjadi ikon kota London, Inggris. Benda itu adalah hadiah ulang tahun yang ia minta dari ibunya ketika berusia 8 tahun .
Tangan kanannya terulur menjangkau foto, memegangnya lalu ia dekatkan pada indra penglihatannya.
Terdapat tiga orang dalam foto itu dua perempuan dan satu lelaki. Foto ia dan kedua orangtuanya, orangtua yang mengadopsinya lebih tepatnya.
Matanya terpaku pada sosok lelaki satu-satunya di foto itu kemudian iris emerald-nya menajam dan perlahan salah satu sudut bibirnya terangkat, menciptakan senyum sinis meremehkan di bibir tipisnya.
"Hehh, sungguh sangat setia." Ujarnya dengan suara rendah dan nada sinis yang tak berusaha ia sembunyikan.
Merasa sudah cukup melihat, gadis merah muda itu sedikit membungkuk untuk meletakkan foto itu ke tempat semula tetapi gerakannya terhenti, seakan ragu. Kemudian tangan kirinya meletakkan gelas cangkir yang sedari tadi masih tergenggam nyaman di tangan kirinya ke atas meja lalu ia membuka laci pertama meja mungil itu. Saat tangan kirinya akan membuka laci meja, netra emerald itu kembali melihat foto di tangan kanannya lalu, tangannya terulur untuk meletakan foto itu ke dalam laci.
Tepat saat akan memasukan foto itu ke dalam laci, matanya melihat sebuah kotak kecil berbahan kayu yang dicat berwarna putih dengan ukiran bunga mawar di atasnya sebagai hiasan. Membuat kotak itu terlihat indah dan elegan.
Niatnya untuk meletakan foto ke dalam laci terhenti.
Tangan kirinya bergerak mengambil kotak mungil itu kemudian, ia duduk di tepi tempat tidur. Foto ditangan kanannya ia letakan di atas kasur lalu segera bergerak membuka kotak putih itu.
Tak!
Kotak putih kecil itu terbuka memperlihatkan isi di dalamnya yang ternyata adalah sebuah benda kecil berwarna putih, sebuah gelang rupanya.
Tangan kanannya bergerak mengambil gelang yang terbuat dari emas putih dari dalam kotaknya.
'Gelang ini '.
Ingatannya kembali pada hari dimana ia di adopsi.
.
.
.
Pagi hari di kota kecil Takigakure.
Di sebuah Panti Asuhan tepatnya di salah satu kamarnya terlihat seorang gadis kecil berambut merah muda sedang duduk di kursi belajarnya sambil membaca buku cerita bergambar. Gadis kecil itu tampak serius membaca, matanya terlihat sangat fokus pada buku di mejanya bahkan sesekali keluar decakan halus dari bibir mungilnya dan oh jangan lupakan ekspresi di wajah polosnya yang berubah-ubah dan sesekali terucap komentar dari mulutnya.
"Tuan putri ini hilang dia diculik"
"Hmm rambutnya sangat panjang"
"Aku ingin mempunyai rambut panjang juga"
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ketukan pintu dari luar diikuti oleh suara lembut wanita.
"Sakura-chan..."
Cklek!.
Pintu terbuka.
"Sakura-chan, kau sudah siap? Mereka sudah datang, kemarilah."
Hal itu membuat gadis kecil berambut merah muda itu menghentikan kegiatannya.
Ia menengok ke sumber suara di pintu "Hu'um aku datang Tsubaki-nee." Jawabnya.
Lalu ia menutup bukunya dan menghampiri seorang wanita muda yang menjadi salah satu suster di Panti Asuhan ini.
Tsubaki berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Sakura sambil merapihkan pakaiannya agar tidak tampak kusut "Kau akan hidup dengan baik, mereka akan menjagamu."
"Hu'um"
Tsubaki memegang bahu mungil Sakura lalu tersenyum kemudian berkata "kau anak yang cerdas, mulai sekarang mereka akan menjadi orangtuamu, jadi bertingkah baik dan jangan membuat masalah, mengerti?" Dengan mata berkaca-kaca dan suara yang agak bergetar Tsubaki menyelesaikan kalimatnya.
