Chapter sebelumnya...

"Bawa dia kembali dalam keadaan sama seperti semula jika kau ingin aku mempercayakannya padamu, Itachi Uchiha."

Chapter 22. Danzou's Death.

"Kau benar-benar mengerikan," desis Itachi lalu menyambar ponsel dan kunci mobil Sakura di meja. Pergi tergesa. Membuka dan menutup pintu dengan kasar. Sengaja membuat suara dentuman keras.

Lima orang di ruangan masih terkejut dengan apa yang terjadi. Mereka semua menatap Sakura tak percaya.

"Sakura-chan, sadarkah kau jika yang kau lakukan ini berbahaya?" tanya Konan.

"Shisui baru saja melihatmu balapan. Tentu dia akan memakai kecepatan tinggi. Ditambah, melihat bagaimana tampilan mobil itu. Kurasa kau tahu apa yang akan dilakukan Shisui," timpal Kakuzu.

Di sisi lain, Itachi menuruni tangga dengan tergesa, keluar gedung lalu langsung menuju mobil Sakura. Mobilnya ada di area parkir, terlalu lama jika menggunakan mobilnya sendiri, sedangkan kunci mobil Sakura ada padanya dan mobil itu terpakir di dekatnya. Akan lebih cepat jika memakai mobil Sakura. Hal bagus ia menyambar kunci dan ponsel gadis itu tadi.

Sakura memarkir mobilnya menghadap lorong lintasan balap. Tentu agar ia bisa langsung tancap gas tanpa membuang banyak waktu. Aksi drifting hanya pengecoh dan meletakkan kunci mobil ke meja ternyata sudah ada dalam perhitungan Sakura untuk membuat ia menghemat waktu.

Usai menyalakan mesin mobil, Itachi menekan klakson berkali-kali untuk membuat kumpulan orang yang ada di jalan menyingkir, lalu ia menekan pedal gas dalam-dalam. Membuat mobil itu melaju dengan kencang.

Di dalam mobil, Itachi tampak serius. Raut wajahnya tegang, matanya menajam, dengan gigi yang bergemerutuk menahan kesal dan amarah. Dalam benaknya ia mengumpati Sakura berulang kali.

Kembali ke ruangan, kini kelima orang itu berdiri menghadap jendela, melihat bagaimana Itachi memacu mobil dengan kecepatan sangat tinggi, sedangkan Sakura, sedang duduk bersandar dengan kaki bersilang di atas meja. Wajahnya terlihat tenang dengan mata yang tertutup.

Sasori berbalik. Ia menatap Sakura. "Kau tahu, ini seperti pedang bermata dua, Sakura-chan." Sasori tahu pasti jika sesuatu terjadi pada Shisui, bukan hanya Itachi yang akan menjadi gila, tetapi juga Sakura sendiri.

Hidan berjalan ke sofa. "Kau terlalu berani mengambil risiko."

"Kuharap Itachi berhasil dan Shisui-kun baik-baik saja," harap Konan.

"Ya, aku juga berharap begitu," timpal Pain.

Sakura terlihat tenang di permukaan. Namun, tak ada yang tahu jika tangannya yang ada di saku jaket, meremat kain itu dengan erat. Melampiaskan rasa khawatir, takut, dan gelisahnya.

Setelah ruangan itu hening dalam waktu yang cukup lama, Hidan menjadi yang pertama bersuara. "Kenapa mereka belum kembali?"

Terlihat Sasori menatap jam di tangannya, lalu berdiri menghampiri Hidan yang bersandar di bingkai jendela besar. Menatap ke luar. Hidan hanya meliriknya sekilas.

"Sebentar lagi," ucap Sasori pelan.

"Dari mana kau tahu?"

"Intuisi."

Tak lama setelah itu, terdengar suara deru mobil yang kencang, meski wujudnya belum terlihat. Sontak Sasori dan Hidan melihat ke lorong. Menanti sesuatu yang mereka duga, dan gotcha!

"Itu mereka!" seru Hidan.

"Sialan! Jantungku berdetak kencang menunggu mereka kembali seperti saat melakukan bungee jumping tahun lalu," tutur Hidan.

