CHAPTER 27

END (OF THEM)

.

.

.

Ngidam merupakan salah satu hal yang wajar dirasakan oleh ibu hamil dan itulah yang dirasakan Baekhyun saat ini. Meski kehamilannya sudah memasuki tri semester ke-tiga, terkadang Baekhyun masih sering merasakan ingin makan ini itu bahkan melakukan hal di luar nalar. Seperti saat ini ia begitu ingin makan bungeoppang dari pedagang yang berjualan tak jauh dari rumahnya. Di tangan perempuan itu sudah ada sekantong penuh bungeoppang yang berhasil ia beli dengan bantuan diantar oleh salah satu pengawal yaitu Myungsoo.

Baekhyun ingin sekali menikmati makanan yang baru dibelinya bersama seseorang. Ingin mengajak suaminya tapi belum pulang bekerja mengingat hari masih siang. Saat memasuki ruang tamu orang yang pertama kali dilihat adalah sang ayah yang tengah membaca koran.

"Ayah pasti tidak akan mau"

Selama kehamilan, Baekhyun dan ayahnya memang terlibat perang dingin. Tuan Kim konsisten terhadap pendiriannya yang tidak suka dengan kehamilan putrinya. Masih ingatkah kalian dengan Tuan Kim yang tega memukuli Baekhyun saat mengetahui kehamilan putrinya? Ya Baekhyun sedikit trauma semenjak itu jika berinteraksi dengan ayahnya, takut jika sang ayah akan melukai bayi yang belum dilahirkan.

Perempuan itu memilih melanjutkan langkah menaiki tangga dengan maksud ingin mengajak kakak iparnya makan bersama. Diusia kehamilan yang sudah cukup besar memang tidak bagus bagi Baekhyun untuk naik turun tangga. Tapi mau bagaimana lagi? Seisi rumahnya terhubung tangga antara satu bagian dengan bagian lain.

TOK TOK TOK

"Kak Jin?"

"Masuk lah Baek"

Seokjin terlihat sedang berkutat dengan jarum rajut saat Baekhyun memasuki kamar. Semenjak dinyatakan keguguran beberapa bulan lalu, perempuan itu menjadi sedikit pendiam, jarang keluar rumah bahkan sering sekali Baekhyun menjumpainya sedang melamun dan berujung menangis jika malam hari. Ada sedikit rasa bersalah sebenarnya, mengingat keguguran Seokjin ada campur tangan akibat ikut membela Baekhyun.

"Merajut lagi?"

"Hmm"

Seperti inilah Seokjin. Ia hanya akan menjawab seperlunya jika diajak berbicara, sangat jauh berbeda dengan Seokjin yang dulu begitu ceria bahkan sangat pemberani memukul tukang bully.

"Kak, aku baru membeli bungeoppang. Ingin makan bersama?" Baekhyun bertanya dengan mata yang masih fokus memperhatikan kelincahan tangan Seokjin merajut benang

"Maaf tapi aku sedang tidak ingin"

Bibir si ibu hamil melengkung kecewa begitu mendapat penolakan. Baekhyun benar-benar tak ingin makan sendiri kali ini. Ia ingin berbagi makanan dan menyuapi seseorang bungeoppang.

"Mungkin kau bisa ajak kakakmu Baek, kulihat Namjoon oppa berada di ruang kerjanya"

"Benarkah?"

Mata ibu hamil itu berbinar mendapat anggukan dari Seokjin karena tidak biasanya sang kakak sudah berada di rumah. Itu artinya sementara waktu ia bisa bermanja dengan Namjoon sambil menunggu suaminya pulang kerja.

Untuk ukuran ibu hamil tua Baekhyun bisa dikatakan cukup lincah. Lihat saja sekarang perempuan itu sudah beranjak dari kasur setelah mencium pipi Seokjin untuk pamit.

"Hati-hati Baekhyun astaga anak itu!"

Teriakan Seokjin tidak diindahkan oleh Baekhyun. Kini kakinya menuruni tangga dengan semangat lantas melewati ayahnya begitu saja di ruang tamu seperti tidak ada orang. Baekhyun harus melewati koridor sebelah kanan ruang tamu untuk sampai di ruang kerja Namjoon.

