CHAPTER 28 (BAGIAN 3)
STILL WITH YOU
.
.
.
Rintik hujan masih membasahi tanah meski sudah hampir seharian turun dengan derasnya. Mansion keluarga kim terasa hampa tidak seperti biasanya, jika hari-hari pada umumnya mansion itu akan diliputi pertikaian ataupun canda tawa, sekarang keadaan mansion lebih seperti rumah kosong meski banyak penghuni yang tinggal. Para pekerja masih tampak mengenakan pakaian hitam, pertanda ikut berkabung setelah kematian mendadak dari tuan besar.
Dan sinilah Yoongi berada, di depan mansion keluarga kim yang selama ini selalu menjadi momok menakutkan hampir dua puluh tahun hidupnya. Perempuan itu mengenakan pakaian yang sama seperti para pekerja, bagaimanapun juga Yoongi masih tau sopan santun untuk ikut berkabung meski sangat membenci orang yang barusaja meninggal. Rambutnya yang tidak terlalu panjang diikat rendah rapi. Perempuan itu menatap mansion cukup lama hingga dibuyarakan oleh sebuah suara.
"Kau yakin ingin membicarakan hal itu sekarang?"
Jimin sedari tadi ada dibelakang si perempuan sambil memegang payung agar mereka tidak kehujanan. Laki-laki itu sedikit khawatir dengan kondisi yang terjadi saat, kedua belah pihak sedang memperjuangkan anak masing-masing. Keadaan sensitif diantara mereka bisa saja menyulut bom waktu.
"Jika tidak sekarang mungkin keadaan akan lebih buruk nantinya"
Baiklah, Jimin mengalah dengan keputusan Yoongi. Selepas meminta ijin pada satpam untuk bertemu tuan rumah mereka diijinkan masuk. Dari pintu masuk Yoongi dapat melihat jika Seokjin hanya duduk termenung ditemani oleh anak sulungnya. Tatapan perempuan itu tampak kosong dan kantung matanya sedikit menebal dari biasanya. Tak banyak riasan seperti biasa perempuan itu gunakan.
"Aku turut berduka atas apa yang menimpa keluarga ini eonni"
Itu merupakan kalimat pertama yang Yoongi ucapkan setelah mendudukkan diri di hadapan Seokjin. Sayangnya tak ada respon seperti yang Yoongi bayangkan.
"Bibi, aku minta maaf, tapi keadaan eomma belum stabil. Bisakah bibi-"
"Bisa tinggalkan kami berdua?"
Ucapan Jihoon terpotong oleh kalimat Seokjin. Untunglah anak itu pengertian sehingga dengan sopan Jihoon mengajak Jimin pergi ke sudut lain di mansion, hendak memberikan sedikit privasi pada dua perempuan yang ingin berbicara.
"Kejadian di rumah sakit tempo hari, aku sungguh minta maaf. Aku kurang sopan karena terbawa emosi"
"Jika hanya itu yang ingin kau katakan lebih baik pulanglah Yoongi"
Seokjin bukanlah perempuan yang sensitif, namun apa yang menimpa belakangan sepertinya begitu mengguncang perempuan dua anak tersebut. Hampir saja Seokjin meninggalkan ruang tamu jika Yoongi tidak sigap menahan tangannya.
"Aku punya donor mata untuk putrimu"
Satu kalimat dari Yoongi sukses membuat Seokjin berhenti dan menoleh tajam pada yang lebih muda. Sekarang suasana hatinya tidak hanya buruk namun juga tercampur emosi.
"Donor mata? Kau ingin membunuh putriku dengan kondisinya saat ini? Bahkan anjing saja tidak lebih gila daripada dirimu Min Yoongi!"
"Mari saling jujur jika eonni juga menginginkan hal tersebut"
"Sebagai seorang ibu tentu aku menginginkannya. Tapi setidaknya aku tau waktu kapan harus membicarakan hal konyol seperti ini"
Daripada semakin emosi dan melampiaskan pada hal yang tidak-tidak Seokjin memilih pergi dari ruang tamu. Namun Yoongi tak kalah gigih jika sudah memiliki tekad. Maka perempuan itupun menyusul Seokjin dan menghadangnya ketika hendak menaiki tangga.
