Chapter sebelumnya...
"Aku baru tahu jika 'mendekati dengan cara normal seperti gadis pada umumnya' itu berarti mendekatinya secara sensual, dengan cara berpura-pura kehilangan keseimbangan, memeluknya, mengendus tengkuknya, dan mengusap lengannya secara seduktif, Saki." Setelah berkata begitu, Indra melenggang pergi meninggalkan Sakura yang sedang tersedak teh.
Chapter 19. New Car.
Tanggal satu April. Hari pertama tahun ajaran baru di Jepang. Anak-anak sekolah pasti bersemangat memulai hari pertama setelah liburan kenaikan kelas. Apalagi ini masih dalam suasana musim semi. Udara sejuk dan pemandangan bunga sakura, juga tanaman khas musim semi lainnya yang masih mekar seperti menjadi sambutan bagi para murid sekolah.
Begitu juga dengan anak-anak keluarga Shimura. Mereka tampak bersemangat meski semalam baru saja sampai di rumah setelah ikut merayakan pesta topeng. Keenam orang keluar dari kediaman Shimura. Shisui mengambil motornya di garasi sebagai kendaraannya kuliahnya, sedangkan kelima adiknya mulai berjalan keluar pagar rumah. Namun, sebuah mobil berwarna putih yang tidak asing bagi mereka datang menghampiri. Siapa lagi kalau bukan Sakura. Setelah mengantar adik-adiknya ke sekolah, Sakura kemudian pergi ke rumah sakit. Hari ini adalah hari pertamanya melakukan coass.
Di sekolah, sekarang sedang jam istirahat. Karin dan adik-adiknya berada di kantin. Menikmati hidangan makan siang yang disiapkan oleh pihak sekolah. Berada tak jauh dari mereka, ada kelompok Naruto dan teman-temannya yang juga sedang menikmati makanannya.
"Bagaimana acara peragaan busana itu, Ino-chan?" tanya Karui.
Ino mentap Karui. "Luar biasa. Semua busana yang diperagakan sangat bagus. Selain itu, ada dua pesta ulang tahun."
"Benarkah?" Shizuka bertanya. Ino mengangguk mengiyakan.
"Sasuke-kun dan Naruto-kun juga datang," ucap Ino. Teman-temannya sontak menatap Naruto dan Sasuke bergantian.
Naruto mengangguk. "Aku dan Iruka-ojisan datang mewakili keluargaku. Begitu juga dengan Teme," tuturnya.
Saat yang lainnya asik berbicara. Sai, sedang menggambar seketsa di sebuah kertas. Apa yang ia lakukan, menarik perhatian Shikamaru di sampingnya.
"Kau menggambar orang yang sama?" tanya Shikamaru.
Sai menoleh sekilas. "Ya," jawabnya singkat.
"Apa lukisanmu waktu itu sudah selesai?" tanya Shikamaru kala teringat Sai yang melukis model cilik saat mereka berkemah di hutan Nara.
Sembari terus menggoreskan pensil di kertas Sai menjawab. "Sudah kuselesaikan. Kau mau melihat hasilnya?"
"Memangnya kau membawa lukisanmu itu?" Shikamaru ragu jika Sai membawa lukisan itu. Lagi pula kenapa ia membawanya?
"Tidak." Sai merogoh saku celananya. "Kemarin aku sempat memotretnya menggunakan ponsel," lanjutnya. Ia kemudian mencari gambar di ponselnya lalu menyerahkannya pada Shikamaru.
"Apa yang kau lihat, Shikamaru?" tanya Ino.
"Gambar lukisan yang Sai buat saat berkemah waktu itu," jawabnya.
"Eh, aku tak sempat melihat lukisan Sai saat itu. Aku ingin melihatnya juga." Ini bergeser mendekati Shikamaru. Ingin melihat juga.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Ino melihat dengan antusias. Namun, ketika ia melihat gambarnya, kepalanya seakan ingin memutar memori lama yang mengakibatkan rasa sakit. Dahinya mengernyit dengan kedua tangan yang menyangga sisi kepalanya. Rintihan rasa sakit tak dapat ia tahan.
