Klinik Gaharum, Pulau Rintis, Oktober 2021.
.
Jantung Duri berdebar-debar, dia duduk dengan gelisah di kursinya. Diliriknya sang kakak yang duduk terkantuk-kantuk di sampingnya. Tadi, nama mereka sudah dicatat dan telah dilakukan pemeriksaan suhu tubuh serta tekanan darah. Duri dan Ice sebentar lagi akan divaksin COVID-19.
"Nomor urut sebelas, Duri bin Amato."
Namanya sudah dipanggil, tapi Duri tidak beranjak dari kursi.
"Duri bin Amato?" Suara itu memanggil sekali lagi, lebih keras. Ice tersentak bangun dan menoleh.
"Duri, giliranmu."
Duri menggeleng di tempat, wajahnya pucat.
"Huh?" gumam Ice sambil meraih tangan adiknya. Tangan itu terasa dingin sekali, seketika Ice bisa menebak. "Duri, kamu takut?"
Duri mengangguk malu-malu. "Boleh, nggak, Kak Ice temani aku waktu divaksin? Nanti gantian, aku temani Kak Ice."
Di balik maskernya, Ice tersenyum geli.
.
.
.
.
.
Disclaimer:
BoBoiBoy (c) Animonsta Studios
Alternate Universe, current COVID-19 pandemic situation
Boboiboy's Elemental Siblings, septuplet, no super powers
3rd side story of "Through the Darkness" (spoiler warning!)
.
.
.
.
.
Harapan yang Menyingsing (c) Roux Marlet
-tidak ada keuntungan material apa pun yang diperoleh dari karya ini-
.
.
.
.
.
Bab Lima: Surya Bersinar
.
.
.
.
.
Semasa kecil dahulu, tiap kali si kembar diimunisasi, pastilah petugas kesehatan dari klinik terdekat yang datang ke rumah dan bukan sebaliknya. Selama vaksinasi, Amadea akan memeluk beberapa anak yang takut melihat jarum sehingga rasa sakitnya berkurang. Siapa yang biasanya dipeluk? Duri tentu saja, dua lagi Halilintar dan Gempa. Duri biasanya bakal menangis meraung-raung sebelum disuntik, sedangkan Halilintar dan Gempa pernah pingsan saking ketakutan.
"Pak Dokter, bolehkah aku peluk Kakakku waktu disuntik? Soalnya, aku takut ..."
Qually tersenyum geli melihat sepasang kembar terakhir dari kembar tujuh yang divaksin ini. Dua pasang yang divaksin sebelum ini juga ada yang takut-takut tapi berusaha tampak tegar. Yang satu ini sepertinya agak kekanakan dan terlalu jujur.
"Boleh, kok. Nah, lengan bajunya digulung dulu, ya."
Duri menggulung lengan bajunya dengan ragu. Ice membantunya sambil berkata,
"Duri tenang aja. Ada Kak Ice di sini!"
Ketenangan Ice selalu mudah menular ke orang lain. Mendengar suara sang kakak yang kalem itu membuat debar-debar Duri berkurang. Lengan atas Duri diusap sekilas menggunakan kapas beralkohol. Ice memeluknya dan Duri memejamkan mata dengan raut penuh penderitaan, padahal jarum suntiknya saja belum kelihatan di tangan Qually.
"Nanti, sepulangnya dari sini, Duri jadi mau beli gelato cokelat, nggak?"
Ucapan Ice yang menarik hati itu membuat Duri mendadak senang. "Mau, mau! Kak Ice masih ingat ternyata, hehe."
"Nah, sudah selesai," ujar Qually.
"Eh?" seloroh Duri keheranan. "Pak Dokter sudah menyuntikku?"
"Sudah!" sahut Qually riang.
"Kok, nggak sakit?" Duri terbelalak.
Qually mengusap-usap kepala Duri. "Karena, 'kan, ada Kakak Ice."
Ice sendiri langsung divaksin di saat yang sama. Wajahnya tetap datar saja saat jarum itu menusuk lengannya yang masih menyimpan lemak tebal.
"Kak Ice badannya empuk, sih, jadi nggak sakit," kekeh Duri.
"Nah, sudah selesai, kalian berdua!" ucap Qually riang gembira. "Silakan tunggu sebentar di ruang observasi, kalau-kalau muncul efek samping."
Ice bangkit dari kursi, diikuti Duri. Sebelum mereka keluar ruang suntik, Duri tiba-tiba merentangkan tangan dan memeluk Dokter Qually yang jadi terkaget-kaget.
"Pak Dokter Qually! Makasih sudah menyelamatkan Solar, ya!"
Qually tertegun sesaat, kemudian tersenyum. "Sama-sama, Duri."
Duri merengkuh dokter gempal itu dengan begitu sayangnya, membuat Ice juga ikut merangkul sang dokter.
Lima bulan sudah berlalu sejak hari penyelamatan itu dan tak sehari pun Qually pernah melupakannya. Solar bin Amato adalah bukti hidup dari jejak karier kedokteran Qually yang sempat meragukan kemampuannya sendiri.
.
.
.
.
.
***...***...***...***
.
.
.
.
.
Solar percaya karma itu ada. Segala sesuatu di dunia ini saling bertimbal balik.
Solar pernah dengar samar-samar bahwa keluarganya punya penyakit menurun. Dari pihak ayah dan kakeknya yaitu penyakit tiroid dan rupanya kakaknya yang nomor lima, Ice, mengidapnya juga. Dari pihak ibu ada juga penyakit menurun namun tidak banyak diceritakan dan Solar juga tidak terlalu ingat. Yang jelas, sesuatu itu berhubungan dengan kelainan darah.
Ibu Solar dan para kembarannya adalah pembawa gen hemofilia, penyakit di mana darah sulit membeku ketika ada luka. Amadea sendiri tidak mengidap penyakit itu (kalau iya, mungkin dia sudah meninggal muda sebelum menikah) tapi rupanya Solar mewarisi gen yang sama dengan kemunculan yang sangat terlambat.
Solar sering mendapati luka memar yang lama sekali hilangnya kalau kaki atau tangannya terbentur meja. Awalnya, dia pikir itu karena badannya terlalu kurus atau kulitnya terlalu cerah sehingga bekasnya sulit hilang. Namun, semakin jauh mencari tahu termasuk dalam riwayat keluarganya, di pikiran Solar mulai timbul dugaan. Ini makin kuat ketika memarnya yang terakhir muncul disebabkan cekikan kakaknya yang nomor empat, Blaze, yang waktu itu habis diculik dan begitu trauma. Dua minggu lewat dan warna memarnya masih sejelas saat Solar pertama mendapatnya. Tiap hari, dia sibuk menyamarkan memar itu dengan krim dan bedak biar tidak tampak mencolok.
Hanya saja, Solar merasa dirinya memang layak kena penyakit ini. Hemofilia adalah karma untuknya, setelah semua yang dia perbuat terhadap satu orang kakaknya beberapa tahun belakangan.
Duri si kakak nomor enam adalah korban kesewenangan sikap Solar yang tidak adil dan sekarang Solar mendapat hukumannya.
"Duri! Diam, dong! Berisik, tahu!"
"Aku yang duluan. Duri kelamaan, sih."
"Ish, Duri ini memang nggak bisa diajak omong!"
Bahkan, ada masanya ketika Solar tak lagi mengindahkan fakta bahwa Duri itu beberapa menit lebih tua darinya dan seharusnya dipanggilnya "Kakak". Memori masa kecil Solar seperti terblokir sewaktu dia mengalami cedera kepala di umur sepuluh tahun dan harus dioperasi.
Setelah dia cedera kepala sekali lagi di umur tujuh belas dengan jatuh dari ranjang tingkat, perlahan Solar kembali ingat bahwa dia dulu begitu dekat dengan Duri. Seperti sudah diketahui banyak orang, penyesalan selalu datang terlambat. Duri memang bilang sudah memaafkannya waktu Solar minta maaf 'untuk segalanya'. Namun, bagi Solar, sekadar kata maaf tak cukup untuk menghapus kesalahannya. Seharusnya, bulan puasa dan Idul Fitri di tahun itu menjadi ajang bagi Solar untuk menebus semuanya dan minta maaf sekali lagi pada Duri.
Solar tidak tahu bahwa di hari raya Idul Fitri tahun itu nyawanya akan berperang antara hidup dan mati. Semuanya bermula tiga hari sebelumnya, ketika insiden kecil yang disebabkan kesalahpahaman Blaze membuat jadwal belanja untuk persiapan hari raya harus dirombak saat itu juga. Yang tadinya Taufan, Gempa, dan Duri, menjadi Gempa dan Solar berdua yang pergi belanja. Halilintar sedang beli obat untuk Tok Aba waktu mereka berangkat.
Para penjahat menipu Halilintar menggunakan ponsel Gempa lalu menggiringnya ke tempat Gempa dan Solar ditahan. Si sulung dan si bungsu dibawa pergi, sedangkan Gempa didorong jatuh ke jurang.
Sambil cemas pada nasib Gempa, Solar juga memikirkan Duri yang aman di rumah. Lebih baik begini, Solar saja yang diculik dan jangan Duri.
