Semuanya bermula ketika Solar menerima sebuah buku tua yang dikirimkan oleh saudaranya. Di dalam buku tua itu tersebutlah sesuatu benda yang telah dianggap hilang selama dua ribu tahun lebih dan menjadi incaran jutaan umat manusia yang menginginkan kehidupan abadi. Perburuan akan benda itu pun menyeret Solar dan saudaranya ke dalam petualangan untuk menemukan benda itu sebelum jatuh ke tangan yang salah.
Disclaimer dan Author Note:
-Karya tulis ini adalah fiksi. Kesamaan tokoh, kelompok atau individu nyata baik hidup atau tidak adalah kebetulan belaka
-Seluruh karakter yang terkandung di dalamnya adalah milik pemegang hak cipta, kecuali disebutkan berbeda.
-Tidak ada keuntungan materi yang saya dapatkan dari fanfic ini.
-Tidak berkaitan dengan fanfic saya yang lain kecuali disebutkan dalam cerita.
-BUKAN YAOI, BUKAN SHOUNEN-AI.
-Dalam fanfic ini umur karakter utama adalah sebagai berikut :
-BoBoiBoy Halilintar: 31 tahun
-BoBoiBoy Taufan: 31 tahun.
-BoBoiBoy Gempa: 31 tahun.
-BoBoiBoy Blaze: 30 tahun.
-BoBoiBoy Thorn/Duri: 30 tahun.
-BoBoiBoy Ice/Ais: 29 tahun.
-BoBoiBoy Solar: 29 tahun.
Selamat Membaca.
Chapter 1. Kenangan
Matahari menanjak semakin tinggi seiring dengan bergulirnya sang waktu. Tentu saja tidak ada mahluk yang mampu menghentikan waktu. Semua mahluk, bahkan benda mati sekalipun terseret oleh jalannya arus waktu.
Terkadang terasa cepat, namun terkadang terasa lambat. Begitulah jalannya waktu. Semua insan di dunia harus menuruti hukum universal ini yang bersifat pasti, mutlak dan absolut.
Walaupun begitu kuat, kehadiran sang waktu terkadang berlalu begitu saja tanpa terasa. Banyak yang menganggap hal ini adalah sesuatu yang lumrah, wajar dan merupakan bagian dari kehidupan seluruh umat manusia.
Setidaknya begitulah isi dari pemikiran Solar...
Tanpa terasa Solar, si adik termuda dari tujuh bersaudara keluarga BoBoiBoy, beranjak menuju masa kedewasaan. Baru beberapa hari yang lalu dia merayakan ulang tahunnya yang ke 29 bersama kakak-kakaknya yang masih tinggal serumah dengannya.
Namun sama seperti jalannya waktu, ulang tahun Solar berlalu begitu saja. Tidak ada yang berbeda dari ulang tahun sebelumnya. Seluruh kakak-kakaknya mengucapkan selamat atau ada juga yang menyempatkan memberi Solar kado.
Salah satu kado itu dipakai oleh Solar untuk mengaitkan ponselnya pada lubang AC mobil miliknya. Tidak seperti biasanya Thorn memberikan kado yang memang berguna untuk Solar. Sudah beberapa hari lamanya kado pemberian Thorn itu digunakan solar untuk membantu mobilitasnya melakukan perjalanan dari rumahnya di Pulau Rintis menuju sebuah universitas swasta di Kuala Lumpur.
Dengan menggunakan holder ponsel multifungsi itu, Solar bisa menggunakan ponselnya untuk membantunya mengemudikan mobil sembari melihat GPS supaya ia tidak tersasar.
Netra perak Solar melirik ke arah ponsel miliknya yang tersangkut pada holder kado dari Thorn pada lubang AC mobil. Jarak tujuan perjalanan pun terlihat semakin mengecil pada tampilan GPS di layar ponsel itu, apalagi ketika Solar semakin dalam menginjak pedal gas mobil Toyota 86 miliknya itu.
Raungan suara mesin dua liter boxer segara bergaung memenuhi interior kabin mobil yang dikendarai Solar. Jarum speedometer pun segera menanjak seiring dengan semakin cepatnya Solar memecut mobil tunggangannya.
