Sebelumnya...

.

.

"Kaa-san, kurasa aku harus pergi. Aku tak mau mendengar omelan Oba-san aku masih menyayangi gendang telingaku."

"Aku akan datang lagi, sampai jumpa, Kaa-san."

Mengingat saat di telfon tadi Oba-san nya cukup cerewet maka sepertinya ia memang perlu berharap kalau Oba-san nya tidak mengomel karena menunggunya terlalu lama.

Gadis itu berjalan menjauh dari area pemakaman setelah sebelumnya mengusap nisan yang dipanggilnya nenek. Ah sebenarnya itu bukan neneknya tetapi nenek ibunya. Lalu Sakura juga mengusap serta mencium nisan ibunya. Kedua nisan itu bertuliskan,

'Kaguya otsutsuki'

Dan

'Hamura otsutsuki'.

.

.

.

.

.

--oOo--

My Family

Naruto by : Masashi Kishimoto

Story by : Awy77 Andrian

Warning : OOC, Typo(s), AU, Dsb.

Rated : T

Genre : Family, Drama, Romance

Main Pair : Narusaku (slow)

Mohon maklumi semua kegajean, keanehan dan hal yang tidak masuk akal dalam cerita ini. Bukan tanpa alasan ini disebut Fanfic, bukan?

If you don't like don't read

Happy Reading! :)

--oOo--

.

.

.

.

.

Setelah mengunjungi ibunya disinilah ia berada sekarang. Di depan sebuah bangunan empat lantai yang cukup besar dengan tulisan 'Emerald Boutique' di atasnya serta dinding depan lantai pertama yang terbuat dari kaca transparan, membuat orang-orang bisa melihat beberapa mannequin yang memakai busana karya perancang butik itu.

Sakura melangkah masuk ke dalam butik itu dengan tangan kanan yang membawa sekeranjang buah yang tadi dibelinya saat mampir ke toko buah dalam perjalanan kesini.

"Ah! Nona Sakura, kau datang?"

Seorang pria berwajah amat cantik menyapa Sakura. Pria itu bernama Haku, seorang pramuniaga di sini.

"Sudah beberapa bulan ini nona Sakura tidak datang ke butik. Bagaimana kabarmu, nona? Sepertinya menjadi mahasiswa kedokteran sangat sibuk ya." Ujar Haku sambil tersenyum.

"Hem, aku baik. Dimana Oba-san?"

"Ah Guren-san ada di hunian atas, dia menunggumu sejak pagi." Lelaki cantik berambut hitam panjang dan bertubuh mungil itu menjawab dengan senyuman ramah dan manis di bibirnya.

"Arigatou." Sakura lalu berjalan melewati area showroom yang mempunyai desain coffe shop dan itu membuat ruangan showroom lantai pertama butik ini memiliki kesan hangat dan santai. Di tambah pengaturan pencahayaan yang pas membuat busana serta barang lainnya menjadi semakin menarik. Dan juga dengan tidak terlalu banyak barang yang dipajang membuat area showroom menjadi cukup luas untuk berlalu lalang sehingga pelanggan dapat menikmati koleksi fashion yang ada dengan nyaman.

Desain showroom itu juga sangat cocok dengan barang barang yang ada disana karena jika dilihat baik-baik kita akan tahu bahwa lantai pertama ini berisi busana casual hingga semi-formal dan juga beberapa jenis aksesoris. Meski memiliki banyak jenis barang tetapi yang di pajang hanya satu sampai tiga barang pada setiap jenis. Semua barang-barang yang dipajang juga berhasil menonjolkan setiap bagian yang menjadi highlight nya. Sungguh penataan yang cerdas.

Sakura lalu berjalan ke arah lift menuju lantai empat, lantai teratas.

Setelah sampai di lantai empat Sakura melewati sebuah pintu kayu berwarna coklat dan ia terus berjalan menuju pintu lainnya yang berwarna putih lalu menekan kombinasi sandi kemudian membuka pintu seraya berkata

"Tadaima."

Lalu terdengarlah suara yang menyahut disertai langkah kaki yang mendekat.

"Okaeri,"

"Akhirnya kau datang juga Sakura-chan, kenapa kau lama sekali? Kue yang kubuat sudah dingin, mungkin sudah tidak enak lagi."

Terlihatlah seorang wanita dewasa berlipstik merah, berkulit terang dan berambut biru dengan style ekor kuda runcing dan sedikit untaian rambut panjang yang membingkai wajahnya. Wanita itu memakai mini dress berkerah warna merah dan di kakinya memakai sandal rumah.

"Jangan berlebihan Oba-san, aku bahkan masih bisa mencium aromanya dari ambang pintu ini." Ujar Sakura seraya memasuki rumah itu lalu melepas topi bowler coklat muda dan menggantungnya pada tiang bercabang di samping pintu yang ternyata sudah ada pakaian hijau dengan kerah berbulu warna putih serta panjang lengan yang berbeda. Itu adalah milik Guren, wanita yang menyambutnya tadi.

"Baikalah, baiklah, kau menang. Ayo cepat masuk. Ah kau membawa buah! Itu untukku? Apakah ada buah anggur? Aku ingin anggur tetapi belum sempat membelinya."

"Tidak. Aku membelinya untuk para hantu disini." Sakura menjawab sambil menyerahkan sekeranjang buah ditangannya pada Guren. Sungguh berbalik dengan ucapannya.

"Wow, akan kuberikan pada mereka kulit dan bijinya nanti."

Ya ampun, saat di telfon mereka benar-benar seperi bibi dan keponakan. Tetapi saat bertemu kenapa interaksi mereka malah terlihat seperti teman seumur? Kemana perginya sopan-santun berbicara Sakura dan wibawa seorang bibi milik Guren saat mereka berbicara di telfon tadi? Mungkin saja mereka menjadi bibi dan keponakaan saat tidak bertemu langsung dan menjadi teman saat bertemu langsung. Yah mungkin seperti itu.

Sebelum melangkah masuk Sakura melepas sepatunya dan menggantinya menjadi sendal rumah lalu mereka berdua memasuki rumah yang disebut Haku sebagai 'hunian'.

Butik itu mempunya empat lantai. Jika lantai pertama berisi busana casual hingga Semi-formal dan aksesoris seperti syal, topi, sendal, ikat pinggang hingga hiasan rambut maka lantai dua berisi busana formal dan semua jenis setelan formal dari jas hingga gaun, busana formal setiap musim hingga busana pengantin juga ada, serta berbagai macam perhiasan seperti kalung, anting, cincin, gelang, liontin, tas, juga dasi. Dan di lantai tiga terdapat busana tradisional dan berbagai jenis kostum serta benda-benda pendukung lainnya yang di sewakan. Dan terakhir adalah lantai empat yang terdapat kantor merangkap ruang desain sekaligus ruang meeting, yaitu ruangan dengan pintu coklat yang dilewati Sakura tadi serta rumah milik Sakura yang ia masuki kini, rumah yang lebih sering disebut hunian.

"Duduk dan tunggulah di sofa, Oba-san akan menyeduh teh hijau dulu."

Sofa?

Sakura menaikan sebelah alisnya.

Guren mengerti.

"Di meja makan sudah ada makanan untuk kita makan siang nanti."

"Ha'i"

Dengan tangan yang membawa sekeranjang buah Guren berjalan menuju dapur sedangkan Sakura melangkahkan kakinya menuju sofa.

Saat sampai di dekat sofa mata hijau Sakura melihat ke arah meja dan disana iris emerald-nya melihat beberapa jenis camilan dan kue seperti kue dango, roti melon, dorayaki dan obanyaki. Ah! bahkan ada momiji manju, okonomiyaki dan takoyaki juga. Hmm 'mencurigakan' mata Sakura memicing melihat makanan yang ada dimeja itu taklama kemudian seringai nakal terpatri di wajahnya. Sakura berjalan ke dapur menyusul bibinya bukan menunggunya di sofa.

"He? Kenapa kau ada disini Sakura-chan?" Tanya Guren heran.

"Aku ingin mencuci tanganku." Katanya. "Oh."

Saat mencuci tangannya di wastafel ia bertanya. "Oba-san, apa Oba-san yang membuat semua makanan itu?"

"Ah! Itu... itu... Tentu saja! Tentu saja Oba-san mu ini yang memasaknya!. Kenapa kau bertanya seperti itu Sakura-chan?"

Sakura melangkah pergi menuju sofa depan dan sebelum benar-benar menghilang dari dapur ia menjawab. "Tidak ada. Aku hanya terkejut dan kagum, karena dalam waktu beberapa bulan saja kemampuan memasak Oba-san sungguh meningkat pesat."

1 detik

3 detik

5 detik

"DASAR IBLIS MERAH MUDA!!! Kemari kau!! Aku sedang memegang panci air panas! Sangat cocok untuk menyiram kepalamu!!

Setelah terdengar suara tinggi dari luapan emosi, kini kita mendengar suara rintihan sakit sekaligus kekesalan. "Ah! Panas! Panas! Panas! Oh Astaga! Kenapa harus ada air panas di dunia ini!." Dan jika pendengaran kalian tajam maka kalian akan mendengar suara tawa geli yang berasal dari ruang depan, tempat dimana Sakura berada.

Sungguh keponakan yang tidak berperikebibian.

Setelah keributan tadi kini mereka sedang duduk nyaman sambil menikmati makanan.

"Sakura-chan, cukup lama kau tidak pulang sepertinya hampir setengah tahun. Apakah menjadi mahasiswa kedokteran sungguh sesulit itu?" Setelah menyelesaikan pertanyaannya Guren memasukkan beberapa bola-bola dango ke dalam mulutnya.

Sakura meminum teh hijaunya sebelum menjawab.

"Yahh memang sulit tetapi tidak lebih sulit dibanding les memasak." Sakura menjawab diiringi seringai di akhir kalimatnya.

"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"

Guren terbatuk mendengarnya.

Ia lau buru-buru meminum tehnya. "Hei! Aku ini Oba-san mu! tidakkah kau merasa sikapmu padaku ini kurang ajar ha!?"

Guren benar, dia adalah Oba-san nya. Semua berawal saat Sakura berusia tujuh tahun. Sejak di panti Sakura sering membaca buku bergambar tentang para putri kerajaan dan Hamura mengetahuinya. Bagi Hamura, Sakura adalah princess nya karena itulah ia sering membelikannya gaun cantik. Jadi ia sering membawa Sakura ke butik. Ayahnya yaitu Danzou sering pulang larut malam jadi mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama daripada bertiga bersama Danzou.

Saat itu ada sebuah butik yang mengalami masalah finansial jadi Hamura memberi bantuan dan itu membuatnya memiliki hak milik setengahnya dari butik itu. Butik itu bangkit dari keterpurukan tetapi tak lama kemudian lelaki pemilik butik sekaligus desainer butik itu yang bernama Hanzo ingin tinggal bersama anaknya ke luar negri, jadi ia menjual hak miliknya pada Hamura dan ia membelinya, sejak itu butik dengan nama 'Salamander's Fashion' menjadi hak milik Hamura sepenuhnya.

