CHAPTER 28 (BAGIAN 4)
STILL WITH YOU
.
.
.
Semenjak pindah ke rumah yang saat ini ditempati, keseharian Seokjin yang dulunya suka berbelanja dan berkumpul dengan teman-teman kini berubah menjadi sering membuat aneka kue atau jika luang akan berubah menjadi seorang florist. Taman di depan rumah yang tidak terlalu luas bahkan sudah disulap seperti taman bunga persis di rumah lamanya agar jika sewaktu-waktu ada orang yang ingin memesan bunga ia tinggal memetiknya. Seokjin fikir 'tak perlu membuka kios florist jika saat ini adalah era digital'. Dan begitulah perempuan itu selalu berakhir menjajakan karyanya lewat sosial media.
"Sedang apa?"
"Merapikan bajumu"
Namun hari ini perempuan dua anak itu enggan untuk memasak atau sekedar menyirami bunga. Tampak sekali jika Seokjin sedari tadi memilih bersih-bersih terutama area kamar miliknya. Kehadiran sang suami membuat Seokjin sibuk menyajikan nuansa baru agar Namjoon merasa nyaman di rumah baru mereka.
Namjoon hanya duduk di pinggiran kasur, menyaksikan sang istri sibuk memilah baju sambil sesekali tersenyum. Entah sudah berapa lama ia tidak merasakan momen seperti ini. Melihat Seokjin yang semangat mengurus hal-hal berkaitan dengan mereka berdua menyebabkan efek kupu-kupu terbang di perut Namjoon. Hahaha seperti mereka kembali muda.
"Oh astaga lihat apa yang kutemukan"
Seokjin berbalik dari kegiatan menata baju dan duduk di sebelah Namjoon. Ditangan perempuan itu sebuah map coklat dipegang lantas dilemparkan pada Namjoon. Awalnya laki-laki itu mengernyit heran tentang isi map tersebut. Ketika dibuka ternyata isinya ada surat cerai dirinya dan Seokjin.
"Kau masih menyimpan surat ini dengan baik rupanya Jin"
Keduanya terkekeh mengingat bagaimana surat cerai itu bisa terbit sepuluh tahun lalu. Dengan gemas Namjoon memeluk istrinya lantas menciumi wajah Seokjin di beberapa bagian hingga perempuan itu protes tidak terima.
"Lepaskan, kerja sana kau Namjoon dasar pengangguran"
"Galak sekali. Kita ini kan sudah tua, aku mau jadi petani saja sepertimu. Kau bilang Jihoon juga tak pernah telat mengirim uang"
"Yak, florist yang menanam bunga itu berbeda ya dengan petani sayuran seperti maksudmu"
"Apa bedanya, sama-sama menanam Seokjin"
Dan kedua insan yang dimabuk asmara karena baru dipertemukan itu berakhir dengan saling menggelitik hingga Seokjin lebih dulu mengeluarkan air mata karena kegelian.
.
.
BLIND
.
.
"Ada donor mata untuk Jungkook, aku akan menyetujui operasinya"
"Kau sudah gila Jin-ie?"
Suasana tegang meliputi pertemuan antara Seokjin dan Namjoon di balik ruang jenguk tahanan. Pagi-pagi sekali laki-laki itu sudah mendapat penjenguk. Namjoon senang-senang saja karena tau itu pasti Seokjin, namun tak pernah ia kira jika istrinya akan datang dengan omong kosong.
"Namjoon, bukankah kita menginginkan ini sejak lama? Untuk apa lagi terus ditunda"
"Ya, tapi tidak saat ini. Jin… sekarang semuanya sedang kacau"
Kini giliran Seokjin yang terdiam. Sebenarnya apa yang dikatakan Namjoon memang benar, akan terlalu egois jika dipaksakan sekarang namun mengingat pembicaraannya dengan Yoongi memang sudah seharusnya Seokjin membuat keputusan.
"Namjoon, aku ingin mengatakan sesuatu"
"Katakanlah"
"Yoongi kemarin datang kerumah. Sebenarnya ide donor mata ini adalah keinginan Taehyung. Kau tau? Anak itu merasa sekarat dan ingin menebus dosanya karena mengakibatkan Jungkook buta. Tapi… Yongin tidak rela sehingga mencari donor lain"
"Lalu kau akan setuju?!"
Mereka semua sama-sama terluka. Hanya kebingungan yang menyelimuti. Setiap pilihan yang akan mereka ambil hanyalah sebuah simalakama dan akan menimbulkan masalah di kemudian hari.
"Tidakkah kau ingin mengakhiri ini semua Namjoon?"
