Sebelumnya...

.

.

Ting!Ting!Ting! Tingtingting Ting!Ting!Ting!

Dilangkah kakinya yang ketiga Kiba mendengar suara gelas yang berdenting karena dipukul pelan menggunakan sendok. Siapa pelakunya? Tentu saja orang yang tadi bermain-main dengan buah apel merah di tangannya.

Tanpa melihatpun Kiba tahu siapa yang membuat suara itu. Pemuda bertato itu segera melepas lipatan kemeja di lengannya lalu memakai jas sekolahnya yang tadi tersampir di bahunya sembari ia pegang bagian ujungnya.

"Hah, baiklah. Sudah kupakai Nee-san." Jawab Kiba setelah ia selesai memakainya. Lalu melanjutkan langkahnya.

Saudara-saudaranya tertawa geli melihat tingkah Kiba. Kakak pertama mereka memang yang terbaik.

.

.

.

.

.

--oOo--

My Family

Naruto by : Masashi Kishimoto

Story by : Awy77 Andrian

Warning : OOC, Typo(s), AU, Dsb.

Rated : T

Genre : Family, Drama, Romance

Main Pair : Narusaku (slow)

Mohon maklumi semua kegajean, keanehan dan hal yang tidak masuk akal dalam cerita ini. Bukan tanpa alasan ini disebut Fanfic, bukan?

If you don't like don't read

Happy Reading! :)

--oOo--

.

.

.

.

.

Lima orang ibu di ruang makan itu tertawa kecil saat melihat bagaimana patuhnya Kiba pada Sakura, ah tidak, bukan hanya Kiba tetapi semua adik-adiknya sangat patuh pada Sakura dan mereka juga menyayanginya, sangat menyayanginya. Kelima wanita itu juga merasa bahwa anak-anak mereka lebih dekat dengan Sakura dibanding mereka, ibu kandungnya.

Sejak kecil keenam remaja itu lebih banyak menghabiskan waktu bersama Sakura dibanding mereka, ibunya. Dan mungkin itu menjadi salah satu alasan kedekatan mereka. Meskipun begitu, mereka berlima tak mempermasalahkan hal itu, mereka justru senang dengan kedekatan Sakura dan adik-adiknya, mereka senang Sakura menerima anak-anaknya dan bahkan sangat menyayangi mereka, itu terlihat dari bagaimana sikapnya dan cara Sakura memperlakukan putra-putri mereka. Ah, dan anak-anak mereka jugalah yang menjadi penghubung antara mereka dan Sakura.

Mereka juga tahu bahwa Sakura bisa menjadi sangat tegas dan juga bisa sangat memanjakan anak-anak mereka, begitu juga dengan keenam anak mereka. Keenam remaja itu bisa menjadi sangat patuh dan juga bisa bersikap sangat manja pada Sakura. Karena itulah mereka tak khawatir dengan kedekatannya dan putra putri mereka. Lagipula Sakura gadis yang baik dan cerdas itulah yang membuat mereka yakin bahwa tak akan ada akibat buruk dari kedekatan mereka.

Seorang ibu tahu saat anak mereka merasa nyaman atau tidak saat bersama seseorang dan mereka melihat juga merasa bahwa putra putri mereka merasa senang dan nyaman saat berada di dekat Sakura.

Bahkan saat beberapa bulan ini Sakura tidak pulang karena kesibukannya putra putri mereka sangat merindukannya, dan meski beberapa dari mereka tidak menunjukannya secara langsung, mereka tahu bahwa anak-anaknya merindukan Sakura, kakaknya. Perlu diingat bahwa Sakura hanya tidak pulang selama kurang dari enam bulan dan mereka sudah sangat merindukannya, itu memperjelas bahwa mereka memanglah sangat dekat.

"Mereka sangat mematuhimu, Sakura-chan." Ujar Hikari dengan senyum di bibirnya.

Lalu Tayuya menambahkan. "Mereka juga sangat merindukanmu."

"Ide berkemah juga sangat bagus. Kita akan pergi bersama lalu bersenang-senang disana, apalagi kau sudah beberapa bulan ini tidak pulang, Sakura-chan. Ah! Pasti akan menyenangkan." Ayame ikut bersuara dengan semangat.

Sakura diam.

