Sebelumnya...
.
.
"Ya, Hanabi." Suara tenang kakaknya memasuki telinganya.
"Nee-chan! Kami sudah pulang." Ia menjeda sejenak lalu bertanya sesuai keinginan ibunya dengan sedikit tambahan kata. "Kau dimana, Nee-chan? Sebentar lagi sore, acara kita tidak batal, kan?" Jika batal maka sia-sia mereka menunggu dan berkemas. Kedua ibu dan kakaknya lelakinya bahkan pergi berbelanja cukub banyak.
"Aku akan pulang sebentar lagi." Meski jawaban kakaknya tak berhubungan dengan pertanyaan yang ia ajukan, ia tahu artinya. Acara mereka tidak batal dan kakaknya akan segera pulang.
Hanabi Tersenyum lebar. "Baiklah, kami menunggumu, Nee-chan."
"Nee-chan akan pulang sebentar lagi, Kaa-san." Hanabi memberi tahu apa yang dikatakan kakaknya.
"Ya, itu bagus.".
.
.
.
.
.
--oOo--
My Family
Naruto by : Masashi Kishimoto
Story by : Awy77 Andrian
Warning : OOC, Typo(s), AU, Dsb.
Rated : T
Genre : Family, Drama, Romance
Main Pair : Narusaku (slow)
Mohon maklumi semua kegajean, keanehan dan hal yang tidak masuk akal dalam cerita ini. Bukan tanpa alasan ini disebut Fanfic, bukan?
If you don't like don't read
Happy Reading :)
--oOo--
.
.
.
.
.
Brumm... brumm...
Dari depan gerbang kediaman Shimura datang mobil berwarna putih.
"Nee-chan pulang!" Hanabi langsung berdiri saat melihatnya.
Mendengar seruan Hanabi, membuat Karin, Shion dan kelima ibu lantas melihat ke arah mobil yang baru datang. Mereka tersenyum senang.
Sakura keluar dari mobil.
"Nee-chan!" Hanabi berlari menghampiri Sakura dengan senyum lebar di wajahnya.
Ia mendatangi Sakura. Lalu sedikit melompat, dan berakhir dengan memeluk Sakura. Hanabi melingkarkan tangannya ke leher kakaknya itu, kini kakinya tidak menapak tanah lagi.
Saat ini tinggi badan Sakura sedikit lebih tinggi dibanding Kiba dan hampir setara dengan Shisui. Tenaganya juga kuat. Menggendong adiknya bukan hal yang sulit baginya.
Sakura melingkarkan tangannya di pinggang Hanabi, menahan tubuhnya. "Aku menjadi gemuk karena menunggumu, Nee-chan..." Keluhan Hanabi membuat Sakura bingung. Ia menaikkan sebelah alisnya. Hanabi melihat kebingungannya, "lihat itu." Ujar Hanabi dengan bibir mengerucut dan mengarahkannya ke tempat ia duduk sebelumnya.
Sakura melihat beberapa bungkus camilan, piring buah, lalu sebuah nampan yang diatasnya terdapat piring yang hanya berisi dua atau tiga buah biskuit dan dua buah gelas. Gelas pertama itu sudah kosong dan di gelas kedua Sakura melihat masih ada sedikit susu di dalamnya. Bahkan jumlah makanan disana sudah bertambah, entah siapa yang menambahnya, mungkin Hanabi sendiri.
"Apakah sangat lama?" Tanya sakura
"Ya, hingga mungkin saja Alex-kun dan Alexa-chan saat ini sudah memilik banyak telur." Ujar Hanabi tak masuk akal tetapi berhasil membuat Sakura tertawa kecil.
Sakura lalu melepas tangan kirinya dari pinggang Hanabi yang membuat tangan kanannya menjadi penyangga pinggang Hanabi satu-satunya. Tangan kirinya bergerak menyentil pipi kanan adiknya yang masih memiliki sedikit lemak bayi, membuat Hanabi mengaduh sesaat, lalu tangannya bergerak meraih topi bowler coklat muda di kepalanya dan memakaikannya di kepala Hanabi. Rambut coklat milik Hanabi kini mempunyai aksesoris berupa topi, yang juga berwarna coklat.
Sakura menurunkan Hanabi. Lalu mereka berdua berjalan mendekat ke arah yang lainnya. Hanabi berjalan lebih cepat dari Sakura. Mungkin ingin menghabiskan susu dan biskuitnya yang tersisa.
Interaksi Sakura dan Hanabi tentu dilihat oleh kelima ibu yang masih duduk dengan nyaman juga Shion dan Karin. Mereka tersenyum melihatnya.
Disisi lain, saat melihat kedatangan Sakura, adik pertama Sakura, Shisui, berjalan melangkah ke arah kelima ibu disana. Setelah beberapa saat sebelumnya, tepatnya sebelum Sakura pulang ia berusaha menghentikan Hinata dan Kiba bermain.
Sepertinya Shisui memiliki keinginan untuk menaruh tas yang masih berada disekitar para ibu ke mobil Sakura.
"Nee-chan!! Tolong aku!!"
Guk! Guk! Guk!
"Nee-chan!!"
Guk! Guk!
Suara Hinata menghentikan langkah Sakura mengikuti Hanabi. Menengok sedikit ke kiri iris emerald miliknya melihat Hinata yang berlari ke arahnya dengan diikuti Akamaru di belakangnya.
Sakura melihat salah satu adik kembarnya itu berlari cukup kencang ke arahnya. Membuat gaun berwarna ungu muda selutut dengan corak bunga aster itu agak berkibar. Kaki Hinata yang berbalut sepatu mary jane berwarna putih itu mengambil langkah dengan cepat.
Sekali gadis itu menengok kebelakang memastikan Akamaru masih mengejarnya atau tidak, dan setelahnya ia berlari lebih kencang lalu menerjang Sakura. Entah apa yang dilakukannya hingga Akamaru mengejarnya seperti itu.
'Sudah kubilang pada mereka berdua untuk berhenti bermain, sekarang lihatlah, Akamaru tak mau berhenti bermain.'
Batin Shisui saat melihat Hinata yang berlari menjauhi Akamaru dan mencari perlindungan pada kakak tertua mereka.
Grepp!!
Saat akan mencapai Sakura, Hinata segera mengambil langkah besar lalu melompat dan menerjang Sakura dengan tangan yang memeluk leher kakaknya erat-erat.
Sakura yang tidak siap mendapat dorongan cukup kuat dari terjangan Hinata, reflek memeluk tubuh Hinata dan segera menggerakan satu kakinya kebelakang untuk memperkokoh pijakannya, lalu mengubah dorongan dengan cara memutar tubuhnya sekaligus Hinata.
"Hah!... hah...hah..." nafas Hinata masih tersenggal-senggal.
Masih berada di pelukan kakaknya dan kepalanya yang berada di bahu Sakura, Hinata berkata dengan nafas yang belum stabil. "Nee-... hahh...-chan, hah... Aka-... hah ...-maruh... mengeh... hah... mengejarkuh... hah." Hinata berkata dengan terbata.
"Tenanglah, aku disini." Ujar Sakura menenangkan Hinata.
Setelah beberapa saat, napasnya mulai kembali stabil. Masih dengan tangan yang melingkari leher Sakura, Hinata lalu menatapnya. "Hah... Dia tak mau berhenti bermain. Aku hah... berlari dan dia mengerjarku." Dengan wajah yang masih memerah karena berlari dan mata yang terlihat masih panik, Hinata berusaha menjelaskan.
"Hm, sekarang tenanglah, aku disini. Semua baik-baik saja. Akamaru tak akan menyakitimu." Ujar Sakura yang membuat Hinata tenang, ia mengangguk.
Hinata lalu melihat ke arah ia tadi berlari, ingin melihat Akamaru.
Akamaru kini bersama kakak lelakinya yang tadi bermain bersamanya dan Akamaru, Kiba. Sakura mengikuti pandangan Hinata, seketika ekspresi wajahnya berubah dingin.
"Ah! Dia sudah bersama Kiba-nii!" Seruan Hinata menyadarkan Sakura
Sakura segera berkata, "Jangan bermain terlalu lama dengan Akamaru, itu akan membuatnya tak mau berhenti."
'Harusnya aku menuruti perkataan Shisui-nii.' Batin Hinata.
Hinata menatap kakaknya lalu mengangguk patuh. "Hu'um,"
Sakura menurunkan Hinata. Kemudian tangannya merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci, kunci kamar.
Memberikannya pada Hinata ia berkata. "Masuklah ke kamarku dan ambil papper bag berwarna coklat di atas meja belajar. Itu untukmu dan Hanabi. Pergilah, aku akan menyusul." Lalu menepuk kepala Hinata dua kali.
'Ah! Oleh-oleh.'
Batin Hinata senang.
"Baik, Nee-chan." Hinata mengangguk patuh dengan senyum di wajahnya lalu pergi menuruti perintah Sakura.
Dengan Hinata yang berjalan menjauh, disisi lain ada Kiba yang berjalan mendekat bersama Akamaru di sampingnya. Anjing itu sedang menggigit sebuah kayu.
Sakura terus menatap Kiba dengan dingin. Sedangkan Kiba, meski berusaha menghindari tatapannya dia tetap berjalan mendekat ke arahnya.
Tepat saat Sakura dan Kiba sudah dekat dan siap berbicara, suara Shisui terdengar.
"Nee-san, bisa berikan kunci mobilmu padaku?"
Shisui berkata denga membawa satu tas di masing-masing tangannya. Lalu di belakangnya ada Karin dan Shion yang membawa satu tas hitam berdua. Tas dengan besar yang sama seperti yang dibawa Shisui di masing-masing tangannya. Masing-masing satu tangan kedua gadis remaja itu mengangkat satu tas bersamaan dan tangan lainnya memegang sebuah buku bergenre horor dan tablet PC berwarna merah.
Sakura lalu merogoh saku celananya dan memberikan kunci mobilnya pada Shisui.
Kembali menatap Kiba, Sakura berkata. "Kembali ke kamarmu dan ambil satu set pakaian olahraga."
Setelahnya ia berjalan menyusul Hinata ke kamarnya.
Kiba kembali membungkuk untuk mengelus Akamaru.
Setelah memasukkan ketiga tas. Dua yang ia bawa dan satu yang dibawa oleh Karin dan Shion bersamaann, Shisui bersandar pada badan mobil Sakura lalu menatap Kiba dan berkata. "Spertinya Nee-san berniat untuk bersenang-senang denganmu ne, Otouto."
"Ah! Kau membuatku iri! Kemahmu nanti pasti akan penuh semangat juga keringat, ne? Kiba-kun? Hahaha." Karin berkata disertai tawa di akhir kalimatnya.
