Kuala Lumpur, Maret 2010.

.

"Waaaaaaaaaaaa!"

"Besarnya!"

"Asyiiik! Bisa lari-lari!"

"Taufan! Blaze! Duri! Jangan jauh-jauh!"

"Huh! Dasar, nanti pada kesasar baru tahu rasa!"

"Eh, Kak Duri! Jangan ikut-ikutan ke situ!"

Di antara berbagai keributan itu, ada satu anak yang hanya menatap kagum dalam diam dengan mata biru berbinar lebar. Dialah Ice bin Amato, yang sejak hari itu mulai mencintai binatang laut. Pikirannya ikut berenang-renang tenang bersama sirip-sirip yang membelah air biru yang terbentang luas sekali. Betapa mengagumkannya karya sang pencipta dan dalam hati Ice kemudian timbul tekad untuk memahami kehidupan laut, menyelami segala keajaiban Tuhan yang hidup di air.

Sepasang mata yang juga berwarna biru mengamati si anak nomor lima sambil bergerak secepat angin dan tertawa-tawa. Ice yang biasanya tukang tidur itu sepertinya menemukan sesuatu yang sangat memikat hati, membuat Taufan jadi jahil dan berbalik arah mendadak untuk ikut mengamati. Blaze dan Duri yang mengikutinya berkejaran di belakang.

"Ice suka ikan?" tanya Taufan berumur enam tahun. Ice tidak menjawabnya, mata masih lekat pada ikan pari yang sirip lebarnya melambai di depannya. Tulisan nama makhluk itu dalam bahasa Latin dan Melayu tercantum pada papan di bawah kaca.

Blaze berjongkok di sisi Ice, penasaran pada apa yang menarik hati adiknya dari ikan berbadan tipis itu. Duri juga menoleh-noleh karena bingung, acara kejar-kejarannya berhenti mendadak.

Tiba-tiba Taufan membentangkan jaketnya seperti sayap dan mulai berlari lagi. "Lihat aku! Aku ikan pari~~~!" Seketika, Blaze dan Duri menyusulnya berlari.

"Taufan!" Terdengar suara sang ayah, menegurnya dengan keras. Padahal Taufan sengaja berlari ke arah situ biar mereka kaget.

Ah, ayahnya mungkin lupa pada orang-orang itu. Pria dengan rambut berjambul lucu itu dan kawan-kawannya, mereka berdelapan semuanya adalah wartawan yang sebelum ini mau mewawancara Solar saat dia juara lomba matematika.

Waktu itu, Taufan belum tahu tentang bakatnya dan hanya berpikir bahwa ayahnya sungguh pelupa. Karena apa pun yang dilihat Taufan tidak pernah dilupakannya, jadi dia mengira mustahil sang ayah tidak ingat satu pun dari delapan wartawan yang dulu mengejar Solar dan Pak Guru Kokoci seusai lomba.

Taufan akan selalu ingat ekspresi Ice di hari itu, yang seolah menemukan harta karun yang sungguh berharga.

Taufan ingat dia dijewer Halilintar karena tetap lari-lari di akuarium meski sudah ditegur Amato.

Taufan sungguh ingat wartawan berjambul itu dan teman-temannya muncul lagi di rumah mereka, beberapa bulan kemudian, dan hari itu Cattus mati dilindas mobil mereka.

Wajah Duri yang menangis dengan heboh, ekspresi Solar yang ikut mendung, serta kekalutan kedua orang tuanya di hari kematian Cattus, semuanya terekam dengan baik di kepala Taufan. Apakah itu membuatnya terbayang-bayang menjelang tidur? Tentu saja.

Halilintar di usia remaja sering mengeluh dirinya insomnia, padahal Taufan kecil jauh lebih sering insomnia daripada dia. Capek seorang diri, Taufan akhirnya menciptakan solusi: anggap saja semua kejadian yang dilihatnya itu hanya film. Sekadar sebuah tayangan, serial drama untuk ditonton.

Maka, seluruh hidup Taufan sejak dia mengenal istilah photographic memory adalah sebuah pentas drama yang teramat panjang.

.

.

.

.

.

Disclaimer:

BoBoiBoy (c) Animonsta Studios

Alternate Universe, current COVID-19 pandemic situation

Boboiboy's Elemental Siblings, septuplet, no super powers

3rd side story of "Through the Darkness" (spoiler warning!)

.

.

.

.

.

Harapan yang Menyingsing (c) Roux Marlet

-tidak ada keuntungan material apa pun yang diperoleh dari karya ini-

.

.

.

.

.

Bab Empat: Si Tuan Pura-pura

trigger warning: rape trauma

.

.

.

.

.

Rumah Sakit Yong Pin, Rintis Selatan, pertengahan tahun 2021.

.

"Ayo, dibuka mulutnya~ pesawatnya mau masuk! Aaaa …."

Duri berumur tujuh belas tahun menyodorkan sendok sekali lagi ke depan mulut Solar. Adiknya itu bergeming, pandangannya kosong.

"Uuuh, Solar sudah kenyang?" tanya Duri kecewa. Makanan di piring yang dipegangnya itu bahkan masih lebih dari separuh.

Taufan yang mengamati semuanya hanya menghela napas. Makin lama, adik bungsunya itu makin kehilangan daging dari badannya. Beberapa kali dia bahkan harus diinfus nutrisi karena sama sekali tidak mau makan.

Seorang perawat laki-laki masuk ke kamar itu sambil membawa baskom air hangat.

"Pagi, Solar. Saatnya mandi," ujar perawat berambut ikal itu.

"Ah, biar aku saja. Duri, kamu bereskan makannya Solar, ya."

"Baik, Kak Taufan."

Duri pun menghilang ke bilik tempat cuci piring. Taufan mendudukkan Solar pelan-pelan lalu membuka bajunya. Si perawat membasahi handuk kecil yang dipegangnya lalu mulai membasuh tubuh bagian atas si pasien yang tidak bereaksi apa-apa.

Taufan mengeringkan badan Solar yang sudah dibersihkan, lalu memakaikan kembali bajunya. Berikutnya dibaringkannya Solar, lalu dengan hati-hati Taufan menggulung celana piyamanya. Solar merintih pelan ketika handuk basah itu mengenai pahanya.

"Pelan-pelan," bisik Taufan pada si perawat yang segera maklum. Mereka tak berlama-lama membasuh bagian bawah. Saat Duri sudah selesai cuci piring, Solar juga sudah selesai dimandikan.

"Terima kasih, Nut. Gimana, lukamu sudah sembuh?"

Si perawat berambut ikal terperanjat. "Eh … sudah sembuh, syukurlah."

"Kamu hebat banget waktu itu. Kena tembak pun, masih bisa menolong saudaraku," puji Taufan.

Nut mengerjap, masih heran. "Iya, sudah seharusnya begitu. Itu sudah tugasku."

Taufan menepuk bahu kanan Nut yang dia yakin bukan bagian yang terluka. "Tetap sehat, ya, kalian semua! Kita pasti bisa kalahkan si Covid!"

Nut tersenyum di balik maskernya, agak terharu karena nama dan jasanya diingat oleh seseorang yang bahkan baru satu kali bertemu dengannya. "Terima kasih. Kalian juga hebat."

Sepeninggal si perawat, Duri bertanya,

"Kak Taufan kenal orang tadi?"

"Iya. Dia juga menolong Solar bersama Dokter Qually waktu di helikopter …."

Mata hijau Duri terbelalak lebar. "Kok, Kakak nggak bilang? Duri juga mau berterima kasih padanya!"

"Tenang saja, Duri. Dia bakal sering ke sini, kok. Kamu bisa bilang sendiri padanya besok atau lusa."

"Kok, bisa?"

Sudah dua minggu ini Solar tetap tinggal di rumah sakit. Dua pasang anggota geraknya tak lagi berfungsi dan dia tak bisa berbicara. Seluruh aktivitas dasarnya harus dibantu oleh perawat, dokter, atau Taufan dan Duri.

"Aku dengar dari Ayah, petugas yang datang ke sini adalah petugas khusus." Taufan menjelaskan sambil membenahi selimut Solar. Mata si adik bungsu terpejam, tapi Taufan tidak yakin Solar benar-benar tidur. Kadang tak ada bedanya sama sekali apakah dia sedang bangun atau tidak. "Duri lihat sendiri waktu Dokter Rokta dari ICU ke sini minggu lalu? Solar nggak suka dokternya."

Maksud Taufan adalah, Solar tidak bisa menerima kehadiran orang dengan kriteria tertentu. Pria yang badannya besar atau perempuan dewasa—dua kriteria yang menyerupai pelaku kejahatan ini membuat Solar mendengking dan gelisah di tempat tidur. Barangkali Duri tak bisa memahami semua ini. Dengan anggapan bahwa kemampuan berpikir Solar masih seperti sedia kala, Taufan tidak mau menyebutkan hal yang traumatis dengan blak-blakan di depannya.

"Kenapa bisa nggak suka, Kak?" tanya Duri tak paham.

Aduh, kadang Taufan gemas dengan Duri dan pertanyaannya. Mana bisa dia jelaskan hal itu di depan Solar yang mungkin masih bangun? Dan, kalau dijelaskan panjang lebar juga, apakah Duri bakal paham?

"Apa karena Dokter Rokta badannya besar?" tanya Duri sambil menelengkan kepala.

"Ah, iya." Taufan segera menyambar. "Solar nggak suka dokter yang berbadan besar."

"Makanya yang datang tadi perawat yang badannya kecil?"

"Iya, Duri."

"Makanya Solar juga nggak mau Ayah dan Ibu masuk ke kamar?"

