STRONG FATHER

.

Disclaimer

Naruto : Masashi Kishimoto

HighSchoolDxD : Ichie Ishibumi

Dan karakter lainnya dari Disclaimernya masing-masing, saya hanya meminjamnya.

.

Rate : M

Genre : Family, Humor, Romance, Fantasy

Pair :

Naruto U x Big Harem

(Great Red x Kholkikos x Katerea x Serafall x Grayfia x Arturia x Yasaka x Asuna x Mereoleona x Shirahoshi x Albedo x Freya x Hancock x Chisato x Remia x Robin) x (Kalawarner x Izanami x Gabriel x Hestia x Tiamat x Tifa x Lily x -)

Menma x Harem

(Kiyohime x Shalter x Evangelin x Raynare x Akeno x -)

(Gray x Kuroka x -) (Vali x Mirajane) (Shiro x Rin) (Natsu x Lucy) (Lambert x Liya) (Minato x Koneko x -)

.

Warning! : Fic ini hasil pemikiran sendiri, banyak kesalahan, kosa kata hancur, Typo, ooc, Gaje, Alur berantakan.)

"Hello," : orang bicara

"Hello,": orang membatin

"Hello,": Monster bicara

"Hello," : Monster membatin

Peringatan sebelum membaca, chapter ini mungkin banyak Typo, kata yang kurang, serta kesalahan ketik banyak terjadi, karena saya terlalu malas untuk meneliti lagi.

.

.

Chapter 59

.

#Skip time...

.

Tak terasa acara makan malam telah selesai dengan cepat walaupun memakan banyak waktu, tapi semua itu tidak terasa karena canda tawa mereka melupakan segalanya.

Tapi bukan berarti setelah ini adalah waktu santai untuk Naruto, malam ini dia sudah berjanji kepada salah satu istrinya untuk membantu pekerjaannya di kantor Leviathan.

Itu terbukti dengan wajah Serafall yang berseri, menandakan bahwa sedang merasa senang dan telah melupakan pengalaman yang cukup mengerikan baginya untuk memakan sayuran 1 mangkuk penuh.

"Sayang, ayo," Serafall sangat tidak sabaran untuk menunggu Naruto memakai jaketnya, dengan melambai di ambang pintu kamar.

"Iya bawel, iya," balas Naruto dari dalam kamar.

Hingga tak berselang lama akhirnya Naruto selesai memakai jaketnya, dan langsung melangkah menghampiri Serafall yang masih Stay di ambang pintu kamar. Tapi saat mereka hendak melangkah keluar kamar, ada yang memberhentikannya.

Naruto menatap bingung melihat ketiga wanita Naganya yang tiba-tiba menghalangi langkahnya, tapi Naruto merasa heran saat mengetahui jika ketiga wanita Naganya menunduk kompak di hadapannya.

"Hey, kalian kenapa?"

Tak ada yang menjawabnya membuat Naruto semakin bertambah bingung melihat tingkah ketiga wanita Naganya itu.

"Red-Chan, Kholki-Chan, Tia-Chan, kalian kenapa?" Serafall juga bingung.

Dengan gerakan pelan, akhirnya Great Red merespons. "Maaf, Sera, aku ingin menyampaikan sesuatu kepada Naru," ucapnya.

Dan itu membuat Naruto menatap satu per-satu ketiga wanita Naganya. "Memangnya apa yang ingin kalian katakan? Kalian tidak menyembunyikan suatu masalah dariku bukan?" tanyanya.

Hanya dijawab gelengan pelan oleh Great Red.

"Huh..." Naruto pun menghela nafas, walau agak idiot, Naruto sedikit peka situasinya sehingga menyenggol Serafall. "Sera, bisa kau pergi ke kantor duluan, mungkin mereka ingin mengatakan hal penting yang memang harus aku yang mengetahuinya," ucapnya memberitahu.

"Huh... Baiklah," kata Serafall pasrah.

Walaupun penasaran, Serafall tak ingin menjadi wanita yang kepoan, dia memaklumi karena mungkin itu adalah masalah pribadi Great Red. Terkadang Serafall juga seperti itu, masalah pribadinya hanya dia ceritakan kepada suaminya, karena itu terlalu memalukan jika didengar oleh orang lain.

Serafall pun menciptakan lingkaran sihirnya, tapi sebelum dia menghilang, dia menatap Naruto. "ingat, Naru, kau harus datang ke kantorku untuk membantuku," ucapnya.

"Iya, tenang saja," balas Naruto.

Dan setelah itu Serafall menghilang ditelan lingkaran sihirnya.

Kini terjadi keheningan sesaat, setelah itu Naruto langsung menatap serius ketiga wanita Naganya. "Jadi, bisa kalian beritahu aku apa yang ingin kalian katakan? Aku paling tidak suka mengetahui anggota keluargaku yang menjadi tanggung jawabku menyembunyikan suatu masalah dariku," tatapan Naruto sangat serius sampai-sampai membuat ketiga wanita Naganya kesulitan angkat suara.

Great Red sudah berjanji kepada seseorang, akhirnya dia memberanikan diri untuk membalas tatapan suaminya itu.

"Kami tidak menyembunyikan sesuatu darimu, Naru,"

"Terus apa?"

"Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu di Dimension Gap,"

Alis Naruto sedikit naik mendengarnya, dengan satu pikiran Naruto berasumsi jika apa yang ingin ditunjukkan oleh Great Red pastilah bukan hal biasa karena berada di Dimension Gap.