Gadis kecil menjawab dengan yakin "Aku mengerti."
Tsubaki tersenyum kemudian mencium dahi Sakura "Aku menyayangimu ,Sakura-chan." Setetes airmata jatuh karena gagal ia tahan.
"Jangan menangis Nee-san, jika aku sudah besar aku akan datang menemuimu dan membawakan bunga mawar putih untukmu-." Ujar Sakura dengan semangat seolah sudah menyiapkan rencana itu sebelumnya. Ia tersenyum ceria lalu balas mencium Tsubaki di pipi kanannya seraya melanjutkan "-aku janji."
Mendengarnya, Tsubaki tersenyum hingga matanya menyipit. "Kau harus menepati janjimu, Sakura-chan." Gadis kecil menjawab "Tentu saja."
"Baiklah, ayo kita temui mereka!."
"Ayo!"
Ia berdiri lalu menggandeng tangan mungil Sakura, membimbingnya menemui orangtua barunya. Tanpa sepengetahuan Sakura airmata Tsubaki jatuh lagi tetapi dengan cepat ia menghapusnya.
Mereka berdua hampir sampai di ruang depan, tempat tujuan mereka. Sayup-sayup terdengar suara Nyonya Hotaru pemilik sekaligus pengurus tempat ini.
" Meski agak pendiam dia anak yang cerdas dan mudah diatur, kalian akan menyukainya."
"Kami pasti menyukainya, kami akan merawat dan menjaganya dengan baik, percayalah." Suara lembut seorang wanita mengalun menanggapi ucapan Nyonya Hotaru.
"Itu benar. Percayalah pada kami, Nyonya." Kali ini suara seorang pria.
Suara Nyonya Hotaru kembali terdengar "Kalian sudah membaca biodatanya tetapi belum melihatnya langsung, ketika melihatnya kalian akan teringat salah satu musim-."
Hah?
-Musim Semi." Lanjutnya.
Pasangan suami istri itu tersenyum.
Tak lama kemudia terdengar suara wanita ditelinga mereka.
"Nyonya Hotaru." Ujar Tsubaki. Ia menengok kemudian, melihat Tsubaki datang bersama Sakura.
"Ah!, kemarilah Sakura."
Sakura berjalan mendekati Nyonya Hotaru, Tsubaki mengikuti dibelakangnya.
"Perkenalkan dirimu, Sakura." Pinta Nyonya Hotaru. "Baik." Jawabnya sambil mengangguk.
Ia berdiri di hadapan suami istri itu lalu membungkuk hormat seraya berucap "Perkenalkan, namaku adalah Sakura salam kenal Nyonya, Tuan." Suara khas anak-anaknya terdengar merdu ditelinga mereka.
"Aa manisnya! Salam kenal juga, Sayang." Suara wanita dewasa yang terlihat anggun menanggapinya sambil tersenyum dan memperhatikan Sakura sesaat lalu dengan gestur tubuh yang agak membungkuk mendekati Sakura kemudian mengusap kepalanya. Ia lalu menambahkan "Benar-benar mengingatkanku pada Musim Semi." Lanjutnya tanpa menghilangkan lengkungan di bibirnya.
Suami di sampingnya hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang sudah mulai mengakrabkan diri dengan calon anaknya.
Sakura tersenyum lalu kembali duduk di samping Nyonya Hotaru.
"Sakura dengar-" Suara Nyonya Hotaru terdengar lagi "-Mulai sekarang mereka akan menjadi orangtuamu. Jadilah anak yang baik dan penurut, Mengerti?"
"Aku mengerti"
Ia tersenyum mendengarnya "Bagus."
"Sakura, orangtua barumu adalah..." Ia berbicara sambil menatap Sakura yang duduk di sampingnya lalu tatapannya beralih ke sepasang suami istri di depannya.
"...Tuan dan Nyonya Shimura." Lanjutnya.
Sepasang suami istri itu tersenyum mendengarnya.
Sakura lalu berdiri dari tempat duduknya kemudian membungkuk di hadapan mereka.
"Salam Tuan dan Nyonya Shimura." Ucapnya
Nyonya Shimura tersenyum mendengarnya.
