Chapter sebelumnya...

"Selamat tinggal--" Sakura berbalik lalu memakai kacamata hitam yang terselip di kerah kaus hitamnya. "--Danzou Shimura." Dengan itu Sakura melangkah pergi.

Chapter 24. Who are You

"Apakah gadis Yamakana itu sudah kembali?"

"Iya, sudah. Dua temannya menemani dia istirahat di kamarmu, lalu saat kita semua kembali dari pemakaman, aku, Nara, dan Akimichi membawanya ke rumah sakit mengunakan mobilmu, Nee-san. Karena itulah aku sedikit lama mengembalikan mobil ini," jelas Shisui. Saat ini Shisui ada di butik tepatnya di ruang pemotretan, dia datang mengendarai mobil Sakura.

"Mereka sudah kembali ke rumah masing-masing?" Shisui menggeleng. "Tidak. Mereka menolak saat aku menawarkan untuk menunggu dan mengantar pulang, lalu berkata jika mereka akan meminta jemput keluarganya," jawab Shisui.

Sakura berdiri. "Ayo, kuantar kau pulang. Aku juga harus kembali ke mansion." Shisui mengangguk.

Sakura menatap Konan lalu mengulurkan sebuah kunci mobil. "Origami, titip kunci mobil Itachi-nii."

Hari selanjutnya Sakura pulang dari coass dengan kursi mobil yang penuh dengan buket dan rangkaian bunga khas kematian. Tanda berduka dari rekan sesama mahasiswanya dan anggota timnya atas meninggalnya sang ayah.

Keesoknya harinya sekitar pukul sembilan malam Sakura mendapat telepon dari Konan.

"Moshi-moshi, Sakura-chan."

"Ada apa?"

"Tidak ada. Hanya ingin memberitahumu saja jika saat ini aku sedang dalam perjalanan ke suatu tempat bersama Pain, dan tepat di depan kami ada Tayuya."

"Kalau kau ingin tahu darimana aku tahu itu Tayuya, maka kukatakan bahwa kami berdua melihatnya di supermarket lalu mengikutinya. Tak kusangka kami kebetulan melalui jalan yang sama."

"Dari arah jalan yang dia lalui, maka aku bisa dengan yakin mengatakan jika dia menuju-"Konan memberi jeda lalu melanjutkan. "-jembatan itu."

Sakura yang sedang membaca buku terdiam setelah percakapannya dengan Konan selesai. Tak lama, suara pintu diketuk. Masuklah sang kakak keduanya, Toneri.

Toneri mendekati Sakura yang sedang duduk di kursi belajarnya sedang memegang sebuah buku.

"Terima kasih," ujar Toneri sambil melempar kunci mobil yang ditangkap dengan mudah oleh Sakura.

"Ada banyak buket bunga di mobilmu, darimana kau mendapatkannya?" tanya Toneri yang menatap Sakura curiga sembari berjalan mendekat lalu meletakkan plastik ke meja belajar Sakura.

"Dari teman kampusku dan anggota tim coass atas meninggalnya ..."

Sakura tak melanjutkan kalimatnya, ia yakin Toneri tahu apa kelanjutan ucapannya. Itu terlihat dari ekspresi wajahnya yang berubah dingin dan sorot matanya terlihat seolah mencemooh.

"Segera buang," ucapnya dengan nada jijik.

"Apa mobil Nii-san sudah selesai diperiksa?"

"Sudah. Mereka menghubungiku setengan jam yang lalu dan mobilku akan diantar ke sini besok pagi."

Usai Toneri pergi, Sakura membuka plastik berlogo supermarket yang tadi dibawa Toneri. Ternyata plastik itu berisi beberapa makanan ringan dan susu kotak. Sakura mengambil sekotak susu lalu meminumnya, sambil melihat-lihat makanan ringan. Namun kemudian ia teringat ucapan Konan beberapa saat yang lalu. Bahwa awalnya dia dan Pain melihat Tayuya di supermarket, mengikutinya, lalu kebetulan mengarah ke jalan yang sama.

