Disclaimer:
BoBoiBoy (c) Animonsta Studios
Alternate Universe, current COVID-19 pandemic situation
Boboiboy's Elemental Siblings, septuplet, no super powers
3rd sidestory of "Through the Darkness" (spoiler warning!)
.
.
.
.
.
Harapan yang Menyingsing (c) Roux Marlet
-tidak ada keuntungan material apa pun yang diperoleh dari karya ini-
.
.
.
.
.
Prolog
.
.
.
.
.
"Satu ... dua ... tiga ... cekodok cheese!"
Jepretan kamera terdengar beberapa kali di depan tujuh remaja kembar yang berpose di pintu rumah kakek mereka. Fang mengangguk-angguk puas sambil mengacungkan jempol. "Nice shots!"
"Kak Taufan!" protes Gempa dari sebelah kanan sang kakak nomor dua. "Kalau mau pose heboh, tuh, bilang-bilang dulu, dong! Aku kaget, tahu!"
Taufan terkekeh-kekeh, sadar betul bahwa tadi wajah Gempa hampir terkena tangannya yang di detik terakhir diangkatnya ke atas. "Sori, sori."
"Sengaja, tuh," lontar Halilintar di sebelah kiri Taufan, yang tadi berhasil menghindarkan diri tepat pada waktunya.
"Hei, lihat, udah jam berapa sekarang?! Kak Taufan dan Kak Gem harus segera ke sekolah!" seru Blaze yang duduk di anak tangga sebelah kanan, mendongak ke belakang ke arah dua kakaknya.
"Kak Taufan tadi dandannya kelamaan, sih! Hihi!" celetuk Duri sambil cekikikan di belakang kursi roda Solar.
"Woi, tadi itu lama bukan karena dandan, ya! Solar aja yang masih semangat nulis!" Taufan membela diri.
Yang disebut namanya mendongak sambil menyipitkan mata ke arah si anak nomor dua. Tangan kirinya bergerak membentuk isyarat.
"Hmm? Ehehe ... iya, iya, Solar." Taufan cengar-cengir.
"Hmm ... 'Jadi, Kak Taufan nyalahin aku, gitu?'" gumam Gempa yang mengamati si bungsu.
"Wow! Kak Gem sekarang juga bisa jadi penerjemahnya Solar!" pekik Blaze takjub, lalu berdiri sambil menenteng bola basket yang tadi dibawanya ikut berfoto. "Keren! Aku juga mau diajarin bahasa isyarat!"
"Woi, aku duluan yang diajarin!" sela Halilintar sambil kacak pinggang. "Fan, kamu udah janji sama aku duluan, lho!"
"Eeeh? Aku, 'kan, juga mau!" balas Blaze. "Kak Hali juga, nih. Dulu pernah janjiin aku latihan bela diri ..."
"Duh, kalian semua berisik banget, sih. Aku mau baring sebentar," ujar seseorang yang duduk di sebelah kanan kursi roda Solar, menggeser kaleng biskuitnya lalu ambil ancang-ancang untuk rebahan.
"Alamak, Ice! Ini tangga depan rumah! Jangan tiduran di sini!" Blaze berjongkok lalu mengguncang bahu Ice yang melontarkan protes malas-malasan.
Dari tadi Fang sudah tertawa-tawa sampai keluar air mata. Satu-satunya kaum hawa di situ menepuk bahunya.
"Fang, pasti kamu nggak pernah bosen, ya, punya tujuh teman kembar seheboh ini?"
Remaja berambut keunguan itu menoleh sambil mengusap mata. "I-iya, Bibi. Hahaha, aduh, Ice ini memang suka molor nggak lihat tempat ..."
Halilintar bicara, "Oke, Blaze. Aku akan ajarin kamu bela diri, tapi aku duluan yang les privat bahasa isyarat sama Taufan bareng Gempa!"
Blaze, yang masih berusaha mengguncang Ice, mendongak sambil merengut. "Hmph, Kak Hali curang! Aku, 'kan, juga mau diajarin Kak Taufan!"