"Salah sayang, kami adalah orangtuamu jadi mulai sekarang kau harus memanggil kami Kaa-san dan Tou-san, mengerti?". Ia berucap sambil berjongkok di depan Sakura lalu "...dan kami akan memanggilmu Sakura-chan, benarkan, Anata?" Sambungnya yang di akhiri dengan meminta persetujuan suaminya. "Tentu saja, Tsuma." Jawab suaminya sambil tersenyum.
Setelah beberapa saat mereka berbincang-bincang tibalah saatnya suami-istri itu akan pergi beserta Sakura, tentunya.
"Sepertinya hari sudah mulai siang kurasa kami harus pergi, terimakasih atas bantuan dan keramahan anda Nyonya Hotaru."
Nyonya Hotaru tersenyum. "Ah ya Baiklah, tunggu sebentar"
"Tsubaki, ambilah barang-barang Sakura." Ia berbicara pada Tsubaki yang berdiri di sampingnya
"Ha'i." Tsubaki
Beberapa saat kemudian Tsubaki datang membawa satu koper berukuran sedang, satu tas hitan dan tas mungil berwarna merah muda.
Ia memberika tas merah muda itu kepada Sakura yang langsung dipakainya. "Terimakasih Tsubaki-nee." Ucapnya. Tsubaki menanggapinya dengan tersenyum.
Sedangkan tas hitam dan koper itu sudah beralih ditangan Danzou Shimura. Ia meletakan kedua barang itu kedalam penyimpanan belakang mobil.
Nyonya Hotaru dan Tsubaki mengantar mereka ke halaman depan.
"Kami akan pergi sekarang Nyonya Hotaru, Tsubaki-san." Ujar Danzou Shimura. Nyonya Hotaru dan Tsubaki mengangguk dan tersenyum.
"Ayo Sakura-chan." Nyonya Shimura aka Hamura memanggil Sakura untuk berada di sisinya.
"Ha'i." Balas Sakura.
Tsubaki berjongkok di depan sakura.
"Jaga dirimu dan jadilah gadis yang cerdas."
"Ha'i." Sakura mengangguk
Lalu ia melanjutkan. "Ingat janjimu, Sakura-chan." Tsubaki tersenyum main-main.
"Akan kuingat dan kutepati Nee-san." Jawabnya.
Cup!. Sakura mencium pipi kanan Tsubaki. "Aku juga akan membawakan kue kesukaanmu Nee-san." Ujarnya.
"Baiklah. Kalau begitu kutunggu bunga dan kue darimu, My Dear." Ucap Tsubaki seraya mencubit gemas pipi lembut Sakura.
"Tentu."
Setelahnya Sakura mendekati Nyonya Hotaru yang berada di samping Tsubaki. Ia sedari tadi memperhatikan interaksi Sakura dan Tsubaki.
"Nyonya Hotaru..." Suara Sakura terdengar.
"Jadilah anak yang penurut dan buatlah mereka bangga padamu." Ujar Nyonya Hotaru seraya tangannya bergerak mengelus kepala Sakura.
"Baik. Terimakasih Nyonya Hotaru." Ia menjawab dengan yakin.
Sakura menghampiri pasangan Shimura yang kini menjadi orangtuanya.
"Baiklah. kami pergi sekarang, Selamat tinggal." Ujar Danzou Shimura.
"Selamat tinggal Nyonya Hotaru, Tsubaki-san." Sang istri mengikuti suaminya mengucapkan perpisahan.
"Ya, Selamat tinggal/selamat tinggal." Jawab Nyonya Hotaru dan Tsubaki sambil tersenyum.
"Sampai jumpa lagi Nee-san, Nyonya Hotaru!." Ucap Sakura saat iya melambaikan tangannya dari dalam mobil dengan kaca pintu yang terbuka setengahnya.
Nyonya Hotaru tersenyum, sedangkan Tsubaki balas melambaikan tangannya. "Sampai jumpa lagi." Tsubaki membalas dengan suara pelan.
"Kau sangat dekat dengannya." Ujar Nyonya Hotaru.