"Hei, Ino. Apa yang terjadi denganmu? Kau kenapa?" Shikamaru memegang bahu Ino setelah dengan cepat meletakkan ponsel Sai ke atas meja.
"Ino, Apa kepalamu sakit?" tanya Chouji. Semua terkejut dengan rintihan sakit Ino yang tiba-tiba. Mereka khawatir dengan keadaan Ino yang tampak kesakitan dan kini wajahnya pucat.
"Ayo cepat bawa Ino-chan ke ruang kesehatan, Shikamaru," ujar Tenten. Ia langsung mendekati Shikamaru, membantunya memapah Ino. Tenten tergabung dalam club kesehatan sekolah, tentu ia tak akan diam saja jika ada orang yang sakit di sekolah.
"Shino-kun, jika aku belum kembali saat pelajaran dimulai, tolong katakan pada sensei jika aku ada di ruang kesehatan," pesan Tenten pada Shino yang satu kelas dengannya.
"Baik."
Waktu terus berlalu, kini para murid sedang keluar kelas untuk datang ke klub ataupun pulang ke rumah. Karena bel pulang sekolah telah berbunyi beberapa saat yang lalu. Shimura bersaudara sedang berjalan keluar lingkungan sekolah, tetapi seruan satpam sekolah menghentikan mereka.
"Ini untukmu." Kiba dan saudara-saudaranya yang lain menatap bingung satpam itu yang mengulurkan tangan dengan sebuah kunci di telapak tangannya.
"Untukku?" tanya Kiba menunjuk dirinya sendiri. Hanya dengan melihat kunci itu, ia tahu itu adalah kunci mobil.
"Ya. Seorang gadis berambut merah muda menitipkan kunci ini, dan memintaku untuk memberikannya pada Shimura bersaudara," kata satpam itu. "Itu kalian, 'kan?" lanjutnya.
Menerima kunci mobil itu karena tahu siapa yang dimaksud si satpam. Mereka kemudian di beritahu jika mobilnya ada di area parkir mobil khusus murid. Pergi ke sana lalu mencari mobil yang sesuai dengan deskripsi yang sempat dikatakan pak satpam tadi.
Hanabi dan Karin nampak paling senang melihat kendaraan baru mereka, hingga tak bisa menahan seruan kekaguman. Saat sudah sampai di dekat mobil, dering ponsel milik Kiba berbunyi. Ia lekas mengangkat panggilan setelah membaca nama orang yang menghubunginya.
"Nee-san," sapa Kiba. Saudaranya yang lain menatap penasaran. Ingin tahu apa yang di katakan Sakura. Suara gumamam terdengar dari Sakura sebagai balasan.
Kiba tersenyum lebar. "Ini hadiah yang kau maksud malam itu, Nee-san?" tanya Kiba sambil menatap mobil hitam di dekatnya. Karin, Shion, dan si kembar menatap Kiba bingung. Itu wajar. Karena mereka tidak tahu pembicaraan Kiba dan Sakura saat malam ketika berkemah.
Malam itu Sakura berkata pada Kiba jika ia mengurangi piercing di telinganya, maka ia dan saudara-saudaranya kecuali Shisui, akan mendapatkan hadiah saat hari pertama tahun ajaran baru.
"Jangan menambah pierching di telingamu. Jika tidak, akan kuambil kembali benda hitam itu. Kau mengerti, baby boy?"
"Nee-san, bagaimana dengan surat-surat kelengkapan berkendara dan tes yang harusnya kujalani?" tanya Kiba. Dirinya belum memiliki surat-surat ataupun menjalani tes yang harus dilalui untuk bisa berkendara dengan legal.
