CHAPTER 28 (BAGIAN 1)

STILL WITH YOU

.

.

.

~10 tahun kemudian~

Jungkook POV

Paris di musim gugur adalah sesuatu yang terbaik, meski tak banyak waktu yang bisa dihabiskan untuk menikmati pemandangan kota karena hawa dingin bisa menyeruak kapan saja, namun Paris tetaplah Paris yang menyimpan sejuta pemandangan indah di setiap sudut kotanya.

Hari masih begitu pagi, mungkin baru pukul enam ketika kembar tak seiras ku menggedor pintu kamar dengan sedikit brutal. Aku melenguh pelan dalam selimut, tak bisakah Jihoon membiarkan ku istirahat sedikit lebih lama? Padahal laki-laki itu tau jika aku baru terlelap menjelang jam tiga dini hari.

"Hei bangun kau anak malas, jika tidak bangun kau bisa ketinggalan pesawat"

Suaranya semakin nyaring dari waktu ke waktu membuatku dengan sedikit malas meraba-raba ke seluruh area kasur queen size yang kutempati. Apalagi jika bukan mencari ponsel kesayanganku. 06.18 waktu bagian Paris. Apa aku bilang, ini bahkan masih pukul enam. Namun karena aku masih ingat harus ke bandara sebelum tengah hari maka dengan malas aku pun bangun, merenggangkan sedikit otot-otot tubuhku sebelum akhirnya berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.

Aku bukanlah orang yang perlu waktu lama untuk bersiap, itu mungkin dulu tapi sekarang hanya butuh lima belas menit. Begitu aku keluar kamar pemandangan pertama yang terlihat adalah dua anak berusia sembilan tahun sedang menggoyangkan kaki di meja makan, kentara sekali jika mereka sangat bosan.

"Hai twins, aunty kira kalian sudah berangkat"

"Aunty Kookie"

Energi mereka seperti terisi kembali begitu kusapa. Aigo keponakanku ini kenapa sangat menggemaskan. Huiseong, si lebih tua sepuluh menit menggeser duduknya untuk mengosongkan satu kursi untukku. Inginnya mereka aku harus duduk diantara keduanya agar dapat bermanja dengan adil. Kutarik hidung mereka yang mancung secara bergantian untuk memberi salam pagi. Hidungnya sangat mirip dengan Jihoon, mancung dan menggemaskan. Si kembar ini meski mereka tinggal di Paris sejak lahir tapi untuk berkomunikasi orang tua mereka tetap mengajarkan Bahasa Korea sebagai bahasa ibu. Memangnya siapa mereka harus menjadikan Bahasa Prancis atau Bahasa Inggris sebagai bahasa keseharian? Tidak perlu bergaya.

Ketika aku duduk dapat kulihat dari sudut pandangku jika kakak ipar sedang sibuk memasak sesuatu. Rutinitas yang dilakukan ibu dua anak ini ketika si kembar mulai memasuki bangku sekolah. Jika kalian tidak lupa kakak ipar memanglah sangat gemar memasak. Kepindahannya ke Paris pun juga karena memasak, ya walaupun ada hal lain juga tapi itu adalah yang utama. Saat baru menikah jarang sekali ia mau memasak, katanya untuk apa Jihoon punya banyak uang jika tidak dihabiskan. Namun semenjak si kembar masuk bangku sekolah ia ingin anak-anaknya membawa bekal dan dipamerkan ke teman-temannya sehingga mereka bangga memiliki ibu yang pandai memasak. Terkadang aku merasa sungkan jika bangun siang dan tidak membantunya. Tapi ya sudahlah.

"Barangmu sudah kau kemas?"

Jihoon ikut bergabung bersama kami menunggu makanan. Sekarang jika dilihat kakak ipar seperti mengasuh empat orang anak sekaligus.