"Oh pintunya terbuka?"

Saat ia menemui sang kakak, memang biasanya Baekhyun akan langsung masuk begitu saja. Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, gerakan perempuan itu terhenti karna mendengar sebait pembicaraan dari dalam.

"Cari panti asuhan yang jauh dari daerah ini. Tak apa jika memang harus menyebrang hingga Jeju. Kita harus membawa anak itu pergi atau bila perlu buat surat kematian untuknya"

"Apa tuan yakin dengan rencana ini?"

DEG

Baekhyun tidak jadi membuka pintu begitu mendengar pembicaraan kakaknya dengan sang sekretaris. Tangannya yang masih mengggenggam sekantong bungeoppang itu reflek memegangi perutnya yang sudah sangat besar. 'Apa artinya kakak akan menyingkirkan anakku ketika sudah lahir?'

Dari sekian banyak kemungkinan hanya satu hal tersebut yang dapat Baekhyun fikirkan. Air matanya tanpa sadar jatuh membayangkan betapa tega kakak yang selama ini ia kagumi sosoknya ternyata tak lebih keji dari sang ayah. Sepertinya saat ini tidak ada sosok yang akan menerima atau melindungi ia dan anaknya di rumah ini.

"Jahat!"

Dengan wajah berurai air mata Baekhyun berlari ke arah kamarnya. Ia menangis kencang karena begitu kecewa dengan Namjoon. Tak habis fikir kenapa kakaknya sampai berfikir hendak membuang jauh anak yang bahkan belum lahir. Apa ini bentuk balas dendam karena Namjoon barusaja kehilangan anak karena dirinya?

Ibu hamil sangat mudah stress itu memang benar adanya walaupun hanya dipicu hal kecil. Seperti saat ini kepala Baekhyun sudah akan pecah padahal hanya memikirkan satu hal. Tangannya yang gemetar membongkar satu persatu laci yang ada nakas kamar. Sesekali Baekhyun menarik nafas dalam agar lebih tenang sambil mencari-cari sesuatu yang selama ini ia simpan tanpa sepengetahuan orang lain. Buku tabungan.

'Tenanglah nak, ibu akan menyelamatkanmu walaupun harus mati sekalipun' batin Baekhyun memeluk erat buku tabungan tersebut.

Sementara itu di ruang kerja Namjoon tampaknya sang sekretaris menyadari ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka dan baru saja pergi karena melihat sekelebat bayangan dari celah pintu.

"Tuan-" sebenarnya sekretaris itu ragu untuk menyampaikan

"-jika adik anda mendengar rencana ini bagaimana?"

"Aku tidak peduli Hoseok-ah. Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan anak dalam kandungan Baekhyun. Aku tidak ingin pak tua keparat itu semakin semena-mena. Cukup aku saja yang suatu saat akan dibuang. Tidak dengan adikku ataupun anaknya, mereka tak bersalah"

Penjelasan panjang lebar dari Namjoon membuat Hoseok berfikir dua kali. Jujur ia ragu untuk melaksanakan rencana mereka karena bagaimanapun juga ada rasa tidak tega dalam lubuk hati paling dalam. Hoseok sudah menganggap saudara Namjoon dan istrinya seperti keluarga sendiri selama ini.

"Dan jika aku harus membunuh. Maka akan aku lakukan" tukas Namjoon membuat Hoseok menghela nafas panjang

.

.

~ BLIND~

.

.

Pintu ruang UGD terbuka lebar menampakkan sebuah brankar yang di dorong keluar. Dari pandangannya Namjoon dapat melihat Taehyung sedang di dorong oleh beberapa perawat untuk dipindahkan ke ruang operasi. Anak itu terlihat menatap Namjoon lemah selama melewatinya.

"Tuan"

Namjoon tersentak dari lamunannya begitu Hoseok menepuk bahunya. Tubuh itu berbalik sambil mengangkat sebelah alis seakan bertanya ada apa.