Setelah berbicara dengan Sakura, Karin dan adik-adiknya pulang dengan mengendarai sebuah mobil baru berwarna hitam metalik dengan Kiba sebagai pengemudi. Untuk kelengkapan surat-surat dan tes mengemudi, Sakura mengatakan jika ia sudah mengurusnya. Entah bagaimana kakaknya itu mengurusnya, ia tak tahu dan tak ingin tahu. Jadi mereka tak perlu memikirkan itu dan hanya perlu mengendarai mobil dengan mematuhi peraturan yang ada.
Memang ada alasan kenapa Sakura membuat jadwal les mengemudi tiga kali dalam seminggu untuk mereka sejak memasuki sekolah menengah atas. Awalnya, mereka pikir itu aneh dan konyol. Kenapa harus les mengemudi saat masuk SMA ketika tidak memiliki kendaraan? Namun kini, mereka mengerti jika Sakura sudah memperhitungkannya sejak awal. Memang selalu ada alasan dibalik semua tindakan Sakura.
oOo
"Hikari-chan, kau pulanglah bersama Megumi-nee nanti. Aku akan berbelanja untuk stok beberapa hari ke depan."
"Eh, kenapa? Bukankah besok kita bisa berbelanja bersama setelah restoran tutup?" tanya Hikari pada Ayame.
"Tidak apa-apa. Jika aku belanja hari ini, kita besok tak perlu berbelanja lagi. Lagi pula, ada yang ingin kubeli untuk anak-anak. Ini hari pertama tahun ajaran baru, jadi aku ingin membuat sesuatu untuk mereka," jelas Ayame sambil tersenyum.
Hikari, Ayame dan dua karyawan sedang membereskan restoran sebelum pulang, mereka sudah menutup restoran sepuluh menit yang lalu. Setelah itu, mereka akan pulang.
Selesai membereskan restoran, dua karyawan mereka pamit pulang, kini hanya Hikari yang masih di restoran. Karena Ayame juga sudah pergi beberapa saat yang lalu. Tak lama Megumi datang. Seperti biasanya, dia datang untuk menjemput Hikari dan Ayame, tetapi kali ini Ayame tidak ikut pulang karena ia pergi berbelanja. Setelah itu, Megumi dan Hikari menjemput Samui di salonnya kemudian pulang ke rumah. Megumi tidak menjemput Tayuya karena dia akan pulang bersama teman grup musiknya.
Ayame keluar dari restoran, lalu berdiri di tepi jalan kemudian menghentikan sebuah taksi. Wanita kurus berambut cokelat panjang yang sedikit ikal itu tak menyadari jika dirinya diikuti oleh sebuah mobil berwarna putih sejak keluar dari restoran.
Mobil taksi yang dinaiki Ayame menuju sebuah pemakaman di sebuah desa. Terlihat Ayame turun dari taksi lalu memasuki area pemakaman. Pengemudi taksi itu tak pergi dari tempatnya. Sepertinya Ayame memintanya untuk menunggunya, dan itu wajar, karena daerah ini cukup jauh dari jalan raya, maka ia perlu kendaraan untuk pergi dari sana. Mungkin ia membayar lebih karena telah membuat pengemudi taksi itu harus menunggunya.
Tak jauh dari mobil taksi yang terparkir di area parkir pemakaman, mobil putih datang. Mobil yang mengikuti Ayame tadi. Keluarlah seorang pengemudi, yang ternyata adalah Sakura. Memakai tudung hoodie guna menutupi rambutnya yang berwarna mencolok, Sakura memasuki area pemakaman. Mengikuti Ayame dari jarak aman.
Ia melihat Ayame mendatangi sebuah makam. Berjongok di samping makam, mengusap batu nisan, lalu berdoa. Saat Ayame sedang berdoa dengan mata terpejam, ia segera mendatangi makam di dekat makam yang didoakan Ayame. Kini jarak mereka sangat dekat dengan posisi saling memunggungi. Setelah berdoa, Ayame berbicara sendiri. Menceritakan sesuatu pada makam di hadapannya.
