Sebelumnya...

.

.

Setelah keluar dari kamar mandi ia menengok ke dinding, melihat jam dinding berwarna putih.

'Hampir jam 3 pagi'

Kemudian ia berjalan ke arah tempat tidur untuk menghidupkan lampu tidur, setelahnya ia berjalan ke arah pintu keluar untuk mematikan lampu utama kamar lalu kembali ketempat tidur, berbaring, memakai selimut dan bersiap memasuki alam mimpi..

.

.

.

.

.

.

--oOo--

My Family

Naruto by : Masashi Kishimoto

Story by : Awy77 Andrian

Warning : OOC, Typo(s), AU, Dsb.

Rated : T

Genre : Family, Drama, Romance

Main Pair : Narusaku (slow)

Mohon maklumi semua kegajean, keanehan dan hal yang tidak masuk akal dalam cerita ini. Bukan tanpa alasan ini disebut Fanfic, bukan?

If you don't like, don't read

Happy reading! :)

--oOo--

.

.

.

.

.

Tok! Tok! Tok!

Suara pintu yang diketuk membuat orang yang sedang tidur terpaksa meninggalkan alam bawah sadarnya.

Ia menggeliat sesaat lalu melakukan peregangan di tempat tidurnya. Perlahan membuka matanya memperlihatkan iris hijau emerald-nya yang cerah meski masih terlihat sayu karena baru terbangun dari tidurnya.

"Nee-san, kau sudah bangun? Sebentar lagi sarapan sudah siap."

Terdengar suara seseorang di depan pintu kamarnya, si pengetuk pintu.

"Nee-san?" Memanggil kakaknya sekali lagi untuk memastikan jika kakaknya sudah terbangun.

"Emmm, masuklah."

Ceklek!.

Pintu dibuka oleh si pengetuk.

Dari sudut pandang si pengetuk terlihatkah sang kakak perempuannya yang masih berada di atas tempat tidur bersandar pada kepala ranjang dengan posisi duduk sambil melanjutkan peregangannya lagi. Gadis itu menengok ke arah pintu kamar, kemudian dari sudut pandangnya terlihatlah seorang pemuda berambut coklat berantakan dan di wajahnya terdapat tato segitiga terbalik berwarna merah tepatnya di kedua pipinya. Remaja itu juga memakai seragam sekolahnya yang jauh dari kata rapih.

"Rapihkan penampilanmu." Ujar sang kakak ketika melihat penampilan adiknya.

Tentu tak salah sang kakak berkata begitu. Pasalnya sang adik berpenampilan urakan. Mari kira urai satu per satu.

Rambut berantakan, tato di wajah, tidak memasukan baju ke dalam celana, kemeja yang tak terkancing, beberapa piercing di telinga juga jas sekolah yang tersampir di bahunya, lalu lengan baju yang dilipat. Ah jangan lupakan dua gigi taringnya itu, Oh Kami-sama!.

Penampilannya sungguh mencerminkan siswa nakal pembuat onar, tipikal murid pecinta hukuman.

Mendengrnya sang adik tersenyum lebar memperlihatkan kedua gigi taringnya dengan jelas. "Nee-san, gigiku memang tumbuh alami seperti ini dan tatoku ini... aku tak tahu jika ini tinta permanen." Ia berkata sambil berjalan masuk ke kamar mendekati sang kakak.

'Bukan dua hal itu yang kumaksud'. Batin Sakura.

Guk! Guk! Guk!

Terdengar suara anjing seakan mendukung si pemuda.

Ternyata ia membangunkan sang kakak di temani oleh anjing putih kesayangannya.

"Ah! Akamaru! Kau masih hidup ternyata."

Pemuda bertaring itu sweatdrop mendengar perkataan kakaknnya.

"Nee-san, apa maksudmu? tentu saja Akamaru masih hidup aku merawatnya dengan baik." Ujarnya setelah bangkit dari sweatdrop nya.

Anjing putih bersih itu meloncat ke atas tempat tidurnya, lalu mendarat di samping paha Sakura. Ia mengelus anjing itu lalu mencium kepalanya.

"Nee-san kau bahkan tidak menciumku sejak kau pulang dan sekarang kau mencium Akamaru." Pemuda bertaring itu berkata dengan tatapan dan nada irinya, Oh demi celana kotak Spongebob ia bahkan iri dengan hewan peliharaannya sendiri.

Sakura mendengus.

Pemuda itu naik ke ranjang lalu tiduran dan meletakkan kepalanya di paha Sakura.

"Jangan bodoh. Aku pulang tadi malam dan baru melihatmu pagi ini, Kiba." Sang adik yang bernama Kiba itu terkekeh mendengarnya.

Tangan Sakura bergerak mengelus kepala sang adik, mungkin berusaha membuat rapih rambutnya. Kiba yang merasakan belaian tangan sang kakak di rambutnya memejamkan mata, ia menikmati belaian tangan kakaknya yang sudah beberapa bulan tak pulang.

Sakura berkuliah di Tokyo. Ia mendapat beasiswa penuh, berterimakasihlah pada otak cerdas dan kerja kerasnya dalam belajar.

"Selamat pagi, Baby boy."

Gadis merah muda mengucapkan selamat pagi pada adiknya seraya mengecup dahinya.

