Disclaimer: Harry Potter! J.K. Rowling

A/N:

dah lama gak buka ffn dan ternyata akunnya dah gak bisa login lagi, terpaksa buat akun baru. Sempet post di apk oren iseng pos disini juga.

Orion x Harry!

alur agak lambat, dan mungkin slow update juga.

au! time travel fic

Hope you like it! happy reading


Semuanya akan terasa jauh lebih baik jika Harry Potter bukanlah The boy who lived yang membuatnya mendapatkan perhatian dari seluruh dunia sihir, di mana dia tidak membutuhkannya.

Kedua orang tuanya mati karena ramalan bodoh yang Trelawney katakan tentang Voldemort dan dirinya. Tidak ada yang bisa hidup sementara yang lain bertahan...

Yah... Di sinilah Harry Potter meratapi kematian ayah baptisnya, Sirius Black. Memohon kepada Bellatrix Lestrange untuk membunuhnya juga saat itu dan dengan senang hati Bellatrix mengabulkannya.


Harry mengerjapkan matanya berkali-kali. Penglihatannya cukup jelas bahkan tanpa kacamatanya. "Aku pikir aku sudah mati."

"Belum, tuanku." Sebuah suara menenangkan datang dari belakangnya.

Harry terkejut memutar tubuhnya dan berusaha mencari di mana tongkatnya berada. "Siapa di sana?"

Sosok misterius itu perlahan mendekat, jubah hitamnya yang panjang menyapu lantai hitam segelap malam. "Bagaimana pun, saya tidak bisa membiarkan anda mati begitu saja."

Harry mengerutkan keningnya pada sosok misterius di depannya. "Dan kenapa seperti itu?"

"Ada banyak dunia alternatif, tuanku. Dunia di mana anda bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik."

Harry termenung sesaat memikirkan perkataannya. Apakah dia akan memutar waktu? Tapi Harry yakin kalau dia sudah mati, rasa sakit yang dia rasakan begitu nyata. Dia bahkan tidak mengenali sosok berjubah misterius itu. Wajahnya tertutup, jubahnya sangat panjang, hanya tangan putih pucat nyaris seperti mayat yang bisa Harry lihat.

Mata hijaunya menatap kosong ke depan mengabaikan sejenak sosok asing itu. Pancaran kesedihan terlihat jelas dibalik matanya yang indah, Harry bisa bertemu kembali dengan Sirius, kedua orang tuanya, Remus, bahkan jika dia beruntung Harry bisa menyelamatkan keluarga Black.

"Apa yang kau maksud dengan dunia alternatif itu?"

Walau wajahnya tertutupi tudung jubahnya, Harry bisa merasakan kalau dia sedang ersenyum. "Saya ingin anda menerima uluran tangan saya." Tangan pucat itu terulur mengambang di udara menunggu Harry menyambutnya.

"Tidak ada yang perlu ditakutkan. Saya tidak akan menyakiti anda." Kata-kata itu seolah-olah telah mengangkat beban keraguan yang berada di hati Harry.

Tangan Harry menyentuh tekstur tangannya yang dingin. "Death." Ucap Harry.

Mengangkat sedikit kepalanya Death tersenyum kepada Harry. Klaimnya atas tiga hallow telah menjadikan dirinya sebagai master of death, itulah sebabnya Death memanggil Harry dengan sebutan "Lord".

"Ke mana kau akan mengirimku?"

Death memiringkan kepalanya, "tahun 1929, anda akan terlahir sebagai satu-satunya putra dari keluarga Peverell. Hadrian Linfred Peverell, Harry Potter tidak pernah ada. Anda terlahir dari ayah dan ibu berdarah murni. Kedua orang tua anda telah meninggal dan tinggal bersama paman dari pihak ibu anda. Karena dia adalah satu-satunya keluarga anda yang tersisa."

"Peverell? Tapi aku adalah Potter."

Death tersenyum, "sudah tidak ada waktu lagi tuanku. Semoga beruntung."

