Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Fate/Stay Night: TYPEMOON
.
.
.
Pairing: (belum diketahui)
Genre: friendship, crime, romance
Rating: M
Setting: Alternate Universe
.
.
.
Lotus
By Hikayasa Hikari
.
.
.
Chapter 1. Berteman? Pikir dulu
.
.
.
Suara langkah kaki terdengar halus di taman Sakura itu. Pemilik kaki berhenti di dekat pohon Sakura. Kelopak-kelopak bunga Sakura sedang berguguran, menghujani pemilik kaki yang sedang memandang puncak pohon Sakura.
"Musim semi sudah tiba lagi," ucap gadis berambut panjang cokelat, meredupkan mata, "sudah dua tahun, orang tuaku meninggalkan aku."
Gadis itu menundukkan kepala. Merasakan cairan hangat membasahi mata birunya. Perasaan kehilangan yang telah membuatnya menangis. Kehilangan orang tua yang sangat disayanginya.
Gadis itu memilih duduk menyandarkan punggungnya ke batang pohon. Kedua kakinya merapat dan tegak menekuk. Meletakkan wajah di atas tangan yang melipat di atas lutut. Badannya sedikit bergetar karena terisak.
Pagi yang segar menemani kesendirian gadis itu. Gadis itu tidak sendirian, ada seorang laki-laki yang mengintipnya dari pohon di seberang jalan. Laki-laki itu memegang skateboard dan memakan permen karet. Hatinya yang iba, tergerak untuk mendekati gadis itu.
"Hei, mengapa kau menangis?" tanya laki-laki berambut pirang yang berlutut satu kaki di hadapan gadis itu. Tangan kirinya mengepit skateboard.
Gadis yang sedang menangis, mendongak dan membelalakkan mata. "Ka ... kau siapa?"
"Mengapa kau menangis?"
Sekali lagi, laki-laki berambut pirang mengajukan pertanyaan yang sama. Membuat gadis itu tetap membesarkan mata. Apa lagi ditambah ekspresi datar dari laki-laki itu, menimbulkan perasaan takut pada jiwanya.
"Pe ... pergi!" seru gadis itu bermuka pucat.
"Pergi?" tanya laki-laki berambut pirang itu mengerutkan kening.
"Kau orang asing, tidak berhak mencampuri urusanku!"
"Orang asing? Aku Uzumaki Naruto. Lalu, namamu siapa?"
Uzumaki Naruto menjulurkan tangan kanannya. Sekilas dia mengeluarkan balon merah muda berukuran bola kasti dari mulutnya karena mengunyah permen karet. Sorot matanya melembut.
Gadis itu berdiri, hendak berlari. Tapi, niatnya batal karena Naruto cepat menangkap tangannya. Gadis itu membulatkan mata sempurna saat mengetahui Naruto tiba di sampingnya.
"Jangan takut. Aku bukan orang jahat yang akan mencelakaimu," kata Naruto tetap melembutkan matanya.
Gadis itu bermuka syok. "Tapi, aku dilarang untuk tidak berkenalan dengan orang asing. Jadi, lepaskan aku!"
Gadis itu melototi Naruto. Mukanya mengeras. Naruto menatap datar gadis itu, lalu menguatkan genggaman tangannya pada tangan gadis itu. Membuat gadis itu memekik karena kesakitan.
"Hei, kau menyakitiku! Lepaskan aku!" teriak gadis itu bermuka garang.
"Maaf," balas Naruto melonggarkan genggaman tangannya sehingga gadis itu sedikit terbebas dari siksaannya, "tapi, jawab pertanyaanku yang tadi, siapa namamu? Barulah aku melepaskanmu."
"Aku ... Jeanne d'Arc."
Naruto menyipitkan matanya saat melepaskan tangan Jeanne d'Arc. Wajahnya kembali datar. Memperhatikan saksama Jeanne. Gadis berambut cokelat itu sedang mengelus tangannya yang sakit tadi.
"Jeanne, apa aku boleh memanggilmu begitu?" tanya Naruto melembutkan mata, tersenyum tipis.
"Hah? Tidak!" jawab Jeanne dengan nada keras.
"Mengapa?"
"Kita baru saja berkenalan. Kita juga bukan teman."
"Kalau begitu, mari kita berteman."
Naruto mengulurkan tangannya ke depan wajah Jeanne. Matanya tetap melembut. Jantungnya berdebar-debar menanti jawaban dari Jeanne. Namun, Jeanne tidak mau meraih tangan Naruto, justru berlari kencang.
"Aku tidak mau berteman denganmu!" teriak Jeanne di ujung jalan berbatu.
Naruto terpaku, tercengang. Matanya menyipit. Kemudian senyuman menghiasi wajahnya yang berseri-seri.
"Tidak apa-apa. Kau boleh menolak berteman denganku hari ini. Tapi, hari-hari berikutnya, kau pasti akan menjadi temanku," kata Naruto memuntahkan permen karet ke arah lain, lalu memakan permen karet baru.
Naruto menurunkan skateboard-nya. Menginjak permukaan atas skateboard dengan kaki kanannya. Sedikit memajukan skateboard dengan kaki kanannya, kemudian meluncur di jalan batu, menuju arah yang berlawanan dari Jeanne.