Semua langsung berdiri. Tak terkecuali Sakura. Melihat mobil melalui kaca jendela, Sakura segera berbalik dan lekas pergi yang disusul dengan lima orang lainnya.

Terlihat Shisui sempoyongan keluar mobil. Ia terlihat kacau. Rambutnya basah, lepek, dan berantakan. Wajahnya pucat pasi dengan keringat yang bercucuran. Bibir terlihat kaku, dan mata yang tampak ketakutan itu pun bergetar. Saat melihat Sakura, ia segera menghampirinya dan langsung memeluknya erat. Seolah tak ada hari esok dan Sakura pun balas memeluknya dengan erat juga.

"Ne, Ne-san. Nee-san aku ... mobil itu ... aku."

"Tenanglah, aku di sini."

Shisui makin erat memeluk Sakura. "Kau baik-baik saja. Tenanglah, Dear." Sakura mengusap rambut dan punggung Shisui. Menenangkannya.

Setelah Shisui tenang mereka melepas pelukan, Sakura menangkup wajah Shisui. Mata emerald itu nampak berkaca-kaca ketika menatap mata gelap Shisui yang masih memiliki sedikit binar ketakukan.

"Maaf."

"Maafkan aku, Shisui," ucap Sakura bersamaan dengan airmatanya yang jatuh. Ia memang sungguh-sungguh meminta maaf karena membuat Shisui harus mengalami hal seperti ini.

"Untuk apa meminta maaf, Nee-san? Kau tidak bersalah. Ini kecelakaan." Shisui menghapus airmata Sakura. "Jangan menyalahkan dirimu."

Shisui bingung, kenapa Sakura menyalahkan dirinya atas kejadian ini. Jika kakaknya berpikir ini terjadi karena ia yang mengajaknya kemari, maka itu salah. Karena bagi Shisui ini adalah kecelakaan.

Ia melihat jika Sakura baru saja selesai balapan kala ia mengampirinya, setelah dari kejauhan ia melihat Sasori memberikan kunci mobil pada Sakura. Maka tentu saja ia yakin, jika Sakura tak tahu bahwa ada masalah pada rem mobil itu. Jadi baginya, Sakura tak perlu menyalahkan dirinya sendiri.

Sakura sedikit menarik wajah Shisui, mengecup dahinya. 'ni bukan kecelakaan dan aku memang bersalah. Maaf Shisui, sungguh maafkan aku.'

"Apa kau terluka?" tanya Sakura panik.

Sakura memegang lengan Shisui, lalu memeriksa tubuhnya dengan pindaian matanya dan gerakan tangannya.

Shisui menghentikan tindakan Sakura. Meraih kedua tangannya, lalu memeluknya lagi. "Tidak ada luka. Bukankah tadi Nee-san bilang bahwa aku baik-baik saja?" Shisui memejamkan mata, menikmat dirinya memeluk kakak tersayangnya. Sakura terdiam. Kemudian perlahan balas memeluk adiknya dan memberikan tepukan kecil di punggung.

"Aku takut. Aku sunggu ketakutan, Nee-san. Namun saat melihatmu dan memelukmu, aku merasa lebih baik dan tenang. Ketakutanku cepat berkurang, dan bahkan sekarang sudah hilang. Kehadiranmu sungguh seperti obat penenang bagiku. Jadi yakinlah, bahwa aku baik-baik saja. Tidak ada luka sedikit pun," ucap Shisui pelan. Sakura yang mendengar itu setetes airmatanya jatuh. Tangannya mencengkram erat jaket Shisui. Merasa bersalah.

Sungguh ironi. Adiknya itu menganggapnya sebagai obat penenang, di saat dirinyalah dalang dibalik penyebab ketakutan. Ia memejamkan mata. Ketika membuka mata, emerald itu berhadapan dengan netra gelap Itachi yang menatapnya tajam.

"Ah, Nee-san." Pelukan terlepas. Shisui segera menoleh ke belakang.

"Nee-san, Itachi Uchiha yang menolongku."

"Ya, aku tahu."

"Ketika aku tahu remnya bermasalah, aku bergegas akan menyusulmu. Namun, dia melarangku, begitu juga dengan mereka berlima." Jempol Sakura terarah ke belakang, menunjuk Pain dan yang lainnya.