"Aku membicarakn ini sebagai seorang ibu"
"Ibu kau bilang? Bahkan kau tidak pernah melahirkan"
Yoongi mengepalkan dua tangannya kuat. Seokjin yang tidak stabil membuat setiap ucapannya menorehkan luka dihatinya. Ia fikir Seokjin orang baik, namun sepertinya ia lupa jika perempuan itu adalah pasangan Kim Namjoon. Sifat egois itu tentu melekat pada diri Seokjin.
"Eonni kumohon… dengarkan aku"
Keduanya menarik nafas dalam berusaha menetralkan setiap emosi yang menguasai. Baiklah, Seokjin rasa ia harus memberi kesempatan Yoongi menuntaskan ucapannya.
"Ini bukan kemauanku, tapi Taehyung"
"Kenapa? Atas dasar apa Taehyung harus mengkhawatirkan anakku?"
Jika ia jujur, Yoongi yakin amukan yang akan didapatkan. Namun bila harus berbohong kembali maka dimasa depan akan tibul kebohongan-kebohongan berikutnya.
"Sebelum Taehyung dioperasi, ia membisikkan sesuatu padaku"
"Jangan bertele-tele, langsung pada intinya"
"Ia ingin menebus kesalahannya pada Jungkook"
Tunggu dulu, kesalahan macam apa yang diperbuat pemuda itu hingga harus ditebus dengan operasi mata. Seokjin menyipit curiga.
"Apa yang sudah diperbuat Taehyung pada putriku? Tidak mungkin kau menyarankan hal konyol tanpa alasan yang kuat bukan?"
Kali ini Yoongi butuh waktu sedikit lama untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tangannya kembali mengepal di kedua sisi , berusaha mengumpulkan keberanian.
"Tiga belas tahun lalu… kecelakaan yang mengakibatkan Jungkook buta, Taehyung merasa bersalah atas hal tersebut.
"Ah, benar juga. Namjoon pernah menceritakannya padaku. Bagaimana aku bisa lupa" waktu yang berlalu dan masalah silih berganti menyebabkan sakit hati Seokjin karena kecelakaan tiga belas tahun lalu menguap begitu saja.
"Dengarkan aku dulu eonni!"
Tangan Seokjin diraih lantas digenggam erat oleh Yoongi meski wanita itu meronta minta dilepaskan. Kali ini Yoongi tidak akan kalah pada Seokjin sebelum semuanya lurus.
"Jangan salahkan Taehyung. Sebenarnya penyebab utama kecelakaan itu adalah aku"
PLAK
Tamparan itu melayang telak mengenai pipi kiri Yoongi bahkan saking kerasnya menimbulkan ruam merah yang dapat dilihat oleh siapapun.
"Pergi!"
"Itu tidak sengaja-"
"Pergi selagi aku masih baik. Ini rumahku, aku bisa melakukan hal lebih jika kau melewati batas"
Seperti tidak ada pilihan lain hingga akhirnya Yoongi berlutut dihadapan Seokjin. Baik Jihoon dan Jimin yang melihat pertengkaran itu sedari tadi terkejut bukan main. Tidak ada yang menyangkan jika Yoongi akan berlutut seperti ini.
"T-taehyung, hidupnya diambang batas saat ini, membuat Jungkook dapat melihat kembali adalah keinginannya terakhirnya. Dia bilang-"
"Cukup Min Yoongi!"
"Dia bilang ingin mendonorkan matanya untuk Jungkook jika saja ia meninggal. Sebagai ibu apa eonni fikir aku akan tega?"
Seokjin akhirnya berpaling kehadapan Yoongi. Perempuan itu ikut berjongkok dan meraih dagu Yoongi dengan kasar hingga tatapan keduanya saling beradu.
"Lalu kau fikir putriku tidak sekarat? Dia sama sekaratnya seperti Taehyung"
Kedua perempuan itu terdiam. Beberapa menit keduanya bergelut dengan fikiran masing-masing.
"Yoongi, aku tau-"
Cara bicara Seokjin sedikit melunak, terlihat dari perempuan itu mulai menetralisirkan nafasnya kembali.