Suara Seokjin begitu lirih namun masih mampu di dengar oleh sang suami. Dari penglihatan Namjoon kini mata Seokjin memandangnya dengan sendu seolah berkata jika ia lelah akan semua hal yang terjadi. Namjoon ingin memeluknya, sangat ingin, menyalurkan kekuataan untuk perempuan itu. Namun apa daya jeruji besi menjadi pembatas diantara mereka.
"Jihoon akan menikah dan pergi ke Prancis-" Namjoon masih setia mendengarkan celotehan istrinya
"-aku akan sendirian di rumah, memupuk rasa bersalah tentang semua yang terjadi bersama Jungkook"
Namjoon memejamkan mata karena ikut merasa sakit mendengar penuturan Seokjin. Dirinya akan berada di balik jeruji besi untuk waktu yang lama. Sejujurnya ia juga khawatir tentang bagaimana Seokjin akan menjalani hari-hari tanpa dirinya mengingat perempuan itu selalu bergantung padanya. Keberadaan Hoseok sekalipun tak akan banyak membantu.
"Tidakkah pilihan yang tepat jika kita melakukan operasi itu? Setelah operasi aku akan pergi dari sana dan mari membangun kehidupan baru"
"Seokjin, sebaiknya kau pulang dan tenangkan fikiranmu"
Si laki-laki sudah tau akan dibawa kemana pembicaraan Seokjin, sebelum makin melebar akan lebih baik dicegah mulai sekarang.
"Ayo berhenti Joon-ie. Aku akan menunggu dengan anak-anak. Kita bangun semuanya dari awal" Seokjin masih tidak menyerah dengan keinginannya.
"Ayo kembalikan Taehyung pada posisinya dan kita-"
"Seokjin dengar aku!"
Suara lantang Namjoon menyadarkan Seokjin dari tatapan sendunya dan beralih menatap suaminya dengan nyalang.
"Apa kau akan melepaskan segala sesuatu yang sudah kita dapatkan?"
"Kau masih memikirkan harta?"
"Ini tidak hanya soal harta Seokjin. Tapi juga masa depan anak-anak kita"
Status ayah membuat Namjoon mengutamakan anak-anaknya meski harus mengambil pilihan egois sekalipun. Kedua tangan Seokjin menggenggam erat tas tangan yang kebetulan ia pangku. Tidak disangka saat seperti ini Namjoon justru masih memikirkan pundi-pundi.
"Sejak kapan kau peduli tentang anak-anak kita? Kau hanya tau bekerja dan mendominasi saja"
"SEOKJIN!"
"Dengan atau tanpa ijinmu, operasi Jungkook akan tetap dilakukan. Setelahnya aku akan pergi dari rumah sialan itu dan mengembalikannya pada Taehyung"
"Aku serius soal ini, jika kau nekad maka surat cerai yang akan kau dapat"
Dunia perempuan itu seakan runtuh mendengar kata 'cerai' dari sang suami. Sesakitnya ia melihat anak-anak terluka tapi tak ada yang lebih sakit daripada kenyataan jika laki-laki yang begitu dicintainya tidak ragu sedikitpun mengucap kata 'cerai'.
"Aku tunggu surat ceraimu"
Kata-kata Seokjin begitu mantab diucapkan. Setelahnya tak ada yang perlu dibicarakan lagi sehingga Seokjin angkat kaki dari sana. Di balik jeruji pembatas Namjoon menggeram marah, memukul apa saja yang ada dihadapannya. Bagaimana bisa istrinya menyetujui ancaman itu tanpa beban?
Hari-hari berlalu tanpa terasa pasca pertengkaran Namjoon dan Seokjin. Kini Seokjin dapat menghela nafas lega karena dokter bilang kondisi Jungkook mulai stabil yang artinya jika terus berlanjut maka operasi akan dapat dilakukan. Sementara kondisi Taehyung? Tidak ada perkembangan, anak laki-laki itu masih setia menutup matanya. Taehyung dinyatakan koma untuk waktu yang tidak ditentukan.
TOK TOK
"Seokjin noona?"
"Masuk saja Hoseok-ah, tidak dikunci"
Begitu mendapat ijin Hoseok masuk ke kamar Seokjin, ditangannya terdapat sebuah amplop coklat dengan stemple yang cukup membuat raut wajahnya pucat pasi. Saat sekretaris itu masuk Seokjin masih saja asyik mengepak barang-barangnya ke dalam kardus hingga tidak menyadari jika Hoseok membawa sesuatu yang mungkin dapat membuatnya serangan jantung.