Kelima orang di belakangnya membulatkan mata. Menatap tak percaya pada Sakura. Itachi yang ada di belakang Shisui semakin menatap tajam Sakura, tetapi Sakura berpura-pura tidak melihatnya.

"Mereka berkata jika itu berbahaya. Itachi-nii bersikeras untuk menggantikanku. Kemampuan Itachi-nii dalam mengemudi juga bagus, dan saat itu dia tenang sedangkan aku panik. Kemungkinan buruk akan lebih besar jika aku yang melakukannya karena emosiku kacau. Jadi aku terpaksa menyetujuinya. Aku tahu, harusnya aku yang menyusulmu, bukan dia," jelas Sakura dengan nada menyesl dan bersalah.

Kelima orang itu melongo mendengar ucapan Sakura. Tidakkah itu semua terbalik? Bukan saat tahu remnya bermasalah, tetapi dirinyalah yang ingin rem itu bermasalah. Selain itu, Itachi adalah yang bergegas menyusul, bukan Sakura, dan bukankah saat itu Sakuralah yang dalam keadaan tenang dan Itachi adalah orang yang panik? Lagi pula, siapa yang melarangnya menyusul Shisui? Dia bahkan tak memiliki keinginan untuk menyusulnya!

'Oh, Kami-sama! Apa yang baru saja kudengar?'

'Kenapa kebohongannya terdengar meyakinkan?'

Kenapa dalam ucapan Sakura semua jadi terbalik dan anehnya, hal itu terdengar benar dan bisa dipercaya?!

"Mereka benar, Nee-san. Lagi pula, aku tidak akan senang jika kau terluka nantinya." Mendengar kalimat Shisui keenam orang itu langsung dalam keadaan suram.

Sakura tersenyum lalu mengacak pelan rambut Shisui yang sudah berantakan dan basah. "Kau lapar?" Shisui mengangguk.

"Ayo masuk, kau bisa memesan apa pun," ajak Sakura.

"Ah, Nee-san. Mobil biru tua itu kami tinggalkan di--"

"Tidak apa-apa. Mereka bisa memanggil petugas derek mobil untuk mengurusnya," potong Sakura.

"Nee-san, mobil itu milik siapa?"

"Milik kami bersama. Rupanya kemarin seseorang baru saja meminjam dan merusak remnya," jawab Sakura santai yang lagi-lagi membuat keenam orang di dekat mereka menatapnya tak percaya atas apa yang Sakura ucapkan. Kalimat tak tahu malu apa lagi ini?!

"Itu berbahaya jika remnya tidak segera diperbaiki."

"Kau suka mobil itu?"

"Eh?" Shisui langsung menoleh menatap Sakura.

"Kau bisa mengendarainya lagi saat remnya sudah di perbaiki nanti," tutur Sakura.

Perlahan langkah Sakura memelan. Bahkan kini Shisui yang awalnya sejajar dengannya sekarang berjalan bersanding dengan Konan dan sedang berbincang ringan. Di belakangnya ada Pain yang memiliki raut wajah masam.

"Apa permintaan maafmu tadi kebohongan juga, Sakura-chan?" tanya Sasori di sampingnya.

"Permintaan maafku dan penjelasanku tadi adalah dua hal yang berbeda," jawab Sakura ringan yang dapat di dengar mereka kecuali Konan, Shisui, dan Pain di depan.

Setelah selesai, dan merasa cukup untuk malam ini dan waktu yang terus berjalan. Sakura mengajak Shisui pulang. Di perjalanan, saat mereka ada di jalan raya yang sebelum memasuki jalan perumahan. Keduanya melihat beberapa polisi dan orang-orang berkerumun di dekat sebuah mobil sedan berwarna abu-abu yang terbalik.

Seorang polisi menghampiri mobil Sakura, lalu mengatakan jika ada kecelakaan tunggal. Polisi itu lalu membantu mengatur lalu lintas. Beruntung saat ini jalanan sepi, jadi tak sampai terjadi kemacetan.