"Tou-chan, aku datang lagi. Bagaimana kabar Tou-chan?"
"Tou-chan, jangan khawatir. Aku hidup dengan bahagia." Ayame mengusap batu nisan itu.
Dengan senyum di wajah ia melanjutkan ucapnnya. "Kehidupan cinta dan rumah tanggaku memang tidak bagus. Namun, hidupku tetaplah bahagia. Aku sudah mendapatkan kebahagiaanku, Tou-chan. Aku memilik empat saudari yang baik dan tujuh anak yang membanggakan. Mereka ... anak-anak hebat. Tou-chan juga pasti bangga pada mereka."
Meski suaranya tergolong pelan, Sakura yang ada di belakangnya tetap mendengarnya dengan jelas. Ia terdiam dan semakin memfokuskan indera pendengarannya.
"Sekarang tanggal satu april. Anak-anakku memulai tahun ajaran baru hari ini. Begitu juga dengan putera pertamaku, dia juga mulai kembali berkuliah."
"Ah, puteri tertuaku juga, Sakura-" Sakura sedikit tersentak saat namanya disebut. "-chan. Hari ini adalah hari pertamanya coass," lanjut Ayame dengan nada bangga.
"Putera tertuaku menempuh pendidikan di bidang hukum, dan puteri tertuaku di bidang kesehatan. Keduanya juga mendapat beasiswa penuh. Mereka membanggakan, bukan? Kami semua bangga pada mereka." Sakura merasa tubuhnya menjadi kaku mendengar itu. Sebangga itukah wanita itu padanya? Wanita yang belum ia terima sepenuhnya sebagai ibunya itu?
Setelah merasa bangga, kini terdengar hela napas kasar dari Ayame. "Tou-chan, putera tertuaku sangat membanggakan, tetapi kenapa putera bungsuku sering membuatku khawatir? Ya ampun, sepertinya dia berencana membuatku mati khawatir," keluh Ayame. Sakura di belakangnya tetap mendengarkan dengan tenang, kini satu sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas. Tersenyum amat tipis.
"Sudah beberapa bulan ke belakang dia tak pernah berkelahi lagi, tetapi beberapa minggu lalu, dia pulang dalam keadaan babak belur. Membuatku seperti akan terkena serangan jantung."
"Parahnya dia berkelahi lagi setelah sekian lama, tetapi tepat di hari pertama Sakura-chan pulang, Tou-chan. Apa yang dipikirkan Sakura-chan tentang kami? Mungkin saja dia pikir selama ini Kiba-kun memang belum berubah, dan mengira jika kami tak memarahi juga tak mendidiknya dengan benar," rengek Ayame pada makam ayahnya.
"Kami bahkan terlalu malu untuk marah pada Sakura-chan yang menambah luka Kiba-kun," lanjutnya dengan nada rendah.
Setelah bercerita banyak hal, dimulai dari saudari-saudarinya, lalu anak-anaknya kemudian pekerjaannya lalu apa yang ia tonton di televisi, hingga harga bahan makanan yang melonjak naik, kini Ayame berpamitan. "Tou-chan, aku akan menjalani hidupku dengan bahagia. Jadi, Tou-chan juga berbahagialah di sana bersama Kaa-chan. Aku mencintaimu, Tou-chan." Ayame mencium nisan ayahnya.
"Sampai jumpa lagi, Tou-chan," pamit Ayame.
Setelah Ayame sedikit menjauh, Sakura mendongakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk. Terlihat iris emerald itu berkaca-kaca. Melirik Ayame yang semakin memperpanjang jarak, ia lalu berdiri. Sebelum melangkah pergi menyusul kepergian Ayame, ia sempatkan untuk menoleh sesaat pada makam ayah Ayame. Membaca nama yang tertera di sana. Tertulis sebuah nama Teuchi di nisan itu. Persis sama dengan apa yang tertera di berkas hasil pekerjaan Sasori dan Deidara.
