Sebelumnya...

.

.

Dengan napas teratur dan wajah yang tenang, tidur mereka terlihat damai. Setelah cukup lama, Gadis yang menjadi pusat mereka membuka matanya, memperlihatkan iris berwarna hijau emerald. Dengan perlahan memindahkan tangan kedua adik kembarnya yang tidur sambil memeluknya.

Sebenarnya pada awalnya mereka tidur di futon masing-masing. Entah bagaimana, pada akhirnya mereka jadi berdempetan begitu.

Setelah yakin adik kembarnya tidak terbangun. Ia mulai duduk, lalu perlahan berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar.

Sakura berhenti di ambang pintu. "Ganti pakaianmu lalu lapisi dengan hoddie dan pakai sepatu sportmu. Aku tahu kau belum tidur, Kiba." Sakura berucap dengan suara rendah, lalu kembali melanjutkan langkahnya.

.

.

.

.

.

-oOo-

My Family

Naruto by : Masashi Kishimoto

Story by : Awy77 Andrian

Warning : OOC, Typo(s), AU, Dsb.

Rated : T

Genre : Family, Drama, Romance

Main Pair : Narusaku (slow)

Mohon maklumi semua kegajean, keanehan dan hal yang tidak masuk akal dalam cerita ini. Bukan tanpa alasan ini disebut Fanfic, bukan?

If you don't like don't read

Happy Reading

-oOo-

.

.

.

.

.

Setelah mendengar suara Sakura, mata remaja lelaki yang mempunyai tato segitiga di pipi terbuka, menampilkan mata tajam dengan iris vertikal berwarna hitam.

Menghela napas pelan pemuda itu perlahan bangkit dari tidurnya dan melakukan perintah kakaknya.

Saat keluar, ia tak melihat kakaknya dimanapun, tetapi dua lampu minyak gantung di kiri dan kanan rumah hilang. Ia tahu kakaknyalah yang sudah mengambilnya.

Mereka tidak hanya menyediakan lampu listrik, tetapi juga menyediakan dua lampu minyak gantung di setiap rumah penginapan. Mungkin jika ingin benar benar merasakan berkemah tanpa listrik bisa hanya menggunakan dua lampu itu sebagai penerangannya.

Kiba berpikir dimana kira-kira kakaknya itu berada.

Ah!

Dia ingat.

Berjalan agak cepat ia menuju suatu tempat.

Hampir sampai, dan ia melihat dua lampu di gantung pada paku yang tertancap di dua pohon berbeda. Tak jauh dari area yang cukup terang karena dua lampu itu, terdapat danau. Dan Kiba menengok ke kiri ia melihat sebuah bangunan dengan penerangn lampu listrik. Ah, itu tempat pengewaan perahu dan peralatan memancing.

Kiba ingat Megumi berkata jika tak jauh dari penginapan ada danau. Ia yakin kakaknya itu ada disana, tanpa ragu ia mendatangi tempat itu. Dan dia benar. Terlihat dari dua lampu yang tergantung di pohon itu.

Kiba berjalan semakin dekat ke area terang itu.

Bruk!

"Payah!" Suara kakaknya terdengar dari arah belakang.

Pemuda bertaring itu berjalan teramat santai hingga ia lengah dan tak menyadari keberadaan kakaknya yang datang dari arah belakang secara tiba-tiba.

Masih dalam keadaan terjatuh, Kiba berbalik melihat kakaknya.

Kakaknya itu dengan gerakan cepat mengaitkan kakinya pada kaki Kiba dari belakang lalu menariknya kuat. Membuatnya terkejut dan kehilangan keseimbangan lalu terjatuh.

Kiba menatap Sakura. Sakura balas menatapnya, diiringi seringai kecil di wajahnya. "Bangun. Kau tahu aku tak punya adik yang payah, bukan?

Mata Kiba menajam mendengarnya.

Ia menatap kakaknya, lalu bangkit dan mengepalkan tangannya kemudian mengarahkannya pada Sakura, mencoba memukulnya.

Grep!

Sakura dengan cepat menyerongkan tubuhnya lalu menangkap pergelangan tangan Kiba.

Sett!!

Bergerak cepat menarik tubuh adiknya lalu ia membawa tangan kanan Kiba ke belakang tubuh Kiba sendiri, menguncinya.

Dukk!

Sakura lalu menekan lutut belakang Kiba dengan keras. Membuat lutut adiknya terantuk tanah dengan bunyi cukup keras.

"Arghh!" Ringis Kiba saat lututnya terantuk tanan dengan keras dan kuncian Sakura pada tangannya menguat.

Kiba yang menyadari tangan kirinya bebas, mencoba menyikut perut Sakura.

Menyadari apa yang hendak Kiba lalukan, Sakura menangkap tangan kiri kiba dan menguncinya juga di balik punggung Kiba sendiri.

"Argh!"

'Sial'

Kini Sakura berada di belakang Kiba dengan kedua tangannya yang mengunci dua tangan Kiba. Sedangkan kakinya sedang menginjak betis atas adiknya itu.

Gadis merah jambu itu menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga adiknya dari belakang. "Jangan berpikir kau akan tetap menjadi adikku jika tak bisa memberiku satu pukulan, Baby boy." Dengan diterangi lampu minyak dan tambahan sinar bulan, wajah Sakura yang memiliki seringai terlihat cukup jelas.

'Si-sialan!'

Rahang Kiba mengeras mendengar perkataan Sakura. Ia merasa diremehkan.

Dahinyanya berkerut, berpikir bagaimana cara melepaskan diri dari kukungan kakaknya ini. Meski kakaknya seorang perempuan, tenaga dan kemampuan beladirinya tak bisa diremehkan.

Kiba mendapat ide, ia meluruskan kaki kirinya yang tidak diinjak Sakura ke belakang lalu menggerakkannya ke arah samping, ke arah kaki kiri Sakura.

Kaki kiri Sakura ada di samping luar kaki kiri Kiba. Sedangkan kaki kanannya menginjak kaki kanan Kiba.

Menghindari gerakan Kiba, Sakura lantas mengangkat kaki kirinya dan bergerak ke kanan seraya melepaskan kuncian tangan adiknya dan tak lagi menginjak kaki kanan adiknya itu. Kini kiba bebas.

Kini Kiba dan Sakura berhadapan.

Sinar bulan yang memantul di air danau menjadi penerang tambahan. Suara gesekan daun karena tiupan angin malam dan suara khas binatang malam menjadi instrumen pengiring kegiatan mereka.

Tak lupa dua lampu minyak yang ikut menjadi saksi. Hal bagus karena lampu itu memiliki kaca untuk melindunginya dari terpaan angin malam

"Gerakan yang bagus." Puji Sakura. Kiba hanya menunjukkan seringai kecil.