"Aku sudah mengemasnya sejak tiga hari lalu jika kau lupa"

Laki-laki itu hanya menaikkan bahunya singkat sebagai respon. Jihoon tetaplah Jihoon. Ia akan cerewet sepanjang waktu jika itu menyangkut tentang diriku, bahkan melebihi eomma sendiri. Menanyakan ini itu padahal jelas-jelas ia melihat jika aku sudah menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Ngomong-ngomong soal saudara kembarku ini meski bertambah tua dia masih tetap tampan, harus ku akui itu. Entah karna musim di eropa yang dingin membuatnya awet muda atau bagaimana aku juga tidak tau. Sekarang ia bekerja di salah satu production house terkenal di Paris sebagai penanggung jawab pementasan musikal. Jadi jangan tanya seberapa banyak uang Jihoon oke? Kalian bisa mengira sendiri. Jihoon mewujudkan ucapannya sepuluh tahun lalu untuk membawa Hyeoseob kakak iparku tinggal di Paris dan aku bersyukur meski mereka dijodohkan tapi pernikahan mereka bahagia sejauh ini. Semoga memang bahagia selamanya.

"Ayo kita sarapaaan"

Seperti biasa Hyeoseob akan datang dengan gembira menghidangkan berbagai lauk pauk yang barusaja ia masak. Setiap masakannya terasa begitu enak, mungkin karna dimasak sepenuh hati dan memang perempuan yang lebih tua dariku ini berbakat di bidang tersebut. Kami semua selalu menikmati makanan Hyeoseob tanpa tersisa sebutir nasi pun di piring, mengakibatkan perempuan itu mendesah lega.

"Pukul berapa pesawat mu?" itu kakak ipar yang bertanya setelah menyelesaikan sarapannya

"Akan take off pukul 11.38"

"Kalau begitu setelah aku mengantar si kembar dan absen memeriksa pekerjaanku, kita langsung berangkat"

"Baiklah"

Tidak akan ada gunanya mendebat Jihoon karena kembaranku satu ini begitu protektif. Kulihat si kembar jadi tidak semangat menghabiskan sarapan setelah mendengar jam keberangkatanku. Aku menghela nafas sejenak sebelum akhirnya kuusap rambut mereka bergantian.

"Kenapa cemberut? Sedih aunty akan kembali ke Seoul?"

Dua anak ini masih mengunyah sarapannya dengan pelan hingga akhirnya memelukku erat dari kedua sisi. Astaga aku bisa sesak nafas.

"Janji jika aunty akan kesini lagi, bersama nenek dan kakek"

Itu Euiwoong yang bertanya sambil menatap mataku lekat. Satu bulan tinggal bersama mereka membuat Huiseong dan Euiwoong lebih lengket kepadaku dibanding orang tua sendiri. Apalagi jika kedua orang tua mereka sedang sibuk bekerja, siapa lagi yang akan mengajak bermain jika bukan aku.

"Hmmm.. mungkin libur musim dingin nanti gantian Eui dan Hui yang harus main ke Seoul? Bagaimana?"

Aku menatap Jihoon dengan pandangan mengejek karena berusaha memperngaruhi anaknya untuk pergi ke tanah kelahiranku. Siapa suruh selama sepuluh tahun ini ia tidak mau pulang dan hanya memberi kabar kepada eomma lewat panggilan video.

"Bolehkah appa?"

Lihat sepertinya rencanaku berhasil. Sekarang si kembar hanya akan merengek sampai keinginan mereka terpenuhi untuk bertemu nenek mereka. Jihoon menghembuskan nafas kasar dan mengangguk mengiyakan. Ah, senang sekali melihat kakakku yang tampan ini akan menghabiskan banyak uangnya untuk berlibur.

"YES!"

"Aunty tunggu di Seoul twins!"

Pipi ku menjadi sasaran kegemasan si kembar setelahnya. Kanan dicium oleh Euiwoong dan kiri oleh Huiseong. Setelahnya hanya terdengar teriakan bising mereka berlari semangat mengambil tas sekolah diikuti omelan kakak ipar karena takut anaknya tersandung lalu mengaduh kesakitan. Aku tidak terkejut lagi karena inilah pemandangan normal selama aku menumpang di rumah mereka, dan aku menikmatinya.

.

.

~ BLIND ~

.

.

Taehyung POV

Perjalanan udara selama lebih dari sepuluh jam yang ku tempuh dari Paris ke Seoul begitu membuat punggungku yang tidak lagi muda ini remuk redam. Ingin sekali rasanya segera tiba di rumah dan merebahkan diri di kasur yang sudah sangat kurindukan satu minggu ini.

Saat aku tiba di pintu kedatangan kondisinya memang cukup ramai. Dengan kecepatan sedang aku menyeret koper warna biru langit milikku ke arah pintu keluar. Aku sudah menghubungi orang rumah sebelum penerbangan jika aku akan tiba sekitar sepuluh jam kemudian. Untung sekali penerbangan ini begitu tepat waktu sehingga aku tidak perlu menyiksa punggung ku lebih lama lagi.