Tapi apa? Naruto semakin penasaran untuk mengetahuinya.

"Huh... Baiklah, aku cukup penasaran dengan apa yang ingin kalian tunjukkan kepadaku,"

Great yang mendengar jawaban dari Naruto seperti itu hanya mengangguk pelan, kemudian menciptakan lubang Dimension tepat di sampingnya.

Tapi sebelum Naruto dan Great Red masuk ke lubang Dimension itu, Kholkikos menghentikannya.

"Kami rasa, kami akan menunggu kabar baiknya di sini saja," ucapnya yang seketika membuat Naruto dan Great Red menoleh ke belakang.

Great Red yang paham hanya mengangguk, tapi Naruto yang bingung malah bertanya. "Memangnya kenapa, Kholki-Chan, Tia-Chan?"

Hanya sebuah senyuman yang ditunjukkan oleh Kholkikos dan Tiamat saat mendapati pertanyaan seperti itu dari Naruto. ""Tidak apa-apa kok, Naru,"" ucapnya kompak.

"Huh... Aku jadi bingung," desah Naruto.

Tapi hal itu malah dijawab oleh cekikikan Kholkikos dan Tiamat.

"Hehe... Sebentar lagi juga kau akan mengetahuinya, Naru," kata Kholkikos yang didukung anggukan kepala oleh Tiamat.

Naruto tak ingin memikirkannya lagi, karena penasaran Naruto menatap Great Red, dan Great Red yang tahu maksud tatapan itu pun mengangguk, kemudian memasuki lubang Dimension itu dan Naruto menyusulnya di belakangnya.

.

.

.

#Dimension Gap...

.

Sudah 10 menit melayang-layang di ruang hampa warna putih tak berujung itu yang dinamakan Dimension Gap, hanya keheningan yang melanda di antara Naruto dan salah satu istri Naganya itu, Great Red.

Tapi bagi Naruto di Dimension Gap hanya 10 menit, itu sudah terasa cukup lama bagi Naruto sehingga membuat kesabarannya habis, kemudian menatap Great Red di sampingnya.

"Red-Chan, sebenarnya apa sih yang ingin kau tunjukkan kepadaku?"

Naruro kembali bertanya seperti saat tadi masih di rumah, menatap bingung Great Red yang diam sejak masuk ke Dimenesion Gap hingga sekarang.

"Sebentar lagi, Naru," ucap Great Red yang ditambah dengan senyuman tipis untuk Naruto.

"Huh..." Naruto akhirnya mendengus bosan, percuma baginya menanyakan apa yang sebenarnya ingin istri Naganya itu tunjukkan kepadanya.

Yang perlu dilakukan oleh Naruto adalah bersabar untuk mengobati rasa bosan dan penasarannya.

"Ah, kita sudah sampai,"

Great Red menghentikan laju pijakan lingkaran sihir grafitasinya, dan itu membuat pandangan singkat Naruto menangkap sosok Ophis 10 meter di depannya yang melayang-layang tak terpengaruh oleh gaya gravitasi sekitar.

"Huh..." Naruto menghela nafas tenang, tapi selanjutnya Naruto dibuat bingung ketika melihat Great Red mendekati Ophis sehingga Naruto berkata. "Jadi... Apa yang ingin kau tunjukkan padaku, Red-Chan? Dan kenapa Loli Dragon ada di sini?"

Aneh, Naruto merasa aneh ketika panggilan untuk Ophis tak direspons oleh Ophis, itu tidak seperti biasanya saat Ophis akan langsung memukul kepalanya ketika mendengar panggilan Naruto seperti itu.

Justru yang membuat Naruto tambah bingung adalah reaksi Ophis yang malah menunduk seperti itu.

"Hey! Apa yang ingin kau lakukan kepada Ophis, Red-Chan?"

Naruto tiba-tiba dibuat terkejut, secara spontan dia langsung menutup matanya ketika mengetahui Great Red mencoba membuka baju... Ah bukan, maksudnya sisik yang bertranformasi menjadi baju yang biasa digunakan oleh bangsa Naga, dan Great Red sedang mencoba membuka baju Ophis bagian perutnya.

Tak ada jawaban dari Great Red membuat Naruto bingung, butuh keberanian bagi Naruto untuk membuka telapak tangannya yang menutupi matanya untuk melihat apa yang terjadi.

Ophis bukanlah Naga seperti Draig dan Albion yang jelas-jelas memiliki ikatan darah dengannya, Ophis adalah Naga lain, setidaknya Naruto menghargai dirinya sebagai seorang perempuan dewasa walaupun tubuhnya seperti anak-anaknya yang baru belasan tahun.

Naruto pun menyingkirkan telapak tangannya dengan perlahan.

Tapi sesuatu yang sempat terbayang di kepalanya jika Great Red hendak menelanjangi Ophis tidak tertangkap oleh matanya, kenyataannya malah ada sesuatu yang aneh seketika membuat Naruto bingung setelah membuka matanya.

Bahwa ternyata Ophis menyibakkan baju bagian perutnya sehingga sebagian perutnya terlihat.

Naruto ingin bertanya 'hal seperti itu untuk apa?' tapi kenyataannya malah berubah ketika mendapati sebuah kejanggalan. Hanya sekilas perhatiannya, Naruto melihat sebuah tanda yang sama seperti Great Red, Kholkikos dan Tiamat yang berada di perut tepat di bawah pusar.

