CHAPTER 28 (BAGIAN 2)

STILL WITH YOU

.

.

.

Jungkook POV

Langit begitu gelap tatkala aku menginjakkan kaki kembali di Seoul setelah satu bulan lamanya. Harus ku maklumi karna ini sudah hampir tengah malam, tapi aneh saja rasanya tak ada satupun bintang di atas sana. Ah, mungkin karna ini musim penghujan.

Sepanjang perjalanan aku tertidur lelap akibat jetlag, membiarkan paman Hoseok yang mengemudi disampingku ditemani alunan musik dari radio sendirian. Ada sedikit rasa bersalah tapi tubuhku benar-benar tak bisa diajak kompromi terlebih perjalanan dari bandara ke rumah begitu memakan waktu.

"Terimkasih paman"

Aku mengeluarkan koperku dari bagasi mobil paman Hoseok, membungkuk sebentar sebagai tanda terimakasih lalu menunggunya hilang dari pandangan hingga berbelok di rumah yang persis berada di samping kanan rumahku. Paman itu… dia adalah tetanggaku sekarang.

Saat akan kuseret koperku menuju rumah pandanganku tak sengaja tercuri karena sebuah siluet seseorang di balkon atas. Seorang perempuan dengan pakaian hangat tampak tersenyum menatapku dari atas sana. Sepertinya dia melihatku sejak menuruni mobil tadi.

"Eomma!"

Tanganku melambai semangat di udara dan tanpa menunggu lama aku berlari masuk ke dalam rumah, membiarkan koperku tergeletak begitu saja di ruang tamu yang berukuran lima kali lima meter persegi. Biarlah toh tidak ada barang penting yang begitu terburu untuk dipakai, aku akan merapikannya besok. Kaki ku menaiki tangga kayu tak sabaran, memutar knop pintu hingga pembatas itu terbuka dan membiarkanku melihat sosok perempuan yang begitu kurindukan satu bulan ini.

"aku sangat merindukan eomma"

Kupeluk erat tubuhnya yang kian hari makin kurus tapi tetap hangat rasanya. Sungguh aku sudah memarahinya untuk makan banyak karena uang kiriman Jihoon yang berlimpah tapi eomma sungguh bebal dan hanya makan kimchi saja setiap hari.

"Bagaimana keadaan Jihoon?"

"Anak perempuan eomma ada disini sekarang, kenapa harus menanyakan anak laki-laki itu"

Eomma tampak tertawa mendengar aku merajuk, katanya memuakkan, tapi kan aku memang seimut itu ketika merajuk. Astaga Kim Jungkook memang narsis.

"Jadi bagaimana keadaan anak laki-laki eomma?"

"Tentu saja dia semakin gendut, kakak ipar tak pernah telat memasak sekalipun"

"Pasti cucu eomma juga begitu"

"Hu'um"

Kami terkikik membahas banyak hal terkait Jihoon dan anak-anaknya. Bagaimanapun juga Jihoon yang tidak pernah pulang selama sepuluh tahun terakhir membuat eomma diam-diam selalu memikirkannya. Maka dari itu aku maklum saja ketika eomma memberi perhatian lebih pada Jihoon.

"Hari ini eomma tidur denganku ya? Aku rindu sekali tidur dengan eomma"

"Baiklah dan akan eomma pastikan besok kau bangun pagi sekali karna memang kita harus berangkat pagi-pagi"

Bukannya aku terlalu manja di usiaku yang bahkan hampir dua puluh delapan ini. Semenjak kami hidup berdua mau tidak mau kami harus saling mengandalkan. Tidak bisa sepenuhnya juga bergantung pada paman Hoseok meski dia tinggal di sebelah rumah. Karena kami… sudah bukan siapa-siapa meski paman bersikeras tetap menjaga.

Malam ini kulalui dengan berbagi cerita kembali dengan eomma sebelum akhirnya terlelap ke alam mimpi. Hari esok mungkin akan menjadi kisah baruku setelah kembali dari Paris, maka akupun harus mempersiapkan diri sebaik mungkin.

.

.

BLIND ~

.

.