"Noona, ini…"
"Kenapa wajahmu pucat begitu Seok, ini kan hanya sebuah-"
Kalimat Seokjin seketika putus kala menyadari tulisan dan stempel yang tertera pada map coklat di tangan Hoseok. 'Pengadilan Distrik Seoul'. Oh, sepertinya Seokjin tau apa kalimat selanjutnya yang tertera di dalam amplop tersebut. Begitu selembar kertas Seokjin tarik maka kata pertama yang ia lihat adalah 'Surat Cerai'. Satu kalimat yang mampu membuat perempuan itu menahan nafas.
Seokjin tidak pernah menyangka jika Namjoon benar-benar serius terkait perkataannya tempo hari. Bulir air mata mulai terkumpul di pelupuk mata perempuan itu. Ingin sekali Seokjin menangis namun masih ia tahan mengingat dirinya tak boleh lemah di saat seperti ini. Hoseok hanya mampu menatap sedih perempuan yang sudah dianggapnya noona itu. Dengan lembut ia usap punggung Seokjin karena tau betul jika saat ini tak ada tempat untuk Seokjin bersandar selain dirinya.
"Jika noona ingin menangis maka menangislah, aku akan berjaga sehingga Jihoon tidak akan masuk"
Barusaja akan melangkah tangan Hoseok sudah dicekal. Seokjin menggeleng lemah, memberi isyarat jika dirinya tak perlu melakukan hal tersebut. Perempuan itu tampak mengusap air matanya kasar lantas beralih pada laci yang ada tepat di sebelah tempat tidur. Pulpen dan sebuah cap nama Seokjin keluarkan darisana. Betapa terkejutnya Hoseok ketika tau Seokjin menandatangani surat cerai itu dan membubuhkan cap namanya tanpa ragu.
"Noona, kau benar-benar akan menyetujuinya?" Nada bicara Hoseok naik dari biasanya, tak percaya dengan tindakan Seokjin
"Lalu apalagi Seok, ini yang Namjoon inginkan dan aku tak punya pilihan. Aku tetap pada keputusanku"
"Bicarakan lagi dengan Namjoon hyung"
"Tidak. Kau tau betul bagaimana perangai kami berdua. Bicara lagi dengannya hanya akan mempercepat perceraian"
Tidak ada kalimat setelahnya. Hoseok masih pada rasa tidak habis fikir dan Seokjin justru sudah bergelung di tempat tidur dengan selimut menutupi seluruh tubuh.
"Jika tidak ada lagi yang dibahas kau bisa keluar. Jangan sampai Jihoon tau atau aku akan mengusirmu"
Hoseok menurut akan perkataan Seokjin. Ia masih cukup tau diri untuk tidak ikut campur lebih dalam tentang urusan rumah tangga mereka. Mumpung masih pagi juga Hoseok akan langsung mengantarkan surat cerai pada Namjoon.
"Maaf mengatakan ini, tapi kalian berdua memang sudah gila"
Itu adalah kalimat pertama yang diucapkan Hoseok ketika mengunjungi Namjoon. Bahkan laki-laki itu belum duduk sepenuhnya saat Hoseok mencecar, ah salah, lebih tepatnya ingin memaki tapi ditahan. Namjoon hanya tersenyum singkat.
"Sudah kau berikan?"
Pertanyaan itu dijawab dengan sebuah amplop coklat yang sempat diberikannya pada sang sekretaris beberapa waktu lalu. Wajah datar Namjoon yang tadinya biasa saja langsung berubah dingin saat melihat ada tanda tangan lain yang bersanding tepat di samping tanda tangan miliknya.
"Kalau memang hyung ingin menggertak Seokjin noona, tidak begini caranya"
"Ck, tidak kusangka Seokjin benar-benar nekad"
Ujung map itu terkoyak begitu diremat Namjoon. Jika sudah seperti ini maka ia tak punya jalan lain untuk menghalangi keinginan Seokjin pindah dari mansion.
"Berikan lagi pada istriku jika keadaannya membaik"
Map yang sudah lusuh akibat ulah Namjoon itu kembali disodorkan, membuat Hoseok menatapnya tidak percaya. Bahkan rahang Hoseok benar-benar jatuh karena tidak percaya. Namjoon, kini pergi meninggalkan dirinya.
"Dasar kalian memang sudah gila. Jika ingin bertengkar ya bertengkar saja seperti biasanya, jangan menyusahkanku!"
