CHAPTER 26
SECRET PROMISE
.
.
.
Hari sudah begitu larut ketika mobil yang dibawa Taehyung terlihat dalam jangkauan Dongho. Satpam itu menghela nafas lega karena jujur sedari tadi ia was-was mengingat putri tuannya belum pulang ke rumah padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih. Untunglah Namjoon belum pulang dari kantor sehingga ia tidak perlu menerima amukan dari majikannya itu. Sementara Seokjin? Dari yang Dongho dengar dari para pelayan nyonya besar itu sedang dijadikan tahanan rumah sehingga mustahil memegang gawai untuk sekedar mencari putrinya.
Namun rasa lega yang dirasakan Dongho tidak bertahan lama. Begitu mobil terparkir yang keluar darisana hanya Taehyung seorang. Ia tidak mungkin salah ingat. Jelas-jelas tadi dirinya membuka pintu saat Taehyung dan Jungkook meninggalkan rumah. Lalu kemana nona muda? Jika sudah pulang duluan batang hidungnya bahkan tidak terlihat.
"Hei Taehyung!
Satpam itu berlari dari pos satpam ke arah Taehyung berada. Tidak taukah anak muda itu jika Dongho sudah mulai tua sehingga berlari seluas halaman mansion Kim sama saja seperti mengelilingi stadium sepakbola.
"Ada apa paman? Kenapa berlari?" tentu saja Taehyung bertanya dengan nada khawatir melihat nafas satpam itu sedikit tersengal
"Dimana nona muda? Kenapa pulang sendiri?"
Taehyung menyadari jika Dongho mencium keanehan tentang dirinya yang pulang seorang diri. Wajah khawatirnya langsung berubah datar serta memandang tajam pada Dongho. Kini justru Dongho yang takut sendiri di tatap Taehyung seperti itu. Sebelumnya tidak pernah anak itu berani menatapnya tajam. Bahkan Dongho ingat betul Taehyung sangat takut padanya ketika pertama kali menginjakkan kaki di mansion Kim.
"Paman tidak perlu tau"
Setelahnya Taehyung berlalu. Siapa yang tidak melongo dijawab seperti itu. Kini si satpam hanya bisa mengusak rambutnya resah. Disaat seperti ini haruskah ia menelfon Tuan Namjoon saja? Cukup lama Dongho berfikir hingga akhirnya ia mantab membuat keputusan. Dikeluarkannya ponsel jadul yang selalu tersimpan di kantong celananya. Butuh waktu beberapa detik hingga panggilan yang ia tuju dijawab.
"H-halo tuan. S-saya hanya ingin mengabarkan kalau nona muda-"
"Ada apa dengan Jungkook"
"N-nona muda tadi keluar bersama Taehyung. T-tapi entah kenapa Taehyung pulang seorang diri"
PIPP
Panggilan itu terputus sepihak padahal Dongho sudah memejamkan mata takut kalau sewaktu-waktu dimaki oleh tuannya.
.
.
~ BLIND ~
.
.
Taehyung mengemasi barangnya asal ke dalam tas jinjing yang dibawanya saat pertama kali datang ke mansion Kim dahulu. Untung saja barangnya tidak terlalu banyak sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk membersihkan seisi kamar.
Sebelum benar-benar pergi pemuda itu menatap sekeliling kamar. Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan yang belum genap ditempatinya bahkan satu tahun. Cukup berat meninggalkan tempat ini, mansion Kim, tempat dimana harusnya ia berada. Tempat dimana hatinya sudah tertinggal baik itu untuk dirinya sendiri ataupun orang yang dicintai. Tapi Taehyung harus pergi karena ia sudah memilih.
Ngomong-ngomong soal Jungkook, sangat mustahil Taehyung tidak kepikiran soal gadis yang ditinggalkannya di alun-alun kota. Sedari tadi hati kecilnya khawatir takut terjadi sesuatu pada Jungkook. Bagaimana jika Jungkook tidak bisa pulang? Bagaimana jika ada orang jahat yang menculiknya? Bagaimana jika pada akhirnya moment ia dan Jungkook di alun-alun tadi merupakan terakhir kalinya Taehyung melihat rupa gadis itu?