"Betul lagi." Taufan agak takjub, mungkin daya berpikir Duri tetap ikut berkembang meski lebih lambat dari yang lain.

"Umm. Kayaknya Duri paham." Si nomor enam menjentikkan jari.

"Apa iya?" Taufan merasa skeptis.

Dengan raut serius, Duri menjawabnya, "Iya. Solar takut merasa tersaingi, soalnya Solar, 'kan, badannya kecil mungil."

Taufan merasa seperti mendengar bunyi jangkrik, padahal ini masih siang hari.

"... Duri, perasaan nih, kamu dengan Solar itu badannya lebih kecil kamu, deh."

.

.

.

.

.

***...***...***...***

***...***...***...***

.

.

.

.

.

Pulau Rintis, September 2020.

.

"Alamaaaaaak, Gempa! Hamlet? Gila aja, Hamlet, tokoh utama? Berapa banyak coba, dialognya? Haaaaaaah!"

"Nanti aku bantuin Kak Taufan menghapal dialognya."

Taufan tahu dirinya terlalu mendramatisasi persiapan pentas drama kelas Bahasa. Dia sebetulnya tak butuh bantuan Gempa untuk menghapal naskah; baca satu kali saja dia sudah akan hapal. Pada akhirnya, Gempa pun terlalu sibuk mengurus banyak hal lain sehingga janji itu tinggallah janji. Agak menyedihkan memang, tapi Taufan juga tahu Gempa mengemban banyak tanggung jawab baik di dalam maupun di luar rumah. Dia juga sebetulnya paham alasan Gempa menolak peran King Claudius meski sang adik tidak mau berterus terang.

Tak mengapa, lah. Lagipula, dengan ikut serta dalam pentas drama kelas ini, Taufan jadi punya banyak kesempatan untuk mendekati Yaya yang diam-diam disukainya.

Taufan sudah pernah, hampir, sangat nyaris, menyatakan perasaannya kepada Yaya tapi urung di saat terakhir. Waktu itu, Taufan mendapat tugas klub jurnalistik untuk mewawancara sosok siswi teladan di sekolah. Siapa lagi kalau bukan Yaya yang ketua kelas dan juara kelas di jurusan Bahasa?

Jurnalistik sebenarnya bukan panggilan hidup untuk Taufan. Dia tak seperti Ice yang menemukan "panggilan" itu di akuarium raksasa atau Halilintar yang sudah punya cita-cita jadi abdi negara sejak kecil. Dia juga bukan seperti Gempa yang karakternya cocok untuk berimpian menjadi seorang guru. Mungkin sedikit mirip tujuan Blaze yang akan sekolah bisnis untuk Kokotiam, Taufan memilih kegiatan ini demi keluarganya.

Tidak persis begitu juga, sih. Taufan punya obsesi tersendiri terhadap wartawan. Dia ingin tahu, apa yang menyebabkan orang-orang di kelompok pekerjaan itu sampai tega melanggar batas privasi orang lain, seperti yang pernah dialaminya di masa kecil.

"Astaga, Bunda! Aku kira Paman Claudius yang ada di situ!"

Taufan berseru sambil jatuh berlutut, pedang di tangannya berkelontangan jatuh. Ditutupnya wajah dengan kedua tangan dan dia menangis dengan sedihnya.

"Oh, Polonius, penasihat raja yang terbaik! Betapa malang nasibmu …."

"Hamlet, oh, Hamlet, anakku!" pekik Yaya yang juga menangis. "Apa yang baru saja kauperbuat ini …."

Taufan terus saja berteriak parau, "Maaf, Bunda! Ah, dikau juga, dinda Ophelia! Maafkan diriku yang gegabah ini …."

Dalam adegan barusan, sang tokoh utama sedang berbincang dengan ibunya, sang permaisuri, di dalam kamar mengenai kematian raja yang sebelumnya. Dari balik tirai terlihat ada gerakan seperti seseorang yang sedang mencuri dengar dan Hamlet mengira itu Claudius, pamannya yang jahat. Tanpa pikir panjang, Hamlet segera menusuknya dengan pedang. Namun, ternyata orang di balik tirai itu adalah Polonius, penasihat kerajaan yang dengan putrinya, Ophelia, Hamlet menjalin romansa. Hamlet tak sengaja membunuh Polonius.

"Oh, astaga, pentas drama ini bakal sangat keren!" ujar Ying setelah adegan berakhir. "Ngomong-ngomong, aku senang kamu mencoba berimprovisasi, Taufan. Tapi, Hamlet yang memegang tangan Bunda dan merangkulnya itu nggak ada di naskah …."

"Ala, Taufan senang tuh, adegannya bareng Yaya ada banyak," komentar Stanley, yang menggantikan Gempa memerankan Claudius, sambil meringis.

"OI!" seru Taufan, untungnya Yaya si pemeran permaisuri sedang ke kamar mandi.

.

.

.

.

.

***...***...***...***

***...***...***...***

.

.

.

.

.

Pulau Rintis, September 2021.

.

Pada prinsipnya, Taufan menyukai cerita tragedi karya Shakespeare itu terutama pada adegan yang spesifik itu—Polonius memang ada di sana untuk mencuri dengar percakapan Hamlet dengan ibunya. Itu takdir yang kejam tapi tepat untuk orang yang melanggar privasi orang lain! Setelah mempelajari tentang kode etik jurnalistik di klubnya, Taufan jadi berharap si wartawan jambul dan kawan-kawannya dahulu dapat ganjaran setimpal. Kurang ajar benar, mengejar-ngejar kehidupan pribadi orang lain demi segumpal artikel!

Pada kesempatan berikutnya, Taufan juga mengerti bahwa jurnalisme bisa diboncengi oleh kepentingan lain—yang bisa dalam artian baik maupun buruk.

Saat mendengar dari Gempa tentang kronologi penculikan dirinya dan Solar, Taufan merasa marah. Salah satu penjahat mengaku adalah wartawan dari majalah sains yang ingin mewawancara Solar. Menurut cerita kemudian, orang itu betul-betul bekerja sebagai wartawan. Jaringannya luas dan dia bekerja sambil mengumpulkan berbagai informasi yang juga menguntungkan bisnis narkoba kelompok mereka. Setelah penculikan Blaze dan Ice, tentu mudah saja baginya menjaring fakta-fakta tentang si kembar tujuh yang kakek mereka adalah pemilik Kokotiam yang cukup dikenal di daerah itu.

Di bulan ketiga sejak misi penyelamatan di helikopter, Taufan masih tinggal di rumah sakit menemani Solar. Nut adalah perawat yang paling sering mengunjungi mereka dan dia cepat akrab dengan Duri.

"Waaah. Duri hebat! Aku baru tahu ada tanaman yang sewangi ini!"

Pagi itu, Nut berkutat di jendela kamar Solar bersama si anak nomor enam. Di dekat jendela ada sebuah pot bunga berwarna ungu pucat.

"Ini bunga lavender!" sahut Duri bangga. "Biasanya, Solar suka wangi lavender!"

"Begitu, ya!" timpal Nut sambil menengok ke arah Solar yang badannya sedang dibasuh oleh Taufan. Nut segera bergeser, memblokir pandangan Duri ke arah tempat tidur. "Berapa hari wanginya bisa bertahan?"

"Kalau dari pengalaman, tiga hari!" Duri masih tampak antusias. "Solar bisa tidur nyenyak dengan wangi lavender!" Tiba-tiba, Duri berbisik, "Nut, aku mau kasih tahu sebuah rahasia."

Nut otomatis membungkuk sedikit dan Duri melanjutkan bisik-bisiknya. Taufan melihat mereka kasak-kusuk dan dengan segera tidak menyukainya.

"Nut, tolong bantu aku sebentar," panggil Taufan, lalu kaget sendiri. Kenapa dia sampai merasa sebal melihat pemandangan barusan? Dalam hatinya juga timbul rasa ingin tahu, apa yang diperbincangkan Duri dan Nut sebegitu asyiknya tanpa melibatkan dirinya. Mengapa demikian?

Nut dengan sigap mendekati tempat tidur dan sekali lagi Taufan mengagumi dedikasinya kepada si pasien yang tampaknya sudah tak punya keinginan hidup lagi.

"Besok kamu dinas malam, 'kan? Besok malam aku harus pulang ke rumah, ada ujian yang perlu kamus. Aku titip Solar dan Duri padamu, Nut."

"Siap, Taufan."

Taufan melempar pandang pada adiknya yang masih menikmati bunga lavendernya sambil senyum-senyum. Duri tampaknya tidak merasa tersinggung, bisik-bisiknya dengan Nut tadi diinterupsi oleh sang kakak. Keingintahuan Taufan tak bisa dibendung, dia bertanya pada Nut dalam bisikan,

"Barusan, Duri bilang apa padamu?"

"Oh? Dia bilang, itu rahasia. Tapi, kurasa kamu pun sudah tahu, Taufan." Nut tertawa kecil sambil melirik Duri yang tidak melihat ke arah mereka. "Rahasia itu adalah … dia bilang, Solar adalah adiknya yang paling dia sayangi. Nah, adiknya Duri memang cuma satu, 'kan?"

Taufan tak bisa menahan diri untuk tersenyum geli. Kadang Duri sebegitu mudahnya untuk ditebak, ibarat sebuah buku yang terbuka lebar.

Keesokan malamnya, Taufan mendapati adanya perbedaan jumlah peralatan makan yang masuk dan keluar dari kamar Solar. Dia ingat betul jumlahnya sebelum Solar makan dan sekarang jumlah itu kurang satu di antara piring-piring yang masih banyak sisa makanannya. Firasatnya tak enak.