"Kita semua bersalah pada mereka, baik pada Taehyung maupun Jungkook. Tapi masalahnya adalah-"
"Mereka anak kita, baik aku dan eonni pasti ingin memperjuangkan apapun untuk mereka"
"Kau benar. Aku dan Namjoon juga mengusahakan penglihatan Jungkook selama ini. Namun kondisi yang rumit membuat semuanya belum terlaksana. Jadi… kumohon mengertilah "
Pada akhirnya mereka hanyalah dua perempuan lemah yang berusaha melindungi orang tersayang. Sebagai yang lebih tua Seokjin mengalah guna memberikan pelukan pada Yoongi. Sekarang Yoongi-pun menangis sesenggukan di dalam pelukan perempuan yang sudah seperti kakaknya selama ini.
"Aku berjanji untuk menuruti keinginann Taehyung. T-tapi, bagaimana aku bisa membiarkan ia pergi dengan tidak bisa melihat apapun. Bagaimana jika Taehyung bertemu Baekhyun disana? Apa yang harus aku katakan pada ibunya yang sudah menitipkannya padaku selama ini eonni"
Haruskan Seokjin kembali mengalah kali ini? Sebenarnya tidak ada ruginya menuruti keinginan Taehyung, terlebih ia dulu juga berjanji akan mengembalikan anak itu pada tempat semestinya. Namun kondisi keluarganya yang kacau membuat Seokjin tak dapat berfikir jernih sekarang. Ia masih harus memikirkan banyak hal mengingat mulai detik ini ia harus membiasakan diri menghadapi segalanya seorang diri, tanpa Namjoon disisinya.
"Eonni, aku rela melanggar janjiku untuk anak malang itu. Kumohon bantu aku, janji ini yang terakhir kali. Ya?"
"Beri aku waktu untuk berfikir"
.
.
~BLIND~
.
.
Taehyung sepertinya sungguh tak dapat tidur malam ini setelah mendengar cerita panjang dari sang paman. Jimin sudah pamit tidur dari satu jam lalu dan saat matanya melirik ke arah meja ternyata sudah lima punting rokok ia hisap, pasti Yoongi akan marah besar besok saat mencium bau rokok dari mulutnya.
"HAH"
Karena sedikit merasa stress laki-laki itu merebahkan dirinya di kursi balkon yang panjangnya hanya sepertiga dari tinggi Taehyung. Kakinya menopang pada pegangan kursi sementara dua tangannya Taehyung gunakan sebagai bantalan.
Mata musang itu menatap hampa langit malam bersih tanpa satupun bintang. Sesekali Taehyung memejam saat semilir angina menerpa wajahnya yang belum dibasuh air sama sekali sejak menginjakkan kaki dirumah.
"Jadi itu benar kau Kookie"
"Andai saja aku pergi saat itu, maka eomma akan mengingkari janjinya kepadaku?"
"Haruskah aku senang dengan keadaan sekarang? Atau aku harus bersedih?"
"Maaf Jungkook aku bersalah padamu"
TES TES
Monolognya pada langit malam berakhir tepat saat rintik hujan turun. Taehyung tersenyum getir melihat bagaimana langit sepertinya tau kondisi hatinya yang serba bingung dengan keadaan saat ini. Hujan turun, tidak lebat, namun cukup untuk meredam suara tangisan Taehyung.
Ya, saat ini laki-laki itu menangis sambil meringkuk memeluk tubuhnya seorang diri. Jujur saja Taehyung sungguh bingung harus melakukan apa. Semakin ia tau tentang rahasia-rahasia orang dewasa maka ia akan semakin terluka oleh keadaan. Namun ketika Taehyung mencoba acuh saja rasanya tak lebih dari seorang badut ditengah pertunjukan sirkus.
'Semua yang aku lihat dan aku alami selama ini bukanlah sebuah kenyataan. Ini semua hanya kebohongan yang berhasil disembunyikan oleh mereka yang aku percayai selama ini? Satu fakta yang aku benci adalah… Kenapa mata ini baru terbuka akan kenyataan disaat aku mencintaimu?'