Itu adalah tanda Mate bagi bangsa Naga, tapi anehnya tanda Mate pada Ophis hampir keseluruhan berwarna hitam, hanya menyisakan sedikit warna merah. Berbeda dengan Great Red, Kholkikos, dan Tiamat yang berwarna merah sempurna.

"Setahuku tanda Mate bagi bangsa kalian adalah merah kan? Lalu kenapa itu hitam?" Naruto cukup penasaran dengan hal tersebut.

Ophis hanya menunduk.

"Ini juga tanda Mate , Naru," kata Great Red, kemudian berkata kembali. "Hanya saja, tanda Mate warna hitam seperti ini tandanya mereka akan bertranformasi menjadi naga yang hilang kendali karena tersiksa oleh perasaannya yang sudah terlalu lama menyimpan perasaan tersebut," jelas Great Red menjelaskan.

Naruto mengangguk, dia cepat memahami. Tapi tetap saja Naruto masih merasa bingung dengan tanda Mate Ophis yang malah ditunjukkan kepadanya.

"Oke jika itu tanda Mate , tapi kenapa ditunjukkan kepadaku? Ini tidak ada kaitannya denganku kan?"

Ini cukup memusingkan, Naruto tidak menemukan sebuah asumsi yang terkait dengan situasi saat ini.

Justru ini sebaliknya bagi Ophis yang merasa tegang, dia dipukul oleh sebuah tekanan misterius yang anehnya membuatnya kesulitan untuk angkat suara, rasanya sangat sulit sampai-sampai Ophis menggigit bibir bawahnya.

" Mate nya Ophis adalah dirimu, Naru," ucap lirih Great Red.

Semuanya menjadi hening seketika seolah waktu terhenti sesaat di sekitar Naruto, ekspresinya berubah menjadi pandangan tidak percaya.

"I-itu tidak mungkin," Naruto tidak mempercayai pendengarnya, menatap Ophis. "Iya kan, Ophis?"

Ophis hanya diam, Great Red juga diam.

Hal tersebut membuat Naruto tersadar, dia seketika memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut pusing.

"Aaaaaaaaggggghh! Kenapa harus aku?" teriak Naruto frustasi.

Ophis ingin mundur, berpikir bahwa ini semua sia-sia dan dia pasrah. Tapi sebelum itu terjadi Great Red telah memegang pundaknya agar Ophis tidak menghindar untuk menghadapi keinginannya.

Cukup lama Naruto memegang kepalanya frustasi, tiba-tiba semuanya menjadi berbeda setelah Naruto menghela nafas. "Huh..." berdiam sejenak.

Setelah cukup tenang, Naruto menatap Great Red dan Ophis, dia kemudian melangkah mendekati mereka dengan tenang tanpa suara.

Melihat itu Ophis menutup matanya sedalam mungkin, Ophis tidak ingin mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya karena dia sangat yakin jika sesuatu yang akan terjadi akan mengguncang semua perasaannya.

Naruto telah berdiri di hadapan Great Red dan Ophis.

Great Red tak ingin mengatakan apa-apa ketika Naruto menatap Ophis yang menunduk, Great Red percaya bahwa suaminya itu akan bertindak yang sesuai tanpa harus dia mengatakannya.

"Maafkan aku, kau pasti telah menunggu ini terlalu lama,"

Ophis terteguh dalam diamnya, ini berbeda dengan apa yang sudah dia bayangkan, Ophis sangat jelas jika telinganya mendengar ucapan Naruto yang teramat amat lembut di hadapannya.

Ophis tidak yakin.

Dengan ragu dia mencoba untuk membuka matanya dengan perlahan, dan seketika semua air yang tersimpan di dalam matanya tumpah membanjiri pipinya ketika dengan lekat Ophis menatap sebuah senyuman bak mentari yang bercahaya di pagi hari serta mendapati sebuah selimut hangat telapak tangan yang menyelimuti kepalanya.

Ophis ingin menangis.

"Hiks... Hiks... Hiks..."

Ophis seketika langsung membenamkan kepalanya pada perut Naruto untuk meredam tangisnya, tangannya melingkar mengikat perut Naruto. Dan Naruto masih mengusap lembut kepala Ophis.

Kenyataannya.

Naruto tersenyum tipis dan tulus yang telah memaksanya untuk mengakui suatu pengakuan kesalahan yang dia pikir memang kesalahannya. Entah dapat dari mana pukulan keras mengenai kepala Naruto yang seketika membuatnya dapat memproses kembali ucapan Great Red tadi, jika kenyataannya Ophis seperti itu maka asumsi yang Naruto dapat adalah jika Ophis sudah menderita sejak ratusan tahun, hanya waktu itu yang Naruto ingat bahwa dirinya pernah begitu dekat dengan Ophis saat masih di Dimension Dragon.

"Huh..." Helaan nafas itu sukses keluar dari mulut Naruto untuk sedikit demi sedikit menghilangkan beban pikirannya, dan kemudian Naruto menoleh ke arah Great Red di sampingnya sambil membentangkan tangan kanannya untuk memberikan celah kepada Great Red yang ingin menyandarkan kepalanya di bahu Naruto.

Great Red tersenyum haru, mungkin ini yang Great Red inginkan.

Seketika Great Red langsung merangkul Naruto, membenamkan kepalanya pada leher Naruto, dan Naruto senantiasa mengusap lembut pinggang Great Red.