Sakura melihat Kiba tak segera melakukan serangan apapun. "Kau hanya diam disitu?"

"Enam. Hanya enam." Ucap Kiba penuh penekanan

Sakura menaikan sebelah alisnya.

"Kau hanya akan memiliki enam orang adik. Tidak kurang dan tidak lebih, Cherry-nee." Sambungnya sambil menuju ke arahnya dengan kepalan tangan yang terkepal kuat dan mata yang menajam juga rahang yang terkatup rapat. Dia serius.

Sakura tersenyum kecil mendengarnya.

Rupanya Kiba benar-benar menganggap serius ucapannya tadi.

Menyadari adiknya semakin dekat, ia mundur selangkah lalu membuat kuda-kuda untuk memperkokoh pijakannya.

Ia telah memancing emosi adiknya dan kini adiknya marah. Adiknya ini mempunyai gaya bertarung brutal dan penuh energi.

Hah, sepertinya ini akan cukup melelahkan.

Meninggalkan mereka berdua, kini di penginapan lelaki berambut hitam legam terbangun dari tidurnya karena desakan alam. Ia memperhatikan sekeliling dan menyadari bahwa kakak perempuan dan adik lelakinya tidak ada. Lalu senyum kecil terpatri di wajahnya.

'Sudah dimulai rupanya'. Batinnya

Ia bangun dan pergi kebelakang, menuju kamar mandi.

Setelah selesai dari kamar mandi, Shisui keluar lalu berjalan ke arah meja makan di samping rumah lalu mengambil tiga jagung bakar kemudian membawanya ke arah alat pemanggang, menghidupkannya dengan bahan bakar batu bara lalu membakar jagung itu. Sambil menunggu jagungnya matang ia kembali ke meja dan membuat tiga cangkir coklat panas.

Kini semua sudah siap. Jagung bakarnya sudah siap begitu juga coklat panasnya. Shisui membawa tiga cangkir coklat panas menggunakan nampan kecil. Lalu membawa tiga jagung bakarnya yang dibalut kertas ke dalam paper bag juga ia membawa tambahan sebungkus keripik kentang dan sebotol air mineral.

Ia berjalan dengan tenang. Ke arah... yah ke arah danau. Entah darimana ia tahu bahwa adik dan kakaknya itu ada disana.

Dari kejauhan, iris hitam kelam miliknya melihat dua sumber cahaya di dekat danau. Juga dua siluet yang sedang bertarung. Shisui menyunggingkan senyum kecil, 'itu mereka'.

Tak mau mengganggu kegiatan kakak dan adiknya. Shisui menunggu cukup jauh. Ia berhenti di bawah pohon rindang. Lelah berdiri, ia duduk dengan tenang, mengamati dua saudaranya berolahraga sambil memakan jagung bakarnya dengan bantuan cahaya dari sinar bulan yang menerobos masuk.

Hingga ia menghabiskan satu jagung bakar juga secangkir coklat panas kedua orang itu belum juga berhenti. Kini tangannya meraih sebungkus keripik kentang dan mulai memakannya.

Merasa cukup memakan keripik, ia berhenti dan meminum air di botol lalu melihat dua orang itu yang masih juga belum berbenti. Ia menengadahkan kepalanya ke atas dan melihat langit malam yang cukup cerah, terbukti dari bulan yang bersinar terang dan cukup banyak bintang yang terlihat. Ia melihat bulan dan bintang dari sela-sela dahan pohon. Lalu memejamkan matanya. Tak menyadari jika dua orang yang ditunggunya sudah mulai berhenti bertarung.

"Hanya. Aku."

Sakura membungkuk ke arah Kiba yang sedang berjongkok dengan kedua tangannya bertumpu pada rumput dan sebelah lutut yang menyentuh tanah yang berlapis rumput, pose kaki seperti melamar gadis.

Sakura berkata dengan penuh penekan dan napas yang cukup cepat. Bertarung bersama adiknya memang membuatnya cukup lelah.

Kedua tangannya menangkup wajah Kiba yang sedang berjongkok. Membuat Kiba fokus padannya. "Hanya aku yang boleh memukulmu, tidak dengan orang lain. Kau mengerti?" Tanyanya dengan sorot mata tajam penuh peringatan.

Kiba mengangguk, membuat tangan Sakura di wajahnya yang kini mempunyai banyak luka ikut bergerak. "Mengerti." Jawabnya yang membuat Sakura tersenyum.

Tuk!

Sakura menyentuhkan dahinya pada dahi Kiba. Ia memejamkan matanya begitu juga Kiba.

Chup!

Sakura mengecup dahi adiknya. Lalu menempelkan dahinya lagi.

"Kenapa?" Masih dengan dahi menempel, Sakura bertanya. Membuat kiba membuka matanya, sedangkan Sakura masih menutup matanya.

Kiba tak menjawab.

"Kutanya kenapa, Baby boy?"

Kiba tetap diam.

Melihat Kiba tak memiliki niatan untuk menjawab, Sakura tidak memaksa.

"Kembalilah, obati lukamu."

Sakura bangkit dan berjalan mendekati tepi danau. Ia duduk di rerumputan dan mengarakhan kakinya ke depan. Meletakkan tangannya pada rerumputan di samping tubuhnya, ia menghirup udara dengan napas panjang lalu memejamkan matanya. Menikmati udara segar dan terpaan angin malam.

Bias sinar bulan yang memantul di air danau menerangi fitur wajah Sakura yang tegas.

Grep!

Seseorang memeluknya dari belakang, ia tahu itu Kiba. Maka ia membiarkannya. Cukup lama Kiba memeluknya hingga akhirnya Sakura membuka matanya saat merasakan basah di bahunya, Kiba menangis.

Jemarinya bergerak pada kepala Kiba, memberinya usapan lembut berulang-ulang.

Usapan penuh kasih sayang kakaknya membuat Kiba mengeratkan pelukannyan dan semakin membenamkan kepalanya di bahunya lalu isakan kecilnya mulai terdengar.

Setelah tenang Kiba berkata. "Ucapan mereka membuatku hilang kendali."

'Mereka?'

Ah!

Kiba berkelahi di sekolah. Maka 'mereka' yang dimaksud pasti siswa sekolah juga.

"Hmm? Apa yang mereka katakan?" Tanya Sakura.

Kiba masih berada di belakangnya dan memeluknya. Kepalanya masih ada di perpotongan leher dan bahunya, jadi Sakura mendengar dengar jelas suara gemerutuk gigi Kiba setelah ia bertanya.

"Mereka-." Kiba bersuara dengan gigi terkatup rapat.

