Disclaimer :

- Naruto by Masashi Kishimoto

- Highschool DxD by Ichie Ishibumi

- Jujutsu Kaisen by Gege Akutami

Genre : Adventure, Suprantural, Fantasy

Warning : Gaje, Typo, Ancur, dan lain-lain.

Summary :

Bagaimana rasanya memiliki kekuatan kutukan? Rasanya begitu menyiksa. Setiap saat selalu dihantui oleh ketakutan tanpa bisa berbuat apa-apa. Hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk hidup berdampingan dengan kutukan tersebut


Kutukan (juga disebut nasib sial, guna-guna atau rasa benci) adalah sebuah keinginan yang mengekspresikan beberapa bentuk kesengsaraan atau kemalangan yang akan menimpa atau jatuh ke beberapa entitas lain (orang, tempat, atau benda). Energi kutukan lahir dari emosi negatif seperti kesedihan dan kemarahan. Perasaan negatif ini biasa terjadi dalam masyarakat manusia sehingga hampir setiap orang memiliki energi kutukan. Jika jumlah ini lebih tinggi dari tingkat tertentu, itu memberi orang itu kemampuan untuk melihat kutukan, yang sangat langka di antara umat manusia.

Mereka yang memiliki kemampuan kutukan itu kemudian menggunakannya untuk membasmi kutukan yang lain. Karena kutukan hanya bisa dilawan dengan kutukan. Tercatat ada beberapa klan manusia yang memiliki kemampuan kutukan atau yang biasa disebut sebagai Jujutsu. Namun hanya tiga klan yang begitu terkenal dalam dunia Jujutsu. Yaitu Klan Gojo, Klan Zenin, serta Klan Kamo. Setiap klan memiliki teknik Jujutsu masing-masing. Klan Gojo memiliki teknik untuk memanipulasi ruang dan waktu. Klan Zenin dengan teknik menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Serta Klan Kamo dengan teknik manipulasi darah. Mereka bertiga adalah keturunan dari dari 3 Roh Pendendam Besar. Beberapa dari sekian banyaknya sosok yang sangat berpengaruh dalam lahirnya dunia Jujutsu.

.

.

.

Fokus tertuju pada salah satu keturunan 3 Roh Pendendam Besar, Sugawara Michizane yaitu klan Gojo. Pada suatu sore hari di kediaman klan. Terdengar keributan yang bisa didengar oleh seluruh orang yang ada disana. Tapi mereka tidak berani untuk mencari tahu lebih dalam dan hanya diam di tempat masing-masing sembari mendengarkan dengan seksama sahutan dan seruan yang berasal dari dalam ruangan milik kepala klan yang berupa sosok pria paruh baya yang memandang seorang pemuda berambut pirang dengan tatapan penuh amarah.

"Pokoknya aku tidak setuju jika kau berhubungan dengan wanita Zenin itu!" Seru si pria tua.

"Tapi Otou-sama! Aku mencintainya! Hanya dia yang menerimaku sebagai diriku sendiri, bukan karena nama klan yang kusandang!" Balas si pemuda pirang yang tak mau kalah.

"Pokoknya aku tetap tidak setuju! Aku bisa mencarikanmu wanita dari klan besar yang lain, tapi tidak dengan Zenin! Pikirkan baik-baik Minato! Kau adalah calon kepala klan!" seru si pria tua lagi.

"Aku tidak peduli! Dia tidak sama seperti wanita dari klan lain yang hanya memandang kita sebagai alat untuk mengangkat derajat mereka! Persetan dengan posisi kepala klan! Apa gunanya aku berada di posisi itu jika aku tidak bisa menggapai kebahagiaanku sendiri! Cukup sudah Otou-sama! Aku sudah lelah dengan semua ini! Mulai detik ini, aku keluar dari sini!" Pemuda pirang a.k.a Minato beranjak keluar dari ruangan itu.

"Apa maksudmu Minato?! Kau ingin keluar dari klan?!"

"Jika itu bisa membuatku untuk mendapatkan kebahagiaanku, maka jawabannya adalah ya. Selamat tinggal Otou-sama. Tolong titipkan salamku untuk Satoru,"

Setelah mengatakan itu, Minato benar-benar pergi meninggalkan kediaman klan Gojo, meninggalkan keluarganya untuk selamanya. Ini semua demi wanita yang sangat ia cintai yang berasal dari klan yang diketahui bermusuhan dengan klan Gojo, yaitu klan Zenin.