'Dia sudah besar. Jungkook pasti meminta tolong orang lain untuk mengantarnya pulang' batinnya menepis segala kemungkinan
Tidak ada maksud khusus atas perbuatan Taehyung yang meninggalkan Jungkook di alun-alun. Meski Taehyung mulai merasakan cinta pada Jungkook, namun setiap menatap mata kosong gadis itu selalu mengingatkannya pada bayang-bayang Namjoon. Maka dari itu ia hanya ingin memberi sedikit pelajaran kepada Namjoon tentang arti kehilangan.
'Aku harap paman dan bibi dapat merasakan bagaimana rasa kehilangan anak sendiri meski itu sebentar'
Entahlah. Taehyung merasa tindakannya tidak sepenuhnya salah. Untuk menghilangkan keraguannya laki-laki itu menyobek selembar kertas dari buku yang sudah sempat ia masukkan ke dalam tas. Sedikit lama ia berfikir apa yang harus ia tulis sebagai bentuk perpisahan. Terhitung hampir lima belas menit Taehyung memikirkan kata-kata yang sekiranya tidak menyinggung perasaan orang lain. Dasarnya Taehyung anak baik, ia tidak akan mampu menyakiti siapapun.
Terakhir setelah menulis surat tersebut dilipatnya rapi menjadi bentuk bangau untuk kemudian dimasukkan pada sebuah kota berwarna pink. Karena ingin benar-benar melepas kenangan tak ketinggalan Taehyung melepas gelang yang ia anggap sebagai gelang keberuntungan itu dan mengemasnya menjadi satu dalam kotak. Sekarang ia bisa meninggalkan mansion Kim tanpa penyesalan satupun serta tidak menimbulkan keributan seperti yang Namjoon minta.
"Daripada 'selamat tinggal', mungkin akan lebih baik jika aku mengucapkan 'sampai bertemu lagi' bukan?"
Sebuah senyum terukir di bibir laki-laki itu. Kaki panjangnya berjalan gontai melewati paviliun untuk sampai di pintu utama. Namun ketika berada di lorong paviliun ia teringat sesuatu. Langkahnya terhenti di sebuah pintu yang tidak pernah terbuka tanpa izin. Ah, Taehyung ingat dulu ada seorang anggota keluarga yang disembunyikan di ruangan tersebut. Haruskah ia menyapa orang yang diyakini sebagai kakeknya?
CEKKEL
Pintu terbuka menampilkan seorang laki-laki tua yang sedang menatap kosong ke luar jendela. Tubuh rentanya terduduk seperti tak berdaya di kursi roda. Hanya ada sepiring makanan yang masih utuh serta segelas air putih di atas nakas.
"Kau kah itu kakek?"
Entah darimana keberanian itu muncul, mendadak bibir Taehyung memanggilnya lancing sebagai kakek. Bagaimana jika ia mendapat penolakan? Menurut cerita eommanya sang kakeklah dulu yang sangat menentang kehadirannya.
"K-Kau lagi… Seseorang yang mirip putriku"
Pandangan laki-laki tua tersebut menelisik dari ujung kepala hingga ujung kaki orang yang baru menyapa. Dahinya yang sudah penuh kerutan semakin berkerut mendengar orang asing memanggilnya kakek. Apa maksudnya.
"Memang penilaian orang tua tidak pernah salah dalam mengenali keturunannya. Ya kakek, ini aku putra Baekhyun"
"Tidak mungkin"
Taehyung mendekat, meletakkan tas jinjingnya di sudut tempat tidur untuk kemudian berjongkok, mensejajarkan diri dengan yang lebih tua. Dapat Taehyung lihat mata tua itu sedikit bergetar menatapnya. Ada sedikit kemarahan disana dan Taehyung tau itu.