Sakura menepuk pelan sebanyak dua kali pada tangan Kiba yang sedang memeluknya. Setelah mendapatkan perhatiannya, Sakura mengucap satu kata. "Kemarilah." Seraya menepuk pahanya sendiri.

Kiba mengerti.

Kini Kiba sedang berbaring di rerumputan dengan kepala di atas paha Salura

Lagi lagi Sakura mengusap kepala Kiba.

Kiba memejamkan mata, merasakan usapan tangan kakaknya di kepalanya. Sesekali tangan kakaknya mengusap darah dari luka di wajahnya yang membuatnya sedikit mendesis sakit.

"Aku mendengarnya di sebuah kelas saat berjalan pulang di koridor sekolah. Setelah mengikuti klub." Kiba mulai bercerita.

Sakura mengangkat sebelah alisnya sembari menunduk melihat sisi samping wajah adiknya. Kini adiknya itu menghadapkan kepalannya ke depan, ke arah danau yang yang memantulkan sinar rembulan, menerangi wajahnya. "Apa yang mereka katakan?"

"Mereka mengatakan jika Hanabi-chan adalah gadis monster, karena mahirnya ia dalam beladiri dan bisa mengalahkan beberapa siswa juga siswi populer dan berbakat di sekolah." Setelah selesai mengatakannya, Kiba mendengus kecil. 'Hanabi monster? mereka hanya belum mengenal Sakura-nee'.

"Hmm." Sakura menanggapi dengan gumaman dengan tangan yang masih setia membelai kepala berambut coklat di pangkuannya.

Usapan tangan kanannya di kepala Kiba yang tetap konstan dan gumaman yang terdengar santai berbanding terbalik dengan tangan kirinya yang mulai terkepal di atas rerumputan.

Dengan rahang mengeras, Kiba melanjutkan. "Mereka juga berkata jika Shion-chan adalah gadis yang sangat aneh, karena kesukaannya yang tidak sama seperti remaja pada umumnya. Dan nilainya yang selalu masuk lima besar ia dapatkan dari bantuan roh yang dipujanya." Gigi atas dan bawah Kiba bergesekan, menciptakan bunyi yang khas, "Karin-nee... mereka juga berkata jika nilai Karin-nee bukanlah nilai asli melainkan hasil kecurangan dan manipulasi, begitu juga saat ia ikut olimpiade, mereka berkata Karin-nee melakukan sesuatu agar terpilih untuk berpartisipasi." Lanjutnya.

Dengan tangan yang entah sejak kapan sudah memegang batu kecil, bergerak melemparkannya ke danau dengan kuat. Meluapkan emosi. Terdengar decihan kesal setelah ia melempar batu itu. 'Aku tahu dengan jelas usaha mereka berdua untuk mendapatkan nilai itu'.

Mendengar kelanjutan kalimat adiknya, tangan kirinya terkepal semakin erat dan iris hijaunya yang memandang permukaan air danau dengan pantulan sang dewi malam, mulai menajam.

Sakura tersadar saat Kiba mengubah kepalanya menghadap tubuhnya, lalu memeluk pinggangnya. Sakura kembali melanjutkan membelai rambut coklat itu, memberinya kenyamanan.

"Mereka bahkan berkata jika Hinata-chan lebih baik menjadi bisu daripada berbicara terbata-bata dan lebih baik jika ia bersekolah di sekolah anak-anak istimewa." Suara binatang malam dan hembusan angin malam menerpa mereka, seakan menjadi pengiring ucapan Kiba. Setelah menyelesaikan kalimatnya, Kiba mengeratkan tangannya pada tubuh kakaknya. Hinata dan Hanabi adalah permata kediaman Shimura, mereka semua memanjakan si kembar. Dari kakak lelaki, kakak perempuan hingga semua ibu, semuanya memperlakukan si kembar dengan penuh kasih sayang.

Tubuh Sakura terdiam membeku.

Tak lama kemudian, tangan yang tadi mengusap kepala Kiba, kini terhenti di udara dan berubah menjadi kepalan tangan yang erat. Dengan diterangi sinar rembulan iris hijau emerald berkilat berbahaya. Rahangnya mengeras dengan gigi terkatup rapat. Tak lama kemudian, satu sudut bibirnya tertarik, membuat seringai terpatri di wajahnya.

Terpaan angin malam membuat dahan dan dedaunan bergesekan yang menciptakan suara yang khas.

"Apa lagi?"

Mendengar suara kakaknya, Kiba melepaskan pelukannya lalu menghadap ke atas, menatap wajah kakaknya yang tengah menunduk.

"He?"

"Apa lagi, apa lagi yang mereka katakan?" Sakura memperjelas pertanyaannya.

Mendengar pertanyaan Sakura, membuat pandangan Kiba seakan kosong. "Nee-san, mereka berkata jika ayah kami seorang... bajingan." Mendengarnya, Sakura tersenyum sinis. "Seorang bajingan yang hobi berganti pasangan. Mereka berkata begitu karena mereka melihat perbedaan fisik kami." Lanjut Kiba.

Lalu Kiba melanjutkan. "Sebagai saudara yang terikat darah, kami tidak memiliki banyak kesamaan fisik. Jadi mereka... mereka juga mengatakan, jika kami terlahir dari wanita berbeda dan ibu kami... wanita nakal, wanita penggoda." Pemuda bertaring itu memejamkan matanya dengan tangan yang terkepal erat.

Masih dengan mata terpejam, Kiba melanjutkan ucapannya. "Itu benar, kami terlahir dari ibu yang berbeda dan gen fisik pihak ibu memang mengalir lebih dominan pada tubuh kami. Tetapi, itu tidak berarti mereka bisa mengatakan hal itu. Mereka juga berkata jika kami ada karena kecelakaan. Kehadiran kami tak diinginkan, kami... kami adalah sebuah kesalahan." Suara Kiba makin lama makin mengecil.

'Heh, lima saudara yang terikat darah tetapi dengan ciri fisik yang sangat berbeda, mereka pasti terlahir dari wanita berbeda.'

'Kau benar, ayahnya cukup pandai mencari wanita. Lihatlah para siswa sialan itu. Wajah dan tubuh mereka sangat bagus, dan mereka juga pintar.'

'Aku yakin ayahnya seorang bajingan dan mungkin saja ibunya seorang wanita penggoda atau wanita simpanan, heh! Siapa yang tahu.'

"Jika mereka benar satu ayah berbeda ibu, mungkin saja orangtuanya tak berniat memiliki mereka, dan mungkin juga mereka berada di kandungan karena orangtuanya lupa melakukan pencegahan."

'Yah, mereka ada karena orangtuanya lupa memakai pengaman, yang berarti mereka ada karena sebuah kesalahan dan kecerobohan.'