Ayah Minato yang juga adalah kepala klan saat ini hanya bisa terdiam usai keputusan mengejutkan yang dibuat oleh putra pertamanya itu. Ada penyesalan dalam hatinya. Ia sama sekali tidak menyangka Minato akan berbuat demikian. Jika Minato pergi, siapa yang akan menjadi calon kepala klan yang berikutnya? Jawabannya otomatis jatuh kepada putra kedua, Gojo Satoru.

"Apa yang sudah kulakukan?" hanya bisa bertanya pada dirinya sendiri

.

"Tadaima, Otou-sama" tiba-tiba masuklah sosok pemuda bertubuh tinggi dengan rambut silver serta mengenakan kacamata hitam.

"Ah, kau sudah pulang Satoru. Bagaimana sekolahmu?"

"Sekolah? Maksudnya perburuan roh terkutuk? Yah, sama saja seperti yang sebelum-sebelumnya. Mereka semua terlalu mudah untuk dihabisi" jawabnya seraya duduk sambil menyodorkan cangkir teh untuk diisi.

"Ngomong-ngomong, dimana Nii-san? Biasanya jam segini dia berada disini minum teh bersama kita" lanjutnya.

Pertanyaan itu membuat sang kepala klan terdiam yang membuatnya tangannya terhenti untuk menuangkan teh ke dalam cangkir milik Satoru.

"Sebenarnya, Satoru..." ia lanjut menuangkan teh. Pemuda bersurai silver itu memasang raut penasaran.

"Hmm?"

.

"Kakakmu memutuskan untuk keluar dari klan..."

"Apa?!"

PRAANGGG

Pernyataan yang keluar dari mulut sang ayah sangat mengejutkan Satoru sampai membuat cangkir yang dipegangnya terjatuh dan pecah berkeping-keping.

"Apa maksudmu keluar dari klan?! Apa yang sebenarnya terjadi?!" Satoru menuntut penjelasan.

"Kumohon tenanglah, Satoru. Sudah kukatakan tadi, ini adalah keputusannya sendiri"

"Bagaimana kau menyuruhku untuk bisa tenang setelah saudaraku sendiri memutuskan untuk pergi?! Katakan Otou-sama, apa yang sebenarnya terjadi?!"

Tak ada gunanya untuk berbohong di depan Satoru yang memiliki mata yang mampu melihat segalanya. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, ia khawatir Satoru juga akan pergi meninggalkan klan sama seperti kakaknya.

.

"Aku tidak merestui hubungannya dengan wanita dari klan Zenin," Satoru akhirnya mendengar dengan telinganya sendiri penyebab Minato keluar dari klan.

"Hanya karena itu? Serius? Dengar ini Otou-sama, walaupun klan Gojo bermusuhan dengan klan Zenin tapi bukan berarti kau bisa mengusik kebahagiaan Onii-sama seenaknya. Lagipula permusuhan itu hanya dari sudut pandangmu dan juga Naobito. Aku sama sekali tidak membenci mereka" Satoru beranjak dari duduknya dan berniat untuk keluar dari ruangan.

"Kau mau kemana, Satoru?"

.

"Aku akan mencari Nii-san dan membujuknya kembali. Itupun jika aku masih sempat"

.

.

.

The Death Curse


.

.

.

Waktu berjalan begitu cepat dan sudah memasuki waktu malam. Suasana yang sepi dan gelap itu tidak menghentikan langkah kaki Minato untuk terus berjalan di dalam hutan. Sampai pada akhirnya ia menghentikan langkah begitu iris biru safirnya menangkap sosok wanita bersurai merah gelap yang terduduk di bawah pohon seraya menenggelamkan wajah di kedua lutut.

"Kushina! Kau baik-baik saja?" Minato segera menghampiri wanita itu.

"Ugh? Minato? A-apa yang kau lakukan disini?" tanya Kushina balik.

"Aku...tidak sengaja melihatmu saat sedang berjalan tadi. Lalu, apa yang kau lakukan malam-malam di hutan ini?"

"A-aku...aku diusir dari rumah. Aku dikeluarkan dari klan" Minato melebarkan kedua bola matanya begitu mendengar Kushina ternyata mengalami hal yang sama. Bedanya ia memilih untuk keluar sendiri, sedangkan Kushina dikeluarkan.

"K-kenapa bisa? Apa yang telah terjadi?"