Semerbak harum masakan tercium memenuhi seisi rumah begitu aku menuruni tangga. Untuk hari ini aku hanya menggunakan celana kain hitam dipadu blouse potongan sederhana karena memang tidak akan pergi ke acara formal. Kulihat paman Hoseok sudah duduk manis menyantap masakan eomma di meja makan. Laki-laki itu juga tampak berpakaian biasa saja padahal biasanya akan tampil sangat rapi.

"Sejak kapan paman tiba disini?"

"Semenjak masakan noona masih diaduk dalam panci"

Aku ber-oh ria lantas ikut bergabung bersamanya. Kuambil secentong nasi serta menambahkan beberapa lauk pauk yang sama seperti paman Hoseok. Tak lama kemudian eomma bergabung bersama kami setelah menyelesaikan acara membuat telur gulung.

"Makan yang banyak, masih banyak lauk yang kumasak hari ini jika kurang"

Wajah eomma tampak lebih berseri dari biasanya, bahkan sejak pagi sudah berdandan cantik sekali hanya untuk masak di dapur. Sebenarnya aku maklum saja karena eomma akan menyambut seseorang yang begitu dirindukan, tapi tetap saja lucu rasanya melihat eomma seperti anak remaja lagi. Eomma ku telah kembali ke gaya-nya yang modis seperti dulu

Usai sarapan dan mencuci piring kami bergegas meninggalkan rumah. Seperti biasa paman Hoseok yang akan menjadi sopir kami kemanapun ingin pergi. Awalnya eomma ingin pinjam mobil saja pada paman dan menyetir sendiri tapi laki-laki yang sama tua dengannya itu tak mengijinkan eomma sama sekali untuk menyetir. Sia-sia saja eomma punya surat ijin mengemudi.

"Kita sampai"

Kami semua turun dari mobil dan berjalan mendekat ke arah bangunan yang lumayan luas namun terkesan sedikit tua. Di atas bangunan itu terdapat tulisan besar yang siapapun dapat membacanya dalam radius puluhan meter. 'Penjara Distrik Seoul'.

Aku menarik nafas dalam. Bagaimana ya menjelaskannya, ada rasa gugup sekaligus senang dalam hatiku. Kulirik sekilas eomma yang ada di sebelah kiri dan ia tampak lebih gugup daripada aku. Tangannya yang tak memegang apapun tampak bertaut resah dan bibirnya tak berhenti menghembuskan nafas kekhawatiran.

'CEKLEK'

Salah satu pintu di ujung bangunan tampak dibuka dan seseorang dengan pakaian sederhana dilapisi jaket tebal barusaja keluar didampingi seorang sipir. Mereka berdua terlihat mengucapkan beberapa patah kata hingga si laki-laki berjaket menatap kami lamat. Pandangan kami semua bertemu dengannya.

Aku adalah orang pertama yang berlari menghambur dalam pelukannya. Laki-laki itupun menyambutku hangat. Bahkan kini tubuh tegapnya memelukku begitu erat seolah menyalurkan kerinduan yang selama ini kudambakan.

"Appa" ujarku pelan

Laki-laki itu hanya menjawab 'ya, appa disini' ketika satu kalimat dariku terucap. Pelukanku semakin erat seiring bertambahnya waktu karena sebesar itulah rasa rinduku padanya. Bahkan hingga sekarang aku masih tidak tau persis apa yang membuat ayah masuk penjara. Semua orang bungkam ketika ku tanya, selalu saja hanya karna kematian kakek. Memang begitu adanya bahkan di media pun sama tapi ada rasa yang mengganjal seolah masih ada yang disembunyikan karena aku tau betul ayah tak akan membunuh tanpa sebab.

"Hyung"

Kini gantian paman Hoseok yang memeluk ayah sebagai sambutan. Mereka saling memeluk dan menepuk pundak sebagai salam rindu. Dan juga semenjak kami pindah ayah dan paman sepakat untuk tidak memanggil dengan sebutan formal lagi.

"Kau menjaga istri dan anakku dengan baik?"

"Kujaga mereka dua puluh empat jam seperti perintahmu"

Mereka tertawa bersama seperti sahabat lama. Lega sekali rasanya menatap satu persatu mulai kembali pada tempatnya. Semua orang dapat tersenyum tanpa harus memikirkan beban yang harus ditanggung.