"Duri, ini garpunya hilang satu. Nanti coba dicari, ya."

Duri menatapnya tak paham, tapi dia mengangguk.

"Oh, iya. Nanti malam mungkin agak dingin, jangan sampai kamu kedinginan dan jatuh sakit. Nih, sarung tangan tebal. Pakai saja mulai sekarang."

"Terima kasih, Kak Taufan. Semoga sukses ujiannya!" sorak Duri saat Taufan pamit dari rumah sakit, sambil mengenakan sarung tangannya.

Malam itu, rupanya Solar hampir menghabisi nyawanya sendiri. Tangan kirinya yang bisa digerakkan sedikit telah menyelundupkan sebuah garpu ke bawah bantalnya lalu dia mencoba menusuk lehernya dengan garpu itu.

Duri, yang tahu kejadiannya, menghentikan aksi Solar dengan menempatkan tangannya di sisi leher sang adik. Garpu itu memang menancap dalam, bukan di pembuluh karotid di leher Solar, tapi di tangan Duri yang terbungkus sarung tangan tebal. Berikutnya ada tangisan sepanjang malam, tapi juga keinginan untuk terus hidup dari seorang korban pemerkosaan yang keji.

Taufan bersyukur Solar masih bisa menggerakkan satu tangan, dan bersyukur pula dirinya pernah mempelajari bahasa isyarat di kelas. Sekali diajarkan dan Taufan pasti ingat semuanya. Semua orang tahu bahwa Solar anak yang cerdas, jadi dia juga cepat belajar.

Dua hari kemudian, ada pesta menyambut kepulangan Solar dan Halilintar ke rumah. Pagi harinya, sebelum pulang dari rumah sakit, Solar menjadi yang pertama di antara tujuh saudara kembar yang divaksin COVID-19. Dokter bilang, anak dengan hemofilia seperti Solar harus divaksin di rumah sakit sehingga dapat segera ditangani apabila bekas suntikannya berdarah banyak. Untungnya itu tidak terjadi. Namun, Solar diserang efek samping demam saat sudah di rumah, saat pesta hampir selesai. Amato dan Duri mengantarnya ke kamar baru di halaman belakang rumah.

Kamar itu dirancang sederhana dengan kamar mandi di bagian dalam yang memudahkan kursi roda untuk masuk dan keluar, juga jendela kaca di bagian atapnya agar sinar matahari bisa masuk. Yang akan tidur di sana adalah Solar ditemani Duri, karena kamar mereka di lantai dua akan ditempati Amato dan Amadea mulai sekarang.

.

.

.

.

.

Kalau hidup adalah cerita dongeng, harusnya kisah ini tamat di homecoming party Solar dan Halilintar. Semua berakhir bahagia, and they lived happily ever after; para siswa kelas Bahasa tentunya sudah akrab dengan penutup dongeng yang seperti itu.

Malam itu, Solar tersentak bangun dan menangis. Lagi-lagi, dia memimpikan peristiwa laknat itu. Orang yang tidur sekamar dengannya jadi ikut terbangun.

"Solar ..."

Suara itu familier meski sepertinya bukan milik Duri. Kamar masih gelap, orang itu tidak menyalakan lampu. Dia beranjak mendekati ranjang Solar yang masih terisak-isak tanpa suara berarti.

"Sini, Kak Taufan peluk, ya?"

Rupanya yang tidur di ranjang samping Solar adalah si kakak nomor dua. Si bungsu tak punya banyak tenaga di tangan kirinya untuk meraih sang kakak dan Taufan sudah lebih dulu berlutut lalu merangkulnya erat-erat. Selama bermenit-menit kemudian, Solar terus menangis di pelukan kakaknya, yang hanya diam dan mengusap-usap punggungnya.

Taufan tahu, sebetulnya tak semua kisah dongeng berakhir bahagia. Hamlet misalnya, cerita itu tamat dengan semua tokohnya mati. Tidak ada kehidupan nyata yang berakhir bahagia karena kematian adalah kepastian bagi semua orang. Kehidupan berjalan terus, roda kehidupan berputar, dan nasib manusia tak ada yang mengetahuinya. Itu hanya sepetik pesan yang didapati Taufan dalam pentas tragedi Hamlet.

Manusia hanyalah entitas lemah yang merayap di bumi ciptaan tangan Tuhan. Namun, Taufan percaya, makhluk-makhluk lemah sekalipun bisa menjadi kuat kalau saling mendukung.

Rasanya lama sekali sampai akhirnya Solar puas menangis. Napasnya mulai teratur kembali dan dia menjauhkan wajahnya dari Taufan. Cahaya bulan sedikit mengenai wajah Solar dan Taufan bisa melihat ekspresinya.

"Kamu heran, kenapa aku yang tidur di sini?" tanya Taufan dengan cengiran khasnya. Solar mengangguk.

"Duri besok ada ujian, dia belajar bareng Ice sampai larut malam. Karena dia ketiduran di kamar Ice, akhirnya Blaze pindah ke kamarku. Jadi, aku yang temani kamu malam ini."

Solar menurunkan pandangannya, memandangi ujung tangan kirinya dengan sendu.

"Kamu ... belum siap untuk sekolah lagi, ya, Solar?"

Yang ditanya tidak menggeleng maupun mengangguk.

"Nggak apa-apa. Semua butuh waktu. Lagian, kamu 'kan, pintar! Pasti bisa cepat mengejar meski ketinggalan pelajaran."

Solar masih diam tanpa gerakan dan ekspresi apa pun. Taufan mengusap-usap rambut adiknya dengan lembut.

"Ayo, kamu mau kembali tidur, 'kan?"

Solar tampak meragu. Taufan berdiri, lalu diangkatnya tubuh kurus sang adik di bagian punggung dan pantatnya, untuk memposisikannya dengan nyaman di tempat tidur. Saat itu, Taufan menyadari sesuatu. Ada yang basah di bagian bawah.

"Eh ... Solar, kamu ...?"

Solar memejamkan mata dan menggigit bibirnya, tampak sangat malu. Perlahan, air matanya menetes lagi.

"Uuh, ya sudah, kubawa kamu ke kamar mandi, ya. Lemari bajumu yang sebelah kiri ini?"

Solar mengangguk lemah, tampak kepengin tenggelam ke dasar bumi selagi dibopong Taufan menuju kamar mandi. Kakaknya berhenti sebentar di depan lemari baju dan mengambil pakaian bersih.

"It's okay, Solar. Dulu, awal-awal habis operasi, kamu juga dipakaikan diapers, kok. Kata dokter, memang jadi sulit mengontrol buang air kalau seperti ini."

Namun, kali ini Solar malah menggeleng-geleng kalut.

"Hmm?" Taufan mengernyit, sekali itu ia tak bisa memahami apa yang mau Solar sampaikan. Saat mereka sudah masuk ke kamar mandi dan Taufan melepaskan celana adiknya, dia baru paham, dan segera merasa sedih.

Tangan kiri Solar bergerak membentuk isyarat setelah sang kakak melihat apa yang terjadi. Dia yakin Taufan mengerti apa itu ...

'Badanku menjijikkan sekali.'

Taufan menarik napas dalam-dalam. Rupanya tadi Solar bukannya mengompol seperti yang dikiranya ...

'Aku menjijikkan.' Solar mengulang ucapannya, dahinya berkerut, mulutnya merengut. Mata kelabunya berkaca-kaca. 'Aku nggak bisa menahannya.'

Taufan tidak tahu mau bicara apa. Akhirnya dia hanya bilang, "Aku mandikan Solar, ya?"

Solar tidak menjawab, tapi dia membiarkan Taufan melepaskan seluruh pakaiannya dan menyalakan shower. Malam itu, malam pertama setelah pesta kepulangannya dari rumah sakit, lagi-lagi Solar masih dimandikan oleh si kakak nomor dua.

.

.

.

.

.

"Itu reaksi alamiah tubuh ketika ada ancaman. Orang kalau ketakutan yang amat sangat, bisa sampai mengompol, 'kan?"

Esok paginya, Taufan berdiskusi dengan gurunya semasa kecil yang memang diundang sang ayah untuk tinggal sementara bersama mereka. Halilintar sudah didampingi oleh Kokoci selama di panti rehabilitasi dan kemarin Blaze juga sudah banyak berbincang dengan sang guru yang juga psikiater itu. Pagi ini, giliran Taufan yang berkonsultasi soal si bungsu.

"Tapi, semalam itu Solar bukan ngompol, Pak Guru. Dia … mimpi basah, padahal mimpinya ya tentang itu."

"Ya, prinsipnya hampir sama. Dia masih ketakutan terhadap pemerkosaan yang dulu itu."

Padahal, sudah empat bulan berlalu. Taufan menghela napas sambil memandangi pagar. Mereka memang duduk di tangga depan rumah Tok Aba.

"Pak Guru tahu, aku pernah membayangkan apa jadinya kalau Duri yang hari itu pergi alih-alih Solar. Harusnya, yang berangkat belanja, salah satunya adalah Duri. Kalau itu sampai terjadi padanya … kurasa dia nggak akan mungkin paham apa yang terjadi ..."

Kokoci terdiam sejenak sambil memandangi Taufan dari balik kacamata hitamnya.

"Di satu sisi aku bersyukur, tapi di sisi lain ... aduh, kenapa bencana semenyeramkan itu harus terjadi pada salah satu dari kami? Solar itu wawasannya luas, dia tentu sangat paham apa yang terjadi pada dirinya, dan itu membuat semuanya jadi makin menyakitkan."