Shion menatap Kiba sesaat lalu ikut menyumbang suara juga. "Kau sendiri yang mengundangnya, Kiba-nii."
Berkelahi hingga wajahnya seperti itu di hari pertama kakaknya pulang, setelah hampir setengah tahun dia tak pulang. Hah, memang tak salah jika Shion berkata dia yang mengundang kakaknya sendiri untuk 'bersenang-senang'.
Kiba mendengus lalu pergi menuruti kakak pertamanya untuk kembali ke kamar mengambil pakaiannya.
"Sakura-chan, apa kau ingin mandi dulu?" Tanya Hikari
"Kami akan menunggumu di sini." Tayuya melanjutkan.
"Hanya mengambil tas." Jawab Sakura tanpa menghentikan langkahnya menuju kamar. Sedangkan kelima ibu itu mulai berjalan menuju mobil mereka. Karena Sakura hanya akan mengambil tas maka itu tidak akan lama, mereka akan menunggu di mobil sekaligus bersiap-siap.
"Eh, Kiba-kun? Kau mau kemana?" Tanya Hikari saat melihat Kiba datang ke arah mereka dan seperti akan memasuki rumah.
"Apakah ada yang tertinggal?" Tanya Megumi.
Kiba mengangguk. "En. Aku ingin mengambil sesuatu." Jawabnya.
"Cepatlah, kakakmu hanya akan mengambil tas." Samui memberitahu.
Kiba mengangguk lalu berlalu menuju kamarnya yang juga kamar Shisui.
Hanya ada tujuh kamar di rumah itu. Empat kamar di lantai satu dan tiga kamar di lantai dua.
Empat kamar di lantai satu adalah milik kelima ibu dan dua adik lelaki Sakura. Kamar pertama adalah kamar Megumi, dia tidur sendiri. Lalu kedua ada kamar Hikari dan Ayame. Kemudian kamar ketiga adalah milik Tayuya dan Samui. Terakhir adalah milik Shisui dan Kiba. Dulu saat Hamura masih hidup, dia dan Danzou menempati kamar di lantai satu, lalu kamar lainnya adalah kamar tamu, kemudian kamar Koharu dan terakhir adalah kamar yang dijadikan Hamura sebagai ruang kerjanya dan juga tempatnya menyimpan berkas-berkas penting lainnyan, terkadang juga ia jadikan tempat berdiskusi bersama client-nya.
Sedangkan tiga kamar yang ada di lantai dua. Dulu, kamar utama adalah milik Sakura, satu lagi untuk ruang bermain Sakura. Terakhir adalah kamar kosong yang hanya digunakan untuk menyimpan beberapa barang yang jarang digunakan. Kini, ruang bermain Sakura sudah berubah menjadi kamar milik adik kembarnya, sedangkan kamar kosong itu, kini sudah menjadi kamar Karin dan Shion.
Ceklek!
Sakura membuka pintu kamarnya dan mulai memasuki kamar.
"Nee-chan! Aku mencintaimu!"
Saat masuk, indra pendengarannya disambut oleh kedua suara adik kembarnya, Hinata dan Hanabi.
Pantas saja tadi Sakura tak melihat Hanabi diantara adiknya yang membawa tas ke mobilnya, juga tak melihatnya di antara kelima ibunya. Ternyata Hanabi mengikuti Hinata pergi ke kamarnya.
Iris emerald itu melihat kedua adiknya yang menuju ke arahnya.
Grepp!!
Mereka berdua memeluk Sakura.
Sakura agak terkejut. Lalu ia tersenyum kecil dan membalas pelukan adik kembarnya itu.
"Arigatou, Nee-chan." Mereka berkata secara bersamaan lagi.
"Suka?" Tanya Sakura
Mereka berdua melepas pelukannya
Hanabi menatap Sakura heran, lalu berubah semangat. "Nee-chan bercanda? Tentu saja aku suka! Aku sangat menyukainya." Hanabi berkata dengan tangan yang mengangkat buku di tangannya lalu tersenyum lebar.
"Hu'um! Hu'um!" Hinata menganggukkan kepalanya berkali-kali. Menyetujui ucapan kembarannya.
"Aku juga suka! Aku sangat menyukainya, Nee-chan!" Ujar Hinata dengan semangat, wajahnya juga memerah senang dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Lalu tangannya memeluk buku yang ia pegang juga sebuah kotak kecil dengan erat.
"Ini edisi terbatas, bagaimana Nee-chan mendapatkannya?" Tanya Hanabi penasaran. Hinata-pun sama penasarannya dengan Hanabi. Mereka menatap Sakura dengan rasa keingintahuan yang tinggi.
"Itu urusanku, Kalian tak perlu tahu. Sekarang buku itu milik kalian, rawatlah baik-baik."
Hinata mendapatkan buku tentang kuliner yang ditulis oleh chef idolanya, role model nya dalam bidang kuliner. chef yang sangat berbakat dan terkenal juga menjadi panutan banyak orang. Chef itu sangat menjaga privasi dan berkepribadian tertutup. Dari ia belum dikenal hingga menjadi sangat terkenal dia tak pernah membagi hal pribadi apapun tentangnya, bahkan orang hanya tahu sedikit tentang pengalaman dan perjalanan karirnya. Hingga lima bulan lalu ia mengumumkan akan merilis buku pertama sekaligus terakhirnya yang hanya akan dicetak sebanyak 15 buah. Pengumuman itu mengejutkan penggemarnya, bahkan yang bukan penggemar pun terkejut.
Buku yang dikatakan berisi beberapa pengalaman dan resep juga beberapa hal tentang dirinya sendiri itu menarik perhatian banyak orang. Terlebih chef itu mengatakan jika yang mendapat bukunya juga akan mendapatkan beberapa foto koleksi pribadinya dan video pribadi miliknya, yang tentu saja membuat semakin banyak orang yang tertarik, hingga sangat banyak orang yang ingin mendapatkan buku itu. Terlebih hanya dicetak sebanyak 15 buah. Menjadikan buku itu semakin sulit didapat. Entah bagaimana kakaknya itu bisa mendapatkannya.
Sedangkan Hanabi mendapat buku beladiri yang ditulis oleh seorang ahli beladiri yang sudah cukup tua. Buku itu akan menjadi buku terakhir yang ditulis olehnya. Buku itu juga hanya dicetak sebanyak 30 buku.
Dengan pamornya sebagai ahli berbagai seni beladiri yang dikagumi dan menjadi panutan banyak orang di berbagai negara, tentu 30 buku masihlah sedikit.
Hanabi menyukai beladiri sedangkan Hinata menykai dunia kuliner. Menjadi anak kembar tak membuat mereka berdua tertarik pada hal yang sama, bahkan lebih terlihat berlawanan.
"Baik! Kami akan merawat buku ini dengan baik."
Jika kakaknya itu tak mau memberitahu mereka bagaimana cara mendapatkannya, maka, bagaimanapun mereka berusaha mendapatkan jawabannya, itu tak akan membuahkan hasil. Maka lebih baik menjadi patuh.
"Turunlah, aku akan menyusul." Ujar Sakura.
Mereka mengangguk bersamaan. "Ha'i,"
Mereka berjinjit lalu sedikit melompat dan,
Chup!
Si kembar mencium masing-masing pipinya. "Arigatou, Cherry-nee." Mereka berucap bersamaan lalu berlari keluar dengan senyum yang mengembang di wajah keduanya.
Sakura tersenyum kecil lalu melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian, lalu mengambil sebuah tas yang sudah ia siapkan semalam.
Dengan membawa tas, Sakura keluar rumah, mengunci pintu kemudian berjalan ke arah mobil putihnya. Ia membuka pintu mobil dan suara Karin terdengar, "dua plastik putih ini berisi cukup banyak camilan dan botol minuman. Ini untuk kita diperjalanan, Nee-san?"
"Berikan satu pada Kiba."
Kiba hanya ia minta untuk mengambil satu set pakaian olahraga, itu tak memakan waktu lama, lalu dia tak melihat Kiba di mobilnya. Maka hanya ada satu kesimpulan, Kiba berada di mobil kelima ibunya.
"Eh? Baiklah." Karin turun dari mobil dengan membawa plastik berisi camilan dan minuman ke mobil hitam ibunya.
Mendekati mobil putih, Karin melihat kaca mobil itu bergerak turun, sepertinya mereka menyadari kehadirannya.
"Ada apa Karin-chan? Dan apa itu yang kau bawa." Ayame bertanya dari dalam mobil. Dia duduk di samping si pengemudi, Megumi.
"Nee-chan memintaku untuk memberikan ini pada Kiba." Dengan mengangkat plastik yang dibawanya ia menjawab.
Ayame membuka pintu dan menerimanya. "Ah, terimakasih, Karin-chan."
Karin tersenyum, lalu mulai berbalik untuk kembali ke mobil kakaknya.
Di belakangnya kaca pintu penumpang di belakang Ayame bergerak turun.
"Katakan terimakasih pada kakakmu, Karin-chan."
Mendengar suara Hikari, membuat Karin berbalik dan mengangguk lalu melanjutkan langkahnya.
Di dalam mobil Tayuya terkekeh dan berguman, "gadis itu."
Ayame tertawa kecil melihat isi plastik itu, lalu mengambil dua botol minuman dan sebungkus camilan, kemudian memberikan plastik itu pada Samui di kursi belakang. Dia mengambil minuman dan camilan untuknya dan Megumi di sampingnya yang bersiap mengemudi.
Disamping Ayame, Megumi melihat plastik itu dan ada senyum lembut terukir di wajahnya.
Meski Sakura berpesan pada Karin jika itu untuk Kiba, mereka tahu jika Sakura membelikan makanan itu untuk mereka juga. Karena jika hanya untuk Kiba, maka tidak akan sebanyak itu.
Megumi mulai mengemudi dengan senyum di wajahnya juga di wajah keempat wanita lainnya. Sedangkan pria satu-satunya di mobil itu, Kiba. Dia sedang menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, menutup mata dan ada headphone yang melingkar di kepalanya, menyumpal indra pendengarannya. Sepertinya dia tak tahu jika baru saja Karin datang memberikan camilan untuk mereka. Ah bahkan peliharaan kesayangannya juga tengah tertidur di sampingnya.
Dua mobil berwarna hitam dan putih melaju di jalanan dengan kecepatan normal. Setelah melewati jalan raya yang lebar dan ramai, kini kedua mobil itu melaju di jalan yang cukup sepi dengan pepohonan dikiri dan kanannya, wilayah yang terasa sejuk dan asri.
Setelah melewati jalanan tadi, kini mobil hitam dan putih itu memasuki area yang di depannya terdapat tugu juga plang bertulislan 'Hutan Sakura'.