Mungkin ini adalah pertama kali bagi Hoseok mengumpat pada Namjoon selama belasan tahun mengenal laki-laki itu dan istrinya. Dari sekian banyak masalah ini adalah permasalahan paling konyol yang harus ia selesaikan. Jika keduanya bercerai Hoseok harus memilih siapa?.
.
.
~BLIND~
.
.
Hampir sepuluh menit menunggu di ruang tamu Taehyung belum menunjukkan tanda jika akan kembali. Sejujurnya, Jungkook merasa haus karena laki-laki itu belum menyuguhkan minuman untuk dirinya tadi. Rasa haus dan juga sedikit penasaran membuat perempuan itu bangkit dari duduknya. Kakinya berjalan ke arah lorong yang tak sengaja ia temukan ketika akan pergi ke arah dapur. Di lorong tersebut terpajang sebuah foto yang lumayan besar. Hanya satu foto dan itu bukan foto Taehyung melainkan seorang perempuan yang sangat cantik.
"Apa adiknya? Tampak masih muda"
Jungkook sempat mengusap sekilas foto itu karena perempuan yang ada di portrait tersebut benar-benar cantik. Jika diperhatikan seksama cara perempuan itu tersenyum dan matanya sangat mirip dengan Taehyung.
"Mungkin memang saudaranya"
Kini atensi Jungkook beralih pada ruangan yang ada di ujung lorong. Sekilas matanya menangkap grand piano warna hitam teronggok begitu saja.
"Bermain sebentar tak apa bukan?"
Mungkin Jungkook terkesan lancang karena menyentuh sesuatu yang bukan miliknya, namun Taehyung tak kunjung menampakkan batang hidungnya membuat rasa penasarannya akan grand piano di ujung lorong sana menjadi lebih besar.
"Dingin"
Tampaknya grand piano dengan warna hitam ini memang jarang digunakan. Suhunya sangat dingin, dan juga Taehyung terlihat seperti orang yang tidak pandai bermain piano sekilas. Jadi kesimpulan yang dapat Jungkook ambil adalah piano ini bukan milik Taehyung melainkan milik keluarga yang lain.
"Aish, kenapa juga aku pusing memikirkan milik siapa piano ini"
Monolog-monolog perempuan itu masih berlanjut hingga jari lentiknya mulai menekan beberapa tuts. Suara piano itu tidak buruk, bahkan masih sangat jernih meski jarang digunakan. Jungkook berhenti sejenak dari aktivitas menekan tuts piano lantas jari tangannya yang bebas mengusap dagu singkat, tampak berfikir lagu apa yang sekiranya cocok dimain kan dengan piano.
"Oh aku tau"
Satu demi satu tuts piano dimainkan oleh Jungkook. Perempuan itu yakin jika suara permainannya akan terdengar hingga ujung lorong, tapi ini sangat tanggung dan ia memutuskan untuk terus bermain.
Di tengah asyiknya memainkan piano tiba-tiba Jungkook dikejutkan oleh sebuah tepukan pada pundaknya, mengakibatkan ia menjerit tanpa kontrol.
"AAAAAA!"
"Can't you see my heart oleh Heize"
"Paman siapa?"
Seorang laki-laki berumur sukses mengejutkan permainan piano Jungkook. Itu adalah orang yang menatapnya dengan tatapan terkejut tadi dari taman. Anehnya sekarang laki-laki itu menatapnya dengan tatapan kagum, seperti orang yang memuja permainannya.
"Permainan nona tidak pernah mengecewakan"
"Bagaimana paman bisa memuji permainan ku jika ini pertama kalinya bertemu?"
Kini justru raut yang penuh fikiran ditunjukkan oleh laki-laki itu, membuat Jungkook semakin mengerutkan dahi juga. Sejurus kemudian wajahnya paman itu kembali normal. Tersenyum sambil mengusap bahu Jungkook. Refleks saja Jungkook menghindar karena takut terjadi hal macam-macam.
"Maaf, saya lupa jika nona Jungkook mungkin tidak ingat pada saya, sudah sepuluh tahun berlalu. Saya senang nona baik-baik saja"
Jungkook semakin bingung tatkala menyadari laki-laki di hadapannya ini terlihat sangat mengenalnya bahkan memanggilnya nona. Apa maksudnya? Bahkan ini pertemuan pertama mereka. Namun jika boleh jujur suara si laki-laki memang terdengar familiar bagi Jungkook.
"Sudah bertemu tuan muda?"
"P-paman Myungsoo? Ini paman Myungsoo kan?"
Suara perempuan itu benar-benar bergetar ketika berhasil mengingat si pemilik suara. Dan laki-laki yang dipanggil Myungsoo tersenyum bahagia, ia begitu bahagia ternyata nona mudanya masih sangat mengingat dirinya hanya melalui suara.