"Apa kakek tidak senang melihat cucu kakek setelah sekian lama?"
Bukam. Tetua keluarga Kim itu hanya menatapnya tanpa mau mengucapkan sepatah kata. Jika begini Taehyung semakin yakin jika sang kakek sudah tidak menyukainya sejak dalam kandungan.
"Sepertinya kakek begitu membenciku"
"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu. Kau tidak pantas!"
Mungkin akan menyenangkan mengulik sedikit cerita lama dengan tempramen kakek Kim yang buruk ini. Baiklah, Taehyung ingin tau bagaimana tanggapan sang kakek soal kelahirannya dahulu. Mari lihat seberapa jahat pak tua ini.
"Jika kakek berujar demikian aku jadi semakin yakin terhadap ucapan orang tentang kakek yang membenciku"
"Pembunuh"
Satu kalimat itu bagai pedang yang menusuk jantung Taehyung. Matanya terpejam erat menahan amarah sekaligus air mata.
"Salahkah jika ibu ingin mempertahankanku?" tanya Taehyung lirih
"Baekhyun tidak akan mati jika kau tidak pernah ada. Kau membuat semuanya berantakan. Anak sialan"
"KAKEK!"
Cukup. Taehyung tidak bisa mendengar lebih banyak lagi. Ia jadi sadar jika keputusan Namjoon menjauhkannya dari keluarga Kim mungkin yang terbaik.
"Kakek tidak perlu khawatir. Aku akan meninggalkan semuanya. Rumah ini, kakek, dan seluruh kenangan ibu yang tidak sempat aku ketahui di rumah ini. Jangan khawatir"
Taehyung buru-buru menyambar tasnya. Langkahnya terburu ingin meninggalkan ruangan itu sebelum sebuah kalimat kembali menghentikannya.
"Kau harusnya mati juga untuk menebus nyawa putriku"
Tangan laki-laki yang lebih muda mengepal kuat. Otomatis tubuhnya berbalik dengan dipenuhi amarah. Nafas Taehyung memburu lantas menatap nyalang pria bermarga Kim tersebut.
"Apa jika aku mati ibu akan hidup kembali? Tidak akan ada yang berubah hingga seratus tahun!"
Nada laki-laki itu meninggi, mengakibatkan lawan bicaranya juga tersulut emosi. Dari jarak jangkauannya si kakek berusaha meraih gelas kaca yang terletak di nakas tak jauh dari posisinya.
PRAANKK
Gelas tersebut pecah menjadi beberapa bagian. Beberapa tercecer di sekitar kaki Taehyung dan separuhnya berada di genggaman si kakek, menyisakan ujungnya yang runcing dan siap menghunus ke arah Taehyung.
"A-Apa? Sekarang kakek ingin membunuhku?"
Bukannya gentar Taehyung justru maju mendekati pria Kim. Ditepisnya pelan tangan sang kakek yang masih memegang sebilah kaca tersebut. Kedua tangannya kini ditumpukan pada pegangan kursi roda untuk lebih mengintimidasi lawannya.
"Tidak sadarkah kau pak tua, mungkin semua yang terjadi ini bersumber dari sifat egoismu itu?"
"Keparat! Seharusnya aku sudah melenyapkanmu jika putriku dan Namjoon tidak menghalangi. Keturunan dari laki-laki rendah tidak pantas bersanding dengan putriku"
"JANGAN HINA AYAHKU!"
"Sudah ku bilang tidak seharusnya kau lahir"
SLASSHH
"AARGGHH!"
.
.
~ BLIND ~
.
.
PRAANKK
Seokjin terhenyak dari tidurnya kala mendengar sebuah suara seperti benda pecah belah yang dipukulkan. Saat melihat jam dinding waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lebih empat puluh menit. Namjoon tidak ada di sampingnya, artinya sang suami belum pulang. Bahkan ranjangnya masih dingin.