Masa bodoh dengan tubuh yang semakin menggigil akibat kehujanan. Taehyung hanya ingin menghanyutkan segala beban dihati dengan guyuran hujan malam ini. Berharap esok hari mungkin ia akan menemukan jawaban tentang bagaimana harus menghadapi segala fakta yang berhasil mencubit hatinya.
.
.
~BLIND~
.
.
"Aku ingin diantar daddy hari ini, ya eomma? Pliiiis"
Seperti biasa rengekan Yoonji adalah hal pertama yang selalu Taehyung dengar ketika hendak bergabung sarapan. Anak kelas satu SD tersebut bersikeras ingin diantar Taehyung ke sekolah karena ingin pamer pada teman-temannya jika ia memiliki kakak yang super tampan.
"Tidak sayang, oppa akan terlambat kerja jika harus mengantarmu ke sekolah apalagi masih harus kau pamerkan pada teman-temanmu itu"
Dan begitulah jawaban default dari seorang Min Yoongi, atau sekarang sudah berubah menjadi Park Yoongi saat menghadapi rewelnya sang putri.
"Ah, eomma tidak asyik"
Gadis itu makan dengan berisik setelahnya. Sendok dan garpu ia adukan dengan piring yang sudah sepi lauk pauk, membuat Yoongi gemas ingin memukul bokong bocah nakal itu. Untung Yoonji adalah anak kesayangannya, untuk 'saat ini'.
"Apa ayah tak tampan hingga putri ayah ini lebih memilih diantar oleh kakaknya hm?"
Jimin datang entah darimana lengkap dengan setelan rapi dan kini laki-laki itu mencium putrinya dengan sedikit brutal, mengakibatkan Yoonji semakin nyaring merengek pada setiap orang di meja makan.
"Jika anakmu sampai menangis maka kupastikan tak akan membuka pintu kamar untumu Jimin"
"Aduuuh galaknya istriku"
Yoongi merotasikan matanya malas, sudah kenyang dengan kelakuan suaminya yang memang suka tidak tau tempat dalam melakukan hal romantis. Mata sipit perempuan itu menangkap bagaimana kacaunya penampilan Jimin, dasi longgar dan kancing baju yang salah lubang. Astaga… dia bisa stress mengurus kelakuan orang-orang disekitarnya.
"Kami akan kembali ke rumah sore ini Tae, jadi mungkin saat kau pulang kerja kami sudah dalam perjalanan ke Daegu"
Semenjak menikah dan Taehyung pulih dari luka sepuluh tahun lalu, Jimin dan Yoongi memutuskan membangun rumah sendiri di kampung halaman perempuan itu. Bukannya tidak ingin menemani Taehyung, hanya saja merasa tidak pantas ikut menikmati apa yang bukan milik mereka, lagipula banyak orang yang menjaga dan membimbing Taehyung selama tinggal di mansion. Sudah saatnya Jimin dan Yoongi mencari ketenangan hidup mereka.
"Rumah ini akan sepi lagi"
Meski tersenyum tapi Yoongi tau jika Taehyung merasa sedih karena akan ditinggal sendiri lagi di rumah yang luas ini. Tapi mau bagaimana lagi dan toh sampai kapan Taehyung akan selalu ikut dengan dirinya. Dengan sabar perempuan itu mengusap pundak Taehyung yang duduk disebelahnya.
"Oiya aku punya berita penting untuk kalian, tunggu disini"
Acara sarapan keluarga itu terhenti saat Yoongi menginterupsi. Wajahnya tampak sedikit berseri apalagi saat berlari ke arah kamar dan kembali tak lama kemudian dengan sebuah kotak kecil di tangan. Ditaruhnya kotak itu di atas meja makan yang sudah ia singkirkan beberapa lauk pauknya. Yoonji, Taehyung, dan Jimin melongok penasaran dengan isi kotak tersebut.
"TADAAA!"
Betapa terkejutnya Jimin begitu mengetahui apa isi dari kotak tersebut, matanya bahkan lebih bulat dari biasanya saat menatap Yoongi dengan binar bahagia. Sementara Taehyung hanya dapat melongo tidak percaya.
"Eomma ini apa?"