Butik itu tetap berjalan meski tidak mempunyai desainer tetap dan pesanan busana juga dibatasi, di butik itu ada cukup banyak karyawan yang tentu saja mereka perlu penghasilan. Tetapi tentu Hamura menghadapi kesulitan, karena disamping bekerja sebagai pengacara ia harus mencari desainer untuk butiknya dan ia harus mendapatkannya secepatnya demi kelangsungan butiknya, sebelum mendapatkan desainer ia menerima supplier dan menyewa desainer tapi jika terus-menerus itu tidak akan baik. Butik tanpa desainer tidak akan berakhir baik, kan? Hamura memang bisa membuat desain karena ia memang cukup pandai menggambar tetapi ia tetaplah pemula.

Saat itu secara tidak sengaja tetapi ia percaya jika itu takdir dari Kami-sama, ia bertemu dengan Guren di toko buah, mereka bertabrakan dan buku gambar Guren terbuka memperlihatkan gambar yang ia buat. Gambarannya membuat Hamura terpana. Bak pucuk dicinta ulanpun tiba. Guren seperti menjadi penyelamat butik dan para karyawan. Guren adalah mahasiswa fakultas desain, meski masih mahasiswa bakatnya dalam menggambar luar biasa. Dia adalah gadis dari desa yang mempunyai mimpi menjadi desainer dan Hamura bisa membantunya dalam mewujudkan mimpinya.

Jika mau menjadi desainer di butiknya, Hamura akan memfasilitasi kebutuhan Guren, ia akan membelikan sebuah flat untuk Guren tinggal beserta barang-barang kebutuhan lainnya, dan untuk uang Hamura juga memberinya meski tidak besar dan jika ia meminta tambah Hamura akan memberikannya jika memang tujuannya jelas. Tentu suatu kebodohan jika ia menolaknya. Ia gadis dari desa kecil, berkuliah di Konoha sudah hal yang bagus. Dan jika ia bisa membuat orangtua di kampung halaman berhenti mengiriminya uang, yang ia tahu mereka juga kekurangan maka kenapa ia harus menolak tawaran Hamura?

Guren hanya tahu cara mendesain ia belum terlalu paham tentang bahan-bahan yang di perlukan seperti jenis-jenis kain, jenis-jenis kulit, pernak-pernik, bordiran, mutiara, dan lain sebagainya. Tetapi itu tidak masalah karena karyawan sebelumnya masih tetap bekerja, mereka hanya perlu menjalin kerjasama.

Sejak Guren menjadi desainer butiknya, Hamura mengubah nama butiknya menjadi 'Emerald Boutique'. Ia menamainya sama dengan warna mata putri tunggalnya, Sakura. Saat itu Sakura berusia tujuh tahun sedangkan Guren adalah seorang mahasiswa. Guren banyak menghabiskan waktu bersama ibunya entah berdiskusi atau sekedar bergurau. Jadi dia lebih seperti teman ibunya dibanding menjadi kakak bagi Sakura, itulah kenapa Sakura memanggilnya Oba-san daripada Nee-san walau dari segi usia, mereka juga bisa menjadi adik kakak meski dengan jarak usia yang cukup jauh. Karena itulah ia lebih santai berinteraksi dengan Guren walau dia adalah Oba-san nya.

"Maafkan aku. Aku sungguh minta maaf, apa Oba-san marah padaku?"

Sakura meminta maaf, ia agak menyesali perbuatannya tadi.

"Hah... baiklah, baiklah. Karena ini hari pertamamu pulang, maka aku memaafkanmu."

Sakura melanjutkan makannya. Kini Sakura sedang memasukkan takoyaki ke dalam mulutnya. "Oba-san, takoyaki buatanmu sangat enak."

"Diam!."

Sakura terkekeh mendengarnya.

Banyak menghabiskan waktu dan sering berkutat dengan busana-busana juga alat menggambar. Membuat Guren payah dalam hal memasak.

Sakura ingat, terakhir kali ia tahu Guren memasak untuk beberapa pegawai butik hal itu malah membuat sebagian orang yang memakannya harus pergi ke klinik dan sebagian lagi menjadi penghuni toilet bergilir. Hal menyebalkannya adalah, Guren tidak pernah menjadi orang pertama yang memakan makanan buatannya, dia menjadikan orang lain sebagai kelinci percobaannya, sungguk licik.

"Ah! Apa kau ingat desain gaun yang kau kirim tiga bulan lalu, Sakura-chan?"

Sakura mengangguk "Ya, aku ingat."

Guren tersenyum. "Desain itu sangat bagus. Aku hanya sedikit mengubah detail pinggang dan bagian bawahnya juga menambahkan pita kecil di bahunya."

"Bagian produksi mengerjakannya dengan baik dan bagian pemasaran bekerja dengan cepat. Gaun itu indah dan membuat tiga gadis keluarga kaya memesannya." Sakura mendengarkan dengan seksama.

Lalu Guren melanjutkan. "Satu minggu setelahnya seorang wanita kaya datang dan memesan gaun yang sama untuk putrinya, hanya beberapa bagian kecil yang diubah karena putrinya seorang gadis kecil."

"Lalu?"

"Desain gaun yang kau kirim adalah gaun musim dingin." Kata Guren.

"Dan karena saat ini musim semi dan sebentar lagi ulang tahunmu maka aku memiliki ide untuk membuat desain yang serupa untuk musim semi lalu kita membuat spring fashion show di taman utara Konoha dihari ulang tahunmu."

Sakura memandang guren dengan heran. "Oba-san tahu aku tidak lagi merayakan ulang tahunku sejak Kaa-san ku pergi."

"Justru karena itulah Oba-san memiliki ide ini!. Kau hampir 19 tahun. Setidaknya rayakan ulang tahunmu sekali lagi sebelum kau berusia 20 tahun." Ujar Guren penuh semangat.

"Aku menolak."

Sakura melanjutkan memakan dorayaki. Guren memandang Sakura sesaat lalu terlihat berpikir dan tak lama kemudian muncul seringai kecil di wajahnya

"Sakura-chan, tidakkah kau ingat apa yang kau pesan bulan lalu?" Tanya Guren perlahan.

'Bulan lalu?'

Sakura terdian sesaat, berusaha mengingat.

'Bulan lalu? bulan lalu?'

Ah!

"Aku memesan cincin dan liontin untuk adik kembarku. Kenapa?"

Guren tersenyum yang terlihat lebih mirip seringai. 'Yak! Kena kau'

"Tanggal berapa adik kembarmu berulang tahun?" Guren bertanya perlahan lalu memakan kue melon.

Setelah meminum teh hijaunya Sakura menjawab "27 maret"

'Yeah! dapat'. Batin Guren.

Seringai di bibirnya makin jelas.

"Lalu tanggal berapa ulang tahunmu?"

Sakura mengernyit tetapi tetap menjawab "28 maret" sesaat kemudian mata Sakura memicing.

Ia menatap bibinya. "Oba-san, kau...-"

"Ya. Aku berencana mengadakan acara itu selama dua hari. Hari pertama untuk ulang tahun adik kembarmu dan hari kedua untuk ulang tahunmu."

Masih teringat di kepalanya jika ibunya meninggal di hari ulang tahunnya. Saat polisi mengidentifikasi mobil korban yaitu ibunya, polisi menemukan sebuah kotak yang ternyata berisi kue ulang tahun untuknya. Sepertinya dalam perjalanan pulang Hamura sempat mampir ke toko kue untuk membelinya. Sebenarnya saat siang hari ia sudah merayakan ulang tahunnya di butik tetapi mengetahui ibunya membeli kue ulang tahun untuknya ia tahu bahwa ibunya ingin merayakannya bertiga bersama Sakura juga Danzou, suaminya. Saat merayakannya di butik Danzou tidak ada, karena dia bekerja.

Terbersit rasa bersalah dalam diri Sakura. Seandainya ibunya tidak mampir membeli kue mungkin insiden itu tidak terjadi, seandainya ia tidak berulang tahun mungkin kewaspadaan ibunya lebih meningkat saat berkendara dan insiden itu tidak terjadi, seandainya ia tak berulang tahun mungkin ibunya akan lebih lama di rumah client-nya dan tidak ada insiden itu. Dan seandainya seandainya yang lain.

Meski bukan kesalahannya, Sakura merasa bersalah, ia merasa ikut andil dalam insiden yang membuat ibunya pergi, selamamya.

"Gomen ne... aku tidak bisa." Ujar Sakura dengan nanda rendah.

Mereka terdiam.

Beberapa saat kemudian Guren berjalan ke dapur lalu kembali dengan membawa buah apel di tangannya. Kembali ke tempat duduknya lalu perlahan meletakkan buah apel yang dibawanya tadi ke meja kemudian tangannya bergerak perlahan mendorong apel itu ke arah Sakura.

Sakura yang dalam posisi menunduk permata hijaunya melihat buah apel yang mendekat ke arahnya karena dorongan tangan di belakangnya.

Sakura mendongak, menatap Guren.

Guren balas menatap dengan pandangan minta maaf.

Sakura terdian sesaat lalu tangannya mengambil buah apel di depannya, "menggunakan apel yang kubeli, eh? Ba-chan" Sakura menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat dan seringai kecil di wajahnya. Bahkan ia menyebutnya dengan panggilan manis, menyebalkan.

Melihat Sakura mengambil apelnya, ia tahu Sakura menerima maafnya.

Di negara tetangga yaitu Korea, buah apel digunakan sebagai simbol untuk meminta maaf karena dalam bahasa Korea kata 'sagwa' (apel) bisa juga berarti 'maaf'.

Ini membuatnya teringat pada wanita penjaga toko bunga sekaligus kasir pagi tadi. Sakura memperhatikan saat wanita itu menyusun dan mengikat bunga sebelum mengikatkan kain dan memberinya pita, ia melihat ada perban dan plester di tangan wanita itu, jadi saat mengikat bunga dahi wanita itu sedikit mengernyit. Itulah kenapa ia agak terkejut saat wanita itu bertanya tentang warna kain. Tetapi wanita itu tetap berusaha bekerja dengan baik dan memberi pelayanan maksimal. Itulah kenapa ia hanya memesan satu buket bunga meski sebenarnya ia ingin memesan satu buket lagi untuk nenek ibunya.

Sebagai permintaan maaf karena membuatnya merasa sakit saat membuatkan buket untuknya, Sakura memberikan apel yang ia bawa dari rumah kepada wanita itu.

"Kau sudah memberikannya padaku jadi itu milikku." Jawab Guren acuh tak acuh

Seringai di wajahnya makin jelas, "ah! aku ingat dengan jelas jika aku mengatakan bahwa aku memberikannya pada hantu disini."