Melewati TKP kecelakaan, Sakura menoleh ke samping dan melihat dengan jelas mobil sedan itu. Seketika, ia teringat saat berangkat tadi, dirinya sempat melihat sedan abu-abu itu melaju oleng, dan sekarang mobil itu kecelakaan. Sakura yakin, mobil sedan yang ia lihat saat berangkat dan sedan yang kini kecelakaan adalah mobil yang sama. Melirik Shisui, dan melihat jika Shisui terlihat tak mengenali mobil sedan itu seperti dirinya, ia tak mengatakan apa pun.

oOo

"Shisui-kun, kau terlihat mengantuk. Apa kau begadang tadi malam?" tanya Megumi saat melihat Shisui datang ke ruang makan.

"Kami pergi tidur setelah selesai bermain video game." Kiba menjawab Megumi mendahului Shisui. Shisui yang merasa diselamatkan hanya tersenyum dan merasa lega dalam hati. 'Untung saja.' Mana mungkin ia menceritakan apa yang terjadi semalam.

"Lain kali jangan terlalu larut. Lihat sekarang, kalian masih mengantuk saat akan sarapan," tegur Samui. Ia melihat Shisui, Karin, Shion, yang paling terlihat mengantuk. Terutama Shisui.

"Jika kalian seperti ini, bagaimana kalian akan bercocok tanam?" tanya Tayuya.

"Tenang saja, Kaa-san. Setelah sarapan kami pasti akan merasa segar," ucap Kiba.

Terlihat dari arah dapur Ayame, Hinata, dan Hanabi datang membawa makanan. Di belakangnya ada Hikari yang membawa nampan dengan di atasnya terdapat gelas berisi susu. Saat makanan sedang disajikan, dering telpon rumah berbunyi, dan Megumi pergi mengangkat panggilan.

Makanan selesai disajikan, menunggu sebentar hingga Megumi kembali ke ruang makan mereka berbincang ringan. Tak lama Megumi kembali. Namun, raut wajahnya tidak terlihat baik-baik saja.

"Megumi-nee, ada apa? Siapa yang menelfon?" tanya Ayame.

"Kepolisian," jawabnya.

"Danzou Shimura meninggal karena kecelakaan," lanjut Megumi yang membuat semua orang terkejut.

Tersadar dari rasa terkejutnya, Tayuya segera pergi ke ruang tengah lalu menyalakan televisi. Kemudian mencari saluran yang menayangkan berita. Di belakang, yang lain mengikutinya menatap televisi, hingga beberapa saat kemudian, sang pembawa acara berita menyiarkan sebuah kecelakaan dengan diikuti tampilan TKP dan kondisi kendaraan.

"Telah terjadi kecelakaan tunggal di Jalan Raya Konoha sekitar pukul 03.14 dini hari. Kecelakaan ini melibatkan sebuah mobil sedan berwarna abu-abu. Diduga mobil mengalami oleng dan menabrak trotoar dengan kencang hingga berakhir terbalik akibat pengemudi mengendarai dalam keadaan mabuk. Karena tercium bau alkohol yang kuat pada kedua korban."

"Mobil diketahui memiliki dua orang di dalamnya yang adalah seorang pria dan wanita, keduanya tewas dalam kejadian ini. Berdasarkan kartu identitas yang polisi temukan, mereka mengkonfirmasi bahwa si pria bernama Danzou Shimura dan wanita bernama Mumure Shiba."

"Saat ini kedua jenazah sudah dibawa ke rumah sakit, dan polisi sedang berusaha menghubungi keluarga mereka, guna meminta persetujuan untuk melakukan proses otopsi."

oOo

Di mansion Otsutsuki, tepatnya di ruang tengah. Hal yang sama terjadi. Mereka menonton berita yang sama. Saat menonton televisi bersama di hari libur, sama sekali tak menduga jika mereka akan mengetahui berita tentang kematian tragis orang yang mereka benci.

Hagomoro, Indra, Ashura melirik Sakura yang duduk di antara Momoshiki dan Toneri yang terdiam di sisinya. Mereka berlima menanti respon Sakura. Gadis itu sedang menatap televisi dengan raut wajah tanpa ekspresi, kelima pria di dekatnya bahkan tak tahu apa yang dia pikirkan.

Menundukkan pandangannya, Sakura berkata, "Apakah sekarang harga daging mahal? Aku ingin melakukan barbeque."