Tubuh Harry tertarik menjauh dari Death. Tanpa bisa berkata apa-apa lagi, Harry segera menjadi tidak sadarkan diri.


Harry memiliki kecantikan yang diwariskan dari keluarga Rosier yang membuat siapapun akan terpesona ketika melihatnya. Kulit pucat, rambut hitam yang sedikit berantakan— namun tidak seperti saat dia menjadi Potter, mata hijau emeraldnya yang masih sama— yang ternyata berasal dari pihak ibunya Violetta Peverell nee Rosier.

Harry tersenyum menatap sosoknya dibalik cermin besar. Dia tinggal bersama pamannya Felix Rosier yang telah jatuh cinta pada wanita cantik berdarah muggle, akan tetapi kekasihnya terbunuh oleh keluarganya sendiri. Sehingga Felix menutup dirinya dan pergi dari keluarga Rosier.

Harry turut prihatin tapi tidak bisa melakukan apa-apa selain memeluknya dengan tubuhnya yang masih berusia 4 tahun. Dia tumbuh normal seperti anak pada umumnya, yang membuatnya istimewa adalah sihirnya yang sudah bangkit sejak saat Harry dilahirkan.

Ibunya meninggal tepat ketika dia dilahirkan, tapi Harry ingat senyuman terakhir ibunya yang memeluk dan menciumnya sebelum dia menghembuskan napas terakhirnya.

Ayahnya yang diliputi kesedihan mendalam pergi pada malam hari setelah 7 hari kelahirannya dan ditemukan mati terjebak di tengah serangan para pelahap maut.

Tidak ada yang merawatnya saat itu, hanya para peri rumah yang begitu setia terhadap keluarga Peverell merawat pewaris Peverell dengan sepenuh hati sampai pamannya tiba.

Felix menangis menggendong keponakannya dan berkata, "kau aman sekarang Hadrian."

Harry tidak pernah merasa begitu bersyukur. Pamannya merawatnya seperti anaknya sendiri. Mengajarinya sihir, segala etiket darah murni dan tidak mencuci otaknya dengan supremasi darah murni serta kebencian alami terhadap penyihir kelahiran muggle.

Muggle tidak serendah atau sehina yang kebanyakan darah murni pikirkan. Mereka menciptakan beberapa penemuan hebat yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh penyihir berdarah murni yang menganggap pekerjaan itu terlalu rendah dan tidak pantas.

Harry bertekad untuk mengubah pemikiran bodoh itu, karena bagaimana pun jika para penganut supremasi darah murni itu tidak menyadarinya. Kebanyakan penyihir-penyihir hebat terlahir berdarah campuran seperti Dumbledore, Grindelwald, Voldemort, Snape, dan bahkan dirinya sendiri— Harry Potter.

Muggle seperti membangkitkan inti sihir dari darah murni yang terpendam. Perselmouth adalah salah satunya. Harry dan Tom Riddle adalah seorang Perseltongue yang pada generasi keluarga mereka sebelumnya tidak pernah ada. Itu membuktikan teori Harry tentang muggle mungkin ada benarnya.

Meskipun ada beberapa kemungkinan sihir istimewa dari setiap keluarga darah murni yang tidak Harry ketahui. Mungkin memang belum saatnya bagi kemampuan unik itu untuk muncul.


Suasana di meja makan mansion tempat tinggal Felix cukup sunyi. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara hanya suara dentingan alat makan yang terdengar. Harry telah berusia 10 tahun besok tanggal 31 Juli dia akan berulang tahun yang ke-11 dan Harry penasaran apakah dia akan mendapatkan surat Hogwartsnya atau tidak.

Ibunya adalah lulusan Hogwarts bersama dengan pamannya yang 2 tahun lebih tua. Ayahnya Linfred Peverell tidak pernah mendapatkan pendidikan formal seperti Hogwarts, Beauxbatons, ataupun Durmstrang. House of Peverell menutup diri mereka dari dunia sihir. Sehingga terdengar desas desus kalau keluarga itu sudah punah.