Sementara itu, Jeanne berlari keluar dari taman Sakura. Dia menuruni tangga dengan perasaan takut. Menyadari ada seorang laki-laki berambut putih yang berjalan di trotoar.
"Shirou!" panggil Jeanne melambaikan tangan sambil berlari ke arah Emiya Shirou.
"Jeanne, ternyata kau ada di sini." balas Shirou menghentikan langkahnya, melototi Jeanne, "dasar, kau membuat kami panik mencarimu kemana-mana!"
"Maaf, aku pergi tanpa sepengetahuanmu."
"Tidak apa-apa. Tapi, lain kali, kalau mau pergi, bilang padaku."
"Iya, maaf."
Napas Jeanne terengah-engah. Dadanya naik-turun. Mukanya pucat sekali. Bahasa tubuhnya mampu dipahami oleh Shirou.
"Kau tampak ketakutan. Memangnya ada apa?" tanya Shirou memegang kedua bahu Jeanne.
"Ta ... tadi, ada laki-laki asing yang bernama Uzumaki Naruto," jawab Jeanne menundukkan kepala, "dia menghampiriku yang sedang menangis, lalu berusaha ingin menjadi temanku. Tadi juga, dia sempat meremas tangan kiriku. Sedikit sakit, tetapi perasaan sakit itu sudah hilang."
"Mana orangnya?"
"Mungkin orangnya sudah pergi."
"Aku harus mengejarnya."
"Tidak usah."
"Tapi, aku takut dia adalah orang jahat yang akan mengincarmu diam-diam, Jean-sama."
"Jangan! Lebih baik kita pulang saja!"
Jeanne menarik tangan Shirou. Dia melangkah cepat, takut diikuti oleh Naruto. Hatinya yang semula berdegub kencang karena panik, perlahan memompa darah dengan normal.
Shirou dan Jeanne berjalan selama tiga puluh menit. Mereka sampai juga di toko kue milik keluarga Jeanne. Toko berlantai dua, bernama Arc Bakery, yang menjual berbagai kue dan roti hasil buatan sendiri.
Jeanne membuka pintu kaca yang menimbulkan bunyi bel nyaring. "Kami pulang."
Seorang pria berambut pirang yang sedang duduk di belakang meja kasir, menjawab, "selamat datang."
"Wah, ramainya!"
Jeanne terpojok di dekat pintu yang ditutup oleh Shirou. Melihat banyak orang yang sedang memadati seisi sudut ruangan luas itu. Suara para pengunjung cukup gaduh, tidak mengganggu Jeanne, Shirou, dan Gilgamesh.
"Untung kalian datang, aku repot mengurus toko ini sendirian," gerutu Gilgamesh sedang menghitung harga barang-barang yang disodorkan oleh seorang gadis muda. Betapa tidak, banyak gadis yang mengerumuni dirinya karena terpikat dengan ketampanannya.
"Memang repot menjadi laki-laki tampan itu," sahut Shirou memegang rambutnya sehingga tingkahnya itu membuat beberapa gadis terpesona kecuali Jeanne yang tercengang.
"Memang repot memiliki dua pengawal yang tampan. Aaah," balas Jeanne menghela napas, kemudian berjalan menuju gadis-gadis yang ada di dekat etalase berukuran besar, "ada yang bisa kubantu?"
Jeanne membantu dua gadis yang sedang bingung memilih kue. Dia tersenyum dan menunjuk kue yang menjadi pilhannya, lalu disetujui gadis-gadis tadi. Mengabaikan teriakan Shirou yang dikelilingi oleh para gadis.
"Jean-sama, tolong aku!" pekik Shirou panik sekali.
"Terima kasih banyak," kata dua gadis tersenyum pada Jeanne. Mereka membungkukkan badan di gang di antara dua etalase
"Ya, sama-sama," tukas Jeanne turut tersenyum, menghadap dua gadis tadi.
Di luar toko, di seberang jalan, ada Naruto yang mengamati toko itu. Naruto tetap mengepit skateboard dengan tangan kirinya. Mulutnya sibuk mengunyah permen karet.
"Arc Bakery. Toko kue yang terkenal hanya selama dua minggu dibuka. Daya tariknya adalah dua laki-laki tampan yang menjadi pegawai di sana," gumam Naruto. Matanya menyipit.
Naruto tetap terpaku di trotoar itu, di dekat tiang lampu merah. Di sekitarnya, banyak orang yang berjalan. Matanya tidak pernah lepas dari toko Arc Bakery itu.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
A/N:
Cerita baru di fandom Naruto and Fate/Stay Night. Cerita lama yang pernah saya update di , tetapi saya udah menghapusnya. Kini saya remake dengan cerita yang sama, tetapi dengan karakter-karakter yang berbeda.
Dulunya, cerita ini memakai karakter-karakter dari anime Hunter x Hunter dan Tokyo Mew Mew. Cerita langsung tamat atau one shoot. Jadi, saya buat cerita ini lebih panjang agar lebih menarik. Terus, bagaimana pendapatmu tentang cerita ini? Terima kasih banyak telah membacanya.
Dari Hikayasa Hikari.
Rabu, 1 Juni 2022