'Lima anak itu terlahir tanpa cinta. Cih! Menyedihkan sekali.'

Ucapan-ucapan yang didengarnya terasa berputar di kepalanya.

Kiba mengubah posisinya menjadi duduk menghadap Sakura. Menatapnya.

Tatapannya menunjukkan rasa takut, khawatir, sedih juga penasaran. "Nee-san, benarkah kami terlahir... kami terlahir tanpa cinta."

Deg!

Sakura membeku.

Kiba menatap kakaknya yang terdiam membeku. "Nee-san?"

"Nee-san?

Kiba menyentuh lengannya, menggoyangkan lenggan Sakura, seraya memanggilnya lagi. "Nee-san?"

"Ee?" Sakura tersadar.

Kiba heran, " Nee-san, kau baik-baik saja? kenapa kau diam saja? Apa kau melamun atau tubuhmu terasa sakit, Nee-san?" Kiba bertanya bertubi-tubi.

Mengacak sebentar rambut Kiba, lalu berkata, "aku baik-baik saja."

Cukup lama kakaknya itu berkelahi dengannya. Ia khawatir kakaknya merasa sakit dibagian-bagian tubuhnya karena melawannya tadi.

"Kau yakin, Nee-san?"

"Hm? Tentu."

Tangan gadis bersurai merah muda itu terulur ke wajah adiknya, mengusap darah yang keluar lagi dari wajahnya. Membuat adiknya sedikit mengeryit sakit.

"Kembalilah, obati lukamu dan kompres lebam di tubuhmu dengan es batu".

Kiba menatap heran kakaknya. "Nee-san, kau tidak kembali bersamaku?"

"Tidak."

Sakura bangkit dari tanah yang memiliki lapisan rumput itu. Melangkah lebih dekat ke danau.

Kiba terlihat ragu, ia ingin kakaknya kembali bersamanya, "tap-."

"Kembalilah, Kiba." Potong Sakura

Sepertinya kakaknya masih ingin merasakan hembusan angin malam dan menatap air danau yang memantulkan indahnya dewi malam yang malam ini tampil dengan tubuh sempurna.

Menghela napas pelan, Pemuda itu ikut bangkit dari duduknya. "Baiklah."

Saat akan berbalik Kiba mendengar Sakura memanggilnya. "Kiba."

"Eh? Ya?"

"Bukan."

He?

Mendengarnya, Kiba menatap punggung Sakura bingung. "Kalian bukan kesalahan. Bukan keinginan kalian memiliki ayah sepertinya, itu adalah takdir yang tidak bisa diubah." Ucap Sakura

"Jika kehadiranmu adalah kesalahan dan tidak diinginkan, akankan ibumu memperlakukanmu dengan penuh kasih sayang? Berapa usiamu? Tidakkah kau bisa melihat sebesar apa kasih sayangnya padamu? Hem? Lagipula meski ayahmu tak ada untukmu masih ada Shisui dan diriku, apa itu belum cukup? Dan kau lebih beruntung dari mereka karena kau mendapatkan kasih sayang bukan hanya dari satu ibu tetapi lima. Lima orang ibu." Kiba termenung mendengar ucapan kakaknya.

"Mereka hanya mengatakan omong kosong, kau tahu itu. Kau memang pantas marah atas apa yang mereka katakan. Tetapi, jangan biarkan ucapan mereka membuatmu meragukan keluargamu. Kau mengerti, Kiba?" Kiba terdiam sesaat, tak lama senyum tersungging di bibir tipisnya.

Kiba menatap punggung kakak perempuannya dengan wajah tersenyum. 'Terimakasoh Cherry-nee'. "Ya. Aku mengerti, Sakura-nee. "

Setelahnya Kiba melihat kakaknya itu berbalik dan melemparkan sesuatu ke arahnya, yang dengan mudah ia tangkap.

He?

"Benda ini membuatku ragu jika posisiku sebagai adik laki-laki terakhirmu masih aman, Nee-san." Ujar Kiba saat melihat benda yang tadi dilempar kakaknya dan kini berada di tangannya.

Kakaknya itu melemparkan satu set kalung dan tali anjing harness padanya. Benda itu pasti untuk Akamaru. Setelah Anjing itu yang mendapat ciuman pertama saat kakaknya pulang dan kini kakaknya itu membelikan satu set benda itu untuknya juga perlu diingat jika Akamaru adalah anjing laki-laki. Maka tidak heran jika Kiba mengatakan posisinya sebagai adik laki-laki terakhir Sakura tidak aman.

Kakak perempuannya itu tidak memberika oleh-oleh apapun padanya! tetapi sempat membeli benda kebutuhan hewan peliharaannya! Oh Kami-sama! Dari sini bisa disimpulkan jika kakak perepuannya yang bersurai merah muda itu lebih peduli pada Akamaru dari pada dirinya. Menyebalkan!

Menatap Sakura, Kiba bertanya. "Apa benar-benar tidak ada apapun untukku?"

Sakura kembali berbalik menghadap danau. "Kurangi benda di telingamu dan kalian akan mendapatkannya di hari pertama tahun ajaran baru."

Mereka?

Kiba mengernyit heran. "Mereka? Mereka sia-." 'Saat pulang hanya si kembar yang mendapat sesuatu dari Nee-san, maka 'mereka' yang dimaksud adalah...'

Kiba menatap punggung Sakura dengan antusias. "Ah! Nee-san, apa 'mereka' yang kau maksud adalah..."

"Ya, kau dan saudara-saudaramu. Kecuali Shisui."

Gotcha!

Tebakannya benar. Tetapi kenapa Shisui pengecualian? Bukankah seharusnya Hinata dan Hanabi?

"Kenapa Nii-san pengecualian? Bukankah seharusnya Hinata-chan dan Hanabi-chan?"

"Kau akan terus bertanya?"

Ee?

"Baiklah, aku kembali." Ujar Kiba

Tanpa berbalik untuk menatap adiknya, Sakura berkata. "Bawa satu lampu itu bersamamu."

Kiba mengangguk patuh meski sudah pasti Sakura tak melihat. "Ha'i."

Mematuhi ucapan Sakura, kini sebelah tangannya membawa satu lampu minyak.

"Aku kembali, Nee-san."

"Mm."

Berdiri menghadap danau, tangannya bergerak merogoh saku celananya lalu menghubungi seseorang, yang dengan cepat menjawab panggilannya. Setelah mendengar kata sapaan dari si penerima, ia segera mengucapkan satu kalimat lalu segera menutupnya tanpa memberi kesempatan orang di sebrang sana untuk merespon. Setelahnya ia berkata;

"Keluarlah. aku tahu kau disana, Shisui." Sakura memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.