Perempuan dua anak itu jadi takut sendiri. Jika suaminya belum pulang maka di rumah hanya ada dirinya dan Jungkook mengingat tadi siang Jihoon ijin untuk menginap di rumah teman. Karena was-was ada maling menyusup ke rumah, dengan segera Seokjin membuka laci serta menyambar sebuah pistol yang selalu disembunyikannya untuk berjaga-jaga. Namjoon selalu berpesan pada Seokjin untuk tak ragu menyimpan senjata apalagi jika dirinya sedang tidak di rumah.
Dengan langkah mengendap-endap Seokjin menuruni tangga. Lampu rumah masih mati otomatis bukan sembarang gelas pecah. Jika di dengar seksama suara pecahan tersebut terasa jauh dari rumah sehingga ia memutuskan memeriksa area paviliun. Seokjin masih ingat jika di rumah tersebut ada orang lain selain dia dan anaknya. Sebenarnya Seokjin ingin mengecek keadaan Jungkook untuk mengetahui apakah gadis itu juga terbangun, namun jika Jungkook bangun mungkin akan lebih berbahaya.
Lama menyusuri koridor jantung Seokjin semakin dibuat terpacu tatkala mendapati kamar ayah mertuanya terlihat terang seperti di buka.
"AARGGHH!"
"Ayah!"
Buru-buru perempuan itu berlari kencang menuju kamar tersebut. Begitu tiba disana sebuah pemandangan mengerikan sukses membuat Seokjin menjerit hingga jeritannya menggema di seluruh sudut rumah.
"AAAAAAAA!"
Tubuhnya terjatuh lemas melihat banyaknya darah yang menggenang di lantai. Di depan matanya Seokjin melihat Taehyung terkulai lemas dengan tangannya memegangi lehernya yang mengeluarkan banyak darah.
"AYAAAH APA YANG TERJADI"
Seokjin tidak bisa tidak menjerit. Di depan matanya Taehyung tengah sekarat sementara tangan ayah mertuanya memegang sebilah kaca yang berlumur darah.
"Anak itu… Tidak seharusnya ia lahir. Putriku mati karna dia"
Langkah perempuan itu gemetar mendekati tubuh Taehyung. Ia sedikit trauma menyaksikan banyak darah seperti ini. Entah sudah berapa banyak kejadian yang melibatkan darah dan berujung malapetaka di dalam hidup Seokjin.
Kedua tangan Seokjin berusaha memangku kepala Taehyung yang sudah penuh oleh darah. Kini darah-darah itu ikut mengotori kedua tangan dan juga gaun yang dikenakannya.
"B-Bibi"
Di tengah rasa sakitnya anak itu masih bisa memanggilnya dengan sebutan 'bibi'. Tangis Seokjin pecah, fikirannya kacau karena tidak tau apa yang harus dilakukan.
"Tae, bertahanlah nak. Aku berjanji untuk membawamu kembali"
Taehyung tersenyum getir di tengah rasa sakitnya. Membuat Seokjin semakin menangis kencang. Tidak ada orang di rumah, harus pada siapa ia minta tolong.
"A-Apakah bisa? S-Sepertinya sulit" ujar Taehyung lemah di pangkuan perempuan itu
"Bisa. Kau harus bisa"
"Jangan kotori tanganmu dengan darah anak itu Jin. D-Dia pantas menebus kesalahannya"
"DIAM!"
Setelah meletakkan kepala Taehyung pelan di lantai Seokjin bangkit. Disambarnya pistol yang sempat ia bawa tadi dan kemudian ditariknya pelatuk itu, mengarahkan pada ayah mertuanya.
"Beri aku alasan ayah. Kenapa aku harus memaafkan ayah lagi kali ini"
"Jin, kau menantuku yang paling naif. Yang tidak semestinya sudah sepantasnya disingkirkan"
DORR
"Itu untuk anak dalam kandunganku yang tidak sengaja menjadi korban"
DORR
"Itu untuk segala rasa sakit Namjoon dan Baekhyun"
DORR
"Dan yang terakhir-" kata-katanya terjeda, mata perempuan itu terpejam erat
"-untuk anak itu yang tidak bersalah apa-apa"
Setelah menembakkan tiga peluru secara berturut-turut tubuh Seokjin kembali ambruk. Entah mendapat keberanian dari mana dirinya kini ikut menjadi berdarah dingin. Kesabarannya selama belasan tahun diam di keluarga Kim seakan dilukai dengan kesakitan Taehyung hari ini.