Tangannya kembali bermain-main dengan buah apel merah lagi.

Pandangannya fokus pada apel merah di tangannya, seakan buah itu adalah sesuatu yang sangat menarik.

Mata Hikari dan yang lainnya berubah sendu dan senyum senang mereka berubah menjadi senyum sedih saat melihat Sakura hanya diam dan tidak merespon.

Bahkan saat sarapan tadi mereka bukannya tidak menyadari jika Sakura tidak berbicara pada mereka satu patah katapun. Mereka menyadari hal itu, sangat menyadari. Tetapi mereka berpura-pura tidak menyadarinya. Lagipula pagi ini adalah pertemuan pertama Sakura dan adik-adiknya setelah ia pulang semalam. Mereka tak mungkin merusaknya dengan mempermasalahkan hal itu, jikalau bukan pertemuan pertama sekalipun mereka juga akan tetap berpura-pura tidak menyadarinya. Karena mereka tahu berada di posisi Sakura itu sulit.

Sreekkk!!.

Suara kursi yang bergeser.

Sakura tiba-tiba bangun dari kursinya, membuat kursi itu bergeser dan menimbulkan suara. Ia berdiri dengan sebelah tangan membawa piring kotornya dan tangan yang lainnya menggenggam apel merah. Berniat membawa piring itu ke wastafel.

"Ah!, tidak! tidak! Sakura-chan. Letakkan saja di meja seperti adik-adikmu." Ujar Ayame saat ia tahu apa yang akan dilakukan Sakura.

Sakura terdiam. Ia terkejut dengan suara Ayame yang cukup tinggi dan tiba-tiba.

Melihat Sakura terdiam Samui yang berada paling dekat dengannya mengambil piring di tangan Sakura.

"Kau baru pulang semalam, istirahatlah." Ujarnya setelah piring kotor Sakura berpindah ke tangannya.

"Tenagaku masih lebih dari cukup untuk mencuci piringku dan adik-adikku." Ujar Sakura dengan tenang.

Para ibu disana tertawa pelan mendengar ucapannya.

"Tentu kami tau itu, Sakura-chan." Megumi menanggapi.

"Tetapi ini hari pertama kau pulang, kau bisa istirahat atau pergi keluar untuk berjalan-jalan." Ujar Tayuya.

"Selain Megumi-nee dan Samui-chan yang akan membuka klinik dan salon hingga siang nanti, kami semua sudah mengurus pekerjaan kami hari ini hingga kita pulang nanti. Jadi, kami tak memiliki hal lain untuk dikerjakan." Ujar Ayame.

Mereka memiliki pekerjaan yang berbeda.

"Naiklah Sakura-chan, Kaa-san tahu kau belum mandi." Ujar Tayuya sambil terkekeh.

"Kami akan meyelesaikan pekerjaan rumah bersama-sama." Ucap Hikari.

Sakura diam lalu berkata. "Baiklah." Dan itu membuat mereka mengulas senyum kecil di bibir masing-masing.

Saat akan melangkah suara Hikari terdengar lagi. "Sakura-chan, apa kau ingin Kaa-san buatkan kue dango ?"

Kue yang terbuat dari tepung dengan isian kacang merah yang dibentuk bulat lalu ditusuk-tusuk ke sebuah stik seperti sate dan kadang juga dibiarkan satuan tanpa dibentuk sate lalu di nikmati bersama teh hijau yang pahit itu adalah kue kesukaan Sakura.

"Ah! Atau kau ingin Kaa-san memasakkan sesuatu untuk makan siangmu nanti?" Ayame ikut bertanya.

"Tidak."

Singkat dan datar.

Hening.

Kemudian mereka tersenyum lemah lalu menunduk.

'Masih belum bisa ternyata, tetapi setidaknya beberapa tahun ini sudah lebih baik'. Batin mereka bersamaan.

Mereka mengerti bahwa menjadi Sakura itu sulit. Tetapi, berada diposisi mereka juga tidaklah mudah.

Bisakah mereka berharap bahwa hubungan mereka dengan putri tertua mereka membaik? Mereka juga menyayanginya sama seperti mereka menyayangi putra putri mereka sendiri.

Seperti bagaimana dekatnya Sakura dengan adik-adiknya, mereka juga ingin bisa sedekat itu dengan Sakura.