Sedikit adrenalin yang terpompa di dalam tubuh Solar seakan memuaskan napsunya mencari tantangan hidup. Di tengah kesibukannya sebagai dosen di perguruan tinggi swasta, hal sepele seperti memacu mobilnya dan sedikit melawan hukum menjadi pelampiasan Solar melawan kebosanan akan rutinitas hidupnya yang sedikit terlalu monoton.
Adrenalin Solar yang sempat terpompa itu dengan cepatnya pula surut ketika Solar melihat pintu gerbang menuju kampus di kejauhan. Pedal gas yang sempat diinjaknya dalam-dalam pun segera ia lepaskan.
'Yah, murid-muridmu sudah menunggu, Solar,' gumam Solar di dalam batinnya selagi ia mengemudikan mobilnya masuk ke dalam pelataran kampus.
Salah satu hal yang disyukuri Solar semenjak ia menjadi dosen paruh waktu adalah fasilitas. Tidak lagi ia harus berebut tempat parkir mobil dengan para mahasiswa. Walaupun berstatus Sebagai dosen paruh waktu, Solar tetap mempunyai tempat parkir khusus bersama para staff perguruan tinggi yang lainnya.
Setelah memarkirkan mobilnya, Solar berjalan menuju gedung kampus yang tidak terlalu jauh letaknya dari pelataran parkir. Tidak lupa Solar membelai mobil sport miliknya yang sangat ia banggakan dan sayangi. Memang Toyota 86 milik Solar itu harganya tidak mahal untuk kategori mobil sport, namun bukan harga yang membuat Solar menyayangi mobilnya itu melainkan jerih payah dan usaha Solar menabung untuk membeli mobil itu.
Setelah memastikan mobil miliknya terkunci, barulah Solar beranjak melangkah menuju gedung kampus.
Perguruan tinggi dimana Solar mengajar memang tidak terlihat mencolok untuk ukuran sebuah universitas swasta. Hanya ada beberapa gedung saja dan bukan bangunan modern.
Namun jangan pernah menilai sebuah buku dari sampulnya saja. Kesederhanaan bangunan universitas tempat Solar mengajar sebagai dosen hanya dari luarnya saja sementara kualitas materi perkuliahannya berafiliasi dengan universitas dari negara adidaya yang jauh lebih tinggi mutunya.
Berkat otaknya yang superior dan langkanya arkeolog mumpuni, maka Solar dipercaya mengajar di universitas sebagai dosen paruh waktu. Sejatinya, Solar kini adalah seorang arkeolog yang dahulu menuntut ilmu di universitas itu. Keberhasilan Solar menjadi seorang arkeolog tidak terlepas dari kemampuan berlogikanya yang kuat. Selain itu Solar juga didukung dan dimotivasi oleh seluruh kakak-kakaknya.
"Huft ... Materi hari ini ... Mesir awal ..." Solar bergumam seorang diri setelah ia duduk di belakang meja kerjanya. Sebuah bilik di dalam ruangan yang juga ditempati oleh beberapa dosen lainnya menjadi tempat Solar bekerja.
Solar melirik ke arah jam yang terpasang pada dinding biliknya. Sejenak ia menatap pada jarum detik yang bergulir tanpa henti dan memaksa jarum menit berputar melewati angka enam. Jarum jam pun kian mendekati angka sembilan yang artinya Solar masih memiliki sedikit waktu luang sebelum ia harus mengajar.
"Haaah ... Kusangka jadi arkeolog itu menyenangkan, berpetualang ... Ngga tahunya malah kebanyakan kerja begini." Solar merutuk dan menghempaskan punggungnya pada sandaran bangku kerjanya.
Kedua netra perak Solar menutup dan kedua tangannya dilipat di depan dada. Alam pikirannya mengawang, mengingat waktu lampau yang sudah berlalu. Lebih tepatnya ia teringat akan masa perjalanan arkeologi pertamanya.
Mungkin berada di bawah terik matahari dengan hawa udara kering yang mencapai empat puluh derajad celcius lebih akan mematahkan semangat orang banyak. Namun bagi Solar, keringnya hawa udara dan tingginya suhu udara tidak mematahkan semangatnya ketika ia menjelajah padang pasir di Mesir.