"Dia sudah seperti adik bagiku." Jawab Tsubaki dengan suara yang bergetar dan airmata yang perlahan jatuh. Lalu dengan cepat dihapusnya seraya berkata
"Ah! aku harus membantu suster lain menyiapkan makan siang untuk anak-anak yang lain, permisi Nyonya." Ia melenggang pergi tanpa menunggu jawaban.
Nyonya Hotaru masih memperhatikan mobil yang perlahan menjauh dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Sakura..." Ujarnya dengan nada suara rendah dan pelan seperti bisikan.
Nyonya Hotaru masih berdiri di tempat yang sama bahkan setelah mobil itu tidak terlihat lagi, setelah beberapa menit barulah ia berbalik dan melangkah pergi.
.
.
Di depan sebuah rumah berlantai dua dengan cat putih terdapat sebuah mobil yang baru saja datang.
"Sepertinya dia tertidur."
"Itu wajar. Perjalanan dari Taki ke Konoha cukup jauh." Ujar Sang suami menanggapi istrinya. "Kau bangunkan dia aku akan membawa barang-barang." Lanjutnya. "Baiklah, Anata."
Danzou turun dari mobil lalu menuju bagasi untuk mengambil tas dan koper sedangkan istrinya menuju pintu kursi penumpang untuk membangunkan Sakura.
"Anak yang manis." Ujar Hamura.
Melihat wajah damai Sakura saat tidur membuat Hamura tak tega membangunkannya. Ia melepas sabuk pengaman lalu perlahan tangannya meraih bahu Sakura dari belakang dan satu tangannya lagi ia letakkan di balik lutut, ia menggendongnya seperti gaya pengantin bukan membangunkannya, beruntung tubuh Sakura tak begitu berat untuknya. Sakura sedikit menggeliat tetapi untunglah tidak sampai terbangun. Setelah itu ia menutup pintu menggunakan bahu dan lututnya.
"Kenapa kau menggendongnya?" Tanya Danzou ketika melihat Sakura digendongan istrinya.
"Wajahnya sangat damai dan sepertinya ia kelelahan membuatku tak tega membangunkannya. Aku akan membawanya ke kamar."
"Baiklah, ayo." Ujar Danzou sambil membawa tas hitam dan tangannya yang lain menyeret sebuah koper.
.
.
Hughh...
Perlahan iris hijau emerald itu terbuka dengan kedua tangan yang terangkat ke atas lalu turun ke bawah dengan gerak menyamping, setelahnya ia melihat sekelilingnya dengan heran.
Heh!
'Dimana ini?' Batinnya.
Ia lalu mengingat-ingat. Sesaat kemudian netra emerald itu melebar. Ia ingat bahwa hari ini ia di adopsi oleh pasangan suami istri keluarga Shimura
Kaki mungil itu beranjak turun dari tempat tidur, berjalan menuju pintu. Saat keluar kamar ia sadar ia ada di lantai dua lalu perlahan gadis kecil itu melangkah menuju tangga ke lantai bawah. Tepat di anak tangga ketiga ia berhenti, matanya melihat ke sebuah ruang dimana pasangan Shimura yang sekarang menjadi orangtuanya sedang duduk santai dengan hidangan yang tersaji di atas meja. Ia juga melihat seorang wanita yang berdiri menuangkan air ke dalam gelas.
Hamura tak sengaja melihat ke arah tangga ia melihat Sakura hanya berdiri diam disana.
"Ah Sakura-chan, kau sudah bangun? Kemarilah saatnya makan malam."
Perlahan Sakura turun kearah ruang makan itu.
Ia melihat wanita yang menuangkan air tadi memundurkan kursi untuknya, ia duduk di salah satu sisi meja sedangkan Hamura disisi lainnya lalu di depan Hamura ada Danzou, suaminya. Meja persegi itu berkapasitas 4 orang dengan satu kursi di masing-masing sisinya.
"Sakura-chan dia adalah Koharu ia membantu Kaa-san mengurus rumah ini." Ujar Hamura menjelaskan ketika Sakura memandang Koharu, wanita yang menuangkan air tadi.