Tempat itu memang luas dan di tumbuhi banyak pepohonan terutama pohon Sakura, tampak asri dan sedikit lebih terjaga kebersihannya dan lebih modern dibanding hutan sungguhan. Itulah kenapa meski memiliki nama 'Hutan Sakura', keluarga Shimura menyebutnya sebagai 'Kebun Sakura'. Menurut mereka tempat itu terlalu cantik dan juga modern dibanding hutan sungguhan, seperti namanya. Meski tempat itu ditumbuhi banyak pohon, asri dan dan luas tetapi lihatlah, bagian depannya yaitu tempat loket beserta lobi tempat menunggunya sudah modern.
Keluarga Shimura turun dari kendaraannya.
"Akhirnya sampai juga!" Karin berkata sembari menarik napas dalam-dalam.
"Siapa yang akan memesan tempat untuk kita?" Hanabi bertanya
"Kaa-san yang akan memesan. Kalian turunkan barang-barang dan tunggu di lobi." Ujar Megumi
Megumi berjalan menuju tempat pemesanan dan yang lainnya menurunkan barang-barang lalu menyusul Megumi.
Sekarang keduabelas anggota keluarga Shimura itu sedang berjalan menuju tempat yang mereka pesan. Megumi mengatakan dia menyewa dua rumah kayu yang berdekatan di paling ujung.
Meski mereka menyebutnya kemah, sebenarnya itu tak benar-benar kemah menggunakan tenda atau semacamnya. Tetapi menggunakan rumah kayu sederhana tanpa sekat sebagai tempat berlindung.
"Tidak jauh dari rumah kayu penginapan yang kita sewa, ada danau. Petugas tiket mengatakan jika danau itu aman. Jadi kalian bisa memancing atau berenang disana" Ucap Megumi
Shisui heran, "tetapi kita tidak membawa peralatan memancing."
"Ah! Dia juga mengatakan jika di dekat danau itu ada tempat penyewaan perahu dan peralatan memancing."Megumi memberitahu
Mereka terus berjalan hingga terlihatlah dua rumah kayu sederhana yang bersebelahan. Hutan ini cukup luas. Jarak antara rumah satu dan rumah lainnya cukup jauh. Tetapi ada tiga rumah kembar yang berdekatan. Satu di area depan, kedua di bagian samping kiri dekat dengan taman bunga mini. Terakhir di bagian hutan paling belakang dekat danau, rumah yang mereka sewa.
Sepertinya pihak penyewa sengaja membuat tiga rumah kembar itu untuk sebuah keluarga atau penyewa yang mempunyai banyak anggota keluarga.
Matahari mulai terbenam, tanda bahwa hari sudah mulai malam. Mereka terus berjalan. Ah! Hampir sampai.
"Ah! Akhirnya sampai." Karin berkata seakan lega saat jaraknya dengan rumah kayu sedikit lagi.
"Kau hanya berjalan dengan santai, tidak mendorong benda ini. Jangan berkata seolah telah melakukan hal berat." Cibir kiba.
"Kau laki-laki, itu tugasmu! Jangan mengeluh. Lagipula Shisui-nii tenang-tenang saja, kenapa kau tidak?" Balas Karin.
Kiba mendengus dan tidak menjawab.
Shion memutar bola matanya. 'Heh, mulai lagi.'
Sedangkan kelima ibu disana berpura-pura tidak mendengar apa-apa.
Kiba dan Shisui memang sedang mendorong benda seperti troli belanja untuk menganggut barang-barang mereka. Tempat ini hanya menyewakan rumah kayu dan beberapa peralatan lainnya seperti peralatan memancing atau kamera, tetapi tidak dengan makanan dan sejenisnya. Orang yang datang kesini harus membawa persiapan sendiri. Tempat ini tak menyediakan hal seperti itu. Karena itulah barang bawaan mereka cukup banyak dan bagusnya tempat ini menyewakan alat pengangkut.
Shisui mendorong benda beroda yang di atasnya terdapat tas-tas dan barang-barang belanjaan ibunya sedangkan Kiba mendorong benda dengan beban tas saudara-saudaranya yang kini sedang berjalan santai di dekatnya. Ada si kembar yang sedari berangkat tadi terus tersenyum dan memeluk benda yang sepertinya sebuah buku di tangannya, lalu ada si rambut merah yang berjalan dengan menenteng tablet PC dengan sebelah telinganya tersumpal earphone lalu ada Shion yang berjalan sembari membaca yang membuatnya sering mendongakkan kepalanya guna melihat jalan. Suasana sudah mulai gelap, apa dia sungguh benar-benar membaca? Lalu kakak pertamanya Sakura yang sedang berjalan santai dengan sesekali melihat pepohonan dikiri kanan. Lalu kakak lelakinya, Shisui, yang ada di belakangnya, sedang mendorong benda yang sama dengannya.
Ada jalan kecil selebar satu meter menuju rumah kayu yang terbuat dari semen halus, yang diperuntukkan sebagai jalan untuk mendorong benda beroda kecil yang mereka sewa dan kini sedang di dorong oleh Kiba dan Shisui.
"Rumah ini sama dengan rumah yang kita sewa sebelumnya." Ujar Shion saat memasuki rumah kayu dan memperhatikan kondisi di dalamnya.
Mereka sudah pernah menyewa dua rumah kembar lainnya. Ini pertama kalinya mereka menyewa rumah kembar yang ada di paling belakang.
Rumah itu cukup kecil. Karena memang di fungsikan hanya untuk ruang tidur. Hanya ada satu ruangan dengan tiga lemari di pojok. Dua lemari berisi futon dan satu lemari berisi bantal duduk. Lalu di belakang rumah itu ada dua kamar mandi kecil yang berdampingan.
"Ya, sepertinya memang semua dibuat sama. Hanya saja ukuran rumah twins ini sedikit lebih besar di banding rumah single lainnya." Shisui menanggapi.
.
x X x My Family x X x
.
Di tepi jalan, tepatnya beberapa meter diluar dari gerbang sekolah ada tiga orang di dalam sebuah mobil yang sepertinya sedang menunggu seseorang.
"Kenapa Shikamaru lama sekali."
"Bersabarlah...krauk... sedikit, Ino. Krauk... kelasmu tidak di lantai satu krauk... dan saat ini kita berada di luar sekolah, lagipula sekolah ini luas kalau kau lupa krauk..." Pemuda tambun yang sedang mengunyah keripik favoritnya menanggapi ucapan gadis bernama Ino.
"Kurasa sebentar lagi Shikamaru-san datang, Nona Ino." Ujar lelaki yang duduk di kursi kemudi, Tohako, supir mereka.
"Hem, Paman Tohako benar." Pemuda tambun bernama Chouji itu membenarkan ucapan Tohako.
Ino mendengus. Tokako tersenyum kikuk.
Setelah menghabiskan dua bungkus kerikip kentang, siswa bertubuh gempal dengan tato spiral di pipinya itu tangannya kini meraih sebuah botol minum, lalu meminum isinya hingga habis.
"Lagipula Shikamaru sedang mengambil barangmu yang tertinggal, Ino." Ujar Chouji setelah menandaskan isi botol minumnya.
"Baiklah-baiklah. Ini sifat alami wanita, tak suka menunggu." Ujar perempuan satu-satunya di mobil itu sambil memanyunkan bibirnya dan bersedekap dada.
Kedua lelaki yang juga berada di mobil yang sama sweatdrop mendengarnya.
'Tidak hanya wanita yang tidak suka menunggu.' Batin keduanya.
Beberapa detik berlalu.
"Ah! itu, Shikamaru-san." Ujar Tohako saat matanya melihat Shikamaru berjalan mendekat dari kaca spion.
Ino melihat kebelakang untuk memastikan. Lalu seulas senyum muncul di bibirnya.
Setelah Shikamaru masuk mobil, kendaraan itu kembali melaju di jalanan.
Ino mengerutkan dahinya saat melihat Shikamaru. "Ada apa Shika? Kau terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu."
Shikamaru menoleh sekilas pada Ino.
"Shimura." Jawabny singkat.
Ino bingung dengan jawaban Shikamaru.
"He? Shimura? Shimura bersaudara maksudmu?" Tanya Ino heran. Shikamaru mengangguk.
"Shimura bersaudara apa?" Tanya Chouji saat mendengar ucapan Ino.
Mengabaikan pertanyaan keduanya, Shikamaru balik bertanya pada Chouji.
"Hei Chouji, satu-satunya lelaki dari Shimura Bersaudara itu satu kelas denganmu, bukan?"
Chouji mengangguk. "Ya, memangnya kenapa?" Chouji menjawab sekaligus bertanya.
"Saat mengambil barang Ino yang tertinggal, aku melihat Shimura itu berkelahi dengan para siswa lain di sebuah kelas." Jelasnya yang membuat Chouji cukup terkejut.
Ino menatap Shikamaru heran. "Bukankah sebelumnya Shimura itu memang sering berkelahi? Dia salah satu siswa pembuat onar di sekolah." Shikamaru terdiam.
Dahi Chouji mengernyit.
Kiba berkelahi lagi?
"Ini aneh." Ujar pemuda tambun itu.
Ino menatap Chouji. "Apa yang aneh Chou?"
"Kiba sudah cukup lama tak pernah berkelahi lagi, kurasa sekitar lima atau enam bulan. Meski masih berbuat onar dan kenakalan lainnya, tetapi dia sudah beberapa bulan ini tak pernah terlibat perkelahian lagi." Chouji menjelaskan.
Mendengar ucapan Chouji membuat Shikamaru tampak berpikir keras. Sesaat kemudian bibir pemuda dengan gaya rambut bak nanas itu samar-samar melengkung ke atas. 'Begitu rupanya. Sungguh pemuda yang mencintai keluarganya.'
"Kalau begitu kenapa dia berkelahi lagi?" Tanya Ino pada Shikamaru.
Mendengar pertanyaan Ino, Shikamaru malah melipat tangannya di dada lalu bersandar pada sandaran kursinya seraya menutup kedua matanya. "Merepotkan. Kenapa kau bertanya padaku, Ino? Bertanyalah pada Chouji, bukankah Shimura itu satu kelas denganmu, Chou?"
"Aku tidak tahu alasan dia tak pernah berkelahi lagi, kupikir itu karena sudah ada di pertengahan sekolah menengah atas dan ingin memperbaiki tingkah lakunya dan memperbaiki nilai-nilainya. Lagipula apapun alasannya tidaklah penting, jika dia menjadi siswa yang baik itu adalah hal yang bagus." Kata Chouji
Ino mengangguk menyetujui. Di depan, Tohako melihat ketiga remaja itu dari kaca langit-langit mobil dan seulas senyum muncul di wajahnya. 'Mereka anak-anak yang baik.'