"Otou-sama tidak setuju jika aku berhubungan denganmu hanya karena kau dari klan Gojo. Kau...pasti juga sama kan?" Minato sedikit terkejut karena Kushina bisa menebak masalahnya saat ini.

"Ya. Kau benar. Aku memutuskan keluar dari klan. Ayahku juga tidak setuju atas hubungan kita" jawabnya.

"Kenapa Minato? Kenapa kau harus berbuat sampai sejauh ini? Bagaimana dengan keluargamu? Bagaimana dengan posisimu sebagai calon kepala klan?" tanya Kushina sedikit khawatir.

"Apa gunanya aku berada di posisi itu jika aku tidak bisa mendapatkan kebahagiaanku sendiri. Lagipula masih ada Satoru yang pantas menggantikanku. Dia jauh lebih kuat dariku"

"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang? Kita sudah tidak punya tempat tinggal" tanya Kushina lagi.

Pertanyaan Kushina sudah diduga oleh Minato. Ia sudah memperhitungkan segalanya jika hal ini terjadi.

.

"Kita akan pergi dari kota ini. Memulai hidup baru di kota lain serta tetap melakukan kewajiban kita sebagai penyihir jujutsu yaitu membasmi kutukan"

Kushina sedikit tersentak mendengar pernyataan kekasihnya. Dengan kata lain Minato mengajaknya untuk kawin lari. Seperti halnya cerita dongeng pada zaman dahulu dimana ada sepasang kekasih yang hubungannya tidak direstui dan kemudian memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarga masing-masing demi hidup yang lebih baik.

"K-kau serius? T-tapi, kemana kita akan pergi?"

"Aku juga masih menentukannya. Tapi yang pasti kita tidak akan pergi ke Kyoto sebab banyak penyihir jujutsu yang akan mengetahui identitas kita. Kita akan pergi ke tempat yang belum pernah dijamah oleh penyihir jujutsu lain" Kushina dibuat bimbang atas perkataan Minato. Tapi dia yakin kekasihnya itu sudah punya rencana soal ini.

"Jangan khawatir. Kita pasti bisa melalui ini" Minato memeluk Kushina untuk menenangkannya.

.

WUSHHH

.

"Disini kau rupanya, Nii-san" tiba-tiba saja sosok Gojo Satoru muncul di dekat mereka. Membuat mereka berdua terkejut.

"Satoru? Apa yang kau-"

"Apa kau yakin soal keputusanmu ini?" Pria yang digadang-gadang sebagai penyihir jujutsu terkuat itu tidak membiarkan kakaknya untuk menyelesaikan kalimatnya dan langsung menanyakan maksud serta tujuannya.

"Jadi, kau sudah mengetahuinya. Ya, aku yakin. Sangat yakin tentang keputusanku meninggalkan klan. Maaf jika aku sedikit egois yang lebih mementingkan urusan pribadi daripada kepentingan klan. Tapi jika sudah menyangkut hati dan perasaan, aku benar-benar tidak bisa. Sekali lagi aku minta maaf, Satoru" raut sedih tercetak jelas di wajah Minato disertai suara yang terdengar lirih.

"Begitu ya? Sepertinya aku tidak bisa membujukmu untuk kembali. Kuharap kau bahagia dengan pilihanmu. Kushina-san, aku titip kakakku padamu. Jangan ragu untuk menghajarnya jika ia melakukan sesuatu yang bodoh" ujar Satoru dengan sedikit candaan.

"Ahahaha. Itu sudah pasti Satoru-kun. Jangan khawatir" balas Kushina tertawa kecil

"Ini juga berlaku untukmu, Nii-san. Jika kau melakukan sesuatu yang membuat Kushina-san terluka. Aku akan mengurungmu di dalam Domain-ku"

"Y-ya ampun. Bercandamu tidak asik, Satoru" Minato hanya memasang raut masam. Satoru tertawa kecil lalu menarik Minato ke dalam pelukan hangat.

"Jaga dirimu baik-baik" ujar Satoru.

"Kau juga, adikku" balas Minato.

.

"Ya sudah. Kurasa hanya itu saja yang ingin kukatakan. Aku harus segera pulang dan mempersiapkan diri untuk sekolah besok. Sayonara Nii-san, Kushina-san" Satoru berbalik seraya melambaikan tangan yang dibalas pula oleh mereka berdua.

.

.

.

The Death Curse


.

.

.

Time Skip

.