Koharu tersenyum "Salam kenal, nona Sakura."
"Salam kenal juga Koharu-san." Balas Sakura.
Koharu tersenyum mendengarnya lalu perlahan meninggalkan ketiga orang disana.
"Sepertinya kau kelelahan, apa kau tidur dengan nyenyak Sakura?" Ucap satu-satunya pria disana, Danzou.
"Umm ya aku tidur nyenyak"
"Dengar Sakura-chan, sekarang kau adalah putri kami putri tunggal kami dan kami adalah orangtuamu jadi kau harus memanggil kami Kaa-san dan Tou-san, kau mengerti kan?" Ujar Hamura, ia mengatakan hal yang sama seperti tadi pagi.
"Hu'um, aku mengerti."
"Kalau begitu panggil aku Kaa-san." Ujar Hamura.
"Ka... Kaa-san." Suara Sakura terdengar agak terbata, ia belum terbiasa.
"Ya! Seperti itu." Seruan senang keluar dari mulut Hotaru yang sekarang menjadi ibunya.
"Lalu panggil suamiku Tou-san."
Pintanya.
Sakura melihat Danzou di depan lalu ia berucap "Tou...-san." Ucapnya. Danzou melihatnya lalu menyunggingkan senyum kecil.
Hamura mengambilkan piring dan memberikan nasi lalu semangkuk kecil sup dan sayur kering serta beberapa lauk di piring Sakura.
"Kau harus makan banyak, kau harus tumbuh dengan sehat." Ujar ibunya.
"Ha'i."
"Sakura, sekarang kau menjadi bagian dari keluarga Shimura jadi ada perubahan dengan namamu." Ujar Danzou sambil menatap Sakura. "Tetapi kami tidak mengubah nama sakura-mu karena itu cocok untukmu kami hanya menambah margamu. Sekarang namamu adalah Sakura Shimura, kau mengerti?" Sambungnya.
"Iya, aku mengerti, Tou-san."
"Bagus,"
Sang ibu yang mendengarkan hanya tersenyum.
.
.
Di sebuah kamar yang cukup luas seorang gadis kecil sedang membuka sebuah lemari untuk mencari piyamanya. Saat makan tadi ibunya berkata bahwa semua barang-barangnya sudah dirapihkan maka ia membuka lemari untuk mencari pakaiannya
Ia ingin mandi, lalu tidur. Usianya memang baru 6 tahun tapi ia sudah bisa mandi sendiri. Ada cukup banyak anak di panti jadi akan merepotkan para suster jika semua anak seusianya masih harus di mandikan. Anak-anak panti di didik untuk mandiri sejak dini termasuk cara mandi yang benar yang mulai di ajarkan ketika mereka berusia 5 tahun.
Ia benar-benar ingin mandi untuk membuat tubuhnya segar sebelum tidur. Setelah sebelumnya ia menyelesaikan membaca buku bergambarnya yang tak sempat selesai ia baca pagi tadi. Beruntung Tsubaki memasukan bukunya kedalam tas merah muda kesayangannya.
Setelah menemukan piyamanya ia menuju kamar mandi yang ada di kamarnya. 'Waa ada kamar mandi di dalam kamar, mereka kaya' batin Sakura saat tahu ada kamar mandi di kamarnya.
Beberapa saat kemudian Sakura keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai piyamanya, ia memakainya di dalam kamar mandi rupanya.
Menggunakan piyama putih dengan gambar bunga sakura ia berjalan menuju tempat tidur. Saat akan naik ke tempat tidur terdengar suara ketukan di pintu.
Tok! tok! tok!
"Sakura-chan, apa kau sudah tidur? Ini Kaa-san."
'Kaa-san?'. Batinnya
" Kaa-san bisa masuk pintunya belum kukunci." Jawabnya. Ia menunggu sambil duduk di tepi kasur.
Ceklek!. Pintu terbuka
Sakura melihat sang ibu berjalan memasuki kamarnya dengan membawa sebuah nampan.
"Ah kau belum tidur rupanya." Ujar ibunya.
"Aku habis mandi Kaa-san, dan baru saja ingin tidur."