"Ini yang kau inginkan bukan?" Naruto berbisik pelan kepada Great Red, dan itu dijawab dengan sebuah anggukan pelan oleh Great Red.

Tak ada yang dapat Naruto lakukan sekarang, dia sudah sangat yakin jika istri-istri Naganya telah merencanakan ini semua untuk Ophis. Untuk memikirkan itu semua, saat ini Naruto hanya dapat untuk memandang jauh ruang putih tanpa batas Celah Dimensi dengan pemikiran yang tidak menentu.

"Dasar mereka,"

Batin Naruto terbayang kekompakan ketiga istri Naganya yang tidak seperti kebiasaan mereka yang jarang untuk kompak untuk membuat sebuah rencana.

.

.

.

#Desa Hage, Siang)

.

Ketika sadar, waktu telah berlalu begitu cepatnya. Waktu sudah siang, kegiatan orang-orang di desa Hage sudah berakhir untuk hari ini untuk istirahat siang. Yang bekerja di ladang menyempatkan diri untuk pulang, yang bekerja mencari ikan di danau juga lebih memilih pulang terlebih dahulu, yang mencari kayu untuk bahan bakar maupun bahan untuk pembuatan rumah juga sedang beristirahat untuk siang hari ini, dan pekerjaan-pekerjaan atau kegiatan lainnya juga seperti itu, begitu juga anak-anak yang bermain juga menyempatkan untuk pulang terlebih dahulu ke rumah masing-masing untuk istirahat sejenak hari ini.

Roda kehidupan desa Hage terus berputar seperti itu.

Masuk ke sebuah Panti yang Naruto dirikan di desa itu dan dipercayakan kepada Orsi Hofai, Panti itu juga sebagai pusat stuktur kepemimpinan desa tersebut dan Orsi Hofai itu sendiri adalah orang yang dipercaya memimpin desa tersebut menggantikan pemimpin yang sebenarnya.

Tapi ada kalanya Orsi Hofai ingin menikmati siang yang cerah di teras Panti ditemani teh hangat tanpa harus memikirkan tugasnya, sungguh nikmat.

Sedangkan diselan-sela jalanan setapak desa Hage, Tifa dan Lily baru saja pulang dari suatu tempat di sudut desa Hage, tas keranjang mereka terisi penuh dengan beberapa sayur-sayuran, daging, dan susu.

Berjalan beriringan membuntuti langkah riang Aruru dan Recca.

Untuk menghilangkan rasa bosan mereka di sela-sela langkahnya, mereka isi dengan sebuah obrolan ala mereka yang kadang kala membuat mereka cekikikan ketika menyampaikan sebuah obrolan mereka.

Tapi seketika obrolan mereka terhenti ketika pandangan mereka mendapati Adrestia di ujung jalan bersama seseorang.

Seseorang yang mereka kenal sejak kemarin yang datang mengaku sebagai ibu kandung Adrestia.

"Kak Tifa! Kak Lily!"

Nampaknya Adrestia mengetahui jika ada Tifa dan Lily sedang berjalan menghampirinya, dia berteriak memanggil sambil melambaikan tangannya. Tifa dan Lily yang mengetahui itu tersenyum kemudian mempercepat langkahnya.

"Hey, kalian dari mana?" Tifa bertanya setelah mereka saling dekat.

"Biasa," singkat Adrestia.

Tifa dan Lily hanya mengangguk, tak perlu dijelaskan apa yang dimaksud oleh Adrestia, pasti tentang menunjukkan berbagai hal yang ada di desa Hage kepada ibunya itu.

Itu cukup menggelikan, Tifa dan Lily tak menyangka jika entitas seorang Dewi kini rela menjalani hidup layaknya orang rendahan seperti manusia.

Hanya demi anak yang pernah dia telantarkan dan dilupakan, Adrestia.

Bahkan dapat diperhatikan Aphrodite sekarang, gaun mewahnya kini kotor berlumuran tanah. Melihat hal tersebut Tifa dan Lily dapat menebak jika kegiatan anak dan ibu tersebut baru saja melakukan pekerjaan berkebun.

"Kau tidak apa-apa, Aphrodite?" tanya Lily saat mengetahui Aphrodite merenggangkan tubuhnya seperti seseorang sedang kelelahan.

"Ah, aku tidak apa-apa, hanya saja aku belum terbiasa melakukan kegiatan seperti ini," kata Aphrodite setelah menghela nafas lelah.

Tifa dan Lily memakluminya, itu pasti pengalaman yang cukup berat dialami oleh Aphrodite yang berkegiatan normal tanpa bantuan kekuatan yang dia miliki.

"Itu pasti berat untukmu," ucap Lily.

"Ya begitulah," balas Aphrodite.

"WOY! ASTA! YUNO!"

Adrestia berteriak memanggil seseorang, mengganggu percakapan orang dewasa di situ sehingga membuat mereka menoleh ke arah apa yang diteriaki oleh Adrestia.

Di bawah pohon besar jauh di ujung jalan ada Asta dan Yuno, serta anak-anak Panti yang lainnya.

Sontak Adrestia langsung menghampiri mereka dengan berlari tanpa aba-aba tanpa berpamitan dengan orang-orang dewasa di situ.

"Huh..." Aphrodite yang melihat Adrestia main pergi hanya menghela nafas pasrah, begitu sulit untuk memahami sifat dan kebiasaan Adrestia seperti itu.