Dengan hanya ada suara binatang malam juga gesekan antar ranting dan daun membuat suara Sakura menjadi satu-satunya suara manusia disana. Membuatnya terdengar jelas meski tidak meninggikan nada suaranya.

Merasakan ada yang mendekat, Sakura berbalik.

Iris emerald milik gadis bersurai merah muda itu melihat adik pertamanya yang bersurai hitam legam bak gelapnya malam tanpa pencahayaan.

Sakura melihat adik tertuanya itu membawa sebuah paper bag dan sebuah nampan dengan tiga cangkir diatasnya.

"Kau tahu aku disini, Nee-san?"

Mengabaikan pertanyaan Shisui, Sakura kembali menghadap danau dan duduk di tanah yang terlapisi rerumputan itu.

"Tiga cangkir. Tidak muncul saat Kiba masih disini?"

Eh?

Shisui tersenyum kecil.

"Cukup lama Nee-san dan Kiba berolahraga, hingga aku bosan dan tidak memperhatikan lagi. Saat aku kembali melihat, Kiba sedang memelukmu, Nee-san." Ujar Shisui

Pemuda dengan bulu mata panjang dan lentik itu mengikuti Sakura duduk menghadap danau. Dia meletakkan bawaannya diantara Sakura dan dirinya.

"Kupikir aku harus memberi waktu untuk kalian berbicara jadi aku kembali memakan keripik lalu lagi-lagi bersantai di bawah pohon." Lanjut Shisui sambil memberikan secangkir coklat panas yang sudah mulai menghangat pada Sakura. Untung saja cangkir itu mempunyai penutupnya sehingga panasnya tidak hilang sepenuhnya.

Sakura menerima cangkir itu dan menghirup aromanya. "Saat melihat Nee-san dan Kiba lagi, aku melihat kalian berdiri dan Kiba bersiap kembali dengan membawa lampu minyak dan yah, Nee-san tahu kelanjutannya."

"Mm." Sakura menanggapi dengan gumaman.

"Sudah agak dingin, Nee-san mau?" Shisui menatap Sakura seraya bertanya dengan tangan yang mengangkat jagung bakar.

"Mm."

Sakura meletakkan cangkirnya ke atas nampan lalu menerima jagung bakar itu.

"Kau pandai membuat jagung bakar." Puji Sakura.

Shisui menatap kakaknya, "Benarkah?"

"Aku bisa membuatnya kapanpun Nee-san mau."

"Kalau begitu, buatlah saat kita berlibur nanti." Ucap Sakura. "Tentu." Jawabnya.

Dengan tenang mereka berdua memakan jagung bakar ditemani secangkir coklat hangat di dekat danau.

Sekarang jagung bakar telah habis. Hanya menyisakan sedikit coklat hangat dan setengat botol air minum.

Shisui meletakkan cangkirnya ke atas nampan. Setelah itu menggeser nampan dan paper bag diantara mereka agak kebelakang. Lalu agak menidurkan tubuhnya dan kemudian meletakkan kepalanya di paha kakak perempuannya itu.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sakura masih dengan sebelah tangan yang memegang cangkir.

Shisui memejamkan matanya. "Apa? Apakah hanya Kiba yang boleh tiduran di pangkuanmu? Aku ini juga adikmu, Nee-san. Aku juga punya hak untuk bersikap manja padamu."

Sakura mendengus.

Bukankah Shisui hanya melihat saat ia bertarung, saat Kiba memeluknya dan saat Kiba hendak kembali dengan membawa lampu minyak?

"Aku sempat melihat sesaat saat Kiba melakukannya tadi." Jelas Shisui tanpa Sakura bertanya.

Sebelah tangan Sakura yang masih memegang cangkir dengan isi yang hanya tersisa sedikit itu bergerak ke arah nampan lalu meletakkan gelas cangkir itu disana.

Sakura mengelus rambut hitam legam milik adiknya itu. Rambut hitam itu terlihat lebat dan agak ikal, namun saat disentuh terasa begitu lembut dan halus. "Shisui."

"Hem? Ya?"

Sakura agak menunduk, melihat Shisui di pangkuannya yang sedang memejamkan mata. Tangannya bergerak ke wajah adiknya. Membelai wajahnya. "Kau ingat sesuatu?"

"Sesuatu? Sesuatu apa, Nee-san?"

Setelah selesai berbincang dan menikmati indahnya langit malam yang terpantul di air danau, kini kakak beradik berbeda warna rambut itu bersiap kembali untuk tidur yang hanya tersisa sebentar lagi sebelum matahari terbit.

Shisui sedang membuang sampah di tong sampah pinggir danau tak jauh dari posisi mereka saat ini, lalu segera kembali menghampiri kakaknya.

Sebelah tangannya membawa paper bag berisi nampan kecil dan tiga cangkir serta penutupnya. Sedangkan tangan lainnya menenteng lampu minyak.

"Ayo, Nee-san. Sebentar lagi fajar." Sakura mengangguk.

Sakura mengangguk tetapi tidak mengikuti Shisui melangkah menjauhi tepi danau. Menyadari kakaknya tidak mengikutinya, Shisui berhenti melangkah. "Ada apa, Nee-san?"

"Matahariku."

He?

Shisui mengikuti arah pandang kakaknya. 'Ah! Bunga matahari'.

Ternyata ada pohon bunga matahari tak jauh dari mereka. Mata kakaknya itu cukup tajam dan jeli. Ia bahkan tah melihat ada bunga matahari disana.

"Ingin aku memetiknya, Nee-san?" Shisui bertanya. "Tidak." Jawabnya.

Sakura melangkah mendekati pohon bunga matahari itu.

Tangannya bergerak menyentuh bunga matahari kecil yang masih kuncup. Mengelusnya dengan perlahan. Lalu gerakannya berhenti seakan mengingat sesuatu. Sudut bibirnya sedikit melengkung ke atas lalu ia mengeluarkan ponselnya, menulis satu kata yaitu 'setuju' dan mengirimkannya pada kontak yang ia beri nama 'Guren Oba-san'. Setelahnya ia kembali menghampiri Shisui.

Mereka berdua berjalan kembali beriringan ke penginapan menjauhi danau yang masih memantulkan sang dewi malam dan ratusan mutiara langit.

Pagi hari ini matahari bersinar terang dan langit terlihat cerah. Cuaca yang bagus untuk melakukan hanami di musim semi.

Terlihatlah lima orang wanita yang sedang menyiapkan sarapan.

Menghampiri para wanita yang sedang menyiapkan sarapan, seorang gadis bersurai pirang pucat bertanya. "Kaa-san, dimana Nee-san?"