Kiba membuka matanya dan menunjukkan senyum seringainya lalu mambalas ucapan kakaknya. "Selamat pagi, Cherry-nee."

Bahkan setelah membuat kakaknya terbangun, mendapat ucapan selamat pagi, juga mendapat ciuman di dahi. Seonggok makhluk ini tetap tak juga bangkit dari ranjang

"Bangun. Seragammu akan memiliki lipatan jika kau tidur, kau juga harus sekolah."

"Sebentar lagi."

"Kiba, para ibu menunggumu sarapan dan setidaknya beri kakakmu ini waktu untuk mandi."

"Nee-san, kau punya banyak adik aku tidak bisa bermanja-manja padamu jika ada mereka, saat ini aku tak mau berbagi."

Sakura memutar bola matanya

'Astaga. beberapa saat yang lalu ia iri pada peliharaannya dan sekarang pada saudara-saudaranya'. Batin Sakura.

Melihat sang adik tak juga bangkit dari tempat tidurnya membuat Sakura menghela nafas dalam hati. Ia memandang adiknya yang masih menutup matanya. Melihat rambut coklat berantakannya yang malah membuatnya terlihat keren bukannya kumuh, rahang tegas adiknya hidung mancungnya yang mempunyai daya penciuman tajam, mungkinkah tertular oleh Akamaru? Mungkin saja, siapa yang tahu. Kemudian alis menukik yang menawan juga tato di pipinya itu, Oh Kami-sama, bagaimana bisa tato segitiga merah yang dibuat karena iseng itu terlihat artistik di wajah adiknya ini. Ah jangan lupakan bibir tipis yang sering menunjukkan seringai anjingnya itu. Ahh adik ketiganya ini memang tampan.

Ketiga? Tentu saja ketiga. Ingat, tadi Kiba berkata bahwa kakaknya ini mempunyai banyak adik, kan?

Tatapan Sakura terpaku pada telinga sang adik. Telinga itu memiliki beberapa Pierching yang seingat Sakura jumlahnya bertambah sejak terakhir kali ia melihatnya. Ia ingat terakhir kali adiknya itu hanya mempunyai dua pierching di masing-masing telinganya. Tetapi sekarang lihatlah, ada sembilan pierching di telinga kiri adiknya dan oh apa benda panjang melintang yang menembus daun telinga itu. Karena baru saja adiknya itu memiringkan kepalanya menghadap kakinya maka ia hanya bisa melihat telinga kirinya saja. Jika telinga kanannya memiliki pierching dalam jumlah yang sama maka totalnya ada 20 benda di kedua telinga adiknya itu, Oh Ya Lord.

Ia bahkan hanya tidak pulang selama beberapa bulan saja!

Bagaimana jika ia tidak pulang selama bertahun-tahun? Akankan ia masih bisa melihat daging telinga adiknya itu? Hanya Kami-sama yang tahu.

Tangan lentik Sakura bergerak menuju telinga adiknya. Ia menyentuh benda di telinga adiknya itu, mengelusnya perlahan. "Kurangi jumlahnya. Ini terlalu banyak."

"Emm" Gumam adiknya.

"Kiba, bangulah." Tak ada tanggapan.

"Ini hari terakhir sekolah dalam sepekan. Setelah kalian pulang kita akan pergi ke kebun pohon sakura di tepi kota lalu kita akan menginap disana."

Sang adik terlihat tertarik. Terbukti dengan mata yang terbuka dan wajah yang langsung menghadap ke atas tepat melihat wajah kakaknya. Memastikan kalau kalau kakaknya berbohong. "Benarkah?" Ujarnya.

Kiba memang sangat menyukai alam dan musim panas adalah musim favoritnya, itu terlihat dari kulitnya yang tidak seputih saudara-saudaranya yang lain dimana sebagian besar saudaranya mempunyai kulit putih pucat.

"Apa aku pernah berbohong padamu?"

Kiba terdiam.

'Memang tidak, tetapi kau tertutup pada kami'

"Apakah semua akan ikut? Bisakah aku membawa Akamaru juga?"

"Tentu. Ya kau bisa membawanya."

Sakura memegang pipi Kiba seraya menariknya pelan. Lalu berkata "Sekarang bangun dan turunlah para ibu dan saudara-saudaramu sudah menunggu di bawah." Kiba hanya meringis. "Dan beri kakakmu waktu untuk membersihkan diri, aku akan segera menyusul." Lanjutnya.

"Baiklah baiklah." Ia duduk dengan tangan yang mengelus pipinya.

Sakura bangkit dari kasur lalu berjalan ke arah jendela untuk membuka gorden dua lapis itu. Mempersilahkan sinar matahari pagi menerangi kamarnya.

Ia lalu membuka jendela di sisi lain dan membiarkan udara kamarnya berganti. Tak lupa bahwa sebelumnya ia mematikan Air Conditioner terlebih dahulu.

"Bawa Akamaru, aku tak mau ia buang kotoran di ranjangku."

Dilangkahnya yang ke tiga Kiba berhenti saat mendengar perkataan Sakura. Ia berbalik lalu menyampirkan jas sekolah dari tangannya ke bahu, kemudian menggendong bola bulu warna putih alias Akamaru di tangannya. Entah kenapa ia melupakannya, apakah ia masih merasa iri tentang ciuman tadi? Atau karena terlalu senang karena akan pergi berkemah bersama semuanya jadi ia melupakan Akamaru? Hanya dia yang bisa menjawabnya.