Kokoci bersuara, "Mungkin dia nggak betul-betul paham, tapi Duri bisa merasakan apa yang Solar rasakan. Mereka berdua punya ikatan batin yang lebih kuat daripada Blaze dengan Ice."

"Kok, bisa?" Taufan bertanya, sama sekali tak menduganya.

"Hmm, soal itu, mungkin sebaiknya Amato atau Amadea yang bercerita."

"Yaaah, Pak Guru pelit," gerutu Taufan. "Oh, iya. Blaze gimana?"

"Dia masih mencoba berdamai dengan pengalamannya."

"Berdamai?" ulang Taufan.

"Ya. Kamu, 'kan, nggak bisa memutar kembali kejadian masa lalu dan mengeditnya seperti film. Yang bisa dilakukan adalah menerimanya dan berdamai dengan itu, lalu melanjutkan hidup dengan bahagia."

Taufan tercenung mendengarnya. Benar juga, hidup yang nyata itu bukanlah film atau drama ….

"Dalam hal ini, aku bersyukur karena Ice sangat membantuku memulihkan kondisi Blaze."

"Ice, ya?" gumam si anak nomor dua. "Ya, kulihat dia menjadi makin dewasa sejak siuman dari koma."

"Sekarang kita tahu bahwa sifat pemalasnya itu dipengaruhi penyakit tiroidnya. Setelah penyakitnya diatasi, ditambah pengalaman hampir menyeberang ke kematian, kurasa Ice adalah yang perkembangan karakternya paling maju di antara kalian semua."

Taufan mengangguk-angguk. "Ice itu seperti … apa istilahnya, support system … untuk Blaze."

"Tapi, sesungguhnya, the best support system is yourself," balas Kokoci. "Makanya, aku juga bilang padanya, Blaze harus belajar untuk berdiri sendiri. Dia nggak akan selamanya terus bersama dengan Ice."

Memang benar. Mereka bertujuh juga tak akan selamanya terus bersama-sama. Tapi, kalau tentang Solar ….

"Kurasa, untuk sementara, lebih baik aku yang temani Solar di kamar barunya," usul Taufan. "Duri mungkin bakal bingung karena dia nggak bisa bahasa isyarat."

"Itu ide yang baik. Tapi, coba sampaikan ke Duri pelan-pelan. Jangan sampai dia kecewa, karena nggak bisa tidur bareng adik kesayangannya."

Taufan jadi ingat perkataan Nut tempo hari dan hatinya jadi sakit.

"Adik kesayangan, ya?" Suara Taufan agak bergetar. "Apa Duri paham, apa yang sudah terjadi pada adik kesayangannya?" Semakin dia berbicara, Taufan makin tak bisa menahan diri. "Apa Duri tahu, Solar hampir meninggal di helikopter? Apa dia bisa mengerti, infeksi apa yang diderita Solar seumur hidup?"

Kenapa, kenapa harus seorang pria kejam pengidap sifilis dan HIV yang menyerang Solar? Yang bahkan tak peduli korbannya jadi ketularan dan perdarahan sampai nyaris tewas? Taufan masih ingat dengan jelas ekspresi pongah Vargoba saat keputusan pengadilan yang menghukumnya tiga puluh tahun penjara ditambah hukuman cambuk itu dibacakan. Rasanya tak ada jenis hukuman apa pun di dunia ini yang sepadan dengan kejahatan yang telah dilakukan Vargoba terhadap Solar.

Tangisan Taufan membuncah pecah, bukan seperti tangisan pura-puranya dalam drama Hamlet. Dia berusaha menahan suaranya agar tak terlalu keras, meski pintu depan sudah tertutup rapat.

"Taufan …." Kokoci mengusap-usap punggung pemuda itu yang berguncang-guncang dalam badai emosi.

"Aku … aku lihat sendiri kondisi Solar dan Kak Hali waktu di helikopter. Aku cuma bisa melihat hasil akhirnya dan aku nggak bisa apa-apa. Kenapa selalu begini, Pak Guru? Cattus mati dulu, bisa dibilang adalah salahku! Aku menyaksikan sendiri Cattus dilindas mereka! Pak Guru ingat kelompok wartawan di lomba matematika pertama Solar? Aku lihat orang-orang itu juga menguntit di akuarium! Padahal itu satu-satunya momen kami bertujuh bisa keluar rumah untuk bersenang-senang dan mereka mau merusaknya!"

Kokoci terperanjat mendengarkan seluruh beban Taufan yang disimpannya seorang diri selama ini. Photographic memory memang ibarat pedang bermata dua. Sungguh, bahkan Kokoci sendiri baru tahu tentang bakat itu sebelum persidangan empat bulan sebelumnya. Dia tak mengira bahwa Taufan yang selalu cengengesan dan suka bertingkah konyol itu juga punya luka seperti Halilintar.

"Taufan … kamu anak yang kuat," ujar Kokoci setelah bermenit-menit membiarkan Taufan menangis pedih. "Kamu bertahan dengan semua itu sendirian sampai sekarang. Apa kamu lega bisa cerita pada Pak Guru?"

Taufan mengusap matanya yang bengkak dan mengangguk kecil.

"The best support system is yourself. Tapi, bukan berarti kamu nggak memerlukan orang lain untuk berjuang dalam hidup. Mungkin, saat ini, kamu sedang ada di posisi itu untuk Solar. Pak Guru ada di posisi itu untukmu dan Halilintar. Ice ada di posisi itu untuk Blaze. Atok dan ibu kalian di posisi itu untuk Gempa."

Taufan masih belum bicara, tampak agak malu sudah menangis dengan hebohnya dan merenungi kalimat Kokoci yang begitu mendalam.

"Suatu saat, Solar juga harus bisa berdiri sendiri—secara kiasan. Mungkin butuh waktu lama, tapi dia juga anak yang kuat." Kokoci mengusap mata di balik kacamata hitamnya. "Kalian semua anak yang kuat. Kalian saling melengkapi, itulah kenapa kalian kuat."

.

.

.

.

.

Meski agak kecewa, Duri cukup bisa menerima usulan Taufan yang meminjam bahasa isyarat sebagai alasan untuk tidak sekamar dulu dengan Solar. Dia tidur di kamar Taufan bersama Halilintar dan Gempa.

Solar sendiri banyak mengobrol dengan Taufan sambil belajar bahasa isyarat lebih dalam. Meski dia tak lagi berpikiran untuk bunuh diri, Solar yang masih demam sampai beberapa hari berikutnya jadi mempertanyakan kewarasannya sendiri.

'Di kejadian yang terakhir itu, aku nggak diberi obat perangsang, dan aku tetap orgasme.'

Taufan sudah menduga Solar akan membahas itu dan dia mengulang penjelasan Kokoci, "Solar, aku yakin kamu yang belajar sains lebih paham soal ini daripada aku. Itu, 'kan, reaksi alamiah tubuh karena ada ancaman."

'Kalau aku teringat lagi kejadian itu dalam tidur pun, reaksinya masih sama. Apa jangan-jangan ... aku ini masokis karena kesannya menikmati diperkosa? Kupikir aku nggak begitu, tapi badanku ternyata seperti ini ...'

Taufan tidak menjawabnya, hanya mengusap-usap kepala sang adik.

'Menjijikkan,' ulang Solar untuk kesekian kalinya sambil memukuli dadanya sendiri. Taufan meraih tangan kiri Solar dan menggenggamnya erat. Solar kembali menangis, suaranya hanya berupa dengkingan putus-putus yang ganjil. Dia menangis lama sekali sampai Taufan hampir ketiduran sambil memeluknya.

Taufan mengira level emosi Solar yang tinggi itu dipengaruhi kondisi demam. Namun, setelah demamnya turun, Solar malah seperti punya energi lebih untuk bergerak. Sekali waktu, dia melempar selimut dan bantalnya ke seberang kamar sambil mencicit-cicit yang barangkali adalah teriakan frustrasi. Mungkin, kalau dia bisa mencapainya, Solar juga bakalan membanting wadah obat-obatan dan gelas yang ada di meja dekat tempat tidur Taufan. Menghadapi semua itu, Taufan hanya diam dan merapikan kembali barang yang dibuat berantakan oleh adiknya.

Berikutnya, Solar ngambek. Dia tidak mau dimandikan. Dia menggigit tangan Taufan waktu sang kakak menggendongnya ke kamar mandi. Taufan cukup mengaduh saja, mana mungkin dia melepaskan tangannya yang menyangga sang adik dan membiarkan Solar terbanting ke lantai?

"Solar, yang barusan itu sakit, lho," komentarnya sambil meringis. Wajah Solar merengut sedemikian jeleknya, tampaknya dia akan menangis lagi sebentar lagi, dan benar saja. Taufan mengembalikan adiknya ke tempat tidur. Lagi-lagi, celana Solar basah dan itu bukan karena mengompol. Digantinya pakaian Solar dengan yang bersih, dicucinya tangan, lalu Taufan duduk di kursinya sambil menghela napas lelah. Sulit rasanya mengurusi seseorang dengan harga diri tinggi seperti adiknya yang bungsu ini. Solar juga pasti tak suka tidak lagi punya privasi untuk tubuhnya sendiri. Ini semua belum termasuk kalau dia mau kembali ke ritme hidup sebelum penculikan itu ….

Tiba-tiba, sebuah ide cemerlang melintas di kepala Taufan. Dibukanya laptop dan dia mulai mengetik.

"Solar, kamu bilang mau membuat tulisan, 'kan?" Taufan teringat pidato singkat Solar saat pesta kepulangan tempo hari. "Aku sudah buat bagian penutupnya."

Kepala Solar terdongak sedikit, dia tidak lagi menangis.