Peverell menjaga diri dengan mengisolasi diri mereka sendiri, tidak ingin terlibat dalam perang atau pihak manapun. Manor mereka berada di bawah mantra fidelius dengan penjaga rahasia yang saat itu adalah Linfred Peverell— pewaris Peverell sebelum Harry, sehingga tidak ada satupun yang mengetahui di mana mereka tinggal.

Hingga suatu hari Linfred yang jenuh dan bosan memutuskan untuk keluar dari manornya. Berjalan menyusuri jalan setapak di jalanan Paris yang sepi. Awan gelap mulai berkumpul, cuaca bahkan tidak mendukungnya untuk sekadar mengusir kebosanannya.

Ketika hujan mulai turun Linfred memutuskan untuk berteduh di depan sebuah toko kue. Aroma harum roti yang baru dipanggang dan bau tanah basah menenangkan saraf-saraf di tubuhnya.

Di tengah derasnya hujan Linfred dikejutkan oleh suara teriakan perempuan.

Dia menoleh ke depan ke arah jalanan sempit yang suram. Tanpa diperintah kakinya dengan refleks melangkah maju mengabaikan tetesan hujan yang mulai membasahi tubuhnya.

Semakin dia mendekat, Linfred bisa merasakan adanya ancaman yang mendekat. Sebuah siluet tubuh perempuan berambut pirang berlari ke arahnya, "tolong aku!" Linfred tanpa sadar menarik lengan gadis itu dan membawanya berlari menjauh dari tempat itu tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.

Napasnya terengah-engah, uap putih muncul ketika dia bernapas melalui mulutnya. Nalurinya membawa pasangan itu ke tempat yang menurutnya aman, yaitu manor Peverell. Meskipun dari luar tidak akan tampak apa-apa hanya hamparan tanah yang luas, hanya keluarga Peverell yang bisa melihat manor itu. Dan Linfred membawa gadis asing ke tempat tinggal yang seharusnya tidak boleh diketahui oleh siapa pun.

Linfred menatap gadis itu. Sedikit terpesona dengan kecantikannya. Mata hijau emeraldnya seolah-olah telah menyihir Linfred ke dalam keindahannya— seperti habis meminum ramuan amortentia, ramuan cinta terkuat yang pernah dibuat.

Gadis itu tersenyum rambut pirangnya yang sebelumnya tersanggul rapi, kini berantakan dengan beberapa helai menutupi wajah cantiknya. "Terima kasih."

Linfred mengangguk kaku melepaskan pegangan tangannya pada gadis itu, ada perasaan hangat yang hilang tapi segera ditepis olehnya. Dia melangkah mundur menjauh dari gadis itu, setelah dirasa cukup aman, Linfred berbalik pergi meninggalkannya.

"Tunggu ke mana kau akan pergi?" Tangannya yang berbalut sarung tangan hitam menggenggam kemeja yang dikenakan Linfred mencegahnya untuk bergerak menjauh.

"Pulang. Kau sudah aman sekarang."

"Aku kabur dari rumah, apa aku bisa tinggal sebentar bersama mu?" Tanyanya, "setidaknya hanya sampai hujan reda."

Tidak ingin berdebat, Linfred kembali menggenggam tangan gadis itu dan melangkah masuk melewati bangsal manornya.


"Hadrian?" Harry tersentak garpu yang dia pegang terlepas dari tangan kanannya.

"Sedang memikirkan sesuatu?" Harry mendongak menatap pamannya sesaat, "tidak hanya teringat ayah dan ibu saat pertemuan pertama mereka."

Ada guratan kesedihan yang terlintas di mata abu-abu Felix. Meskipun bukan berasal dari cabang utama keluarga Rosier yang berada di Inggris Felix sangat mencintai adik perempuannya itu. Peverell jelas pasangan yang luar biasa untuk adiknya dan kini Linfred dan Violetta telah meninggalkan putra semata wayangnya kepadanya.