Kubenarkan letak kacamata serta masker yang kugunakan sebelum benar-benar menginjak pintu keluar. Meski wajahku tertutup seperti ini aku yakin orang-orang rumah akan mudah mengenaliku walau dalam jarak sepuluh meter sekalipun. Aku ini kan tampan.

"Daddy!II"

Ugh, sepertinya aku tau suara cempreng siapa yang menggema itu. Dari tempatku berdiri aku bisa melihat seorang bocah perempuan enam tahun sedang mencoba berlari ke arahku. Rasa lelah di punggung ku rasanya hilang melihat wajah riangnya meski dari kejauhan. Dengan sedikit terburu akupun mempercepat langkah kaki-ku.

BUGH

"AAWW!"

"Ah maaf, tapi aku terburu"

Sialan. Bukannya membantuku berdiri orang yang barusaja bertabrakan dengan diriku justru menyeret kopernya tergesa. Tubuhnya sedikit mungil jika dibanding dengan diriku yang 180 cm ini. Wanita berambut panjang dengan syal merah itu… Ugh, semoga kita bertemu lagi agar dapat membuat perhitungan.

"Daddy, you ok?"

Bocah perempuan enam tahun yang kusebutkan tadi tampak khawatir melihatku masih terduduk linglung setelah tabrakan. Bahkan tubuh kecilnya mencoba membantuku berdiri.

"Berhenti memanggilku daddy Yoonji, paman akan sulit mendapatkan pacar jika kau terus memanggil seperti itu"

Meski mengomel pada akhirnya aku tetap menggendong Yoonji sejenak dan menimangnya. Wajahnya tampak bahagia setelah seminggu tidak melihatku. Lihat, bahkan kini kedua tangannya sudah merangkul leherku erat dan meletakkan kepalanya di salah satu bahuku.

"Tae kau baik-baik saja?"

"Aku baik paman. Tapi, kenapa menjemputku saja sampai membawa enam orang lainnya? Dan lihat kenapa mengajak Yoonji juga padahal dia sudah sangat mengantuk?"

Orang yang ku ajak bicara hanya mengucapkan maaf sekali lagi dan membantuku membawa koper kemudian. Yoonji sudah terlelap digendonganku. Paman Myungsoo, orang yang menjemputku mengatakan jika Yoonji bersikeras ikut dan tidak mau sekolah jika tidak diijinkan. Aku hanya menghela nafas, siapa sih yang mewariskan sifat keras kepala pada bocah enam tahun ini.

Satu lagi, paman Myungsoo dan enam lainnya yang menjemputku juga membuatku heran. Kenapa menjembut satu orang saja bisa seheboh ini. Namun ketika ku tanya katanya mereka hanya rindu padaku. Omong kosong.

Perjalanan kami dari bandara ke rumah butuh waktu kurang lebih tiga puluh menit. Dengan Yoonji yang masih berada dalam pangkuanku, sesekali aku membenarkan posisinya agar bocah tengik ini nyaman dalam tidurnya. Tak jarang akupun ikut menguap padahal selama di pesawat aku sudah tidur lebih dari dua jam.

"Aku pulang!"

Begitu aku membuka pintu suasana ruang tamu masih begitu terang akibat lampu yang menyala disana-sini. Terdengar langkah kaki menuruni tangga tak lama kemudian hingga akhirnya terlihat sepasang orang tua usia empat puluh tahunan menyambutku.

"Taehyung"

"Eomma"

Tanpa banyak bertanya kuserahkan Yoonji pada si laki-laki dan kini aku memeluk perempuan yang tadi kupanggil eomma tersebut. Perempuan itu memelukku erat sekali seolah sudah lama tidak bertemu, padahal baru seminggu lalu kami melepas rindu.

"Maaf jika Yoonji merepotkanmu"

"Tidak masalah appa, aku maklum karna dia merindukan pamannya yang tampan ini"

Sejujurnya aku masih merasa aneh jika harus memanggil suami eomma ku ini dengan sebutan appa, padahal mereka sudah delapan tahun menikah. Tidak mudah rasanya mengingat hubungan kami belasan tahun sebelumnya tidak lebih dari paman-keponakan.