Saat ini Sakura sedang mengendarai mobil mengikuti taksi yang ada di depannya dengan jarak sedikit jauh. Terlihatlah taksi itu berhenti di pinggir jalan tepat di depan supermarket. Ayame turun lalu memasuki tempat itu, sedangkan taksi yang itu tumpangi melanjutkan perjalannya. Dahi Sakura mengernyit. Taksi itu tak menunggu Ayame seperti sebelumnya. Itu berarti ia akan menaiki taksi lainnya saat selesai berbelanja nanti.
Entah apa yang ia pikirkan, Sakura mengendarai mobilnya memasuki area supermarket. Memarkirkan mobilnya lalu mulai memasuki supermarket, berjalan mencari keberadaan Ayame. Kemudian, ia melihat wanita itu sedang ada di area bahan-bahan pembuatan kue sambil mendorong sebuah troli belanja. Di ujung lorong itu adalah tempat berjejernya lemari es. Banyak minuman dingin di sana. Sakura segera pergi ke sana melewati jalur lainnya.
"Sa-Sakura-chan?"
Sakura yang sedang memilih minuman dingin meski di satu tangannya sudah ada botol minum yang isinya masih tersisa setengah, menoleh ke arah sumber suara. Sakura berlagak sedikit terkejut melihat Ayame, lalu mengguman sebagai respon balasan. Suasana terasa sedikit canggung, keduanya tak tahu harus berkata apa. Namun dengan berani meski suaranya sedikit tergagap, Sakura bertanya.
"Ap-apa yang kau beli?" tanya Sakura. Ia bahkan tak menatap Ayame, mengedarkan matanya ke mana saja asal tak menatap wanita berambut cokelat itu. Jika diperhatikan baik-baik, maka akan terlihat pipinya yang sedikit bersemu.
"Eh? Ak-aku membeli bahan-bahan membuat kue," jawab Ayame. Hanya berdua dengan Sakura membuatnya bingung harus bagaimana. Padahal ia termasuk mudah membuat topik pembicaraan dan termasuk orang yang ceria di rumah.
Tak tahu harus bagaimana merespon Ayame, Sakura hanya mengguman tak jelas, sedangkan Ayame yang tahu jika suasana akan kembali canggung seperti diawal tadi kalau pembicaraan berhenti di sini, maka ia melanjutkan ucapannya. "Beberapa bahan masakan juga akan kubeli untuk stok beberapa hari ke depan," lanjutnya.
"Begitu," ucap Sakura masih tidak menatap Ayame. Ia menatap troli belanja Ayame dan melihat jika hanya terdapat bahan-bahan kue di sana. Itu artinya, dia belum selesai berbelanja.
"Kalau begitu lanjutkan belanjamu," ucap Sakura.
"Eh, iya. Kau juga Sakura-chan," tutur Ayame dengan senyum canggung. Ia lalu lanjut mendorong troli belanja ke arah samping untuk memasuki lorong lainnya.
Sakura menatap Ayame dari belakang. Terbesit rasa menyesal. Sudah cukup sulit baginya membuka obrolan, tetapi pada akhirnya ia juga yang seperti mengusirnya. Dirinya ingin memanggil Ayame, tetapi tak tahu harus berkata apa. Sakura hanya bisa berdecak kesal dan menggertakkan giginya saja tanpa melakukan apa pun.
Beberapa langkah kemudian Ayame teringat sesuatu, ia lalu tersenyum ceria dan wajahnya tampak bersemangat. Dengan cepat ia berbalik badan. "Ah! Sakura-chan?"
Sakura yang sedang berdiri dengan kepala menunduk lekas mengangkat wajahnya lalu menatap Ayame. Terlihat Ayame ingin mengatakan sesuatu, tetapi sedikit ragu. Sakura menunggu dengan sabar.