Sebelum benar-benar pergi dari ruang makan Sakura berhenti.

Tetapi para wanita itu tidak menyadarinya.

"Tentu saja mereka mematuhiku, aku adalah kakaknya. Mereka merindukanku karena memang seharusnya begitu." 'Karena aku juga merindukan mereka'. Tambahnya dalam hati.

Perkataan Sakura tentu saja membuat lima wanita di ruang makan itu terkejut. Mereka sontak mengangkat kepala lalu memandang ke arah Sakura dan tentu saja hanya punggungnya yang mereka lihat, karena posisi Sakura membelakangi mereka.

"Tidak perlu memasak apapun untukku. Masih ada yang perlu disiapkan sebelum berangkat sore nanti." Sakura melanjutkan.

Dengan tangan yang masih setia bermain-main dengan buah apel merah dengan cara melempar-lemparkannya ke arah atas, Sakura melanjutkan langkahnya menuju tangga yang mengarah ke lantai dua, tempat dimana kamarnya berada.

Mendengar kalimat terakhir Sakura membuat senyum indah terukir di wajah mereka masing-masing. Mereka tahu apa maksudnya. Gadis itu tak mau membuat mereka repot dengan kedatangannya. Dia hanya ingin acara kemah nanti berjalan lancar dan tentu saja mereka menginginkan hal yang sama.

OoO

Setelah menyelesaikan sarapannya dan naik ke lantai dua sekarang disinilah Sakura berada. Gadis bersurai merah muda itu sedang termenung di balkon kamarnya. Ia sedang duduk di kursi ramping berbahan kayu yang di cat berwarna putih. Di depannya terdapat meja kecil berwarna putih juga dengan satu pot bunga mungil berserta tanaman hias kecil berwarna hijau sebagai isinya yang berada tepat di tengah meja. Tak lupa apel merah yang tadi di bawanya dari ruang makan kini berada di atas meja kecil, ikut menemani pot marmer tanaman hias itu disana.

Iris hijau emerald itu terarah pada buah apel merah di depannya tetapi pandangannya seakan menerawang jauh.

Dari bibir plum-nya kita bisa mendengar verbal yang terucap perlahan dengan nada rendah seperti bisikan.

"Megumi."

"Samui."

"Hikari."

"Ayame."

"Dan...terakhir"

"Tayuya."

Gadis dengan surai merah muda itu menyebutkan nama-nama wanita yang menjadi ibunya. Ah, lebih tepatnya gadis itu menyebutkan urutan mereka datang ke rumah ini.

Gadis itu lalu mendongakkan kepalanya dan memandang langit biru yang terlihat cukup cerah dengan ditemani beberapa gumpalan awan putih terang. Saat musim semi langit memang cenderung cerah meski tak menutup kemungkinan jika hujan akan datang seperti semalam.

Kemudian gadis itu memejamkan matanya dan bibir tipis berwarna merah muda alami itu mengucapkan satu kata.

"Kaa-san...".

Suara yang terdengar penuh akan kerinduan dan kesedihan itu meluncur dari bibirnya.

Gadis itu teringat akan ibunya.

Gadis itu sangat merindukan ibunya.

Sakura sangat merindukan ibu Hamura-nya.

Rasanya baru kemarin ia membuat kue berdua bersama ibunya saat ibunya itu tidak bekerja. Dan rasanya baru kemarin ia pergi ke taman bermain bersama ibunya. Juga rasanya baru kemarin saat ibunya membelikan beberapa buku untuknya. Bahkan rasanya juga baru kemarin ibunya itu mengajaknya ke butik dan membelikannya gaun cantik.

Dia tak tahu siapa orangtuanya. Dia sudah hidup di Panti Asuhan sejak masih sangat kecil dan saat ia masih tak tahu apa-apa. Dia ingat, dulu dia pernah bertanya tentang orangtuanya pada Tsubaki, suster di Panti. Tetapi Tsubaki juga tak tahu. Tsubaki hanya pernah memberitahunya jika ia sudah berada di Panti sejak masih bayi di usia sekitar enam bulan. Tsubaki mengetahuinya dari Nyonya Hotaru.