Sakura lantas berdiri. Meletakkan kotak susu ke meja, memakai sepatu, mengambil jaket lalu menyambar kunci mobil dan kotak susu di meja belajar. Kemudian kembali meminum susu sembari keluar dari kamar.

"Kau mau kemana, Saki?" tanya Toneri yang sedang berjalan ke sofa dari arah dapur dengan tangan yang memegang sebuah mug.

"Supermarket dan membuang buket."

"Hati-hati." Sakura mengangguk lalu pergi, tanpa menyadari dibelakangnya Toneri terus menatapnya.

Setelah sosok Sakura tak terlihat, Toneri mengeluarkan ponselnya dari saku. Ia menekan beberapa kali lalu menatap baik-baik ponselnya. Di layar ponselnya terlihat titik berwarna hijau yang bergerak menjauh.

Kembali menyimpan ponselnya dan dengan mata yang seakan tersenyum, ia dengan santai menyesap kopi dari mug di tangannya lalu berkata dengan lirih. "Aku sangat mempercayaimu, tetapi tinggahmu malam itu memaksaku untuk memasang alat pelacak pada mobilmu, Imouto-chan."

oOo

Di bawah jembatan tepatnya di tepi sungai yang memiliki arus sedang, seorang wanita berambut merah panjang berdiri dengan sorot mata sedih.

Sebuah seruling tergenggam erat di tangannya. Menghela napas panjang, wanita itu duduk di rerumputan. Ia lalu memainkan seruling itu, membawakan lagu yang terdengar seperti memiliki berbagai emosi. Sedih, ceria, menyeramkan, dan tenang secara bergantian terdengar dari alunan seruling yang ia mainkan.

"Alunan nada yang unik."

Wanita berambut merah terkejut dan seketika berhenti memainkam seruling. Ia lalu menoleh ke belakang. Melihat orang yang baru saja berbicara.

"Sa-Sakura-chan?"

"Mengungkapkan perasaan menggunakan media seruling. Itu memang cocok untukmu, Tayuya-san," ujar Sakura.

"Kenapa kau ada di sini, Sakura-chan?" tanya Tayuya heran.

"Membuang sampah," jawab Sakura tenang. Ia lalu menunduk, menatap kantong plastik transparan berisi karangan dan buket bunga khas kematian.

Tayuya mengernyitkan dahi. Ia bingung, kenapa Sakura harus datang ke sini untuk membuang sampah. Bukankah tempat ini terlalu jauh?

Mata Tayuya mengikuti Sakura yang berjalan menuju tempat sampah tak jauh dari mereka. Usai memasukan dua plastik ke tong sampah, Sakura berjalan mendekati Tayuya.

"Bagaimana denganmu? Kenapa kau ada di sini?"

Terdiam sesaat, Tayuya menjawab, "Tidak ada. Hanya ingin memainkan seruling dan kurasa ini tempat yang cocok."

"Benarkah?"

"Ya." Setelah mendengar jawaban Tayuya, Sakura satu sudut bibirnya terangkat.

"Kau menggunakan seruling sebagai media menyalurkan perasaan, dan kini kau menemukan tempat yang cocok untuk memainkannya--" Sakura lalu berjalan menuju tangga yang mengarah ke atas jembatan sembari melanjutkan kalimatnya dengan tenang. "--Tentu agar kau bisa mengungkapkan berbagai perasaan dalam dirimu, dengan perasaan menyesal yang mendominasi, bukan?"

Sakura menaiki tangga menuju ke atas jembatan, meninggalkan Tayuya yang mematung terkejut dengan seruling yang terlepas dari genggamannya.

oOo

Di sebuah kamar di lantai dua kediaman Nara, putera tunggal Shikaku dan Yoshino yakni Shikamaru Nara, sedang duduk bersandar di bingkai jendela dengan satu kaki yang tertekuk setinggi dada. Satu tangannya memegang sebuah korek api yang ia hidupkan lalu matikan berulang kali.