Yoonji mengambil isi kota tersebut. Rasa penasaranya yang tinggi membuat si gadis memutar-mutar benda berbentuk pipih yang sangat tidak menarik dimatanya itu.
"Ini thermometer ya?"
Semua orang tertawa mendengar betapa polosnya gadis enam tahun itu. Yoongi memutari meja lantas mengambil benda yang dikira thermometer dari tangan Yoonji.
"Bukan sayang, ini artinya Yoonji akan punya adik"
"Adik? Yoonji akan punya adik seperti teman-teman?"
Anggukan dari Yoongi membuat bocah itu bersorak bahagia, bahkan memeluk erat perut Yoongi. Jimin ikut bergabung untuk memeluk anak dan istrinya.
"Kuharap eomma selalu sehat diusia eomma yang tidak muda lagi, tapi eomma masih harus mengandung"
Itu doa tulus dari Taehyung. Jujur laki-laki itu senang jika eommanya akan memiliki anak lagi, namun juga khawatir karena usia perempuan itu yang tidak muda lagi dan rawan untuk melahirkan.
"Teknologi sudah canggih sekarang, eomma mu pasti bisa melewati kehamilan kali ini"
Taehyung mengangkat bahunya acuh. Ia masih ingat betul bahwa saat hamil Yoonji dahulu eommanya sering mengalami masalah karena usianya yang sedikit terlambat untuk mempunyai anak. Tapi tidak ada salahnya juga perkataan Jimin.
"Segeralah menikah dan punya anak sendiri Tae supaya tidak mengalami apa yang eomma dan Jimin rasakan"
Selalu seperti ini, yang hamil siapa yang disuruh menikah siapa. Taehyung ingin saja segera menikah dan menimang anak sendiri agar tidak direcoki Yoonji terus-terusan. Namun masalahnya… bagaimana ia akan menikah jika hatinya masih tersisa untuk seseorang?
.
.
~BLIND~
.
.
"Apa aku punya jadwal setelah ini?"
"Tidak pak, semua berkas sudah selesai dan tidak ada rapat divisi untuk hari ini"
Sekretaris tersebut ijin pergi setelah memaparkan tugasnya pada sang atasan. Taehyung menghela nafas lega. Diseruputnya kopi hitam yang tadi sempat dibawa oleh pekerjanya lantas memilirik ponselnya sekilas.
"Haruskah kuhubungi?"
Cukup lama laki-laki itu berfikir hingga kopinya tandas. Taehyung mendesah lega akan pahitnya kopi yang melewati kerongkongan hingga mungkin ia akan terjaga hingga sore. Pada akhirnya Taehyung telah memutuskan, ia raih ponsel tersebut lantas menghubungi seseorang yang sempat ia kecewakan kemarin.
"Nona, ini aku yang kopernya tertukar dengan milikmu? Maaf karena kemarin kita tidak jadi bertemu. Bisakah hari ini?"
Senyum Taehyung terbit tak lama kemudian begitu orang disebrang sana mengiyakan tawarannya. Dengan gesit ia rapikan kertas-kertas yang berserakan lantas menyambar kunci mobil.
Kali ini mereka membuat janji untuk bertemu di salah satu restoran prancis langganan Taehyung. Akibat ada hal mendadak yang harus diselesaikan selama perjalanan jadilah ia harus terlambat lima belas menit dari waktu ditentukan.
"Maaf aku terlambat"
SRET
Orang yang disapa oleh Taehyung setibanya di restoran prancis tampak terkejut dengan kehadirannya. Bahkan saking terkejutnya, orang yang disapa Taehyung langsung berdiri dari kursinya.
"Apa aku mengejutkan mu? Maaf tapi silakan duduk kembali nona"
Jungkook patuh begitu saja akan perintah Taehyung meski difikirannya masih berputar beberapa pertanyaan yang sangat gatal untuk segera diungkap.
"A-aku hanya terkejut, karna suaramu tidak asing"
Suara perempuan itu melirih di akhir kalimat namun Taehyung hanya menanggapi dengan seulas senyum membuat Jungkook tanpa sadar juga ikut melakukan hal serupa.
"Bagaimana tuan bisa tau aku duduk disini?"