Sejak ia masih bayi lalu menjadi balita kemudian menjadi anak-anak ia hidup di sana. Kemudian saat berusia enam tahun Pasangan Shimura mengadopsinya. Suami istri itu sudah menikah selama hampir delapan tahun tetapi belum di karuniai seorang anak. Mereka mengadopsinya lalu menjadi orangtua pertama untuknya. Sakura menjadi anak tunggal keluarga Shimura. Dengan orangtua yang lengkap ia merasa bahwa mereka adalah keluarga sempurna.

Pasangan Shimura bukan keluarga dengan kekayaan melimpah tetapi mereka hidup berkecukupan dan masih bisa di sebut kaya. Danzou bekerja sebagai kepala pekerja sebuah pabrik pembuatan benda-benda elektronik sedangkan Hamura adalah seorang pengacara yang cukup sukses. Ibu Hamuranya selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi putrinya dan Danzou sebagai ayahnya ia sangat perhatian padanya. Mereka bertiga juga pernah berlibur ke Pantai dan hasil dari liburan itu adalah foto yang semalam ia lihat, foto yang kini berada di meja kecil samping tempat tidurnya.

Tetapi semua kebahagiaanya sebagai keluarga yang sempurna itu hilang sejak kematian tragis ibunya dalam insiden lalu lintas. Saat itu malam hari dan ibunya dalam perjalanan pulang ke rumah setelah mengambil berkas kasus di rumah client-nya dan di perjalanan seorang pengemudi truk berkendara dalam keadaan mabuk dan yah mobil ibunya ditabrak oleh pengemudi itu dan nyawa ibu tercintanya itu tak tertolong dia meninggal saat di perjalanan menuju rumah sakit. Sedangkan pengemudi itu meninggal di tempat kejadian.

Sakura menunduk kemudian, verbal terucap lagi dari bibir plum-nya.

"Kaa-san, aku...merindukanmu. Sangat... merindukanmu."

Selama hampir 20 menit gadis itu masih diam termenung di kursinya dengan pandangan yang kembali terarah pada buah apel merah di depannya.

Dering ponsel menyadarkan Sakura dari kegiatan duduknya. Ia bangkit dari kursinya tak lupa salah satu tangannya menggenggam apel merah lalu berjalan menuju tempat tidurnya, ponselnya ada di meja kecil di samping ranjang.

Melihat nama yang tertera di layar ponselnya membuat senyum kecil tercipta di bibirnya. Menggeser layar berwarna hijau ia menjawab panggilan itu.

"Moshi-mo-" Belum selesai Sakura berkata sang penelfon menyelanya.

"Ah! kenapa kau lama sekali menjawabnya, Sakura-chan? Kau pulang hari ini, bukan? Apa kau sudah sampai? Kapan kau akan datang kesini? Ah! apa kau ingin kami mengunjungimu atau menjemputmu? Oba-san dan pamanmu merindukanmu, kau tahu itu."

Suara yang lembut tetapi semangat dari seorang wanita terdengar dari ponselnya. Tertawa kecil lalu menjawab.

"Oba-san, bertanyalah perlahan."

"Itu karena Oba-san senang kau pulang."

"Maaf, jika aku butuh waktu lama menjawab panggilan Oba-san. Aku sudah pulang semalam, Oba-san tak perlu datang aku yang akan datang ke sana dan aku juga merindukan kalian."

"Baiklah kalau begitu, Oba-san menunggumu di butik, Sakura-chan. Ah! kemarin Oba-san membeli bahan-bahan kue dan sebentar lagi akan mulai membuat kuenya, jadi kau harus sudah sampai saat kuenya matang."

" Oba-san juga membuat gaun dengan desain yang baru. Cepatlah datang, Oba-san ingin melihatmu mencobanya."

"Baiklah Oba-san, aku akan datang segera."

" Itu bagus. Sampai nanti, Sakura-chan."

"Sampai nanti."

.

xXx My Family xXx

.

Ting!

Lonceng kecil di atas pintu toko bunga berbunyi, menandakan ada pengunjung yang datang.

Pintu terbuka dan terlihatlah seorang pengunjung yang ternyata seorang gadis bertubuh tinggi dan berpakaian casual. Gadis itu memakai kemeja putih polos yang dipadukan dengan rompi berwarna cream sepanjang paha dan untuk celana ia memakai celana khaki dengan warna yang senada dengan rompinya. Gadis itu juga terlihat stylish dengan topi Bowler coklat muda di atas surai merah mudanya.

