Kuala Lumpur, Oktober 2021.
.
Seberkas kertas sedang dibacai oleh sesosok pria mungil dengan rambut ber-highlight hijau. Hari ini, dia membuka lagi kertas itu setelah bertahun-tahun. Pada tulisan teratas terdapat judul: Intelligence Quotient (IQ). Tujuh nama dengan skor masing-masing menyusul di bawahnya:
1. Solar: 165
2. Blaze: 132
3. Ice: 130
4. Halilintar: 125
5. Gempa: 110
6. Taufan: 105
7. Duri: 68
Rata-rata IQ sebagian besar populasi berkisar pada skor 85 sampai 114. Apa yang di bawah dan di atas rentang itu adalah hal yang jarang ditemukan. Hanya dua dari tujuh anak kembar, yaitu Gempa dan Taufan, yang IQ-nya termasuk rata-rata. Lainnya pintar dan bahkan ada yang tergolong jenius, tetapi ada satu yang menunjukkan mental disability dengan skor terendah bahkan untuk ukuran rata-rata.
Kokoci meyakini bahwa kualitas manusia tak hanya ditentukan oleh IQ. Kertas itu terbagi menjadi empat kuadran, dengan judul EQ di sebelah kanan daftar skor IQ, lalu ada pula SQ dan AQ di bawah mereka. Sebagai seorang guru yang juga psikiater, tak ada alasan untuk tidak melakukan tes psikologi terhadap ketujuh anak didiknya yang menjalani homeschooling waktu itu. Tentunya semua itu atas sepengetahuan kedua orang tua mereka.
Urutan kecerdasan emosional tertinggi ke terendah: Ice, Gempa, Duri, Taufan, Solar, Halilintar, Blaze.
Urutan spiritual quotient: Ice dan Gempa di nomor satu, berikutnya Halilintar, Taufan, Solar, Duri, Blaze.
Terakhir, AQ, adversity quotient: Ice, Taufan, Gempa, Solar, Halilintar, Duri, Blaze.
Setelah membaca untuk terakhir kali, salinan nilai itu diremas oleh Kokoci dan dibuang ke tempat sampah.
.
.
.
.
.
Harapan yang Menyingsing (c) Roux Marlet
Epilog: Sosok di Balik Layar
.
Fanart by: Asha_Cyclone
(Lihat fanart di wattpad: EfanillaVivace atau AO3: efavivace)
.
.
.
.
.
"Kenapa dibuang?" Kuputeri bertanya.
"Hasil ujian ini sudah nggak relevan. Tenang saja, berkas yang asli masih disimpan di rumah sakit."
Kuputeri tersenyum. "Mereka sudah melalui hal-hal yang berat untuk anak-anak seusia mereka."
"Benar. Mereka sudah menghadapi ujian hidup yang sebenarnya," sahut Kokoci sambil melepas kacamatanya.
"Bagaimana Amato dan Dea?" tanya Kuputeri.
"Ini semua juga berat untuk mereka, tentu saja masih banyak penyesalan. Tapi, ada kutipan yang pernah kubaca begini: No parents are perfect, but perfection is when your family completes you. Mereka berdua siap menerima seluruh konsekuensinya ketika memutuskan mempertahankan ketujuh janin itu dan kurasa itu sesuatu yang patut disyukuri dan diapresiasi."
Kokoci dan Kuputeri saling bertukar pandang dan senyuman.
"Kenapa akhirnya mereka bertujuh dinamai seperti itu, ya?" gumam Kuputeri.
"Amato bilang, itu biar ada keseimbangan di hidupnya. Dirinya dan Dea, 'kan, sama sekali buta soal sains. Makanya, anak-anak mereka dinamai dengan nama-nama elemen alam."
Keduanya tertawa.
"Orang bilang, pengalaman adalah guru terbaik dalam hidup. Mereka semua akan tumbuh jadi orang-orang dewasa yang kuat," ujar Kuputeri bersimpati. "Rasanya seperti mereka itu anak-anakmu sendiri, ya?"
"Benar. Dan, kalau pengalaman adalah guru terbaik … maka, menjadi guru mereka bertujuh adalah pengalaman terbaik untukku," pungkas Kokoci.