"B-bagaimana bisa paman ada disini?"
"Dari dulu paman memang disini. Hanya saja sekarang paman menjaga Taehyung, bukan lagi tuan Namjoon"
"Jangan katakan jika pemilik rumah ini adalah Taehyung yang dulu menjadi bodyguardku"
Perkataan Jungkook begitu lirih namun masih dapat di dengan oleh Myungsoo. Ia fikir Jungkook ketika datang kemari sudah tau segalanya, tapi sepertinya perempuan itu tidak tau apa-apa. Ia merutuki mulutnya yang asal berucap.
"Paman fikir nona sudah tau karena terlihat baik-baik saja ketika datang kemari. Maaf ya jika membuat nona terkejut. Tapi paman harus pamit"
Selepas kepergian Myungsoo, Jungkook hanya mampu mematung di tempat. Jadi firasaatnya sejak pertama kali bertemu Taehyung adalah benar. Rasa familiar itu tidak pernah salah, dan soal kebetulan memang sepertinya tidak ada kebetulan di dunia ini.
Jungkook beralih menatap nanar grand piano yang baru saja ia mainkan. Jika faktanya seperti itu maka piano tersebut adalah piano yang dahulu sering ia mainkan.
'Dunia sempit sekali'
"Hei ini kopermu nona"
Taehyung datang tiba-tiba membuyarkan lamunan Jungkook. Sebisa mungkin perempuan itu bersikap biasa meski tau kebenarannya. Ia masih ingin tau lebih banyak tentang bagaimana laki-laki dihadapannya ini bisa meninggali rumahnya. Apakah dahulu kepindahan keluarganya ada sangkut pautnya dengan Taehyung?
"Ayo kuantar pulang"
Tidak ada pembicaraan berarti sepanjang perjalanan menuju rumah Jungkook. Meski ekspresi Taehyung menunjukkan rasa antusias namun berbanding terbalik dengan ekspresi Jungkook yang muram dan selalu memandang keluar jendela.
"Aku tadi memainkan piano milikmu, maaf"
"Tak apa, lagi pula piano itu bukan milikku"
'Karena itu adalah milikku'
Lima belas menit menempuh perjalanan yang cukup padat akhirnya mereka tiba di kediaman Jungkook. Sejenak Taehyung memandang rumah yang kini ditinggali oleh perempuan itu. Ada sedikit rasa prihatin karena kehidupan Jungkook saat ini sangat jauh dari kata mewah. Ia yakin jika sepuluh tahun ini adalah masa sulit bagi Jungkook karena hidupnya jungkir balik seratus delapan puluh derajat.
"Jangan memandang rumahku seperti itu Taehyung-ssi. Mungkin ukurannya tidak seberapa dibanding dengan rumahmu, tapi disini cukup nyaman karena ada eomma dan appa"
"Ah, begitu rupanya"
Taehyung sedikit terkejut mengetahui fakta jika Namjoon telah keluar dari tahanan. Terakhir kali ia meminta orang menyelidiki ayah Jungkook itu masih ada di dalam penjara.
"Ingin mampir minum teh?"
"Lain kali saja, aku masih ada pekerjaan"
Setelah berpamitan Jungkook keluar mobil sambil mengulas senyum, tangannya melambai hingga bayangan mobil itu tak terlihat lagi. Begitu Taehyung benar-benar pergi wajah Jungkook langsung berubah datar.
Kakinya berjalan gelisah sekaligus cepat menuju pintu rumah. Sang ibu yang memang sedari tadi mendengar ada mobil di depan dengan sigap membukakan pintu. Betapa terkejutnya Seokjin begitu pintu dibuka justru wajah murung Jungkook yang ia dapat.
"Kenapa?"
Sang anak tidak menjawab tapi justru memeluk Seokjin erat hingga sedikit limbung. Namjoon baru membuat kopi datang sambil menatap bingung istri dan anaknya.
"Eomma… aku-, aku bertemu Taehyung"
Seketika pandangan Seokjin bersitatap dengan padangan Namjoon. Sang ibu mencoba menenangkan putrinya dengan membawa Jungkook ke ruang tamu. 'Mungkin inilah saatnya untuk bicara'.
.
.
.
TBC
A/N
Satu chapter lagii… dan bakalan tamat.
Tapi aku ada kefikiran buat bikin sequel book ini dengan cast TXT hehehe. Liat aja sih nanti semoga beneran terealisasi.
Happy reading ^_^