"JINNIE!"
Namjoon yang baru tiba setelah di telfon oleh Dongho dikejutkan oleh suara tembakan begitu memasuki ruang tamu. Keterkejutan bertambah saat melihat ayahnya yang sudah tidak bernafas di ujung ruangan dengan Seokjin yang memegang pistol. Tak jauh dari sana tubuh Taehyung terkapar hampir hilang kesadaran.
Otaknya yang cerdas tak butuh waktu untuk mencerna apa yang terjadi. Dengan tergesa laki-laki itu menyambar pistol di tangan Seokjin untuk diusapkkan dengan seluruh tangannya. Setelah itu dibuangnya asal pistol tersebut.
Hoseok datang tidak lama kemudian. Raut laki-laki itu tak kalah terkejutnya, sama ketika Namjoon masuk ke ruangan.
"Bereskan mayatnya. Jika pemberitaan menyeruak katakan jika istri dan anakku tidak tau apa-apa"
Tanpa banyak bertanya sekretaris itu segera mendorong pergi mayat tuan Kim dan membawanya menjauh dari ruangan. Sementara Namjoon masih berusaha menyadarkan Seokjin dari keterkejutannya.
"Hei Jin, sadarlah!" panggil Namjoon selembut mungkin
"N-Namjoon aku-"
"Kau tidak melihat atau melakukan apa-apa. Oke?"
Seokjin hanya dapat mengangguk patuh dengan wajahnya yang dipenuhi air mata. Setelah Seokjin dapat diajak berbicara Namjoon berusaha membantu perempuan itu berdiri.
"Joon, tolong Taehyung" cicitnya
Kali ini laki-laki itu tidak bertanya. Sekuat tenaga dengan bantuan sang istri Taehyung dinaikkan ke punggung Namjoon untuk digendong menuju mobil. Anak itu perlu dilarikan ke rumah sakit segera.
Sepanjang jalan Namjoon memacu mobil layaknya orang kesetanan. Sementara di kursi belakang Seokjin tak hentinya menangis sambil memangku kepala Taehyung. Bibirnya tak henti merapal do'a sambil sesekali berucap pada anak itu agar tidak sampai hilang kesadaran
"Kumohon bertahanlah"
Setibanya di rumah sakit mobil mereka langsung disambut oleh beberapa perawat yang berjaga. Seokjin berlari mengikuti brankar menuju UGD sementara Namjoon memarkirkan mobil terlebih dahulu.
Karena ruang UGD terbatas Seokjin hanya bisa menunggu di luar ruang penanganan. Begitu Namjoon datang ia langsung menghambur ke pelukan suaminya. Kembali menangis untuk sekian kali. Namjoon tau Seokjin masih mengalami trauma maka ia mencoba menenangkan perempuan itu, merapalkan jika semua akan baik baik saja. Untuk menghiburnya bahkan Namjoon menyarankan Seokjin untuk menghubungi Yoongi. Bagaimanapun Yoongi harus tau keadaan Taehyung sekarang.
Yoongi sudah dihubungi dan kini dua orang dewasa itu dapat sedikit tenang. Seokjin di bawa duduk di salah satu kursi. Bahkan perempuan itu mulai mengantuk hendak tertidur. Belum sampai matanya terpejam lima menit, terdengar suara brankar lain yang di dorong memasuki UGD. Sepertinya ada pasien baru juga yang perlu penanganan.
Namun yang membuat Namjoon dan Seokjin terkejut adalah kehadiran Jihoon ikut menyertai brankar. Pemuda itu tampak cemas mengikuti brankar masuk bersama Hyeoseob disampingnya.