Terakhir adalah giliran eomma. Sedarai tadi aku tau bahwa ia menahan diri untuk tidak memeluk appa. Kini perempuan yang masih cantik di usia lima puluhnya itu memeluk erat ke arah appa. Pelukannya lebih erat dari siapapun, dan orang lain juga dapat melihat jika diantara kami bertiga eomma lah yang menahan rindu paling berat. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menyaksikan orang terkasihnya terkurung dibalik jeruji besi dan hanya dapat mengobrol dengan waktu terbatas.

"Joonie, m-maafkan aku"

"Sudahlah"

Seperti yang sudah aku katakan jika tak ada satupun yang memberitau akar dari semua masalah appa sampai di penjara. Berulang kali kudengar eomma mengatakan maaf dan itu seharusnya adalah salahnya dan appa hanya akan menyahut seperti yang sudah sudah. 'semua sudah berlalu' katanya.

Aku terkejut ketika tanganku diraih oleh paman Hoseok. Kupandang sejenak raut mukanya yang selalu tampak ceria itu. Tanpa mengucap kata bibirnya bergerak mengajakku untuk meninggalkan dua orang yang saling rindu. Paham dengan situasi akupun mengikuti ajakan paman Hoseok untuk berjalan-jalan sebentar, memberikan waktu pada kedua orang tua ku.

.

.

~ BLIND ~

.

.

Hari-hari sepiku selama sepuluh tahun hanya kulalui dengan bermain piano karena memang itu keahlianku. Bahkan karena terlalu menyukai piano aku sempat berkuliah mengambil jurusan music beberapa tahun lalu. Mungkin sedikit terlambat tapi tak masalah daripada tidak sama sekali.

Bisa dibilang keahlian ku bermain piano adalah sebuah bakat yang tidak dapat dielakkan. Aku bersyukur sekali dahulu eomma bersikeras memasukkan ku ke akademi music dan mengambil spesialis piano meski aku memiliki keterbatasan. Hasilnya, kini aku bahkan bisa bermain piano meski dengan mata terpejam.

Penampilan panggung di atas aula pertunjukan adalah satu dari rutinitasku sebagai pianis. Kebetulan aku bergabung club piano selama setahun terakhir dan mereka akan mengadakan pertunjukan untuk pemerintah Kota Seoul di minggu terakhir tiap bulan. Rasanya hari ku menjadi sangat produktif beberapa tahun ini.

"yeoboseoyo?!"

Sebuah panggilan tak dikenal masuk, menyebabkan aku yang hendak berbenah setelah pertunjukan mengernyitkan dahi. Hatiku bimbang harus ku angkat atau tidak. Belakangan ini sering sekali panggilan iseng menawarkan asuransi masuk dan itu cukup menyita tenagaku untuk meladeni setiap tawaran dari mereka. Tapi akhirnya ku angkat juga.

"Halo, dengan nona Kim Jungkook?"

Wah, aku semakin yakin jika orang yang menelfon adalah pihak asuransi hendak menawarkan berbagai macam paket jaminan.

"Ya benar, ini siapa?"

Bagaimanapun aku hidup di tanah kesopanan, maka sebisa mungkin ku jawab dengan nada lembut. Jika orang di seberang peka maka dia akan tau jika aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni tawaran asuransi.

"Bisakah kita bertemu? Kurasa koper kita tidak sengaja tertukar saat bertabrakan kemarin di bandara"

Astaga bagaimana aku bisa tidak kefikiran. Koper malangku… Aku bahkan baru sadar jika koperku tertukar tadi pagi setelah menjemput appa. Konyol memang koper kami tertukar karena sebuah tabrakan bodoh.

Tanpa berfikir panjang aku bertanya dimana kita dapat bertemu dan laki-laki di sebrang sana mengusulkan bertemu di toko coklat. Tidak buruk mengingat cuaca dingin maka aku bisa menyesap coklat hangat nantinya. Kita sepakat bertemu satu jam dari sekarang.