Dengan nada ragu Ayame bertanya. "Apa malam ini ... kau sibuk, Sakura-chan?"
"Tidak!" seru Sakura cepat. Ayame terkejut dengan respon cepat Sakura. Ia tadi menduga jika Sakura akan menolak. Namun ternyata responnya di luar dugaan.
Sakura mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Mak-maksudku, aku tidak sibuk. Ini, ini hari pertamku coass tidak banyak tugas yang harus selesaikan," ujar Sakura canggung dan sesekali melirik Ayame.
"Benarkah?" tanya Ayame dengan mata berbinar dan senyum cerianya.
"I-iya, tentu." Sakura kembali membuka lemari es di sampingnya, lalu berlagak kembali memilih botol minum.
"Kalau begitu datanglah nanti malam. Aku akan memasak makan malam yang enak, sebagai ucapan selamat memasuki tahun ajaran baru."
Masih menghadap lemari es, Sakura mengangguk kecil dan menguman. "Hm." Ayame yang melihat itu tahu jika Sakura setuju. Ia tersenyum senang.
"Baiklah. Kalau begitu, sampai jumpa nanti malam, Sakura-chan."
Ayame berbalik lalu hendak mendorong troli belanjanya lagi. Namun, gerakannya terhenti kala sebuah tangan menahan troli itu.
"Eh?" Ayame terkejut sekaligus bingung.
"Ak-aku akan datang setelah ini," ucap orang yang menahan troli itu. Tak lain dan tak bukan, orang itu adalah Sakura. Kecepatannya benar-benar luar biasa.
Setelah mengetakan itu, Sakura meletakkan dua botol minum ke dalam troli. "Aku akan mendorong troli ini," putus Sakura sebelum Ayame sempat merespon karena terkejut.
Ia lalu dengan segera mengambil alih troli belanja itu dan segera berjalan beberapa langkah. Menyadari Ayame tak mengikutinya ia berhenti. "Bukankah kau perlu membeli bahan-bahan lainnya?"
Seakan tersadar Ayame menjawab. "Ah, i-iya." Dengan segera ia menyusul Sakura.
oOo
Berdiri di depan jendela kamarnya, Shikamaru memainkan sebuah korek api di tangannya, menghidupkan dan mematikannya berulang kali.
'Kiba Shimura'
"Masih ada waktu sebelum kelulusan sekolah, aku akan mencaritahu tentangmu dan keluargamu, Kiba Shimura," monolog Shikamaru.
"Aku yakin kau tak seburuk yang kau tunjukkan," lanjutnya.
"HEI, PEMALAS! CEPATLAH TURUN!" BANTU IBU MENYUSUN PERALATAN MAKAN MALAM!" teriak sang ibu dari lantai bawah.
Shikamaru mendesah lelah. "Baik!" sahutnya dengan nada sedikit tinggi agar sang ibu mendengarnya.
"Ck. Merepotkan."
Setelah makan malam siap, keluarga Nara memulai makan malam setelah sang kepala keluarga pulang. Kemudian setelah selesai, mereka duduk santai di ruang keluarga.
"Ah, Shikamaru. Ibu membuat kue tadi pagi dan masih ada banyak. Kau antarkan untuk Chouji-kun dan Ino-chan, ya?" pinta Yoshino pada putera tunggalnya itu.
"Hah, baiklah." Yoshino lekas pergi ke dapur untuk mengambil kue buatannya.
Sekarang Shikamaru dan Chojui sedang berjalan menuju rumah Ino. Setelah sebelumnya Shikamaru ke rumah Chouji, lelaki tambun itu ikut pergi ke rumah Ino.
"Hei Shika, apa yang terjadi sebelum Ino merasa sakit di kepalanya?"