Hadrian jelas-jelas merupakan cetakan dari ibunya, hanya warna rambutnya merupakan turunan dari Linfred. Hadrian terlalu cantik untuk ukuran anak laki-laki tapi tidak sefeminim perempuan pada umumnya. Dia memiliki pesonanya tersendiri seperti Rosier pada umumnya.

"Ada yang kau inginkan untuk ulang tahun mu besok?"

Harry menggigit bibir bawahnya ragu, "apa aku akan pergi ke Hogwarts?"

"Jika kau menginginkannya. Apa kau tidak mau pergi ke Hogwarts?"

Harry menggelengkan kepalanya, "tidak, hanya saja aku adalah Peverell kemunculanku di Hogwarts jelas akan menggemparkan seluruh aula besar." Harry tersenyum gugup, membayangkan suasana yang sama persis ketika dia masih menjadi Harry Potter.

Dengan ragu-ragu Felix berkata, "kau bisa menggunakan nama Rosier. Aku bisa mengaturnya untukmu. Hadiran Linfred Rosier berasal dari House of Rosier yang berada di Prancis."

Harry berpikir sejenak, menyandang nama Rosier mungkin akan sedikit kurang mencolok dibandingkan dengan Peverell, tapi—"tidak apa-apa, aku tidak ingin merepotkan paman, aku akan muncul sebagai Peverell dan tidak ada yang akan meremehkan sang pewaris House of Peverell yang kuno dan mulia."

Felix tertawa, "sepertinya aku mengajari mu dengan sangat baik. Besok kita akan pergi membeli semua yang kau butuhkan di Hogwarts nanti."

Sesuai perkiraan Harry, suratnya tiba tepat pukul 7 pagi. Isinya sama persis seperti yang Harry ingat. Surat pertamanya sebagai Harry Potter sekaligus hadiah ulang tahun terbaiknya saat itu.

Mereka akan berpergian dengan portkey— yang jauh lebih baik dibandingkan dengan bubuk floo, karena Harry tidak pernah berhasil mendarat dengan mulus dengan transportasi yang satu itu. Felix akan selalu tertawa melihat tidak anggunnya Harry ketika menggunakan floo.

"Setidaknya keponakanku yang sempurna memiliki satu kekurangan." Katanya sambil tersenyum senang.

Harry mengira mereka akan ke Madam Malkin's untuk mendapatkan set jubahnya. Seorang pria bertubuh pendek menyambut kedatangan mereka, "selamat datang, Tuan Rosier dan Tuan Peverell." Pria itu membungkuk dan mengantarkan pasangan itu ke dalam.

"Kami memiliki pelanggan lain yang akan masuk di tahun yang sama juga. Mohon tunggu sebentar Tuan Peverell."

Harry mengangguk, mengamati Twilfitt and Tattings, toko pakaian sihir yang terletak di South Side. Toko pakaian itu menawarkan pakaian dan perhiasan mewah yang hanya bisa diakses oleh kalangan atas. Sebagai pewaris Peverell dan Rosier— yang berasal dari pamannya, entah berapa juta galleon yang ada dibrangkas Gringottsnya sekarang.

Sementara Harry berdiri diam menaiki bangku, dia tidak memperhatikan anak laki-laki yang berdiri di sampingnya. Para penjahit melakukan pekerjaannya dengan cepat dan teratur, alat-alat ukur berterbangan melingkari tubuhnya.

"Hogwarts?" Harry menoleh ke samping, sedikit terkejut dengan siapa yang baru saja berbicara dengannya. Rambut hitamnya, kulit putih pucatnya, serta mata perak itu— mengingatkannya akan Sirius.

"Y-ya, tahun pertama." Napasnya sedikit memburu, nyaris melakukan hal bodoh seperti melompat dan memeluk erat sosok yang berdiri di sampingnya, meluapkan kerinduannya pada sosok yang sangat mirip dengan ayah baptisnya. Walaupun Harry mengetahui kalau dia bukanlah Sirius.