"Semoga orang itu tidak membongkar koperku lebih jauh"

Aku yakin pipi ku sudah bersemu merah sekarang. Koperku tertukar dengan milik laki-laki dan tidak mungkin laki-laki itu tidak membongkarnya. Buktinya ia bisa sampai menghubungiku. Ah, malu sekali jika ia sampai menemukan baju-baju tidurku yang lebih mirip lingerie.

Untuk menuju ke toko coklat aku pilih menggunakan taksi karena tidak banyak waktu tersisa untuk naik bus. Bahkan aku tidak sempat berganti baju.

Jalanan Seoul di sore hari ternyata lebih macet dari dugaanku. Kulirik sekilas jam di pergelangan tangan dan sial sekali aku sudah terlambat sepuluh menit. Semoga orang itu sabar menunggu dan tak sedang memiliki acara.

Setibanya di toko coklat yang dimaksud, aku terkesima dengan tampilan dari bangunan minimalis itu. Ada dua tempat untuk menikmati coklat di toko ini yaitu indoor dan outdoor. Kuputuskan untuk menunggu di bagian outdoor saja karena memandang jalanan Seoul yang sedikit ramai memberikan sedikit hiburan untukku.

Tempat dudukku berada tepat di samping kaca yang mengarah langsung ke bagian indoor. Saat aku menoleh pandanganku tanpa sengaja beradu dengan seorang laki-laki yang kebetulan sedang menikmati secangkir coklat panas dan juga brownis.

Laki-laki itu cukup tampan, membuat pandanganku terkunci beberapa detik dibuatnya. Matanya setajam musang menatapku hangat, mengakibatkan senyumku terbit tanpa kusadari. Dan… Oh kenapa jantungku berdetak lebih cepat?

Pandangan kami terputus setelah pelayan datang menawarkan beberapa menu andalan. Aku bersyukur karena jika tidak aku tidak tau apa yang akan terjadi pada jantungku. Bisa saja aku kena serangan jantung. Kuhembuskan nafas kasar sambil membuka menu. Sejujurnya aku bingung mau pesan apa sampai akhirnya asal bicara memesan coklat panas.

Tidak butuh waktu lama hingga coklat panas ku datang. Akupun menunggu dengan sabar orang yang menelfonku tadi. Ku kira aku sudah terlambat ternyata orang itu belum muncul juga tampaknya. Justru sekarang perhatianku sedikit terusik oleh laki-laki di seberang kaca karena aku tau dia sesekali mencuri pandang padaku. Ya ya aku tau aku cantik tapi jangan memandangku seperti itu astaga.

Menit demi menit berlalu sampai tanpa terasa satu jam telah terlewati. Bodohnya aku malam itu langsung kabur begitu saja setelah menabrak orang tanpa memperhatikan wajahnya sedikitpun. Pengecut. Pandanganku mengedar ke area indoor toko sambil mengusap sedikit tangan sesekali karena hawa dingin, siapa tau orang itu sudah datang tapi tidak melihatku. Namun sepertinya tidak ada yang terlihat menungguku, semua orang datang berpasangan atau bergerombol kecuali… seorang di seberang kaca yang sedari tadi kutau mencuri pandang. Orang aneh.

Karena langit sudah mulai gelap kuputuskan untuk menelfon orang itu saja. Lagipula kenapa tidak ada inisiatif dari orang itu untuk menghubungiku sih jika memang terlambat hingga satu jam. Nada sambung terdengar beberapa kali tapi tak ada satupun yang diangkat. Suasana hatiku jadi buruk. Kulirik coklat panas milikku dan tinggal sedikit saja.

Sudahlah. Aku sudah malas menunggu lebih lama. Berbicara dengan suasana hati buruk tak akan membantu apapun nantinya. Orang yang tidak memberi kabar seperti ini membuatku kesal karena terkesan tidak menghargai waktuku sama sekali. Apa orang itu ketiduran? Haish

TES

TES

TES

Rintik hujan turun satu persatu semakin deras. Hatiku sedikit bimbang haruskah menunggu lebih lama atau pulang saja. Kepalaku celingukan ke arah bagian indoor dan disana terlihat penuh orang yang pindah lebih dulu dariku.