Dalam benaknya berputar adegan di mana ayahnya datang ke kediaman Shimura dan terlihat akrab dengan seorang gadis berambut merah muda, yang ternyata adalah kakak dari Shimura Bersaudara. Ia juga teringat pada seorang pemuda berambut dan bermata hitam dengan kulit pucat, serta memiliki wajah yang sedikit mirip dengan Sasuke. Pemuda itu juga ternyata kakak dari Shimura Bersaudara.

Pemuda Nara itu juga teringat pada saat di pemakaman, anak-anak Shimura memanggil kelima wanita yang ia dan Shizuka perhatikan ketika di rumah, sebagai ibu. Memikirkan Shimura bersaudara dan juga keluarganya, ia bergumam pelan. "Jika aku tidak salah, maka keluarga itu memiliki..." alisnya bertaut sebelum beberapa saat kemudian ia melanjutkan.

"Tujuh orang anak dan lima orang ibu."

Shilamaru menggenggam korek itu, lalu memejamkan matanya dengan kepala yang ia sandarkan di bingkai jendela di belakangnya.

"Aku turut berduka, Sakura-chan. Tak kusangka kita bertemu lagi dalam keadaan seperti ini."

"Kau bisa menganggapku sebagai pamanmu, Sakura-chan. Datanglah padaku jika kau membutuhkan sesuatu."

"Kau mengerti?"

"Ingatlah juga untuk menjaga kesehatanmu."

"Bisakah aku membeli senyummu dengan satu bungkus permen kapas?"

Dahi Shikamaru mengernyit saat ucapan-ucapan ayahnya di kediaman Shimura terhadap gadis berambut merah muda berputar di benaknya, dan membuat dirinya seketika membuka mata.

Jika diperhatikan dari sikap ayahnya dan juga kalimatnya, maka bisa ia simpulkan jika sang ayah sudah mengenal keluarga Shimura sejak lama.

"Sejak kapan Tou-san mengenal keluarga Shimura?" Shikamaru bertanya-tanya sendiri.

Beberapa saat duduk termenung, ia merasa haus. Membuatnya menoleh melihat meja nakas. Melihat ada teko kaca dan gelas di sana, ia berjalan mendekat. Namun sayang, karena ternyata teko itu hanya berisi sedikit air. Pemuda itu lalu memutuskan membawa teko ke lantai bawah, hendak mengisinya.

Teko kaca Shikamaru kini sudah terisi air minum. Saat berjalan kembali menuju kamarnya, tak sengaja ia melihat pintu ruang kerja ayahnya sedikit terbuka. Dirinya lalu iseng melihat ke dalam. Di dalam ruangan itu, terlihat ayahnya sedang membaca sebuah dokumen.

Tak ingin mengganggu, ia hendak menutup rapat pintu kerja sang ayah. Namun, saat menutup pintu ia melihat sebuah korek api yang masih tergenggam di tangannya, sedangkan tangan lainnya membawa teko. Ia bahkan tidak sadar jika dirinya membawa korek api itu. Ketika mengisi teko, barulah ia menyadarinya. Dirinya berjalan kembali dengan korek api dan teko di masing-masing tangannya.

Melihat korek api itu, kejadian saat sang ayah di kediaman Shimura kembali berputar. Rasa penasaran atas apa yang ayahnya tahu perihal keluarga Shimura membuatnya memiliki keinginan untuk bertanya pada ayahnya.

Ia sudah hendak bertanya sejak pulang sekolah di hari pemakaman, tetapi ia masih ragu untuk bertanya. Ditambah sang ayah juga tak pernah membahasnya. Membuat ia semakin ragu untuk bertanya.