Wajah Guren memerah menahan malu dan marah. Sesaat kemudian suara terdengar,

"Aku bahkan menyiapkan banyak jenis makanan saat kau pulang. Tetapi seperti inikah sikapmu padaku saat kau kembali?"

Sakura diam.

Guren membuat ekspresi wajahnya menjadi sangat sedih, sedih yang sangat berlebihan. Sungguh akting yang buruk.

Sakura memutar bola matanya. "Rencana."

Guren terlihat bingung. "Jangan berpura-pura Oba-san, aku tahu kau pasti punya plan B agar aku menyetujui acara ini."

Sakura yakin bibinya tahu bahwa ia akan menolak mentah-mentah jika acara itu untuk ulang tahunnya. Karena itu ia yakin bahwa bibinya pasti mempunyai rencana lebih dari sekedar 'peragaan busana sebagai perayaan ulang tahun'.

Meski Guren yang lebih berperan dalam mengurus butik ini, Sakura tetaplah pemilik sah-nya. Itulah kenapa Guren masih perlu persetujuan Sakura untuk hal-hal sepert ini. Sebenarnya Sakura tak terlalu berminat dengan dunia fashion, ia bahkan berkuliah dan memilih fakultas kedokteran, bukan jurusan yang berhubungan dengan dunia fashion. Tetapi Guren merasa tidak tahu malu dan tidak tahu terimakasih jika ia semena-mena melakukan ini itu tanpa persetujuan Sakura sebagai pemilik juga putri dari mendiang bos-nya, Hamura. Sosok yang sangat berjasa baginya.

Setelah Hamura meninggal Guren lah yang memimpin butik ini dibantu para manager dan karyawan lainnya. Hingga Sakura mulai remaja dan mengerti lalu ikut andil dalam pekerjaan dibutik dan menjadi pemilik resmi.

Guren terkekeh, "cerdas."

Mata Guren melihat ke arah tiga bola dango yang ditusuk pada stik di tangannya, "Membunuh tiga burung dengan satu batu." Ia menyeringai.

"Ini dinamakan 'membunuh tiga burung dengan satu batu', Sakura-chan." Guren menatapnya,

Sakura menunggu bibinya menyelesaikan ucapannya. Dia tahu Guren belum selesai berbicara.

"Pertama taman Utara Konoha, Oba-san yakin kau tahu alasanku memilih tempat itu." Sakura terlihat berpikir dan sesaat kemudian ada senyum kecil di bibirnya.

Wilayah sekitar Taman Utara Konoha adalah salah satu kawasan elite di Konoha jadi banyak keluarga kaya dan berpengaruh yang tinggal disana. Dan jika Guren berkata begitu maka hanya ada satu alasan, penjualan.

Sakura bertanya, "kedua?"

"Kedua, 'ada kualitas ada harga'. Kau tentu pernah mendengar pepatah itu, bukan?" Kini Guren menyumpit takoyaki.

Sakura menatap Guren. "Maksud Oba-san bahan baku?" Guren tersenyum lalu tangannya meraih roti melon di meja. "Tepat,"

"Oba-san berencana menjalin relasi dengan mereka agar bisa mendapatkan bahan baku berkualitas tinggi. Mereka adalah orang-orang kaya dan berpengaruh, jika kita bisa berteman dengan mereka itu akan bagus untuk kita. Relasi mereka luas, kita akan tahu dimana bahan baku yang kita perlukan terutama yang sulit ditemukan dan bagaimana cara mendapatkannya. Dan Oba-san ingin membuat butik ini menjadi butik langganan mereka dan mereka menjadi pelanggan tetap disini. Karena itulah meski hanya spring fashion show kita harus menampilkan yang terbaik dan membuat mereka terpana." Jelas Guren.

Sakura memegang dan memutar mutar buah apel di tangannya.

"Dan alasan ketiga, perayaan ulang tahun?" Sakura bertanya.

Guren tertawa kecil, "tentu saja." Jawabnya. "Ulang tahunmu dan adik kembarmu." Guren tersenyum puas.

"Meski hanya peragaan busana musim semi, tetapi itu diadakan di taman utara Konoha yang akan dihadiri orang-orang kaya dan terlebih lagi acara itu diadakan selama dua hari dan dua hari itu adalah hari istimewa. Gadis kembar itu adalah adik bungsumu, mereka menjadi yang terakhir menerima hadiah itu darimu, si kembar itu juga adik yang paling kau sayang, bukan?" Lanjutnya

Ada setitik rasa tertarik di manik emerald Sakura meski ia belum menyetujui rencara bibinya.

Melihat itu Guren menunjukkan seringai kecil dan buru-buru menambahkan.

"Ketika adikmu akan berusia 16 tahun tepat di hari ulang tahunnya kau selalu menghadiahkan mereka sebuah liontin dan cincin."

Meski Guren melihat Sakura berhenti memutar-mutar apel dan hanya melihat apel itu secara intens ia tahu bahwa Sakura mendengarkannya dengan baik dan ia melihat rasa tertarik di mata Sakura bertambah besar.

Ia melanjutkan, "Hinata dan Hanabi adalah anak kembar jadi kau memberi empat hadiah, dua cincin dan dua liontin. Mereka berdua menjadi orang terakhir yang menerima hadiah cincin dan liontin darimu."

Guren menatapnya, "apa kau tak mau membuat pesta yang berbeda untuk itu? Hm?"

Kilasan rasa tertarik di permata hijau itu semakin jelas.

"Adik-adikku yang lain tidak akan suka jika pestanya sangat berbeda dengan mereka." Jari Sakura bergerak mengelus apel di tangannya

Guren terkekeh.

Sakura melihatnya, ia mengangkat satu alisnya. Guren melihatnya dan ia tersenyum kecil.

"Oba-san harus memberitahumu satu hal. Pendapatan kita selama satu tahun belakangan ini meningkat cukup pesat. Jadi meski yang berulang tahun si kembar kita juga bisa membuat adikmu yang lainnya bersinar." Katanya, "Kita memiliki dana cukup untuk membuat semua adikmu bersinar di acara itu tanpa terkecuali, Sakura-chan."

"Hei Sakura-chan, semua adikmu itu mempunya wajah dan tubuh yang bagus." Setelah mengucapkan kalimat itu Guren menunjukkan ekspresi bersyukur lalu berucap, "Oh Kami-sama, Terimakasih karena kau telah membuat anak-anak itu mirip dengan ibunya bukan ayahnya."

Genggaman tangan Sakura pada apel mengerat mendengar itu.

"Kau membuat mereka menjadi brand ambassador butik ini jadi mereka jugalah yang menjadi wajah butik ini, jika semua yang menjadi wajah butik ini ikut meramaikan acara dan dua diantara mereka berulang tahun terlebih lagi salah satu perancang gaunnya adalah pemilik butik ini. Apa menurutmu jika kumpulan orang pencari berita dan penikmat fashion mengetahuinya itu tak memiliki pengaruh sama sekali, Sakura-chan?"

Sakura terdiam sesaat.

"Produksi dan Showroom?."

Mendengar pertanyaan Sakura ia tahu jika Sakura mempertimbangkan untuk menyetujuinya.

Sakura cukup tertarik tetapi ia khawatir jika menyetujuinya langsung maka bagian produksi dan showroom akan keberatan dengan tugas mereka.

"Kau akan tahu jawabannya jika kita ke rumah produksi sekarang."

Setelah pembicaraan mereka tadi di hunian atas maka disinilah mereka sekarang, di rumah produksi. Gedung butik yang cukup besar dengan empat lantai itu dibelakangnya memiliki bangunan seperti rumah yang memiliki dua lantai. Lantai pertama adalah ruang produksi dan penyimpanan bahan baku, itu adalah ruang para penjahit dan pembuat aksesoris berada. Mereka membuat busana dan benda-benda lainnya. Ada berbagai jenis mesin jahit sesuai kebutuhan dan mesin lainnya disana. Dan di lantai dua ada studio pemotretan beserta ruang editingnya dan juga ruang pengecekkan. Jika busana atau barang apapun yang dibuat dilantai satu sudah selesai maka dilantai dua inilah barang-barang yang dibuat akan diperiksa sebelum di pajang di display showroom, di jual atau diantar pada si pemesan.

Rumah produksi ini dibangun oleh Hamura. Sebelumnya ruang produksi, pengecekan, penyimpanan, studio dan editing ada di gedung butik lantai tiga dan empat. Tetapi berkat kenaikan penghasilan dan kemajuan butik karena kepemimpinan Hamura ia membangun rumah itu dan menjadikan lantai tiga sebagai ruang barang-barang sewaan dan mengubah lantai empat menjadi rumah.

Danzou sering pulang larut atau bahkan terkadang tidak pulang dan Hamura kadang merasa kesepian dan bosan jika berada dirumah hanya bertiga dengan Sakura dan Koharu. Jadi jika Danzou memberitahunya bahwa dia tidak bisa pulang maka Hamura akan mengajak Sakura ke rumah di butik itu dan menginap disana. Para manager dan wakilnya sering pulang larut atau bahkan tidak pulang dan tidur di butik dengan membawa kasur lipat meski tidak ada pekerjaan sekalipun dan sebelum tidur mereka yaitu Hamura, Sakura dan para pegawai butik biasa berbincang atau memasak dan makan bersama. Seringnya menghabiskan waktu dengan orang-orang di butik membuat Sakura dan Hamura akrab dengan mereka.

"Oba-san, persiapan ini sudah 30% dan kau baru mengatakan rencanamu beberapa menit yang lalu." Ujar Sakura saat ia berada di ruang pengecekkan dan manik hijaunya melihat beberapa gaun dan juga beberapa setelan jas musim semi yang sudah selesai dibuat.

Guren tersenyum licik, "dan jika sudah mendapat persetujuanmu maka akan menjadi 60%." Sakura mendengus.

Meletakkan beberapa bungkusan di tangannya ke meja lalu dia berjalan ke arah sebuah gaun berwarna putih dengan bagian bawah terdapat bordiran pohon bunga matahari dengan bunga yang mekar sempurna. Panjang lengan gaun itu adalah sebatas siku dengan sedikit belahan lalu terdapat dua kain kecil yang menjuntai beberapa senti dan juga sebuah pita kecil berwarna hijau sebagai hiasannya. Kemudian di area pinggangnya ada kain yang menjadi ikat pinggangnya dengan warna hijau bergradasi, dari hijau pudar hingga hijau pekat. Sedangkan area kerahnya berbentuk lingkaran dengan mutiara-mutiara yang mengelilinginya dan di bagian dadanya terdapat gambar corak seperti ranting kayu berwarna coklat. Secara keseluruhan gaun itu indah, benar-benar indah.