"Sedang lari pagi bersama si kembar dan Akamaru." Ibu berambut merah menyala menjawabnya.

"Shion-chan, apa saudaramu yang lain sudah bangun?" Tanya Hikari sembari menyusun peralatan makan dimeja

"Shisui-nii dan Karin-nee sedang mandi sedangkan Kiba-nii belum bangun."

Tak jauh dari mereka terlihat tiga orang perempuan berpakaian olahraga berlari pelan menuju rumah kembar yang berdekatan itu.

"Ah! Lari pagi di tempat asri memang sangat menyenangkan." Ujar gadis merambut coklat.

Kembarannya mengangguk menyetujui. "Benar. Udaranya benar-benar segar."

"Nee-chan apa besok kita bisa lari pagi bersama lagi?" Tanya Hanabi sembari menoleh ke kiri sedangkan Hinata menoleh ke kanan. Keduanya menatap gadis yang ada di antara mereka. Sakura.

"Mm."

Keduanya tersenyum senang.

Ketiga gadis itu sudah ada di dekat kelima ibu dan Shion.

"Kaa-san, kami pulang." Ucap Hanabi

Para ibu tersenyum.

"Ya. Apakah menyenangkan?" Tanya Ayame dengan senyum cerianya.

Si kembar mengangguk. "Ya, Kaa-san. Kami ingin lari pagi juga besok." Ujar Hinata memberitahu.

"Boleh aku ikut?" Tanya Shion.

"Tentu saja, Shion-nee." Jawab Hanabi

"Baiklah, baiklah. Sekarang sarapan sudah siap. Kalian bertiga ingin mandi atau sarapan dulu?" Megumi bertanya.

"Sarapan!" Seru si kembar.

"Kalau begitu, hapus keringat kalian dan cuci tangan." Ujar Hikari. "Ha'i."

Samui menatap Shion. "Panggil saudaramu yang lain, Shion-chan."

"Baik. Kaa-san."

Sarapan telah dimulau beberapa saat yang lalu. Tetapi suasana terasa hening. Tak ada yang membuka suara. Bahkan Akamaru tak terkecuali. Anjing putih besar itu duduk dengan tenang di belakang Kiba. Tidak menggonggong sedikitpun.

Mereka, kecuali Kiba, Shisui dan Sakura, seakan fokus dengan sarapan meski sambil mencuri-curi pandang menatap Kiba.

Ini dikarenakan Kiba datang paling akhir dan bersikap ceria dengan wajah berseri-seri seakan tidak ada yang terjadi. Tetapi wajahnya memiliki jumlah luka robek dan lebam yang bertambah sejak terakhir kali mereka melihatnya, yah, pengecualian untuk Shisui dan Sakura yang mengetahui kenapa Kiba bisa seperti itu. Tentu mereka berdua tahu, karena keduanya adalah saksi dan pelaku.

"Kiba-nii, apa lukamu itu berkembang biak?"

Pertanyaan aneh Hanabi sontak membuat Shisui hampir tersedak tetapi tidak dengan saudaranya yang lain. Karena mereka ikut menatap Kiba penasaran.

"Tidak ada luka yang bisa berkembang biak, Hanabi-chan." Ujar Kiba

Menyadari jika Shisui tidak heran dengan perubahan luka Kiba, kelima ibu menatap Shisui penuh selidik.

Shisui panik, merasa seakan menjadi pelaku kejahatan yang tertangkap basah dengan tatapan kelima ibunya.

Dibawah tekanan tatapan kelima ibunya beserta saudaranya yang lain yang kini ikut-ikutan menatapnya, akhirnya sudut mata Shisui melirik Sakura yang menjadi satu-satunya orang yang bisa makan sarapan dengan damai, lalu Shisui mengangguk kecil kepada kelima ibunya. Seakan memberitahu jika kakak perempuannya itu adalah pelakunya.

Semua yang ada disana menatap Sakura tetapi tidak ada yang bertanya.

Tak!

Sakura meletakkan sumpitnya diatas mangkuk. "Aku selesai." Ucapnya seraya berdiri.

Semua diam memandang Sakura.

"Baiklah, anak-anak cepat selesaikan sarapan kalian. Hanabi-chan, Hinata-chan, kalian masih perlu mandi. Percepat sarapanmu. Kita akan melakukan hanami hari ini." Ucap Tayuya menyadarkan mereka.

"Ha'i."

Keluarga Shimura sangat menikmati kemah yang mereka lakukan selama dua hari dua malam itu. Saat ini mereka sudah tiba di rumah sejak satu jam yang lalu. Setelah makan malam di restoran dalam perjalanan pulang, kini mereka hanya bersantai di ruang tengah, bersenda gurau dengan ditemani minuman dan beberapa camilan.

"Anak-anak, apa kalian sudah menyiapkan keperluan sekolah?"

Mereka mengangguk. "Sudah, Kaa-san."

"Besok kalian sekolah, pekan terakhir sebelum kenaikan kelas. Lakukan yang terbaik, jangan membuat masalah."

Kelima ibu menatap Kiba penuh peringatan. Tak lupa saudaranya yang lain meliriknya dengan seringai kecil.

Pemuda bertato segitiga terbalik itu, bertingkah seakan tidak menyadari dan berpura-pura fokus menonton televisi.

Sakura menuruni tangga. Melangkah semakin dekat dengan mereka.

Hanabi melihat Sakura dan bertanya. "Nee-chan mau kemana?"

"Ya, ini sudah hampir larut malam." Sambung Hinata.

"Mansion."

He?

Sakura akan pergi ke mansion? Sekarang?

Kiba menatap Sakura. "Mansion? Mansion Otsutsuki? Nee-san akan pergi sekarang? Kenapa tidak besok saja?"

"Mereka benar Sakura-chan, tidakkah sebaiknya pergi besok saja? Ini sudah hampir tengah malam." Ujar Megumi

Sakura tidak menjawab.

Shisui melihat tas punggung Sakura yang cukup besar. "Apa yang Nee-san bawa?"

Jika pergi ke mansion, kakaknya itu tak akan repot-repot membawa keperluan apapun. Mansion Otsutsuki adalah salah satu tempat tinggalnya. Setahu Shisui kakaknya itu memiliki tiga tempat tinggal. Pertama kediaman Shimura, kedua Hunian di butik, dan ketiga adalah Mansion Otsutsuki. Di ketiga tempat itu sudah tersedia semua kebutuhan dan keperluan kakaknya. Dia hanya perlu datang dan tinggal disana, tak perlu membawa apapun lagi.

"Berkas kuliah."

He?

Bukankah Sakura akan menjalani coass? Dia bilang berkas kuliah? Apa yang dimaksud adalah berkas keperluan coass?