Pada masa perjalanan arkeologi pertamanya itu Solar berhasil menemukan sebuah piramida dari kebudayaan Mesir yang masih utuh dan tidak pernah diketemukan sebelumnya.
Solar masih ingat bagaimana adrenalinnya terpompa ketika ia melihat piramida bertingkat, yang merupakan cikal bakal piramida sempurna yang lebih dikenal oleh orang-orang.
Bangunan makam Mesir kuno yang sudah berusia puluhan abad itu begitu megah dan kokohnya melawan kikisan arus waktu. Seperempat dari piramida itu sudah terkubur oleh pasir gurun namun berkat usaha pantang meyerah Solar dan tim arkeologinya, gerbang piramida itu berhasil ditemukan dan digali.
Solarlah orang pertama yang masuk ke dalam piramida itu. Dia disambut oleh lorong gelap yang dinding dan lantai batunya tidak pernah tersentuh oleh udara atau tangan manusia selama berpuluh-puluh abad lamanya.
Berbagai macam perasaan bercampur aduk pada diri Solar ketika ia melangkahkan kaki masuk ke dalam piramida itu. Senang karena dia adalah orang pertama yang menjelajahi piramida itu, khawatir karena dia tidak tahu apa yang menantinya di dalam bangunan makam Mesir kuno itu, penuh harapan untuk menemukan sesuatu yang brlum pernah dilihat sebelumnya dan sedikit ketakutan karena apapun alasannya, piramida itu adalah makam.
Dengan bermodalkan sebuah lentera elektrik, Solar menjelajah piramida itu semakin dalam. Sesekali Solar berhenti untuk mengamati torehan-torehan huruf hieroglif yang dilukis pada dinding lorong piramida itu.
Sebarisan huruf-huruf berbentuk gambar menarik perhatian Solar. Cahaya senter yang dipegang Solar menerangi barisan huruf-huruf hieroglif itu selagi dia mencoba membacanya.
Solar berkonsentrasi sepenuhnya dengan dahi yang mengerenyit saat dia mencoba membaca aksara yang sudah punah selama puluhan abad itu.
"Mereka ... masuk ... makamku ..." Sebagian dari barisan huruf-huruf hieroglif pada dinding makam berhasil diterjemahkan oleh Solar. Beberapa huruf lainnya terlalu rusak digerus waktu untuk dapat terbaca atau memang Solar tidak bisa mengartikannya.
Mendadak sebuah telunjuk tangan ikutan mengeja huruf-huruf hieroglif pada dinding piramida itu. "Jantung ... akan ... buaya ... ditolak ... Dewa Osiris."
Segera Solar menoleh ke arah sumber suara yang baru saja membantunya membaca huruf-huruf hieroglif itu. "Eh? Iya, Kak Gempa betul," ucap Solar sembari memandangi orang yang berada di sampingnya.
Gempa membalas tatapan Solar dengan sebuah senyuman. Dia adalah salah satu kakak Solar yang juga getol dengan arkeologi. Gempa juga salah satu orang di dalam kekuarganya yang mendukung minat Solar dalam ilmu yang mempelajari kebudayaan masa lampau.
"Lumayan juga, Sol. Kamu bisa membaca hieroglif Mesir," puji Gempa sembari menepuk-nepuk pundak adiknya.
Seharusnya Gempa tersenyum puas dengan pencapaian Solar, namun tidak kali ini. Di dalam benaknya, Gempa merasakan ada sesuatu yang tidak beres apalagi setelah dia membaca lanjutan tulisan hieroglif pada dinding piramida.
"Kami ... pendeta ... Hammunaphtra ... menyegel ...," gumam Gempa dan Solar nyaris bersamaan ketika mereka semakin jauh membaca tulisan hieroglif itu.
"Hammunaphtra?" Solar mengerenyitkan dahi. "Aku ngga pernah dengar nama itu ..."
"Hammunaphtra, itu nama tempat. Para pendeta Anubis Mesir kuno menjalankan ritual pemakaman mereka disitu." Gempa menjelaskan tanpa menengok ke arah Solar. Tatapan kedua netra cokelat Gempa masih terpaku pada dinding piramida selagi ia mencoba membaca barisan huruf-huruf hieroglif.