"Ini adalah gaun yang Oba-san katakan pagi tadi saat menelfonmu. Sebenarnya Oba-san ingin membuat bordiran bunga sakura tetapi Oba-san ingat jika kau lebih menyukai bunga matahari dan ya, seperti inilah hasilnya." Guren menjelaskan.

"Indah bukan? Oba-san tahu ukuran tubuhmu. Jadi pasti akan cocok jika kau pakai." Guren memberikan gaun itu pada Sakura.

Sakura membelai gaun di tangannya, "Gaun yang indah."

Lalu iris hijaunya berhenti pada bordiran bunga matahari di gaun itu

'Matahariku'

Tatapan sakura melembut dan seulas senyum muncul di wajahnya.

"Ini sangat indah, aku sangat menyukainnya, Oba-san."

"Tentu saja kau harus menyukainya. Karena jika tidak kepala merah mudamu itu akan benar-benar kusiram air panas." Guren menanggapinya dengan gurauan.

Saat sakura masih mengamati gaun itu, suara Guren kembali terdengar.

"Sakura-chan,"

"Hm?"

"Oba-san tunggu jawabanmu besok siang."

"Hmm,"

"Ah! Ya ampun! Tiga pasangan gila itu pasti di studio sekarang. Kita kesana, Sakura-chan?"

"Tentu. Aku juga ingin menanyakan tentang cincin dan liontin yang kupesan."

"Baiklah ayo. Ah! Sebenarnya Oba-san ingin melihatmu mencobanya tetapi kurasa kita harus menemui mereka jadi kau bisa mencobanya di rumah saja. Kau bawalah pulang gaun itu, gaun itu untukmu."

"Terimakasih, Oba-san."

Kini mereka berdua berjalan menuju ruang studio dilantai yang sama dengan beberapa bungkusan yang mereka bawa.

Ruang studio pemotretan dan ruang editing berada di ruang yang sama. Hanya saja dipisahkan oleh sekat dan pintu kaca buram setinggi bahu rata-rata pria dewasa. Ruang editing itu ada di dalam studio pemotretan.

Saat Sakura dan Guren akan memasuki studio. Telinga mereka sayup-sayup mendengar suara beberapa orang.

"Berikan kunci mobil itu padaku. Aku ingin mengambil bahan baku di suatu tempat."

"Heh! kau pikir aku percaya?"

"Hei! Sakura-chan hari ini akan pulang. Kalian tak akan bisa menyalahgunakan fasilitas butik ini lagi."

"Apa Sakura-chan benar-benar pulang hari ini? Apa menurutmu dia akan menyetujui acara itu?"

"Aku tak tahu. Tetapi kurasa gadis kembar itu bisa membuat dia mempertimbangkannya."

"Brengsek! Jangan bermesraan disini! kalian pikir ini tempat apa!? Ha!?"

"Halo tiga pasangan bodoh!".

Suara Guren terdengar saat ia membuka pintu Studio itu.

Kini terlihatlah tiga pasangan itu atau lebih tepatnya enam orang di ruangan itu. Satu perempuan dan lima laki-laki.

Mereka adalah para manager dan wakilnya yang sudah bekerja disini sejak butik ini masih menjadi milik Hanzo sepenuhnya. Meski dulu orang yang kini menjadi manager belum menduduki posisi itu.

"Ah, Nona Guren, kau disini, un?"

"Tentu aku disini. Apa kau pikir aku ini hantu, begitu?" Guren menjawab pertanyaan lelaki berambut kuning panjang yang menutupi sebelah matanya. Lelaki itu bernama Deidara

"Ada Sakura-chan juga rupanya, demi Jashin-sama, orang-orang sialan ini baru saja membicarakanmu, Sakura-chan ." Ujar pria berambut putih yang di sisir rapih kebelakang.

"Apa maksudmu, sesat!? Kau ingin kuledakkan!, un?" Jawab Deidara emosi.

Deidara tak mendapat jawaban karena pria itu melihat ke arah seseorang yang memakai masker di wajahnya.

"Hei kikir! Berhentilah menghitung uang! dua bosmu ada disini, bodoh." Ujar Hidan, pria yang membuat Deidara kesal.

Pria yang disebut kikir dan memakai masker di wajahnya itu bernama Kakuzu.

"Selamat datang, Sakura-chan." Ujar satu-satunya perempuan diantara mereka. Wanita itu mempunya rambut biru dengan hiasan bunga kertas di rambutnya, wanita itu bernama Konan.

"Kami berdua sangat menunggu kepulangmu, Sakura-chan." Ujar pria berambut oranye dengan banyak tindik di hidung dan telinganya. Dan tangannya sedang memeluk pinggang Konan. Pria bernama Pain itu adalah kekasih Konan.

Hidan mendengus mendengarnya. "Jika yang kau maksud 'sangat menunggu' adalah 'selalu bermesraan setiap saat dan tak tahu tempat' maka aku setuju denganmu." Dengan nada kesal Hidan menyindir.

Mereka sedang duduk di sofa berwarna hitam di pojok ruangan. Guren dan Sakura berjalan ke arah mereka dengan tangan yang membawa beberapa bungkusan dan meletakkannya dimeja di depan sofa.

"Wow apa itu, un?" Tanya Deidara

"Makanan sisa."

"Oh Astaga! Jawabanmu menyakiti hatiku, Sakura-chan." Ujar Deidara

"Ini masih baru."

"Jika masih baru kenapa Sakura-chan berkata kalau ini adalah sisa?"

"Jika kalian tak mau akan kuberikan pada orang-orang yang ada di bagian produksi."

"Tidak apa-apa. Aku dan kekasih dinginku ini termasuk bagian produksi jadi kami tidak masalah dengan itu, Nona Guren." Ujar Pain yang kini mengendus leher konan.

Konan adalah manager bagian produksi ia mengurus semua hal yang ada dibagian produksi dengan Pain sebagai wakilnya yang juga adalah kekasihnya.

Mereka pasangan yang mempunyai sifat dan tingkah laku yang berlawanan. Konan sangat tenang dan berpikiran panjang. Ia juga bekerja dengan sangat baik dengan hasil yang maksimal, yah meski ia tak menolak tingkah tidak sopan kekasihnya. Sedangkan Pain adalah pria yang santai, ia genit dan mesum. Dia selalu bertingkah genit dan bemesraan tak kenal tempat. Lihatlah sekarang, ia sedang mencium pipi Konan dengan tangan yang melingkari tubuh wanita itu. Oh kami-sama!

"Apakah ini oleh-oleh darimu, Sakura-chan?" Tanya seorang pria dengan wajah seperti baby face, Sasori.

"Aku hanya membawa dua oleh-oleh."

"Ah! Pasti untuk gadis kembar itu." Ujar Pain yang masih saja bertingkah genit pada Konan. Kini ia sedang bermain-main dengan telinga kekasihnya itu.

"Hah! Bahkan keponakan bodoh ini tidak membawa oleh-oleh untuk Oba-san nya." Keluh Guren

Tangan Kakuzu dengan cepat berusaha meraih bungkusan di meja tetapi Hidan memukul tangannya.

Plakk!.

"Apa! Ha!?"

"Dasar kikir tak tahu malu! Setelah kau mengabaikan mereka saat datang tadi sekarang kau menjadi orang pertama yang membukanya." Ujar Hidan

"Hei! Aku sedang menghitung uang, jika aku terganggu maka aku harus menghitung ulang." Jawabnya

Hidang mendengus, "heh! Alasan."

"Hei diamlah! Biar aku saja yang membukanya. Kuharap itu benar-benar makanan, aku sedang lapar saat ini, un." Suara Deidara terdengar.

Saat akan meraihnya ada sebuah tangan yang lebih cepat dan pelakunya adalah pria berwajah bayi dengan rambut merah, Sasori.

"Hei!!-". Protes Deidara. Tetapi Sasori menyelanya. "Kalian terlalu berisik dan lama, bukan salahku."

Hidan mengumpat, "Bayi brengsek."

Mohon maklumi mulut tanpa saringan milik Pria berambut putih bernama Hidan karena 90 persen kalimat yang ia katakan selalu memiliki kata-kata kasar.

"Pemuja sesat." Balas Sasori.

"Tarik perkataanmu, idiot! Jashin-sama akan mengutukmu."

Sasori tidak menanggapi.

"Sesuai harapanmu, Deidara." Ujar Sasori, memperlihatkan isi dalam bungkusan itu yang ternyata adalah makanan.

Sebenarnya Sakura tak berbohong, itu memang makanan sisa yang ia makan bersama Guren di hunian atas tadi. Mereka tidak menghabiskannya, Sakura berhenti makan saat ia membicarakan tentang ulang tahunnya lebih tepatnya saat ia teringat ibunya. Dan Guren tidak melanjutkan makannya setelah memakan kue melon. Jadi tak sepenuhnya benar-benar makanan sisa karena ada beberapa makanan yang belum mereka makan sama sekali yaitu obanyaki, momiji manju, dan okonomiyaki.

"Nona Guren dan Sakura-chan memang yang terbaik." Ucap Deidara dan langsung mengambil makanan dan memakannya.

"Aku juga ingin."

Mereka memakan makanan itu dengan lahap, wajar saja sebentar lagi adalah jam makan siang tentu mereka sudah mulai merasa lapar.

Guren sweatdrop melihat mereka. 'Ya ampun! Mereka gunakan untuk apa gaji mereka hingga seperti orang kelaparan?'. Batin Guren kurang ajar.

Sedangkan Sakura dengan santainya memakan apel di tangannya.

Konan berjalan menuju kulkas di dekat sofa dan mengambil beberapa kaleng minuman dingin.

"Nona Sakura, bagaimana kuliahmu?"

Konan bertanya saat sudah selesai membagikan minuman dingin kemasing-masing orang disana.

"Cukup sulit tetapi berjalan lancar. Dan aku akan memulai coass bersamaan dengan tahun ajaran baru siswa sekolah."

"Menakjubkan, un. Sakura-chan luar biasa." Kagum Deidara.

"Sialan! Aku bahkan harus belajar mati-matian untuk ujian saat sekolah dulu." Ujar Hidan

Hidan terkejut. Di usia yang akan genap 19 tahun Sakura sudah akan menjalani coass.

Deidara mengejek, "Jangan menyamakan dirimu dengan Sakura-chan. Aku bahkan ragu kau pernah sekolah dan bukan menyembah dewa sesatmu itu sejak dulu, un."

"Diamlah pirang brengsek."

"Kau memang cerdas, Sakura-chan" ujar Sasori.

Guren terlihat berpikir sesaat, "Itu berarti kau menyelesaikan pendidikan universitasmu dalam waktu sekitar tiga tahun, bukan?"

"Hm," Sakura menggumam sebagai jawaban sambil menggigit apelnya lagi. Dan anehnya mereka tahu apa maksud gumaman itu.

Sambil menyumpit takoyaki Konan berucap lagi, "kau menyelesaikan sekolah menengah pertama dan menengah atas hanya dalam waktu empat tahun, kau cerdas dan juga benar-benar belajar dengan giat, Sakura-chan."