"Kau pasti lelah, istirahatlah"

Eomma memang mengenalku lebih dari siapapun. Mengabaikan keponakanku yang sedikit menggeliat minta digendong olehku lagi, aku segera menyeret koperku ke kamar sebelum bocah itu merengek lebih jauh. Namun saat melewati lorong langkahku justru terhenti sejenak karena memandang sebuah figura besar yang terpampang disana.

Masih teringat jelas jika sepuluh tahun lalu dinding ini begitu ramai oleh foto-foto dari keluarga yang tersenyum bahagia. Namun sekarang hanya tinggal satu foto tersisa di dinding ini. Foto seorang perempuan cantik yang selalu kurindukan setiap malam.

Puas memandangi foto tersebut aku melanjutkan langkahku menuju kamar. Segera kurebahkan tubuh renta ini pada kasur empuk kesayanganku. Aku harus segera berganti baju lantas kembali menyelami alam mimpi.

Sikat gigi dan cuci muka sudah kulakukan, kini hanya tinggal mengganti baju. Karena malas membongkar lemari maka kuputuskan membuka koper saja dengan maksud hati tinggal mengambil baju yang sudah ada.

Betapa terkejutnya aku ketika baru kubuka bukan bajuku yang ada di koper, melainkan sebuah gaun tidur perempuan berwarna merah menyala. Mataku melotot sambil menarik pakaian kurang bahan itu ke udara. Bagaimana bisa isi koperku berubah seperti ini? Kuperhatikan lagi, ini benar koperku. Model dan warna biru langitnya memang punya ku tapi…

"Shit"

Sekarang aku ingat. Sebelum meninggalkan bandara tadi aku sempat bertabrakan dengan seorang perempuan. Jadi mungkinkah koper berisi gaun kurang bahan ini adalah miliknya? Ah, bagaimana ini. Di dalam koperku banyak sekali berkas pekerjaan yang harus ku selesaikan untuk minggu ini. Sementara sekarang aku sama sekali tidak memiliki petunjuk tentang pemilik koper ini.

Dengan sedikit tergesa kucoba untuk membongkar isi koper. Kumohon maafkan aku jika mata laki-laki ku melihat sesuatu yang tidak seharusnya, namun berkas pekerjaanku jauh lebih penting sekarang.

"Pertunjukan piano?"

Terdapat selembar brosur di koper tersebut saat ku cek. Pertunjukan piano yang akan diselenggarakan esok pukul empat sore. Kucoba untuk mencari petunjuk lain selain brosur tersebut, berharap menemukan sebuah kartu nama milik perempuan itu. Tapi tak ada satupun, tampaknya memang perempuan itu bukan bekerja pada tempat yang membutuhkan kartu nama. Sebenarnya bisa saja aku mengecek daftar penumpang di pesawat yang sama denganku, tapi kurasa itu akan butuh waktu yang lama. Oke tak ada salahnya untuk mengunjungi pertunjukan piano esok hari.

.

.

~ BLIND ~

.

.

Sesuai tempat dan waktu yang tertera pada brosur kemarin malam, kini aku sudah berada di salah satu aula pertunjukan milik pemerintah Kota Seoul. Saat aku memasuki ruang pertunjukan tak banyak orang yang datang untuk aula perjuntukan sebesar ini, mungkin hanya seratusan orang? Aku memilih bangku yang berada di barisan tengah karena menurutku ketika menonton sesuatu bangku tengah adalah yang terbaik.

"Hadirin yang berbahagia hari ini, mari kita sambut pertunjukan dari pemain piano andalan kita yang baru kembali dari Paris. Sambutlah nona Kim Jungkook"

Diriku yang tadinya sibuk memainkan ponsel seketika berhenti begitu mendengar nama yang tidak asing tersebut. Nama yang hampir tidak pernah diungkit lagi selama sepuluh tahun kebelakang. Tapi mungkinkah orang yang akan bermain piano memang Jungkook yang ku kenal selama ini?

Seorang perempuan dengan gaun selutut berwarna salem memasuki panggung. Rambutnya panjang sepunggung dengan sebuah jepit rambut terselip di bagian kiri. Ku akui parasnya memang cantik meski dari samping. Begitu tubuhnya berputar sembilan puluh derajat menghadap barisan penonton aku dapat menatap leluasa paras cantiknya.