"Sayang, bukankah itu Jihoon?"
"Apa?"
Namjoon berjingkat dari duduknya untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Sedari tadi fokusnya justru tertuju pada pasien yang dibawa. DEG. Benar saja, pasien yang ada di brankar tersebut adalah putrinya. Wajahnya berlumur darah bahkan Namjoon hampir tidak mengenali.
"KENAPA ADIKMU BISA SEPERTI INI?"
"A-Appa, bagaimana ini aku takut sekali"
Sang ibu yang hanya menonton dari kejauhan kini berinisiatif mendekat saat mendengar bentakan Namjoon. Fikirnya kenapa suaminya harus semarah itu jika Jihoon hanya mengantar pasien. Apakah Jihoon menabrak seseorang?
"Ada apa? Kenapa harus berteriak? Jihoon kau menabrak- Jungkook?"
Ucapan Seokjin terhenti begitu sadar siapa object yang dibicarakan sedari tadi. Tangannya terkatup menutup mulut karena terkejut. Setelah melihat keponakannya berlumur darah kini ia harus melihat putri kesayangannya mengalami hal yang sama.
Seokjin tumbang pada akhirnya. Untung saja baik Namjoon maupun Jihoon sigap menahan tubuh perempuan itu sebelum mencium lantai. Mereka berdua memilih membiarkan Jungkook ditangani dokter, sementara Hyeoseob berlari memanggil perawat lain untuk menangani Seokjin.
.
.
~ BLIND ~
.
.
Taehyung masih setengah sadar ketika dokter dan perawat berusaha menangani luka di lehernya. Meski tidak begitu jelas sayup-sayup ia mendengar sebuah brankar masuk dan berhenti tepat di sebelah ranjang Taehyung. Laki-laki itu melirik sekilas, walaupun buram karena kesadarannya semakin tipis dapat Taehyung lihat jika ia mengenali pasien yang baru saja masuk ke UGD.
"Koo-kie"
Bibirnya berucap tapi entah kenapa tidak ada suara yang keluar. Awalnya Taehyung ragu jika itu memang Jungkook, tapi saat tangan pasien itu jatuh terjuntai ia dengan jelas melihat gelang keberuntungan yang pernah diberikannya. Taehyung tersenyum miris dalam kesakitan.
"Suster Lee hubungi dokter anastesi untuk menyiapkan ruang operasi. Lukanya terlalu dalam, kita perlu mengeluarkan juga serpihan kaca halus di lukanya"
"Baik dokter"
Dokter yang menangani Taehyung sudah akan berbalik mengabari keluarga, namun tangannya di cekal lemah oleh pemuda itu.
"Eom-ma"
"Ya?"
Taehyung mengulangi kata-katanya meski sekarang tidak ada suara yang keluar. Syukurlah dokter itu masih paham dengan apa yang dikatakan meski butuh beberapa kali untuk mengartikan gerak bibirnya.
"Baiklah, aku akan memanggil ibu anda"
Setelahnya dokter itu berjalan keluar. Sudah banyak orang yang menunggu rupanya di luar UGD. Sebelum berbicara sang dokter sempat menghela nafas sejenak.
"Keluarga dari pasien bernama Taehyung?"
"SAYA IBUNYA"
Saat Namjoon hendak berdiri berbicara dengan dokter, namun dari kejauhan terlihat Yoongi yang berlari diikuti oleh Jimin dibelakangnya.
"B-Bagaimana keadaan anak saya?"
"Kita harus melakukan operasi karena lukanya cukup dalam. Tapi sebelum itu dia ingin bertemu anda"
Yoongi segera berlari masuk ke ruang UGD, sebelum benar-benar masuk perempuan itu berhenti sejenak sambil menatap tajam pada Namjoon.
"Aku bersumpah tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu dengan Taehyung"
Namjoon tak mengucapkan sepatah katapun sebagai balasan. Ia mencoba menahan diri untuk tidak kalut di saat seperti ini meski dirinya sendiri tidak tau apa yang terjadi.