Mendengar ucapan Sakura, mereka merasa senang. Kekhawatiran sebelumnya telah sirna. Itu terlihat dari Hagomoro yang tersenyum puas, ia bahkan mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Di kedua sisinya, Ashura tersenyum lembut, ia senang berita ini tak mempengaruhi Sakura, sedangkan Indra, pria itu menyeringai puas tepat setelah Sakura berucap.

Respon yang sama terlihat pada Toneri. Pemuda itu ikut menyeringai puas, ia bahkan menepuk pelan puncak kepala Sakura beberapa kali. Di sisi lainnya, Momoshiki tenang, tetapi jika lebih diperhatikan, binar kepuasan tampak jelas di kedua matanya. Satu sudut bibirnya bahkan sedikit tertarik ke atas.

"Tidak mahal sama sekali," ujar Momoshiki santai.

"Murah, sangat murah," timpal Toneri, ia mengacak rambut Sakura.

"Pergi, cepat pergi beli daging sekarang. Belilah yang banyak, kita akan melakukan barbeque. Begitu juga dengan semua pelayan di rumah ini. Beritahu Midora untuk memimpin barbeque semua pelayan," tutur Hagomoro semangat.

Indra berdiri. "Saki, kau tunggulah bersama kakek di sini. Aku dan Indra akan menyiapkan peralatannya, dan kalian berdua--" Ia menatap Toneri dan Momoshiki. "Pergilah membeli daging kualitas terbaik." Keduanya mengangguk.

"Kita akan melakukannya di area terbuka lantai empat, dan pelayan akan melakukannya di halaman samping," lanjut Indra.

Hagomoro tersenyum senang. "Bagus, bagus. Sangat bagus. Kalau begitu tunggu apa lagi? Cepat lakukan."

oOo

Senin pagi di Konoha Gakuen, para murid ramai berbincang tentang kematian ayah Shimura bersaudara.

Setelah bel istirahat pertama berbunyi, pihak sekolah mengirim dua orang guru dan para murid anggota utama OSIS serta Ketua Klub ke kediaman Shimura sebagai perwakilan turut berduka pada keluarga Shimura. Dengan menaiki dua mobil milik sekolah, rombongan dari Konoha Gakue mendatangi rumah duka.

Saat pagi hari, Sakura datang ke rumah Shimura dan pengelihatannya disambut dengan dekorasi kematian yang sudah terlihat dari luar, berupa rangkaian bunga, papan nama, serta benda-benda lainnya.

Memasuki rumah, di dalam pun sudah disiapkan tempat untuk para tamu yang akan datang, dengan terdapat kursi-kursi yang berjejer rapih menghadap aula kecil tempat diletakkannya peti mati nanti. Suasana kematian terasa begitu kental di rumah ini.

Mengenakan pakaian serba hitam, keluarga Shimura duduk di barisan depan. Sakura pun segera datang mendekati mereka. Melihat Sakura datang, mereka menatapnya dengan tatapan yang rumit. Gadis itu lalu duduk dengan tenang.

"Nee-chan..." Sakura menoleh menatap Hanabi, memberinya anggukan kecil.

Menoleh ke deretan kursi para ibu di sampingnya yang dipisahkan oleh ruang untuk jalan yang beralas karpet merah, Sakura bertanya dengan nada tenang. "Belum datang?"

"Belum," jawab Tayuya lirih.

"Polisi memberitahu jika jenazah diperkirakan akan sampai saat pukul sembilan," sambung Samui. Usai proses otopsi kemarin, jenazah Danzou akan dipulangkan ke rumah duka hari ini dan akan dikebumikan siang hari nanti.

Sakura menatap jam tangannya. 'Satu jam lagi.' Berdiri, ia berkata. "Aku akan ke kamar."

Kelima ibu menatap sosok Sakura yang berjalan pergi dengan tatapan sedih. Bagi kelima ibu, Sakura kini kehilangan ayahnya setelah ia kehilangan ibunya, pasti itu sulit untuknya.

Hanabi berdiri. "Aku akan menyusul Nee-chan."

"Aku juga," sambung Hinata cepat. Keduanya hendak berjalan, tetapi sebuah kalimat menghentikan mereka.

"Jangan mengganggunya. Ini pasti sulit untuknya," larang Megumi.