Pada saat itulah Solar meneguk ludahnya. Dia merasakan ada sesuatu yang benar-benar tidak beres, apalagi setelah ia menyadari bahwa tulisan hieroglif itu tidak lain adalah kutukan yang ditujukan kepada siapa saja yang menerobos piramida, yang tidak lain adalah bangunan makam.
"Ki-kita harus hati-hari," ucap Solar sembari mengangkat lentera yang digenggamnya ke atas supaya jangkauan cahanya lebih luas.
Sinar dari lentera elektrik yang dipegang Solar nyaris tidak mampu menembus tirai kabut debu tipis yang beterbangan di dalam lorong gelap itu. Jarak pengelihatan pun menjadi sangat terbatas di dalam lorong gelap piramida itu.
Langkah kaki Solar yang tadinya lebar dan antusias kini mengecil dan perlahan. Seluruh panca inderanya penuh kewaspadaan selagi dia menjelajah semakin jauh ke dalam piramida itu. Di satu sisi, Solar bersyukur bahwa dia bersama dengan Gempa dalam ekspedisinya. Kehadiran si kakak yang diundang mengikuti ekspedisi itu benar-benar meringankan beban Solar dalam perjalanannya.
Sebagai arkeolog yang lebih senior, Gempa banyak membantu Solar dalam ekspedisi. Pengalaman membuat Gempa menjadi salah satu penasihat yang paling dekat dan paling banyak memberi pertolongan bagi Solar yang kala itu baru saja memulai karirnya sebagai arkeolog setelah lulus dari perguruan tinggi.
Tidak keliru kalau Solar percaya akan intuisi dan naluri Gempa dalam sebuah ekspedisi, namun kali ini Solarlah yang memimpin ekspedisi sedangkan Gempa lebih banyak mengamati dan memberi saran saja. Karena itulah sekarang Solar memimpin dan membuka jalan di depan sedangkan Gempa mengikuti di belakang.
Selangkah demi selangkah Solar memasuki lorong piramida itu semakin dalam. Udara di dalam lorong berdinding batu itu kian membuat sesak, bahkan Solar merasakan kepalanya seakan melayang dan penglihatannya mulai berbayang.
Semua itu tidak menyurutkan semangat Solar yang rasa ingin tahunya demikian besar. Walaupun melambat langkah Solar tidak berhenti, apalagi kini sinar dari lampu senternya yang menembus kegelapan sudah mengenai tembok di ujung lorong yang ia telusuri.
Udara terasa semakin sesak dan panas. Paru-paru Solar terasa terbakar setiap kali ia menarik udara untuk bernapas. Walaupun hawa di dalam lorong berdinding baru itu tidak panas, keringat tetap bercucuran membasahi wajah dan tubuh Solar.
Tapi Solar tidak peduli. Dia terus melangkahkan kedua kakinya dan membawa dirinya masuk lebih jauh ke dalam bangunan makam kuno itu. Perhatiannya kini tertuju pada bayangan samar di tembok yang tampak di ujung lorong. Dari bayangan yang tercipta pada tembok di ujung lorong dimana ia berada, Solar menyimpulkan bahwa ujung lorong itu berbelok.
Semakin dekat dengan ujung lorong, semakin kuat pula rasa penasaran yang berkecamuk di dalam kepala Solar. Perhatiannya kini sepenuhnya tertuju pada ujung lorong itu dan tidak laginpada langkah kakinya.
Tanpa disangka, salah satu batu limestone yang menjadi lantai lorong makam itu mendadak amblas ketika dipijak oleh Solar.
Secara refleks Solar melompat ke belakang dengan cepat. Lantai batu yang diinjak Solar tadi tetap saja amblas.
"Apa itu?" tanya Gempa selagi ia menarik Solar ke belakang.
"Entah?" Secara liar Solar mengibaskan lentera yang dipegangnya ke segala arah. Firasatnya menjadi semakin tidak enak, apalagi setelah terdengar bunyi berat bebatuan yang saling berbenturan.
"Awas!" Gempa menarik Solar mundur lebih jauh lagi.
Namun Gempa tidak cukup cepat karena lantai batu tempat Solar berpijak mendadak runtuh.
Bahkan Solar tidak sempat berteriak ketika dirinya ditarik paksa oleh gravitasi mengikuti lantai batu yang runtuh di bawah kakinya. Lubang kegelapan menyambut dan menanti Solar ketika ia melihat ke arah bawah.