"Tae!"
Terkejut. Itulah yang pertama Yoongi rasakan kala mendapati anaknya terkulai tak berdaya di ranjang UGD. Bajunya merah penuh darah dan dari pandangannya dapat Yoongi lihat sebuah luka cukup lebar di leher Taehyung.
"Apa yang terjadi Tae"
Tangisannya pecah sembari menggenggam erat tangan Taehyung. Barusaja pagi ini ia melihat Taehyung begitu sehat, tapi lihat sekarang justru terbaring tak berdaya.
"Katakan pada eomma siapa yang melakukan ini hhmm?"
Sebanyak apapun Taehyung menyakiti perempuan itu, bahkan Yoongi masih sanggup menanyainya dengan nada yang begitu lembut.
"Mi-an-hae" suara serak Taehyung berhasil keluar meski sangat pelan
"Tidak perlu minta maaf, kau tidak salah apapun Tae"
"Eom-ma"
Mata pemuda itu tak henti menatap seseorang yang terbaring di sebelah. Jari telunjuknya sekuat tenaga ingin memberitau Yoongi jika perempuan itu harus melihat siapa yang terbaring di sana.
"Jangan banyak bergerak"
Tapi usaha Taehyung yang tak henti menatap ranjang di bagian samping membuat Yoongi akhirnya ikut memutar tubuh. Perempuan itu tidak dapat menutupi keterkejutan saat sadar siapa yang sedang ditangani oleh perawat.
"Nona Jungkook?"
Taehyung tersenyum mengiyakan. Kemudian ia berusaha mengucapkan sesuatu lagi namun tak ada suara yang keluar. Bibirnya bergerak tapi Yoongi tidak dapat memahami satu patah katapun. Akhirnya perempuan itu mendekatkan telinga untuk mendengar lebih jelas bisikan sang anak.
Sebulir air mata jatuh tepat mengenai pipi Taehyung begitu Yoongi mengerti apa yang sedari tadi berusaha dikatakan oleh anaknya. Yoongi sempat menggeleng sebagai bentuk tidak setuju.
"Semua akan baik-baik saja, percaya pada eomma"
Tetap saja pemuda itu tidak menyerah, bahkan Taehyung kini menangis demi memohon agar Yoongi mengiyakan apa yang barusaja ia katakan. Kelingkingnya terjulur dan kemudian disambut tautan jari yang sama oleh Yoongi.
"Eomma janji"
Yoongi tersenyum, ingin terlihat tegar di depan Taehyung meski hatinya hancur. Ia berusaha meyakinkan diri jika semua akan berjalan baik-baik saja.
"Nyonya Min, kami harus membawa pasien ke ruang operasi"
"Kau bisa melewati ini Tae"
Perempuan itu mencium lama kening Taehyung berusaha menyalurkan kekuatan. Cukup lama hingga akhirnya Yoongi beranjak dan mengusap air matanya. Kini ia benar-benar tersenyum melepas Taehyung ke ruang operasi. Di saat itu jugalah tangan yang sedari tadi Yoongi genggam sepnuhnya terlepas.
Brankar itu melewati tempat Jungkook yang masih ditangani. Disaat itu pula Taehyung memandang dalam ke arah gadis yang sempat ia tinggalkan beberapa waktu lalu. Rasa bersalah menyeruak di hatinya, ingin sekali Taehyung menangis tapi entah kenapa air matanya kering tak bisa mengalir. Jika ia tau hal malang seperti ini akan terjadi maka ia tak akan meninggalkan Jungkook seorang diri.
'Aku akan menebus semua rasa sakitnya untukmu'
Pandangan Taehyung memburam bersamaan saat ia melihat Namjoon dan Hoseok yang menatapnya tak biasa saat melewati pintu keluar.
.
.
.
TBC
A/N
Cuma mau bilang, sudah mau menuju akhir. Mari berpegangan wkwkwk
Happy reading readersdeul ^_^