Meski mereka membahas siswa nakal disekolah, mereka tak berkomentar buruk tentang siswa itu. tak ada satupun hinaan, celaan atau perkataan buruk yang keluar dari mulut mereka bertiga.
"Dan untuk kenapa dia berkelahi lagi, aku tak tahu alasannya." Tambah Chouji.
Chouji menatap Shikamaru yang menutup matanya, mencuri-curi waktu untuk tidur dalam perjalanan pulang.
Ino, Shikamaru dan Chouji atau yang biasa disebut InoShikaChou oleh teman-temannya adalah tiga orang sahabat. Bahkan orang tua mereka juga bersahabat. Persahabatan turunan sepertinya.
"Shika, kau tadi bilang jika kau melihatnya berkelahi. Apa kau tahu kenapa dia berkelahi?" Tanya si tambun pada pemuda nanas yang hobi tidur dan berotak encer.
"Ah benar!" Seru gadis berambut pirang dengan poni yang menutupi sebelah matanya. " Jika dia sudah tidak berkelahi cukup lama dan sekarang berkelahi lagi pasti ada alasan kuat dia melakukannya. Tidak mungikn itu karena dia merindungan pertarungan, bukan?" Lanjut Ino dengan meletakkan tangannya di dagu dan mengerutkan dahinya, pose standar orang yang sedang berpikir.
Shikamaru membuka matanya, melihat keluar melalui kaca pintu di sampingnya. Dengan pandangan seakan menerawang jauh ia menjawab, "mungkin siswa-siswa itu bergosip hal-hal buruk tentang keluarganya."
He?
Bergosip?
Ino dan Chouji bingung dan heran. Satu alis Ino naik, hendak mengatakan sesuatu. Tetapi tertahan karena interupsi paman Tohako.
"Kita sudah sampai di toko bunga, Nona Ino."
Terlalu fokus membahas salah satu siswa di sekolah membuat mereka tak sadar jika sudah sampai di toko bunga.
"Baiklah. Aku akan masuk, kalian tunggu disini saja." Ujar Ino.
"Baik nona/baiklah/hmm." Ketiga lelaki di mobil itu menjawab dengan jawaban yang berbeda.
Ino turun dari mobil jemputan mereka dan mulai memasuki toko bunga yang di depannya bertuliskan 'Yamanaka Florist'.
Mendengar lonceng pintu berbunyi, wanita penjaga toko sekaligus kasir yang sedang memeriksa bunga-bunga di rak menoleh ke arah pintu masuk guna melihat si pengunjung.
Senyum sopan terukir di wajahnya saat melihat seseorang yang baru saja masuk. Meletakkan bunga yang sedang di pegangnya, wanita itu menghampiri orang yang baru saja masuk, seorang gadis cantik berambut pirang pucat danmengenakan seragam sekolah.
Gadis cantik itu bernama Ino Yamanaka, dia adalah putri pemilik toko bunga 'Yamanaka Florist' di Konoha dan beberapa kota lainnya. Dan salah satu cabang nya adalah tempatnya bekerja ini.
"Selamat datang, Nona Ino." Ujarnya sopan.
Ino mengangguk. "Ya, Ibari-san. Aku ingin mengambil daftarnya." Ujar Ino
"Ah! Baik akan kuambil."
Wanita itu berjalan menuju meja kasir diikuti Ino di belakangnya.
"Apa kau sendirian hari ini, Ibari-san? Aku tidak melihat Yurika-san disini." Ujar Ino.
Toko bunga berukuran sedang itu hanya mempunyai dua karyawan. Yurika dan Ibari.
Ibari membuka salah satu laci meja kasir. Lalu mengambil sebuah buku sembari menjawab. "Ya. Dua hari ini aku sendiri. Yurika-san tidak masuk karena sedang sakit, kurasa besok dia akan mulai bekerja lagi."
Ibari membuka buku itu lalu menyobek salah satu halamannya lalu memberikannya pada Ino. Tangan Ino bergerak menerima kertas itu lalu iris aquamarine itu melihat perban di tangan karyawan itu. "Ada apa dengan tanganmu, Ibari-san?"
Ibari melihat tangannya sendiri. "Hanya luka kecil, ini bukan apa-apa, nona. Aku baik-baik saja." Jawabnya
"Cukup sulit bekerja dengan satu tangan terluka. Kau bisa berhenti bekerja hingga tanganmu pulih. Aku akan meminta Tou-chan memindahkan salah satu karyawan lain kesini untuk menggantikanmu sementara jika besok Yurika-san belum masuk." Ucap Ino lalu membaca kertas di tangannya, memeriksa apa yang tertulis.
Ibari terdiam mendengarnya, sesaat kemudian ia tersenyum. Gadis ini sangat baik dan perhatian. Memang benar cukup sulit bekerja dengan tangan terluka.
Dia belum lama bekerja dan rekan kerjanya sedang sakit. Jika ia izin juga karena luka di tangannya maka dia merasa tida enak pada rekan kerja dan bos-nya.
"Ini cukup banyak." Komentar Ino saat membaca tulisan di kertas itu.
Ibari tersenyum. "Ya nona. Yurika-san berkata jika saat musim semi biasanya jumlah pelanggan naik. Dan sebentar lagi pergantian tahun ajaran baru, ada banyak pelajar yang melakukan wisuda sekolah. Mereka akan membeli bunga untuk merayakannya."
"Ya. Kau benar." Ino setuju.
Ingin menganggat kepala guna melihat Ibari untuk berpamitan, ekor mata dari iris indah aquamarine itu melihat sesuatu di meja.
"Itu milikmu Ibari-san?" Tanya Ino menunjuk benda yang ia lihat dengan dagunya seraya melipat kertas di tangannya.
Memahami maksud Ino, Ibari mengangguk dan menjawabnya. "Ya Nona, seorang pelanggan yang membeli sebuket bunga daisy memberikan apel itu padaku."
"Dia orang yang unik." Ujar Ibari sembari mengingat seorang gadis bersurai merah muda.
Ino mengangkat sebelah alisnya.
Unik?
Menyadari kebingungannya, Ibari kembali berucap. "Dia pelanggan pertama yang memberi sesuatu padaku. Gadis yang memiliki aura kuat, terlihat menawan dan kharismatik. Tak banyak berbicara tetapi cepat mengerti. Kurasa dia juga orang yang cerdas."
Ibari ingat bagaimana gadis itu melangkah memasuki toko dengan tenang dan langkah yang mantap juga percaya diri dan dengan wajah yang tak menampakkan ekspresi apapun. Berpenampilan casual tetapi entah kenapa terlihat menawan dan menyita perhatian, bahkan beberapa pelanggan yang sedang melihat bunga-bunga mengalihkan pandangannya untuk melihat gadis itu dengan pandangan terpana. Kemudian saat ia bertanya, gadis itu berbicara langsung pada intinya tanpa bertanya atau meminta pendapat terlebih dahulu, seperti pelanggan biasanya. Saat menyebutkan pesanannya, wajahnya memang tidak menampakkan ekspresi apapun, tetapi di dalam iris emerald cerah yang sempat membuatnya terpana dengan keindahannya, ia seakan melihat jika gadis itu memiliki kesedihan yang mendalam. Iris emerald yang terlihat tenang tanpa emosi itu menyembunyikan kesedihan dan duka di baliknya. Tak ingin seorangpun yang tahu.
Beruntung ia orang yang peka dan cukup berbakat meneliti dan memperhatikan orang lain. Meski tak pasti jika perkiraannya benar, ia cukup yakin jika tak semua perkiraannya salah.
Seorang gadis?
Mendengar perkataan Ibari membuat Ino penasaran. "Seorang gadis?" Tanyanya. Ibari mengangguk.
"Seperti apa rupanya? Bagaimana ciri-cirinya?"
Ibari tersenyum mengingat bagaimana sosok gadis yang memberinya buah apel merah itu.
"Dia gadis dengan iris mata berwarna hijau emerald yang indah dan tubuh yang tinggi melebihi gadis jepang pada mumumnya, kurasa sepertinya tingginnya setara dengan tinggi pria Jepang pada umumnya, atau mungkin lebih tinggi. Wajahnya sangat cantik. Tetapi fitur wajahnya tidak terlihat seperti gadis Jepang. Jika hanya melihat tinggi dan wajahnya saja maka orang tak akan percaya jika dia gadis Jepang asli." Ujar Ibari sembari tersenyum geli. 'Jika dia seorang pria, aku sangat yakin dia akan disukai banyak gadis.' Batinnya
Gadis dengan tubuh tinggi dan body bagus didukung dengan wajah seperti orang barat membuat Ibari bingung harus menyapa dengan bahasa apa. Ia tak bisa berbahasa inggris atau bahasa lainnya. Ditambah dengan langkah tenang tapi pasti yang memiliki sentuhan kepercayaan diri juga tatapan dari iris emerald dan wajah tenang itu membuatnya semakin terpana dengan gadis pengunjung itu.
Puji Kami-sama!. Inner Ibari bersyukur karena gadis keren nan menawan itu ternyata gadis Jepang asli. Ia tahu dari caranya berbicara dan logatnya. Itu bukan logat yang dimiliki orang asing walau sudah lama tinggal di Jepang sekalipun.
Dengan hanya melihat sosoknya, orang akan berpikir dia gadis campuran dengan gen orang tua barat yang dominan atau bahkan orang akan mengira gadis itu gadis luar negri sepenuhnya, bukan gadis Jepang.
"Apa kau jatuh cinta pada gadis itu, Ibari-san?" Ino bertanya sembari terkekeh. Baginya deskripsi Ibari agak berlebihan, lagipula Ibari seorang perempuan juga, dan ia mendeskirpsikan perempuan lain sampai seperti itu. Baginya itu hal yang aneh.
Ibari tertawa kecil mendengarnya sembari tangannya mengambil seikat bunga untuk ia jadikan buket. Melihat Ibari agak kesulitan karena satu tangannya terluka, Ino mengambil alih pekerjaannya setelah sebelumnya meletakkan kertas yang ia lipat ke atas meja. Ibari mau tak mau membiarkannya mengambil alih tugasnya.
"Tentu saja tidak, Nona. Meski gadis itu menawan, aku masih menyukai pria tampan." Jawabnya
Ino terkekeh. "Benarkah?"
"Tentu saja." Jawabnya yakin. "Bahkan jika aku menyukai wanita dan bersama dengan gadis itu, dengan mengingat sosoknya maka akulah yang akan berada di bawah. Itu posisi yang sama jika aku bersama pria. Lagipula, menjadi uke dari gadis yang lebih muda? Tidak. Terimakasih." Tambahnya yang berhasil membuat Ino tertawa. Meski Ibari adalah karyawan baru, ia sudah cukup akrab dengan Ino. Sudah cukup santai berinteraksi dengan Ino.