"Ah sudahlah, pulang saja"

Setelah bermonolog aku mengembangkan payung yang untung selalu kubawa disaat musim hujan seperti ini. Lampu lalu lintas tampaknya juga memberkati rasa kesalku, buktinya lampu untuk pejalan kaki berubah hijau. Segera aku berlari menyebrang ke arah lain untuk menuju halte yang tak jauh dari tempat ku saat ini.

.

.

~ BLIND ~

.

.

"Aku pulang!"

Tidak ada sahutan begitu aku memasuki rumah. Kemana perginya semua orang? Apa eomma dan appa sedang keluar? Tapi jika memang demikian kenapa tidak memberi kabar bahkan pintu rumah juga tidak dikunci. Difikir paman Hoseok yang tinggal disebelah akan selalu tau jika ada orang masuk rumah.

Bajuku sedikit basah karena beberapa kali terciprat genangan air yang terbang akibat ulah pengendara mobil tidak tau diri saat aku berjalan menuju halte. Mood ku jadi sedikit buruk karena hal tersebut. Kuputuskan untuk segera mandi, ganti baju dan tidur setelah ini karena hari sudah petang juga. Sebelum itu tenggorokanku yang haus membuat kaki ku melangkah menuju dapur. Niat hati ingin mengambil minum tapi yang kutemukan justru hal lain.

"Ups, maaf. Aku tidak lihat apapun"

Perkataan Jihoon soal eomma dan appa yang tidak tau tempat saat bermesraan rupanya memang benar. Ugh, ini pertama kaliku memergoki mereka, apakabar dengan Jihoon selama ini mungkin sudah puluhan kali.

"Kenapa eomma tidak dengar saat kau pulang Kook"

"Aku sudah memberi salam, tapi tampaknya kalian saja yang tidak dengar hehe"

Canggung? Tentu saja. Aku seperti penjahat yang mengganguu moment mereka. Argh rasanya ingin menenggelamkan diri saja di bak mandi. Bahkan lihatlah eomma yang saat ini sibuk membenarkan tiga kancing teratasnya. Sementara appa? Aku tidak heran jika ia tetap tenang seperti biasa bahkan masih mengecup pipi eomma tanpa malu. Dasar orang tua.

"Kau kehujanan? Kenapa tidak minta appa menjemputmu?"

Sekarang appa beralih ke arah pantry dan menuangkan sedikit air ke gelas untuk kemudian diserahkan padaku. Appa peka sekali aku sedang haus. Antara peka dan segera ingin mengusirku sebenarnya. Entahlah tapi aku bersyukur.

"Hujan turun mendadak appa, jika minta untuk dijemput mungkin aku akan lebih basah"

"Lain kali telfon appa karena sekarang appa bisa menjemputmu 24/7"

"Arraseo. Aku akan ganti baju dan kalian bisa teruskan yang tadi"

Aku cekikikan mengatakannya. Selama hampir dua puluh delapan tahun hidupku mungkin ini pertama kalinya aku berani bicara segamblang itu pada appa. Biasanya aku hanya akan berbicara padanya ketika makan malam saja. Namun semenjak semua berubah komunikasi antara kami menjadi lebih baik. Appa kembali seperti sosok yang ku kenal ketika masih kecil. Sosok yang begitu perhatian padaku dan akan cerewet jika aku merengek sesuatu.

"Semakin kulihat Jungkook semakin cantik ya Jin?"

"Tentu saja, kau lupa ibu primadona sekolah"

Dari tempatku menaiki tangga aku sayup-sayup dapat mendengar obrolan kedua orang tuaku. Tak seharusnya memang mencuri dengar tapi kan memang tidak sengaja terdengar. Appa… kemana saja kau selama ini baru menyadari putri mu ini memang cantik secantik Seokjin eomma.

BLAM

Pintu kamar tanpa sengaja tertutup sedikit keras. Pakaianku yang sedikit basah buru-buru kulepaskan dan kulempar ke arah keranjang cucian. Dengan handuk kimono aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Aroma sabun mawar dan sampo senada ku gunakan untuk memanjakan tubuhku hari ini.