Mata sipit itu beralih menatap ke dalam ruangan. Ia melihat sang ayah meraih sebuah pena lalu menulis sebentar, dari cepatnya menulis sepertinya ia hanya menandatangani dokumen itu. Kemudian ayahnya menutup dokumen dan menyimpannya ke laci meja.

Tok ... tok ... tok ...

Mendengar ketukan di pintunya, Shikaku mendongak lalu melihat siapa yang datang. Ia melihat puteranya berdiri di ambang pintu sembari membawa sebuah teko.

"Shikamaru?"

"Boleh aku masuk?" Genggaman Shikamaru pada korek di tangannya menguat meski raut wajahnya tetap seperti biasanya, tampak malas.

"Ya, masuklah," balas Shikaku santai. "Ada apa? Apa ada masalah?"

"Tidak ada." Mendengar itu Shikaku heran. Tidak biasanya puteranya datang ke ruang kerjanya, jadi ia pikir ada sesuatu yang terjadi, tetapi ternyata tidak.

"Lalu?"

"Dua hari lalu, kita bertemu di kediaman--" Shikamaru menjeda kalimatnya, terlihat ragu. Namun ia memutuskan untuk melanjutkan. "--Shimura."

Shikaku terdiam sesaat lalu tersenyum tipis dan berkata, "Ah, ya. Kau dan teman-teman dan gurumu datang ke sana saat itu." Shikaku hendak membuka laci kedua, ingin mengambil sesuatu dari sana.

"Tou-san, melihat sikapmu saat itu dan juga ucapanmu pada gadis berambut merah muda. Aku ingin bertanya, apa Tou-san mengenal mereka?"

Tangan Shikaku diam di udara. Laci sudah terbuka, ia hanya harus mengambil sebuah dokumen berwarna biru tetapi pertanyaan itu membuatnya terhenti.

Setelah itu ia lanjut mengambil dokumen di laci yang sudah terbuka seraya menjawab, "Iya."

"Kau ingat ketika makan malam kita bersama keluarga Yamanaka dan Akimichi sebagai perayaan kelahiran beberapa rusa keluarga Nara?" Shikamaru mengangguk.

"Apa kau ingat, saat itu juga kita membahas tentang liburan kalian bertiga?" Pemuda itu mengangguk lagi.

"Jadi, apa kau masih ingat villa milik siapa yang akan kalian sewa?" Untuk ketiga kalinya Shikamaru mengangguk. Melihat itu Shikaku tersenyum yang membuat Shikamaru heran.

"Tou-san, apa hubungan hal ini dengan yang kutanyakan?"

"Tentu ada. Sekarang jawab, bagaimana respon Tou-san saat itu ketika tahu vila mana yang akan kalian sewa?"

Shikamaru terlihat mengingat, sesaat kemudian ia menjawab, "Tou-san terlihat sedikit terkejut, lalu berkata jika Tou-san teringat seorang teman."

"Teman yang Tou-san maksud adalah adalah seorang wanita yang Tou-san kagumi, yaitu Hamura Otsustuki. Dia adalah ibu dari gadis berambut merah muda itu."

Raut wajah Shikaku terlihat sendu ketika ia melanjutkan, "Sayangnya, teman Tou-san itu sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu, ketika Sakura berusia sembilan tahun. Gadis itu dua tahun lebih tua darimu, Shikamaru."

Di rumah tepat di samping rumah kediaman Nara, seorang lelaki dewasa memasuki kamar yang bernuansa ungu.

"Sayang, saatnya minum obat."

Gadis berambut pirang panjang menoleh ke arah pintu. Ia melihat ayahnya membawa sebuah nampan dengan di atasnya terdapat gelas berisi air dan juga piring kecil berisi beberapa butir obat.

"Tou-chan, aku punya obat di tas. Tidak perlu repot-repot membawakan obat untukku," ujar Ino.

