AFTER IMPRIMARE
Wiell
Disclaimer :
Cerita ini milik saya, jika ada kesamaan bukan suatu kesengajaan. Apabila kalian melihat yang sama persis mohon beritahu saya.
Warning!
Typos. Boys Love. CHANBAEK
CHAPTER 2
Baekhyun hanya perlu dikembangkan tidak. Menganggap apa yang dikatakan Chanyeol adalah angin lalu tak penting.
Ya, dan itu yang sekarang.
"Baekhyun. Aku minta maaf, sungguh aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Aku hanya ..."
Baekhyun membisu sejak tadi.
"Sayang."
Tubuh yang sedang membilas piring berbalik, manik mata mengungkapkan pada sang kekasih yang berdiri menunduk dengan bersandar pada meja pantry.
memusatkan perhatian mereka adalah pasangan, sebisa mungkin menyelesaikan akar masalah dengan kepala dingin. Mungkin pagi tadi Baekhyun sempat kecewa, pikiran yang berusaha buang jauh ternyata memang benar terjadi.
mereka belum menikah tapi mendengar penyataan itu keluar dari mulut Chanyeol, rasanya Baekhyun ingin menyerah saja.
Imrimare tidak selalu berhasil. Mungkin orang-orang membual.
Rasa kecewa itu masih ada, namun kali ini Baekhyun akan mengalah, sekali lagi.
Tubuh jangkung yang tertunduk dipeluk, segera tangan besar balas menjelang pinggangnya. Membawa lebih dekat untuk memberi kenyamanan atas kegundahan hati.
"Maafkan aku."
Baekhyun tahu, lelaki itu menangis. Suatu hal yang membuat hati Baekhyun terasa dicubit. Ia juga mengecewakannya.
"Bukan salahmu Chanyeol, ini juga salahku. Pasanganmu adalah seorang lelaki yang tidak bisa mengandung, tidak bisa menjaga garis keturunan dalam keluarga. Aku yang harus meminta maaf."
Pelukan dilepas paksa, Chanyeol merasa lebih bersalah. Ia menggelengkan, "tidak itu adalah kesalahanku yang terlalu egois. Perasaan itu terjadi tiba-tiba dan begitu saja."
Chanyeol adalah seorang keras kepala dengan dingin, namun ia jarang tersenyum, saat bersama dengan Baekhyun lelaki itu berubah. Tidak ada lagi wajah masam dan dingin. Hanya ada Chanyeol yang menatap penuh cinta, melimpahi Baekhyun dengan kasih sayang.
Chanyeol bahkan belajar meminta maaf dan sabar.
"Aku mengerti bagaimana perasaanmu."
Mereka duduk di meja makan, saling menggenggam tangan, "kenapa tiba-tiba kau menginginkannya, Chanyeol?"
Manik Chanyeol bergerak gelisah. Ia ragu haruskah mengatakannya atau tidak pada sang kekasih.
"Kau tahu, kemarin aku mendengarnya bertanya-tanya tentang anak. Istrinya akan segera melahirkan anak kembar. Dia akan mendapatnya, ia terlihat bahagia sekali dan tiba-tiba perasaan itu. Aku ... Jadi sangat menginginkannya."
Baekhyun membisu, tak tahu lagi harus mengatakan apa. Tangan Chanyeol diremat, bibir digigit cemas.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku akan mengubur keinginan itu. Aku..."
"Tidak, kau berhak mendapatkannya Chanyeol. Aku terlalu fokus pada skripsiku dan tidak memperhatikanmu."
"Baekhyun," ucap Chanyeol memelas. "Kau adalah pasanganku. Dan aku cinta."
"Lalu bagaimana Chanyeol, kita tidak punya solusi untuk ini." Oksigen seperti dicuri, Baekhyun membantu bernapas dan membantu memudahkan sesak. "Mungkin perpisahan adalah satu-satunya jalan," Baekhyun berucap pelan.
Dulu sekali, Baekhyun pernah berpikir tidak akan hidup bersama dengan Chanyeol. Menghabiskan waktu bersama pun terasa aneh dan ia benci. Namun, ia menyesal saat hal itu kini menjadi kenyataan.