Hidan menggerutu, "kenapa Jashin-sama tak memberiku kecerdasan sepertimu? Aku juga ingin menjadi dokter."

"Hidan, kapan ulang tahunmu?" Konan bertanya.

"Ada apa memangnya? Kau ingin memberiku hadiah?

"Tentu. Karena kurasa cermin di rumahmu sudah pecah semua."

Mereka semua tertawa.

"Kami sangat berterimakasih pada jashin-samamu itu karena tidak memberimu kecerdasan seperti Sakura-chan dan juga karena tidak menjadikanmu seorang dokter." Ujar Sasori

Lalu Deidara menambahkan, "Karena jika kau menjadi dokter kau tidak akan menyembuhkan pasienmu tetapi menghabisi mereka lalu kau jadikan persembahan untuk Jashin-samamu itu, un."

Dengan berakhirnya kalimat Deidara, meledaklah tawa mereka.

"Tetapi penghasilan seorang dokter itu besar, kurasa dikehidupan selanjutnya aku harus terlahir sebagai seorang dokter." Ujar Kakuzu dengan tangan di dagunya layaknya sedang berpikir.

'Dasar kikir/ Tuan Crab/ Uang uang dan uang/ Matrealistis/ Semoga Jashin-sama memberinya pencerahan'

Batin Sasori, Deidara, Pain, Konan, dan Hidan bersamaan.

Sedangkan Guren kembali sweatdrop dan Sakura meminum minuman kalengnya dengan santai.

Setelah selesai mengumpati Kakuzu dalam hati. Kini mereka mulai berbicara santai kembali.

"Dimana kau akan melakukan coass ,Sakura-chan?" Guren bertanya.

"Rumah Sakit Konoha. Senju's Hospital."

Ehh???

Mereka terkejut.

"Kau berkuliah di Tokyo dan coass di Konoha? Tidakkah itu terlalu jauh?" Tanya Guren.

Konan mengangguk menyetujui. "Bukankan lokasi coass biasanya di dekat kampus dan ditentukan oleh pihak kampus? Tokyo tidak kekurangan rumah sakit, kan?"

"Lagipula, kampus yang memiliki fakultas kedokteran biasanya memiliki rumah sakit pendidikan untuk para mahasiswanya, bukan?" Pain menambahkan.

Sasori terlihat berpikir sesaat lalu bertanya, "Apakah pihak kampusmu dan rumah sakit konoha menjalin kerjasama, Sakura-chan?"

"Ya. Ini pertama kalianya. Dan hanya satu tim. Tim itu adalah timku." Ujar Sakura.

"Oh wow, keren. Kau adalah tim pertama. Jika ini berjalan lancar apakah kerjasama akan berlanjut seterusnya?" Tanya Deidara.

"Kemungkinan besar ya."

"Itu berarti kau akan berada di Konoha dalam waktu yang cukup lama, ah! senangnya!" Ucap Guren senang.

"Sakura-chan kau harus sering-sering datang kesini, aku merindukan rambut bunga sakuramu." Ujar Pain genit.

Konan memutar bola matanya. Kekasihnya itu menggoda bos mereka dengan bibir yang mencium pelipisnya, sungguh hebat.

"Dasar bajingan tak tahu malu! Menggoda atasan di depan bibinya dan disaat bersamaan mencium kekasihnya. Menjijikan!" Ujar Hidan

"Jaga ucapanmu, uban! Kau pikir berbicara kasar di hadapan atasan adalah hal bagus, Ha!??" Ucap Deidara.

"Diam kau, pria palsu!."

"Heh! Pemuja sesat!."

"Apa kau bilang!!!."

"Kubilang, kau pemuja sesat! Apa kau tuli!?"

Mengabaikan pertengkaran bodoh itu yang lainnya membahas hal penting.

"Apa kau menyetujui rencara Nona Guren, Sakura-chan?"

"Akan kupertimbangkan." Sakura menjawab pertanyaan Konan.

"Bagaimana cincin dan liontin yang kupesan?"

"Pain..." Konan memanggil pain dengan nada memperingatkan karena kini ia sedang memeluknya dengan erat yang membuatnya sulit bergerak.

"Ada apa, sayang?"

"Bagaimana cincin dan liontinya?"

"Ah! Cincin? Apa kau ingin menikah denganku? Hem? Bagaimana jika kita menikah hari ini? Ide bagus bukan?"

"Pain, perlukah kuingatkan jika benda tajam milik Hidan ada padaku?"

"Ah! Aku akan menunggumu hingga kau siap menikah saja, okay."

Sakura menatap mereka semua dengan bosan dan tangan yang menggoyang-goyangkan kaleng minuman. Sedangkan Guren sudah terlihat menahan marah.

Sakura sudah mengenal mereka sejak butik ini masih menjadi milik Hanzo. Dan saat butik ini menjadi milik ibunya dia semakin mengenal para pekerja di butik ini bahkan dengan mereka jugalah dia merayakan ulang tahunnya. Mereka seperti paman muda dan bibi mudanya sama seperti Guren, usia mereka juga hanya sedikit lebih tua di banding Guren tetapi beberapa dari mereka tidak terlihat tua terutama Sasori, wajah pria itu benar-benar baby face. Jika ia mengunggah foto selfie yang hanya memperlihatkan wajahnya maka orang akan berpikir ia memang masih bayi.

Pada awalnya Sakura memanggil enam orang itu Oji-san dan Oba-san. Tetapi saat Sakura mulai remaja, mereka meminta untuk dipanggil Onii-san dan Onee-san, karena dengan begitu mereka merasa lebih muda, hah, kumpulan orang yang menolak tua. Sayangnya Sakura menolak keras memanggil mereka dengan sebutan itu. Dan itu berakhir dengan jalan tengah. Tidak memanggil Oji-san dan Oba-san juga tidak memanggil Onii-san dan Onee-san. Akhirnya Sakura memanggil mereka dengan panggilan yang menurutnya cocok dengan mereka dan meski panggilan itu agak tidak sopan, mereka menyetujuinya. Mereka berenam juga awalnya memanggil Sakura dengan sebutan 'Nona Sakura' tetapi sejak Sakura memanggil mereka dengan nama panggilan, mereka memanggilnya 'Sakura-chan' dan Sakura juga tidak merasa terganggu.

"Bagaimana dengan cincin dan liontin yang kupesan, Pierching?"

Pain melepaskan pelukan eratnya dan duduk dengan benar meski sebelah tangannya masih mengingkari bahu Konan.

"Tiga hari lagi sudah siap, Sakura-chan." Jawbnya.

Sakura bertanya pada Pain tentang cincinnya karena selain menjadi wakil Konan, Pain adalah orang yang bertugas mencari dan mendapatkan bahan baku untuk perhiasan sekaligus mengawasi dan memeriksa proses pembuatan juga hasilnya. Dan dalam hal itu ia juga biasanya di dampingi Kekasihnya, Konan.

"Hmm."

"Kau ingin melihatnya?"

"Tidak. Hubungi aku jika sudah selesai."

"Baiklah."

"Jika acara itu di selenggarakan, apa Barbie dan Rapunzel bisa mengatasinya?"

"Tenanglah, kami bisa mengatasinya, Sakura-chan." Jawab Sasori.

"Tetapi tentu kami tidak bisa mengatasinya hanya dengan dua orang. Jadi kami akan menyewa beberapa pekerja untuk membantu kami membuat panggung, penataan lampu juga kursi tamu dan dekorasi." Jelas Sasori.

Deidara mengangguk menyetujui, "Sasori-danna benar, un. Kami sudah menghubungi kenalan kami di bidang itu dan mereka siap bekerja jika acara akan diadakan, un."

Sasori dan Deidara yang bekerja di bagian showroom meliputi display showroom butik, pemasaran, juga promosi dan penjualan. Dengan Sasori sebagai manager dan Deidara wakilnya. Dengan wajah dan postur tubuh juga mulut lincah dan manis keduanya promosi dan penjualan bukanlah masalah besar bagi mereka, lagipula barang dari butik mereka berkualitas tinggi. Mereka berdua jugalah yang bertugas dibidang fotografi dan editing. Mereka memotret para model busana butik dimana yang menempati posisi itu adalah keenam adik Sakura.

Mereka awalnya menyewa model untuk kebutuhan promosi, pemasaran, penjualan dan lainnya. Tetapi saat Sakura melihat adik-adiknya tumbuh dengan wajah dan tubuh bagus, ia memiliki ide untuk menjadikan mereka sebagai model butiknya. Jika adiknya bisa menjadi model butiknya kenapa harus menyewa orang lain? Mereka tak perlu berurusan dengan model sewaan yang kadang menyebalkan, tak perlu repot mencocokkan jadwal model sewaan dan waktu pemotretan, juga tak perlu bingung memilih siapa kali ini yang akan mereka sewa. Adik Sakura adalah anak sekolah, mereka cukup tahu jadwal anak sekolah, mereka juga pernah sekolah.

Terlepas dari status enam anak itu sebagai adik dari pemilik butik, mereka memiliki tubuh bagus serta wajah tampan dan cantik, serta jadwal yang mudah ditentukan. Membuat mereka menyetujui ide Sakura.

"Kita harus meminimalisir pengeluaran. Jangan menyewa kenalan kalian jika mahal. Kalian harus mengerjakannya sendiri jika perlu." Ujar Kakuzu

Semua menatap Kakuzu tidak percaya.

Dia ingin semua tugas membuat panggung, penataan lampu, tenda, penyusunan kursi undangan juga dekorasi dikerjakan oleh Sasori dan Deidara saja? Oh, Aku sangat yakin jika otaknya pasti sudah pensiun, tidak diragukan lagi.

"Demi Jashin-sama!! Apa Kau berniat menyiksa mereka? Mereka hanya dua orang! mereka tidak akan bisa menyelesaikannya tanpa bantuan orang lain. Kenapa kau sangat perhitungan dan pelit!?" Sembur Hidan marah. Bahkan si sesat masih memiliki pemikiran yang logis, kenapa Kakuzu tidak!?

"Kau wakilku, harusnya kau setuju denganku." Kakuzu berkata dengan santai.

Kakuzu menempati posisi sebagai manager keuangan dengan Hidan sebagai wakilnya. Si Tuan Kikir dan Si Pemuja Sesat ini ada dalam divisi yang sama, Keuangan.

Sekarang kalian tahu tiga pasangan gila yang disebutkan Guren tadi bukan?

Pertama Konan dan Pain, sepasang kekasih yang memiliki sifat dan tingkah laku berlawanan yang bekerja di divisi produksi. Lalu yang kedua ada Sasori dan Deidara di divisi showroom. Dua orang penggila seni yang mempunyai definisi berbeda. Sasori berpendapat jika seni adalah keabadian karena itulah banyak koleksi boneka di rumahnya termasuk boneka barbie sedangkan Deidara berpendapat bahwa seni adalah ledakkan, itulah kenapa ia sering merasa lapar karena uang hasil kerjanya ia gunkan untuk membeli berbagai petasan, kembang api, bom mini dan sejenisnya, Oh Kami-sama!.