"Hahh baiklah. Ayo Akamaru kita turun dan makan."

Setelah Kiba keluar dari kamarnya Sakura segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Tetapi ia tak membawa pakaian ganti, mungkin hanya ingin mencuci wajah dan menggosok gigi.

.

xXx My Family xXx

.

Langkah Sakura terhenti saat akan menuruni tangga seperti saat ia pertama kali datang ke rumah ini, hanya saja saat itu ia berhenti di anak tangga ketiga tetapi sekarang ia berhenti sebelum menginjak anak tangga yang pertama.

Jika saat itu ia berhenti karena melihat pasangan Shimura yang duduk santai menunggunya bergabung bersama untuk menikmati makan malam serta melihat seorang wanita yang menuang air ke dalam gelas. Maka saat ini ia melihat banyak orang di ruang makan itu. Ruang makan itu yang dulu terlihat tenang dan terasa damai sekarang tampak begitu hidup dengan banyaknya orang yang ada disana.

Meja makan yang dulu berbentuk segi empat dengan satu kursi di setiap sisinya yang bahkan masih tersisa satu kursi setelah ia dan kedua orangtuanya duduk sekarang berubah menjadi meja persegi panjang dengan banyak tempat duduk yang tersedia.

Gadis berambut merah muda yang masih nyaman berdiri di ujung tangga itu mengedarkan pandangannya ke ruang makan, memperhatikan orang-orang yang ada disana.

Pertama tatapannya terpaku pada seorang wanita paruh baya berambut lavender sepunggung dan berkulit putih pucat yang sedang mendorong troli makanan dari arah dapur menuju ruang makan dan dia segera dibantu memindahkan makanan dari troli ke meja oleh seorang wanita paruh baya berambut coklat bertubuh kurus dengan senyum cerah di wajahnya. Wanita pertama adalah Hikari Shimura dan yang kedua adalah Ayame Shimura. Mereka adalah dua dari lima ibu yang ada di rumah ini.

Iris hijau emerald itu beralih ke sekitar meja makan lalu matanya melihat seorang wanita berambut blonde sebahu dengan rambut bagian bawahnya yang dipotong sangat rapi dan jangan lupa body-nya yang sexy dan kulit putihnya yang bersih. Tetapi ekspresi wajahnya yang tenang membuat orang berpikir ulang jika akan berniat buruk padanya. Wanita bernama Samui Shimura itu sedang membagikan piring pada para remaja disana.

Tak lama kemudian datang seorang wanita bersurai hitam panjang dari arah dapur membawa beberapa sendok dan pisau buah. Mungkin di meja jumlah sendoknya kurang dan ia barusaja mengambilnya dari lemari dapur.

Wanita berambut hitam legam dan berkulit pucat dengan nama Megumi Shimura itu memberikan pisau buah di tangannya kepada wanita bersurai panjang berwarna merah menyala yang sedang berdiri di sudut meja dengan mangkuk yang cukup besar berisi buah-buahan. Ia menerima pisau buah itu lalu mulai mengupas buah dan memotongnya menjadi beberapa bagian. Wanita berambut merah ini bernama Tayuya Shimura.

Kelima wanita inilah yang disebut sebagai 'para ibu' oleh Sakura tadi pagi ketika ia bersama Kiba.

Tidak ada Hamura Shimura di antara mereka. Lalu dimanakan ia? Dia Nyonya Shimura di rumah ini, bukan? Istri dari Danzou Shimura dan wanita yang mengadopsi Sakura ketika ia berusia 6 tahun. Wanita yang memberinya hadiah selamat datang, wanita yang menunggunya bergabung makan malam, wanita yang mengeringkan rambutnya, wanita yang sering mengajaknya ke taman bermain, wanita yang memintanya memanggil 'Ibu', wanita yang membelikannya banyak gaun yang indah dan buku cerita, wanita yang mengajarinya berhitung, wanita yang membuatkan kue kusukaannya, wanita yang memberinya hadiah saat ia berulang tahun. Dan masih banyak lagi yang dilakukan wanita itu. Wanita yang anggun, cerdas, dan penuh kasih sayang. Ah jangan lupa ia juga istri yang setia.

Sosok wanita hebat bernama Hamura Shimura itu mungkin sekarang sedang melihat Sakura dari atas sana karena gadis kecilnya sekarang tumbuh menjadi gadis yang sehat cerdas dan cantik. Setiap malam ibunya itu selalu memberinya susu hangat ia berharap putrinya tumbuh tinggi, sehat dan pintar.

Sekarang harapannya sudah terpenuhi. Sakura tumbuh dengan fisik yang sehat. Otak yang pintar, tentu saja ia pintar jika tidak bagaimana ia mendapatkan beasiswa penuh di Universitas Tokyo dan menjadi salah satu mahasiswa fakultas kedokteran? Pertumbuhan tulang yang bagus dan tumbuh tinggi, ini juga terpenuhi. Sakura menjadi gadis dengan tinggi semampai ia juga lebih tinggi dari gadis Jepang pada umumnya. Bahkan tak jarang ia bertemu pria dengan tinggi yang tak jauh berbeda dengannya terkadang malah ada yang lebih pendek darinya. Entah ia harus senang atau sedih dengan tingginya ini.