"Tidak apa-apa, Kaa-san. Aku akan mengawasi twins pearl kalian," kata Shisui sembari menatap Megumi dengan senyum tipis.

Hanabi dan Hinata menatap Shisui, setelah melihat Shisui tersenyum, keduanya menatap Megumi. Dengan anggukan kecil Megumi, keduanya langsung pergi menyusul Sakura ke lantai dua, yang langsung diikuti oleh Shisui di belakangnya.

Pukul 09.13 mobil ambulan datang membawa jenazah Danzou. Mendengar sirine, kelima ibu beserta Karin, Kiba, dan Shion pergi ke pintu masuk. Menyambut para petugas.

Di kamar Sakura, keempat orang itu juga mendengar sirine. Pertanda jika jenazah ayah mereka telah datang. "Sudah datang," kata Hanabi.

"Turunlah," tutur Sakura seraya menyusap kepala Hinata dan Hanabi. Keduanya mengangguk lalu segera turun ke lantai bawah.

Kini tersisa Shisui dan Sakura di kamar. "Nee-san, apa yang kau rasakan?" Sakura meliriknya sekilas.

"Nee-san, apa kau merasa sangat sedih? Merasa buruk dan terpukul?" tanya Shisui, Sakura menatapnya.

"Kau sendiri? Apa kau sedih?" Shisui diam. Dahinya sedikit mengkerut. Ayahnta meninggal, tetapi ia tak merasa begitu sedih dan cenderung biasa saja. Apakah ada yang salah dengan dirinya?

"A-aku." Tak ia lanjutkan kalimatnya.

Shisui menatap Sakura ragu. "Nee-san, saat ini Tou-san meninggal, dan aku tidak merasa begitu sedih. Setelah kuperhatikan, kurasa adik-adik kita juga sama denganku. Nee-san, Apakah ada yang salah dengan kami?" sejak tahu Danzou meninggal, rumah terasa sunyi. Namun bukan karena kesedihan, tetapi perasaan aneh yang ia rasakan. Seperti perasaan bingung.

Ketika memperhatikan kelima adikknya, mereka tidak terlihat sedih seperti layaknya seorang anak yang kehilangan ayahnya. Kecuali kesedihan yang sedikit nampak dari beberapa ibu, mereka hanya menjalankan tugas sebagai orang yang terikat ikatan keluarga. Karena itulah mereka melakukan prosesi upacara kematian Danzou dengan baik.

"Tidak."

"Tidak ada yang salah dengan itu. Kalian normal dan kalian juga baik-baik saja," ujar Sakura.

"Benarkah?"

"Bukankah tak ada kenangan baik yang kau ingat dari ayahmu, selain membawakanmu mainan saat kau kecil?" Shisui diam.

"Kenangan buruk yang kau miliki lebih banyak. Kau juga memiliki sedikit waktu bersamanya. Selain kau tahu jika kalian memiliki ikatan ayah dan anak, kau tidak merasa memiliki ikatan emosi dengannya. Itulah kenapa, saat dia meninggal kau tak merasakan kesedihan yang mendalam untuknya."

"Begitu jugalah yang dirasakan adik-adikmu. Bahkan mereka berpisah dengan sosok ayah diusia yang lebih muda darimu dan dalam keadaan yang tidak baik. Jadi, ikatan ayah-anak apa yang kau harapkan mereka miliki? Selain ikatan darah, mereka dan termasuk dirimu. Kalian dan Danzou Shimura persis seperti orang asing." Shisui tertegun mendengarnya.

"Shisui, kau merasa sedih saat salah satu ibu harus pergi bekerja ketika hari libu, bukan? Apa kau ingat jika Hanabi dan Hinata sedih ketika Karin, Kiba, dan Shion masuk SMA, karena itu berarti mereka akan berpisah sekolah? Apa kau juga ingat saat adik-adikmu merasa sedih dan berakhir dengan seringnya mereka menghubungimu saat kau pergi beberapa hari untuk mengerjakan tugas kuliah?"

Sakura melanjutkan. "Kesedihan itu bahkan diakibatkan dari hal-hal kecil. Kalau kau tanya kenapa, jawabannya adalah karena adanya kedekatan dan ikatan emosi. Hal yang terlihat remeh akan berdampak besar ketika ada kedekatan dan ikatan emosi."