Begitu pula saat Ayu Yu menyerangnya. Solar mengalihkan pikirannya pada Duri dan bersyukur bahwa bukan Duri yang jadi korban pemerkosaan perempuan itu. Halilintar juga tampaknya mendapat kekuatan dari situ. Solar yakin dirinya bisa bertahan menghadapi semua itu sambil berharap pertolongan akan segera datang.
Namun, semua pertahanan mental Solar runtuh begitu ada orang itu. Pria berbadan besar yang wajahnya kemerahan dengan sorot mata yang licik dan penuh nafsu bejat.
Namanya Vargoba.
Solar gemetaran ketika nama itu melintas lagi di pikiran. Terbayang lagi kejadian mengerikan itu dan jantungnya jadi berdebaran. Ibarat ada yang sedang memutar kilas balik dari penyerangan keji itu, dengan Halilintar di seberang ruangan dalam kondisi dirantai dan para penjahat lainnya menyaksikan Solar disiksa Vargoba sedemikian kejamnya. Kadang-kadang, Solar masih merasakan ngilu yang bertahan lama ...
Ketika teringat lagi semua itu, muncul dorongan yang sangat kuat di bawahnya dan Solar tak bisa menahan. Dia menangis. Lagi-lagi, dia orgasme di luar kendali dan kakaknya yang nomor dua, Taufan, jadi kena getahnya. Solar tak mengerti kenapa dia malah melempari Taufan dengan barang apa pun yang bisa diraihnya. Padahal, Taufan sudah sangat baik hati berkorban untuk merawatnya yang masih labil ini seorang diri.
Solar membenci dirinya sendiri. Ternyata dirinya begitu kerdil dan pengecut dan hampir saja bunuh diri kalau bukan karena Duri dan Taufan.
Duri telah menyelamatkan nyawanya, padahal kelakuan Solar terhadapnya pernah sangat kurang ajar.
.
.
.
.
.
***...***...***...***
.
.
.
.
.
Pulau Rintis, Desember 2019.
.
Sore itu, suatu hari di kelas satu sekolah menengah, Solar pulang ke rumah setengah berlari dengan lemas. Dia sudah kelaparan dan hari ini uang sakunya ketinggalan di meja belajar sehingga dia tidak bisa jajan. Solar ada pertemuan klub sains untuk persiapan olimpiade sehingga belum sempat makan siang dan kakak-kakaknya semua sudah pulang duluan. Dia masih berharap Blaze masih di sekolah untuk latihan basket, tapi karena mereka baru saja bertanding maka latihan hari itu singkat saja dan selesai lebih dulu daripada pertemuan klub sains. Solar bergegas pulang ke rumah dan berharap masih ada makanan di dapur.
Untungnya terlihat ada nampan di balik tudung saji di tengah meja makan. Duri sedang duduk mengerjakan rangkaian bunga warna-warni.
"Assalamualaikum," ujar Solar singkat di pintu dapur, karena tak ada seorang pun di pintu depan maupun di ruang tamu.
"Waalaikumsalam, Solar!" Duri menyahutinya dengan ceria dan terlihat ingin bicara, tapi Solar melengos dan tidak menanggapi lagi.
Solar segera membuka tudung saji itu dan hatinya begitu senang mendapati segumpal kecil bola daging bumbu lada hitam di pojok nampan. Dia mengambil piring dari rak dan menyendok nasi dari rice cooker. Terakhir, diambilnya bola daging itu ke piring lalu duduk di kursi terdekat. Solar mengucap doa makannya dengan tergesa dan segera menyuapkan makanannya.
Sedetik kemudian, Solar terbatuk dan meludah ke piringnya.
"Alamak, ini lengkuas! Kukira daging!"
Berikutnya, Duri bisa mendengar Solar menyumpah-nyumpah kasar sekali.
"Um, Solar, itu memang lengkuas ...," ujar Duri dengan polosnya. "Apa nggak kelihatan?"
Asam lambung dan kepala pusing membuat Solar sangat tersinggung mendengarnya. Mentang-mentang Duri pernah menemani Gempa belanja bumbu dapur, lantas dia bisa menuduh Solar tak paham bedanya daging dengan lengkuas? Dia hanya sedang sangat kelaparan sampai agak berhalusinasi. "Kamu tahu dan kamu diam aja?" balas Solar berapi-api.
"Kalau Solar mau makan, bola dagingnya disimpan Kak Gempa di kulkas," lanjut Duri yang terlihat heran karena Solar marah. Ini sudah hampir jam setengah lima sore, masa Solar belum makan siang? Begitu isi pikiran Duri yang sederhana.
"Duri bodoh! Kenapa nggak bilang dari tadi? Aku udah lapar banget!" bentak Solar sambil beranjak ke kulkas. Mata hijau Duri langsung berkaca-kaca, tapi dia tak bersuara apa-apa selagi Solar mencari makanan. Solar menemukan daging itu dan melanjutkan makan sementara Duri berhenti sama sekali dari kegiatannya. Rangkaian bunga yang separuh selesai masih digenggamnya di tangan yang terasa dingin.
"Solar ... maaf, ya. Aku memang bodoh."
Suara Duri begitu pelan sebelum akhirnya beranjak dari dapur dan Solar tidak mendengarnya karena kepalanya pusing dan terpaksa makan makanan dingin. Lain kali, dia harus makan siang dulu sebelum kumpul klub sains yang begitu menguras tenaga untuk otak.
Dan, saat makan malam, rupanya saudara-saudaranya dan Tok Aba membahas soal cita-cita masa depan. Solar, yang masih kesal pada Duri, makin tak sabar ketika kakaknya itu tak kunjung menjawab. Sudah tahu bakal lama dijawab, Gempa malah bertanya pula apa cita-cita Duri!
"Uuh, Duri lama! Aku mau belajar buat olimpiade, aku duluan."
.
.
.
.
.
***...***...***...***
.
.
.
.
.
Hanya Solar, Duri, dan Tuhan saja yang tahu kejadian bola daging itu karena Blaze membantu Ice yang sedang mencuci baju di belakang rumah, Gempa ada rapat pemuda masjid, dan Halilintar bersama Taufan dan Tok Aba pergi berbelanja.
Kalau dipikir lagi, setan macam apa, sih, yang sempat merasuki Solar pada beberapa momen dia mendamprat Duri? Betapa kurang ajar kelakuan Solar sebagai adik Duri satu-satunya dan selama ini Duri tidak pernah marah padanya karena itu.
Seandainya waktu bisa diulang, Solar akan memperlakukan Duri dengan baik seperti di masa kecil dulu.
Seandainya saat ini dia bisa bergerak dengan bebas, Solar pasti akan bersujud di depan Duri dan memohon ampun darinya.
Kejahatan Solar terhadap Duri beberapa tahun terakhir ini seperti sudah tak terampuni dan, lagi-lagi, Solar dengan pahit menyadari: barangkali, kejahatan Vargoba terhadapnya adalah pembalasan Tuhan berkali-kali lipat atas hal itu.
Kemudian, Solar mendengar Taufan sakit. Bisa didengarnya Halilintar datang ke kamar itu dan memarahi Taufan, lalu menggendongnya keluar. Huh, lagi-lagi, ini pasti kesalahan Solar. Dia sudah membuat Taufan kurang istirahat dengan mengurusinya tanpa henti dan kemarin Solar malah melukainya dengan menggigit tangannya lalu melemparinya dengan bantal berulang kali. Betul-betul adik yang tak tahu terima kasih.
Solar menggeram frustrasi, tapi yang keluar dari mulutnya hanya cicitan menyedihkan. Dilihatnya kemudian Gempa masuk ke kamar itu dengan paras cemas. Sepertinya belum ada yang tahu kelakuan Solar terhadap Taufan beberapa hari ini.
Huh! Sekalian saja ditunjukkannya, biar semua orang tahu betapa rusaknya Solar bin Amato!
Diraihnya bantal dan dilemparnya kuat-kuat ke arah Gempa. Bantal itu persis mengenai wajah sang kakak nomor tiga yang terpekik kaget. Gerakan refleks Gempa memang tidak sebaik Taufan dan sebetulnya dada Solar berdenyut nyeri ketika melakukannya. Tapi, mau bagaimana lagi?
Tangan kiri Solar menarik lepas sprei di ranjangnya dan menutup wajahnya dengan kain itu. Napas Solar memburu, dia tak peduli lagi Gempa bakal bereaksi bagaimana. Tampaknya Gempa tidak bergerak mendekatinya. Lambat laun, didengarnya Gempa malah keluar dari kamar. Solar jadi sendirian lagi dan hatinya sakit.
.
.
.
.
.
***...***...***...***
.
.
.
.
.
Pulau Rintis, Desember 2019.
.
Sore itu, Ice dapat jadwal bertugas cuci baju dibantu Blaze di belakang rumah. Halilintar dan Taufan pergi belanja bersama Tok Aba sedangkan Gempa ada perkumpulan pemuda masjid, jadi memang hanya Duri yang sendirian di dapur ketika Solar pulang dengan kelaparan. Siapa yang mengira jam segitu sorenya si bungsu belum makan siang?