Ibari mulai bekerja sekitar lima bulan yang lalu menggantikan karyawan sebelumnya yang berhenti karena mengikuti suaminya pindah ke kota lain.
Tunggu!
Lebih muda?
Dahi Ino mengernyit. "Di lebih muda darimu, Ibari-san?" Ibari mengangguk.
Ibari berusia hampir pertengahan dua puluhan. Jika pelanggan itu lebih muda maka itu berarti dia berusia awal dua puluhan atau bahkan masih berusia belasan tahun!
"Ya. Mengabaikan pesona kuatnya dan tubuh jangkungnya, aku yakin gadis itu masih remaja dan itu diperkuat dari style penampilannya yang khas seperti seorang gadis muda yang mengerti fashion. Sepertinya akhir belasan tahun, atau mungkin seusia denganmu, nona." Ujar Ibari menjelaskan
"Benarkah?"
"Ya nona, ah! Apa aku sudah memberitahumu apa warna rambutnya?" Tanya Ibari. Ino menggelang. Lalu mengikat tali terakhir membentuk pita di buket itu. Dan voila! Buket pun selesai dibuat.
"Kau akan terkejut dengan warna rambutnya. Gadis dengan tatapan tenang seperti tanpa emosi dan fitur wajah tegas nan tajam yang minim ekspresi itu memilik rambut berwarna merah muda cerah yang panjang." Ujar Ibari semangat dengan mata cerah dan setelahnya ia tertawa. Beruntung saat ini toko agak sepi.
Ino cukup terkejut, sangat jarang ada orang berambut merah muda. "Merah muda?"
"Ya. Rambutnya terli-"
Setelahnya tubuh Ino membeku sesaat.
'Wajah tegas dan tajam'
'Tak banyak bicara'
'Bertubuh tinggi'
'Iris hijau emerald'
'Rambut merah muda'
Pikiran Ino terus mengulang ciri-ciri gadis tersebut. Membuatnya tidak mendengar dengan benar kelanjutan perkataan Ibari selanjutnya.
Bak kepingan puzzel yang berantakan dan mengharuskannya menyusunnya dengan benar, dalam otaknya muncul ingatan samar-samar yang berakibat-
Nyut! Nyut! Nyut!
"Ah!" / "...tar merawat-"
Seruan Ino memotong ucapan Ibari.
Melepaskan buket di tangannya dan kedua tangannya beralih memegang sisi kepalanya sembari bergerak mundur dua langkah, Ino terlihat kesakitan.
"Nona Ino, kau baik-baik saja!?" Ibari lantas memutari meja dan mendekati Ino yang terlihat limbung.
"Ada apa denganmu, Nona? Kau terlihat kesakitan. Apa kau baik-baik saja?"
Ibari membantu menopang tubuh Ino. Yang kini wajah gadis itu terlihat pucat.
"Apa kau sakit, Nona?"
Ibari heran. Sebelumya Ino terlihat baik-baik saja, kenapa tiba-tiba kesakitan.
Merasa sakit kepalanya sudah agak berkurang, Ino berusaha menguasai tubuhnya lagi.
"Ak-aku baik-baik saja." Dengan satu tanggan yang masih memegang kepalanya, Ino meyakinkan jika ia baik-baik saja disertai senyum kecil yan terlihat agak dipaksakan.
"Aku akan mengantarmu ke dokter." Ujar Ibari.
Ino menggeleng. "Tidak perlu. Aku akan pulang saja. Supir kami sudah menunggu"
Ino kembali melangkah mendekati meja dan mengambil buket yang ia buat tadi dan kertas yang ia lipat.
Ino memang datang kesini untuk mengambil daftar bunga yang habis atau sisa sedikit lagi dan perlu ditambah sekaligus membawa sebuket bunga untuk ibu Shikamaru. Di hutan Nara, beberapa rusa baru saja melahirkan. Malam nanti Ino ingin mengucapkan selamat dan memberi bunga sebagai ucapan selamat pada Yoshino, ibu Shikamaru. Karena wanita itu kepala yang mengurus Hutan Nara dan penangkaran rusa warisan keluarga Nara.
Ino sudah memberitahu Ibari melalui pesan singkat jika ia akan datang hari ini sepulang sekolah dan memesan sebuket bunga dan sepertinya Ibari lupa membuat buketnya, karena Ino yang membuat buketnya sendiri.
"Kau yakin baik-baik saja, nona?" Ibari khawatir
"Ya. Terimakasih Ibari-san. Aku pulang." Ujar Ino dengan senyuman, setelahnya ia berbalik dan melangkah pergi keluar toko.
Masih dengan wajah khawatir, Ibari berujar, "berhati-hatilah. Kunjungilah dokter jika kau sakit, nona."
Ino sedikit menengok kebelakang lalu mengangguk kecil dengan senyum tipis.
Di dalam mobil pemuda tambun tampak gelisah, "Ino hanya mengambil daftar tanaman, bukan? Kenapa belum kembali?" Ujar Chouji.
"Merepotkan." Ujar Shikamaru mengeluarkan kata andalanya.
"Nona Ino kembali." Ujar Tohako ketika melihat Ino keluar dari toko bunga
Ino membuka pintu mobil "Ino kenapa kau lam-". Pertanyaan Chouji tak selesai ketika melihat wajah pucat gadis pirang itu.
"Ino, apa kau sakit? Wajahmu pucat." Ujar lelaki tambun itu yang sontak membuat Shikamaru membuka matanya.
"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing."
"Kau yakin? Bgaimana jika kita ke dokter atau rumah sakit?" Saran Chouji
Shikamaru melihat wajah Ino yang agak pucat dan terlihat agak menahan sakit. Iris sipit menyerupai kuaci itu tampak khawatir. Mengambil alih buket bunga di tangan Ino, Shikamaru menyetujui saran Chouji.
"Chouji benar, Ino."
"Aku baik-baik saja. Aku memiliki obatku di rumah. Bisakah kita cepat pulang?"
Chouji menatap Shikamaru, meminta pendapatnya.
"Baiklah, kita pulang. Tetapi kami akan menemanimu hingga kami yakin kau baik-baik saja." Ujar Shikamaru
"Ya." Chouji setuju.
"Hmm." Gumam Ino.
Ino memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tak melihat sebelah tangan Shikamaru yang bergerak ke arahnya dan menyentuh sisi samping kepalanya lalu membawanya ke arah dirinya, membuat kepala Ino bersandar pada bahunya. Ino tak menolak, ia terlihat bergerak sedikit mencari posisi yang nyaman. Lalu terlihat menikmatinya. Disamping Ino, Chouji masih menatap gadis itu khawatir. Shikamaru melihatnya lalu sedikit mengangguk dan tersenyum kecil pada sahabat tambunnya itu yang kini menatapnya, seakan meyakinkan jika Ino baik-baik saja yang membuat Chouji sedikit tenang.
Perhatian kedua pemuda itu terkesan berlebihan, tetapi ia sudah terbiasa. Bahkan Tohako yang sering melihat bagaimana mereka berdua memperlakukan Nona mudanya tahu sebesar apa rasa sayang keduanya pada Ino. Tohako sudah sering melihat kasih sayang keduanya pada Ino, khususnya Shikamaru yang membuatnya berpikir jika Shikamaru memiliki perasaan lebih pada Ino. Mungkin Chouji tidak tahu dan mungkin juga Ino tidak menyadarinya. Tetapi menurutnya, Shikamaru memperlakukan Ino lebih dari sekedar tanggung jawab dan sahabat.
Tohako juga lelaki, dari apa yang dia lihat dia tahu jika Shikamaru tertarik pada Ino. Jika Chouji memperlakukan Ino seperti seorang kakak memperlakukan adiknya, maka Shikamaru lebih terlihat seperti seorang yang tertarik pada Ino. Tidak secara gamblang memang, jika tidak memperhatikan dengan teliti, sekilas tingkah kedua pemuda itu pada Ino terlihat sama, tetapi jika lebih diteliti maka akan terlihat perbedaannya. Tingkah dan tatapan Shikamaru pada gadis yang dua tahun lebih tua itu membuat Tohako menyimpulkan jika Shikamaru tertarik dan menyukai gadis itu lebih dari sahabat.
"Selamat untuk rusa-rusamu, Oba-chan! Ini untukmu." Dengan senyum cerah Ino memberikan sebuket bunga pada Yoshino Nara, ibu Shikamaru.
Yoshino tersenyum, menerima bunga itu kemudian mengelus kepala Ino. "Terimakasih Ino-chan."
"Ino-chan apa kau baik-baik saja? Chouji berkata jika kau sakit." Ujar pria yang seperti duplikat Chouji dalam versi lebih dewasa.
"Ya, bagaimana keadaanmu? apa kau baik-baik saya, Ino-chan?" Sambung Yoshino tampak khawatir juga.
Ino tersenyum. "Aku baik-baik saja, Oji-san, Oba-san. Shikamaru dan Chouji menjagaku saat aku tidur. Mereka tahu aku baik-baik saja." Stelah meminum obat, Ino tidur ditemani oleh Shikamaru dan Chouji.
Ini menatap tajam Shikamaru dan Chouji bergantian. Membuat Chouji mengalihkan pandangannya ke arah lain sedangkan Shikamari balas menatapnya dengan eskpresi malasnya dengan mulut yang mengucapkan satu kata andalannya, merepotkan. "Mereka berlebihan, aku hanya sedikit pusing dan agak kelelahan saja." Gadis pirang itu melanjutkan perkataannya.
Kini tujuh orang itu sedang menyantap makan malam mereka di restoran daging milik keluarga Akimichi.
Hanya ada satu orang ibu di antara tujuh orang itu. Yaitu Yoshino Nara, ibu Shikamaru dan istri dari Shikaku Nara. Sedangkan Ibu dari Ino dan Chouji sekaligus istri dari Inoichi Yamanaka dan Chouza Akimichi sudah tiada. Hari ini mereka makan malam bersama di restoran daging milik ayah Chouji sekaligus merayakan bertambahnya rusa-rusa keluarga Nara.
"Bagaimana sekolahmu, Ino-chan?" Tanya Shikaku, ayah Shikamaru.
"Baik-baik saja, Oji-san."
Sembari mengiris steak, Yoshino bertanya. "Satu pekan lagi liburan musim semi sekaligus libur kenaikan kelas bukan?"
Ino mengangguk. "Ya, Oba-san."