Tidak ada lagi yang Solar bisa lakukkan kecuali memejamkan kedua matanya erat-erat. Dia memasrahkan diri ditarik oleh gravitasi ke dalam lubang yang mendadak terbentuk oleh batu-batu lantai lorong piramida yang amblas runtuh secara bersamaan.
Beruntung bagi Solar karena masih ada Gempa. Dengan sigap Gempa menangkap tangan Solar sebelum si adik lenyap ditelan kegelapan lubang di lantai lorong.
"Kak ... Gempa?" Dari posisinya yang menggelantung pada pinggiran lubang, Solar mendonggakkan kepalanya dan memandangi Gempa. Begitu erat dan kuat cengkeraman tangan Gempa yang terasa oleh Solar pada sekitaran pergelangan tangannya.
"Pegang tanganku!" teriak Gempa. Mati-matian Gempa berusaha mempertahankan kekuatan tangannya yang menggenggam pergelangan tangan Solar.
Solar meneguk ludahnya ketika ia melihat lubang gelap seakan tanpa dasar di bawah kakinya. Terbayang di dalam benak Solar apa yang akan terjadi apabila Gempa melepaskan pegangan tangannya. Seketika itu juga lenyaplah seluruh kemampuan Solar berlogika.
Solar hendak mencoba berteriak, namun paru-parunya terasa sangat sesak. Otaknya seakan tengah mengirim dua sinyal yang berlawanan kepada paru-parunya, antara untuk berteriak atau menahan napas.
"Sini tanganmu satu lagi!" perintah Gempa sembari mengulurkan tangannya yang sebelah lagi.
Suara si kakak cukup keras untuk menyentak otak Solar kembali ke jalur logikanya. Segera Solar mengayunkan tangannya yang sebelah lagi dan menangkap tanhan Gempa yang terulur.
Setelah yakin bahwa cengkeraman tangan Solar dan tangannya sendiri cukup kuat, barulah Gempa berani menarik Solar ke atas dan keluar dari lubang jebakan maut yang menganga.
Sesampainya di tepi lubang, Solar langsung jatuh terduduk. Dia memegangi dadanya yang terasa sesak karena napas yang memburu dan degup jantungnya yang sangat kuat dan cepat.
"Te-terima ... kasih, Kak," ucap Solar dengan suara gemetaran
Gempa mendengkuskan napasnya. "Beruntung ada aku, kalau ngga kamu sudah jadi penghuni tambahan permanen piramida ini," ujar Gempa sembari menggelengkan kepalanya. "Piramida yang belum pernah dibuka seperti ini biasanya banyak perangkapnya."
"Orang bilang kutukan, tapi sebetulnya kutukan itu jebakan untuk penerobos piramida."
"I-iya." Solar menarik napas dalam-dalam dan berusaha menormalkan degup jantungnya. Setelah lebih tenang, barulah Solar mendorong tubuhnya berdiri.
Dengan bantuan sebuah lentera cadangan yang tadinya dipakai Gempa, Solar mengamati lubang tempat dimana dia nyaris terperosok. Selain cukup dalam, apa yang ada di dasar lubang itu membuat Solar meneguk ludah. Berbaris-baris benda logam runcing terpasang di dasar lubang itu dan mengarah ke atas. Benda apapun yang mendarat di dasar lubang itu pasti akan tertusuk benda logam seperti tombak itu.
Setelah diamati lebih seksama, lubang itu ternyata tidak terlalu lebar dan pada tepi yang berlawanan dari tempat Solar dan Gempa berdiri terlihat bahwa tepian lubang itu cukup kokoh. Oleh karena itu, Solar mencoba untuk melompati lubang itu.
Beberapa langkah panjangnya Solar mundur sebelum ia berlari secepat kakinya mampu bergerak. Tepat pada tepi lubang, Solar menghentikan kakinya dan melompati lubang jebakan yamg menganga.
Kali ini perhitungan Solar tidak meleset. Dia berhasil melompati lubang itu.
Gempa pun menyusul Solar melompati lubang jebakan yang sama. Sama seperti si adik, Gempa berhasil melewati perangkap maut itu.