Seorang ibu yang harapan dan do'anya pada sang anak tepenuhi pasti akan tersenyum senang dan merasa bangga, bukan?

Maka saat ini ibunya di atas sana pasti bangga padanya.

Wanita hebat bagi Sakura, ibu terbaik baginya, dan seorang istri yang sempurna bagi suaminya itu kini sudah bahagia di surga. Wanita menawan dan mempesona itu sudah berpulang pada Sang Pencipta saat Sakura berusia sembilan tahun. Tiga tahun ia menghabiskan waktu bersama ibu tersayangnya itu, membuat kenangan indah dan menyenangkan. Hingga akhirnya insiden lalu lintas mengakibatkan nyawa ibunya tak bisa di selamatkan.

Melihat kelima wanita yang kini menjadi ibunya dan teringat pada ibu Hamura-nya membuat mata Sakura berkaca-kaca.

'Kaa-san, kau ibu pertamaku tetapi kau pergi begitu cepat, sekarang aku mempunyai ibu baru lagi bahkan ada lima. Kaa-san beritahu aku, haruskah aku merasa sedih atau senang dengan kedatangan mereka disini?

Batin Sakura dengan mata yang masih memperhatikan kelima wanita itu. Lalu setes air mata jatuh dari iris emerald-nya.

Tangannya bergerak cepat menghapus airmatanya.

Menarik nafas sejenak lalu mulai menuruni tangga. Saat menuruni tangga sayup-sayup terdengar suara dari ruang makan.

"Kaa-san, apa biskuit coklatnya masih ada lagi? Sepertinya Akamaru masih ingin memakannya." Suara remaja laki-laki yang tadi membangunkannya-Kiba, terdengar di telinganya.

Pemuda itu sedang berjongkok di samping meja makan sembari memberi makan biskuit pada anjing kesayangannya, Akamaru.

"Berhentilah memberinya biskuit, kau membuat makanan anjing yang dibeli Kaa-san sia-sia, bodoh." Suara berisik seorang gadis menanggapi pertanyaan Kiba.

"Diam kau iblis merah! aku tidak bertanya padamu."

"Hei! Sopanlah sedikit, aku ini kakakmu, bodoh."

"Kalau begitu berhenti menyebutku bodoh."

"Kau memang bodoh, kau tahu itu."

"Kau pun tidak lebih pintar dariku, Dasar rambut aneh." Ujar Kiba sambil memandang sisi samping rambut gadis berkacamata itu yang memiliki potongan acak.

"Apa kau bilang! Ini style bukan aneh! Heh orang bodah tak akan mengerti!"

"Pertengkaran konyol dari dua orang bodoh." Sebuah suara yang terdengar pelan namun masih bisa didengar dengan jelas mengalun dengan tenang.

Dua remaja perempuan yang juga mendengarnya terkikik geli, sedangkan satu remaja laki-laki lainnya tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya ketika mereka memperhatikan ketiga orang itu.

Bahkan lima ibu disana hanya menghela nafas dan memandang mereka dengan bosan.

"KAU!/KAU! Dasa-" Kiba dan gadis berisik itu memberi pandangan mematikan kepada si pengucap.

"Sudah-sudah jangan ribut, ada di dapur di dalam lemari atas paling ujung sebelah kiri, biskuit yang kau cari ada disana, Kiba-kun."

Suara lembut seorang wanita melerai adu argumen para remaja yang jika tidak di lerai kemungkinan akan berlangsung hingga besok.

"Hikari Kaa-san yang terbaik." Ujar Kiba penuh semangat. Kekesalannya menguap begitu saja mendengar kalimat terakhir salah satu ibunya dan dengan segera menuju tempat biskuit berada.

Gadis yang disebut iblis merah itu mendengus lalu menghempaskan bokongnya ke kursi makan. Yah tadi ia sedang membagikan buah yang sudah dipotong dan dikupas oleh Tayuya Kaa-san nya kemasing-masing orang disana.

Sakura melangkah semakin dekat ke ruang makan itu.

"Selamat pagi, semua..." Ujar Sakura saat jaraknya denga ruang makan sedikit lagi.

Orang-orang di tempat itu serempak menengok ke arah Sakura. Tersenyum lalu membalas salamnya.

"Selamat pagi Sakura-chan/Nee-san/Nee-chan."

"Nee-chan, benarkah kau sampai rumah tadi malam? Kenapa tidak membangunkanku? Aku ingin tidur bersamamu." Ujar seorang remaja perempuan bersurai coklat panjang dengan semangat.

"Kau sudah tidur dengan nyenyak dan kakakmu itu pasti lelah ia juga butuh istirahat Hanabi-chan."

Wanita berambut pirang sebahu lebih dulu menjawab pertanyaan gadis bersurai coklat aka Hanabi sebelum Sakura membuka suara.

"Tidak ada diantara kalian yang masih terbangun saat kakak kalian pulang." Ujar ibu berambut merah terang, Tayuya.

Sakura berjalan mendekati Hanabi, adik bungsunya ah sebenarnya ia mempunyai adik bungsu kembar. Lihatlah gadis yang ada disamping Hanabi itu wajahnya bak pinang di belah dua, benar-benar seperti duplikat sempurna. hanya saja yang berbeda adalah warna rambutnya. Rambut Hanabi berwarna coklat seperti latte sedangkan kembarannya berambut lavender seperti ibu kandungnya.