Perpisahan ada didepan mata. Tampak jelas untuk hubungan antar lelaki yang menjadi minoritas. Apalagi tidak ada yang bisa mengalahkan ego.
"Baekhyun," pujian Chanyeol berubah, ia mengulas senyum lebih lebar seolah menemukan hal paling baik, "kau tahu, kita bisa melakukan pinjam rahim dari wanita."
Apa lagi nih?
Pinjam rahim artinya bersama dengan wanita? Baekhyun tak akan sanggup. Apa mungkin salah satu dari mereka harus melakukan hubungan seks dengan wanita itu?
tidak.
Baekhyun tak akan rela. Membayangkan saja ia sudah gelisah, ciptaan berlebihan berlebihan dan kepercayaannya menguap.
"Chanyeol, aku pikir itu bukan cara yang bagus." Baekhyun berusaha tersenyum sambil menggenggam tangan Chanyeol, "bisakah kita memikirkannya nanti? Aku harus menghadapi sidangku dan yang paling penting kita belum menikah. Aku pikir kita tidak perlu terburu-buru seperti ini."
Ya, mereka terlalu terburu-buru.
"Aku ... Hanya sangat menginginkannya. Aku pikir kita bisa memilikinya satu lalu kita akan menikah setelahnya."
Baekhyun terdiam, Chanyeol begitu keras kepala. Ia tak tahu harus mengatakan apa lagi.
Dengan sangat terpaksa, Baekhyun mengangguk. "Kalau menurutmu lakukan yang terbaik. Ya, ayo kita pinjam rahim. Sekali saja."
Dadanya terasa sakit sekali. Bahkan Baekhyun harus mati-matian menahan air mata saat melihat kekasihnya tersenyum lebar.
Bibir tipis dikecup lembut. Mata memandang Baekhyun penuh cinta, "Maafkan aku berlaku egois Baekhyun. Aku sangat senang akan ada anggota baru dalam keluarga kita."
Sudut mata diusap pelan, Baekhyun berusaha menampilkan senyum, "Hm, kita harus lebih lanjut. Ini adalah hal yang sangat penting."
Ya, ini penting. Karena mungkin akan mengancam bagaimana hubungan mereka kedepannya. Ia hanya berharap kalau semua akan baik-baik saja.
AFTER IMPRIMARE
Sidang akhirnya akan dilakukan besok hari.
Hari ini Baekhyun ada di rumah Luhan, bersama dengan Kyungsoo dan Sehun, sebagai pemandu sorak paling ricuh.
Mereka melempar banyak lelucon tapi Baekhyun cukup mengungkapkan minat, mencoba fokus pada laptop dimana power point memenuhi layar laptop.
"Kau terlihat lebih pucat hari ini."
Sehun membocorkan Baekhyun lebih lama, kemudian mengangguk setuju atas ucapannya. "Hm, entah kenapa hari ini kau terlihat tidak begitu fokus. Kau ada masalah?"
Laptop tutup asal. Hatinya benar-benar dalam suasana yang buruk. Bahkan ia tak yakin menghadapi tantangan esok hari dengan baik dan lulus?
"Apa ini tentang Chanyeol?" tanya Kyungsoo hati-hati. Ia mengatakan ucapan Baekhyun beberapa hari lalu. Semakin meningkat ketika mendapati pria-pria itu mengangguk perlahan.
Sebagai seorang teman, ia hanya bisa memberikan dan memberikan kata-kata penenang. Punggung ditepuk beberapa pelan, "Kali ini apa yang dikatakannya?"
"Dia...ingin punya anak."
"Hah?"
Sehun membocorkan tak percaya, jemari tanpa sadar meremas pinggir meja erat. Mulut setengah terbuka dengan mata terbelalak, "Chanyeol Hyung sangat keterlaluan."
Bagi dua orang lelaki yang tengah menjalin hubungan sebagaimara tentunya masalah anak adalah hal yang sangat sensitif.
Sehun hanya tidak tahu mengapa Chanyeol bisa membeli itu mengatakan hal yang memuakkan hingga menyakiti Baekhyun.