Kaki berbalut sneakers putih polos itu melangkah kedalam toko, berjalan menuju penjaga toko.

"Adakah yang bisa kubantu, nona?". Wanita penjaga toko bertanya dengan ramah.

"Daisy. Satu buket bunga daisy."

"Baiklah. Tunggu sebentar, nona."

Sakura menunggu beberapa menit, tak lama kemudian wanita penjaga toko kembali dengan bunga daisy di tangannya. Wanita itu kembali ke mejanya untuk mengikat bunga menjadi buket.

"Warna kain?"

Sakura sedikit terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba tetapi, dengan cepat ia mengerti. Lalu ia menjawab "Putih."

Wanita itu lantas mengambil kain buket berwarna putih di rak kain tepat di belakangnya yang tersusun rapih berdasarkan warna setiap ruangnya.

"Bagaimana dengan warna pita-nya, nona?"

Wanita penjaga toko kembali bertanya.

Tangan Sakura menunjuk sebuah pita berwarna putih di kotak pita berbagai warna.

Wanita itu mengerti lalu mengambil pita putih dan mengikatnya di buket bunga itu.

"Buket bungamu, nona."

Ujar wanita itu sambil memberikan buket bunga pada Sakura dan disusul dengan menyebutkan harganya.

Menerima buket tetapi ia letakkan di meja kasir dulu lalu ia mengambil uang di tas mini backpack nya. Berhubung sulit jika hanya satu tangan yang mengambil uangnya maka, buah apel merah yang ternyata sedari tadi tergenggam di tangan lainnya ia letakkan di meja kasir sekaligus penjaga toko itu . Ia membayar sesuai harga lalu berujar "Terimakasih."

Setelah itu dia mengeser buah apel merah itu ke depan wanita itu lalu berkata "Untukmu." Kemudian berbalik pergi meninggalkan toko dengan tangan yang membawa sebuket bunga daisy. Tanpa tahu jika di belakangnya si wanita penjaga toko itu menunjukkan raut wajah bingung dengan tatapan yang terarah pada punggungnya dan buah apel di meja secara bergantian.

Tepat saat Sakura akan membuka pintu toko, wanita penjaga toko sekaligus kasir itu tersadar dari kebingungannya. Ia menggenggam apel merah di meja, menatap punggung Sakura lalu berkata.

"Terimakasih."

Sambil tersenyum ia menatap buah apel di tangannya. "Gadis yang unik."

Setelah membeli sebuket bunga daisy lalu menaiki taksi maka di sinilah Sakura berada sekarang, di pemakaman kota Konoha.

Sakura berjalan perlahan. Tak butuh waktu lama ataupun mencari-cari terlebih dahulu, ia langsung berjalan seakan hafal di luar kepala dimana letak nisan ibunya. Setelah sampai ia berjongkok disamping nisan lalu sebelah tangannya mengusap nisan yang agak berdebu, gadis itu mengusap nisan dengan lembut beberapa kali disertai tatapan sedih dan rindu.

"Kaa-san... aku datang. Bagaimana kabar Kaa-san? Apa Kaa-san baik-baik saja?" Tanya Sakura

"Kaa-san, aku merindukanmu... sangat merindukanmu." Sakura berkata dengan suara bergetar dan airmata yang mengalir di kedua pipinya.

Gadis yang tegas dan lembut di depan adik-adiknya dan gadis yang tampak angkuh dan tenang di depan kelima ibunya itu kini tampak lemah dan rapuh.

Ia terisak di hadapan makam ibu tercintanya.

Butuh beberapa saat hingga isak tangisnya mereda, setelahnya ia menyeka bekas airmata di pipinya lalu menunjukan senyum manis di wajahnya.

"Hari ini aku membawa bunga daisy, bunga favorit Kaa-san." Suara Sakura terdengar lagi.

Setelahnya dia meletakkan buket bunga daisy di atas makam itu kemudian, menyatukan kedua tangannya membuatnya saling menggenggam lalu menutup matanya, mendo'akan sang ibu.

Bebrapa saat kemudian ia membuka matanya, ia kembali menatap dan mengusap nisan ibunya. Lalu iris hijau emerald itu beralih pada bunga yang tadi ia taruh disana.