Hanabi lahir 7 menit setelah kakak kembarnya, Hinata. Mereka berdua adalah yang termuda dirumah ini.

Ia menepuk pelan kepala gadis kembar itu. Membuat Hanabi tersenyum ceria dan Hinata melebarkan senyum manisnya lalu mendongakkan kepalanya melihat kakaknya.

Membuat Sakura gemas ketika melihat rona merah muda tipis di pipinya. Ia mencubit gemas pipi adiknya itu. "Ah Nee-chan juga membawa oleh-oleh untukmu."

"Apakah untukku juga ada, Nee-san?" Tanya gadis berambut merah yang disebut Iblis Merah oleh Kiba. Gadis bersurai merah dan memakai kacamata itu bernama Karin.

Belum sempat Sakura menjawab, suara Kiba terdengar.

Pemuda itu datang dari arah dapur sembari membawa sesuatu di tangannya yang jika dilihat baik-baik maka kita akan tahu bahwa itu adalah sebungkus biskuit coklat.

"Nee-san! Kenapa kau tidak memberiku oleh-oleh saat aku membangunkanmu?"

"Dasar Payah! Tanpa bertanyapun harusnya kalian tahu kalau Nee-san hanya membawa oleh-oleh untuk Hanabi-chan dan Hinata-chan saja, benarkan Nii-san?" Ujar gadis yang tadi berhasil membuat Kiba dan Karin kesal secara bersamaan. Di akhir kalimat dia bahkan meminta dukungan kakak laki-lakinya yang sedari tadi hanya diam memperhatikan dan juga sesekali tersenyum dan menggeleng geli melihat tingkah adik-adiknya.

"Tentu saja, Shion-chan."

Mendengar perkataan Shion sudah membuat si taring dan si kacamata naik darah ditambah dukungan atas kalimat itu membuat mereka makin kesal.

"Kenapa kau setuju dengan gadis hantu itu, Nii-san?" Kiba bertanya.

Yahhh Kiba menyebut Shion gadis hantu karena gadis itu suka membaca novel horor, bahkan mungkin dia tahu dan hapal semua nama hantu di Jepang. Gadis berambut pirang pucat itu juga tertarik pada hal-hal supranatural beserta makhluk-makhluknya.

Oh Kami-sama! Gadis cantik bertubuh mungil dengan selera seperti itu, orang-orang pasti tidak akan percaya.

Selagi mereka membahas oleh-oleh itu Sakura berjalan ke sudut meja tempatnya duduk.

Meja itu berbentuk persegi panjang. Dengan lima kursi di sisi kiri dan lima kursi juga di sisi kanan lalu masing-masing satu kursi di dua sisi lainnya. Lima ibu akan duduk di lima kursi sisi kanan lalu lima kursi lainnya adalah kursi untuk si kembar, Shion, Karin dan Kiba. Lalu dua sudut ujung di tempati oleh Sakura dan adik laki-laki lainnya yang sangat tampan juga manis ia berambut hitam legam, berkulit putih pucat dan mempunyai bulu mata yang sangat lentik, terlihat indah. Pemuda itu bernama Shisui Shimura, adik pertama Sakura.

Sakura mempunyai enam orang adik. Adik pertamanya adalah Shisui yang usianya lebih muda satu tahun darinya. Lalu ada Karin sebagai adik kedua dan pemuda bertato dengan rambut coklat berantakannya yang menjadi adik ketiga lalu yang keempat adalah gadis dengan mulut tajam yaitu Shion, mereka bertiga lahir di tahun yang sama tetapi di bulan yang berbeda, ya mereka bertiga seumur, dan lebih muda dua tahun dari Sakura. Lalu terakhir ada adik ke lima dan ke enamnya yaitu si kembar bersurai panjang, Hinata dan Hanabi. Mereka berdua satu tahun lebih muda daripada ketiga kakaknya yang seumur.

Para Ibu-lah yang menentukan tempat duduknya. Mereka beranggapan bahwa kelima anak didepan mereka ini perlu di perhatikan asupan makannya. Jangan sampai mereka menyingkirkan sayuran sehat di piring mereka dan hanya memakan makanan kesukaannya saja. Jika mereka duduk di depannya para ibu akan lebih mudah mengawasinya. Mereka masih muda dan masih bertumbuh, tentu makanan yang dikonsumsi harus benar.

Sedangkan kedua anak yang duduk di dua sisi meja lainnya yaitu Sakura dam Shisui. Sebagai dua orang yang tertua tentu harus memberi contoh yang baik, bukan? Karena itulah para ibu tak menghawatirkan pola makan keduanya. Tentusaja mereka tak perlu khawatir. Lihatlah putri pertama mereka Sakura, ia tinggi, sehat dan juga pintar. Kehidupannya di Panti saat kecil yang ketat dan pola hidup sehat Hamura Kaa-san nya membuat ia mengerti apa yang terbaik bagi tubuhnya. Ah adik lelakinya juga tentu tahu apa yang baik dikonsumsi dan apa yang tidak. Itu terlihat dari tubuhnya yang tampak gagah, dada yang terlihat bidang, dan bahu yang terlihat lebar. Sepertinya ia juga rajin berolahraga. Tubuhnya seperti tubuh impian para pemuda.