Inoichi tersenyum. Berjalan mendekati puterinya, lalu meletakkan nampan di meja belajar. Ia lalu mengelus pelan kepala Ino. "Tou-chan tahu itu, tetapi tidak ada salahnya melakukan ini. Lagi pula tak setiap hari Tou-chan melakukannya."

Inoichi lalu memberika gelas pada ini dan juga menyodorkan piring kecil berisi obat. Ino dengan patuh meminum semua obat itu.

Setelah Ino meminum obat, keduanya berbincang hangat. Kemudian sebelum pergi, Inoichi berpesan jika Ino jangan terlalu larut belajar dan segera beristirahat.

Kini Ino sedang membereskan bukunya, mata aquamarine itu tak sengaja melihat sebuah kotak kecil berwarna hitam di ruang kecil meja belajarnya, berjejer dengan buku yang ia susun. Dahinya sedikit mengernyit kala melihat itu, tetapi ketika ingat jika itu pemberian seorang wanita eksentrik akibat tingkah memalukannya, ia menggeleng lalu terkekeh pelan.

Ketika mengingat wanita itu, ia teringat warna rambutnya yang berwarna merah muda. Seketika gerakannya terhenti. Kala otaknya mengingat warna rambut seorang gadis yang ia lihat di kediaman Shimura.

"Akh!" seru Ino sembari memegang sisi kepalanya.

"Akh! Sakit sekali!"

Wajah gadis itu terus tebayang di benaknya. Warna rambut, garis wajah, ekspresi, dan juga tatapannya, terus terlintas di kepalanya. Membuat ia tak mengerti apa yang terjadi.

Dengan gigi yang terkatup menahan sakit di kepalanya, ia berkata dengan suara yang ditekan. "Si-siapa dirimu sebenarnya. Kau membuat kepalaku sakit, sialan!"

oOo

Beberapa hari telah terlewati. Kini tibalah hari Sabtu. Hari di mana setiap mahasiswa coass melakukan ujian lalu menyerahkan berkas tim selama dua minggu ini ke Direktur Rumah Sakit.

Karena pada hari senin, para mahasiswa itu akan dipindahkan ke bagian yang lainnya. Dengan kata lain, mereka akan di-rolling. Ujian sudah dilakukam sejak pagi lalu istirahat sebentar kemudian dilanjut lagi hingga selesai tepat ketika jam makan siang, seperti saat ini.

Sekarang Sakura ada di kafetaria rumah sakit menikmati makan siangnya. Seperti biasanya, ia sendirian.

Ketika sedang asik makan, seseorang datang dan langsung duduk di kursi yang berhadapan dengannya. Membuat Sakura seketika mendongak. Melihat orang itu, ia menatapnya tajam lalu mendengkus kemudian mengabaikannya.

Melihat Sakura mengabaikannya, pemuda itu terkekeh. "Kau mengabaikanku, Sakura-chan." Ia menatap konter kantin lalu menganggat tangannya, dan seorang gadis segera datang menghampirinya.

Menelan makanan di mulutnya lalu meminum air, Sakura berkata dengan ketus. "Pergi! cepat pergi dari sini." Tangan Sakura menunjuk pintu keluar.

Pemuda itu terkekeh, "Sayangnya tidak bisa. Aku sudah memanggil pelayan, dia sudah datang." Sakura mengikuti arah pandangnya dan mihat seorang gadis pelayan datang. Ia hanya bisa mendengkus kesal.

Setelah gadis pelayan pergi, Sakura berkata, "Apa kau tidak bisa tidak datang mengampiriku saat aku sedang ada di sini, Uchiha?" Ini kali kedua ia ke kafetaria, dan Uchiha muda ini juga datang menghampirinya seperti sebelumnya.

"Ini adalah tempat umum, Sakura-chan. Aku bisa duduk di mana pun."

"Tempat duduk kosong selain di meja ini juga masih ada, kalau kau tidak buta." Setelah berkata begitu, Sakura mengabaikannya dan memilih untuk melanjutkan menyantap makan siangnya.