"Saya sudah memindahkannya ke tempat yang lebih layak"

Ah benar juga, sebelum tadi ia sempat menyuruh Hoseok untuk membereskan kekacauan yang di sebabkan oleh pak tua itu. Namjoon menepuk punggung sang sekretaris sebagai tanda terimakasih.

"Seokjin noona dimana?"

Setibanya di rumah sakit Hoseok hanya menjumpai Namjoon dan seseorang yang duduk di kursi tunggu. Jujur ia khawatir dengan kondisi perempuan itu mengingat betapa shock nya Seokjin melihat kejadian yang bahkan Hoseok akui cukup mengerikan.

"Aku disini Seok"

Seokjin berjalan lemah sambil dipapah oleh Jihoon dan Hyeoseob. Tampaknya istri Namjoon itu bersikeras ingin melihat kondisi putrinya yang mendadak ikut di rawat.

"Sebenarnya apa yang terjadi?"

Tanpa diduga Jimin yang duduk sedari tadi ikut menimbrung dalam obrolan. Meskipun mungkin ia orang asing tapi Jimin juga perlu tau karena ia ikut bertanggung jawab terhadap Taehyung selama ini.

"Aku rasa orang asing harus tau batasan" balas Namjoon sinis

"Dia bukan orang asing"

Setelah Jimin kini Yoongi ikut bergabung dalam obrolan mereka. Semuanya terdiam melihat perempuan itu datang dari dalam UGD dengan wajah datar tanpa ekspresi.

"Tidakkah eonni berhutang cerita padaku?" desak Yoongi pada Seokjin

"Kuperingatkan jangan kasar pada istriku, kau tidak lihat dia masih terguncang?"

Tubuh Namjoon menghadang Yoongi yang hendak mendekati istrinya dan meraih tubuhnya untuk di desak berbicara. Bahkan tanpa sadar tangan Namjoon mendorong pelan bahu Yoongi hingga perempuan itu mundur beberapa langkah.

"Dan kuperingatkan juga padamu tuan Kim Namjoon untuk tidak kasar pada wanita ku"

Melihat Yoongi diperlakukan sedikit kasar Jimin tidak bisa diam. Ia ikut melindungi perempuan itu dengan menempatkan tubuh berhadapan langusng dengan Namjoon. Dan apa itu tadi? Jimin menyebut Yoongi sebagai 'wanita ku'?

"M-maafkan aku"

Tiba-tiba saja Seokjin berjongkok, melipat kedua tangan lantas menyembunyikan kepala diantaranya. Suara tangisannya terdengar pilu namun tidak cukup membuat Yoongi bergeming. Hyeoseob dan Jihoon yang melihat itu berusaha membantu Seokjin berdiri.

"T-taehyung tampaknya.. D-dia menemui ayah di p-paviliun" Seokjin mengatakan itu semua dengan tubuhnya yang bergetar hebat. Bayang-bayang darah ketika ia memasuki kamar ayah mertuanya masih teringat jelas.

"Suara pecahan gelas itu… aku mendengarnya. Ak-ku berlari dan"

Nafas perempuan itu sedikit tersengal selama menceritakan ulang kejadian. Dengan lembut Jihoon mengusap punggung ibunya menguatkan.

"Tidak perlu dilanjutkan eomma" saran Jihoon

"Ayah… a-ayah sudah melukai.. lehernya"

Yoongi naik pitam mendengar penuturan Seokjin. Jika perempuan itu tau ayah mertuanya sangat membenci anak Baekhyun kenapa dibiarkan memasuki kamarnya.

"Kenapa tidak dicegah?" suara Yoongi lirih, namun isyarat akan kekecewaan

"Bisa hentikan ini? Kau tidak lihat istriku gemetaran seperti itu?"

"Jika kau tidak suka Yoongi bertanya seperti itu maka langkahi dulu aku"

Jimin tidak suka pembicaraan antara Yoongi dan Seokjin disela oleh Namjoon sedari tadi. Tidak ada yang salah dari pertanyaan seorang ibu yang ingin mengetahui kenapa anaknya bisa sampai terluka.