"Hah?"
Taehyung termenung mendengar pertanyaan Jungkook. Bagaimana ia bisa ceroboh langsung menghampiri Jungkook padahal ini adalah pertemuan pertama mereka setelah sekian lama. Tidak mungkin bukan ia mengatakan jika dirinya adalah Taehyung si bodyguard masa lalu.
"Ah itu… " sejenak Taehyung celingukan karena belum menemukan alasan yang tepat
"Kulihat hanya nona yang duduk sendiri, jadi ya… bisa disimpulkan jika itu dirimu hahaha"
Tawa canggung laki-laki itu sebenarnya membuat Jungkook merasa aneh. Namun ketika ia menatap sekitar memang hanya dirinya yang duduk sendiri sementara pengunjung lain datang dengan pasang atau teman.
"Begitu rupanya"
"Hmmm… ngomong-ngomong tak keberatan bukan jika kita makan siang terlebih dahulu"
"Tidak buruk"
Ini adalah pertemuan pertama mereka sejak sepuluh tahun lalu, maka dari itu Taehyung tak ingin terlihat canggung. Sebisa mungkin ia akan membuat Jungkook nyaman dengan kehadirannya. Jika perempuan itu nantinya mengingat secuil kenangan di masa lalu Taehyung tak akan menutupi karena sebenarnya itulah tujuannya. Taehyung sangat ingin Jungkook mengingatnya.
"Jungkook-ssi ingin pesan apa?"
"Samakan dengan tuan saja"
"Kalau begitu pesan dua kwah-song dan dua jus stroberry"
Pelayan mencatat pesanan Taehyung dan meminta mereka menunggu beberapa menit. Sepuluh menit menunggu diselingi oleh kecanggungan akhirnya pesanan merekapun datang. Acara makan siang mereka masih diselimuti sedikit keterdiaman. Jungkook sesungguhnya tidak terlalu suka ini tapi ia juga tak tau harus membicarakan topik apa.
"Saat memesan tadi… pengucapanmu bagus sekali"
Dari sekian banyak topik entah kenapa Jungkook justru memilih topik tersebut. Ia merutuk dalam hati semoga tidak ditertawakan oleh laki-laki dihadapannya.
"Tampaknya nona lupa jika kita baru pulang dari prancis"
"Ahaha benar juga" ini garing dan Jungkook meringis akan sikap konyolnya
"Dulu… aku tak dapat mengucap pelafalan roti khas prancis ini dengan benar saat pertama kali diajak kesini"
"Tuan belajar dengan keras rupanya"
Sekali lagi Taehyung tersenyum di tengah acara makannya sambil melirik sekilas pada Jungkook. Perempuan itu makan dengan lahap hingga pipinya menggembung lucu. 'Masih sangat menggemaskan seperti dulu' batinnya.
"Sedari tadi aku memanggilmu tuan. Aku takut kau tidak nyaman karena merasa seperti orang tua. Jika boleh tau siapa namamu?"
"Namaku? Kim Taehyung"
UHUK
Keterkejutan si perempuan tak membuat Taehyung bergeming dari acara makannya serta hanya memperingatkan agar lebih hati-hati. Nafsu makan Jungkook seketika menguap. Sepiring croissant yang masih tersisa seperempat ia dorong ke tengah meja sebagai tanda jika ia telah selesai.
"Tak kusangka Jungkook-ssi orangnya gampang terkejut"
"Bukan apa-apa, hanya saja Taehyung-ssi mengingatkanku tentang banyak hal dari masa laluku"
"Mungkin hanya kebetulan"
Ya, banyak kebetulan kok di dunia ini. Maka Jungkook pun mengiyakan perkataan Taehyung. Kini perempuan itu menunggu si laki-laki yang masih asyik menyantap makan siangnya. Rasanya tidak tega jika harus menyela tentang dimana kopernya.
"Ini koper Taehyung-ssi"
Tidak ada alasan untuk menunda menyerahkan koper laki-laki itu. Taehyung menerima koper miliknya bahkan sempat membukanya sebentar untuk memastikan jika berkas pekerjaannya masih utuh. Syukurlah seluruh berkasnya aman, kini Taehyung dapat bernafas lega karena tidak jadi rugi jutaan.