"Lalu apa jawabanmu?"
Baekhyun menunduk, memandang jemari yang lentik bermain-main dengan kancing kemejanya. Ditatap sekali lagi cincin pasangan yang ia beli untuk Chanyeol saat ulang tahunnya.
"Dia ingin melakukan pinjam rahim dan aku ..." napasnya terhenti, pundak terasa lebih berat, "setuju."
Baekhyun tahu kalau aku sangat bodoh karena memuji hal yang nyatanya sangat menghibur hati. Malamnya tak pernah tenang sejak ungkapan itu.
"Kenapa kau bisa setuju! Itu adalah hal yang sangat diluar akal. Memangnya kau mau kalau Chanyeol melakukan hubungan seks dengan kamu? Atau Chanyeol menjadi ayah kandung dari anak orang lain?"
Membayangkan hal itu rasanya kepala akan pecah. Skenario paling buruk sudah terbayang. Jadi ia gemetar lemah. Tahu kalau aku bisa melakukan apapun.
"Untukku bukan masalah jika kalian ingin punya anak lebih dulu. Tapi setidaknya kalian harus benar-benar menjalaninya sepenuh hati. Katakan sejujurnya pada Chanyeol."
Itu terdengar mudah. Namun, kenyataan tak terlihat itu.
"Dan sekarang tugasmu adalah fokus untuk ujian besok hari. Diskusikan itu dengan Chanyeol setelah ujian."
Baekhyun hampir lupa kalau masihlah seorang mahasiswa tingkat akhir yang kebingungan karena ia akan menjalani sidang.
AFTER IMPRIMARE
Baekhyun menata selimut beserta bantalnya, mengambil tempat di sisi kiri ranjang dan merebahkan tubuh di sana. Hari ini sungguh melelahkan. Rasanya semua hal terlihat berat di depan mata.
Ia sudah selesai belajar, membaca ulang laporannya dan menerka pertanyaan apa yang mungkin akan dibacakan para penguji. Sungguh gelisah karena sidang akan dimulai besok siang.
Baru saja akan memejamkan mata yang mulai memberat, ia tersentak saat sisi kanan tertekan. Disusul dengan tubuh besar yang masuk dalam selimut yang sama.
"Sayang," dahinya dikecup lama. Lampu yang telah dimatikan membuat penerangan berkurang dan beruntung tidak ada yang bisa melihat wajah meronanya yang menarik.
Baekhyun selalu tersipu saat Chanyeol berlaku romantis.
Lengan besar menggamit pinggangnya dengan mudah, mendekap erat dari belakang hingga keduanya menempel tanpa celah dengan kepala yang mendesak lehernya.
"Chanyeol kita harus tidur."
"Aku inginmu."
Ya, Baekhyun juga rindu sekali.
"Aku harus ujian besok, Chanyeol."
Tubuhnya dibalik dengan mudah, dalam keremangan cahaya mereka saling bertatapan penuh cinta.
"Semoga ujianmu lancar. Aku akan pergi ke kampusmu besok."
Wajah tampak semakin mendekat, melacak jarak hingga napas bersahutan.
Chanyeol tersenyum. Ia sangat mencintai Baekhyun. Lebih dari apapun.
Tengkuk Baekhyun meraih lebih dekat, tanpa kembali bibir yang semula sempat terpisah.
"Besok aku akan bertanya," ujar Baekhyun ditengah deru napasnya yang kacau.
"Aku hanya akan mencumbumu, sayang."
Dua manik berbeda kembali bertemu pandang, kagum saya Baekhyun membuat Chanyeol lebih bersemangat untuk mendekat.
"Lusa kita akan menemui wanita yang meminjamkan rahim untuk bayi kita."
Wajah Baekhyun berubah kosong. Lagi, Chanyeol mengingatkannya pada kenyataan pahit yang menyesakkan.
_Bersambung_
Agak ada sedih-sedihnya ya? Tapi cuma begini kok, enggak sedih banget hehe.
Dan selamat hari raya Idul Adha bagi yang merayakan :)