Kembali Solar dan Gempa menelusuri lorong piramida yang gelap. Kali ini hanya bermodalkan sebuah lentera saja karena lentera awal yang tadi dipakai oleh Solar rusak terbentur dinding lubang jebakan.
Beruntung tidak ada lagi jebakan yang menghadang, hanya lorong panjang berliku yang masih harus dijelajahi. Entah berapa lama waktu berlalu dihabiskan Solar dan Gempa menelusuri lorong gelap piramida itu sampai mereka tiba pada ujung lorong.
Pada akhirnya, tibalah Solar dan Gempa pada sebuah katakombe, yaitu ruangan terakhir yang berukuran lebih besar daripada lorong yang sudah dijelajahi. Bagaikan sudah menanti, sebuah sarkofagus, kotak kayu yang diukir dan dibentuk menyerupai manusia ditemukan di ruangan itu.
Kotak kayu yang tidak pernah tersentuh oleh hawa dan udara luar itu terlihat masih utuh. Hanya warnanya saja yang sudah pudar digerus waktu.
Di dalam ruangan katekombe yang yang sama pula terlihat banyak artefak, yaitu benda-benda penting yang bersangkutan dengan piramida dan penghuninya.
Tertumpuk dengan rapi pada tepi ruangan katekombe itu Solar melihat beberapa benda melingkar berbahan kayu yang diduganya adalah roda-roda kereta. Di dekat tumpukan roda-roda itu terdapat pula kendi-kendi keramik tertutup segel. Pada tepi yang berlawanan terdapat beberapa peti ya g sudah lapuk dimakan usia dan terlihat berisikan pernak-pernik logam mulia, perunggu dan batu mulia.
Namun semua itu tidak terlalu dipedulikan oleh Solar. Fokusnya tertuju pada sarkofagus, dimana pemilik piramida itu dimakamkan puluhan abad yang lalu.
"Sarkofagusnya masih utuh," ucap Solar selagi ia berjalan mendekati kotak kayu berbentuk wujud manusia yang terbujur di ujung ruangan makam piramida. "Segelnya juga masih utuh."
"Betul, masih utuh." Gempa menyetujui pengamatan awal Solar. Tanpa menunggu ajakan dari Solar pun Gempa mendekati sarkofagus itu.
Dengan bantuan cahaya lentera, Gempa mencoba membaca aksara hieroglif yang terukir pada sarkofagus yang sudah berusia puluhan abad itu. Memang pewarna yang digunakan untuk menghias peti mati Mesir kuno itu sudah memudar, namun ukiran huruf hieroglifnya masih bisa terbaca.
"Hm ... Tjaty ... Sekhemkare," gumam Gempa selagi ia membaca huruf-huruf hieroglif pada sarkofagus itu. "Kamu tahu apa artinya ini, Solar?" tanya Gempa sembari menolehkan kepalanya ke arah Solar.
Raut wajah Solar langsung berubah. Aura semangat yang sempat terpancar dari mimik mukanya mendadak lenyap begitu saja. "Ya ... Penghuni makam ini bukan seorang firaun ... Padahal aku berharap ini piramida seorang firaun di masa awal Mesir."
Gempa tersenyum tipis sembari menepuk-nepuk pundak Solar. "Hey, lumayan juga kamu berhasil menemukan makam seorang tjaty, perdana menteri. Satu tingkat saja dibawah firaun."
"Iya sih ...," keluh Solar. Dia mengeluarkan sebuah belati kecil dari dalam saku celananya. Dengan menggunakan belati kecil itu, Solar menorehkan sayatan pada pinggiran tutup sarkofagus dan memecah segel yang sudah berusia puluhan abad lamanya. "Semoga saja muminya masih utuh," ucap Solar lagi setelah ia berhasil memecah segel sarkofagus itu
Setelah segel resin di sekeliling tutup sarkofagus itu berhasil dipecahkan, barulah Solar dan Gempa mencoba untuk membuka tutup sarkofagus kayu itu. Perlahan-lahan tutup sarkofagus terangkat sampai akhirnya terlepas.
"Wow ..." Itulah kata-kata yang pertama terucap oleh Solar ketika untuk pertama kali dalam hidupnya ia berhadapan langsung dengan mumi Mesir. Setelah berpuluh-puluh abad lamanya, hawa udara kering dan panas di dalam piramida telah mengawetkan jenazah terbungkus balutan linen dan balsam itu dengan sempurna.