3 hari setelah itu, Minato dan Kushina terus berkelana dari satu kota ke kota lain demi menemukan tempat yang cocok untuk mereka tinggali. Sampai pada akhirnya mereka berdua sampai di kota Kuoh. Sebuah kota kecil yang terlihat aman dan damai. Disana mereka memulai hidup baru dengan identitas baru. Mengganti nama marga dengan nama Namikaze dan Uzumaki. Serta membuka usaha kedai makanan kecil. Tak lupa mereka juga bekerja sampingan untuk membasmi arwah kutukan yang berkeliaran.

Satu hal yang mereka sadari bahwa tidak banyak arwah kutukan yang berkeliaran di Kuoh. Malah mereka lebih banyak berhadapan dengan makhluk yang disebut sebagai iblis liar, yaitu iblis yang kabur dari Mekai atau Neraka setelah tuan mereka mati dalam perang saudara bangsa iblis.

Perlu diketahui bahwa makhluk seperti iblis dan malaikat juga eksis di dunia ini. Ada juga yang menyebut diri mereka sebagai malaikat jatuh, yaitu malaikat yang membangkang dari perintah Tuhan. Ketiga makhluk ini berselisih sejak pecahnya perang yang disebut Great War. Perang yang mulanya hanya melibatkan antara bangsa iblis dan malaikat jatuh hingga pada akhirnya bangsa malaikat pun ikut serta ke dalamnya. Tak tanggung-tanggung, Tuhan pun ikut turun tangan demi menghentikan perang yang mereka ciptakan. Sampai pada akhirnya Dia meleburkan dirinya sendiri demi memperbaiki dunia yang hancur akibat dari perang tersebut.

Melihat hasil dari perang yang mereka lakukan. Ketiga bangsa itu memutuskan untuk melakukan gencatan senjata dan perjanjian damai. Setelah itu mereka fokus untuk membangun fraksi masing-masing. Fraksi Malaikat dipimpin oleh malaikat berpangkat Seraph yaitu Michael. Fraksi Malaikat Jatuh dipimpin oleh Gubernur yaitu Azazel. Sedangkan Fraksi Iblis dipimpin oleh 4 iblis berpangkat Maou yaitu Sirzechs Lucifer yang bertugas untuk bidang militer. Serafall Leviathan yang bertugas di bidang diplomasi. Ajuka Astaroth untuk bidang sains dan teknologi. Serta Falbium Asmodeus untuk bidang strategi dan pertahanan.

Berbeda dari Fraksi Malaikat dan Malaikat Jatuh. Pemilihan posisi pemimpin untuk Fraksi Iblis tidak berjalan baik. Sebab dari mereka yang mengaku sebagai keturunan langsung dari Maou sebelumnya merasa lebih berhak daripada nama-nama yang disebutkan di atas. Untuk itu mereka memberontak demi memperebutkan posisi Maou sehingga terjadilah perang saudara dalam tubuh bangsa iblis itu sendiri.

Perang saudara itu berbuah kemenangan untuk pihak Anti Old Satan. Kekalahan itu membuat pihak Old Satan terpaksa mundur dan kabur dari Mekai menuju dunia manusia. Yang mana beberapa dari mereka terpecah belah dan menempuh jalan masing-masing sembari menunggu perintah selanjutnya dari pemimpin mereka.

Namun di satu sisi, perang saudara juga menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi pihak Anti Old Satan yaitu jumlah korban. Sekitar 50% dari populasi mereka menjadi korban atas perang besar ini. Untuk itu mereka menggerakkan program perjodohan massal demi meningkatkan angka kelahiran iblis. Disamping itu, ada sebuah terobosan baru yang diciptakan oleh Maou Astaroth yaitu Ajuka. Ia menciptakan sebuah benda yang disebut Evil Piece. Satu set bidak catur yang berfungsi untuk mengubah makhluk hidup apapun menjadi iblis. Dengan cara ini lah, bangsa iblis kembali bangkit dan menyusun kekuatan yang lebih besar. Satu set Evil Piece ini hanya dimiliki oleh iblis yang telah mencapai peringkat Iblis Kelas Atas.

.

.

.

"Lagi-lagi kita hanya bertemu dengan iblis liar. Apakah roh kutukan di kota ini sangat sedikit?"