Seokjin hanya dapat menggelengkan kepala dengan pertanyaan Yoongi. Andai ia tau Taehyung pulang dan menemui ayah mertuanya pasti ia akan mengunci kamar paviliun itu. Sekarang Seokjin hanya bisa menangis menyesali semuanya. Namjoon berbalik dan segera memeluk perempuan itu untuk menenangkan.

"Lalu Jihoon bagaimana adikmu bisa berakhir seperti itu?"

Meski sedang menenangkan istrinya namun Namjoon masih ingat jika alasan mereka masih di rumah sakit juga karena Jungkook yang tiba-tiba ikut dirawat.

"Entahlah appa. Aku dan Hyeoseob sedang berjalan-jalan dan ketika kami membeli makanan secara tidak sengaja Hyeoseob melihat Jungkook hendak menyebrang. Sebelum kami sempat menghampiri sebuah mobil sudah menghantam dirinya"

"Jungkook berjalan seorang diri sambil menangis saat di alun-alun paman" tambah Hyeoseob

Semua orang terdiam prihatin atas apa yang menimpa Jungkook. Lalu Namjoon teringat sesuatu. Sebelum ia pulang Dongho sang satpam sempat menelepon dan mengatakan jika Taehyung pulang seorang diri padahal pergi bersama Jungkook di sore harinya.

"Ini semua salah anakmu"

Emosi ayah dua anak itu tersulut ketika tau kemungkinan besar anaknya tertabrak adalah karena Taehyung meninggalkannya seorang diri.

"Apa yang kau katakana? Jangan asal menuduh!" sekarang Jimin iku tersulut emosi

"Satpam ku mengatakan jika sore hari Jungkook pergi bersama anakmu dan malamnya pulang seorang diri. Kau tidak cukup bodoh untuk menyimpulkan bukan Min Yoongi? Apa salah anakku?!"

"CUKUUUP!"

Teriakan dari Seokjin berhasil membuat mereka semua terdiam. Sebenarnya ia juga tersulut emosi mendengar penuturan suaminya. Seokjin tidak menyangka Taehyung akan setega itu pada putrinya yang bahkan tidak bisa melihat.

"Saat bajingan itu sadar aku akan menghajarnya sampai mampus"

Desisan Jihoon di dengar oleh Seokjin. Dengan lembut ibu itu meraih tangan Jihoon dan mengucapkan kata 'sudahah' melalui gerak bibirnya.

"Ini rumah sakit, apa kalian tidak malu sedari tadi bertengkar? Dan Yoongi-" perempuan itu menjeda sejenak

"-aku sungguh minta maaf. Jika aku tau… aku akan mencegahnya. Kalau kau masih tidak menerima maafku maka aku bisa berlutut untuk seluruh keluargaku"

"Tidak. Kau pulang saja Jin, tidak perlu minta maaf karena ini tidak sepenuhnya salahmu. Hoseok akan mengantarmu"

Sekretaris keluarga Kim itu begitu peka. Dengan sigap ia meraih pundak Seokjin dan sedikit memaksanya untuk mau ikut. Awalnya perempuan itu menepis tangan Hoseok terus-terusan. Namun setelah dibujuk beberapa kali barulah Seokjin mau ikut dengan Hoseok.

Langkah kaki kaki dua orang dewasa itu mungkin baru dua puluh lima langkah meninggalkan UGD. Namun begitu mereka hendak sampai di ujung koridor Hoseok dan Seokjin dikejutkan oleh kedatangan beberapa orang polisi. Keduanya saling bertatapan karena mengetahui pasien yang baru tiba hanya Taehyung dan Jungkook. Maka ada kemungkinan jika polisi tersebut akan mengusut salah dari kedua kejadian tersebut. Seokjin panik hendak berbalik namun tangannya dicekal kuat oleh Hoseok.

"Lepas!"

"Tidak noona jangan kesana"

Hoseok sebisa mungkin menutupi pandangan Seokjin agar tidak melihat apa yang dilakukan oleh polisi yang baru datang. Entah kenapa perasaannya sedikit tidak enak.

Sementara itu beberapa polisi tersebut datang ke ruang UGD dan langsung menghampiri ke tempat Namjoon berada.