Setengah jam kemudian, alat ukur itu berhenti bekerja. Pria pemilik toko itu berbicara pada Felix dan dia menyerahkan sejumlah besar uang padanya. Kemudian, Harry turun dari kursi dan berjalan menuju pamannya.

"Apa dia ayahmu?"

Harry menggelengkan kepalanya, "dia pamanku."

Berdiri sedikit tidak nyaman disampingnya. Harry menunggu pertanyaan mengenai dari mana keluarganya berasal, penyihir atau non penyihir, tapi pertanyaan itu sama sekali tidak keluar. Harry menghela napasnya kasar, berbalik menatap anak laki-laki itu dan mengulurkan tangan kanannya.

"Hadrian." Harry sengaja tidak menyebut nama keluarganya, dan memperhatikan kalau pupil mata perak anak laki-laki itu sedikit membesar, lalu tidak lama setelah itu dia menyambut uluran tangan Harry.

"Orion Black." Harry berharap ekspresi terkejutnya dapat dia sembunyikan dengan baik. Anehnya ada perasaan senang yang menyelimuti hatinya ketika Orion memegang tangannya. Mereka bertatapan sejenak sampai yang Harry kira sebagai ibu Orion memanggilnya untuk segera pergi.

"Sampai jumpa di Hogwarts, Hadrian. Aku berharap kita berada di rumah yang sama." Ucapnya sambil berlalu pergi.

"Teman barumu?" Setelah memastikan emosinya ditekan dengan benar, Harry mengangguk dan mendongak menatap Felix, "ke mana tujuan kita selanjutnya?"


Takdir sedikit mempermainkannya, Harry mendapatkan burung hantu yang sama persis dengan Hedwig, dan bahkan dia sudah menamai burung hantu putih saljunya itu dengan nama yang sama. Harry tidak memilih burung hantu itu secara langsung, pamannya yang melalukan itu sembari dia mendapatkan semua buku-bukunya.

"Yang tersisa hanyalah tongkat sihirmu." Harry mengangguk.

Olivanders, tempat di mana Harry akan mendapatkan tongkat sihirnya. Bertanya-tanya apakah dia akan mendapatkan tongkat "saudara" yang sama dengan Voldemort.

"Selamat datang, tahun pertama?" Harry menganggukan kepalanya.

Olivander menatap Harry dengan tatapan penasaran, "Peverell dan Rosier." Jedanya sesaat, "aku tidak pernah membayangkan akan melihat Peverell lagi dalam hidupku. Aku bahkan tidak pernah mengingatnya lagi."

Pamannya mengatakan kalau Kebanyakan dari Peverell tidak membeli tongkat mereka. Mereka membuat tongkat sihir mereka sendiri yang tidak akan bisa dideteksi oleh kementrian sihir.

"Ibumu adalah Rosier, coba ini yew inti thestral 10 inch." Harry mengangkat tongkat itu dan mengayungkannya, tidak merasakan apa-apa, dia menyerahkannya kembali pada Olivander.

"Vine, hati naga, 12 inch." Harry kembali menyentuhnya dan tidak terjadi apa-apa.

Olivander nyaris mengeluarkan semua koleksinya. Bergumam tidak jelas tentang betapa penasarannya dia pada pewaris Peverell. Setelah sekian lama menunggu, Olivander muncul dengan kotak tongkat sihir yang sepertinya berumur ratusan tahun.

"Tidak ada yang cocok dengan tongkat ini. Setiap kali aku menawarkannya kepada tahun pertama, tongkat sihir ini akan menyegat mereka termasuk diriku, bahkan sebelum mereka menyentuhnya." Olivander membuka kotak tongkat sihirnya, "cobalah. Elder dan ekor rambut Thestral, 11 inch."

Harry merasakan perasaan yang familiar ketika menyentuh tongkat itu. Jari-jarinya terbakar ikut merasakan inti dari tongkat sihirnya. Dengan satu ayunan ringan tongkat sihir itu bercahaya, mengeluarkan sinar putih murni yang membutakan mata.