Tifa yang berada di samping Aphodite tiba-tiba menepuk bahu Aphrodite. "Jangan terlalu dipikirkan dengan serius, Adrestia memang seperti itu sifatnya, sulit untuk berdiam diri," ucap Tifa yang nampaknya dapat membaca pikiran Aphrodite.

"Aku pikir memang seperti itu," Aphrodite mengerti.

Terjadi keheningan sesaat, kemudian pada akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan lagi langkahnya untuk pulang ke Panti, untuk mengisi perjalanan mereka, mereka isi dengan sebuah obrolan yang dimulai dari pertanyaan Aphrodite yang memang ingin menanyakan berbagai hal kepada Tifa dan Lily terkait tentang sesuatu yang membuatnya penasaran akhir-akhir ini.

"Boleh aku menceritakan sesuatu kepada kalian?"

"Em, memangnya mau menceritakan apa?" kata Tifa, Lily hanya menoleh menatap Aphrodite.

"Aku sempat berpikir, dulu aku selalu membanggakan fisikku yang begitu sempurna, bahkan dengan percaya diri jika aku adalah sosok yang paling sempurna di dunia ini, siapa pun yang melihatku akan terpesona seketika,"

Tifa dan Lily mengangguk paham mendengarnya, tak perlu dijelaskan apa pun, mereka sudah mengetahui jika Aphrodite adalah Dewi Percintaan Mitologi Yunani, curhatan seperti itu tak mengejutkan bagi mereka, tapi mereka menghargainya sehingga dengan senangnya untuk mendengar curhatan Aphrodite karena mungkin ini adalah sisi Aphrodite yang mulai terbuka dengan siapa saja.

Mereka cukup mengerti, karena mungkin kemarin adalah proses awal Aphrodite mengenal keadaan lingkungan sekitar.

"Tapi itu hannyalah pemikiran ku yang lama, mungkin aku harus merubah hidupku sedikit demi sedikit mulai sekarang, karena orang itu membuatku sadar bahwa kesempurnaan bisa dilihat dari sisi mana pun, bahkan bisa dilihat dari sisi yang tak dapat dilihat, yaitu hati,"

Tifa dan Lily dapat melihat ada sebuah senyuman tipis yang tercetak jelas di bibir manis Aphrodite, tapi satu hal yang sama, mereka cukup penasaran siapa yang dapat meluluhkan seorang Dewi yang begitu sombong seperti Aphrodite.

Mereka ingin tahu buka berarti tertarik untuk mengetahui siapa orang yang dimaksud oleh Aphrodite, karena hati dan raga mereka sudah ditetapkan untuk 1 orang saja yang mereka cintai melebihi apa pun.

Hanya saja, ini cukup menarik bagi mereka mendengar pengakuan langsung dari seorang Dewi.

"Pasti orang itu sangat peduli denganmu," kata Tifa.

Hanya sebuah gelengan kepala sebagai jawaban yang ditunjukkan oleh Aphrodite, dan itu membuat Tifa dan Lily bingung melihatnya. "Orang itu tidak peduli denganku, justru sebaliknya,"

""...""

"Dia sangat kasar, sangat-sangat kasar sekali,"

Rasa bingung melanda menusuk kepala Tifa dan Lily, ternyata tebakan asumsi yang mereka salah total setelah mendengar pengakuan Aphrodite barusan.

"Hmm..." Tifa bergumam, mencoba untuk terlihat tidak penasaran walaupun dia masih tetap saja penasaran. "Aku harap tidak bertemu dengan orang kasar seperti itu," ucapnya santai dan didukung anggukan kepala oleh Lily.

Tapi hal itu malah membuat Aphrodite tersenyum, dia memutar posisi tubuhnya dan melangkah mundur, tersenyum dengan kedua tangan dia gendong di belakang. "Jangan mengatakan hal seperti itu," ucapnya yang seketika membuat tanda tanya muncul di kepala Tifa dan Lily.

Aphrodite bukanlah orang yang bodoh oleh kenyataan, dia mampu mengatakan sesuatu kemungkinan karena dia ahli mencari kenyataan suatu kemungkinan itu.

"Maksudmu?"

Tifa dan Lily semakin tambah bingung, kali ini wajah bingung mereka jelas-jelas terlihat sampai membuat Aphrodite cekikikan melihatnya.

"Hihi... Kalian tidak perlu menyembunyikan tentang status kalian, aku sudah tahu kok dari Orsi,"

Lily seketika langsung tersipu, untungnya Tifa masih bisa mengendalikan ekspresi tersipunya yang jelas-jelas dia tahu maksud dari ucapan Aphrodite itu.

"A-apa apaan sih?"

"Hihi... Aku tahu kok jika kalian juga termasuk istri dari ayah angkat anak-anak panti," kata Aphrodite yang masih dalam posisi tersenyumnya, dan itu seketika membuat Tifa meledak malu. "Dan... dia juga orang aku maksud yang terlalu kasar kepadaku," sambungnya.

Tiba-tiba hening, Tifa dan Lily langsung terdiam di tempat.

Seolah-olah salah dengar, Tifa mengorek telinganya dan berkata. "Apa tadi? Bisa kau menceritakannya dengan jelas kepada kami,"

Aphrodite hanya tersenyum, dia kembali dalam posisi melangkah maju. "Baiklah," singkatnya menyetujui.