"Selamat, Solar. Kamu orang pertama yang berhasil menemukan salah satu mumi tertua yang masih utuh di Mesir." Gempa memuji adiknya yang terkecil itu dengan nada penuh kebanggaan.
Namun Solar tidak terlihat senang. Sebaliknya, wajahnya tampak murung. "Aku berharap menemukan mumi firaun."
"Sebetulnya mumi yang bukan firaun begini lebih berharga, Sol," ujar Gempa sembari mengamati mumi yang berada di dalam sarkofagus yang sudah terbuka. "Mumi firaun sudah banyak ditemukan ... Firaun Ramses, Firaun Tuthankhamun, Firaun Akhenaten, Firaun Seti, Firaun Nefertiti, Firaun Cleopatra ... Justru mumi tjaty, perdana menteri, seperti ini yang jarang ada apalagi utuh begini."
Sejenak Solar terdiam. Dia memandangi mumi yang terbaring di dalam sarkofagus kemudian memandang ke arah Gempa. "Iya ... kamu benar, Kak," ucap Solar sebelum ia mengulurkan tangannya ke dalam sarkofagus. Sebuah benda berbahan logam yang berada di atas mumi menarik perhatian Solar.
"Ankh." Solar mengambil sebuah benda berbentuk huruf T dengan elips berbentuk tetesan air terbalik di atasnya. "Simbol kehidupan," gumam Solar sembari mengamati ankh yang baru saja diambilnya dari dalam sarkofagus.
"Kamu mau mengambil ankh itu?" tanya Gempa dengan dahi mengerenyit.
"Yah, kenapa ngga? Anggap saja upahku karena menemukan piramida ini," jawab Solar sembari mengantungi ankh yang baru saja ia bebaskan dari pemilik aslinya.
Gempa hanya bisa menggeram kesal. "Yang begini nih, yang membuat nama arkeolog rusak ... Kamu sama saja dengan pencuri-"
"Pemburu harta karun," sergah Solar sebelum Gempa sempat menyelesaikan protesnya. "Pencuri tidak punya keterampilan, pemburu harta karun punya keterampilan khusus ... Seperti aku contohnya."
Pembelaan diri Solar membuat Gempa memutar bola matanya ke atas. "Terserah kamu saja deh Sol ... Ayo kita keluar, tim museum pasti akan tertarik untuk mendata semua artefak ini.".Ankh yang didapat dari ekspedisi pertamanya yang sukses itu kini menjadi saksi mata akan keberhasilan Solar. Simbol kehidupan Mesir kuno itu berada di atas telapak tangan Solar saat ia mengenang ekspedisi suksesnya bersama Gempa. Berbeda dengan keadaan ketika ditemukan dua tahun lalu, ankh itu telah direstorasi oleh Solar. Alhasil, walaupun sudah berusia puluhan abad, kemilau emasnya terlihat begitu cemerlang seakan baru saja selesai dibuat.
Waktu tepat menunjukkan pukul sembilan pagi. Perlahan Solar membuka laci meja kerjanya. Ankh yang berukuran hampir sebesar telapak tangannya itu diselipkan ke dalam sebuah kotak di dalam laci sebelum laci itu ditutup dan dikunci.
"Saatnya bekerja ..." Solar menghela napas panjang sebelum berdiri dari bangku kerjanya. Dia mengambil beberapa lembar kertas bertuliskan materi pelajaran hari itu sebelum berjalan menuju ruangan kelas tempat ia akan mengajar..Bersambung.
Author note.
Tjaty: Orang yang menjabat sebagai perdana menteri jaman Mesir kuno.
Firaun: Gelar raja jaman Mesir kuno, bukan mengacu pada satu orang tertentu saja.
Ankh: Simbol hieroglif yang melambangkan kata "kehidupan" dalam peradaban Mesir kuno.
Anubis: Salah satu Dewa dalam kepercayaan Mesir kuno yang berperan sebagai Dewa kematian.
Terima kasih sudah meluangkan waktumu untuk membaca, semoga berkenan. Mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan.
"Love all, hate none."