Besok, Solar akan berangkat olimpiade ke Cyberjaya. Duri tak mau mengganggunya belajar di malam hari, jadi dia bertandang ke kamar kembar tertua. Taufan menyerahkan beberapa bungkus camilan kepada Duri sambil berucap, "Ini bekal buat Solar besok."
"Umm, makasih, Kak."
Duri kembali ke kamarnya sekitar jam sembilan malam. Solar masih duduk di hadapan buku-buku di meja belajarnya dan sang kakak menyampaikan snack itu pelan-pelan.
"Solar, ini ada bekal dari Kak Hali dan Kak Taufan."
Sang adik menengok sekilas ke tumpukan makanan ringan itu. "Makasih," gumam Solar, pelan tapi jelas.
Duri cukup terhibur, semoga saja Solar memang sudah tidak marah kepadanya. Diraihnya kembali rangkaian bunga yang tadi sempat terhenti dikerjakan. Bunga-bunga yang dirangkai membentuk tiara itu rencananya hadiah untuk Solar sepulangnya dia dari Cyberjaya nanti, karena Duri, sama seperti semua saudara yang lain, yakin Solar pasti dapat juara lagi.
Tidak apa-apa Solar menyebutnya bodoh. Asal adiknya itu bisa juara olimpiade, Duri pasti ikut senang.
Tahun berganti dan pandemi COVID-19 melanda seluruh dunia. Semua orang harus pakai masker saat bepergian. Bukan masalah besar bagi Duri, dia malah senang karena semua saudaranya ada di rumah terus, termasuk Gempa yang juga harus membatasi kesibukannya.
Waktu Solar sempat jatuh dari ranjang tingkat, Duri kembali dilanda rasa bersalah. Namun, kejadian itu ternyata malah memperbaiki hubungan mereka berdua. Tampaknya segalanya akan jadi lebih baik.
Namun, pelangi indah dan mentari cerah tak muncul selamanya. Blaze dan Ice diculik orang waktu berjaga di Kokotiam. Duri tak banyak membantu dan dia sama cemasnya dengan yang lain, sedangkan Solar sangat berjasa mengenali gejala penyakit hipotiroid Ice dan dengan begitu membuat pencarian bisa dilakukan lebih awal.
Kemudian, Duri kembali sangat cemas mendengar Solar dan Gempa diculik. Setelah Gempa ditemukan lalu diantar pulang seorang diri penuh luka-luka, Duri tidak bisa tidur nyenyak. Saat Ice menyusul Taufan ke kantor polisi, Duri deg-degan sepanjang hari.
Dan, di hari raya, ketika Pak Guru Kokoci datang menyampaikan kabar tentang Solar dan Halilintar yang membuat Gempa begitu terguncang, Duri merasa ada yang berlubang di dalam dadanya.
Solar, adiknya, satu-satunya adik yang Duri miliki, mengalami hal yang mengerikan! Ketika dijelaskan oleh Blaze bahwa Solar diperkosa laki-laki, Duri tidak tahu bahwa hal semacam itu bisa terjadi. Kalau mengingat penjelasan Ayah, pemerkosaan itu adalah hubungan seksual atas dasar pemaksaan. Hubungan seksual terjadi antara laki-laki dengan perempuan, 'kan? Tapi, ini laki-laki dengan laki-laki? Memangnya bisa seperti itu? Logika Duri tidak bisa mencapai pemahaman.
Yang jelas, seperti apa pun caranya, mendapati Solar menjadi korban kejahatan yang pernah disampaikan Ayah sungguh menyakitkan.
"Kejam …." Duri tak punya kosakata lain.
Beberapa waktu kemudian, Amato sempat pulang dari RS Yong Pin setelah sidang dan Duri memaksa ikut. Dia mau bertemu Solar dan memastikan adiknya baik-baik saja.
Yang ternyata tidak baik-baik saja. Taufan berusaha menutupi apa yang terjadi tapi Duri sudah melihat semua bekas luka yang bisa dilihat. Solar bagaikan menjadi zombie di mata Duri, seperti pernah dilihatnya di film-film. Pandangannya kosong di wajah yang pucat dan kurus, seperti mayat hidup ….
Duri tidak mau kalau Solar betulan jadi mayat. Saat malam itu Solar menusukkan garpu ke lehernya sendiri, Duri tak mengira adiknya serius mencoba bunuh diri … dan untungnya dia berhasil mencegahnya.
Duri mungkin tidak sepintar Solar, tapi dia akan berjuang sekuat tenaga untuk menjaga Solar tetap hidup.
Menjaganya tetap hidup, meski semenyakitkan apa pun hidup Solar sejak hari itu ….
.
.
.
.
.
***...***...***...***
.
.
.
.
.
Solar tidak bergerak ketika mendengar pintu membuka dan menutup sekali lagi.
"Solar?"
Itu suara Ayah. Tidak! Solar tidak mau bertemu Ayah! Dipukulnya dinding kamarnya yang terbuat dari kayu dan langkah Amato terhenti.
"Solar, Atok boleh masuk?" Berikutnya, ada suara Tok Aba. Solar membalas dengan memekik marah. Dinding kayu kembali dipukul-pukulnya. Kemudian, sepi lagi. Solar belum mau menurunkan sprei yang menyelubungi mukanya dan masih menangis di baliknya.
Beberapa menit kemudian, terdengar lagi langkah kaki yang lebih ringan yang sepertinya ada lebih dari sepasang.
"Solar …."
Suara itu?! Astaga, dari semua orang, sekarang malah Duri yang masuk ke kamarnya?! Penyesalan Solar kepadanya begitu dalam dan dingin sampai seluruh tulangnya terasa ditusuk-tusuk. Dia mendengking lemah.
"Solar, Duri bawakan sarapan untukmu. Kamu sudah lapar, 'kan?"
Suara Duri masih di dekatnya. Ada berapa orang selain Duri, dan siapa? Solar akhirnya menarik sprei dari wajahnya.
Berdiri agak di belakang Duri ada Gempa dan Amadea, lalu Amato dan Tok Aba bertahan di pintu kamar. Solar menangis sejadi-jadinya. Tuhan seperti telah mengatur segalanya. Kalau yang masuk Halilintar lagi, kemungkinan akan ada baku hantam. Setidaknya, ada Gempa yang bisa bahasa isyarat selain Taufan, tapi … wajah sang kakak nomor tiga yang tadi dilemparinya dengan bantal itu merah sekali dan matanya bengkak. Solar ditohok rasa bersalah sekali lagi, kenapa tadi dia melempari Gempa yang tidak salah apa-apa?!
.
.
.
.
.
Tadi, Gempa memang sangat terguncang mendapati respons Solar yang demikian tak terduga. Dia begitu sedih sampai tak sanggup bicara dan bergegas keluar dari kamar Solar dengan wajah bersimbah air mata.
"Gempa?" Amadea mendekatinya dan menggandengnya karena Gempa berjalan dengan limbung. Amato dan Tok Aba rupanya sudah siaga di halaman belakang begitu mendengar Taufan sakit. Terlihat Duri berjalan cepat sambil berjingkat-jingkat dari arah rumah.
"Gempa …." Sang ibu memeluk si nomor tiga yang belum bicara apa pun. Gempa terisak-isak di dekapan ibunya. Kedua pria dewasa yang ada di situ mencoba masuk ke kamar Solar, namun mereka disambut dengan tidak ramah.
"Duri sudah siapkan sarapannya Solar!" ujar si nomor enam, nampan makan sudah di tangan.
"Duri," seloroh Gempa tiba-tiba, "jangan. Kamu-hiks, jangan masuk …."
"Kenapa, Kak? Duri mau suapin Solar makan."
Gempa menggeleng kencang tapi juga tidak mengatakan alasannya. Air matanya masih mengalir deras.
"Kasihan kalau Solar sendirian di kamar, Kak …."
Amadea mengusap rambut yang menempel di dahi Gempa karena keringat. "Gempa, ayo kita coba lagi sama-sama. Solar butuh ditemani."
Akhirnya, mereka bertiga pun masuk seolah terjun ke medan perang.
.
.
.
.
.
Solar menunjuk Gempa lalu menepuk-nepuk dadanya sendiri, perlahan, berulang-ulang. Itu dilakukannya terus sambil menangis dan butuh waktu lama bagi Gempa untuk paham bahwa Solar sedang berisyarat.
"Solar minta maaf …," ucap Gempa, tersenyum lemah. "Iya. Kak Gempa maafkan Solar."
Solar mengangguk-angguk lalu menunjuk ke arah rumah dan mengulangi isyaratnya.
"Solar minta maaf ke Kak Taufan …?" tebak Gempa. Lagi-lagi, Solar mengangguk. "Pasti Kak Taufan maafkan juga. Dia sedang istirahat ditemani Kak Halilintar."
Kemudian, Solar menunjuk Duri, dan Gempa mengira dia mau mengulangi permintaan maafnya sekali lagi. Namun, Solar tidak bergerak lagi. Jari telunjuknya membeku dengan masih menunjuk Duri dan mendadak tangannya terjatuh ke kasur. Solar mendengking panik. Tangan kirinya tak bisa digerakkan! Mata kelabu Solar berkedip-kedip cepat sambil melotot.