Ini adalah kesempatan bagi mereka yang jarang mendengar pengakuan langsung dari entitas mahkluk supranatural ranah teratas yaitu Dewa-Dewi. Mungkin ini akan menjadi cerita yang menarik di sela-sela langkah mereka kembali ke Panti, hanya satu yang Tifa dan Lily ingin ketahui yaitu tentang orang yang mereka cintai di mata dunia supranatural.

.

.

.

#Kuoh (Malam)

.

Hampir tengah malam ini terlihat sunyi, bagi mahkluk hidup yang normal, mereka sudah pasti memejamkan matanya untuk mempersingkat waktu malam yang panjang ini.

Tapi ada yang aneh.

Ada sekelompok berjubah hitam sudah berdiri beberapa menit tepat di depan rumah Naruto, mereka adalah sekelompok sisa-sisa Old-Satans yang dipimpin oleh Mamako Bael, yang sudah jelas mereka memiliki tujuan tertentu sehingga berada di sana.

"Nevada, apakah benar ini tempatnya?" Mamako masih belum merasa yakin jika rumah di depannya adalah tujuannya saat ini setelah mengikuti arah petunjuk dari Nevada.

"Saya sangat yakin, Mamako-sama, bahwa aku melihat mereka keluar dari rumah ini," ucap Nevada yakin.

Mamako terdiam sesaat untuk memikirkan keputusannya, memang, rasanya ada yang aneh dengan rumah di hadapan mereka, rumah tersebut seperti dilapisi oleh sebuah penghalang mistis.

Semoga saja penghalang itu bisa mereka lewati, pikir Mamako yang perlahan membuka pintu pagar tersebut dan berhasil menembus penghalang mistis tersebut.

*Wusssss...!"

Tiba-tiba sebuah tekanan sangat besar menghantam tubuh mereka, Mamako dan yang lainnya dapat merasakan Asmosfir di dalam penghalang mistis itu terasa sangat berat, mencekik leher mereka sampai membuat mereka sulit untuk bernafas.

Sampai mereka menyadari hawa apa yang mereka rasakan, bulir keringat dingin mereka tak henti-hentinya untuk menetes dari wajah mereka.

Satu pemikiran logis, hanya 3 kata yang dapat mereka pikirkan ketika dihujani hawa mengerikan seperti itu.

"Ini... Sarang Monster!"

Mamako sangat yakin, dia merasakan gejolak Aura kekuatan dari 6 Entitas High-Class Dragon, 3 High-Class Goddess, 6 High-Class Devils, 3 High-Class Magical, 2 High-Class Valkiry, 2 High-Class Yokai, 1 High-Class Spirit(Elf), 1 High-Class Tanshin, 1 High-Clas DaiTanshin, dan sisanya adalah entitas yang lebih lemah yang berasal dari dalam rumah tersebut.

Mamako sempat merasa ragu untuk sesaat, mengundurkan niatnya itu percuma dan sia-sia karena telah masuk sarang Monster, pikirnya. Menghirup udara sebanyak mungkin untuk mengumpulkan sebuah keberanian, setelah sedikit merasa tenang, Mamako melanjutkan langkahnya menuju pintu rumah tersebut dengan perlahan.

*Tok! Tok! Tok!*

3 ketukan dilakukan, tak berselang lama terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah tersebut yang semakin lama semakin mendekat.

*Krieeeeee!*

Pintu itu perlahan terbuka, membuat ketegangan yang melanda para Old-Satans. Hingga sampai pintu itu terbuka, memperlihatkan Grayfia yang seketika langsung memasang kewaspadaan karena mereka terlihat mencurigakan.

"Siapa kalian?!"

Hawa sekitar seketika menjadi dingin saat Grayfia dengan jelas merasakan Entitas yang sama dengan Katerea dan dirinya, bahkan hawa dingin itu sampai masuk ke dalam rumah, yang seketika membuat orang-orang di dalam rumah berhamburan keluar untuk memastikan apa penyebab hawa dingin tersebut.

*Tap! Tap! Tap!*

Menma, Minato dan Gray tiba-tiba muncul dan berdiri di pagar rumah, pedang Spirit telah tercipta di tangan Menma, Minato telah bertranformasi menunjukan telinga dan ekor rubahnya, dan Gray telah menciptakan elemen es kekuatannya di tangannya.

"Siapa kalian?" ucap Menma mengintimidasi dengan mengacungkan pedangnya.

Dalam sekejap Old-Satans telah terkepung, dari belakang jelas Menma, Minato dan Gray. Dari samping kiri jelas Naruko, Vivi, Lucy dan Liya. Dari samping kanan jelas Olive, Mirajane, Rin, Leo, serta Kuroka dan Raynare. Dari balkon atas telah ada Draig, Albion, Great Red, Kholkikos, Tiamat dan Ophis yang di belakang mereka sudah terdapat anak-anak Naruto yang berbaris sejajar dari Kunou ke adik-adiknya yang lainnya di tambah Mitlet dan anak-anaknya Menma. Dan di depan mereka terdapat orang-orang dewasa yang lainnya, kecuali Naruto dan Serafall yang tak terlihat.

Para Old-Satans tak menyangka akan mendapat situasi yang sangat tidak diinginkan mereka, yang cukup mereka lakukan sekarang adalah pasrah, mengikuti instruksi Mamako yang mengangkat tangannya.

"Ka-kami bukan musuh," kata Mamako.

Hal itu tak membuat mereka menurunkan kewaspadaan, apalagi mereka belum membuka Hoodie mereka membuatnya semakin dicurigai sebagai musuh yang identitasnya tak ingin diketahui.