"Annyeonghaseo"

Suaranya begitu merdu menembus pendengaranku. Kutatap dengan lamat permainan pianonya dari tempatku duduk. Tangannya terlihat luwes sekali menekan setiap tuts piano yang ada. Bahkan aku yakin jika mata bulat perempuan itu terpejam ia masih bisa memainkan beberapa lagu.

Total ada tiga lagu yang dimainkan oleh pianis cantik itu. Ketika penonton lain bertepuk tangan memberi apresiasi akupun ikut melakukan hal yang sama. Tanpa sadar sudut bibirku juga ikut terangkat menyunggingkan sebuah senyum yang kuyakini begitu tipis.

Usai pertunjukan aku berinisiatif pergi ke belakang panggung, bermaksud minta ijin untuk mendapatkan kontak si pianis tadi. Suasana belakang panggung tidak seramai yang kukira. Hanya ada beberpa perias serta kru yang sibuk mengangkut perlengkapan.

"Permisi, boleh bertanya sesuatu?"

Kuhentikan seorang kru yang kebetulan sedang lewat. Kru itu tampak terkejut namun segera menormalkan ekspresinya tak lama kemudian.

"Bisa saya minta kontak dari pianis bernama Kim Jungkook? Ada sesuatu hal yang harus kami selesaikan tapi aku tidak punya kontaknya"

Alih-alih meminta bertemu aku justru menanyakan kontak pianis itu. Padahal bisa saja aku meminta bertemu sekarang, mungkin saja ia belum pulang dan masalah kami bisa selesai lebih cepat. Tapi entah kenapa rasanya hanya belum siap bertemu saja.

Setelah menimang beberapa saat kru itu akhirnya mau memberiku kontak pianis bernama Jungkook itu. Ku ucapkan terimakasih setelahnya dan akupun bergegas meninggalkan aula pertunjukan.

.

.

~ BLIND ~

.

.

"yeoboseo?!"

Tampaknya perempuan itu memang memiliki kebiasaan menyapa siapapun dengan cara singkat. Saat di panggung dan juga dalam panggilan pun caranya menyapa masih sama persis, membuatku mengulum senyum simpul.

"Halo, dengan nona Kim Jungkook?" berbasa basi terkadang memang diperlukan meski kau sudah mengetahui namanya

"Ya benar, ini siapa?"

Suaranya yang halus terdengar tidak sabaran, pasti ekspresinya sangat lucu sekali di sebrang sana jika kubayangkan. Lagi, aku mengulum senyum.

"Bisakah kita bertemu? Kurasa koper kita tidak sengaja tertukar saat bertabrakan kemarin di bandara"

"Ah benar sekali, astaga aku hampir frustasi mencari informasi tentangmu tuan. Dimana kita bisa bertemu untuk menukar koper?"

Kata kita seolah terdengar begitu akrab padahal intensitas kami bertemu baru kemarin malam dan itupun tidak sengaja. Karena perempuan disebrang sana mengajukan pertanyaan terkait dimana kita bisa bertemu, maka akupun mengusulkan sebuah toko coklat yang sedang ramai dibicarakan anak muda akhir-akhir ini. Kita sepakat bertemu disana dalam waktu satu jam dari sekarang. Segera, aku melajukan mobilku menuju toko coklat yang kumaksud.

Kufikir aku akan tiba disana belakangan daripada perempuan itu karena jalanan Kota Seoul yang sedikit macet menjelang malam hari. Begitu masuk kuputuskan untuk mengambil tempat duduk dekat jendela sebelah pintu masuk. Toko coklat ini memiliki dekorasi vintage yang sangat disukai anak muda jaman sekarang, maka tidak heran jika begitu ramai suasananya. Dan juga ada dua jenis tempat duduk yang disediakan di toko ini. Outdoor untuk yang ingin menikmati ramainya jalanan serta indoor jika ingin suasana lebih tenang.

Pelayan menghampiriku tak lama setelah aku mendudukkan diri. Seperti biasa aku hanya akan memesan brownis serta coklat panas ukuran sedang untuk menemani suasana yang entah kenapa sedikit dingin. Begitu kupandangi langit warnanya sedikit gelap, aku berani bertaruh mungkin beberapa jam lagi akan turun hujan.