Hampir satu jam lamanya kuhabiskan hanya untuk membersihkan diri. Jika Jihoon tau dia pasti sudah mengomel dan menggedor pintu kamar mandi dengan keras. Tubuhku masih berbalut handuk kimono yang kubawa tadi dan rambutku yang basah kubalut dengan handuk lainnya.

Saat hendak mengambil pakaian di lemari, tanpa sengaja tanganku menyenggol sebuah kotak kecil yang kuselipkan jauh di lemari. Kotak itu sedikit terbuka akibat benturan. Dapat kulihat sepucuk surat menyembul dari balik kotak.

Aku sudah tau bahkan sangat hafal diluar kepala apa yang tertulis di surat tersebut. Tapi entah kenapa setiap melihatnya terselip sebuah candu untuk sekedar membacanya. Padahal jika difikir aku begitu membenci isi surat tersebut.

'Maafkan aku dan mari bertemu lagi suatu hari nanti. Tidak sebagai tuan putri dan bodyguard tapi sebagai aku, Kim Taehyung yang mencintai Kim Jungkook. Ya, aku akan menemui mu bukan sebagai Taehyung tapi sebagai seseorang yang memiliki nama Kim di depan namaku'

Mataku tak lepas memandang setiap kalimat di surat yang sudah berusia sepuluh tahun ini. Sepuluh tahun lalu eomma bilang menemukan surat ini di kamar mantan bodyguardku. Sedikit bersyukur sebenarnya saat eomma yang menemukan, setidaknya bukan Jihoon atau laki-laki itu akan langsung merobek surat ini mengingat hubungan antara Taehyung dan Jihoon tidak begitu baik.

Ngomong-ngomong soal Taehyung, bagaimana kabarnya saat ini? Itu adalah salah satu hal yang masih sering kupertanyakan sepuluh tahun belakangan. Jujur aku sangat membencinya ketika memoriku memutar kenangan dimana dia meninggalkanku tanpa sebab di taman waktu itu hingga aku hampir meregang nyawa untuk kedua kali setelah masa kecilku.

Namun jauh dilubuk hati yang paling dalam aku terkadang, atau mungkin masih sering merindukannya. Rasa yang orang sebut cinta memang tidak dapat dikontrol kadang-kadang. Muncul begitu saja tidak tau tempat dan waktu. Bahkan melihat tanganku yang terbalut gelang pemberiannya saja bisa membuatku rindu pada Taehyung. Dan soal kenapa aku yang tidak melepaskan gelang pemberian Taehyung meski aku membencinya adalah karena aku benar-benar mempercayai perkataan laki-laki itu jika gelang ini membawa keberuntungan.

Saat aku lima tahun dulu, aku selamat ketika memakai gelang ini, dan sepuluh tahun lalu hal sama juga terjadi. Tidak menutup kemungkinan jika akan ada keajaiban-keajaiban berikutnya yang menghampiriku. Haruskah aku bersyukur karena kecelakaan sepuluh tahun lalu aku menjadi bisa melihat indahnya dunia lagi?

"Kau… apakabar?"

Kurebahkan diriku sesaat di kasur queen size milikku meski masih menggunakan handuk. Mataku terpejam sejenak dan bayangan Taehyung selalu muncul. Aku tidak tau apa yang terjadi tapi sagat mengusik ketika hal seperti ini terjadi semakin sering beberapa bulan terakhir.

.

.

~BLIND~

.

.

Taehyung tiba di mansion saat malam sudah begitu larut. Tidak ada seorang pun yang masih terjaga ketika dia masuk. 'Mungkin semua sudah tidur'. Maka dari itu Taehyung memutuskan menuju kamarnya saja.

Malam boleh sudah larut namun mata laki-laki itu belum ada rasa ingin diajak menghitung domba dalam alam mimpi. Akhirnya karena tidak tau harus melakukan apa Taehyung memilih duduk seorang diri. Hanya duduk dan memandangi langit tanpa minum ataupun bermain ponsel.

CEKLEK

Pintu kamar Taehyung dibuka oleh seseorang dan ketika menoleh ternyata pelakunya adalah Jimin. Laki-laki itu masuk dengan sebotol soju di tangan kiri dan tangan kanannya memegang dua gelas sloki.