Sambil meletakkan nampan itu di meja kecil samping tempat tidur putrinya Hamura bertanya
"Apa kau mandi dengan benar? Apa kau mencuci rambutmu, sayang?" Tanyanya dengan lembut.
"Ya, aku mandi dengan benar. Kami diajarkan cara mandi oleh suster disana dan aku juga mencuci rambutku."
"Rambutmu masih basah, duduklah di sofa itu. Kaa-san akan mengeringkan rambutmu."
Ia menuruti perkataan ibunya untuk duduk di sofa. Ia melihat ibunya menuju lemari dan mengambil kotak kardus dari lemari bagian atas yang ternyata berisi pengering rambut mini berwarna putih. Sepertinya wanita itu benar-benar menyiapkan kebutuhannya dengan cermat.
Hamura mengeringkan rambut sakura dengan cermat.
"Rambutmu sangat lembut dan halus, Sakura-chan." Ucap Hamura. "Kau merawatnya dengan baik." Sambungnya.
"Tsubaki-nee yang mengajariku cara merawatnya " Sakura menjawab dengan riang.
Hamura tersenyum. "Tsubaki? Ah dia suster yang Kaa-san lihat pagi tadi, bukan?" Ia bertanya.
"Benar. Itu Tsubaki-nee."
"Sepertinya kau sangat dekat dengannya." Ia berkata dengan nada cemburu dan wajah manyun yang dibuat-buat.
"Ada beberapa suster disana tapi Tsubaki-nee adalah yang paling dekat denganku." Sakura menjawab dengan jujur. "Dia seperti Neesan bagiku." Ucap Sakura sambil tersenyum.
Mendengarnya Hamura menyunggingkan senyum.
"Sepertinya dia banyak membantumu, temuilah dia saat kau sudah besar nanti." Sakura mengangguk "tentu."
"Ah Kaa-san hampir lupa, Kaa-san membawakan susu untukmu tadi."
Hamura berjalan ke meja kecil di samping kasur Sakura. Mengambil nampan dan berjalan lagi ke arah Sakura di sofa. Ia lalu memberikan segelas susu pada Sakura.
"Minumlah, kau masih muda kalsium baik untuk pertumbuhan tulangmu." Ujar Hamura.
"Hu'um." Sakura meminumnya sampai habis.
Hamura meletakkan nampannya di atas sofa lalu menerima gelas dari Sakura yang telah meminum habis isinya dan meletakannya kembali ke atas nampan, kemudian dia mengambil kotak kecil berwarna putih di atas nampannya tepat disamping gelas susu tadi. Ternyata ia membawa dua barang di nampan itu.
"Sakura-chan, Kaa-san punya hadiah untukmu." Ia memberikan kotak itu kepada Sakura.
"Untukku?" Tanya Sakura
"Tentu. Sekarang kau adalah putriku dan ini akan menjadi hadiah selamat datang dariku."
Sakura menerima kotak putih itu lalu memperhatikan dengan seksama, ia melihat ada ukiran bunga mawar di atasnya.
'Indah'.
"Bukalah," Pinta ibunya.
Ia mengangguk lalu membuka gembok mini tanpa kunci di bagian sampingnya lalu, terdengar bunyi 'Tak' saat ia membuka bagian atasnya.
Ia melihat benda putih di dalamnya lalu mengambilnya, sebuah gelang cantik yang terbuat dari emas putih.
"Indah sekali, Kaa-san." Ujar Sakura dengan pandangan yang tak lepas dari gelang itu.
"Kaa-san sendiri yang mendesain gelang itu, jadi kaa-san sungguh senang jika kau menyukainya."
"Tentu saja aku menyukainya Kaa-san." Seru Sakura dengan wajah berbinar.
"Kalau begitu pakailah."
Sakura lalu memakainya.
"Bagaimana Kaa-san?" Sakura bertanya sambil mengangkat tangan kanannya yang sudah berhiaskan gelang berwarna putih itu. "Sangat cocok." Hamura menjawab dengan senyum lebar. Sakura tersenyum bangga mendengarnya.
"Baiklah, ini sudah jam 9 malam kau harus tidur. Besok kita akan berbelanja kebutuhan sekolahmu, kau akan mulai sekolah tiga hari lagi."