Lalu pasangan terakhir adalah Si Tuan Kikir yaitu Kakuzu dan Si Pemuja Sesat yaitu Hidan. Kakuzu yang sangat pelit dan sangat perhitungan di satukan dengan Hidan si mulut kotor dan pengoleksi benda tajam. Kita do'akan saja Kakuzu berusia panjang, mengingat bahwa Hidan mempunyai berbagai senjata tajam dan juga suka memberi persembahan pada Jashin-samanya maka nyawa Kakuzu bisa hilang kapan saja. Dan mungkin karena nyawa Hidan yang bisa hilang kapan saja maka semuanya memaklumi kekikiran si manager keuangan ini.

Krekkk!!

Suara kaleng minuman yang ditekan hingga bagian tengahnya penyok.

Semua melihat ke arah pembuat suara itu.

Mereka melihat wajah si pelaku yang berwarna memerahan dengan guratan kekesalan yang amat terlihat disertai aura hitam yang menguar disekeliling tubuhnya, membuat mereka bergidik ngeri.

"Cukup, sudah cukup," si pelaku yang tak lain adalah Guren berkata dengan suara yang ditekan dan nada rendah yang dalam.

"Setelah kalimat-kalimat kasar Hidan, suara berisiknya Deidara, acuhnya Sasori dan Kakuzu pada kami, tingkah tak tahu malu Pain dan rendahnya rasamalu Konan"

Suara Guren yang lembut dan pelan tetapi membuat mereka bergidik itu mengalun dengan tenang.

Mereka membeku.

'Gawat! Singa betina ini marah'.

Batin enam orang itu bersamaan. Tentu saja enam, karena setelah memberikan pandangan tidak percaya pada Kakuzu, Sakura pergi ke samping sofa dan saat ini ia sedang berada di depan kulkas dan mengambil sekaleng minuman lagi lalu menenggaknya di depan kulkas itu.

"Itu masih kurang? Hem?" Lanjut Guren dengan nada 'manisnya'.

Ia lalu menambahkan, "Aku ingin berbincang dengan hangat bersama Sakura dan kalian karena ini hari pertamanya pulang dan membahas serius rencana acara itu dengan benar agar berjalan lancar. Tetapi tingkah kalian selalu membuatku kesal. Aku sudah berusaha menahan dan kalian masih tidak berhenti."

Guren memandang mereka satu persatu dengan senyum 'manis' di wajahnya.

Glup!

Mereka menelan ludah.

Ternyata Guren sudah menahan kesal cukup lama, sayangnya mereka tidak menyadarinya.

Set!

Lima diantara mereka segera melihat Kakuzu dengan pandangan menyalahkan. Kakuzu orang terakhir yang membuatnya kesal jadi mereka menyalahkannya, Kakuzu yang malang. Dan Kakuzu balas menatap mereka tidak terima.

"Oba-san, sebenatar lagi jam makan siang, aku lapar."

Masih dengan jemari yang menggenggam kaleng minuman dan bahu yang menempel di kulkas, Sakura berkata dengan tenang.

Guren menengok ke arah Sakura.

Keenam orang disana memandang Sakura dengan pandangan terimakasih.

'Sakura-chan, terimakaaih. kau menyelamatkanku dari makhluk menyeramkan itu.'

Jika saja ada sayap putih di punggungnya dan kakinya yang tidak menapak lantai, mereka akan yakin jika Sakura adalah seorang malaikat.

"Apa Oji-san akan datang? Dan aku ingin mencoba gaun itu, bukankah Oba-san ingin melihatku mencobanya?" Ujar Sakura.

Guren terlihat berpikir sejenak lalu nenatap keenam orang disana dengan mata menyipit lalu kembali menatap Sakura dengan wajah cerah dan senyum di bibirnya.

"Ya. Oji-san mu akan datang siang ini. Baiklah ayo! Aku ingin melihatmu mencobanya." Guren menjawab dengan ceria.

Melihat Sakura mencoba gaun buatannya sambil menunggu suaminya pulang lebih baik daripada membuang-buang tenaga memarahi tiga pasangan gila itu. Pikirnya

"Ayo Sakura-chan!" Seru Guren seraya melangkah keluar menuju pintu.

"Ha'i,"

Sebelum menyusul Guren keluar, Sakura melihat ke arah para manager dan wakilnya itu.

Lalu berkata, "aku akan memberi tahu keputusanku besok. Dan jika aku setuju, Rapunzel dan Barbie kalian hubungi kenalan kalian dan minta bantuannya, lalu rinci berapa biayanya dan mintalah uang pada Sekte atau coin. Dan kalian berdua, beri uang yang diperlukan mereka dan tulis laporan lalu berikan pada Oba-san." Mereka mengangguk, "baiklah."

Ia melihat Pain dan Konan. "Jika acara itu akan diadakan pastikan semua pakaian dan barang-barang yang di perlukan sudah selesai dibuat sebelum hari-H jika ada barang yang tidak selesai maka beritahu Oba-san" Konan mengangguk dan Pain memeluknya erat lagi. "baiklah, baiklah. Sakura-chan."

Setelah mencoba gaun yang membuat wajah Guren cerah dan tersenyum bangga akan karyanya yang melekat sangat pas dan cocok di postur tubuh indah keponakannya kini mereka sedang duduk di sofa sambil menonton televisi yang menampilkan film action meski mereka berdua tak benar-benar menontonnya.

"Kenapa Oji-san mu belum pulang? Apa dia tak jadi pulang?"

"Kurasa sebentar lagi, mungkin sedang dalam perjalanan."

"Ya, mungkin saja."

Mereka kembali mengalihkan pandangan ke arah televisi sambil memakan buah yang tadi pagi dibawa Sakura.

"Kau akan pulang ke rumah atau tetap di hunian, Sakura-chan?"

"Aku akan pulang."

"Kau punya rencana malam ini? Bagaimana jika kita makan malam di restoran laut bersama Oji-sanmu?"

Setelah memasukkan anggur ke dalam mulutnya Sakura menjawab,

"Tidak bisa. Aku akan pergi berkemah sore nanti bersama adik-adikku dan 'mereka'."

"Benarkah?! Kenapa kau tidak mengajakku?" Wanita berlipstik merah terang itu berkata dengan nada merajuk.

"Oba-san bisa ikut jika ingin."

"Tidak. Terimakasih," katanya. "Tetapi kau berhutang makan di restoran laut padaku." Lanjutnya.

"Hm." Gumamnya.

Ting tong! Ting tong!.

Suara bel rumah berbunyi.

"Ah! Oji-san mu datang!. Aku akan menyambutnya." Ujar Guren seraya berjalan agak tergesa ke arah pintu depan.

Hanya dua orang yang tahu kombinasi sandi Hunian ini, Sakura dan Guren. Ah! Tiga dengan mendiang Hamura. Bahkan suami Guren dan adik kembar Sakura juga tak tahu.

Saat sedang mengunyah apel hijau, Sakura mendengar suara seorang pria dari arah pintu depan dan juga suara Guren yang menjawabnya.

"Dia sudah datang?"

"Ya. Dia sedang memakan buah dan menonton tv, menunggumu untuk makan siang bersama."

Mereka berdua berjalan menuju ke arah Sakura.

Sakura berdiri lalu menyapa "Oji-san."

"Ah, Sakura-chan, kau datang rupanya. Lama menunggu?" Tanya pria dengan seragam kepolisian bernama Genma, suami Guren.

Genma terlihat gagah dengan seragam yang melekat di tubuhnya dan ah wajahnya juga terlihat lebih muda dari usianya. Ia memiliki kulit cerah dengan rambut dan bola mata berwarna coklat. Sebagai polisi, Genma adalah orang yang tegas, disiplin dan tenang, tetapi dengan keluarganya ia terlihat santai. Genma dan Guren sudah menikah selama dua tahun dan mereka belum memiliki anak.

"Tidak."

"Kau terlihat sehat, apa makanan Tokyo sangat enak?" Tanyanya dengan senyum kecil di wajahnya. Ia lalu menyodorkan sebuah kotak kecil pada Sakura. "Untukmu." Ujarnya

Sakura menerima kotak kecil itu. "Arigatou." Ujarnya, "Tidak seenak makanan buatan istrimu, Oji-san." Sakura melanjutkan.

Genma terkekeh mendengarnya.

Dan perlahan muncul aura hitam di sekitar Guren.

"Apa ini?" Tanya Sakura

Mendengar pertanyaan Sakura, kekesalan Guren berubah menjadi penasaran.

"Bukalah, Sakura-chan." Ujar Guren, ia terlihat lebih penasaran dibanding si penerima kotak itu.

Sakura membukanya.

"Ah hiasan rambut!" Seru Guren.

Ternyata ada sebuah hiasan rambut di dalam kotak kecil itu. Hiasan rambut dengan bentuk bunga matahari yang mekar sempurna itu terlihat cantik dan imut, karena ukurannya yang kecil.

"Saat bertugas aku melihat toko pernak-pernik dan melihat itu, lalu ingat kau menyukai bunga matahari jadi aku membelinya." Genma menjelaskan.

"Kalian sungguh suami istri".

Sakura ingat tadi bibinya memberinya gaun dengan bordiran bunga matahari dan kini pamannya memberinya hiasan rambut dengan bentuk bunga matahari.

"Apa maksudmu? Tentu saja kami suami istri." Ujar Guren dengan heran

"Tidak ada." Ucap Sakura.

Genma menatap mereka bergantian, lalu berkata, "tidakkah kita akan makan siang?"

"Ah ya! Tentu kita akan makan. Ayo!" Guren menjawabnya

Mereka berjalan menuju meja makan. Saat Genma dan Sakura melihat meja makan yang memiliki beragam hidangan mereka melirik ke arah Guren dengan sebuah seringai kecil di wajah mereka. Merasakan itu Guren memelototi mereka.

Genma tertawa kecil dan Sakura bertanya, "Oba-san apa semu-."

"Duduk! Diam! Dan makan!." Sebelum Sakura menyelesaikan pertanyaannya Guren memotongnya.

Mereka berdua tahu kemampuan memasaknya dan ia yakin kedua orang itu akan menggodanya karena melihat makanan yang tersaji di atas meja. Mangingat tadi pagi ia mengaku jika ia yang membuat kue dan ketahuan berbohong. Untunglah ia tidak mengaku jika ia yang memasak hidangan di meja itu, tetapi ia yakin mereka berdua tetapi bisa menggodanya meski ia tak mengaku jika ia yang memasak makan siang.

Sakura terkekeh.