"Ternyata benar kau belum tidur"

Kursi di balkon Taehyung hanya sebaris panjang, mau tak mau dia harus menggeser duduknya guna memberi ruang pada Jimin.

"Bagaimana paman bisa tau? Tidak ada seorang pun ketika aku masuk"

"Bukannya tidak ada, kau hanya tidak melihatku"

Jimin mungkin sudah menikah dengan Yoongi namun aneh saja rasanya untuk Taehyung jika harus memanggil laki-laki itu dengan sebutan ayah. Dengan segala kesepakatan akhirnya mereka setuju membiarkan satu hal yaitu Taehyung boleh tetap memanggil Jimin dengan sebutan paman.

"Ada masalah?"

Gelas sloki yang dibawa Jimin tadi diisi penuh oleh soju. Taehyung menenggak soju itu tanpa ragu diikuti Jimin kemudian. Laki-laki dua puluh delapan tahun tersebut tidak langsung menjawab. Masih pada keterdiaman memandang langit malam.

"Mau rokok?"

Taehyung tak menolak tawaran Jimin yang memberinya sepuntung rokok. Yang terpenting tidak ada yang saling mengadu pada Yoongi maka mereka berdua akan aman dari omelan perempuan tersebut. Tak masalah sesekali menyesap nikotin untuk menenangkan fikiran dan memang itu yang biasanya Taehyung lakukan.

Asap rokok dari kedua laki-laki yang menikmati nikotin itu mengepul, menghiasi kosongnya cuaca malam yang dingin. Dengan sabar Jimin masih menunggu Taehyung buka suara sambil menikmati soju hingga tinggal tersisa setengah.

"Paman masih ingat dengan Jungkook?"

"Nona muda keluarga ini?"

"Ya, dulu"

"Kenapa?"

Ada jeda cukup lama untuk Taehyung kembali menjawab pertanyaan dari Jimin. Satu kepulan asap mengepul di udara saat Taehyung kembali menghisap rokok.

"Aku… bertemu dengannya. Hari ini"

UHUK UHUK

Sial. Jimin langsung tersedak asap rokok begitu mendengar penuturan Taehyung. Bertemu Jungkook? Tapi bagaimana bisa? Bahkan dirinya dan Yoongi tidak pernah bertemu kembali dengan keluarga Kim selama sepuluh tahun.

"Bagaimana bisa?" itu satu dari sekian banyak pertanyaan yang sudah Taehyung antisipasi akan ditanyakan oleh Jimin.

"Terjadi begitu saja. Kami bertabrakan saat dibandara kemarin, dan begitu kutemui ternyata itu memang dia. Kim Jungkook"

"Waaah dunia ini sempit sekali"

"Benar bukan? Aku juga merasa seperti itu"

Dua laki-laki beda usia itu tertawa sinis meratapi betapa konyolnya dunia bekerja. Namun setelah mengalami sendiri Taehyung jadi benar-benar tau se-sempit apa dunia ini. Jika dahulu eommanya bisa bertemu kembali dengan Kim Namjoon meski sudah kabur ke pelosok Seoul, sekarang giliran dirinya yang kembali bertemu masa lalu saat sepuluh tahun sudah terlewati.

"Tapi ngomong-ngomong paman, sepuluh tahun ini…."

"Ya?" alis Jimin naik sebelah

"Apa saja yang sudah terjadi selama sepuluh tahun ini? Kalian mungkin sudah menceritakan semuanya. Setidaknya begitulah yang paman dan eomma katakan. Namun yang membuatku bertanya adalah… Jungkook dapat melihat sekarang. Ada yang kalian sembunyikan bukan?"

Orang tua terkadang memang seperti itu. Meski mengaku sudah mengatakan semua tanpa tersisa tapi Taehyung yakin masih ada beberapa cerita yang tidak diberitaukan kepadanya selama sepuluh tahun.

"Aku harap paman jujur karena kita bicara sebagai sesama orang dewasa kali ini" tukas Taehyung.

.

.

.

TBC

A/N :

Udahlah aku gak mau janjiin kurang berapa chapter lagi. Kukira 1-2 chapter bakal end ternyata masih banyak yang butuh diklarifikasi hahaha.

Enjoy, jangan lupa vote dan komennya ya ^_^