Bukankan Sakura bisa mengerjakan tugas kuliah disini? Kenapa harus pergi ke mansion?

Shisui mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Sakura.

Shion bertanya, "Bukankah Nee-san akan melakukan coass? Kenapa Nee-san membawa barang-barang kuliah kesana?"

Megumi menatap Sakura. "Sakura-chan, apa kau berencana tinggal disana?" Gadis pinky itu merespon dengan anggukan kecil.

Semua adiknya menatapnya.

"Apa! Nee-chan akan tinggal di mansion?" Seru Hanabi. Kakaknya itu belum lama pulang, dan kini akan tinggal di tempat lain.

"Lagipula kenapa tiba-tiba sekali? Tidak bisakah besok saja? Ini sudah malam." Ujar Karin. "Kukira besok Nee-chan akan mengantar kami sekolah." Lanjutnya.

"Apakah Nee-chan akan lama tinggal disana?" Tanya Hinata pelan

"Selama coass." Jawab Sakura.

Sakura mendekati si kembar, mengelus kepala keduanya itu lalu menatap adiknya yang lain bergantian seraya berkata. "Kujemput saat liburan tiba. Aku pergi." Sakura melangkah ke arah pintu keluar.

oOo

Sebuah mobil memasuki area parkir sebuah gedung bertingkat.

Tak lama kemudian seseorang keluar dari mobil itu. Melangkah menuju ke arah pintu masuk gedung aprtemen itu.

Sosok itu memasuki lobi utama gedung dan menuju sebuah lift. Memasuki lift, menekan tombol menuju lantai yang ia inginkan. Tak lama, lift sampai di lantai tujuan, membuat kaki itu melangkah keluar dari benda berlantai persegi itu, sosok itu berjalan menapaki lantai lorong koridor dengan tenang.

Tap!

Tap

Tap!

Tap!

Suara langkah kakinya terdengar menggema di lorong koridor apartemen yang terlihat sepi. Langkah kaki yang konstan itu terus melaju hingga sampai di sebuah pintu.

Tangannya mengeluarkan sebuah acces card, membuka pintu unit apartemennya, lalu mulai melangkah masuk. Disambut oleh kegelapan, salah satu tangannya terulur untuk menekan saklar lampu dan tentu saja ruangan berubah terang benderang. Berdiri selama beberapa saat,memejamkan mata, menghirup napas dalam-dalam, menikmati aroma ruangan yang memanja indra penciumannya. Membuat otot-otot tubuhnya terasa santai dan bibirnya membentuk sebuah garis lengkung kecil. Kemudian matanya terbuka, lalu kembali melanjutkan langkahnya memasuki unit apartemen itu.

Melewati ruang tamu yang tidak terlalu besar, terus berjalan menuju ruang santai, ruang televisi. Ruangan itu terhubung dengan dapur dan meja makan, kemudian duduk di kursi meja makan. Setelah beberapa saat, ia bangkit berjalan menuju kulkas dan mengambil minuman.

Dengan membawa minuman di tangannya, sosok itu menuju jendela. Membuka gorden, melihat gelapnya malam dari balik kaca jendela. Sosok itu meminum minumannya sembari menikmati pemandangan malam dari tempatnya berdiri.

Saat minum ponselnya bergetar dan berbunyi sesaat, tanda ada pesan masuk. Mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah pesan. Setelah membacanya, sosok itu menyeringai puas.

Setelahnya ia menatap jam dinding sesaat lalu menutup gorden, bersiap pergi. Saat akan melewati ruang tengah, ruang televisi. Matanya melihat sesuatu di atas meja depan sofa. Dengan masih membawa minuman di tangannya, ia berjalan mendekati benda di atas meja itu. Memandangnya dengan seksama. Membungkukkan tubuhnya, satu tangannya yang lain menyentuh dan mengelus pelan benda itu, seakan itu adalah benda mahal dan rapuh. Lalu mencondongkan kepalanya mendekat. Kini wajahnya tepat berada di depan benda itu, semakin dekat dan berakhir dengan mengecup benda itu lalu terkekeh seraya kembali menyentuh dan mengelus benda itu lagi. Tak lama, ia bangkit lalu melangkah pergi, keluar dari apartemen itu.

oOo

Suara deru mesin mobil terdengar memasuki Mansion Otsutsuki. Mobil itu berhenti, Gadis dengan surai merah muda keluar dari mobil itu. Memasuki mansion besar nan mewah berlantai empat dengan warna putih bersih.

"Nona Sakura," Midora kembali menyambutnya. Sakura mengangguk.

"Dimana Jii-san?"

"Hagomoro-sama sudah pergi ke kamarnya tiga jam yang lalu."

Sakura mengangguk berlalu pergi ke arah tangga sambil menatap jam tangannya, dimana hal itu membuatnya berhenti melangkah menuju tangga dan malah berbelok sedikit ke kiri, ke arah sebuah lift. Tepat di samping kiri tangga yang hendak ia naiki. Mansion ini memang memiliki lift dan tangga. Kamar Sakura dan kedua kakak lelakinya berada di lantai dua, membuat mereka bertiga lebih suka menggunakan tangga dibanding lift. Kini Sakura memasuki lift dan menekan tombol yang mengarah ke lantai tiga.

Tok! Tok! Tok!

"Oji-san."

Sakura berada di lantai tiga tepat di sebuah pintu yang kini sedang ia ketuk.

Ceklek!

Tak lama pintu terbuka.

"Masuklah." Ujar pria yang Sakura panggil Oji-san

Sakura masuk lalu menutup pintu kamar.

Melangkah mengikuti pamannya menuju ruang belajar di dalam kamar besar itu.

Di ruang belajar itu terdapat kursi dan meja yang cukup besar dengan di atasnya terdapat komputer, beberapa buku dan berkas. Lalu di belakangnya ada lemari dengan berbagai berkas dan dokumen juga buku yang tersusun rapi. Di sebrangnya terdapat single sofa cukup panjang yang kini Sakura duduki. Tas miliknya ia taruh di lantai, bersandar pada sofa.

Sakura menatap pamannya yang sedang duduk di kursinya sambil menulis sesuatu di buku. "Oji-san."

Mendengar Sakura memanggilnya, pria itu menghentikan kegiatannya untuk sesaat. "Bagaimana Tokyo?" Lalu kembali melanjutkan kegiatan menulisnya.

"Gemerlap, seperti biasa." Jawab Sakura. Membuat pria itu tersenyum tipis.

"Arigatou..."

"Arigatou, Indra-jisan."

Mendengar itu membuat pria itu berhenti menulis. Pria bernama Indra itu kemudian menutup buku juga meletakkan alat tulisnya lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.