"Kau punya rencana untuk liburanmu, sayang?" Tanya Inoichi pada putrinya.
"Ya, kami punya." Bukan Ino yang menjawab melainnya Chouji.
Para orangtua melihat kearah Chouji sesaat kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada gadis satu-satunya disana. Tidak tertarik pada jawaban Chouji. Pemuda tambun itu terlihat kesal. Ia mengiris daging dengan ukuran besar lalu segera memasukkannya ke dalam mulut. 'Aku juga anak disini, kenapa merrka hanya tertarik pada Ino'. Pemuda yang bernasib sama dengan Chouji, diabaikan oleh para orangtua alias Shikamaru, hanya meminum air lalu bergumam 'merepotkan'.
"Apa rencanamu, Ino-chan?" Ujar Chouza penasara.
"Kami berencana berlibur ke pantai bersama teman-teman." Jawab Ino.
"Teman-teman? Pantai?"
"Ya, Tou-san. Teman kami, seperti Naruto, Sasuke, Tenten dan yang lainnya menyarankan untuk berlibur bersama. Dan diputuskan jika kami akan menyewa vila dekat pantai dan berlibur disana." Jelas Chouji mendahului Ino untuk menjelaskan. Berharap kali ini mendapat respon para orangtua disana.
Para orangtua menatap Chouji dan...
"Apakah begitu, Ino-chan?" ...Kembali mengabaikan Chouji, dan fokus pada gadis cantik bermata aquamarine itu lagi. Ayahnya bahkan lebih tertarik pada Ino dibanding putranya sendiri! Poor Chouji.
Gadis pirang mengangguk. "Hu'um."
Meminum airnya sedikit lalu menjelaskan. "Kami akan berlibur ke pantai bersama teman-teman dan menyewa vila bersama. Kami akan berlibur disana selama seminggu."
"Apa!? Seminggu?" Seru Yoshino.
"Tidakkah itu terlalu lama? Angin laut tak terlalu baik untukmu, Ino-chan." Ujar Shikaku
Chouza menggangguk menyetujui. "Benar. Lagipula ini bukan musim panas, kenapa kalian memilih pantai bukannya tempat-tempat yang asri dan memiliki pepohonan yang indah?"
Inoichi memandang putrinya khawatir. "Bagaimana dengan tiga hari? Kau harus menjaga kesehatanmu, sayang."
'Sebenarnya untuk apa aku dan Shikamaru disini?'. Batin Chouji
Ino menggeleng. "Tidak bisa ayah. Kami sudah berjanji akan berlibur selama seminggu. Lagipula aku tidak sendiri. Shikamaru dan Chouji juga akan ikut."
"Aku akan sering menghubungi ayah, paman dan bibi nanti. Kali ini saja, ayah." Ujar Ino pada Ayahnya. Membuat Inoichi menghela napas.
Menatap Shikamaru dan Chouji bergantian. "Tolong jaga Ino, Shikamaru, Chouji." Pemuda tambun itu mengangguk semangat. "Tentu saja, Oji-san." Ini pertama kalinya ia di ikut sertakan dalam percakapan tanpa berusaha sendiri. Tentu saja ia senang. Lagipula diminta menjaga Ino? Bukankah sudah sejak lama ia menjaga gadis yang dianggapnya sebagai adik, meski usianya lebih tua dua tahun darinya.
Pemuda nanas itu menunjukan senyum meyakinkan pada ayah Ino. "Ya, Oji-san." 'Bahkan tanpa kau mintapun aku akan menjaganya dengan senang hat.'
"Jika terjadi sesuatu pada Ino-chan..." Yoshino menatap kedua pemuda itu bergantian dengan ujung pisau daging yang mengarah pada keduanya secara bergantian.
Jlebb! Tak!
Yoshino menancapkan pisau itu pada steak daging tebal hingga menyentuh dasar piring yang menimbulkan bunyi.
"-maka kalian yang akan bertanggung jawab." Lanjutnya dengan suara dan senyum manis yang berhasil membuat semua pria itu bergidik. Sedangkan Ino kini sedang memakan hidangan penutupnya sembari menikmati ekspresi kedua sahabatnya.
"Ba-baik, Oba-san. Ka-kami akan menjaga Ino dengan baik." Ujar Chouji agak terbata.
Meletakkan pisau daging ke atas piring, Shikamaru ikut bersuara. "Hah merepotkan." Mendengarnya, Yosino menatap tajam putranya.
Shikamaru balas menatap bosan ibunya. "Tak perlu khawatir, kami akan menjaga tuan putri kalian dengan baik."
Mendengar mereka, Ino terkikik. Ino tahu dan sadar jika keenam orang itu sangat menyayanginya, bahkan orangtua kedua sahabatnya itu sepertinya lebih perhatian padanya dibanding putranya sendiri. Lalu setelahnya ia meletakkan sendok deesert nya kemudian izin untuk pergi ke toilet sebentar. Setelah Ino pergi suara Inoichi terdengar.
"Meski sudah bertahun-tahun yang lalu, kondisi fisik dan mental Ino belumlah stabil sepenuhnya. Kuharap kalian berdua mau menjaganya dengan baik."
Mereka terdiam.
Tak lama suara Shikaku terdengar. "Kau harus menjaga Ino dengan baik, Shikamaru." Shikamaru menatap ayahnya dan Inoichi bergantian. Bukan, bukan tatapan malas seperti biasanya melainkan tatapan tegas dan penuh keyakinan. "Pasti. Aku pasti akan menjaganya dengan baik."
"Ya, meski aku lebih muda, tetapi Ino sudah seperti adikku sendiri. Aku juga pasti akan menjaganya juga." Ujar Chouji yakin.
Mendengar ucapan kedua pemuda itu membuat Inoichi menunjukkan senyum terimakasihnya. Dan yang lainnya tersenyum bangga dan puas pada keduanya. Mereka berhasil mendidik putranya dengan baik.
"Ngomong-ngomong vila mana yang akan kalian sewa nanti?" Tanya Yoshino.
"He? Kami akan pergi ke pantai yang ada di selatan Konoha, dan kudengar jika vila yang akan kami sewa adalah milik keluarga Otsutsuki." Ucap Chouji.
"Keluarga Otsutsuki?"
Shikamaru melihat ayahnya. "Ya, Tou-san. Vila itu memang milik keluarga Otsutsuki. Apa ada masalah?"
"Ah tidak, tdak ada. Tou-san hanya teringat seorang teman." Ujar Shikaku.
Mereka berbincang ringan tak lama kemudian Ino kembali. Gadis itu melanjutkan memakan hidang penutupnya.
.
x X x My Family x X x
.
Malam sudah tiba. Dan sekarang disinilah keduabelas orang itu berada.
Di samping rumah tepatnya di antara rumah yang ketujuh anak itu dan kelima ibu itu tempati. Celah di antara dua rumah itu cukup lebar untuk mereka jadikan tempat makan.
Rumah itu tak memiliki dapur. Di teras depan, penyewa hanya menyediakan satu meja berkaki pendek untuk meja makan dan satu kompor juga rak kecil untuk peralatan makan dan memasak yang harus mereka bawa sendiri dari rumah. Mereka memindahkan kompor dan kedua meja ke celah diantara dua rumah itu. Menyatukan meja sehingga mereka bisa bergabung bersama. Juga melapisinya dengan kain dan memberinya bantal duduk untuk 12 orang
Kelima ibu itu sibuk memasak makan malam yang mudah dibuat dan menyusunnya di meja makan dibantu oleh Shion dan Karin. Sedangkan dua anak lelaki mereka kini sedang membuat api unggun di bantu gadis kembar dan Sakura. Ah! Tetapi sepertinya ketiga gadis itu tidak membantu sama sekali. Karena hanya terdengar suara tawa berisik dari si kembar dan juga dua gadis itu terlihat tidak menyentuh kayu bakar yang disiapkan penyewa sama sekali, hanya berdiri di dekat ketiga kakaknya, bertanya lalu tertawa, Entah apa yang mereka bicarakan. Sedangkan Sakura yang berada di dekat api unggun yang hampir jadi hanya mengacungkan benda panjang yang terdapat sesuatu berwarna putih di ujungnya ke arah api.
"Shion-chan, panggil mereka. Makan malam sudah siap." Ujar Ayame.
"Baik, Kaa-san." Jawabnya.
Shion berjalan menghampiri kumpulan orang di sekitar apa unggun itu.
"Ada apa, Shion-nee?" Tanya Hanabi saat Shion mengampiri mereka.
"Kaa-san memintaku untuk memanggil kalian. Makan malam sudah siap."
"Baiklah ayo! Makanan aku datang!" Seru Hanabi semangat yang membuat mereka tersenyum.
Keluarga Shimura itu menikmati makan malam mereka di alam terbuka sambil bercengkrama.
"Waaa! Sup nya enak sekali." Mata Hanabi berbinar saat mencicipi sup di mangkuknya yang ditanggapi kembarannya dengan anggukan semangat menyetujui.
Mengkonsumsi sup hangat yang lezat di udara dingin alam terbuka memang sangat cocok.
"Tentu saja enak! Aku yang membantu Kaa-san membuatnya." Dengan congkaknya Karin memuji dirinya sendiri.
"Aku masih ingat dengan jelas jika dalam pembuatan sup itu, kau hanya menuangkan airnya saja, Karin-nee." Shion berkata dengam tenang.
Wajah Karin memerah.
Yang lainnya menahan tawa.
Beberapa saat telah berlalu. Makan malam telah hampir selesai. Kini mereka memakan hidangan penutup berupa kue kacang kering dengan rasa manis dan gurih, juga beberapa potong buah.
Shion menatap Sakura. "Nee-chan, apa marshmallownya masih ada?"
"Ya."
"Aku ingin memanggangnya di api unggun juga, sepertimu tadi." Sakura menanggapi dengan anggukan kecil.
"Sakura-chan, bagaimana kuliahmu? Dan apa kau akan lama berada di Konoha?" Tayuya, ibu yang mempunyai sifat santai memberanikan diri bertanya pada Sakura.
"Lama. Aku akan memulai coass bersamaan dengan tahun ajaran baru siswa sekolah."
Ha!?
Mereka terkejut.
'Gadis ini memang cerdas/wah sangat cerdas.'
"Eh! Benarkah?" Ayame bertanya
Sakura mengangguk membenarkan.
Tayuya menanggapi, "kukira perlu setengah tahun lagi untuk coass."
"Aku juga berpikir begitu." Sambung Samui
Shisui menatap Sakura. "Nee-san, kau bilang akan lama di Kohoha, apa itu berarti kau akan coass di Kohoha."
Sakura balas menatap. "Ya. Senju's Hospital."