"Solar?" Amadea meraih tangan lemas itu dan membelai-belainya. "Tangan Solar baik-baik …."
Duri dan Gempa juga terkejut, ini pertama kalinya mereka melihat tangan itu kembali menjadi lumpuh seperti tangan satunya. Namun, beberapa detik kemudian, tangan kiri Solar bisa digerakkan kembali. Solar menangis lega di tangan ibunya.
Karma. Begitu banyak karma yang menimpa Solar sehubungan dengan Duri. Mau minta maaf pada Duri saja begitu sulit! Tak mau buang waktu, Solar segera membuat isyarat dan Gempa mengamatinya dengan seksama. Sejurus kemudian, paras Gempa memucat dan dia menggeleng.
"Solar ngomong apa, Kak?" tanya Duri penasaran.
Mata Gempa berkaca-kaca, Solar masih terus berisyarat. Gempa masih menggeleng dan Solar menggeram sambil merengut kepadanya.
"Duri, Solar minta maaf padamu," ucap Gempa akhirnya.
"Duri sudah maafkan Solar!" balas Duri riang. "Yuk, Solar sarapan dulu!"
Solar menggeleng-geleng dan kembali berisyarat. Amadea juga jadi penasaran, apa yang Solar mau sampaikan. Gempa terisak sedikit, menatap mata kelabu Solar yang bulat tekad. Permintaan Solar itu agak berlebihan menurut si anak nomor tiga. Solar kemudian mencengkeram tangan Gempa, setengah memaksanya. Gempa akhirnya menyerah dan menarik napas dalam-dalam.
"Duri … kamu … duduklah di ranjang sini." Gempa menunjuk ranjang sebelah yang sampai tadi pagi dipakai Taufan. Duri meletakkan kembali nampannya ke meja lalu duduk dengan patuh meski masih bingung. Kemudian, Gempa berdiri dan membantu Solar duduk di ranjangnya. Amadea menyingkir dari tepi ranjang dan menatap ingin tahu.
"Solar sudah mau makan?" tanya Duri sekali lagi. Solar menggeleng, menatap sepasang warna hijau itu dengan pandangan nanar. Diangkatnya tangan kirinya ke arah Gempa, yang meraihnya lalu membawanya ke dalam gendongan. Duri tambah heran. Kenapa Solar minta Kak Gempa menggendongnya?
Duri semakin heran dan terkejut ketika Gempa menurunkan Solar ke lantai di antara dua tempat tidur. Amadea terkesiap, mengerti sekarang apa yang diminta Solar.
Gempa bicara lagi, suaranya bergetar, "Solar mau minta maaf padamu sekali lagi, Duri …."
"Eh?" Duri menunduk menatap sang adik, masih belum paham. Solar duduk bersimpuh di lantai di dekat kaki Duri dan berisyarat sekali lagi. Gempa berlutut di sampingnya dan dengan hati-hati membawa kepala Solar untuk merendah sampai dahinya bertemu dengan lantai.
"Solar …?" gumam Duri, pemahamannya datang terlambat seiring air mata yang juga muncul belakangan. Solar sedang bersujud minta maaf kepadanya.
Air mata si bungsu berjatuhan. Dirinya ini adik kurang ajar … tak tahu terima kasih … egois, tidak adil, dan sombong … dan Solar sudah mendapat ganjarannya.
Duri turun dari ranjang dan ikut berlutut. "Solar … Duri, 'kan, sudah bilang. Duri selalu memaafkan Solar. Solar nggak perlu sampai seperti ini …." Duri menangkup kepala Solar dengan kedua tangan dan menengadahkan wajahnya. Duri melihat bahwa Solar juga sedang menangis, sama sepertinya. Si nomor enam tersenyum. "Duri sayang Solar." Dengan itu, dia memeluk sang adik satu-satunya erat-erat. Keduanya lebur dalam tangisan yang begitu panjang. Gempa mundur diam-diam, masih menangis juga, dan Amadea yang ikut serta dalam tangis tanpa suara membantunya untuk duduk.
Gempa juga melakukan hal serupa terhadap Halilintar sewaktu si sulung pulang dari panti rehabilitasi. Dia paham betapa dalam penyesalan Solar terhadap Duri dan betapa berat penebusan si bungsu atas kesalahannya di masa lalu.
.
.
.
.
.
"Eh? Mana orang-orang?"
Ice, yang terlambat bangun pagi itu, mendapati dapur dan ruang makan sangat sepi. Blaze juga baru saja bangun, mereka berdua semalam begadang. Sang kakak masih berguling-guling malas di tempat tidur sedangkan Ice turun duluan untuk mencari makan. Ada Ayah dan Tok Aba yang sedang berdiskusi di ruang tamu.
"Pagi, Ayah, Atok."
"Pagi, Ice," sahut sang kakek.
"Ice." Amato memanggilnya dengan nada serius. "Taufan demam."
"Eh?" Ice melangkah ke ruang tamu.
"Halilintar tadi menggendong Taufan ke kamar sini," terang Tok Aba sambil menunjuk pintu yang tertutup.
Ice mendudukkan diri di kursi terdekat. "Solar gimana?"
"Gempa dan Ibu yang di kamarnya. Dia …." Amato tidak meneruskan, mengurut dahinya dengan sedih. Kira-kira Ice bisa membayangkan apa yang terjadi, karena Taufan yang biasanya ceriwis jadi tidak banyak bicara sejak merawat Solar sendirian. Ini baru seminggu pertama sejak Solar mencoba bunuh diri dan pulang dengan demam habis vaksin.
Terlebih, mungkin ini ada hubungannya dengan apa yang dibahas Ice dengan Blaze sampai keduanya begadang semalaman. Ice adalah klien konseling terakhir Pak Guru Kokoci sebelum sang psikiater sekaligus guru masa kecil mereka itu pamit pulang dua hari yang lalu.
"Ice, apa Blaze belum bangun?" tanya Tok Aba.
"Sudah, Tok. Tapi, dia masih tiduran."
"Ice, Ayah mau minta tolong pada kalian," seloroh Amato. "Solar tadi sudah berdialog dengan Gempa dan Duri. Kukira harusnya dia jadi tenang setelah itu, tapi ternyata belum juga. Ayah pikir, dia masih punya sedikit masalah."
"Masalah apa yang Ayah maksud?"
"Masalah yang … Kokoci bilang dia sempat diskusikan denganmu."
Seketika Ice paham. Dia sudah mematangkan hal ini bersama Blaze semalam, sungguh timing yang tepat!
Jadi, antara Duri dan Solar, ia dan Blaze akan berurusan dengan Solar terlebih dahulu soal ini.
.
.
.
.
.
"Ayo, kita biarkan tukang ribut ini istirahat."
Halilintar dan Duri, diikuti Blaze dan Ice, keluar dari kamar tempat Taufan tidur mendengkur.
"Duri, kamu habis nangis?" Ice bertanya karena melihat mata sembab sang adik. Duri mengangguk malu-malu.
"Kak Gem dan Ibu masih di kamarnya Solar, ya?"
"Iya, Kak Ice. Habis ini, ada tugas berat … memandikan Solar. Mungkin Solar malu kalau Ibu yang mandikan. Lalu Kak Gempa juga masih terguncang."
Blaze nyengir karena mendapat ide. Ice benar, ini ada hubungannya dengan diskusi mereka tadi malam!
"Kalau begitu … saatnya Blaze dan Ice beraksi! Misi memandikan Solar!" sorak si anak nomor empat.
.
.
.
.
.
"Pak Guru dengar dari Taufan, trauma Solar cukup berat. Dia orgasme dalam tidur ketika memimpikan kejadian itu lagi."
Ice awalnya tidak tahu apa maksud Kokoci memanggilnya dan mengajaknya bicara seorang diri di teras depan rumah. Setahunya, hari itu Kokoci sudah akan pamit pulang ke Kuala Lumpur.
"Kalau Ice ada ide untuk Solar, coba kamu diskusikan bersama Blaze. Halilintar dan Gempa mungkin sensitif, hal seperti ini mungkin terlalu tabu buat mereka. Sedangkan Duri … kalau ada waktu, kamu juga perlu jelaskan padanya. Beban Taufan saat ini sungguh berat, Pak Guru khawatir dia nanti jatuh sakit kalau nggak ada yang membantunya merawat Solar."
Kadang Ice mengira, Kokoci itu cenayang karena bisa meramalkan masa depan. Siapa yang bakal mengira Taufan yang selalu energik itu bisa jatuh sakit? Ternyata bisa juga. Sebagai konsekuensinya, semua orang dikerahkan untuk menggantikan perannya yang sudah berkorban seorang diri seminggu terakhir. Untung sekali, diskusi Ice dengan kakaknya semalam sampai kurang tidur sungguh tepat pada waktunya.
Di kamar mandi dalam pondok kayu siang itu, Ice menata handuk dan pakaian bersih milik adik bungsunya lalu menyalakan penghangat air.