"Kaa-san, bunga kesukaanmu benar-benar menggambarkan dirimu."

Bunga daisy menjadi simbol kepolosan, kesetiaan, cinta, dan kemurnian. Hamura begitu polos hingga tak sadar apa yang sebenarnya dilakukan suaminya. Kesetiaannya juga sia-sia yang bahkan hingga akhir hayatnya tak ia ketahui bahwa rasa setia yang ia miliki tak berarti apa-apa, juga cintanya yang besar pada orang orang terdekatnya tak selalu mendapat balasan yang setimpal.

Penampilan Hamura sungguh menawan, masih teringat di kepalanya bagaimana sosok ibunya. Hamura sangat cantik ia memiliki kulit yang sangat pucat dan mempunyai rambut panjang berwarna putih dengan sedikit rambut yang terikat di depan telinga, matanya berwarna ungu pudar itu mengingatkannya pada ibu Hikari dan adik kembarnya. Dia juga suka memakai pakaian berwarna netral dan tidak mencolok bahkan warna kesukaannya adalah putih, hal itu membuatnya terlihat memiliki sentuhan kemurnian.

"Kaa-san, sebentar lagi aku akan memulai coass." Sakura tersenyum lalu melanjutkan ucapannya. "Aku akan melakukan coass di Rumah sakit Konoha. Dan kurasa aku harus berterimakasih pada Indra Oji-san untuk itu." Ujar Sakura sambil terkekeh geli saat menyadari ucapannya.

Iris emerald Sakura lalu menatap nisan yang tak jauh dari nisan ibunya. Ia mendatangi nisan itu lalu berjongkok di sampingnya kemudian mengusapnya perlahan seperti saat ia mengusap nisan ibunya.

"Halo Baa-san, aku datang lagi. Bagaimana kabarmu? Maaf aku tidak membawa bunga, jika aku datang lagi aku akan membawa bunga untukmu."

Setelahnya ia menyatukan kedua tangannya, membuatnya saling menggenggam lalu memejamkan kedua matanya dan mendo'akannya.

Menyadari matahari mulai meninggi ia berpamitan. "Aku akan datang lagi, Baa-san. Sampai jumpa lagi." Ia berdiri lalu membungkuk mengusap nisan itu sekali lagi kemudian kembali ke makam ibunya.

"Kaa-san, kurasa aku harus pergi. Aku tak mau mendengar omelan Oba-san aku masih menyayangi gendang telingaku."

"Aku akan datang lagi, sampai jumpa, Kaa-san."

Mengingat saat di telfon tadi Oba-san nya cukup cerewet maka sepertinya ia memang perlu berharap kalau Oba-san nya tidak mengomel karena menunggunya terlalu lama.

Gadis itu berjalan menjauh dari area pemakaman setelah sebelumnya mengusap nisan yang dipanggilnya nenek itu. Ah sebenarnya itu bukan neneknya tetapi nenek ibunya. Lalu Sakura juga mengusap serta mencium nisan ibunya. Kedua nisan itu bertuliskan,

'Kaguya otsutsuki'

Dan

'Hamura otsutsuki'.

.

.

.

.

.

.

Chapter 3 Selesai

--oOo--

Halo, apa kabar???

Semoga baik-baik aja dan selalu jaga kesehatan ya.

Ah tahun 2020 kenapa cepet banget ya? Apa cuma saya yg ngerasa tahun ini berasa cepet?...

Selamat tahun baru 2021

Selamat tinggal tahun 2020

Semoga di tahun 2021 banyak hal baik yang terjadi sama kita :)

A/N :

Mohon maaf disini Hamura saya buat perempuan dan disini dia cucu kaguya bukan anaknya. Dia akan jadi anak dari Hagomoro bukan kembarannya

Awalnya saya pake nama Hamura itu karna keinget salah satu fic trus saya pake deh nama itu. Di Naruto ada dan dia laki-laki mana ganteng lagi hahaha. Karena dari awal udh pake Hamura maka gak saya ganti namanya. Akhirnya saya buat jadi perempuan deh disini karena sepertinya cerita ini perlu keluarga otsutsuki hehe.

.

.

Terimakasih sudah membaca :)

Sampai jumpa...