"Wah! Itu rumah sakit terbaik di Konoha, bukan?" Kagum Karin
"Bukankah rumah sakit itu milik pewaris senju terakhir? Tsunade Senju." Akhirnya kiba ikut bersuara.
"Wanita Senju itu nenek dari salah satu siswa angkatan kita, bukan?" Shion bertanya, mengingat salah satu siswa di angkatannya.
Karin menatapnya, "kau benar Shion-chan, siswa ceria dan cukup nakal dengan rambut pirang dan tanda seperti kumis kucing di pipinya."
"Tetapi mereka mempunyai marga yang berbeda." Ujar Kiba
"Mungkin tidak ada ikatan darah." Sambung Hanabi "tetapi senpai itu baik. Di pernah membantuku membawa buku ke ruang guru." Lanjutnya. Saudaranya yang lain menatapnya tajam "ha-hanya se-sekali, tidak lagi. Itu- itu hanya ke-kebetulan." Ujarnya terbata-bata menjelaskan melihat tatapan tajam saudara saudaranya.
Di sekolah, mereka memang sengaja menjauhi pergaulan dengan siswa lainnya.
Lima ibu disana heran dengan pembicaraan anak-anak mereka. Sedangkan Sakura yang agak menunduk tetap terlihat tenang dengan senyum kecil nan lembut di bibirnya yang muncul sejak Shion membahas salah satu siswa diangkatannya.
"Kau masih punya waktu tiga minggu lagi bukan? Sakura-chan." Megumi bertanya
Hikari heran; "apa kau akan ke Tokyo lalu kembali ke Konoha lagi saat akan memulai coass?"
"Tidak. Pekan depan untuk mengurus berkas-berkas dan keperluan coass di Konoha." Dosen pembimbing menyewa tempat di Konoha untuk dijadikan tempat mengurus berkas dan rapat para siswanya. Karena terlalu jauh jika harus bolak balik Tokyo-Konoha. "Dua pekan lainnya, liburan musim semi. Sama seperti anak sekolah." Lanjutnya menjelaskan.
"Nee-chan, apa kita akan melakukan liburan musim semi tahun ini?" Dengan mulut yang masih terdapat potongan buah pir Hinata bertanya.
"Kemana?" Tanya Sakura
Adik-adiknya tersenyum senang.
"Aku ing-."
"Tidak ada liburan musim semi. Ketiga kakakmu akan menjadi siswa tahun terakhir. Mereka perlu lebih banyak belajar, Hinata-chan, Hanabi-chan." Sela Tayuya sebelum Hanabi menyelesaikan perkataannya.
"Benar. Mereka harus lebih banyak belajar lagi agar mendapat nilai bagus dan masuk universitas yang bagus juga." Megumi menyetujui
Hanabi menopang wajahnya dengan sebelah tangan, "kalau begitu kami berdua saja yang berlibur."
Karin dan Shion menatapnya tajam dan ia mengalihan pandangannya, berpura-pura tidak melihat.
"Tetapi Kiba-nii, Shion-nee dan Karin-nee termasuk siswa yang pintar, Kaa-san." Ucap Hinata.
Shisui mengangguk mendengar ucapan Hinata. "Benar, Kaa-san. Bukankan Karin-chan mengikuti olimpiade sains?"
"Shion-nee selalu termasuk dalam urutan siswa dengan nilai lima besar di kelasnya." Tambah Hinata. "Terlepas dari perkelahiannya, Kiba-nii juga berpretasi di bidang non akademik dan nilainya akademiknya tidak terlalu buruk." Sambung Hanabi
'Mengagumkan! Kerjasama mereka patut dipuji'
Batin kelima ibu disana. Saat melihat bagaimana Shisui, Hinata dan Hanabi berusaha menyelamatkan tiga saudaranya yang lain dari larangan berlibur.
"Kami tidak meminta berlibur di tempat yang hanya bersenang-senang saja." Ucap Hanabi.
Hinata mengangguk. "Kami ingin tempat berlibur yang juga bisa menjadi tempat kami belajar dan terdapat alam yang indah."
Kiba, Shion dan Karin menatap para ibu disana penuh harap. Sedangkan Sakura tampak sedang berpikir.
'Alam dan belajar'
"Kuberi dua pilihan." Sakura berkata seraya menatap adik-adiknya bergantian. "Vila dekat pantai atau vila di pegunungan." Lanjutnya
Mendengar ucapan Sakura keenam adiknya tersenyum senang.
"Dekat pantai!" Mereka berujar bersamaan.
Para ibu disana menatap Sakura heran.
"Vila Otsutsuki. Mereka akan membawa buku dan berlibur sekaligus belajar. Aku akan memantau."
Para ibu disana menghela nafas. Jika sudah begini mereka tak bisa menghentikannya.
"Kau terlalu memanjakan mereka, Sakura-chan." Ucap Tayuya
Samui menatap kelima remaja disana. "Hanya satu pekan." Ujarnya
Keenamnya mengangguk setuju dengan senyum yang mengembang.
"Shisui-kun, kau akan ikut juga?" Megumi bertanya
"Kenapa tidak? Aku juga mendapat libur musim semi." Jawabnya diiringi senyum
Ponsel Sakura di sakunya berdering.
Melihat nama yang tertera di layar, ia berdiri dan berjalan agak menjauh dari keluarganya.
"Ya, Nii-san." Sapa Sakura
"Heh! Nii-san apa maksudmu!? Gadis nakal. Dimana kau sekaranh!? Tidak memberi kabar jika kau pulang." Bukan suara salah satu kakaknya yang terdengar, melainkan suara dengusan dan pertanyaan dari Hagomoro, kakeknya, yang menyapa pendengarannya.
Sakura pulang tanpa persiapan, ia pulang mendadak, sampai rumah pun lewat tengah malam dan memang dia hanya memberitahu satu orang saat akan pulang, dia hanya memberitahu bibinya, Guren.
"Hutan sakura, sedang berkemah. Aku pulang mendadak, jadi tak sempat memberitahumu, Jii-san."
"Cepat pulang! Aku sekarat!"
Sebelah alis merah mudanya naik.
"Untuk ukuran orang yang sekarat, suaramu sangat luar biasa, Jii-san."
"Apa maksudmu gadis nakal!? Kau ingin kakekmu ini mati,begitu!? Aku sekarat karena sangat ingin memukul kepala merah mudamu itu. Cepatlah pulanh bocah."
Sakura terkekeh. Meski tak terucap, Sakura tahu bahwa kakeknya itu merindukannya. 'Aku juga merindukanmu, Jii-san'. Batinnya.
"Aku akan segera menemui Jii-san setelah pulang." Ujar Sakura.
"Ya, itu bagus."
"Jii-san. Aku ingin berlibur di vila dekat pantai..."
"He? Benarkah? Aku akan ik-."
"...Bersama mereka." Sakura melanjutkan kalimatnya yang sempat terjeda dan sudah lebih dulu di tanggapi kakeknya.
Tak ada suara dari kakeknya.
"Jii-san.."
"Jii-san?" Sakura memijat pelipisnya, 'ini agak sulit'
Setelah beberapa saat kakeknya itu terdiam, suara dinginnya terdengar. "Tidak. Wanita-wanita itu tidak akan kuijinkan menginjakkan kakinya di-."
"Tidak, Jii-san. Mereka yang kumaksud adalah adik-adikku bukan ibu mereka." Hebat. Sakura memotong ucapan kakeknya untuk kedua kalinya.
Sakura mendengar suara dengusan kakeknya.
"Sama saja."
"Jii-san tahu dengan jelas adik-adikku tidak bersalah." Ujar Sakura yang tidak mendapat tanggapan apapun dari kakeknya.
Sakura tahu jika kakek, paman dan kakaknya selalu memenuhi keinginannya, tetapi jika sudah menyangkut kelima ibunya, maka akan cukup sulit meski pada akhirnya mereka tetap memenuhinya.
"Apa aku sudah memberitahumu jika aku akan coass di Konoha, Jii-san?"
"Apa!?" Seruan terkejut dan gembira kakeknya membuat sudut bibir Sakura sedikit melengkung. 'Ini akan mudah'
"Kapan?" Kakeknya terdengar bersemangat.
"Awal bulan, bersamaan tahun ajaran baru siswa sekolah." Jelasnya.
"Kau harus tinggal di mansion lebih lama." Pinta Hagomoro yang terdengar mutlak.
"Baik."
Jeda sesaat.
"Jii-san?" Sakura memanggil kakeknya dengan nada bertanya.
"Hah, baiklah, baiklah. Berapa lama?"
'Akhirnya'
"Satu pekan." Jawab Sakura
"Setelah selesai, mulailah tinggal di mansion."
"Tentu. Ee, Jii-san, kenapa Jii-san menghubungiku menggunakan ponsel Nii-san?" Sakura heran.
"Ponselku menggantikan peran umpan-umpanku." Suara kakeknya terdengar kesal.
Sakura heran mendengar jawaban kakeknya tetapi dengan cepat ia ingat perkataan Midora.
'Hagomoro-sama pergi memancing bersama teman-temannya sejak pagi.'
Sakura tertawa kecil. 'Ponselnya tercebur ke dalam air'
"Baiklah. kakekmu ini lelah, ingin istirahat. Jaga dirimu baik-baik, selamat malam."
"Selamat malam, Jii-san." Balasnya.
Sakura berbalik untuk kembali ke meja makan. Tetapi saat iris emerald miliknya secara bergantian melihat para wanita disana yang sedang bercengkrama dengan anak-anaknya, ia tak melanjutkan langkahnya.
Sakura teringat saat mereka bergiliran datang ke kediaman Shimura setelah ibunya meninggal.
Wanita pertama yang datang adalah Megumi. Wanita cantik berkulit putih dengan rambut hitam legam. Wanita anggun nan elegan dengan emosi yang terkontrol dengan baik itu datang setelah setengah tahun meninggalnya Hamura. Dia datang dengan tampilan lusuh dan membawa putra kecilnya bernama Shisui yang berusia delapan tahun, yang meski bertubuh sangat kurus ia memiliki wajah yang menawan. Kini pria kecil yang menjadi adik pertamanya itu tumbuh sangat baik dengan wajah rupawan.
Setelah Hamura meninggal, ayahnya yaitu Danzou. Berubah total. Dia selalu pulang larut malam dan sering pulang dalam keadaan mabuk. Danzou juga sering melakukan kekerasan padanya, dia memarahi dan memukulinya. Bahkan terkadang tanpa alasan yang jelas.Beruntung saat itu masih ada Koharu yang menolongnya. Meski pada akhirnya Koharu harus terkena kekerasan juga, karena bagaimana pun tenaga Danzou dan Koharu berbeda. Koharu adalah wanita lemah lembut. Dia tak bisa memberi perlawanan kuat pada Danzou.