"Banyak sekali yang sudah terjadi dalam kehidupanku dan keenam kakakku yang belum genap dua dekade. Suka dan duka, luka-luka, tawa canda, lebih banyak luka, kami jalani bersama. Kami saling menjaga dan menguatkan karena itulah gunanya saudara. Dan kisahku, kisah kami, belumlah tamat."

Taufan membacakan keras-keras tulisan yang diketiknya.

"Ayo, mulailah menulis! Aku akan mengetiknya untukmu, hehe."

Solar masih tak bergerak, tapi sesaat kemudian tangan kirinya bergerak membentuk isyarat. Senyum Taufan terkembang selagi membaca isyarat itu. Jari-jarinya bergerak lincah di atas laptop.

Satu hari mengetik dan Taufan sudah mendapatkan seratus kata dari Solar dengan banyak editing darinya sendiri. Terbiasa mengetik artikel membuat Taufan peka pada ejaan, struktur kalimat, dan tata bahasa. Namun, tengah malamnya, rupanya Solar terbangun dan melemparinya dengan bantal. Si bungsu masih menangis lagi karena mimpi buruk.

Semua ini rasanya seperti berputar-putar di tempat dan Taufan hampir menyerah. Dia tak bisa tidur nyenyak karena tiap kali Solar melempar lagi bantal yang sudah diletakkannya kembali. Akhirnya, bantal milik Solar disimpan Taufan di ranjangnya sendiri. Solar mendengking marah dan ganti melempar selimutnya, tapi tak mencapai ranjang sebelah. Taufan membiarkan selimut itu tetap di lantai karena dia terlalu lelah.

"Solar tahu, aku punya sebuah ide brilian biar kamu semangat menulis," gumam Taufan terkantuk-kantuk. "Besok pagi kita bahas, ya. Kamu pasti suka."

Solar tidak bergerak di tempatnya. Taufan menunggu sebentar sampai yakin Solar sudah tidur, beranjak dan mengambil selimut itu, lalu menutupi sang adik dengannya.

Keesokan paginya, malah terjadi huru-hara. Dengan siapa lagi terjadi huru-hara bersama Taufan kalau bukan dengan sang kakak sulung?

"Alamak, Taufan, kamu demam!"

Halilintar, yang cemas karena Taufan tidak kunjung datang ke ruang makan pagi itu, berinisiatif mengunjungi kamar Solar. Solar sendiri masih tidur dengan bekas air mata di wajahnya, sedangkan Taufan terbaring lemas dan agak menggigil.

"Uh …?" gumam Taufan yang merasa masih bermimpi. Kepalanya pusing dan berdenyut-denyut. Sepasang mata merah dan raut wajah marah itu dikiranya milik setan.

"WAAAAAH SETAAAAN!" Taufan menimpuk sosok di depannya menggunakan bantal Solar.

Halilintar menangkis dengan tangkas. "Woi, ini aku!"

"Eh, Kak Hali?" Taufan makin yakin dirinya sedang bermimpi.

"Kamu demam!" bentak Halilintar.

"Hah?" Taufan meraba dahinya sendiri. Memang panas. Napasnya juga terasa panas.

"Balik ke kamarmu! Sana, istirahat yang benar! Sudah tahu di sini dingin, kenapa selimutnya malah nggak dipakai?"

"Kak Hali … sst, nanti Solar bangun."

Halilintar merendahkan volume suaranya, berbisik dengan sengitnya, "Kakaknya Solar, tuh, nggak cuma kamu, Fan!"

Taufan senang sekali disayang oleh kakak satu-satunya. Satu hal sudah pasti, ini semua hanya mimpi. Tapi, Halilintar tiba-tiba menggendongnya, membuat Taufan kaget setengah mati. Kok, rasanya nyata, ya?

"Gempa pun bisa bahasa isyarat! Sudahlah! Akan kupaksa kalian mengajariku!" Halilintar bergegas membawa Taufan keluar dari kamar itu.

Tubuh Taufan bergoyang-goyang di punggung Halilintar seiring gerakan cepat sang kakak, angin dingin pagi hari menerpa kulitnya. "Kak Hali ... kepalaku nyut-nyutan. Tolong, dong, jangan teriak."

"Biarin! Nanti juga kamu sembuh kalau kuteriakin! Gempa, sini! Taufan sakit, kamu jaga Solar sebentar di kamarnya!"

Taufan nyaris tak mendengar suara Gempa yang menyahut dari teras. Dia kemudian tertidur pulas sampai sore.

.

.

.

.

.

"Kak Taufan sakit?" Blaze keheranan mendengar kabar dari Ice pagi itu.

"Iya, Kak. Tadi, kudengar, Kak Hali menggendongnya ke kamar mereka."

"Waduh, Duri gimana, dong?"

"Duri tetap di kamar itu. Kak Gempa yang pindah ke kamar Solar. Eh? Kak Blaze mau ke mana?"

Blaze sudah beranjak dari kursinya dan meraih tangan sang adik. "Ayo, Ice. Kita jenguk Kak Taufan!"

Ice kebingungan, tapi ikut berdiri juga. "Tapi, Kak Taufan sedang tidur …."

"Iya, justru itu. Aku mau lihat Kak Taufan waktu tidur!" kikik Blaze jahil.

"Kak Blaze, biarin Kak Taufan istirahat dulu …." protes Ice yang setengah diseret ke lantai bawah. Ada Ayah, Ibu, dan Tok Aba di ruang tamu, tampaknya sedang berdiskusi dengan serius. Blaze langsung menarik Ice menuju kamar.

Di kamar yang dimaksud, terlihat Halilintar dan Duri sedang duduk di dekat ranjang single. Itu biasanya adalah tempat tidur Halilintar, tapi yang terbaring di sana sekarang adalah Taufan. Ice mencengkeram lengan kakaknya untuk menahannya teriak-teriak heboh, tapi ternyata Blaze tidak berteriak begitu masuk kamar. Alih-alih, dia malah tersenyum sambil mengendap-endap. Hal yang sangat jarang terlihat dari seorang Blaze yang biasanya hiperaktif.

Taufan mendengkur sedikit, di dahinya ada kain kompres. Halilintar sedang memegangi tangannya. Duri mengusap-usap kaki Taufan yang terbungkus selimut. Keduanya menoleh dalam diam dan mengangguk saja ketika Blaze dan Ice masuk.

Ice berceletuk pelan, "Kak Taufan terlihat nyenyak banget."

Blaze membalasnya, "Hehe. Kamu kalau tidur juga gitu, Ice. Nyenyaaaaak banget. Yang lihat jadi ikut merasa damai."

"Hah?" Ice terbelalak. Blaze tiba-tiba merangkulnya.

"Maafin aku, Ice. Mungkin kamu nggak ingat, tapi dulu kamu pernah nangis kencang banget waktu kecil gara-gara aku dan Kak Taufan."

"Eh? Iya, kah?" Ice keheranan.

Halilintar mendengus pelan. "Memang, Ice. Mereka berdua, 'kan, tukang bikin ribut."

"Kak Hali ingat ceritanya?" Ice ganti menoleh pada si sulung.

"Aku nggak tahu mereka main apa. Yang jelas, Blaze lari-lari sambil teriak-teriak dan Taufan kejar dia sepenjuru rumah," terang Halilintar.

Blaze nyengir malu. "Iya, waktu itu kamu baru tidur. Kami asyik lari-lari, terus tiba-tiba, oweeeeee … ada yang nangis! Suaranya kencang banget kayak badai, lantai dan kaca jendela rumah sampai bergetar! Ya ampun, aku dan Kak Taufan buru-buru mengecek kamar."

Ice tertunduk, gantian merasa malu. "Aku yang nangis segitu kencangnya?"

Blaze dan Halilintar mengangguk. Duri hanya menelengkan kepala dengan heran karena merasa tak ingat. Mungkin waktu itu dia sedang di kebun, bermain dengan Cattus dan Solar.

"Aku peluk Ice sampai kamu tenang dan tidur kembali. Selanjutnya, melihatmu tidur dengan begitu damai ... membuatku menyesal pernah mengusik kedamaian itu. Sejak itu aku berjanji, aku nggak akan pernah bikin Ice nangis lagi!"

Determinasi Blaze membuat semua yang mendengarnya jadi terharu. Halilintar membuang muka. Ice secara spontan memeluk Blaze. Duri tersenyum-senyum senang.

"Yuk, kita biarkan si tukang ribut ini istirahat," ujar Halilintar pada akhirnya. Taufan masih mendengkur, larut dalam tidur.

.

.

.

.

.

Pak Guru Kokoci bilang, support system terbaik adalah diri sendiri. Blaze pertama kali mendengar istilah itu juga dari sang guru masa kecil.

"Kamu itu tipe orang sanguinis, Blaze. Emosimu selalu tampak meledak-ledak lewat sikap dan tingkahmu."

Blaze tersenyum datar dalam 'konseling' kecilnya setelah homecoming party. Kokoci memang benar, Blaze itu eksplosif, seperti bom. Mudah terbakar dan mudah meledak.

"Kebalikan denganmu, Ice itu melankolis dan plegmatis. Dia pecinta damai dan baru akan melakukan sesuatu setelah memikirkannya matang-matang. Kalian berdua adalah yang sifatnya paling berkebalikan di antara kembar tujuh dan ajaibnya kalian berdua juga yang paling lengket satu sama lain."

"Aku … aku paling menyayangi Ice di antara yang lain," balas Blaze, "tapi, aku tahu aku jahat padanya dengan mengekangnya seperti waktu itu. Semua bencana datang menyusul kemudian … aku nggak akan bilang ini salahku, karena aku sudah dengar dari Ibu bahwa Kak Gempa sempat menyalahkan diri sendiri padahal itu juga nggak benar. Apa yang bisa kuperbuat, Pak Guru?"