"O... Onee-sama, to-tolong selamatkan kami,"

Semua kewaspadaan mereka langsung teralih kepada salah satu rombongan Old-Satans yang membuka hoodienya, dan seketika Katerea langsung membulatkan matanya setelah mengetahui rupa itu.

"Sayaka!"

Katerea terkejut, ditambah ketika para rombongan Old-Satans membuka Hoodie mereka mengikuti Sayaka. Katerea, serta Grayfia, Kalawarner, Olive dan Menma tambah terkejut.

.

.

Sedangkan di tempat lain, di malam yang sama di Underword, lebih tepatnya di kantor Leviathan, akhirnya Naruto dapat bernafas lega setelah mengerjakan beberapa tugas salah satu istrinya, Serafall.

Dia menyenderkan punggungnya ke belakang, bersamaan pula dengan Serafall yang melangkah masuk dari luar ruangan, secangkir minuman hangat Serafall bawa, dia melangkah mendekat ke arah Naruto dengan dihias senyuman, kemudian langsung duduk di pangkuan Naruto dan minuman hangat itu dia taruh di atas meja.

"Hmm... Situasi ini mengingatkan masa lalu kita ya... Saat aku sedang mengandung Naruko dan Rin," ujar Serafall sambil menatap lekat suaminya dan salah satu jarinya di mainkan di dada bidang suaminya.

"Huh..." satu helaan nafas keluar dari mulut Naruto, dengan sekali tindakan, Naruto melingkarkan tangan kanannya di pinggang Serafall, sampai membuatnya berbunyi 'Kyaa," karena terkejut dengan aksi Naruto yang tiba-tiba.

Dengan senyuman hangat, Naruto menatap Serafall. "Aku... Hanya ingin kau dan Grayfia serta calon anak-anak kita dulu baik-baik saja," ucapnya sambil menyentuh hidungnya Serafall dengan ujung jari telunjuknya.

Serafall tersenyum teramat-amat manisnya karena godaan suaminya, dengan sekali tindakan, dia memutar tubuhnya sehingga posisi mereka berhadapan, merangkul leher suaminya dan mendekatkan wajahnya.

"Anak-anak kita telah tumbuh dewasa, sebentar lagi pasti akan mendapatkan pasangan mereka masing-masing,"

"Terus?"

"Aku jadi kesepian kalau di kantor,"

Bulir keringat mulai membasahi wajah Naruto, mendengar ucapan istrinya membuatnya merasakan firasat yang buruk.

"Me-memangnya kenapa?"

Tiba-tiba Serafall mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Naruto.

"Ayo kita Bu~at a~dik~ untuk Naruko dan Rin,"

Ah sial, siapa yang tak mau soal urusan seperti itu? Tapi nyatanya Naruto malah terdiam mematung mendengarnya. Dia bukannya tak mau, tapi dia sudah pusing melihat anak-anaknya yang begitu banyak di rumahnya.

Lagi pula Serafall juga sudah mendapatkan jatahnya kemarin malam.

"Eto... Eto... Eto..."

Naruto tak tahu bagaimana cara menolaknya, hal itu membuat Serafall sedikit Agresif yang seketika mendekatkan bibirnya ke bibir suaminya dengan perlahan.

Tapi aksi itu terhenti saat bibir mereka tinggal 1 cm saling menyentuh, terganggu oleh kedatangan Grayfia yang tiba-tiba muncul di ruangan tersebut dengan lingkaran sihirnya.

"Naru, kamu harus pulang sekarang,"

Grayfia sedikit tergesa-gesa memberitahu membuat Naruto dan Serafall menyudahi acara WoW nya, mencoba untuk tenang sebisa mungkin ketika Grayfia terus menatapnya curiga.

"Memangnya ada apa di rumah, Fia?"

"Di rumah kedatangan tamu,"

"Siapa?"

Raut wajah Grayfia menjadi serius. "Old-Satans," ucapnya.

Mata Naruto dan Serafall sukses membulat sempurna mendengarnya, mereka berdua terkejut. Dengan tindakan cepat, Naruto langsung menghilang dengan Hiraishinnya . Dia berpikir ini sangat berbahaya, Old-Satans selain Katerea dan Grayfia adalah Stray-Devils, dan sekarang berada di rumahnya.

Serafall juga tak mau ketinggalan, dia dengan cepat langsung menyusul suaminya. Tapi sebelum itu terjadi, Grayfia telah menarik telinganya terlebih dahulu.

"Itai! Itai! Fia-tan," Serafall meringis sakit ketika telinganya dijewer oleh Grayfia.

Masih di posisi menjewer, Grayfia mendekatkan wajahnya ke wajah Serafall, dia menatap lekat Serafall.

"Tadi... Mau melakukan apa?"

"Ah... Hehehe..."

Serafall hanya cengengesan kikuk mendapati pertanyaan Grayfia barusan.

.

.

.

Tbc

.

.

Tidak banyak kata dah dari ane untuk chapter ini

.

Intinya

.

.

See you next chapter

.

(Semoga kalian menikmati karyaku ini)

.

.

'Anak-anak Naruto'

(1)

Nama : Draig(Human Form 'Rindo Kobayashi' : Sogeking no Souma).

Umur : 207 tahun,(umur 27 tahun untuk bentuk Human Form-nya).

Gender : Perempuan

Ibu : Great Red(Human Form 'Satan' : no Taizai).