"Kau mungkin merasa sedih saat mendengar berita seseorang kehilangan neneknya, tetapi apakah kau merasakan kesedihan yang sama seperti cucunya? Jawabannya adalah tidak. Bahkan jika kau merasa sedih, itu adalah bentuk simpatimu terhadap si cucu atas duka yang ia rasakan. Karena kau tidak terlibat secara emosi dan tidak memiliki kedekatan ataupun merasa dekat dengan si nenek." Shisui termenung.

"Apa kau sekarang mengerti?" tanya Sakura. Shisui diam sesaat lalu mengangguk yang membuatnya tersenyum tipis. 'Tidak akan kubiarkan kau merasa buruk untuk Danzou Shimura.'

Sakura lalu berjalan ke arah jendela, menyibak gordennya. Ia melihat beberapa orang datang, sepertinya para tetangga. "Kau tidak turun?"

"Aku akan turun bersamamu saja, Nee-san." Sakura meliriknya sesaat, lalu mendengkus pelan.

Shisui berjalan mendekatinya. Ikut melihat keluar. Tak lama suara deru mobil terdengar. Terlihatlah dua mobil datang. Shisui melihatnya lalu berkata, "Bukankan itu mobil milik sekolah Konoha Gakuen?" gumaman pelan Sakura adalah tanggapan yang ia dapat.

Mata emerald Sakura memperhatikan mobil itu hingga berhenti, lalu bergiliran para murid sekolah keluar. Membuat Sakura semakin menajamkan penglihatannya, hingga ia melihat seorang pemuda berambut pirang berantakan, dan seorang gadis yang berambut panjang berwarna pirang pucat. Melihat keduanya, senyum terlihat di wajah Sakura.

"Pihak sekolah mengirim murid cukup banyak untuk perwakilan," komentar Shisui. Dengan beberapa orang membawa rangkaian bunga.

"Ino, kenapa kau diam saja? Ayo masuk," ujar Chouji. Shikamaru juga menatap Ino. Ia sudah memperhatikan jika sejak memasuki gerbang rumah ini, Ino terlihat seakan berusaha mengingat sesuatu. Seperti saat ini, gadis itu diam terpaku dan alis bertaut dengan mata yang menatap rumah keluarga Shimura. Ino sedikit tersentak mendengar suara Chouji, ia lalu mengangguk. Menyusul yang lainnya.

Dua orang guru Konoha Gakuen memimpin para muridnya untuk memasuki kediaman Shimura. Tiga wanita yang adalah karyawan restoran Hikari dan Ayame menyambut mereka dan menerima karangan bunga.

Saat memasuki rumah, Ino diam terpaku dengan mata yang menatap sekeliling. Lagi-lagi alisnya bertaut dan dahinya mengernyit. Bahkan kini wajahnya mulai terlihat pucat dengan bermunculnya bulir-bulir keringat.

Ino terhuyung dua langkah ke belakang, beruntung Shikamaru menopangnya dari belakang. "Ada apa denganmu? Apa kau sakit?" tanya Shikamaru.

"Tidak, aku baik-baik saja."

"Hanya saja --" Mata Ino menatap sekeliling rumah. "Aku merasa pernah datang ke sini." Dahi Shikamaru berkerut mendengarnya. Ia lalu memberikan sapu tangannya pada Ino untuk mengusap keringatnya.

Mereka berjalan ke arah kursi yang berjejer rapih. Salah satu dari ketiga wanita segera memberitahu Ayame jika perwakilan sekolah datang. Dengan segera Ayame mengajak Kiba dan Karin berdiri lalu berjalan ke arah mereka. Dua guru segera mengatakan kalimat duka diikuti para murid. Setelah itu Ayame, Kiba, dan Karin kembali ke kursinya masing-masing.

Dua guru dan para murid membagi menjadi dua bagian. Satu duduk di kursi bagian kiri yang barisan depan ditempati oleh kelima ibu, sedangkan yang lainnya duduk di bagian kanan dengan Shimura Bersaudara menempati barisan depan.

"Kenapa Nii-san belum turun?"