"Sepertinya begitu, Kushina. Kulihat para penduduk terlihat bahagia dan senang menjalani kehidupan mereka. Mungkin ini adalah hasil dari kebijakan pemerintah untuk mengurangi jam kerja sehingga mereka bisa beristirahat dengan tenang bersama keluarga tanpa adanya tekanan dan stress. Itu hal yang bagus"

Minato dan Kushina baru saja selesai melakukan pekerjaan sampingan mereka yaitu menetralkan dan membersihkan tempat yang dianggap berhantu. Dalam hal ini entah itu disebabkan oleh roh kutukan atau iblis liar. Seperti yang mereka katakan tadi, mereka lebih banyak menghadapi iblis liar dibanding roh kutukan.

.

"T-Tolong! T-Tolong aku!"

Mereka berdua dikejutkan oleh suara minta tolong yang terdengar seperti suara laki-laki. Tanpa ba-bi-bu Minato dan Kushina langsung bergerak menuju asal suara yaitu dari tempat pembuangan sampah. Sesampainya disana, mereka melihat sosok monster serigala yang merupakan iblis liar bersiap untuk menerkam seorang pria paruh baya yang terlihat sudah pasrah terhadap ajalnya.

"Kushina!" Minato mengambil ancang-ancang.

"Aku tahu!" Kushina mengarahkan kedua tangannya ke depan

.

SRING

SRING

SRING

Dari punggungnya, keluarlah 3 buah rantai yang meluncur dan melilit tubuh iblis serigala.

WUSH

Sementara Minato dengan cekatan melemparkan dua buah kunai bercabang tiga melewati tubuh monster serigala. Dalam satu kedipan mata, Minato sudah berada di depan iblis serigala dan langsung menebasnya dengan kedua kunai yang ia lemparkan tadi.

JRASH

JRASH

Iblis serigala itu pun tumbang dan hancur menjadi potongan-potongan kecil. Pria tua tadi membuka matanya dan hanya melihat sosok pria bersurai pirang bersama wanita bersurai merah gelap yang berdiri di atas potongan tubuh iblis serigala tadi.

"Anda tidak apa-apa, Ojii-san?" Tanya Minato.

"Y-ya. Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menolongku nak. Aku berhutang budi padamu" balas si pria tua.

"Ngomong-ngomong, apa yang Ojii-san lakukan di tempat pembuangan sampah malam-malam begini?" giliran Kushina yang bertanya.

"Aku bekerja sebagai petugas kebersihan kota ini. Aku baru saja selesai membuang sampah milik para penduduk setelah seharian berkeliling kota. Kalian berdua pasti tahu kebiasaan warga negara ini yang suka membuang barang-barang yang terlihat masih bagus. Yah, kebanyakan aku mengangkut barang bekas daripada sampah itu sendiri" jawabnya.

"Jadi begitu, syukurlah anda baik-baik saja emm..." Minato lupa menanyakan nama sehingga bingung untuk memanggil pria tua itu dengan sebutan apa.

"Ah. Bodohnya aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Jiraiya. Siapa nama kalian?"

"Namaku Namikaze Minato. Lalu ini istriku, Uzumaki Kushina. Salam kenal, Jiraiya-san"

"Salam kenal juga Namikaze-san, Uzumaki-san.

Pandangan Jiraiya lalu tertuju pada potongan tubuh serta gumpalan darah yang bergelimpangan di tanah. Ia berpaling seolah-olah tak pernah melihatnya karena merasa takut dan ngeri.

"Ng-ngomong-ngomong...ba-bagaimana kalian membunuh makhluk itu?" Jiraiya penasaran sebab ia yakin bahwa Minato dan Kushina bukan manusia biasa.

"Ano...umm...bagaimana mengatakannya ya?" Minato memasang wajah bingung sembari menopang dagu dengan tangannya.

"Ahahaha. B-bisa dibilang kami berdua diberkahi kemampuan khusus untuk melakukan hal seperti ini. Saya harap anda bisa mengerti, Jiraiya-san" timpal Kushina untuk meredakan suasana canggung.

"A-ah. Begitu ya. Baikalah, aku tidak akan mengatakannya pada siapapun" balasnya

.

Dari situlah Minato dan Kushina akhirnya memiliki sosok figur orang tua yang ada pada Jiraiya. Jika mereka memperdebatkan sesuatu mereka akan meminta saran dahulu pada Jiraiya seputar ini itu. Bahkan ketika mereka berdua menikah, Jiraiya-lah yang mengurus semuanya. Hasil dari pernikahan Minato dan Kushina membuahkan bayi laki-laki bernama Naruto. Seorang anak yang memiliki darah Gojo dan Zenin dalam tubuhnya.