Genma tersenyum lalu berkata, "Baiklah, baiklah. Bagaimana jika kita mulai makan sekarang."

Kemampuan memasak Guren yang buruk tak membuat perasaan Genma pada Guren berkurang. Yahh meski ia sering menggunakannya untuk menggoda istrinya itu. Hal itu memang membuat Guren kesal tetapi ia tahu bahwa suaminya itu hanya menggodanya dan tidak sungguh sungguh menyinggungnya. Ia tahu suaminya menerimanya apa adanya dan tak menuntutnya untuk pandai dalam hal memasak tetapi sebagai istri ia juga ingin memasak untuk suaminya, karena itulah ia mengikuti kelas memasak, meski tak ia hadiri secara rutin.

oOo

Saat hari mulai sore kaki jenjang Sakura yang berbalut celana khaki berdiri menghadap gerbang putih tinggi sebuah bangunan besar yang juga berwarna putih yang memiliki ukiran cukup besar bertuliskan 'Otsutsuki'. Ya, ini adalah mansion keluarga Otsutsuki. Disinilah Sakura berada sekarang.

Di pagar bagian pinggir terdapat seperti pintu dan ada sebuah bel disana. Lalu bagian tengahnya terdapat kaca tebal transparan cukup kecil berbentuk persegi. Sakura menuju pagar pintu itu lalu menekan bel kemudian ia melihat seorang pria mendekat kearahnya dari kaca persegi itu. Pria itu melihat ke kaca, ia sedikit terkejut saat melihat Sakura. Dengan segera pria itu membuka pintu, mempersilahkan Sakura masuk.

"Selamat datang, Nona Sakura." Pria yang membukakan pintu untuknya berkata dengan senyum sopan di wajahnya.

Sakura mengangguk.

"Apakah ada orang di rumah?" Tanya Sakura

"Tidak ada siapapun, nona." Jawab penjaga gerbang itu.

Sakura mengernyit heran lalu mengangguk.

Sakura melangkah menuju mansion besar itu dan pria penjaga berjalan kembali ke posnya.

Melangkah mendekati mansion Sakura melihat tukang kebun yang sedang memotong ranting kecil sebuah pohon, sepertinya ia berniat membentuk pohon itu menjadi lebih indah.

Sakura memasuki mansion besar itu dengan tenang seakan itu adalah rumahnya sendiri.

"Ah! Nona Sakura, kau pulang." Sebuah suara menyapa pendengarannya. Seorang wanita datang menghampirinya.

"Midora-san,"

Midora adalah kepala pelayan di mansion ini. Wanita itu berambut ikal berwarna hitam. Dia sudah lama bekerja disini.

"Kau ingin makan sesuatu, nona?" Tanyanya

"Tidak, aku sudah makan. Air dingin saja."

"Baiklah, tunggu sebentar, nona."

Sakura berjalan ke arah sofa dan duduk disana. Barusaja ia duduk ponselnya berdering, nama salah satu adiknya tertera di layar poselnnya.

"Ya, Hanabi."

"Nee-chan! Kami sudah pulang." Suara Hanabi menyapa pendengarannya. Ada nada gembira dalam suaranya. "Kau dimana Nee-chan? Sebentar lagi sore, acara kita tidak batal, kan?" Kini ada nada khawatir dalam suaranya.

"Aku akan pulang sebentar lagi." Jawab Sakura.

"Baiklah. Kami menunggumu, Nee-chan." Mendengar suaranya Sakura bisa membayangkan bahwa Hanabi sedang tersenyum lebar.

Setelah selesai berbicara dengan Hanabi, tak lama kemudian Midora datang membawa nampan kecil berisi segelas air putih biasa dengan potongan beberapa buah segar dan es batu di dalamnya, ia tahu selera Sakura.

"Arigatou, Midora-san." Sakura berkata sembari menerima gelas itu.

Midora tersenyum sopan lalu bertanya, "Apakah kau ingin istirahat, nona? Kamarmu barusaja dibersihkan kemarin."

Sakura meminum airnya lalu menjawab, "Tidak. Aku akan pulang." Kemudian ia bertanya. "Tidak ada siapapun disini?"

Midora tersenyum lalu menjawab dengan tenang, "Hagomoro-sama pergi memancing dengan teman-temannya sejak pagi sedangkan Indra-sama dan Ashura-sama masih belum pulang bekerja lalu Tuan Muda Toneri dan Momoshiki mereka juga belum pulang."

"Aku akan menghubungi mereka dan memberitahu jika kau pulang, nona." Midora bersiap akan menelfon.

"Tidak perlu." Sakura menghentikannya

Midora mengernyit heran. Sakura sudah lama tidak pulang ke mansion karena ia tidak berada di Konoha, lalu saat ia pulang, tidak ada orang di rumah dan ia menolak untuk memberitahu kakek, paman ataupun kakaknya jika ia pulang, Midora tak mengerti.

"Beritahu mereka saat mereka pulang nanti. Aku akan mengambil mobilku dan pulang." Ujar Sakura.

Setelahnya Sakura pergi ke garansi mansion itu kemudian keluar dengan mengendarai mobilnya menuju ke kediaman Shimura.

Sakura memang menyimpan mobil putihnya di mansion Otsutsuki saat ia pergi ke Tokyo. Kelima ibu itu tidak akan memakai mobilnya dan Shisui lebih menyukai motor hitamnya, sedangkan kelima adiknya yang lain belum memiliki surat izin mengemudi, kelima adiknya itu jika tak diantar ibunya atau Sakura mengunakan mobil maka mereka pergi ke sekolah dengan mengunakan bus atau kereta.

Di kediaman Shimura hanya ada satu mobil dan satu sepeda motor, ah, akan menjadi dua mobil dan satu motor jika Sakura pulang nanti. Satu mobil milik kelima ibunya dan satu sepeda motor milik Shisui. Sedangkan kelima adiknya yang lain tidak memiliki kendaraan apapun, ah! Tidak, mereka memiliki kendaraan juga tetapi bukan kendaraan yang memiliki mesin. Karena yang mereka miliki adalah sepeda. Selain sepeda mereka juga memiliki beberapa skateboard, sepatu roda, dan otopet yang berjejer rapi di garansi. Yah, setidaknya benda-benda itu bisa membuat tubuh berpindah tempat, bukan?

.

xXx My Family xXx

.

"Kaa-san! kami pulang."

Suara jernih seorang gadis remaja memasuki pendengaran wanita dengan surai merah menyala. Itu suara Hanabi, putri bungsunya.

"Selamat datang, anak-anak." Tayuya menyambut mereka.

"Ah! Ya ampun! Apa yang terjadi dengan wajahmu!? kau berkelahi lagi, Kiba-kun?" Tayuya bertanya saat melihat penampilan putra keduanya.

Dengan rambut coklatnya yang sudah berantakan menjadi semakin berantakan, jas yang ada di tangannya lalu dasi yang hanya tersampir di kerah kemeja. Bahkan kemeja putih yang kusut dan memiliki noda berwarna coklat itu sudah kehilangan dua kancing atasnya. Terakhir wajahnya yang terluka, terutama di dekat bibir dan di pelipis kanannya yang paling terlihat jelas.

Bagaimana bisa putranya yang saat pergi tadi pagi masih berwajah mulus, kini pulang dengan tampilan berantakan?

Ini memang bukan pertama kalinya Kiba pulang dengan keadaan seperti ini, dulu ia bahkan sering pulang dalam kondisi yang jauh lebih buruk dari ini, sudah sekitar setengah tahun ini bisa dibilang Kiba sudah sangat jarang terlibat perkelahian di sekolah lalu sekarang ia berkelahi lagi. Sebagai ibu tentu ia merasa sedih, marah, dan khawatir jika anaknya berkelahi dan pulang dalam keadaan terluka, walau dengan luka ringan sekalipun.

"Aku baik-baik saja, Kaa-san." Kata Kiba

Karin memutar bola matanya "Ya. Kaa-san benar. Adik bodoh ini berkelahi lagi dengan siswa kelas sebelah. Heh, pasti karena hal tidak berguna." Setelah memberi penjelasan disertai ejekan, Karin melanjutkan langkahnya menuju kamar.

Mendengar perkataan Karin, Tayuya menatap Shion. Seakan mengkonfirmasi apakah yang dikatakan putri kandungnya itu benar atau tidak. Bukan, bukan karena putri biologisnya itu seorang pembohong, tetapi ia tahu jika Karin dan Kiba adalah anak yang paling sering bertengkar. Tayuya ingin tahu yang dikatakan putrinya itu benar atau hanya karangannya saja, karena merasa kesal dengan Kiba.

Mendapatkan tatapan dari Tayuya, Shion mengangguk kecil. "Itu benar, Kaa-san."

Tayuya menatap Kiba, "Baiklah, bersihkan dirimu dan Kaa-san akan mengobatimu nanti."

Kiba mengangguk dan berjalan menuju kamarnya. "Ha'i, Kaa-san."

"Kaa-san, kenapa di rumah sepi?" Tanya Hanabi heran.

"Samui-chan dan Megumi-nee belum pulang, sepertinya mereka sedikit terlambat. Sedangkan Hikari-chan dan Ayame-chan juga Shisui-kun mereka barusaja pergi berbelanja." Jelas Tayuya.

"Nee-chan dimana, Kaa-san?" Tanya Hinata.

"Kami memintanya untuk berjalan-jalan, dia pergi sejak pagi dan belum kembali." Jawab Tayuya. "Baiklah, sambil menunggu yang lainnya pulang kalian mandi dan siapkan barang yang akan kalian bawa, sore ini kita akan berangkat, ingat?"

"Ha'i, Kaa-san." Jawab Hinata, Hanabi dan Shion. Lalu mereka menyusul Kiba dan Karin yang sudah lebih dulu menuju kamar.

Setelah beberapa waktu berlalu. Kini di kediaman Shimura, tepatnya di ruang tengah terdapat lima remaja dan satu wanita dewasa yang sedang duduk di sofa dengan beberapa tas yang ada di lantai sekitar mereka.

Ada seorang remaja bertato segitiga di pipi yang sedang duduk dengan seorang wanita bersurai merah yang sedang mengobati luka di wajahnya.

"Ssshhh, ah ittai! Ssshh, Kaa-san." Kiba merintih saat merasakan perih dan sakit.

"Rasakan itu, bodoh! Tekan saja dengan keras, Kaa-san. Hahaha." Ucap seorang gadis remaja berkacamata yang sedang berbaring tengkurap di sofa panjang bagian ujung sambil bermain dengan tabletnya.

Shion yang melihatnya hanya menatapnya dengan bosan lalu kembali membaca buku dengan genre horor di tangannya, tentu saja.

Tepat di depan televisi ada si gadis kembar, yang bersurai lavender sedang fokus menonton acara memasak yang sedang tayang sedangkan gadis satunya lagi sedang sibuk dengan biskuit keju dan segelas susu di nampan yang ada di pangkuannya.