Cara Danzou memperlakukannya setelah Hamura meninggal membuat Sakura bertanya-tanya. Apa semua kasih sayang dan perhatian yang Danzou berikan padanya semasa Hamura masih hidup adalah sebuah kepalsuan?
Setelah kedatangan Megumi yang mengaku sebagai istrinya, tingkah Danzou semakin buruk. Ia bahkan sering tidak pulang. Dan tidak memberi uang belanja pada mereka.
Mereka membeli makanan dari uang simpanan gaji Koharu dan tabungan Sakura. Satu bulan sebelum pergantian tahun, datanglah seorang wanita lagi dengan membawa gadis kecil. Wanita berambut blonde yang membawa gadis kecil berambut pirang pucat berusia tujuh tahun. Wanita bernama Samui yang membawa putrinya bernama Shion itu juga mengaku sebagai istri Danzou, mereka datang dari kota kecil untuk mencari suaminya yang sudah lama tak pulang mengunjunginya dan putrinya. Hingga kenyataan menamparnya saat datang ke rumah suaminya di Konoha.
Akhirnya dua wanita itu, Megumi dan Samui. Setuju untuk hidup bersama dengan damai. Megumi tak memiliki harta apapun lagi sedangkan Samui juga sama. Awalnya ia berencana tinggal bersama suaminya di kota. Ia bahkan sengaja berhenti bekerja di salon dan meninggalkan rumah sewaannya. Yang saat ia pergi, dihari yang sama juga rumah itu di tempati orang lain.
Kini mereka hidup bersama dalam satu rumah. Dan mereka bertahan dengan uang Koharu dan uang sisa milik Samui dari gajinya bekerja di salon di kota kecil asalnya.
Beberapa waktu setelah kedatangan Samui dan putrinya, Koharu berhenti bekerja dan kembali ke kampung halamannya, tempat suaminya tinggal. Dia bertahan hanya demi Sakura, putri kesayangan Hamura. Bos yang sudah memperlakukannya dengan sangat baik semasa hidupnya. Lagipula menurutnya Megumi dan Samui tidak memperlakukan Sakura dengan buruk, ia mempercayakan Sakura pada mereka.
Cukup sulit mencari pekerjaan. Dan uang semakin menipis, beruntung tiap bulannya Sakura mendapat paket kiriman dari butik berisi sedikit uang dan makanan untuknya. Dengan wajah tanpa ekspresi ia memberikan uangnya pada Megumi dan membagi makanannya dengan Shisui kecil dan Shion. Hingga akhirnya Megumi mendapat pekerjaan di klinik hewan di pinggir kota, di dekat perbatasan. Lalu Samui mencari pekerjaan lagi di salon, ia hanya mahir di bidang kecantikan. Tetapi di Kohona cukup sulit mendapat pekerjaan di salon.
Tak lama tahun berganti. Dan satu bulan setelah tahun baru seorang wanita datang lagi. Wanita itu membawa anak kembar. Wanita berambut lavender bernama Hikari itu datang bersama putri kembarnya Hinata dan Hanabi.
Ah! Sakura masih ingat bagaimana dua pasang mata besar berwarna campuran putih abu-abu dan sedikit keunguan milik gadis kembar itu menatapnya takut-takut lalu saat ia menatap tajam keduanya, mereka dengan kompak segera bersembunyi di balik tubuh ibunya.
Setelah kedatangan Hikari dan putri kembarnya, seminggu sebelum ulang tahunnya yang ke 10 tahun, datang wanita kurus berambut coklat ikal bersama putra kecilnya yang mempunyai gigi taring yang panjang. Wanita dengan nama Ayame dan putra kecilnya itu bernama Kiba. Ayame tipe orang yang ceria sama seperti putranya, tidak seperti Megumi dan putranya juga Samui dan putrinya lebih pendiam ataupun Hikari dan putri kembarnya yang pemalu. Meski merasa terpukul dengan kenyataan suaminya, Ayame dapat menerimanya dan bergabung dengan yang lainnya di rumah itu. Ia tak memiliki siapapun lagi, ia mencari suaminya karena ayahnya meninggal menyusul ibunya yang sudah lama tiada dan ia tak punya sanak saudara lagi. Kedatangan Ayame dan Kiba membuat suasana rumah lebih hidup.
Malam harinya di hari ulang tahunnya, Sakura mendapat paket berisi kue ulang tahun dan beberapa makanan enak juga sedikit uang di dalam amplop dari butik. Ia yakin Guren yang mengirimnya. Sakura memberikan uangnya pada Megumi. Sudah tidak ada Koharu lagi di rumah, dan Megumi wanita pertama yang datang. Jadi Sakura memberikannya pada Megumi.
Sakura tak menghidupkan lilin ulang tahun ataupun memakan kue itu. Kue ulang tahun membuatnya teringat pada ibunya. Ia membiarkan adik adik barunya yang meniup dan dengan lahap memakan kuenya sampai habis.
Sakura ingat jika dirinya tak lagi tersenyum sejak ibunya pergi. Dan saat melihat adik-adiknya dengan senang meniup lilin, bahkan setelah seorang meniup lilin, lilin itu di hidupkan lagi hingga semua mendapat kesempatan meniup lilin. Saat Sakura melihat adik-adiknya meniup lilin dengan gembira dan memakan kue ulang tahunnya dengan lahap. Pertama kalinya sejak kepergian ibunya, Sakura tersenyum.
Dua minggu setelah hari ulang tahunnya, seorang wanita datang lagi. Wanita bernama Tayuya yang mempunyai rambut merah sama seperti gadis kecil yang di bawanya. Gadis kecil itu bernama Karin. Gadis yang cukup cerewet dan aktif yang mempunyai penglihatan cukup buruk di usia muda. Dan yahh seperti sebelum-sebelumnya. Berakhir dengan tinggal di rumah itu juga.
Kelima wanita itu akhirnya sepakat untuk hidup bersama karena faktor ekonomi. Dan kesamaan nasib, mungkin?
Hanya dalam waktu tujuh bulan setelah setengah tahun kepergian ibunya, Sakura harus menerima fakta bahwa dia mempunyai lima orang ibu dan juga enam orang adik dengan usia yang tak jauh berbeda dengannya, bahkan diantara mereka ada yang berusia sebaya. Ironisnya, hingga akhir hayat Hamura, ibunya itu tak tahu apa-apa. Dia tetap menjadi istri yang setia hingga malaikat menjemputnya.
Kaki Sakura melangkan mendekati mereka.
"Nee-chan ayo ke dekat api unggun." Ujar Hanabi dengan semangat.
Hinata menganggkat dua bungkusan di tangannya. "Ya. Kita akan membakar marsmallow."
Sakura mengangguk.
Mereka mendekati api unggun.
"Tunggu, anak-anak." Ayame memanggil.
Ayame dan Hikari datang dari rumah sebelah kiri. Dengan membawa satu bungkusan di masing masing tangannya.
"Kaa-san membeli jagung saat belanja tadi siang." Ujar Ayame seraya memberikan dua bungkus jagung pada Kiba.
"Kaa-san juga membeli sosis dan daging, kalian bisa memanggangnya." Ujar Hikari sambil menyerahkan sebungkus sosis dan daging pada Karin.
Ayame menatap Shisui dan Shion "Shisui-kun, Shion-chan ambilah bumbu dan saus juga alat pemanggang di penginapan Kaa-nee. Megumi-nee sedang mencarinya tadi." Shisui dan Shion mengangguk, "baik."
"Kaa-san sudah menyiapkan air panas dan bubuk coklat. Kalian bisa membuat coklat panas nanti." Ujar Tayuya yang kini berdiri dari kursinya.
"Ha'i." Mereka mengangguk
"Kami akan tidur lebih dulu, kalian bersenang-senanglah. Jangan tidur terlalu larut."
"Baik, Kaa-san."
Setelah selesai menghangatkan diri dengan mendekati api unggun dan meminum coklat panas juga memakan kacang tanah goreng dan tak lupa membakar marshmallow dan sosis. Kini ketujuh orang itu sudah berada di penginapan rumah kayu yang mereka sewa, bersiap untuk tidur.
Mereka tidur bersamaan. Dengan Sakura sebagai pusatnya. Dia di apit oleh si kembar, Hinata dan Hanabi. Lalu di samping Hanabi ada Shion sedangkan di samping Hinata ada Karin. Kemudian dua lelaki, Kiba dan Shisui ada di paling ujung. Kiba di sebelah Shion dan Shisui di sebelah Karin.
Dengan napas teratur dan wajah yang tenang, tidur mereka terlihat damai. Setelah cukup lama, Gadis yang menjadi pusat mereka membuka matanya, memperlihatkan iris berwarna hijau emerald. Dengan perlahan memindahkan tangan kedua adik kembarnya yang tidur sambil memeluknya.
Sebenarnya pada awalnya mereka tidur difuton masing-masing. Entah bagaimana, pada akhirnya mereka jadi berdempetan begitu.
Setelah yakin adik kembarnya tidak terbangun. Ia mulai duduk, lalu perlahan berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar
Sakura berhenti di ambang pintu. "Ganti pakaianmu lalu lapisi dengan hoddie dan pakai sepatu sportmu. Aku tahu kau belum tidur, Kiba." Sakura berucap dengan suara rendah, lalu ia melanjutkan langkahnya.
.
.
.
.
.
Chapter 6 Selesai.
-oOo-
Halo apa kabar??
Semoga sehat dan semuanya baik-baik saja.
Jgn lupa istirahat, makan teratur, dan jaga kesehatan juga kebersihan ya.
A/N :
Up! Up! Up!
Adakah yg masih setia menunggu kelanjutan fic ini?? Up nih! Gimana chapter ini? Adakah bagian yg disukai?
Fic ini alurnya lambat banget mohon bersabar, ini ujian :D . Tp serius, ini memang alurnya lambat, semoga pembaca setia menunggu fic ini.
Terimakasih untuk yg review di chapter sebelumnya.
MANASYE : Sudah di jawab di PM tp sepertinya ada perubahan, dan kurasa Naru akan muncul lebih cepat dari rencana awal.
Guest : Ini sudah dilanjut ya ;)
Namikaze Aira : Yosh! Semangat! ini dah di lanjut. Berhubung fic ini alurnya lambat dan genre utamanya family, maka scene narusaku akan lama muncul, harap bersabar hihi.
Terimakasih sudah membaca, fic ini. Jika berkenan silahkan review dan biarkan daku tahu siapa pembaca ceritaku. Meski singkat, review pembaca membuat orang yang menulis cerita jadi semangat.
Sampai jumpa...