Aku duduk lama di toko ini, menunggu si perempuan yang kopernya tertukar denganku. Coklat panasku bahkan tinggal setengah gelas lagi tapi tidak ada tanda-tanda jika perempuan bernama Jongkook itu akan muncul. Sebenarnya, jika boleh jujur aku ingin memastikan suatu hal terhadapnya. Namanya begitu mengusik ingatan masa laluku.

"Itu dia"

Bibirku hanya mengucapkannya begitu pelan hingga aku yakin tak ada yang mendengarnya sekalipun. Perempuan itu datang, perempuan bernama Jungkook. Dari tempatku dapat kulihat jika ia memilih duduk di bagian outdoor. Hal lucunya adalah dia duduk tepat di sebrang kaca tempatku berada, sehingga jika ia menoleh sedikit saja maka mata kami akan saling bertatapan.

Belum juga fikiranku selesai berucap, mata kami saling berpandangan sejenak. Aku yang sedari tadi menatapnya dan ia yang tidak sengaja menoleh. Hanya sebuah senyum manis dari perempuan itu yang diberikan ketika pandangan kami bertemu.

'Dia bahkan tidak mengenaliku saat di bandara, pantas saja'

Pandangan kami terputus begitu seorang pelayan datang dan menanyakan apa yang ingin dipesan oleh Jungkook. Rupanya ia hanya memesan secangkir coklat panas, sama dengan diriku.

"Apa dia belum datang?"

Jungkook terlihat celingukan mencariku sambil sesekali menggerutu. Sementara aku yang sedari tadi duduk disini hanya dapat tersenyum simpul.

Mataku kini terfokus pada apa yang dikenakan oleh perempuan itu. Baju dan tatanan rambutnya masih sama dengan terakhir kali kulihat di pertunjukan. Sepertinya Jungkook belum sempat mengganti pakaiannya. Tapi dari sekian banyak aksesori yang ia gunakan aku justru salah fokus dengan gelang miliknya. Terdapat dua untaian gelang yang sama persis melingkar di pergelangan tangan kiri Jungkook.

"Jadi benar itu kau?"

Coklat panasku sudah habis dan brownis tinggal setengah saja. Suasana hatiku berubah dalam hitungan detik, bahkan aku yakin tatapanku kini juga berubah sendu. Sekarang ingin sekali rasanya keluar toko dan menyapanya barang sejenak, tapi kaki ku rasanya seperti di lem.

Oh, perempuan itu men-dial sebuah nomor yang mengakibatkan ponselku bergetar beberapa detik kemudian. Aku meliriknya sekilas dari balik kaca hingga akhirnya kubalik ponselku sebelum sadar jika ponsel orang di seberang kaca ini bergetar saat ia membuat panggilan.

Perempuan itu mendesah pelan, mungkin juga mulai bosan. Tak jarang kedua tangannya yang mungil saling mengusap karena hawa dingin. Satu jam. Selama satu jam tak ada niatan dariku untuk menghampirinya dan Jungkook juga masih setia menunggu di luar kaca.

Setelah berfikir cukup lama dan sedikit tidak tega juga, pada akhirnya kuputuskan untuk menemui perempuan itu. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat tapi aku yakin bagaimanapun kita perlu untuk bicara.

Barusaja tanganku hendak meraih handle pintu toko tiba-tiba saja hujan lebat mengguyur Seoul. Aku berhenti sejenak di tempatku, menatap buliran air hujan yang turun dengan derasnya. Saat aku tersadar Jungkook sudah berlari ke sebrang jalan dengan sebuah payung yang melindungi dirinya dari tetesan air hujan. Aku mendesah pelan.

"Tampaknya semesta belum merestui kita untuk bertemu"

.

.

.

TBC

A/N :

Hai hai, aku balik bawa update-an. Chapter 28 bakal aku bagi jadi dua bagian ya. Dan juga di chapter ini aku bakal coba pakai sudut pandang orang pertama entah kenapa, karena aku ngerasa bakal lebih kerasa aja feel-nya. Semoga kalian nyaman dengan sudut pandang orang pertama ini.

Kurasankan pas baca ini sambil dengerin lagu Jungkook – Still With You karena aku terinspirasi buat chapter ini dari lirik lagu itu wkwkwk.

Hope you like it dan semoga gak makin aneh aja ya. Aku perkirakan satu chapter lagi ini bakal bisa tamat. Jangan lupa vote dan comment-nya readers deul ^_^