"Yang kau sebut gadis hantu itu adalah adikmu, Kiba-kun." Ujar Shisui.

Karin mendengus kesal. "Dia bahkan tak memanggil kami dengan benar, Nii-san."

"Shion-chan, perbaiki tata bahasamu. Mereka kakakmu, bukan?"

Shisui menegur ketiga adiknya.

Mendengarnya Shion mengangguk kecil.

Para ibu yang melihat kelakuan anak-anaknya dipagi hari hanya tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya. Sepertinya keributan dipagi hari saat waktu makan sudah biasa bagi mereka.

Sakura yang melihat para adiknya sedari tadi hanya melanjutkan kegiatan memakan buahnya.

Ia lalu menatap Kiba "Berikan biskuit itu pada Akamaru lalu duduklah, Kiba."

Pemuda itu masih berdiri dengan sebungkus biskuit di tangannya.

"Sakura-chan benar, Cepatlah sarapan. Kalian akan terlambat ke sekolah nanti." Ujar Megumi, ibu berambut hitam panjang itu mengingatkan mereka jika mereka masih harus sekolah setelah sarapan.

"Benar, ayo mulai sarapannya." Ujar ibu berambut coklat yang sedikit ikal, Ayame Kaa-san.

Kemudian semua duduk di kursi masing-masing. Makanan untuk sarapan juga sudah siap untuk disantap.

Mereka terlihat sangat menikmati makanannya. Itu terlihat dari ekspresi mereka yang cerah. Para ibu yang melihat anaknya makan dengan lahap tersenyum senang.

Pandangan Sakura melihat ke arah lima ibu yang tersenyum senang kemudia ia beralih melihat kelima adiknya yang terlihat menikmati makanannya masing-masing, tak lupa ia juga melihat ke arah adik pertamanya yang meski duduk di depannya, mereka memiliki jarak yang cukup jauh.

Sekarang Sakura mempunyai banyak anggota keluarga, enam adik dan lima ibu terhitung banyak, bukan?

Melihat sebelas orang di meja itu membuatnya teringat pada Panti Asuhan tempat tinggalnya dulu, sepertinya dia harus mengunjungi mereka. Ia sudah besar dan lagipula masih ada janji yang perlu ia tepati, bukan?. Saat ini dia mempunyai banyak anggota keluarga seperti saat di Panti meski tak sebanyak disana tetapi ini tentu lebih banyak dari pada saat ia masih bersama ibu Hamura tercintanya dan juga ayah Danzou nya.

"Masakan Kaa-san memang yang terbaik." Suara ceria Hanabi terdengar. "Hu'um." Sang kakak kembar langsung menganggk dan menyetujui ucapannya tanpa jeda.

Mendengar pujian anaknya para ibu tentu saja senang. Megumi tersenyum lembut lalu Samui menyunggingkan senyum kecil, Tayuya terkekeh dan Hikari juga tersenyum disertai rona tipis merah muda di pipinya, ah itu mengingatkanya pada Hinata, adik kelimanya. Tak lupa ibu yang paling ceria-Ayame, menunjukan senyum cerianya.

"Kalau begitu makanlah yang banyak. Kalian harus sehat dan tumbuh setinggi kakak-kakak kalian." Yang berkata adalah Tayuya, ibu berambut merah menyala.

Selain menjadi yang termuda, si kembar ini juga menjadi yang terpendek di rumah ini.

Mendengarnya, para kakaknya terkekeh geli dan membuat si kembar memanyunkan bibirnya.

"Kaa-san~~." Hinata merajuk.

"Aku akan makan banyak dan tumbuh tinggi melebihi Hinata-nee."

"Tidak bisa! Kau adikku, tak akan kubiarkan kau lebih tinggi dariku. Kaa-san, tambah!."

"Kaa-san!, aku juga tambah."

Keduanya bertatapan lalu mendengus secara bersamaan kemudian saling membuang muka.

.

Hening.

.

Seketika semua orang disana yang melihat mereka berdua menganga dan menghentikan kegiatan makannya masing-masing.

Ah jangan bilang mereka tidak tahu bahwa menjadi yang terpendek di sebuah rumah yang ramai terasa sangat menyebalkan. Tinggi badan adalah hal yang sentimen bagi Hinata dan Hanabi. Saat ini tinggi mereka sama, tentunya sebagai kakak yahh meski hanya lebih tua tujuh menit ia tetap seorang kakak ,bukan? Menjadi kakak membuat Hinata mempunyai ego untuk lebih tinggi dari adiknya, Hanabi. Bahkan sampai sifat lembut dan pemalunya entah terbang kemana. Mereka berdua berusaha dan berlomba untuk tidak menjadi penyandang orang terpendek di rumah ini, sungguh hal yang tidak berguna.

Setelah lomba aneh si kembar tadi. Mereka melanjutkan sarapan dengan damai.

"Nee-san, benarkah jika kau hanya membawa oleh-oleh untuk Hinata-chan dan Hanabi-chan saja?" Tanya Kiba. Pemuda itu penasaran rupanya.

"Tentu saja benar. Bahkan Shisui-nii mendukungku." Shion menyahut.

Kiba mendengus dan Karin memutar bola matanya.