Shikamaru berusaha mengingat apa yang terjadi, tetapi ia menggeleng. "Tidak ada. Itu terjadi secara tiba-tiba saat kami melihat hasil lukisan milik Sai," jawabnya sambil melirik Chouji di sampingnya.
"Aneh," komentar Chouji. " Ino pernah beberapa kali merasakan sakit di kepala secara tiba-tiba dan bereaksi seperti itu sebelumnya. Namun biasanya, Ino mengalami itu saat dia mencoba mengingat memori lamanya, atau ada pemicu yang membuat otaknya memutar sebuah kenangan masa lalu," tutur Chouji.
Dahi Shikamaru mengernyit mendengar itu. "Iya, kau benar, Chou." Ia setuju dengan Chouji.
"Namun anehnya, kali ini tidak ada pemicunya sama sekali," lanjut Shikamaru.
oOo
Di sebuah kamar yang didominasi warna ungu, mulai dari cat dinding, gorden, lemari, hingga benda-benda lainnya. Seorang gadis sedang duduk di kursi belajarnya yang juga bercat ungu. Bersandar pada sandaran kursi, netra aquamarine itu menatap sebuah kotak kecil berwarna hitam di meja belajarnya.
Dengan tangan terlipat di depan dada, ia mengerucutkan bibirnya. Tak lama kemudian ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekati kotak itu. "Kalau dipikir-pikir lagi, kenapa aku menerima benda ini, ya?" Ia menghembuskan napas kasar.
"Ayah akan membelikanku pita yang bagus jika aku memintanya. Lagi pula, aku bisa membelinya sendiri dengan penghasilanku dari toko bunga," ujarnya pelan.
"Pasti. Pasti aku menerimanya karena malu akibat ketahuan melihat isi kotak itu," lanjutnya.
Tangan Ino meraih kotak hitam itu lalu kembali menyandarkan punggungnya di kursi. Memperhatikan kotak kecil itu, suaranya kembali terdengar. "Ini kotak yang indah."
"Sayang sekali hanya digunakan untuk menyimpan sehelai kain pita yang tak berharga."
Tok ... tok ... tok ...
"Ino, ini kami." Ino mendengar suara yang tidak asing dari luar kamarnya. Itu suara Chouji, dan ia mengatakan 'kami' itu berarti ada Shikamaru yang bersamanya.
"Ya, masuklah," ucap Ini. Pintu segera terbuka dan dua orang pemuda masuk.
"Kau sedang apa, Ino?" tanya Chouji.
"Tidak ada, aku hanya sedang duduk saja. Eh, apa yang kalian bawa?"
Mereka bertiga duduk di kursi dekat jendela. Dengan terdapat hidangan kue buatan ibu Shikamaru dan sekeranjang buah segar yang Chouji bawa.
"Kau baik-baik saja, sekarang?"
Ino melirik Chouji. "Apa maksudmu, Chou? Tentu, aku baik-baik saja. Kepalaku sudah tidak sakit lagi. Jangan khawatir." Ino mengambil satu kue lalu memakannya.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Chouji.
"Emm, kuenya enak sekali. Hei Shika, mintakan respnya pada ibumu, aku ingin mencoba membuatnya," puji sekaligus pinta Ino pada Shikamaru yang hanya menatapnya lalu mengucap satu kata andalannya.
Terlampau biasa dengan respon Shikamaru, Ino kembali berbincang dengan Chouji. Kali ini dia membahas buah segar yang dibawa sahabat tambunnya itu. Ternyata sore tadi ayahnya pergi ke toko buah.
Shikamaru yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka, kini mengedarkan pandangannya ke kamar bernuansa ungu itu, hingga sebuah kotak kecil berwarna hitam menarik perhatiannya.
"Kotak apa itu?" tanya Shikamaru.
Ino dan Chouji mengikuti arah yang ditunjuk Shikamaru.
"Ah, itu kotak yang diberikan padaku oleh seorang wanita saat acara fashion show."
Chapter 19 selesai.