"Permisi kami dari kepolisian Seoul. Dengan saudara Namjoon?"

Orang-orang di ruang tunggu UGD ikut terkejut melihat polisi mencari Namjoon. Bahkan Jihoon sudah menatap ayahnya tajam minta penjelasan.

"Itu saya" tapi kenapa Namjoon maju dengan percaya dirinya seolah sudah tau ini akan terjadi?

"Kami mendapat laporan dari tetangga anda jika mereka mendengar tembakan dari rumah anda"

"T-tembakan?" mulut Jihoon menganga, seingatnya sang ibu tadi tidak menceritakan apapun perihal tembakan

"Pak polisi mungkin mereka salah dengar, tidak mungkin ada tembakan di rumah kami" Jihoon maju hendak membela sang ayah namun tubuhnya dihalangi oleh Namjoon

"Ditemukan pistol serta mayat di salah satu ruang rumah anda. Bisa ikut kami untuk dimintai keterangan karena sidik jari anda terdeteksi dalam data kami setelah dilakukan pemeriksaan"

"Ayah, apa maksudnya ini?!"

Namjoon hanya menggeleng memberi isyarat jika sebaiknya Jihoon tidak ikut campur. Bahkan sekarang laki-laki itu suka rela menyerahkan tangannya untuk diborgol. 'Apa ini waktu untuk menebus kesalahan?'

"Ini pasti ada kesalahan. Appa siapa yang tertembak? Kenapa bisa ada sidik jari appa disana?!"

Jihoon menahan lengan ayahnya ketika hendak dibawa oleh polisi namun Namjoon hanya mengatakan untuk menjaga Seokjin dan Jungkook selama tidak ada dirinya. Pemuda itu mulai menangis karena Namjoon semakin menjauh. Jika tidak ditahan oleh Hyeoseob serta Jimin mungkin Jihoon sudah ikut ke kantor polisi.

Di lorong UGD Seokjin semakin berontak kala mendapati suaminya diseret oleh polisi. Sayangnya tubuhnya kini dipeluk erat oleh Hoseok. Namjoon melihat hal tersebut dari kejauhan selama menyusuri lorong. Dia tidak tega namun juga tidak ingin Seokjin terlibat. Oleh sebab itu dengan pandangan mata yang beradu ketika meliwati Hoseok ia memberi kode agar sang sekretaris segera membawa pergi Seokjin.

"Noona tenanglah, kita pulang dulu dan aku akan membawa pengacara ke kantor polisi" laki-laki itu masih mencoba membujuk istri tuannya

"Lepas Hoseok-ah! Kau tidak lihat Namjoon dibawa polisi? Kenapa dia yang dibawa padahal aku yang menembak ayah mertua"

"Hyung pasti tidak akan senang dengan itu. Kenapa noona tidak bisa melihat pengorbanannya? Ayo pulang dan bereskan dengan kepala dingin"

Saat krusial seperti ini memang Hoseok tak akan lagi berperan sebagai sekretaris namun sebagai sahabat Seokjin dan Namjoon yang akan melindungi mereka seperti keduanya yang dulu melindungi Hoseok saat sekolah.

"A-apa maksud eomma? K-kakek tertembak?"

Pertengkaran keduanya terhenti oleh suara Jihoon yang tiba-tiba saja bergabung di antara mereka. Astaga kepala Seokjin rasanya ingin pecah.

.

.

~ BLIND ~

.

.

"Pemakaman ayah dari pengusahan sukses Kim Namjoon dilakukan secara sederhana hari ini. Terlihat istri Kim Namjoon menghadiri pemakaman seorang diri tanpa didampingi oleh anggota keluarga lain. Sementara itu tuan Kim meninggal karena di tembak oleh putranya sendiri, Kim Namjoon. Motif sementara dari penembakan tersebut karena ada perselisihan diantara keduanya. Polisi masih menyelidiki apakah terdapat motif lainnya. Tentu ini hal mengejutkan mengingat citra pengusaha Kim Namjoon begitu bersih sepanjang karirnya. Kasus telah dilimpahkan ke kejaksaan, diperkirakan pengadilan akan memutus hukuman paling lambat bulan ini.