"Entahlah, mungkin sebentar lagi," kata Hinata menanggapi Hanabi.

Dari arah tangga, terlihat Shisui turun dengan tenang. Ia segera menuju barisan depan bagian kanan dan duduk bersama kelima adiknya. Di belakangnya, beberapa murid sekolah memperhatikannya.

"Bukankan pemuda itu yang kita lihat saat di pantai ketika liburan?" bisik Lee. Mereka mengiyakan.

"Pemuda itu dan Shimura bersaudara terlihat dekat," komentar Chouji.

"Mungkin dugaan Chouji benar, jika pemuda itu adalah kakak mereka," tutur Neji.

Siswa sekolah yang datang terbagi dua. Para gadis, Shikamaru, dan guru perempuan duduk di kursi bagian kanan dengan di barisan depan adalah Shimura bersaudara. Kemudian para lelaki dengan guru pria duduk di bagian kiri, dengan ibu anak-anak Shimura duduk di barisan depan.

"Shikamaru-kun, kau lihat lima wanita di depan sana?" tanya Shizuka pelan. Shikamaru meliriknya lalu menggumam.

"Coba lihat Shimura bersaudara," kata Shizuka. Shikamaru menuruti ucapannya.

"Mereka memiliki kesamaan. Apa itu yang kau maksud?" tanya Shikamaru. Shizuka mengangguk.

"Kurasa kita berpikir hal yang sama." Shizuka lalu menoleh pada Sai di kursi bagian kiri. "Itu berarti yang dikatakan Sai saat itu benar," lanjutnya.

"Hei, apa yang kalian berdua bicarakan? Kenapa bisik-bisik?" tanya Ino dengan. Shikamaru duduk di antara Shizuka dan Ino. Belum sempat menjawab, suara pembawa acara terdengar. Berkata bahwa sepuluh menit lagi pembacaan doa akan dilakukan.

Seakan lupa atas apa yang baru saja ia tanyakan, Ino berkata jika ia ingin ke toliet. Mengingat apa yang terjadi pada Ino sejak datang ke sini, Shikamaru ingin menemaninya. Ino menolak, tetapi ia berkata jika dirinya juga ingin ke toilet.

Di barisan depan, anak-anak Shimura heran. "Apa Nee-chan, tidak akan turun?" dahi Hanabi mengernyit.

"Haruskan kupanggil?" Kiba menatap Shisui.

"Tidak perlu," kata Shisui. Setelah berkata begitu, ponselnya berbunyi pelan. Nada khas jika ada pesan masuk terdengar. Membuka pesan, ia tersenyum kecil. Hanabi yang melihatnya bertanya.

"Ada apa, Nii-chan? Kenapa kau tersenyum?"

Kembali memasukan ponselnya ke saku, ia menjawab, "Nee-san sudah turun sejak tadi. Dia duduk di kursi belakang."

Kelima adiknya terkejut dan hendak langsung menoleh ke belakang. Namun, ucapan cepat Shisui menghentikan mereka. "Ingat, para murid yang satu sekolah dengan kalian duduk di belakang."

Di kursi belakang, Sakura tersenyum tipis. Ia memang sudah datang sejak tadi, tak lama setelah Shisui. Melihat dua orang berambut pirang yang ia lihat lewat jendela, ia memilih duduk di belakang. Ketika tahu adik-adiknya nampak gelisah yang terlihat dari gerak tubuhnya, Sakura mengirim pesan pada Shisui.

Saat ia melihat Ino dan Shikamaru berdiri hendak pergi, Sakura menatapnya. Ingin Ino juga melihatnya. 'Sudah cukup lama aku menunggu dan belum ada kemajuan. Sepertinya aku memang harus membantumu untuk mengingatku, Ino-pig.'

Ino berdiri lalu berjalan ke belakang, warna rambut merah muda seseorang mencuri perhatiannya, ia melihat orang itu dan seketika tubuhnya terasa kaku. Muncul keringat di wajahnya yang kini pucat. Badannya bergetar dengan mata yang melebar. Setelah itu ia kehilangan keseimbangan dan juga kesadaran. Ino pingsan. Beruntung, Shikamaru sigap menopangnya.

Chapter 22 selesai.

-oOo-

Sampai jumpa di chapter berikutnya.