Lalu Karin bertanya pada Shisui dengan bibir mengerucut yang mengarah pada Shion "Nii-san, kenapa kau setuju dengannya."

"Kita berdua juga setuju dengan Shion-nee dan Shisui-nii." Ujar Hanabi

"Karena kami tahu jika adik yang paling disayang Nee-chan adalah kami berdua." Ujar Hinata.

Bahkan setelahnya mereka melakukan tos dan menunjukkan senyum menyebalkannya lalu terkikik geli. Oh Tuhan, kemana perginya sikap bak Rival diantara mereka tadi?

Kiba mendengus.

Karin terlihat menahan kesal itu bisa dilihat dari wajahnya yang berwarna kemerahan. Bahkan Shion menunjukkan wajah kesalnya.

'Kembar menyebalkan'. Batin ketiga kakaknya yang lahir di tahun yang sama.

Lima ibu disana yang menyaksikan semuanya tidak terlihat memiliki keinginan melerai anak-anaknya. Mereka hanya melihat dan tersenyum dan sesekali terkikik geli, terkesan menikmati apa yang dilakukan anaknya, sungguh ibu yang unik, bukan?

Sebelum terjadi keributan lagi, Shisui menjelaskan.

"Dengar, Nii-san setuju dengan Shion-chan karena itu memang terlihat jelas jika Nee-san hanya membawa oleh-oleh untuk Si kembar." Jelasnya. "Kenapa Nii-san yakin sekali?" Kiba penasaran.

lalu terdengarlah suara Hinata dan Hanabi secara bergantian.

"Pertama, karena kami adalah adik tersayangnya."

"Kedua, karena Nee-chan menghampiri kami sebelum menggatakannya."

"Ketiga, Nee-chan mengatakannya setelah menepuk kepala kami dengan penuh kasih sayang."

Mereka berdua menyeringai senang.

"Ke empat, Nee-chan mengatakannya tepat saat ia mencubit gemas pipi Hinata-nee."

"Terakhir-..." Gadis kembar itu beradu pandang lalu menunjukkan senyum menyebalkannya lalu memandang Kiba dan karin bergantian, kemudian berkata. "Nee-chan, menggunakan kata 'untukmu' bukan'kalian' ." Mereka mengucapkannya secara bersamaan.

setelahnya mereka berdua terkikik membuat ketiga kakaknya semakin kesal, sepertinya mereka sengaja. Lalu mereka menambahkan secara bergantian.

"Saat mengatakannya, tangan kanan Nee-chan sedang mencubit pipi Hinata-nee."

"Dan tangan kirinya masih berada di kepala Hanabi-chan."

Lalu berucap bersamaan lagi. "Yang menandakan bahwa kata'untukmu' berarti 'kami berdua' ."

Setelah mengucapkan kalimat terakhir secara bersamaan mereka berdua melakukan tos lalu tertawa senang. Untunglah mereka sudah selesai makan dan hanya perlu menghabiskan satu gelas susu. Yahh hanya Hinata dan Hanabi yang rutin minum susu setiap paginya. Tawa senang yang sebenarnya tertengar merdu itu membuat lima orang ibu tertawa kecil juga. Tetapi tidak untuk tiga orang yang duduk di sisi yang sama dengan mereka, tawa itu terdengar sangat menyebalkan di telinga mereka.

Dua anak tertua di dua sisi meja yang berbeda hanya tersenyum kecil dan melanjutkan memakan buahnya. Mereka berdua memulai sarapan dengan buah dan menutupnya dengan buah juga, unik bukan?

Bahkan saat Hinata dan Hanabi berkata secara bergantian ataupun bersamaan tadi lima ibu mereka itu terkikik geli, tanpa ada niatan untuk menghentikannya.

" Oh, Kami-sama! Aku benar-benar ingin menendang bokong mereka dengan keras."

"Kalian berdua jika sudah bekerja sama tingkat menyebalkannya mengalahkan Karin-nee dan Shion-chan."

"Hehh! Kuharap malam ini 'Nona Sadako' menghampiri kalian."

Ucap Karin, Kiba dan Shion secara bergiliran.

Hinata pucat mendengar kalimat Shion. Dia penakut, terutama pada hal hal yang disukai Shion. Kesukaan Shion adalah ketakutan Hinata, mereka bertentangan padahal meski wajahnya sangat identik dengan Hanabi, penampilannya lebih mirip dengan Shion. Mereka juga mempunyai poni yang sama.

"Kami tidak takut! Malam ini kami akan tidur bersama Nee-chan." Hanabi berucap dengan percaya diri dan itu membuat ketakutan Hinata mereda.

Hinata menatap Sakura penuh harap, seakan memintanya menyetujui ucapan adik kembarnya.

Seakan mengerti, Sakura tersenyum.

"Bukan hanya Tata dan Bubu yang akan tidur bersamaku tetapi kalian berempat juga." Ujar Sakura dengan garpu buah berukuran kecil terarah pada ke empat adiknya yang lain secara bergantian.

'Hah?'

Mereka berempat terlihat bingung.

"Kita akan berkemah di tepi kota dan menginap disana, kita akan menyewa penginapan dan tidur bersama nanti."