"Ya ampun, sebegitu pengennya kalian diajar Profesor Taufan," ujar si empunya nama sambil geleng-geleng.
"Lebih tepatnya biar aku bisa ngobrol sama Solar, kali!" bantah Blaze sambil menunjuk Taufan dan Gempa. "Biar nggak cuma kalian berdua aja yang bisa mengerti Solar!"
Solar membetulkan letak kacamata visor oranyenya, lalu membuat isyarat dengan senyum terkulum.
"Eh, apa, Solar? 'Sebegitu pengennya Kak Blaze ngobrol denganku yang keren ini.' Pfft, kepedean seperti biasa, ya, Solar."
"Euh. Ngaca kamu, Fan!" komentar Halilintar.
"Kakak-kakak, yang mau vaksin. Buruan berangkat. Ayah udah siap bawa mobil, tuh," celetuk Ice dengan nada mengantuk sambil menunjuk. Di luar pagar, terlihat Amato sudah di kursi pengemudi sebuah sedan kecil sewaan.
"Yeay! Kak Taufan dan Kak Gem mau divaksin! Jadi, nggak cuma Solar sendiri yang nanti kebal sama COVID!" sorak Duri sambil menepuk-nepuk punggung sang adik.
"Oke, kami pergi dulu. Ayo, Kak Taufan!"
"Eeeh, aku disuruh ngaca? Padahal, tiap kali aku ngaca, tuh, yang ada wajahnya Kak Hali di cermin."
"Alamak, Taufan! Ya iya, lah! Kita ini kembar!"
"Kak Taufan, tolong jangan bikin perang dunia ketiga sama Kak Hali." Gempa menyeret kakak keduanya dengan tenaga luar biasa, yang biasanya hanya disalurkannya untuk medan perang rumah tangga (baca: mencuci baju, menyapu, mengepel, etc. ...) "Kami pergi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam ..."
Sejurus kemudian, mobil berisi tiga penumpang itu pun berlalu.
"Kak Blaze, ayo bantu aku gendong Solar ke dalam rumah!" ujar Duri.
"Biar kubantu," sahut Fang yang sudah mengemasi tripod dan kameranya. "Biar aku sama Blaze aja, Duri. Kamu dengan Solar itu hampir sama gedenya, hehe."
"Oh, oke, Fang ...," balas Duri sambil menunduk. Solar mengusap-usap kepala kakaknya yang tampak kecewa.
"Puk-puk, Kak Duri nggak usah sedih!" celetuk Blaze, iseng menebak apa yang mau diucapkan adik bungsunya yang jadi bisu dan lumpuh karena kecelakaan beberapa bulan yang lalu itu. Dilihatnya Solar tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Wah, tebakanku benar! Aku nggak harus les privat sama Kak Taufan, nih!" sorak si anak nomor empat, dibalas kekehan dari Fang.
"Fang, kamu mau makan pastry buatan Bibi?" Ibu para kembar menawarkan dengan lembut.
"Eh, nggak usah repot-repot, Bibi. Saya tadi sudah sarapan, kok."
"Ckckck. Fang. Nggak baik, menolak rezeki," ujar Ice yang tiba-tiba saja melek kembali mendengar kata 'pastry'. "Tapi, kalau kamu nggak mau, sih, nggak apa-apa juga. Biar aku yang makan."
"Iiiiceeee!" Blaze mengacak-acak rambut sang adik dengan gemas, yang segera diprotes pemiliknya.
"Pastry buatan Ibu enaknya selangit!" Duri promosi dengan riang gembira.
"Mau, ya, Fang?" Perempuan bermata biru itu tersenyum manis sampai matanya tinggal segaris dan anehnya Fang malah bergidik. Biasanya hanya Gempa yang bisa tersenyum manis nan dingin mencekam seperti itu, tapi—Fang sampai menoleh lagi untuk memastikan—Gempa, 'kan, sudah berangkat ke sekolah untuk vaksin.
Ketika Fang menemukan suaranya kembali, didengarnya dirinya menjawab, "I-i-i-iya, Bibi. Saya mau."