Kokoci memikirkan semua kalimat Blaze barusan. Menurutnya, Ice memang punya semua kualitas yang baik untuk menjadi pemimpin saudara-saudaranya sejak kecil—hanya satu kekurangannya, yaitu inisiatif. Sebaliknya, Blaze selalu punya inisiatif (bahkan agak berlebihan) tapi kurang didukung manajemen emosional dan spiritual yang baik. Keduanya sama-sama cerdas secara intelektual dan ini terbukti tak hanya dari skor ujian dari Kokoci dahulu, nilai mereka ada di bawah Solar yang nomor satu, tapi juga ditunjukkan dari peringkat yang dicapai di kelas masing-masing.

Berdua, Blaze dan Ice memang saling melengkapi. Namun, hal itu tak bisa berlangsung selamanya, kalau keduanya nanti beranjak dewasa dan akan punya kehidupan sendiri-sendiri ….

"Blaze, belajarlah dari Ice bagaimana caranya menahan amarah. Ice juga perlu belajar darimu untuk lebih gesit dalam membuat keputusan."

Blaze berpikir-pikir. "Kurasa, aku gesit karena aku suka main basket."

Kokoci mengangguk. "Kupikir, Ice selalu tenang karena panahan membantunya untuk fokus pada satu hal."

"Eh? Apa hubungannya tenang dengan fokus?"

"Kesadaran manusia itu rumit, Blaze. Aku ada sebuah cerita. Seorang murid diminta gurunya membawa segelas air melewati pasar. Guru berpesan bahwa air itu nggak boleh tumpah setetes pun, atau si murid nggak akan dapat makan hari itu."

"Gurunya kejam," komentar Blaze. Kokoci tertawa singkat.

"Si murid berhasil membawa gelas air itu dengan selamat sampai tujuan. Lalu, gurunya bertanya padanya, ada berapa gadis cantik yang dilihatnya sepanjang jalan? Ada berapa jenis makanan enak yang dijual di pasar?"

Blaze mengernyit. "Apa dia sempat memerhatikan? Dia harus konsentrasi menjaga airnya nggak tumpah."

"Nah, itu dia!" timpal Kokoci, yakin bahwa Blaze pasti memahaminya. Ekspresi pemuda itu berubah senang.

"Benar juga! Kalau si murid nggak fokus pada gelas air di tangannya, tujuannya nggak akan tercapai. Begitu, 'kan, Pak Guru?"

Kokoci mengangguk. "Dan, fokus itu membuatmu masuk dalam ketenangan. Hati yang tenang akan membuat pikiran tetap fokus. Ini sebuah siklus yang timbal-balik."

"Pak Guru, kadang bahasamu rumit banget," keluh Blaze, tapi dia masih nyengir senang. "Sepertinya, cara Ice mencapai ketenangan salah satunya adalah dengan tidur, hihihi."

"Yah, cara Ice dengan caramu bisa saja berbeda. Kamu bisa memakai bola basket sebagai sarana untuk latihan fokus. Prinsipnya sama, 'kan? Tujuanmu adalah menembakkan bolanya ke ring. Apa pun di luar itu, harus ada di luar fokusmu. Apa tujuan Blaze sekarang ini?"

Ditanya demikian, Blaze kembali berpikir. Sejujurnya, dia sudah lelah mengurusi homecoming party tadi pagi, tapi pertanyaan Kokoci membuatnya tertarik. Apa tujuan hidupnya untuk saat ini?

"Aku mau sembuh dari trauma," ucap Blaze akhirnya. "Sebetulnya, aku mau membantu Kak Gempa atau Kak Hali, atau membantu Kak Taufan mengurus Solar, tapi kurasa aku belum siap untuk itu. Karena, aku sendiri harus memperbaiki kondisiku dulu sebelum bisa membantu yang lain."

"Bagus sekali, Blaze. Ice pasti juga mendukungmu untuk mencapai tujuan itu."

"Eh? Tapi, tadi Pak Guru bilang, support system yang terbaik itu diri sendiri?" Blaze agak bingung karena sang guru malah melibatkan Ice lagi.

Kokoci tersenyum tenang. "Ibarat balita yang baru belajar berjalan, apa kamu bisa bangkit sendiri tanpa bantuan untuk saat ini? Kalau bisa, itu sungguh luar biasa. Tapi, jangan sungkan untuk minta bantuan Ice atau yang lain. Orang yang kuat itu bukannya nggak pernah terjatuh."

"Jatuh berguling-guling, kalau kasusnya Kak Gempa."

Kokoci tertawa kecil. "Iya. Menurutmu, Gempa itu kuat atau nggak?"

"Dia orang terkuat yang pernah kukenal," jawab Blaze penuh kejujuran. "Dia sempat terpuruk, tapi bisa bangkit kembali."

"Itu yang dinamakan resilience. Itulah ciri orang kuat yang sesungguhnya, bukan yang badannya berotot dan juara olahraga."

Blaze juga tertawa. "Aku pernah baca di buku-buku soal resilience. Seperti bola basket, dibanting ke tanah dan dia akan memantul. Makin keras bantingannya, makin tinggi pantulannya."

"Iya juga, ya? Pak Guru malah baru kepikiran," puji Kokoci tulus.

"Kak Hali itu juga kuat. Dia saksi mata semua kejahatan terhadap Solar …." Suara Blaze agak menghilang. "Kalau aku jadi Kak Hali atau Kak Gempa, kurasa aku sudah jadi gila—atau bunuh diri."

Kokoci menahan napasnya. Tak hanya Blaze yang pernah kepikiran untuk bunuh diri ….

"Apalagi kalau aku di posisi Solar. Astaga," keluh Blaze, yang tiba-tiba merinding. "Disentuh-sentuh seperti itu dulu saja masih sering membuatku mimpi buruk. Yang dialami Solar jauh lebih parah …."

Air mata Blaze menetes sedikit.

"Aku sangat paham kalau Solar kemarin mau mengakiri hidupnya sendiri."

Kokoci tidak menanggapi kalimat Blaze barusan. Topik ini sangat sensitif dan berbahaya menurutnya untuk dibahas bersama Blaze.

"Tapi, Ice bilang padaku kalau bunuh diri itu tindakan yang salah."

Kokoci melirik Blaze, mencoba menerka lanjutan kalimatnya.

"Ini bukan tentang dosa. Melainkan … itu karena Allah sangat menyayangi manusia ciptaan-Nya. Yang ditimpa cobaan berat adalah umat yang disayangi-Nya. Kalau aku berpikir dari sudut pandang itu, rasanya, hatiku jadi tenang."

Kokoci menepuk punggung Blaze dengan lembut. "Ice memang selalu bisa membuatmu tenang, ya?"

.

.

.

.

.

Ketika Taufan terbangun, hari sudah malam. Kamar tempatnya berada sungguh gelap dan sunyi, sedikit cahaya masuk lewat bagian bawah pintu dari ruang tamu. Tunggu, ini bukan kamar baru berdinding kayu tempat ia tidur bersama Solar …. Ini kamarnya yang lama dan di atasnya tidak ada ranjang tingkat. Dia sedang berbaring di ranjang Halilintar?

Taufan mendudukkan diri sambil terkesiap. Apa yang terjadi? Detik itu juga, terdengar suara seseorang.

"Kak Taufan sudah bangun?"

Taufan ingat, suara yang imut namun terkesan diseret-seret itu milik Ice.

"Ice?"

"Iya, ini Ice, Kak." Dalam keremangan, sosok itu bangkit dari ranjang Gempa di sebelahnya dan mendekatinya. Ice memegang dahi Taufan.

"Demamya sudah turun." Ice kedengaran senang dan bersyukur.

"Apa aku demam?" Taufan keheranan. Yang dia ingat terakhir adalah Solar melemparinya dengan bantal ….

"Iya, tadi pagi. Kak Hali panik banget, tahu."

Mendadak, Taufan ikut panik. "Solar? Siapa yang jaga dia seharian?"

"Kak Gempa, Duri, sama Ibu."

Mendengar nama-nama itu disebutkan nyaris membuat Taufan pingsan. Dia tak sanggup membayangkan kalau ketiga manusia berhati lembut itu sampai dilempari barang oleh Solar ….

"Solar tadi pagi sempat ngamuk sebentar. Aku dan Kak Blaze berhasil menenangkannya. Kak Hali awalnya mau ikut membantu, tapi batal ikut karena takut dia bakal melukai Solar dengan kekerasan. Ayah dan Atok juga mencoba masuk kamar tapi Solar makin mengamuk."

Taufan mengerjap, terbagi antara kaget dan takjub.

"Tapi, Solar mengizinkan Ibu masuk kamar?" Bukannya Solar tak bisa menerima kehadiran orang dewasa di kamarnya?

"Iya. Mungkin karena bareng Kak Gem dan Duri."

"Siapa yang memandikan Solar?"

"Aku dan Kak Blaze."

Taufan makin terperangah. "Kalian berdua menggendongnya ke kamar mandi?"

"Kak Blaze yang menggendong Solar. Aku mana kuat," kekeh Ice kegelian, lalu melanjutkan cerita, "Aku yang siapkan air panas dan handuk. Lalu, Kak Blaze bikin busa sabun berterbangan di kamar mandi, aku nggak paham gimana caranya. Kita bertiga malah jadi pesta busa sabun di sana. Solar juga jadi senang melihat kekonyolan itu."