Tak lama pesanan datang. Keduanya makan dengan damai, atau lebih tepatnya Sakura berusaha tenang, setelah ia merasa cukup terganggu dengan kedatangan Uchiha muda ini dikala ia ingin menikmati makan siang seorang diri.

Setelah beberapa saat, Sakura selesai lebih dulu. Ketika ia meraih berkas di samping mangkuk makannya yang kosong dan hendak pergi, pemuda itu bertanya.

"Apa itu?"

"Dokumen laporan. Aku yang bertugas memberikan ini pada Direktur Rumah Sakit." Sakura hendak berdiri namun dihentikan.

"Tetap di tempatmu."

"Ada apa, Itachi-nii?"

Itachi meletakkan sumpit, minum, lalu menyeka mulutnya, kemudian menjawab, "Menunjukkan sesuatu padamu." Ia lalu meraih sebuah dokumen berwarna biru tua yang sebelumnya ia letakkan di sana.

Pemuda yang juga seorang dokter mata itu mengulurkan dokumen itu pada Sakura. "Apa itu?"

"Lihatlah," ucap Itachi.

Sakura menerimanya lalu membukanya. Kemudian ia terlihat terkejut. "Ini--"

"Ya, itu tugas Shisui," potong Itachi.

Ia melanjutkan, "Aku berhasil membantunya menyelesaikan tugas kuliah. Syarat kedua berhasil kuselesaikan tepat waktu, jadi kini aku sudah mempunyai hak atas Shisui sebagai kakaknya."

Di kursi taman rumah sakit, Sakura sedang duduk termenung. Mengingat kejadian di kafetaria sebelumnya, membuatnya berpikir jika kini Itachi pasti akan lebih intens mendekati Shisui, dan perlahan adik lelakinya itu akan tahu yang sebenarnya, hal itu membuatnya sedih dan khawatir.

Dirinya merasa sedih karena kini Shisui bukan hanya adiknya seorang, dan khawatir jika saat tahu semuanya, Shisui tak bisa menerimanya. Kenangannya bersama Shisui dan adik-adiknya berputar di benaknya.

Sakura mengusap wajahnya seraya menghela napas panjang. Memikirkan hal ini saja membuatnya merasa lelah. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, tanda ada panggilam masuk.

Mengambil ponselnya dari saku dan membaca nama yang tertera, ia mengangkatnya dan segera saja telinganya disambut suara Residen Senior dalam timnya.

"Moshi-moshi, Sakura-chan. Apa kau sudah mengantar dokumen itu?"

Sakura melirik dokumen berwarna putih di sampingnya. "Belum, sebentar lagi."

"Ah, begitu."

"Apa ada sesuatu, Ameno-san?"

"Tidak ada yang darurat, kalau itu yang kau pikirkan." Terdengar suara kekekah dari seberang ponsel.

"Hanya ingin mengundangmu datang untuk ikut makan-makan dan sedikit minum malam ini bersama tim kita dan temanku lainnya, yang juga anggota tim teman kuliahmu. Apa kau mau ikut?"

Terlihat berpikir sesaat, Sakura menjawab dengan sopan. "Undangan yang menarik, Ameno-san. Namun kurasa aku tidak bisa datang, maafkan aku."

"Ah begitu, baiklah tidak apa-apa. Aku mengerti."

Sakura menunggu pihak lain mematikan sambungan, karena akan tidak sopan jika ia yang mematikan setelah dirinya menolak undangan. Terlebih Ameno adalah Residen Senior di timnya.

Setelah beberapa saat, suara Ameno terdengar. "Jangan terus terlarut dalam kesedihan, Sakura-chan. Rasa kehilangan memang berat, dan aku tak pandai menghibur orang. Akan tetapi, kuharap kau terus maju menjalani hidupmu. Sampai jumpa lagi." Tut! Panggilan terputus.