Sejurus kemudian, Fang sudah duduk bersama yang lain di meja makan. Netra merahnya melotot setelah mencicip segigit. "Hmmh! Enak banget! Bibi hebat!"
"Hehehe! Memang, lah, hebat!" Sang ibu tertawa gembira, tawa lepas yang mengingatkan Fang pada Taufan atau Blaze. Fang bahkan bisa melihat seluruh deretan giginya yang rapi. Jadi, dari wanita ini rupanya karakter riang gembira teman-temannya itu berasal?
"Terbaik!" sorak Duri dan Tok Aba bersama-sama lengkap dengan acungan jempol.
Solar mengangguk-angguk di kursi rodanya, piring kecil ada di pangkuannya dan dia makan dengan sendok di tangan kiri. Karena belum terbiasa menggunakan tangan yang tidak dominan, remah-remah makanan itu belepotan di sekitar mulutnya. Solar terbatuk kecil.
"Solar, Solar … makannya pelan-pelan." Sang ibu, yang kursinya memang paling dekat dengan tempat si bungsu, memutar tubuh dan menghapus jejak remah itu dengan tangannya. "Ibu tahu, Solar suka banget kue buatan Ibu. Tapi, kalau kecepetan nelannya, nanti nggak nikmat, lho!"
"Ehehe, iya, Solar! Pelan-pelan makannya, biar nggak cepat habis!" imbuh Duri di sisi satunya. Solar mengangguk sambil tersenyum malu-malu. Makan berantakan biasanya bukan gayanya!
"Tapi, kalau makannya pelan-pelan, nanti keburu dihabisin Kak Blaze!" celetuk Ice, yang mengambil lagi sepotong kue dari piring dan langsung melahapnya.
"Eh? Kok, aku?" Tak mau ketinggalan, Blaze ikut meraih sepotong.
"Kak Blaze, atlet basket itu harus diet. Sini, bagianmu buatku aja." Ice berusaha menyambar kue di tangan Blaze sembari mengunyah miliknya sendiri.
Blaze melotot melihat kuenya raib, berpindah ke tangan Ice. "Hei, mana ada?! Tanya Fang, tuh!"
"Aku pula dibawa-bawa?" kekeh Fang kegelian.
"Ice! Kembalikan!"
"Nggak mau!"
"Kamu ketularan jahilnya Kak Taufan, ya?" tuduh Blaze.
"Enggak, tuh!"
"Iiiiceeee."
"Kak Blaze, itu kuenya di meja masih banyak. Ngapain buang napas dan energi buat ngomelin aku sedangkan jarak tanganmu ke piring itu bisa lebih hemat sekitar lima Joule—?"
Ngapain pula, Ice membuang sekian Joule energinya buat membalas Blaze dengan kalimat (sok) ilmiah sepanjang itu?
"Uwaaaa! Kak Ice keren!" sorak Duri meski tak terlalu paham, padahal Ice cuma ngawur barusan—dan mereka yang paham, Fang dan Solar, diam-diam saja sambil senyum-senyum.
Blaze masih protes, sama tak pahamnya, "Kak Taufan dan Kak Gem, 'kan, belum makan ini!"
"Aku udah sisihkan buat mereka," ujar seseorang yang dari tadi tak bersuara. Seketika, semua sorot mata tertuju padanya dan malah membuatnya risih.
"Wow, Kak Hali!" celetuk Blaze terkagum-kagum.
"Ap-apa lihat-lihat?!" seru Halilintar pada semuanya, berusaha menyembunyikan kotak bekal warna biru milik Taufan yang barusan diisinya dengan beberapa potong kue.
"Hali, Hali. Kalau ada Taufan di sini, aku bisa bayangin apa yang bakal dia ucapkan—" kalimat Fang terpotong oleh seseorang—
"—Makasih, ya, Halilintar sayang … kamu inget Taufan dan Gempa, ya!"
"I-ibu, berhenti memanggilku begitu!"