"Sekolah?" Tanya Sakura.
"Iya, apa kau tidak mau sekolah?"
"Aku mau aku mau Kaa-san."
Hamura menggandeng tangan Sakura nenuju tempat tidur lalu Sakura berbaring kemudian ia menyelimutinya.
"Kaa-san, apa di sekolah nanti aku akan memiliki teman?" Tanya Sakura tiba-tiba.
"Tentu sayang, kau pasti akan memiliki teman." Ia menjawab dengan senyum kecil di bibirnya.
Mendengar itu Sakura tersenyum.
Hamura lalu membungkuk untuk mencium kening Sakura seraya berkata "Selamat tidur, Tuan putriku." Kemudian iya menghidupkan lampu tidur yang menempel di tembok tepat 30 sentimeter di atas meja kecil samping kasur.
Setelah itu Hamura berjalan ke arah sofa untuk mengambil nampan dengan gelas di atasnya lalu berjalan keluar kamar, tetapi ia berhenti sesaat di ambang pintu dan mengulurkan tangannya ke samping untuk mematikan lampu utama kamar.
.
.
.
Ctarrr!!!
Suara keras petir menyadarkan Sakura dari kenangan masa lalunya.
Jarinya membelai lembut gelang di tangannya ia melakukan itu selama beberapa saat kemudian, ia memasukan lagi gelang itu ke dalam kotaknya.
Saat ia akan berdiri salah satu tangannya menyentuh bingkai foto. Ia mengambilnya, ah itu foto yang tadi akan ia simpan di laci, foto ia dan kedua orangtua angkatnya.
Sakura berdiri dengan kotak putih kecil di tangan kirinya dan sebuah foto di tangan kanannya. Sakura berjongkok di depan meja kecil berlaci itu kemudian meletakkan kotak kecil di atas meja lalu ia membuka laci meja. Setelah itu tangan kanannya yang memegang foto bergerak untuk meletakkan benda itu kedalam laci tetapi gerakannya berhenti tatkala iris Emerald-nya tak sengaja melihat kotak kecil berwarna putih berisi gelang di atas meja mungil itu.
Tangan kanannya kembali ia tarik lalu matanya menatap foto itu, pandangannya terarah pada satu lelaki di foto itu yaitu Danzou ayah angkatnya. Kemudian matanya bergerak ke samping ke arah seorang wanita dewasa di foto yaitu ibunya, Hamura Shimura. Setelah melihat ibunya pandangannya beralih lagi ke kotak putih di atas meja.
Sakura terdiam sesaat. Lalu tangan kirinya meraih kotak putih itu kemudian meletakannya ke dalam laci sedangkan tangan kanannya terulur lagi ke atas meja, ternyata ia meletakkan foto itu kembali seperti semula.
Gadis merah muda itu berdiri sambil meraih gelas cangkir berisi coklat panas di atas meja lalu berjalan ke arah sofa. Ia duduk lalu meminum coklat panasnya yang sudah tidak panas lagi. Setelah itu ia beranjak dari sofa lalu meletakkan gelasnya di meja kayu kecil di samping sofa dan berjalan menuju kamar mandi. Mungkin ia akan menggosok gigi atau mencuci wajahnya sebelum tidur.
Setelah keluar dari kamar mandi ia menengok ke dinding.
'Hampir jam 3 pagi'.
Kemudian ia berjalan ke arah tempat tidur untuk menghidupkan lampu tidur, setelahnya ia berjalan ke arah pintu keluar untuk mematikan lampu utama kamar lalu kembali ketempat tidur, berbaring, memakai selimut dan bersiap memasuki alam mimpi.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 1 Selesai.
-oOo-
Halo apa kabar??
Semoga baik-baik aja, jaga kesehatan ya.
A/N :
Yeyyy chapter pertama selesai.
Chapter ini didominasi kilas balik Sakura saat di adopsi. Semoga suka.
Untuk mendapatkan notifikasi jika cerita ini di update silahkan di follow ya. di fav juga silahkah :D
Silahkah tinggalkan jejak :)