Kiba ingat, Lalu berkata. "Kita akan berangkat sore ini, bukan? Ah aku belum menyiapkan barang yang akan kubawa." Saudara-saudaranya menatap Kiba heran. "Apa?" Tanyanya.

"Darimana kau tahu kita akan berkemah dan berangkat sore ini?" Karin bertanya mewakili saudara-saudaranya.

"Nee-san memberitahuku saat aku membangunkannya tadi."

Rasa penasaran mereka telah terjawab.

"Kiba-kun benar, kita semua akan berkemah di kebun pohon sakura dan berangkat sore hari ini setelah kalian pulang. Sakura-chan yang mengusulkan ini dan kami tentu menyetujuinya. Lagipula sudah lama kita tidak pergi bersama." Ujar Tayuya Kaa-san.

"Sekarang adalah musim semi, akan ada banyak bunga sakura bermekaran di kebun itu." Sambung Samui.

"Dan besok kita juga bisa melakukan Hanami disana." Megumi menambahkan dengan senyum di bibirnya.

"Shisui-kun, jam berapa kelasmu selesai hari ini?" Ayame bertanya pada putra tertua.

"Hari ini kelasku berakhir siang nanti, Kaa-san. Jadi aku akan pulang cepat." Shisui adalah seorang mahasiswa juga seperti Sakura.

"Hmm itu bagus." Ujar Samui

"Ya benar. Setelah pulang nanti tolong bantu Ayame Kaa-san dan Hikari Kaa-san berbelanja ya Shisui-kun." Suara Tayuya kembali terdengar.

Shisui melihat kedua ibu yang disebut tadi sedang tersenyum padanya. "Baik, kaa-san." Jawabnya.

"Baiklah anak-anak, sudah waktunya kalian berangkat." Ujar Megumi setelah ia melihat jam diding di ruang makan itu.

Keenam remaja itu bangkit dari kursi untuk berangkat ke sekolah dan satu diantara mereka akan pergi ke Universitas. Sedangkan Sakura dan kelima ibu disana masih duduk di kursinya masing-masing.

"Hati-hati di perjalanan dan jangan nakal di sekolah, Anak-anak."

"Dengarkan apa kata Sensei kalian."

"Belajarlah dengan benar."

"Lakukan apa yang di perintahkan oleh Sensei jangan membantahnya, mengerti!?"

Para ibu itu memberi nasihat pada anak-anaknya, yang tentu saja sudah sering didengar para remaja itu. "Baik. Kaa-san." Mereka menjawab dengan serempak.

"Kami berangkat, Kaa-san."

"Ya, cepatlah sebelum terlambat."

Mereka berjalan meninggalkan ruang makan.

"Pakai jasmu, Kiba." Langkah Kiba terhenti saat mendengar perkataan Sakura lalu menengok ke belakang dan dia melihat kakaknya itu bahkan tidak memandang ke arahnya. Ada kemungkinan tadi dia mengatakannya dengan tidak melihat Kiba tetapi sedang memutar-mutar buah apel merah di tangannya, seperti saat ini.

"Baik." Jawab Kiba tanpa melakukan apa yang diperintahkan kakaknya.

Ting! Ting! Ting Ting!Ting!Ting Ting! Ting Ting!

Dilangkah kakinya yang ketiga Kiba mendengar suara gelas yang berdenting karena dipukul pelan menggunakan sendok. Siapa pelakunya? Tentu saja orang yang tadi bermain-main dengan buah apel merah di tangannya.

Tanpa melihatpun Kiba tahu siapa yang membuat suara itu. Pemuda bertato itu segera melepas lipatan kemeja di lengannya lalu memakai jas sekolahnya yang tadi tersampir di bahunya sembari ia pegang bagian ujungnya.

"Hah, baiklah. Sudah kupakai Nee-san." Jawab Kiba setelah ia selesai memakainya. Lalu melanjutkan langkahnya.

Saudara-saudaranya tertawa geli melihat tingkah kiba. Kakak pertama mereka memang yang terbaik.

.

.

.

.

.

Chapter 2 Selesai.

--oOo--

Halo apa kabar?

Semoga sehat ya, ah jgn lupa ingat pesan ibu 3M ya :)

Ada yang pernah nonton drama Turki Sehrazat? Itu ruang makannya aku buat kyk yg di rumahnya kakeknya Khan. jadi dapur sama ruang makannya beda. Di ruang makan cuma ada meja makan, kursi dan beberaa figura. sedangkan dapur lengkap semua peralatan masak, lemari dapur kulkas dan perintilan perintilannya. kan di ruang makan gak ada pintu langsung plong gitu, itulah kenapa dari tangga atas langsung bisa liat ke ruang makan. dan pake troli makanan karena biar bisa bawa sekaligus banyak.

- Dari sini udh keliatan kan apa maksud ucapan sakura di chapter sebelumnya?

A/N : Chapter dua selesai. Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak, mungkin coret-coret di kotak review saran kritik kesan atau apapun. Ini cerita pertamaku dan aku harap bisa dapet respon dari kalian. Aku juga pengen ada komunikasi dua arah, aku nulis cerita dan kalian isi kotak review, Saran dan kritik dipersilahkan.

Terimakasih.

Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya...

Dikarenakan minimnya pengetahuan tentang tokoh di naruto dan kebutuhan cerita maka kedepannya akan ada cukup banyak OC. Harap Maklum ;)