Taufan tertawa membayangkan kejadian itu. Blaze memang benar-benar ahli menciptakan kejutan. Diraihnya kepala Ice dan diusap-usapnya dengan sayang. Ice sendiri mendengkur puas seperti anak kucing yang dibelai-belai.

"Makasih, ya … kalian udah gantiin Kak Taufan yang tumbang ini."

"Hehe, sama-sama. Oh, iya. Tadi Solar tanya dengan bantuan Kak Gempa, Kak Taufan punya ide brilian apa yang semalam dibilang?"

"Oh?" Taufan diam sejenak. Perlahan, cengiran di wajahnya kembali. "Nanti, deh. Aku akan sampaikan sendiri."

"Eh? Ini Solar sudah tidur, Kak. Ini sudah jam sembilan malam."

"Alamaaak?!" Pantas saja perut Taufan sudah berkeroncongan. Dia belum makan seharian.

"Aku jaga di sini kalau-kalau Kak Taufan bangun biar bisa makan. Eh, aku malah ikut ketiduran di sini," ujar Ice, agak merasa bersalah. "Ayo, kupanaskan sebentar makan malamnya."

Kedua kembar bermata biru itu kemudian masuk ke dapur. Selera makan Taufan makin bangkit mencium aroma masakan yang dihangatkan di microwave.

"Ini masakan Tok Aba, ya?" tebak Taufan sambil menghirup dalam-dalam.

"Benar!" sahut Ice ceria.

Sambil makan, Taufan menyimak kelanjutan kisah pesta busa sabun tadi sore.

"Waktu mandi, Kak Blaze iseng menggelitiki Solar dan Solar nggak tahan untuk nggak ketawa. Kak Blaze bilang pada Solar, tertawa itu adalah reaksi alami untuk orang yang digelitiki meski hal itu menjengkelkan untuk mereka. Seperti itu juga untuk hal-hal jahat yang mengundang reaksi tubuh yang nggak diinginkan …."

Taufan lagi-lagi merasa takjub. Oh, dia lupa, Solar-Blaze-Ice adalah tiga orang pemilik IQ tertinggi di antara mereka bertujuh. Pembahasan tentang seksualitas yang rumit dan tabu pun pasti bisa saling dipahami dengan cara apa pun.

"Kak Blaze malah cerita bahwa dia juga sering berdiri kalau pertandingan basket memanas."

"Berdiri? Oh," sahut Taufan, wajahnya merah seketika saat paham kiasan yang dimaksud Ice.

"Alat kelamin kita itu tempat bermuaranya aliran darah dan hormon, terutama adrenalin kalau sedang berdebar-debar," tutur Ice lugas seperti sedang menjelaskan pelajaran biologi.

"S-stop, Ice!" Taufan buru-buru menunduk pada makanannya. Dia jadi teringat seseorang yang biasanya membuatnya berdebar-debar menjelang tidur.

"Kak Taufan barusan ngebayangin siapa, hayo?" tebak Ice, senyumnya jahil meski tidak selebar Blaze. Sial, sejak kapan Ice jadi ketularan usil?

"Mau tahu aja!" balas Taufan sewot, membuat Ice terkekeh.

.

.

.

.

.

'Pasti yang dibayangin si ketua kelas Bahasa, 'kan?'

Taufan hampir terjengkang dari kursi waktu melihat Solar bilang begitu dengan isyarat.

"Solaaaaar!"

Yang dipanggil namanya hanya tersenyum manis. 'Kak Taufan lucu, deh, kalau lagi malu.'

"Hentikaaaan!"

Untungnya Taufan hanya berdua dengan Solar di kamar belakang rumah. Solar jadi lebih ceria sejak Taufan sempat demam tempo hari. Mungkin kerja keras semua orang, terutama Blaze dan Ice, telah berhasil membantu Solar untuk selangkah lebih maju.

'Oh, iya. Idenya Kak Taufan kemarin tentang apa?' Solar bertanya.

"Oh? Jadi begini, Solar. Kita, 'kan, mau mengetik tulisan tentangmu. Biar nggak membosankan dan kamu juga bersemangat, aku mau memberi tantangan untukmu."

Kepala Solar terdongak. Mendengar kata 'tantangan' mungkin membuat harga diri Solar kembali.

"Kusebut ini … 30DCtMSSA!" Taufan mengumumkan dengan bangga.

Solar melongo, jangkrik mengerik.

"Err … Kepanjangannya: 30-Day Challenge to Make Solar Shine Again!"

Solar makin melongo.

"Duri masih menyimpan semua produk skincare milikmu di dalam kardus. Kita bertujuh akan foto bersama untuk ilustrasi tulisanmu, kita rancang saja tepat satu bulan lagi. Nah, sebelum hari itu tiba, Solar harus sudah kembali ganteng dan bersinar!"

Sepasang mata kelabu berbinar terang. Sepertinya Taufan sudah melontarkan ide yang bagus. Solar mengangguk, tanda dirinya menerima tantangan itu.

Taufan bersorak kegirangan. "Nah, sebagai permulaan … Solar harus banyak tersenyum!"

Melihat tingkah Taufan yang konyol saja sudah menerbitkan senyum di wajah yang tirus dan pucat itu. Mudah saja bagi Solar untuk tersenyum saat ini.

"Bagus! Selanjutnya … ajari aku dan Duri gimana caranya mengaplikasikan foundation dan masker wajah, ya."

Kali ini, giliran Solar yang hampir terjengkang di tempat tidur.

.

.

.

.

.

***...***...***...***

***...***...***...***

.

.

.

.

.

Rumah Tok Aba, Oktober 2021.

.

"Dan, hari ini adalah hari ketiga puluh dari 30DCtMSSA! Selamat, Solar!"

Ice dan Duri beserta Fang yang jurusan Ilmu Alam sudah meninggalkan rumah untuk divaksin. Taufan, yang sudah puas makan serta dibelai dan dijitak Halilintar, bercerita tentang tantangan yang diciptakannya untuk Solar.

"Waaah, selamat! Apa tadi kepanjangannya?" tanya Gempa kagum.

"30-Day Challenge to Make Solar Shine Again!" sahut Taufan cengar-cengir.

"Keren!" timpal Blaze. "Hari ini, Solar sudah ganteng dan bersinar lagi!"

Solar membetulkan kacamata visornya dengan tangan kiri lalu berisyarat. Taufan menerjemahkannya,

"Hmm … 'Makasih juga untuk Kak Blaze dan Kak Ice yang patungan membelikan lagi kacamata untukku.' Jadi, itu alasannya jumlah pembelian susu keliling berkurang, ya? Hebat!"

"Aku juga menyumbangkan salah satu deodoran koleksiku untuk Solar," ujar Blaze dengan bangga. "Biar Solar juga wangi seperti Blaze! Hahaha!"

"Ya, dari awal memang Solar itu nggak bau badan sepertimu, kok," komentar Halilintar sadis.

"Ih, Kak Hali jahat …," Blaze pura-pura mewek, lalu mengangkat kedua tangannya ke atas—tenang saja, Blaze masih pakai seragam sekolah jadi tidak kelihatan apa yang mau dia tunjukkan. "Ketiakku wangi, kok!"

"Memang lah wangi, wangi dari deodorannya," balas Gempa sambil tersenyum kecut.

Amadea terpekik geli. "Astaga, anak-anak Ibu semuanya sudah puber!"

Tok Aba ikut terkekeh-kekeh dan berujar, "Salah satu parfumnya Blaze ada yang aroma cokelat, lho."

"Eeeh? Tok Aba? Itu rahasiaaa!" protes Blaze yang jadi malu.

"Kok, aroma cokelat? Ah, aku tahu! Biar Melissa kepincut padamu karena baumu enak kayak cokelat?" serang Taufan terlalu jujur.

"Kak Taufan! Pengkhianat!" balas Blaze, wajahnya jadi merah.

"Ululu, Abang Kapten Tim Basket yang punya enam kembaran itu cakep banget! Serius, aku pernah dengar Melissa ngomong begini!" Taufan malah menyiram bensin pada api.

"Aku memang suka sama Melissa!" pekik Blaze pasrah, rahasianya terbongkar sudah. Huh, bertuah punya kakak! "Kabarnya, sih, kembaran Melissa yang namanya Melody itu suka sama Ice. Terus, Kak Taufan sendiri gimana sama Yaya?"

"EEEEEH!" Gantian Taufan yang gelagapan.

Gempa, Amadea, dan Tok Aba tertawa terpingkal-pingkal selagi Taufan dan Blaze saling serang. Solar juga meringis-ringis geli, sedangkan Halilintar tetap bermuka datar meski di dalam hati juga menahan tawa.

"Sudah, cukup, sakit perut ini," sela Amadea yang sampai menangis.

"Haduh, iya, sakit perut," balas Gempa yang masih ingin tertawa. Pantas saja Taufan itu berbinar-binar terus menjelang persiapan pentas drama dahulu. Gempa juga tahu bahwa Yaya mendapat peran Gertrude sang permaisuri, jadi, adegannya bersama Taufan yang memerankan Hamlet pasti banyak.

"Untung Duri udah berangkat. Dia pasti bingung sama percakapan kita," seloroh Halilintar.

"Iya. Kadang aku kasihan sama Duri," timpal Taufan. "Banyak hal yang sulit dia pahami." Diliriknya Solar dan dipandanginya sang adik dengan sorot penuh makna. "Termasuk, apa yang pernah dialami Solar …."

Blaze menyahut, "Nggak, kok. Duri sudah paham semuanya. Berkat Ice …."

Halilintar menoleh ke arah Blaze dengan pandangan tak percaya.