Saya reporter Ong Seungwoo dan kameramen Kang Daniel melaporkan dari pemakaman Seoul Forest Heaven"

PIIP

Yoongi mendesah berat melihat pemberitaan di televisi. Kematian tetua keluarga Kim memang cukup membuat kalangan pebisnis terkejut bukan main. Terlebih penyebab kematiannya adalah di tembak oleh putra sendiri, bukan terpeleset atau kena serangan jantung.

Mata perempuan itu menatap sendu ke tempat tidur pasien. Disana putranya tampak masih betah terlelap dalam tidur. Terhitung sudah empat hari semenjak kejadian di rumah keluarga Kim dan Taehyung dinyatakan koma karenanya. Dokter tidak dapat memastikan kapan Taehyung akan sadar mengingat lukanya cukup dalam dan mengalami beberapa kali pendarahan selama operasi. Keberhasilan dari operasi pun semakin mengecil karena hal tersebut.

"Betah sekali kau tidur Tae" kata Yoongi sambil mengulas senyum

Kini dari arah pintu terlihat seseorang membuka pintu. Itu Jimin yang tampak kesusahan membawa tas jinjing besar serta beberapa kantong kresek di kedua tangannya.

"Kenapa bawa banyak sekali barang, seolah kita akan menginap lama"

Ucapan perempuan itu seperti rajukan namun terdengar seperti sebuah ketakutan disaat bersamaan. Bagaimana jika memang mereka akan tinggal lebih lama di rumah sakit karena Taehyung? Mendengar penuturan Yoongi, laki-laki itu hanya mengusak rambut si perempuan pelan dan ikut duduk di kursi kosong yang tersedia.

"Sudah makan?"

"Apa terlihat sudah?"

Bisa-bisanya Yoongi masih balik bertanya di keadaan seperti ini. Dengan telaten Jimin mengeluarkan dua kotak makan yang dibelinya di supermarket tadi dan menyerahkan satu pada Yoongi. Perempuan itu tak menolak dan menyantap makanan lahap karena sadar menunggu Taehyung membutuhkan tenaga ekstra.

"Jim, kau sudah cari apa yang ku minta?"

Jimin mengannguk sebagai jawaban. Beberapa hari lalu Yoongi sempat memintanya mencari sesuatu yang sedikit tidak masuk akal. Tapi berkat koneksi Jimin yang luas hal tersebut bukanlah hal sulit. Lalu apakah sekarang Jimin perlu menanyakan untuk apa mengingat permintaan Yoongi jelas bukan untuk kepentingan sendiri ataupun Taehyung.

"Untuk apa kau memintaku mencari 'hal itu' Yoon?"

"Kau tidak perlu tau Jim"

"Memangnya kita mengenal berapa lama hingga sampai sekarang kau masih tidak mau terbuka denganku?"

Ya begitulah perangai Yoongi, sangat tertutup persis seperti pertama kali Jimin menolong perempuan itu.

"Ku tekankan jika orang lain sepertimu tidak perlu tau. Aku tak ingin melibatkan dirimu"

"Orang lain ya? Apa perlu aku melamarmu lagi lantas menikahimu agar tidak menjadi orang lain bagimu?"

UHUUKK

Kali ini Yoongi sungguh tersedak makanannya padahal sudah terlalu sering mendengar kata-kata Jimin yang itu. Laki-laki itu tertawa hingga akhirnya meraih sebotol air putih untuk diberikan pada Yoongi.

"Baiklah aku bercanda"

Tidak lucu jika Yoongi mati tersedak lebih dulu saat Taehyung belum sadar. Mungkin kasusnya akan lebih viral daripada kematian keluarga Kim nanti.

.

.

~ BLIND ~

.

.

Rintik hujan turun secara konstan di tengah mendung yang menghitam. Meski tau mungkin hujan akan turun lebih lebat nantinya Taehyung memilih tetap memejamkan mata di pangkuan seorang perempuan. Padang ilalang yang tinggi sedikit menghalau hujan yang turun sehingga tubuh dua orang tersebut tidak terlalu basah.