Blaze mengisi botol sabun cair yang hampir habis dengan air lalu mengocoknya kuat-kuat. Sambil nyengir lebar, disemprotkannya isi botol di depan Solar—bukan ke wajahnya, tapi ke arah tembok kamar mandi. Busa dalam jumlah banyak segera menyembur ke udara.
"Pesta busa!" teriak Blaze sambil tertawa-tawa. Blaze menyemprot lebih banyak dan melempar-lempar gumpalan busa yang terbentuk semakin tinggi ke langit-langit. Mau tak mau, Solar yang duduk di kloset juga tersenyum melihat tingkah kakaknya dan ikut memainkan busa yang paling dekat. Sementara itu, Ice hanya melongo tapi malas berkomentar. Melihat Solar senang, dia ikut tersenyum.
"Solar bisa gosok badan sendiri atau mau kugosokkan?" Ice menawarkan sambil mengarahkan curahan air hangat dari shower ke badan sang adik.
Solar menunjuk dirinya sendiri. Ice menuangkan sabun secukupnya ke tangan kiri sang adik dan membiarkan Solar menyabun diri sementara Blaze masih menyemprotkan busa ke mana-mana. Solar tampak menikmati mandinya siang itu, dia tak hentinya tersenyum.
Sejurus kemudian, saat badan Solar sedang dikeringkan dengan handuk oleh Ice, Blaze iseng menggelitiki perutnya. Solar terkikik ganjil dengan wajah cemberut. Kemudian, tangan kirinya menampar tangan Blaze yang melakukan aksi itu.
"Solar nggak suka digelitiki, ya?" ujar Blaze.
Solar hanya cemberut. Siapa yang suka, coba? Geli!
Blaze menyahut, "Aku juga nggak suka, kok. Nggak ada orang yang suka digelitiki. Tapi, kamu tadi ketawa, lho."
Solar makin merengut.
Blaze tersenyum lebar. "Karena, ketawa itu respons alami orang ketika digelitiki! Sama halnya dengan ini yang berdiri kalau ada sesuatu yang bikin tegang dan takut!" Blaze menunjuk ke bawah, masih nyengir. "Solar jangan khawatir kalau inimu berdiri. Kalau aku tanding basket, aku sering mengalaminya, kok. Apalagi, waktu pertandingan seru dan memanas."
Ice bersuara aneh, antara tersedak dan tertawa, mendengar penuturan Blaze yang blak-blakan. Solar hanya menatap kakaknya tanpa ekspresi yang berarti. Ice ikut-ikutan,
"Solar juga tahu, 'kan? Ini adalah tempat berkumpulnya aliran darah dan hormon yang melaju sebagai respons tubuh terhadap sesuatu dari luar. Jadi, wajar kalau dia berdiri waktu kamu sangat tegang atau takut."
Solar masih diam, tapi kemudian jempolnya terangkat seiring senyuman yang terbit.
.
.
.
.
.
Seharian itu, Taufan tidur tanpa tahu apa saja yang terjadi di rumah.
Sore itu, ketika Solar tidur dengan nyenyak, Duri digiring ke teras belakang oleh Blaze dan Ice. Gempa yang menjaga Solar sedang tidur juga di kamar baru itu, sedangkan orang tua mereka dan Halilintar ada di dalam rumah, menyiapkan makan malam dan sebagainya.
"Duri," Ice memulai, "kamu paham apa yang dialami Solar waktu dia diculik?"
Tak usah basa-basi kalau dengan Duri. Pertanyaan langsung saja kadang tidak segera dijawab. Begitu pula kali ini, Duri hanya diam hampir semenit penuh. Ice menanti dengan sabar sedangkan Blaze mulai agak gelisah.
"Solar … diperkosa penjahat?" Duri bergumam ragu. Ice mengangguk mengiyakan.
"Duri paham, diperkosa itu apa?"
"Umm, Ayah bilang, itu hubungan seksual atas dasar pemaksaan."
"Betul. Nah, penjahat yang memaksa Solar berhubungan seksual ada dua orang. Satu perempuan, satu laki-laki."
"Duri kurang paham," seloroh si anak nomor enam jujur.
"Duri tahu apa yang terjadi dalam hubungan seksual?"
Kali ini, Duri mengangguk mantap, teringat pelajaran Biologi.
Blaze buru-buru bangkit lalu pamit, "Aku ke kamar mandi."
Ice membiarkan kakaknya pergi lalu mengeluarkan buku Biologi. Dibukanya bab reproduksi lalu ditunjuknya gambar alat kelamin laki-laki dan perempuan. "Seperti pernah dijelaskan Pak Guru Papa Zola di kelas. Nah, untuk penjahat yang perempuan, dia memaksa Solar melakukan itu kepadanya."
Kepala Duri bergerak miring. "Solar nggak mungkin berbuat begitu."
Ice memotong kalimat adiknya, "Iya. Kak Ice sudah bilang, 'kan? Solar dipaksa. Dia diberi obat dan nggak bisa mengendalikan dirinya sendiri."
Duri merenung begitu lama mencerna penjelasan Ice. "Apa Solar menghamili perempuan itu?"
Dari sekian banyak pertanyaan yang bisa ditanyakan, Ice terkejut mendengar yang satu itu. Dia sendiri belum pernah memikirkan konsekuensinya sampai ke sana, tapi, hei! Ice jadi ingat sesuatu yang dijelaskan Paman Maskmana sewaktu menelusuri riwayat Ayu Yu. "Nggak, perempuan itu nggak hamil." Karena, Ayu Yu memasangkan kondom pada Solar untuk mencegahnya tertular HIV dan sekaligus mencegah terjadinya pembuahan. Wanita itu topik yang terlalu rumit dan kontradiktif untuk dibahas bersama Duri, jadi Ice tidak membahasnya. Kalau dalam kisah superhero ada penjahat atau villain yang bertobat, nah, Ayu Yu adalah contoh yang bagus.
Duri mengangguk-angguk lalu bicara, "Solar juga pasti nggak mau, punya anak dari hubungan seksual yang dipaksakan."
Pemikiran Duri sungguh jauh melebihi ekspektasi Ice, yang sendirinya tidak kepikiran sampai sana. Dia jadi makin kagum pada Ayu Yu yang masih punya sisi kemanusiaan. Tidak seperti penjahat satunya …. Bagaimana pun, peristiwa yang menimpa Solar tetap patut disyukuri. Dengan kejadian itu, kedua pelaku akan berhenti menjadi predator—yang satu untuk selamanya atas kesadaran sendiri, yang satunya mungkin juga selamanya kalau umurnya memang tak lama lagi. Ice berharap Vargoba tidak mati dulu sebelum dia membayar lunas masa hukumannya ….
"Lalu, penjahat yang laki-laki, gimana, Kak?"
Ice menghela napas berat. Dibukanya bab lain tentang organ pencernaan.
"Duri tahu apa yang terjadi kalau laki-laki berhubungan seksual dengan perempuan." Ice mengulangi sedikit.
"Iya."
"Ada juga hubungan seksual antara laki-laki dengan laki-laki … yang seperti ini dilaknat Allah karena nggak sesuai kodrat manusia. Tapi, pada kenyataannya, yang kayak begitu tetap ada dan Solar salah satu korbannya. Pertanyaannya, alat kelamin penjahatnya masuk ke mana?"
Duri tidak bisa menjawabnya. Ice menunjuk gambar dan Duri meringis.
"Masuk ke situ?"
Ice mengangguk getir. Kurang gamblang apa lagi dirinya dalam menjelaskan? Duri meneteskan air mata.
"Pasti sakit … aduh. Jadi, itu maksudnya? Solar sampai perlu dioperasi karena itu? Astaga, ya, Allah. Kasihan Solar …."
Ice memeluk sang adik yang tersedu-sedu. Blaze masih belum kembali dari kamar mandi. Mungkin kakaknya itu juga tidak kuat membahas hal ini dengan gamblang.
Satu hal sudah jelas. Kini, pemahaman Duri tentang peristiwa itu sudah sama dengan yang lain.
Tapi, Duri malah jadi menangis terus sampai malam. Giliran Blaze yang mendistraksinya dengan video-video lucu karena Ice perlu menggantikan Halilintar menjaga Taufan.
.
.
.
.
.
"Katanya, Blaze malah ngomongin dirinya juga sering berdiri kalau tanding basket?" Taufan tertawa-tawa keesokan paginya.
Hari baru, harapan baru. Taufan sudah sembuh dari demamnya dan Solar menjadi lebih ceria dari hari kemarin. Hubungannya dengan Duri akan semakin baik dan dia tak lagi membenci tubuhnya sendiri yang bereaksi aneh.
'Kak Taufan jangan-jangan juga sering berdiri?' tanya Solar dengan isyarat.
"Dasar, pertanyaanmu mirip si Ice kemarin. Jujur saja, iya, lah! Aku ini masih cowok normal, kalau ngebayangin cewek yang kusuka kadang begitu."
Solar terkikik. 'Pasti yang dibayangin si ketua kelas Bahasa, 'kan?'
Muka Taufan langsung merah. "Solaaaaar!"