(2)

Nama : Albion(Human Form 'Briyhild' : FGO).

Umur : 207 tahun,(umur 27 tahun untuk bentuk Human Form-nya).

Gender : Perempuan

Ibu : Kholkikos(Human Form 'Bellial' : no Taizai).

(3)

Nama : Olive Uzumaki(Fubuki versi rambut kuning dan panjang : OPM).

Umur : 30 tahun(umur 26 tahun sesuai fisik yang terlihat).

Gender : Perempuan

Ibu : Katerea Leviatan(High School DxD).

(4)

Nama : Menma Uzumaki(Jellal Fernandes versi rambut coklat tanpa tatto : Fairy Tail).

Umur : 27 tahun(umur 24 tahun sesuai fisik yang terlihat).

Gender : Laki-Laki

Ibu : Katerea Leviathan(High School DxD).

(5)

Nama : Naruko Uzumaki(Female Naruto tanpa kumis kucing di setiap pipinya).

Umur : 21 tahun(umur 18 tahun sesuai fisik yang terlihat).

Gender : Perempuan

Ibu : Serafall Leviathan(High School DxD).

(6)

Nama : Vivi Uzumaki(Vivi Nefertari versi rambut putih perak : One Piece).

Umur : 21 tahun(umur 18 tahun sesuai fisik yang terlihat).

Gender : Perempuan

Ibu : Grayfia Lucifuge(High School DxD).

(7)

Nama : Gray Uzumaki(Gray Fulbuster versi rambut kuning : Fairy Tail).

Umur : 19 tahun(umur 18 tahun sesuai fisik yang terlihat).

Gender : Laki-Laki

Ibu : Grayfia Lucifuge(High School DxD).

(8)

Nama : Mirajane Uzumaki(Mirajane Straus : Fairy Tail).

Umur : 19 tahun(umur 18 sesuai fisik yang terlihat).

Gender : Perempuan

Ibu : Grayfia Lucifuge(High School DxD).

(9)

Nama : Rin Uzumaki(Rin Tohsaka : Fate/Stray Night).

Umur : 19 tahun(umur 18 tahun sesuai fisik yang terlihat.

Gender : Perempuan

Ibu : Serafall Leviathan(High School DxD).

(10)

Nama : Lucy Uzumaki(Lucy Heartfilia : Fairy Tail).

Umur : 17 tahun

Gender : Perempuan

Ibu : Arturia Pendragon(Fate/Stray Night).

(11)

Nama : Minato Uzumaki(Minato Namikaze Chunin versi lebih tinggi : Naruto).

Umur : 17 tahun

Gender : Laki-Laki

Ibu : Yasaka(High School DxD).

(12)

Nama : Liya Uzumaki(Liya : Dragon nest)

Umur : 16 tahun

Gender : Perempuan

Ibu : Asuna(versi Elf Undine : SAO).

(13)

Nama : Leo Uzumaki(Leo Vermillion : Black Clover).

Umur : 14 tahun

Gender : Laki-Laki

Ibu : Mereoleona Vermillion(Black Clover).

(14)

Nama : Kunou Uzumaki(Kunou : High School DxD)

Umur : 12 tahun

Gender : Perempuan

Ibu : Yasaka(High School DxD).

(15)

Nama : Shuna Uzumaki(Meroune Lorelei : Monster Musume no Iru Nichijou).

Umur : 12 tahun

Gender : Perempuan

Ibu : Shirahoshi(One Piece).

(16)

Nama : Sting(Sting : Fairy Tail).

Umur : 11 tahun

Gender : Laki-Laki

Ibu : Freya(Amuryllis Asmodeus versi rambut kuning : Mairimashita! Iruma-kun).

(17)

Nama : Luck Uzumaki,(Black Clover).

Umur : 10 tahun

Gender : Laki-Laki

Ibu : Albedo(Overlord).

(18)

Nama : Luna Uzumaki(OC)

Umur : 10 tahun

Gender : Perempuan

Ibu : Boa Hancock(One Piece)

(19)

Nama : Hinami Uzumaki(Tokyo Ghoul)

Umur : 8 Tahun

Gender : Perempuan

Ibu : Itori,(Tokyo Ghoul).

(20)

Nama : Kuroe Uzumaki(Kuroe Ningyouhara : C3, CubexCursedxCurious)

Umur : 5 tahun

Gender : Perempuan

Ibu : Chisato Hasegawa(Shinmai Maou no Testament).

(21)

Nama : Myu Uzumaki(Arifureta).

Umur : 4 tahun

Gender : Perempuan

Ibu : Remia(Arifureta).

(22)

Nama : Luffy Uzumaki(One Piece).

Umur : 8 bulan

Gender : Laki-Laki

Ibu : Nico Robin(One Piece setelah Time Skip).


'anak-anak Menma'

(1)

Nama : Koyuki(Lecliss : Brave Nine)

Umur : 12 tahun

Gender : Perempuan

Ibu : Kiyohime(FGO)

(2)

Nama : Staz(Blood Lad, rambut coklat)

Umur : 10 tahun

Gender : Laki-Laki

Ibu : Shalter Bloodfallen(Overlord)

(3)

Nama : Eva(Evangelin A.K Mcdowel : Negima: Magister Negi Magi)

Umur : 8 tahun

Gender : Perempuan

Ibu : Evangelin A.K Mcdowell(UQ Holder)

.

.

.

.

.

See you next chapter...