"Luar biasa." Olivander tersenyum lebar, matanya menyipit. "Tongkat sihir yang ayahku buat sepanjang hidupnya, akhirnya menemukan pemiliknya."

Felix menepuk kepala Harry ringan, "berapa aku harus membayarnya?"

"7 galleon emas, tuan Rosier." Felix menyerahkan sejumlah galleon padanya dan keluar dari sana.


Setelah perayaan singkat ulang tahunnya yang ke-11. Harry berbaring di atas tempat tidurnya dengan Felix yang duduk tidak jauh darinya. "Hadrian." Felix mengulurkan cincin dengan lambang Peverell di atasnya dan memasangkan cincin itu di jari telunjuk Harry. Cincin itu perlahan menyusut menyesuaikan ukurannya.

"Terima kasih, Paman." Ada gelombang energi sihir yang kuat mengalir melalui jari telunjuknya. Cincin itu telah dipakai secara turun-temurun oleh garis utama dalam keluarga Peverell.

"Aku tidak tahu apa aku pantas menerimanya." Harry memutar cincin yang terpasang di jari telunjuknya. Tidak ada yang bisa melepaskan cincin itu kecuali dirinya. Hanya orang bodoh yang mencoba untuk mencuri cincin Lord.

Felix tersenyum melihat keponakannya yang terkadang merendahkan dirinya sendiri. Ada saat di mana Harry bertingkah seperti anak seusianya. Felix percaya bahwa ketiadaan kedua orang tuanya membuat Harry tumbuh dewasa sebelum waktunya. Dan dia tidak menyalahkan itu sama sekali. Keponakannya bisa tumbuh menjadi apapun yang dia inginkan. "Kau dulu sangat kecil, berada dalam pelukanku dan tidak menangis sama sekali. Aku akan merindukanmu selama kau di Hogwarts." Felix memeluknya erat. "Tulis surat untukku ya?"

Harry membalas pelukannya dengan kasih sayang, "tentu, paman."

"Hadrian, mengingat sejarah keluarga Rosier dan Peverell aku yakin kau akan disortir ke dalam Slytherin." Felix melepaskan pelukannya dan menatap mata hijau Harry dengan sungguh-sungguh. "Kau harus menjaga dirimu dengan baik di sana. Hindari masalah kalau bisa?" Ada guratan geli pada tatapan Felix.

Pamannya tahu kalau Harry adalah sekelompok masalah. Entah masalah yang selalu mencarinya atau keponakannya itu yang mencari masalah terlebih dahulu. Puncaknya adalah saat Harry berusia 8 tahun. Taman di depan rumahnya dipenuhi oleh ular yang membuatnya nyaris terkena serangan jantung setelah melihat salah satu ular yang besarnya sama dengan lengannya itu melingkari bahu dan leher keponakannya.

Itu adalah saat di mana dia mengetahui kalau keponakannya adalah seorang Perselmouth. Setelah melihat Pamannya, Harry segera mengusir ular-ular itu dan memintanya untuk tidak pernah kembali.

"Bagaimana kalau aku masuk ke dalam Gryffindor atau Hufflepuff?" Felix terkekeh, "aku tidak bisa membayangkan kau berada di rumah itu."

"Di mana pun kau akan ditempatkan kau tetap akan menjadi keponakan kesayanganku, Hadrian. Berjanjilah kau akan berhati-hati, selama 11 tahun kau terlindung dari dunia luar. Setelah ini akan ada banyak ancaman bahaya yang tidak pernah kau alami sebelumnya. Slytherin adalah rumah yang akan melindungimu sekaligus membuatmu celaka. Berjanjilah bahwa kau akan berhati-hati."

Sangat jarang melihat Felix begitu serius, mata abu-abunya tidak berpaling sedikitpun. "Aku berjanji bahwa aku akan berhati-hati."

tbc.