Sakura terbengong. Entah ia harus menangis atau tertawa. Ameno mengira dirinya masih terlarut dalam kesedihan atas meninggalnya Danzou. Terlarut dalam kesedihan?Astaga, yang benar saja. Ia bahkan tak menangis ketika tahu lelaki itu meninggal!

Namun biarlah jika Ameno maupun yang lainnya berpikir begitu, itu memudahkannya mengindari hal-hal seperti ini. Jika dipikir-pikir, akhir-akhir ini anggota timnya memang lebih perhatian dan bertingkah lembut padanya dibanding sbelumnya. Baginya ini hal yang lucu.

Kesalahpahaman Ameno dan ucapannya barusan membuat suasana hatinya sedikit membaik. Sakura berdiri, merapikan pakaiannya lalu pergi menuju ruangan Direktur yang sekaligus pemilik rumah sakit ini. Dengan kata lain, orang yang akan ia temui adalah nenek dari pemuda yang ia cintai, Tsunade Senju.

Kini Sakura sudah ada di lantai teratas, sedang menapaki lantai menuju ruangan dengan pintu bercat putih bersih. Saat sudah ada di depan pintu dan hendak mengetuk, ia mendengar sebuah suara.

"Astaga, kenapa kau ceroboh sekali, Jiraiya?"

"Maaf saja tidak cukup, kau harus mencari beberapa gadis lain lagi. Kali ini pastikan kau sudah memeriksa gadis-gadis itu secara menyeluruh."

Di luar ruangan Sakura diam tak bergerak. Mendengarkan dengan seksama ucapan dari dalam ruangan yang terdengar jelas. Ia ragu untuk masuk. Khawatir akan mengganggu percakapan. Namun kalimat yang ia dengar setelahnya, membuat dirinya tersentak dan mata Sakura membulat terkejut.

"Apa kau mau Naruto menikahi gadis sembarangan? Ha?!"

'Me-menikah?'

"Kalau begitu cepat carikan gadis yang cocok untuknya. Setelah kau mendapat gadis yang cocok, aku akan menjadi penguji terakhir. Kau payah, akan kacau jika kau yang menjadi penentu terakhir."

"Kau bisa gunakam koneksimu untuk mencari gadis yang cocok. Dia sudah ada di tahun terakhir, aku khawatir tentang dunia kuliahnya. Aku takut dia menjadi liar, karena kau juga tahu jika pergaulan dunia perkuliahan berbeda dengan sekolah, bukan?"

"Dia polos dan sedikit bodoh, kau tahu itu. Aku takut sedikit racun dari dunia perkuliahan membuatnya menjadi liar, Jiraiya."

"Jika dia menjadi nakal, kita bisa mengontrol dan menahannya melalui gadis itu. Ikatan tunangan itu juga akan membuatnya menahan diri jika akan membuat ulah karena ia akan bertanggung jawab atas gadis itu."

"Petunangan, perjodohan, dan pernikahan karena keluarga dikalangan orang-orang seperti kita sudah biasa, Jiraiya, kau tahu itu."

"Benar. Kita sudah membicarakan ini dan kau, juga Minato dan Kushina setuju, bukan? Bahwa setelah kelulusan sekolahnya kita akan menunangkan Naruto dengan seorang gadis, lalu jika cocok kita akan menikahkannya setel--"

Brakk! "Tidak!"

-oOo-

A/N : Terima kasih sudah baca sampai sini :)

Mdani0838 : Semangat mengerjakan urusan di RL-nya ya! :) terima kasih sudah review

Just Noober-chan : Memang begitulah alurnya, harap bersabar wkwkwk. Entah berapa chapter, belum ada gambaran soalnya. Sebenernya fic ini dipublish juga di wp. Kalaupun di up di platform lain, di sini tetap dilanjut (kalau fisik, ide waktu mendukung) meski slow up. Terima kasih sudah baca dan review fic ini ya :)