Gempa juga kaget. "Kok, bisa?"

Tak hanya Halilintar dan Gempa yang kaget. Taufan dan Solar sendiri tidak menyangka hal itu.

"Singkat cerita, karena Ice dan Duri sama-sama kelas Ilmu Alam, penjelasannya jadi lebih gampang. Sudah, aku cuma bisa cerita segitu, karena aku juga nggak mau menyimak diskusi mereka lama-lama," pungkas Blaze.

Solar tampak terpekur. Taufan pun masih agak tak percaya. Menurutnya, mungkin Ice sudah menjelaskan sesederhana mungkin, tapi Duri tak sepenuhnya paham. Jalan pikiran Duri itu amat sangat berbeda dari remaja laki-laki pada umumnya ….

"Kalau Duri sudah paham, semuanya akan jadi lebih mudah," komentar Amadea dengan bijak. "Kita semua bisa bergantian membantu Solar tiap hari."

"Setuju!" sorak Blaze.

Halilintar berujar, "Taufan juga jangan terlalu memaksakan diri, merawat Solar sendirian sampai diri sendiri sakit! Dasar!"

Taufan membela diri, "Kak Hali kalau melihat sendiri kondisi Solar di awal dia pulang, pasti juga nggak tega …."

Solar membuat isyarat lagi. Taufan menatapnya, tapi tidak berbicara dan hanya tersenyum miring.

"Solar bilang apa?" tanya Halilintar pada Taufan, yang tidak mau menjawab dan malah nyengir.

"Gem? Kamu tahu?" Halilintar mencoba alternatif lain.

"Um, Solar, bisa diulangi yang tadi?" pinta Gempa ragu-ragu. Solar mengulangi isyaratnya. "Hm … 'Kak Taufan itu paling mengenalku luar-dalam,' begitu?"

Solar mengangguk dan menatap Taufan lurus-lurus.

"Sebaliknya, Solar juga paling mengenalku luar-dalam," ujar Taufan bahkan sebelum Solar berisyarat lagi, tapi Solar juga mengangguk. "Oh, maaf, ya, Kak Hali. Bukan kamu yang paling mengenal diriku, hahaha!"

"Apaan, sih?" balas Halilintar sewot.

"Kak Hali, sudah saatnya berhenti main rahasia. Berhenti berpura-pura menutupi bakat ajaib yang kita punya. Akui saja dan terima itu sebagai anugerah." Taufan tahu, Halilintar belum sepenuhnya mampu hidup berdampingan dengan bakatnya melihat roh orang sekarat. Kalau dipikir-pikir, hal itu sebetulnya cukup menyeramkan juga …. Dia meneruskan, "Kak Hali, ingatlah bahwa bakatmu itu sudah menyelamatkan Ice …."

Blaze terisak keras dan tahu-tahu sudah banjir air mata.

"Dan, bakat Kak Taufan juga menyelamatkan Solar," sambung Gempa yang terharu.

"Solar, gimana caranya?" sembur Blaze tiba-tiba. Solar menoleh ke arahnya dengan pandangan bingung. "Kamu … kamu begitu tangguh dan kuat. Gimana caranya bisa begitu?"

Blaze ingat nasihat Kokoci bahwa, selain Ice, saudaranya yang lain juga patut dicontoh. Siapa pun yang dipandang Blaze memiliki sesuatu yang positif, maka harus ditanyai olehnya.

Solar tampak berpikir dan menimbang-nimbang jawabannya.

'Kurasa Kak Blaze harus coba bangun pagi-pagi dan nonton matahari terbit.'

Terjemahan Gempa kali ini sudah seakurat Taufan dan Halilintar setuju pada usul Solar.

Si bungsu sudah melakukan kebiasaan itu jauh sebelumnya, saat mereka semua masih kecil di Kuala Lumpur dulu. Solar tak hanya sekadar menonton terbitnya matahari. Dia bermeditasi di tepi jendela—bahkan sebelum Ice yang paling tenang dari semuanya mengenal istilah itu.

'Aku pengin bisa nonton matahari terbit lagi, tapi di sini pemandangannya terhalang.'

"Memang iya, sih. Terlalu banyak gedung," timpal Taufan, lalu melotot. "Eh?"

Tangan kiri Solar, yang sudah terangkat hendak berisyarat lagi, tiba-tiba terjatuh lemas ke meja. Napas Solar jadi memburu, dia panik.

"Solar!"

Amadea, yang duduknya paling dekat, segera meraih tangan si bungsu dan memeriksanya.

Tangan kiri Solar kadang-kadang masih kaku dan bisa mendadak hilang tenaga, tak bisa digerakkan. Setiap kali ini terjadi, Solar jadi panik sekali dan sesaat kemudian, ketika tangannya bisa bergerak lagi dan sudah agak tenang, dia jadi merasa hopeless.

Solar menangis tanpa suara di pelukan Amadea sambil menggeleng-geleng. Isyaratnya tampak patah-patah, tapi Taufan masih bisa memahaminya.

"Solar, kamu tenang saja …. Aku masih bisa baca ekspresi dan sinar matamu semisal tanganmu nggak bisa digerakkan."

"Taufan, jangan bicara begitu," tegur Halilintar.

"Solar, Solar …." Amadea ikut menangis dan entah kenapa sebelah tangannya memegangi perutnya sendiri. "Kamu kuat, kamu bisa. Solar … kamu sudah jadi anak yang kuat sejak masih di dalam perut Ibu."

Semua yang mendengarnya, kecuali Tok Aba, sangat terkejut.

.

.

.

.

.

"Um … Kak Ice? Ayah?" seloroh Duri di dalam mobil. Semua siswa telah selesai divaksin di Klinik Gaharum dan kini mereka dalam perjalanan pulang ke rumah Tok Aba.

"Hmm?" Ice benar-benar merasa mengantuk karena kebanyakan makan (atau mengantuk adalah efek samping vaksin yang isunya hanya guyonan?)

"Ya, Duri?" Amato menengok sekilas ke belakang, tempat Duri duduk.

"Um, kita mampir beli gelato dulu, yuk?" usul Duri dengan ceria.

Seketika, mata Ice kembali terbuka lebar. "Ayo, Ayah! Kita beli gelato!"

.

.

.

.

.

***...***...***...***

***...***...***...***

.

.

.

.

.

Author's Note:

Jadinya bab ini tetap panjang dan pembagian cast-nya juga nggak merata seperti rencana. Nggak apa-apa, ya X"D semoga feel-nya tetap dapat.

Special thanks to Asha_Cyclone untuk gambar pemanis Blaze dan Ice! ^^ Bisa dilihat di wattpad (EfanillaVivace) atau AO3 (efavivace)!

Cast untuk bab selanjutnya (sekaligus yang terakhir!):

Bab 5: Surya Bersinar (Solar, Duri, Ice, Blaze, Amato dan Amadea, Kuputeri dan Kokoci)

Plus, Epilog (Kokoci dan Kuputeri)

Kritik dan saran sangat diapresiasi!

(Oh, masih ada omake untuk bab ini! Lanjutkan membaca di bawah!)

[03.07.2022]

.

.

.

.

.

***...***...***...***

***...***...***...***

.

.

.

.

.

Malam itu, sembari bersantap malam yang terlambat karena terkapar demam, dialog Taufan dan Ice masih ada kelanjutannya setelah pembahasan yang awkward tentang seksualitas.

Ice duduk di seberang meja di hadapan kakaknya. "Kak Taufan, terima kasih, ya," selorohnya.

Taufan masih mengunyah dulu sampai selesai. "Makasih untuk apa, nih?"

"Sudah menolong Solar."

"Bukan masalah. Kebetulan, aku lebih mahir bahasa isyarat daripada Gempa."

"Hm, bukan hanya itu yang kumaksud, Kak." Mata biru Ice menatap sepasang yang juga biru milik Taufan. "Bakat photographic memory Kakak sudah menghindarkan Solar dari kematian. Sama seperti bakat Kak Hali sudah menyelamatkanku. Kalian berdua … terbaik."

Ice tiba-tiba meneteskan air mata, tapi dia tetap tersenyum.

"Duri bercerita bagaimana Solar mencoba bunuh diri pakai garpu …. Kalau bukan karena Kak Taufan, mungkin Duri nggak akan waspada, mungkin Solar betulan mati, atau mungkin Duri sempat mencegah tapi pasti akan ada yang terluka. Terima kasih, Kak."

Taufan ikutan jadi cengeng. Bakatnya ini bukan sebuah kutukan pada akhirnya? Meski di masa lalu dia menyesalinya, rupanya ada manfaatnya juga ….

"Solar pernah bilang padaku, ada luka yang sulit untuk sembuh," lanjut Ice, masih dengan senyum yang sama. "Itu ketika dia habis dicekik Kak Blaze dan bekas memar di lehernya bertahan sampai dua minggu. Rupanya itu salah satu gejala hemofilia." Senyum Ice memudar sedikit saat mengucapkannya. "Katakanlah aku berlebihan memikirkannya. Tapi, Solar adalah yang pertama kali menduga aku mengidap hipotiroid dan ternyata benar—dan sekali lagi aku juga berterima kasih padanya."

Taufan agak tertegun, rasanya dia bisa menebak arah pembicaraan Ice dari ekspresi dan sikap tubuhnya yang gelisah. Sang adik meneruskan,

"Pengetahuan Solar jauh lebih luas daripada kita semua dan rasa ingin tahunya begitu tinggi. Apa berlebihan menurut Kak Taufan, kalau kupikir Solar sudah punya dugaan dirinya pengidap hemofilia sebelum dia diculik tapi dia diam saja?"