'Kak Taufan lucu, deh, kalau lagi malu.'
"Hentikaaaan!"
'Istigfar, Kak.'
"Astagfirullah …. Sudah, cukup, jangan bahas ini lagi!"
Solar masih tersenyum, di benaknya sudah terancang kalimat untuk tulisannya tentang Taufan. Dia teringat sesuatu.
'Oh, iya. Idenya Kak Taufan kemarin tentang apa?'
Dari situlah muncul kesibukan baru. Sebuah tantangan bernama norak, 30DCtMSSA alias 30-Day Challenge to Make Solar Shine Again, membuat Solar bersama Taufan dan Duri sibuk tutorial perawatan kulit. Gantian Solar yang diuji kesabarannya untuk mengajari dua lelaki yang tak pernah menyentuh produk skincare.
Ralat. Menyentuh kemasannya saja mungkin pernah, tapi belum pernah menggunakan.
"Um, Duri masih bingung caranya pakai masker wajah."
"Jadi, sebelum tidur harus maskeran dulu dan tiap pagi pakai krim yang ini, ya?" ujar Taufan.
Solar mengangguk-angguk bersemangat. 'Kak Taufan dan Kak Duri juga boleh pakai, kok.'
"Solar, apa bedanya masker yang ini dengan masker kain yang dibuat Kak Gempa?" tanya Duri. Memikirkan penjelasan untuk itu bahkan lebih rumit daripada pembahasan Ice tempo hari.
.
.
.
.
.
***...***...***...***
.
.
.
.
.
Pulau Rintis, Oktober 2021.
.
Amato bin Aba mengamati kedua anaknya yang sedang asyik memilih gelato di etalase. Hari ini, Amato memang jadi driver khusus bagi anak-anaknya untuk divaksin di Klinik Gaharum.
Biar saja. Apa pun akan dilakukan Amato untuk menebus tahun-tahun yang telah berlalu tanpa kehadirannya di rumah.
Anak-anaknya ada yang menyimpan luka dan penyesalan. Semua itu, secara tidak langsung, adalah kesalahan Amato.
Amato itu seorang ayah yang gagal ….
"Bukan." Lagi-lagi, suara Kokoci saat pamit terngiang di benaknya. "Tak ada ayah yang sempurna, Amato. Let the past be the past, sekarang kau tahu apa yang bisa kauperbuat untuk anak-anakmu."
Amato tahu. Dia membuatkan kursi roda untuk Solar dengan tuas di sebelah kiri. Mobilitas Solar dapat dilakukan seorang diri dengan itu. Dia juga sedang merancang sebuah gelang yang bisa mengeluarkan listrik statis—proteksi kalau bepergian ke luar rumah, meski untuk ini mungkin masih akan lama sekali selama pandemi belum dinyatakan selesai. Tak hanya itu, Amato juga mengajarinya cara menunaikan salat. Bisa sambil duduk atau berbaring dan dengan gerakan mata kalau Solar sama sekali tidak bisa menggerakan tangan. Tampaknya Solar juga bersyukur masih memiliki panggilan hati untuk terus beribadah dengan segala keterbatasannya.
Setelah rekonsiliasinya dengan Halilintar hari ini, Amato berencana mengusulkan sesi belajar bela diri di rumah dengan dirinya, si sulung, dan si anak nomor dua sebagai tutor yang lain. Gempa, Blaze, Ice, dan Duri akan mereka ajari agar bisa melindungi diri sendiri dan orang lain.
Amadea juga merajutkan sebuah syal untuk si bungsu yang hari itu dipakainya serta untuk berfoto. Semua anak yang lain memang dibuatkan pakaian baru oleh Amadea, tapi untuk Solar dia menambahkan syal berwarna kuning.
Sambil mengemudi ke rumah, dengan Ice dan Duri begitu senang membawa pulang gelato dalam jumlah banyak, pikiran Amato melayang sebentar pada masa kehamilan dan proses persalinan istrinya.
Agaknya hari ini adalah waktu yang tepat untuk menceritakan kebenarannya.
.
.
.
.
.
"Assalamualaikum …."
"Waalaikumsalam …."
"GELATO!" sorak Taufan dan Blaze girang ketika Ice dan Duri masuk ke rumah dengan menenteng kotak makanan yang familier. Halilintar juga mendekat dengan antusias tapi tidak bicara apa pun. Beberapa orang sudah bubar dari ruang makan ketika Amato pulang bersama kembar terakhir yang divaksin.
"Ayo, kita makan gelato dulu sama-sama," ujar Amato sambil celingukan mencari istrinya.
"Dea masih di dapur," ujar Tok Aba, paham putranya mencari siapa. Dia kemudian tersenyum menatap cucunya yang nomor lima yang menyodorkan seporsi gelato cokelat padanya. "Wah, terima kasih, Ice."
"Dea?" panggil Amato yang masuk ke dapur. Amadea sedang menyapu lantai, Gempa mencuci piring, sementara Solar masih duduk di kursinya.
"Sudah divaksin semua?" tanya sang istri.
Amato menyahut, "Iya. Alhamdulillah, aman semua. Ada gelato untuk semuanya!"
"Waaah." Gempa mengusap-usap perutnya sendiri sambil meringis. "Aku sudah kenyang banget makan kuenya Ibu … tapi, nggak apa-apa, deh. Solar mau kuambilkan gelato?"
Solar mengangguk senang, tapi Amato berujar,
"Solar ikut makan gelato di ruang tengah saja." Karena baik Gempa maupun Solar jadi bertanya-tanya, Amato segera menambahkan, "Ayah mau cerita sesuatu ke semuanya. Solar mau digendong Ayah?"
Solar mengangguk lagi. Dilihatnya sang ayah bertukar pandang dengan sang ibu. Sepertinya apa yang mau diceritakan adalah sesuatu yang serius sampai semuanya diminta berkumpul di satu tempat. Gempa juga diminta bergegas.
.
.
.
.
.
***...***...***...***
.
.
.
.
.
Kuala Lumpur, triwulan terakhir tahun 2003.
.
Seharusnya hari itu menjadi hari yang membahagiakan. Amato dan Amadea akan punya anak kembar tujuh dan ini adalah kunjungan mereka yang kesekian untuk melihat sosok ketujuhnya melalui ultrasonografi pada bulan yang keempat. Namun, penjelasan Kuputeri, istri Kokoci, cukup membuat keduanya berpikir.
"Janin bertumbuh di rahim, dibungkus dengan kantong yang berisi air ketuban. Ini melindungi mereka dari guncangan dan benturan."
Penjelasan sesederhana itu saja sudah agak membuat kepala panas bagi dua sarjana ilmu sosial yang baru sedikit membaca buku parenting.
"Janin memiliki plasenta atau tali pusat yang menyalurkan darah dan nutrisi dari badan ibu ke tubuh mereka. Maka dari itu, Dea juga perlu banyak nutrisi tambahan."
Amato mengangguk-angguk, satu tangannya membelai lembut perut sang istri yang membuncit dan tangan yang satu lagi menggenggam tangan Amadea. Mereka sudah membeli suplemen nutrisi sesuai yang disarankan Kuputeri.
"Kira-kira begitu penjelasan tentang janin, kantong ketuban, dan plasenta. Apakah cukup jelas?"
"Cukup jelas," jawab Amato. Amadea juga mengangguk, genggamannya di tangan Amato semakin erat.
Sang dokter kandungan mulai mengoperasikan alat ultrasonografinya dan ketiganya mengamati layar dengan seksama.
"Kalian akan punya anak kembar tujuh. Di dalam rahim Dea sekarang ada tujuh janin … tapi, hanya ada enam kantong ketuban, dan lima plasenta."
Amato dan Amadea mengernyit. Tunggu dulu. Bukankah, dari penjelasan tadi, tiap janin harusnya punya kantong ketuban dan plasenta sendiri-sendiri?
"Seharusnya, idealnya, setiap janin memiliki kantong ketuban dan plasenta masing-masing."
Kenapa perasaan pasangan suami-istri itu tidak enak? Mereka sudah susah payah mendapatkan ketujuh janin ini ….
"Tiga janin yang pertama, masing-masing punya plasenta dan kantong ketuban sendiri-sendiri. Ini optimal untuk pertumbuhan. Empat lainnya …."
Oh, tidak. Mereka berdua menolak menjalankan selective reduction karena tidak mau satu pun dari tujuh itu mati sebelum dilahirkan. Apakah ada kemungkinan buruk …? Tiga anak kembar akan tumbuh normal di dalam rahim, tapi yang lain?
"Ada dua janin yang tumbuh berdua dengan satu plasenta di kantong masing-masing. Mereka nantinya harus dilahirkan bersamaan, karena sumber pertumbuhannya dari plasenta yang sama."
Anak keempat dan kelima akan lahir bersamaan. Oke, itu tidak masalah. Amadea menggigit bibir ketika mulai membayangkan proses persalinan. Amato meremas tangannya untuk menenangkan.
"Lalu, dua janin yang terakhir … mereka tumbuh dalam satu kantong sekaligus berbagi satu plasenta. Mereka berisiko TTTS."