"Diam kau iblis mer- Aduh! Duh! Ah Kaa-san, kenapa kau menurutinya?" Kiba meringis dan bertaanya saat merasakan tekanan tangan ibunya pada wajahnya meningkat.

"Heh! Tentu agar kau berhenti berkelahi, apalagi memangnya? Hem?" Ah Tayuya benar-benar menuruti perkataan putrinya rupanya.

Karin tertawa senang saat tahu ibunya benar-benar menekan tangannya dengan keras. Tak lama kemudian suara Hanabi terdengar.

"Kaa-san, kita akan pulang minggu sore atau minggu malam, bukan?" Tanya Hanabi disela-sela kegiatan olahraga mulutnya.

Tayuya menjawab, "Ya, Hanabi-chan."

"Apa ada masalah?" Tayuya bertanya saat ia melihat raut wajah sedih Hanabi, dia bahkan sampai berhenti memakan biskuit kejunya.

"Bagaimana dengan Alex-kun dan Alexa-chan ? Siapa yang akan memberi mereka makan? bagaimana jika mereka mati?"

Rupanya duduk tepat di depan televisi tak membuat matanya menatap benda berlayar datar itu. Tetapi malah melihat ke akuarium mini di samping televisi. Ya, Alex dan Alexa adalah nama sepasang ikan hias milik Hanabi yang ia dapatkan sebulan yang lalu dari ibu kandungnya, Hikari. Karena ada seorang penjual ikan hias yang menjadi pelanggan restoran dan ibunya membeli sepasang ikan, dan sejak Hanabi melihat dua ekor ikan itu, ia mendeklarasikan dirinya sendiri sebagai pemilik sepasang ikan hias itu.

Mendengar perkataan Hanabi membuat Tayuya tertawa. Ia lalu berjalan menuju lemari putih kecil berbentuk kotak dengan simbol tambah berwarna merah di depannya. Lemari itu menempel di tembok dekat bufet. Tayuya lalu meletakkan kotak obatnya kembali disana. Ia sudah selesai mengobati Kiba rupanya.

"He?! Mati? Si-siapa yang mati, Hanabi-chan?" Oh hebat sekali. Fokus gadis bersurai lavender ini saat menonton acara memasak tidak terganggu dengan suara kesakitan dan rintihan Kiba saat di obati ataupun suara cukup keras dan berisik milik Karin. Tetapi fokusnya malah terganggu oleh perkiraan kematian sepasang ikan hias!.

Shion mendengus lalu menatap Hanabi. "Di rumah ini memang tidak ada pelayan, tetapi kita memiliki satpam, kalau kau lupa."

Hinata terlihat bingung.

Tayuya memberikan bungkusan pada Hanabi, mata Hinata menatap bungkusan itu. Ia membaca tulisan yang tertera disana. Itu makanan ikan.

"Tidak ada yang mati, Hinata-chan. Hanabi-chan hanya khawatir jika ikan hiasnya mati saat kita pergi nanti." Tayuya menjelaskan saat melihat wajah bingung Hinata.

Hinata terlihat lega mendengarnya, lalu saat melihat televisi lagi ternyata sedang jeda iklan lalu ia menatap Shion yang sedang membaca buku, matanya bergerak mengikuti huruf di kulit buku itu lalu wajahnya berubah pucat, tentu saja, kesukaan Shion adalah ketakutannya. Buru-buru ia mengalihkan pandangannya dari sana, kini ia melihat kakak lelakinya yang sedang memejamkan mata dan duduk bersandar pada sofa dengan memakai headphone di kepalanya.

Hah, padahal hanya pergi selama dua hari tetapi Hanabi sudah sekhawatir itu pada peliharaannya. Sungguh, dia menyayangi sepasang ikan itu.

Tayuya menatap Hanabi. "Beri makan dulu ikanmu lalu beritahu Paman Iwaki untuk memberi makan Alex dan Alexa selama kita pergi." Iwaki adalah satpam rumah mereka.

"Ha'i, Kaa-san." Hanabi memberi makan sepasang ikan hias itu.

Saat mendengar perkataan Shion tadi Hanabi tidak mengerti tetapi saat mendengar ibunya ia akhirnya paham apa yang Shion maksud.

Beberapa saat kemudian terdengar suara mobil, lalu ada suara bel rumah disusul dengan tiga orang yang berjalan memasuki rumah itu.

"Tadaima," Mereka mendengar suara ceria milik Ayame.

"Okaeri." Jawab mereka serempak lalu menoleh ketiga orang yang baru datang, yaitu Ayame, Hikari dan Shisui.

"Di sup- ah! Kiba! Ada apa dengan wajahmu?" Ayame terlihat terkejut saat matanya melihat Kiba, putra kandungnya. Tetapi sang anak bahkan tidak bergerak seincipun. Yah, salahkan saja headphone yang menyumbat pendengarannya itu.

Setelah kehebohan karena Kiba, sekarang suasana kembali tenang. Ayame juga sudah santai kembali setelah memeriksa Kiba dengan teliti bersama Hikari dan tahu bahwa putranya baik-baik saja. Di juga memaksa Kiba minum vitamin dan membawa obat kalau-kalau nanti diperjalanan merasa sakit.

"Kau berkelahi di hari pertama Nee-san pulang." Ujar Shisui sambil memberi es krim pada adik kembarnya yang dibelinya saat menemani kedua ibunya berbelanja.

Si kembar menerima dengan senang hati, "Arigatou, Nii-san."

"Benar. Nee-san tidak akan menyukainya." Shion setuju dengan ucapan Shisui

Shion dan Karin membuka mulutnya lalu mengambil beberapa gigitan saat Hanabi dan Hinata menyodorkan es krim pada mereka.

Kini matahari makin condong ke arah barat, menandakan siang hari akan berganti menjadi sore hari.

"Hari sudah semakin sore, kenapa Nee-san belum juga pulang?" Karin berkata dengan tangan yang masih setia memegang tablet.

"Bagaimana jika kita menunggu Sakura-chan di depan rumah dan memasukan beberapa barang ke bagasi mobil?" Samui memberi saran

Megumi dan Samui pulang tak lama setelah Ayame, Hikari dan Shisui pulang. Mereka berdua pulang menggunakan taksi karena mobil digunakan untuk berbelanja.

Kesebelas anggota keluarga itu kini berada di halaman depan rumah. Kiba dan Shisui sudah memasukan beberapa tas ke bagasi mobil hitam milik kelima ibunya, tetapi masih ada beberapa tas yang belum di masukkan karena bagasi sudah banyak terisi bahan belanjaan sebelumnya.

"Hinata-chan! Lempar kayu itu padaku." Seru Kiba.

"Tangkap ini, Kiba-nii."

Whusss!!!

"Lemparan bagus, Imouto." Puji Kiba, yang membuat Hinata tertawa senang.

"Kemarilah Akamaru, ambil kayu ini jika kau bisa."

Kiba dan Hinata sedang asik bermain dengan Akamaru. Hinata terlihat bersemangat, dan ceria. Berbanding terbalik dengan Hanabi yang kini sedang duduk bermalas-malasan sambil melanjutkan memakan biskuit keju dan segelas susu lagi di teras bersama kelima ibunya. Jika nafsu makannya seperti itu terus maka keinginannya untuk lebih tinggi dari Hinata kemungkinan akan terwujud.

Melihat Hinata yang terlihat aktif dan bersemangat lalu Hanabi yang duduk santai bersama kelima ibunya, membuat Shion menatap adik kembarnya bergantian.

'Apa kepribadian mereka tertukar?'

Mengendikkan bahu, Shion melanjutkan lagi membaca bukunya.

Di dekat Kiba dan Hinata ada Shisui yang berdiri dengan tangan yang memegang kamera dan mengarahkannya pada kedua adiknya itu. Sepertinya ia memotret mereka berdua beserta Akamaru secara bergantian.

"Aku bosan!" Seru Karin dengan tangan yang bergerak melepas earphone di telinganya, yang ia gunakan saat menonton video action di youtube menggunakan tablet merahnya. Sejak tadi karin fokus pada tab-nya dan sekarang ia mengeluh bosan, sepertinya video yang ia tonton sudah selesai.

Hanabi mendengar seruan Karin. Lalu ia bertanya pada para ibunya, "Haruskan aku menghubungi Nee-chan?"

"Ide bagus,"

"Hubungilah kakakmu, tanyakan dia ada dimana?"

Kelima ibunya menyetujui idenya.

"Baiklah."

"Ya, Hanabi." Suara tenang kakaknya memasuki telinganya

"Nee-chan!, Kami sudah pulang." Ia menjeda sejenak lalu bertanya sesuai keinginan ibunya dengan sedikit tambahan kata. "Kau dimana, Nee-chan? Sebentar lagi sore, acara kita tidak batal ,kan?" Jika batal maka sia-sia mereka menunggu dan berkemas. Kedua ibu dan kakaknya lelakinya bahkan pergi berbelanja cukub banyak.

"Aku akan pulang sebentar lagi." Meski jawaban kakaknya tak berhubungan dengan pertanyaan yang ia ajukan, ia tahu artinya. Acara mereka tidak batal dan kakaknya akan segera pulang.

Hanabi Tersenyum lebar. "Baiklah, kami menunggumu, Nee-chan."

"Nee-chan akan pulang sebentar lagi, Kaa-san." Hanabi memberi tahu apa yang dikatakan kakaknya.

"Ya, itu bagus,".

.

.

.

.

.

Chapter 4 Selesai

-oOo-

Halo, apa kabar??

Semoga baik-baik aja dan selalu jaga kesehatan ya :)

Awal tahun Indonesia mengalami banyak duka. Semoga segalanya cepat membaik, Aamiin.

.

.

.

.

A/N :

Sebenarnya saya sendiri heran sama fic ini. Pas baca ulang, diri ini bertanya-tanya. Kenapa fic ini alurnya lelet banget? kyk gak jalan. Bahkan siput batu milik patrick star aja menang lomba! Ah Lupakan!

.

Di google, tanggal lahir Hinata 27 desember dan Hanabi 27 maret. berhubung disini mereka kembar jadi saya pake yang punya Hanabi.

Chapter ini Lebih panjang dari sebelumnya, 10k loh word nya. spesial untuk 2guest yaitu, Guest Pina dan Guest Namikaze Aira, yang kuanggap sebagai dua pereview pertamaku di dunia Fanfiction. terimakasih review-nya.

Review lagi ya! ;)

.

Untuk yang membaca jiika berkenan bisa tulis di kotak review typo nya dimana saja atau kasi tau scene yang kalian suka bagian mana, ataupun kasitau tanda baca dan penulisan yg salah, atau apapun itu.

Saran dan Kritik, dipersilahkan. kecuali flame :D

Review adalah asupan semangatku:)

Sampai Jumpa...