"Lalu dimana koperku?"
"Ada di rumahku"
Taehyung mengatakan hal tersebut seperti tanpa beban, membuat Jungkook terperangah tidak percaya. Jadi maksudnya laki-laki ini mengajaknya bertemu tanpa persiapan?
"Apa? Lantas bagaimana Taehyung-ssi akan mengembalikan koperku?"
"Ikutlah ke rumah, kita ambil bersama koper Jungkook-ssi setelah itu kuantar pulang"
Tawarannya tidak buruk sehingga Jungkook mengiyakan saja. Mereka menjelajah Kota Seoul dengan keheningan. Jungkook sibuk melihat langit yang mulai turun rintik hujan sementara Taehyung memilih mendengarkan lagu dari radio.
"Kita sampai"
Begitu tiba Jungkook terperangah dengan kediaman milik pemuda yang baru dikenalnya beberapa hari lalu itu. Rumah Taehyung begitu megah bahkan ia masih ingat jarak dari gerbang hingga ke halaman butuh beberapa menit. Sepanjang ia mengamati terhampar taman yang ditumbuhi rerumputan hijau dengan sedikit tambahan bunga di beberapa sisi. Sangat terlihat asri dan Jungkook suka itu.
Di sudut taman beberapa orang tampak sedang memotong rumput dan menyiram bunga. Semuanya laki-laki dan Jungkook terperangah akan hal itu. Apakah Taehyung ini sengaja hanya mempekerjakan laki-laki? Biasanya pekerjaan seperti merawat bunga akan lebih telaten dilakukan oleh perempuan. Hingga tanpa sadar salah seorang pekerja yang sedang merapikan rumput di taman itu tersadar akan atensi Jungkook dan menatapnya terkejut.
"Jungkook-ssi?"
Perempuan itu tak bergeming ketika dipanggil Taehyung. Merasa ada yang aneh Taehyung-pun mengikuti kemana arah pandang Jungkook hingga akhirnya ia menemukan penyebab perempuan itu terdiam. 'paman Myungsoo?!' pandangan keduanya terputus begitu Taehyung berdeham.
"Ya? Ah maaf, tamanmu sangat indah hingga aku tidak sadar kau panggil"
"Ayo masuk"
Jungkook tersenyum maklum dan mengekori si laki-laki untuk masuk ke dalam rumah. Namun hatinya tidak dapat tenang dan kembali memandang pada arah dimana salah satu pekerja yang menatapnya terkejut tadi. Seperti, pekerja itu mengenal dirinya. Untuk apa pekerja itu terkejut melihatnya jika bukan orang yang kenal?
Keduanya sampai di ruang tamu dan Taehyung meminta Jungkook untuk menunggu sofa. Sepeninggalan laki-laki itu mata Jungkook mengedar dan menelisik setiap sudut rumah tersebut. Aroma rumah ini terasa sangat familiar bagi dirinya. Ingat ketika Jungkook tak bisa melihat dan indra penciumannya menjadi lebih sensitif? Bahkan sofa yang didudukinya saat ini rasa empuknya terasa familiar. Seperti Jungkook pernah jatuh ribuan kali diatasnya.
"Apa aku pernah kesini sebelumnya?" monolog perempuan itu
.
.
.
TBC
A/N :
Sebenernya mau double update tapi ternyata next chaptnya masih belum selesai diketik, belum juga dikoreksi hehehe. Aku berusaha bikin ceritanya gak melebar kemana-mana dan menjawab dikit-dikit beberapa chap yang terkesan di skip kayak "iih kok udah sepuluh tahun aja, ada kejadian apa aja selama sepuluh tahun?" Naah aku bakal jawab semua itu pelan-pelan.
Terus, sebenernya aku agak bingung ini hubungan taekook klo tiba-tiba baik dan jadian kayaknya kok agak gimana gitu gak sih? Kalau mau ditambah konflik makin panjang nanti. Serius aku masih belum nemu solusi wkwkwkwk
Awas banyak typo bertebaran. Happy reading, jangan lupa vote dan comment-nya ^_^