"Pffft." Fang hampir meledak dalam tawa. Sang Ibu ternyata menyuarakan apa yang dipikirkan Fang. Terkesan jahil, tapi dengan demikian menunjukkan rasa sayangnya. Sepertinya Taufan memang yang paling banyak mewarisi sifat ibu mereka.
"Kamu dulu senang banget, lho, kalau Ibu panggil begitu."
"Aku, 'kan, masih kecil waktu itu!"
"Halilintar sayang, sampai kapan pun, kamu akan tetap disayang Ibu!"
Wajah si sulung sudah semerah kepiting rebus. Blaze dan Duri terbahak menyaksikan kakak sulung mereka yang salah tingkah, sementara Ice, Solar, dan Tok Aba juga ikut tersenyum.
"Apa semuanya punya panggilan kesayangan, Bibi?" tanya Fang, yang merasa kasihan pada Halilintar, lalu sedikit mengalihkan topik.
Yang ditanya tak langsung menjawab. "Ng, nggak juga, Fang. Hanya Halilintar yang Bibi panggil seperti itu. Lainnya, ya, nama masing-masing. Taufan, Gempa, Blaze, Ice, Duri, Solar."
"Oh, kenapa begitu, Bibi?" Mau tak mau, Fang jadi ingin tahu.
"Halilintar nggak suka namanya sendiri! Terlalu panjang, dulu bilangnya gitu. Adik-adiknya juga bisanya manggil 'Hali' karena masih pada cadel, 'kan. Bibi manggil begini biar Halilintar juga sayang dengan namanya dan bahwa aku nggak keberatan untuk menyebutnya dengan lengkap, sepanjang apa pun itu."
Filosofis sekali. Fang jadi agak terharu mendengarnya.
"Iya, Bu, tapi setelah kami bisa menyebut huruf 'r' dengan benar pun, tetep aja panggilnya enakan 'Kak Hali'," komentar Ice. "Hemat napas dan energi."
"Atok saja panggil nama Halilintar dengan lengkap, lho, Ice," balas Tok Aba sambil terkekeh. "Kamu ini masih muda!"
"Kok, aku terus yang dibicarakan? Ganti topik!" seru Halilintar sambil menunduk, tampak begitu ingin lenyap ke dasar bumi.
Fang buru-buru usul, "Ah, Bibi, Atok! Saya penasaran, gimana hebohnya ngurusin tujuh anak kembar? Gimana mereka waktu masih kecil?"
Baik sang ibu maupun Tok Aba sama-sama terdiam.
"Atok hanya bisa cerita setelah mereka di Pulau Rintis," ujar sang kakek sambil melempar pandang ke menantu perempuannya.
"Di Kuala Lumpur …?" tanya Fang, menatap ibu dari para kembar. Sorot mata perempuan itu menerawang.
"Masa kecil mereka … seperti pelangi warna-warni."
.
.
.
.
.
***...***...***...***
.
.
.
.
.
Author's Note:
Nggak biasanya Roux bikin chapter sependek ini mwahaha. Tenang, wahai pembaca tersayang, ini baru pengantar menuju ceritanya :D
Nggak sabar pengen publish yang ini, padahal ada satu lagi proyek multichapter yang belum tamat. Habis ini, rencananya Roux mau lanjutin Good Night, Have a Nightmare dulu, baru kembali ke sini.
Di satu sisi, tokoh ibunya kembar tujuh/Boboiboy a.k.a istrinya Papamato adalah original character karena belum muncul di canon. Terbiasa nulis fanfic, jadinya agak susah membuat OC :")
Di sisi lain, sudah banyak adegan untuk cerita ini berseliweran dalam kepala saya. Ini sebuah tantangan sekaligus godaan. Mwahaha! (Roux ketawa macam Adu Du, tapi Adu Du nggak muncul lagi di cerita ini).
Terima kasih sudah membaca dan menantikan cerita sampingan yang terakhir dari Through the Darkness. Kritik dan saran sangat diterima!
Dan, meski terlambat, selamat hari raya Idul Fitri bagi yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan batin.
[11.05.2022]