"TTTS?" ulang Amato.
"Twin-to-twin transfusion syndrome. Nutrisi dan darah janin yang satu, sebut saja janin donor, bisa saja beralih pada janin satunya, yaitu janin resipien. Janin donor jadi kekurangan asupan untuk berkembang, dan sebaliknya, janin resipien jadi berlebihan menerima nutrisi dan darah, ini juga nggak baik ... Salah satu bisa mati sebelum lahir, atau keduanya lahir cacat."
"Astaga …," gumam Amadea yang segera menangis. Amato mengusap-usap tangan sang istri, menggenggamnya dan menciumnya.
"Dea, tenanglah …." Amato berucap, tapi dia sendiri juga tidak tenang. "Apa ada solusinya?" tanyanya pada Kuputeri.
"Ada sebuah operasi," sahut sang dokter bersimpati, "tapi sangat berisiko."
"Akan kuambil risikonya!" sergah Amadea tanpa ragu.
Kuputeri menggeleng perlahan. "Yang kumaksud memang ada risiko pada ibu, tapi yang lebih besar adalah risiko terhadap janin yang lain. Operasi ini malah mungkin dapat membunuh janin yang lain …. Mereka juga mungkin akan lahir prematur karena rahim jadi kurang stabil setelah operasi."
"Oh, Amato … Amato …." Amadea tak sanggup menahan isakannya. Amato juga ikut gemetaran bersama istrinya.
"Apa tak ada cara lain?" Amato bersuara lagi setelah sekian menit.
Kuputeri tampak ragu dan berpikir dalam-dalam. "Kita lakukan operasinya ketika usia mereka sudah cukup besar. Dengan begitu, janin yang lain sudah lebih tahan. Operasi ini belum pernah dilakukan di Malaysia, jadi aku akan menghubungi kolegaku di Amerika terlebih dahulu."
Bahkan dokter kandungan Malaysia belum ada yang pernah melakukan operasi itu! Apa bisa terbayang betapa sulitnya? "Operasinya seperti apa?" Meski pusing, Amato bertekad harus mengetahui segalanya tentang calon anak-anaknya.
"Nama prosedurnya adalah fetoscopic laser surgery. Rahim Dea akan dimasuki alat kecil dan panjang bernama fetoscope. Benda itu punya kamera di ujungnya dan, dibantu ultrasonografi, kami akan menentukan posisi janin yang mengalami TTTS serta di bagian mana plasenta mereka. Selanjutnya, alat laser akan membuat jalur pembuluh darah yang terpisah untuk masing-masing janin. Supaya mereka berkembang normal seperti yang lainnya."
Napas Dea menjadi berat dan Amato masih meremas tangannya. "Bulan apa operasinya bisa dilakukan?"
"Kita coba pantau dulu bulan depan."
Pada akhirnya, operasi dilaksanakan pada akhir Januari 2004. Amadea dibius total dan Amato menanti dengan gelisah. Ini adalah bulan keenam kehamilan. Masa pembentukan organ calon anak-anaknya sudah berlalu, apakah anak keenam dan ketujuh bisa berkembang dengan benar?
"Operasinya berhasil. Mereka sudah punya plasenta sendiri-sendiri."
Amato dan Amadea sangat bersyukur. Amadea juga diberi suntikan kortikosteroid di akhir bulan yang keenam itu untuk membantu kematangan janin karena risiko lahir prematur selalu ada.
Namun, tantangan lain juga muncul. Perut Amadea jadi sering kontraksi sejak selesai operasi. Suatu ketika, kontraksinya bertahan sampai setengah hari lamanya dan dia terus berteriak kesakitan. Amato membawanya ke rumah sakit.
"Ini komplikasi operasi yang dulu. Persalinan harus segera dilakukan," ucap Kuputeri yang tampak agak panik.
"Tapi, ini belum sampai delapan bulan!" protes Amato, hari itu tanggal tiga belas Maret tahun 2004.
"Lebih baik mereka dilahirkan sekarang atau mereka semua mati di dalam …."
Amato tentu saja tidak mau kemungkinan yang kedua. Dibiarkannya Kuputeri mengerahkan segenap tim dokter dan perawat yang membawa istrinya bergegas menuju ruang operasi sekali lagi.
"Amadea, Allah bersama kita. Berjuanglah," ucap Amato terakhir kali sebelum istrinya dibius. Memang biusnya hanya separuh badan karena akan dilakukan operasi caesarean section. Itu adalah opsi paling aman untuk persalinan bayi kembar. Amato diperbolehkan hadir di ruang operasi setelah ganti baju dan cuci tangan.
Anak pertamanya … Amato menggendong bayi mungil bermata merah itu dengan hati-hati. Sang bayi sulung menangis kencang. Adiknya yang kedua juga menangis sama kencangnya, demikian pula adik yang ketiga ketika keluar dari rahim sang ibu.
Berikutnya, lahirlah dua bayi yang tumbuh dari satu plasenta dengan kantong ketuban sendiri-sendiri. Anak keempat dan kelima yang dilahirkan di waktu yang berdekatan. Yang satu menangis kencang, tangisan yang satunya lebih lemah.
Para bidan segera mengurus bayi-bayi itu. Lima bayi telah lahir dengan selamat dan segera dibersihkan lalu dimasukkan inkubator karena kelahiran prematur. Amato belum bisa bernapas lega. Masih ada dua lagi, dua anaknya yang terkecil, yang sebelumnya juga nyaris celaka dalam kandungan. Amadea tiba-tiba tersentak dan menjerit keras-keras.
"Kontraksi rahim!"
"Masih dua lagi!"
"Siapkan Nifedipine!"
"Waspadai respiratory distress setelah lahir!"
Amato merasa jantungnya melompat. Semua istilahnya asing tapi dia mengerti satu hal: kedua bayi itu dalam bahaya. Dia diminta mundur sementara segenap tenaga medis berjuang menyelamatkan dua bayi terakhir dan ibunya. Wajah Amadea yang pucat bersimbah air mata serta keringat; betapa inginnya Amato menyentuhnya, membelainya, mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja … tapi Amato sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi.
"Bayi yang satu terbelit plasenta!"
Salah satu bidan yang berada di dekat pintu membantu Amato untuk mendudukkan diri sebelum pingsan. Rasanya waktu berlalu begitu lama meski belakangan Amato diberi tahu semua proses itu hanya berlangsung dalam satu jam. Akhirnya, dua bayi yang terakhir telah lahir, yang keenam bertubuh lebih kecil daripada yang ketujuh yang sempat terbelit plasenta, keduanya tidak menangis sama sekali. Kalau teringat penjelasan Kuputeri tentang TTTS dulu, kemungkinan bayi keenam adalah donor dan bayi ketujuh resipiennya.
"Segera resusitasi!"
Apa lagi ini? Amato bangkit dengan perasaan melayang, ingin meraih dua bayinya yang terkecil, tapi tenaga medis masih mengepung rapat kedua bayi itu di sebelah meja operasi. Salah satu perawat membimbingnya.
"Tuan, bayinya lupa bernapas. Anda duduk dulu, sini, dekat Nyonya …."
Memangnya ada istilah lupa bernapas? Amato tak paham lagi. Dia bercucuran air mata selagi saling menggenggam tangan dengan istrinya. Mereka ingat semua informasi yang pernah disampaikan Kuputeri, yang juga salah satu tenaga medis yang masih berjuang saat ini. Ada kemungkinan mereka bakalan hanya punya lima anak yang selamat saat lahir. TTTS sangat jarang terjadi pada kehamilan kembar—sedangkan, kehamilan kembar tujuh saja belum pernah terjadi! Belum banyak yang bisa dipelajari dari kasus yang pernah ada. Kondisi adanya janin lain selain dua yang mengalami TTTS bisa juga memengaruhi perkembangan mereka semua.
Sudah setiap hari Amato dan Amadea memanjatkan doa untuk hari sepenting ini. Mereka hampir kehabisan tenaga dan putus asa. Saat itu, dua sosok akrab muncul di balik jendela dan ikut menyatukan batin dengan sepasang manusia yang memohon keselamatan untuk semuanya.
"Aba … Umi …," seloroh Amato terharu sambil memandang ke balik jendela, sebelum suara Kuputeri kembali mengejutkannya. Amato bahkan tidak ingat untuk mengabari orang tuanya sendiri! Mungkinkah Kokoci yang melakukannya, berhubung dia pasti juga sedang berdinas di rumah sakit ini?
"Amato! Dea! Selamat! Tujuh bayi kembar kalian selamat!" pekik Kuputeri, melupakan segala formalitas.
Tak ada yang lebih membahagiakan selain pengumuman dari kawan mereka itu. Tangisan lelah dan sedih seketika digantikan haru penuh syukur.
Dua minggu berikutnya, semua dinyatakan boleh pulang.
.
.
.
.
.
***...***...***...***
.
.
.
.
.
"Warna mata Duri dan Solar juga beda dari yang lain, penyebabnya adalah TTTS itu juga. Begitu banyak ketidakseimbangan nutrisi selama kalian berdua tumbuh di rahim Ibu."