Jiraiya sangat girang ketika pertama kali melihat Naruto. Ia sampai menggendongnya lebih lama daripada orang tua sendiri. Itu karena Jiraiya sudah lama sekali ingin punya cucu. Dan sekarang ia mendapatkannya.

Saat Minato dan Kushina bekerja di kedai makanan mereka, Jiraiyalah yang bertugas mengasuh Naruto di rumah mereka. Ia sama sekali tidak kesulitan soal popok, susu, bubur, atau bahkan menidurkan bayi sebab ia sudah lama menguasainya. Sementara Minato dan Kushina sendiri baru memiliki waktu bersama Naruto pada sore hari di saat mereka menutup kedai.

.

.

.

Akan tetapi kebahagiaan keluarga itu tidak berlangsung lama. Ketika Naruto berusia 6 bulan, terjadi sebuah tragedi yang sangat tragis.

.

.

.

"Haahhh... iblis liar yang kita hadapi malam ini terasa lebih kuat sebelum-sebelumnya. Benar kan Minato?"

"Ya. Aku cukup kewalahan tadi"

"Hmm...rasanya aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah dan memeluk Naruto-ku tersayang"

Seperti biasa, Minato dan Kushina baru selesai dari pekerjaan sampingan mereka. Kali ini mereka menyusuri hutan yang terletak di belakang SMP Kuoh. Mereka memilih tidak lewat depan karena takut tertangkap kamera pengawas. Nanti disangka maling.

.

WUSHH

"Kushina awas!"

BUMMM

Minato dengan sigap menarik Kushina untuk menghindar dari serangan makhluk bertubuh hitam dengan bentuk aneh. Makhluk aneh itu memiliki struktur tubuh yang acak dimana posisi mata, hidung, mulut, kaki dan telinga berada tidak pada tempatnya.

"Roh Kutukan?" gumam Minato.

.

"Sudah kuduga. Gerakanmu sangat cepat bagaikan kilat." tiba-tiba terdengar suara laki-laki di dekat mereka. Berasal dari sosok pria berpakaian serba hitam. Rambut hitam panjang dengan poni di depan yang menjuntai ke bawah.

"Kau. Si pengkhianat itu bukan?!" Seru Kushina.

"Geto Suguru!" Minato menatap pria itu dengan tajam.

.

"Ya ampun. Aku merasa terhormat bisa dikenal oleh penyihir Jujutsu tingkat spesial seperti kalian, Kiiroi Senko dan Akai Chisio no Habanero" si pria misterius a.k.a Suguru perlahan mendekati mereka berdua.

"Apa yang kau inginkan?" Minato menuntut jawaban dari Suguru atas aksinya yang menyerang mereka secara tiba-tiba.

"Yang kuinginkan? Hmm...apa ya? ... Ah benar juga. Aku menginginkan..." Suguru menjeda jawabannya agar lebih dramatis. Sementara Minato dan Kushina menahan nafas menunggu kalimat selanjutnya terucap dari mulut Suguru.

.

.

.

.

.

.

.

"...Anak Kalian"

.

.

.

The Death Curse

.

.

.

Minato dan Kushina ditemukan tewas dengan bekas pertarungan berupa kawah dan pohon tumbang di mana-mana. Sementara Suguru sendiri melarikan diri di saat-saat terakhir akibat sekarat. Betapa terkejutnya Jiraiya begitu melihat berita tersebut. Ia sangat terpukul atas kematian dua sosok yang ia anggap sebagai anaknya itu. Tapi ia merasa lebih sedih lagi pada Naruto yang harus menerima kenyataan bahwa orang tuanya meninggal di saat ia baru berusia 6 bulan.

Yang ia khawatirkan adalah bagaimana masa depan Naruto kedepannya tanpa sosok ayah dan ibu. Terlebih lagi, dia adalah anak dari manusia yang memiliki kelebihan supranatural. Ia takut bahwa hal-hal itu akan menghantui kehidupan Naruto nantinya.

.

"Jangan khawatir Naruto. Kakekmu ini akan melindungimu walau mempertaruhkan nyawaku sekalipun. Ini adalah janjiku pada kalian. Minato, Kushina" ujar Jiraiya seraya membelai kepala lembut Naruto yang tengah tertidur.

.

.

.

T.B.C