Tuk! Tuk! Tuk

Indra dengan nyaman bersandar ke kursi dengan satu tangan berada di pegangan kursi dan tangan lainnya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan irama yang sama.

Setelah cukup lama lelaki yang terlihat tenang, dengan tampilan yang gagah dan tampan itu membuka suaranya. "Heh! Aku tidak mempercayai ini." Ujarnya. Membuat Sakura mengernyit bingung.

"Kau tertarik pada bocah dan aku membantumu sampai sejauh ini."

Dahi Sakura mengernyit. Menatap Indra dengan pandangan tidak setuju. "Tidak, dia bukan bocah, usianya hanya dua tahun lebih muda dariku."

Indra melipat tangan di depan dada. "Tetap saja lebih muda darimu."

Sakura menghela napas mendengarnya. Emerald miliknya menatap sang paman tampannya yang memiliki gaya rambut seperti ibunya, hanya saja rambut pamannya ini berwarna coklat. "Jadi, apa maksud Oji-san?" Indra tidak menjawab.

"Aku tidak akan mundur, jika itu yang ingin Oji-san ketahui."

Indra mendengus. "Heh! Memalukan."

Menatap Sakura, Indra berkata; "Apa tadi kau bilang? Mundur? Kau bilang mundur? Heh, jangan membuatku tertawa. Bagaimana bisa kau bilang tidak akan mundur saat kau bahkan belum membuat kemajuan apapun."

"Bicara memang lebih mudah."

"Alasan klasik."

Sakura mengalihkan wajahnya ke samping dan berujar dengan pelan yang sayangnya... "Aku datang kesini bukan untuk mendengar omelan, dasar paman panda bermata koma."

Pak!

"Ah! Ittai! Apa yang Oji-san lakukan?"...masih didengar oleh pamannya.

Sebuah buku yang cukup tebal dengan kulit yang cukup keras menggantam sisi samping wajah Sakura dengan kuat.

"Pergi kau dari sini."

Bukannya pergi, gadis dengan surai merah muda itu justru berbaring santai di sofa sembari mengelus pipinya yang kini terlihat agak kemerahan akibat dari ciuman sebuah buku yang kini ada di tangannya dengan pelaku yang masih menatapnya di sebrang sana.

Melihat tingkah keponakannya, Indra hanya bisa berdecak kesal dan menghela napas dalam hati. Ia lalu meraih ponselnya di meja kemudian mengirim pesan singkat pada seseorang.

"Tenanglah Oji-san, jika tidak, kau mungkin akan terkena tekanan darah tinggi sebentar lagi. Aku belum menjadi dokter, bahkan jika sudah, tarif bayaranku akan sangat tinggi." Ujar Sakura dengan santai sambil membaca buku yang tadi mencium pipinya dengan ganas.

"Ucapanmu membuatku ingin membunuhmu"

"Dan aku ingin bermanja-manja padamu."

"Itu tidak akan terjadi jika aku membunuhmu lebih dulu."

"Dan itu juga tak akan terjadi jika sikap manjaku berhasil meluluhkanmu."

"Kau! Dasar sampah,"

"Dan kau yang memungut sampah ini."

Indra menggeram dan Sakura terkekeh.

Tok! Tok! Tok!

Samar-samar terdengar suara pintu kamar yang diketuk.

Sakura bangkit, keluar dari ruang belajar, melangkah ke kamar pamannya lalu membuka pintu kamar.

Di ruang belajar, Indra memijat pangkal hidungnya. Lalu kembali menulis sesuatu di bukunya. Tak lama, makhluk merah muda itu kembali.

"Oji-san, kau memesan ini untukku?"

Indra tidak menjawab, ia hanya melihat Sakura sekilas yang kembali memasuki ruang belajarnya dan duduk di sofa lagi dengan membawa sebuah nampan berisi segelas susu dan segelas air biasa juga sepiring aneka buah yang sudah dikupas dan di potong-potong, siap dimakan.

Ya, memang Indra yang memesan itu melalui pesan singgat tadi.

Menutup buku dan alat tulisnya, kini ia mengambil sebuah berkas dan membacanya dengan teliti. Waktu berlalu dengan ketenangan di ruangan itu.

Menatap Sakura yang terlihat menikmati buah itu membuat Indra tersenyum tipis. Lalu kembali memeriksa berkas di tangannya.

"Kau mau, Oji-san? Disini ada buah yang bagus untuk mengatasi tekanan darah." Suara yang mengalun dengan tenang itu sukses memunculkan guratan kesal di wajah Indra, tetapi tak membuatnya mau menjawabnya.

Setelah cukup lama, buah di piring sudah habis, air biasa tersisa sedikit dan susu yang sisa setengah gelas. Tetapi lelaki di sebrang Sakura belum juga terlihat tanda-tanda akan selesai.

Melihat pamannya yang belum selesai, Sakura lalu mengeluarkan ponselnya. Makin lama Sakura makin asik dengan ponsel di tangannya, dan karena terlalu asik dengan ponselnya, Sakura tak menyadari jika sang paman sudah menatapnya sejak satu setengah menit yang lalu. 'Bocah ini.' Geram Indra dalam hati.

"Berhentilah menatap foto bocah itu."

Eh?!

Sakura terkejut mendengar suara pamannya yang tiba-tiba.

Sakura menatap pamannya dengan eksresi bertanya. Ia ingin tahu darimana pamannya itu tahu jika ia sedang melihat foto lelaki pujaannya.

Mengerti arti tatapannya, Indra berkata; "Tentu aku tahu dari wajahmu itu."

"Hanya bocah itu yang bisa membuatmu menunjukkan senyum bodoh, tatapan menggelikan, dan ekspresi menjijikan." Indra berkata dengan santai.

Sakura mendengus. "Pujian yang bagus."

Indra bangkit dari kursinya, ia berjalan lalu berhenti di depan mejanya, bersandar pada meja di belakangnya seraya melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Sakura di depannya yang sedang duduk di sofa.

"Lima tahun."

"Sudah lima tahun dan kau belum melakukan sesuatu yang berarti. Kau menghabiskan setengah waktu yang kuberikan dengan percuma. Jika waktumu habis dan kau gagal, jangan memohon padaku." Sakura terdiam. Apa yang pamannya katakan memang benar.

Indra mengalihkan pandangannya ke samping. "Jadi kutanya padamu, Kapan?" Sakura menatap sisi samping wajah pamannya itu.

Sesaat kemudian Indra kembali melihat Sakura dan menatap tepat ke iris emerald keponakannya itu.

"Kapan kau akan mulai mendekatinya secara terbuka, Saki?"

.

.

.

.

.

Chapter 6 Selesai.

-oOo-