Semua masih diam setelah Amato selesai bertutur. Amadea terisak sedikit ketika mengenang tanggal 13 Maret 2004. Tok Aba pun berkaca-kaca.
Gempa ikut terisak bersama sang ibu. Solar menggeser tangannya dan meraih Duri, yang otomatis memeluknya erat. Blaze segera meraih Ice ke dalam pelukan. Air mata Halilintar juga sudah hampir jatuh, tapi dia cepat-cepat mengerjap. Taufan terhenyak sejenak sebelum bicara,
"Jadi. Karena. Itu! OH, OH, OH!"
Jemari Halilintar melayang untuk menjitak sang adik. "Nggak usah teriak bisa, nggak? Ini telinga di sampingmu, tahu!"
"Aduuuh, Kak Hali!" Taufan mengusap pelipisnya yang kena jitak. "Aku cuma, 'OOOOH!' Pak Guru Kokoci itu cenayang betulan, ya?"
"Hah?" seloroh Blaze. "Maksudnya, Kak?"
"Pak Guru bilang, Duri dan Solar itu ikatan batinnya lebih kuat daripada kamu dengan Ice. Jadi itu sebabnya?" Taufan tiba-tiba nyengir. "Kalian berdua bahkan sudah saling berbagi dan hidup bersama di dalam rahim Ibu. So sweeeeeeeet~"
Amadea membelai kepala Duri dan Solar yang menangis di dekatnya. "Ibu sungguh bersyukur …."
"Koreksi, Taufan. Kokoci bukan cenayang. Dia sudah tahu tentang semua itu dari Kuputeri jauh sebelum hari kelahiran kalian," ujar Amato yang agak lega karena Taufan berhasil membuat suasana sendu kembali ceria.
"Ehehehe, iya, Ayah."
"Kita semua bersyukur untuk saat ini. Cucu Atok semua lengkap tujuh orang, bersama kedua orang tua juga," sahut Tok Aba dengan lembut, menatap keluarganya satu per satu.
"Aku jadi pengin peluk kalian semua satu-satu," seloroh Ice yang suaranya serak menahan tangis. "Tapi, pertama-tama, aku harus membebaskan diri dari pelukan Kak Blaze dulu."
Semuanya tertawa. Ice kemudian mendekati Tok Aba yang di dekatnya, lalu Blaze juga memeluk sang kakek. Halilintar bahkan merangkul Taufan dan berbisik minta maaf karena tadi sudah menjitaknya. Gempa memeluk kedua kakaknya sekaligus. Amato ikut merangkul sang istri dan kedua anak terkecil yang masih menangis.
"Aku jadi penasaran. Kayak apa, ya, hidup anaknya Pak Guru Kokoci? Pasti tiap hari disuruh baca buku psikologi!" celetuk Blaze setelah semuanya puas menangis dan saling bertukar pelukan.
"Bukannya malah enak, ya, tiap hari ada bimbingan dan konseling?" balas Taufan.
"Atau, malah disuruh yoga tiap hari. Ukh," ucap Halilintar, teringat masa pendampingan sang guru semasa rehabilitasi.
Duri, yang sudah berhenti menangis, ikut berseloroh, "Ayaaah. Apa anaknya Pak Guru Kokoci sebaya kami? Kapan-kapan, bisakah kita main ke rumah Pak Guru?"
Ditanya begitu, sorot mata Amato menjadi mendung. Dia bertukar pandang dengan Amadea dan Tok Aba.
"Main ke rumahnya, tentu saja bisa nanti kalau sudah nggak pandemi. Tapi … Duri, kalian semua … Kokoci itu nggak punya anak."
Hening menyambut.
Blaze bersuara, "Tapi, Pak Guru Kokoci, 'kan, punya istri cantik? Dokter kandungan yang merawat Ibu, 'kan?"
Amato menyahut, "Benar. Kuputeri nggak bisa punya anak … dia punya kelainan di rahimnya dan akhirnya menopause dini."
"Astaga …," gumam Gempa sedih.
Amadea menarik napas dengan berat, tanpa sadar mengelus perutnya. "Ibu baru tahu tentang itu setelah kalian lahir. Sedangkan, Ayah sudah tahu sejak Kokoci menikah."
"Orang itu benar-benar hebat. 'Lelaki mana yang mau menikahi perempuan mandul?' Pasti begitu pikiran orang-orang. Kuputeri juga tidak berharap banyak ketika langsung dilamar oleh Kokoci. Namun, ketika Kokoci sudah tahu kebenarannya, apa coba yang dia bilang?"
"Apa, Ayah?" tanya Taufan.
"Bisa punya anak ataupun tidak, aku telah memilihmu jadi pendamping hidupku."
Dramatis dan romantis sekali, Taufan yang raja drama saja jadi terharu. Gempa yang sangat perasa langsung menangis lagi.
Di dalam hati, Amadea agak merasa bersalah. Dia pernah merasa malu karena sulit hamil dan akhirnya malah dianugerahi anak kembar tujuh. Rasa malu itu mestinya tak ada apa-apanya dibanding perasaan Kuputeri ….
Ah, hidup bukan untuk dibanding-bandingkan. Kuputeri telah memilih jalan hidupnya menjadi pendamping para ibu untuk menghadirkan generasi penerus bangsa dengan selamat dan sehat. Wanita itu telah mengupayakan segala yang terbaik untuk Amadea dan Amato. Jangan lupakan peran Kokoci yang sejak awal juga memberi pendampingan psikis bagi pasangan itu dan juga berkenan menjadi pengajar ketujuh anak kembar yang unik.
Manusia adalah makhluk sosial, tidak bisa hidup tanpa orang lain. Namun, sebagai seorang pribadi, manusia juga harus berdikari—seperti yang tak bosan-bosan diajarkan Amato kepada anak-anaknya. Ketujuh anaknya yang lahir prematur dan dengan segala kesulitan itu kini telah berdikari, bahkan lebih lagi. Mereka telah banyak terbentur, terbentur lagi, dan terbentuk; mereka telah menaklukkan banyak hal dan belajar lebih banyak hal daripada yang diajarkan di bangku sekolah.
Kasih sayang, kejujuran, kepemimpinan, keterbukaan, penerimaan diri, pengampunan, kerendahan hati …. Satu dan yang lain dari tiap anak memiliki ciri khas sendiri-sendiri dan itulah yang membuat keluarga ini lengkap. Masa depan memang masih misteri, tapi mereka semua kini memiliki cahaya di dalam hati, ibarat mentari terbit membawa harapan baru untuk hari yang baru.
"EEEEH?! GELATO-NYA MENCAIR!" pekik Ice, untuk pertama kalinya dia membuat yang lain jadi heboh.
"BURUAN MASUKKAN KE KULKAS!" balas Blaze, ikutan panik.
.
.
.
.
.
***...***...***...***
.
.
.
.
.
Author's Note:
Cerita berjudul Harapan yang Menyingsing memang tamat di sini, tapi kisah si kembar tujuh masih akan terus berlanjut selama mereka masih hidup (dalam imajinasi pembaca~)
Jangan sedih dulu! Masih ada epilog setelah ini, episode khusus Kokoci dan Kuputeri. Selamat membaca sekali lagi. Terima kasih sudah mengikuti perjuangan septuplet versi Roux Marlet sampai sejauh ini.
Ayo ngaku, siapa aja yang nangis baca chapter ini? Sayaaa! :"D
.
Sebetulnya, yang berisiko TTTS adalah semua janin kembar yang berbagi satu plasenta. Jadi, di cerita ini, Blaze dan Ice juga aslinya berisiko mengalami hal yang sama dengan Duri dan Solar. Tapi, untuk menyederhanakan cerita, Roux buat hanya Duri dan Solar yang mengalami TTTS. Rasanya seru dan terharu waktu Roux meriset tentang twin pregnancy :")
Sedikit trivia: kalau di rumah sakit di Indonesia, bayi yang baru lahir akan diberi identitas sementara menggunakan nama ibu dan urutan kelahiran, sebelum diberi nama sendiri. Roux membayangkan bayi Halilintar diberi nama "Bayi Ny. Amadea I" lalu bayi Taufan "Bayi Ny. Amadea II" dan seterusnya sampai nomor tujuh XD
.
Banyak masukan referensi dari kawan-kawan Roux yang baca cerita ini. Terima kasih kepada SappireEyes perihal kursi roda, gelang listrik, dan pelajaran bela diri. Terima kasih pada ChiasaKoyuki untuk istilah tentang terbentur dan terbentuk.
Terima kasih yang terakhir kepada kawan baik Roux di seberang lautan, Asha_Cyclone, yang mengizinkan saya pakai fanart-nya yang manis! Ada kejutan dari Asha untuk kalian semua di epilog! XD Cek wattpad saya: EfanillaVivace atau AO3: efavivace!
Kritik dan saran, review maupun komentar rusuh, sangat diapresiasi! XD
Feedback sekecil apa pun sangat membantu Roux untuk makin semangat menulis ^^
Sampai jumpa pada kesempatan lain dan selamat hari raya Idul Adha bagi yang merayakannya.
[09.07.2022]