"Apa disini nyaman?"

"Ya eomma. Di sini sangat nyaman, terlebih aku bersama eomma"

Mata musang itu terbuka memperhatikan wajah cantik seseorang yang setia membelai rambutnya. Ah, jadi seperti ini rasanya disayang oleh seorang ibu?

"Kalau begitu kau bisa bersama eomma selama yang kau mau"

Perempuan itu mengulas senyum manis, mengakibatkan Taehyung bangkit dari tidurnya. Dengan sayang laki-laki itu memeluk ibunya sambil tak henti memuji jika tubuh ibunya sewangi bunga lily.

"Kenapa appa tak pernah datang menemuiku, eomma?"

Baekhyun terdiam akan pertanyaan putranya. Tangannya beralih mengelus pipi Taehyung yang sedikit chubby. Matanya menatap lurus mata Taehyung hingga akhirnya kembali tersenyum.

"Dia sangat merindukanmu, tapi tidak bisa menemui mu?"

"Kenapa?"

"Entahlah. Mungkin hanya belum"

"Apa appa sangat tampan?"

"Sangat tampan, tapi jauh lebih tampan dirimu"

"Eiiyy penglihatan eomma memang yang terbaik"

Saat ibu anak itu berbincang sambil sesekali bercanda, tiba-tiba terdengar suara seperti orang yang jatuh. Baekhyun meminta putranya menunggu di tempat sementara ia akan memeriksa.

Kini di dekat ia menghabiskan waktu bersama Taehyung tampak seorang gadis yang mengaduh kesakitan. Telapak tangannya sedikit berdarah hingga gadis itu terisak.

"Kau terluka?"

Dengan telaten Baekhyun berjongkook lantas meraih tangan gadis itu untuk melihat lukanya. Ditiup pelan telapak tangan itu, menimbulkan sedikit sensasi dingin yang nyaman.

"Tidak perlu menangis, ini akan segera sembuh" hibur Baekhyun

"Siapa?"

Satu alis perempuan yang lebih tua terangkat, lantas kemudian ia paham maksud si gadis. Ia mengulas senyum karna tampaknya gadis itu sedikit takut.

"Aku? Hanya seseorang yang tinggal disini"

"Di tengah ilalang?"

Hanya gelengan kepala yang gadis itu dapatkan. Ia semakin bingung sebenarnya tempat seperti apa ini. Padang ilalangnya seperti tidak berujung.

"Sepertinya tempatmu bukan disini" perkataan tersebut membuat si gadis terhenyak

"Bagaimana caranya pulang?" suaranya begitu liri tapi matanya berharap

"Tutup matamu"

Gadis itu menurut, matanya dipejamkan erat hingga sebuah pelukan merengkuh tubuh mungilnya. 'kembalilah, tidak seharusnya kau disini'. Setelah mendengar bisikan tersebut si gadis seperti kehilangan kesadaran.

"Siapa eomma?" Taehyung datang karena sang ibu meninggalkannya sedikit lama

"Hanya seseorang yang tidak seharusnya disini"

.

.

~ BLIND ~

.

.

"Ngghh"

Jihon tersentak dari acara membenarkan infus Jungkook yang berhenti mengalir. Mata rusanya melihat jari adiknya bergerak memberi respon. Dan apa itu tadi? Adiknya memberikan respon suara juga?

Buru-buru ia tekan tombol darurat yang ada di atas ranjang untuk memanggil dokter dan perawat. Dokter segera memeriksa begitu tiba di ruang rawat. Tampak dokter tersebut menghembuskan nafas lega dan menatap berbinar Jihoon.

"Adik anda telah melewati masa kritisnya"

.

.

.

TBC

a/n

Akhirnya bisa fast update hehehe. Kurang 1-2 chapter lagi, jujur aku bingung harus bikin happy ending atau sad ending. Mau bikin sad ending tapi gak tega, kalau happy ending takut kurang greget. Aku sendiri udah punya gambaran dari dua ending itu. Menurut kalian gimana? T_T

Happy reading ya ^_^