His Princess
Pairing : Gaara x Hinata x Naruto
NARUTO hanya milik MASASHI KISHIMOTO
OoOoOoOoOoOoOoO
:chacha:
.
.
.
Chapter IV : Titik Terang
Matahari telah terbenam. Malam pun menjelang. Saat ini tim pencarian dari Konoha tengah beristirahat sejenak memakan persediaan yang telah mereka siapkan sebelumnya.
Naruto hanya bisa duduk meringkuk di bawah pohon sakura yang belum mekar. Kedua iris safirnya terus melirik dengan gelisah. Sakura yang melihat tingkah Naruto yang tidak seperti biasanya hanya bisa mengerutkan alisnya. Sebenarnya gadis itu penasaran akan penyebab rekan satu tim nya menjadi seperti ini. Namun ia juga merasa tahu diri bahwa ini pasti ada hubungannya dengan Hinata sehingga Sakura hanya bisa berpikir dalam diam dan hanya bisa memantau Naruto.
"Makan ini, bodoh. Kau belum makan semenjak kita beristirahat dua puluh menit yang lalu." Shikamaru menyodorkan sebungkus roti isi cokelat kepada pemuda pirang itu.
Naruto menggeleng, "Aku tidak berselera makan." jawabnya singkat. Tentu saja pikiran mengenai Hinata yang menyebabkan ia menjadi seperti ini. Ia begitu risau akan bagaimana keadaan gadis cantik tersebut.
"Kalau kau tidak mau menjadi beban tim pencarian ini, setidaknya kamu harus mengisi energimu. Kau paham?!" Shikamaru sudah kesal akan respon dari Naruto yang seolah mau tidak mau.
Mata giok Sakura yang melihat perdebatan antara Shikamaru dan Naruto itu pun menghampiri dimana mereka berdua berada, "Kalian berdua jangan bertengkar. Shikamaru, mungkin Naruto memang butuh waktunya sendiri." ujar Sakura menenangkan Shikamaru yang sudah menunjukkan raut kesal pada Naruto. Sementara Naruto, ia hanya tertunduk lesu menerima ocehan dari pemuda berambut nanas di hadapannya saat ini. Ia merasa telah merusak semuanya. Merusak perasaan gadis cantik itu dan merusak pertemanan yang telah mereka jalin setelah bertahun-tahun. Jantungnya begitu gelisah menandakan betapa ia ingin menemui Hinata.
Ia ingin menyelesaikan semuanya dengan mencoba menerima perasaan gadis itu. Ia yakin bahwa Hinata juga masih menyukainya.
:chacha:
Tepat seminggu hari hilangnya Hinata dan dua hari pencarian tim Shikamaru. Hinata yang masih memulihkan diri di Desa Suna, lebih tepatnya di kediaman Gaara selaku pemimpin desa sana. Gadis itu mulai merasa dapat beradaptasi dengan suasana pasir dan angin yang berhembus sepanjang hari di desa ini, merupakan ciri khas yang dimiliki oleh negeri angin tersebut. Namun Hinata juga merasa tidak enak karena telah menumpang di rumah orang lain terlebih lagi selama tujuh hari. Hatinya gelisah. Sebenarnya jauh di lubuk hatinya ia ingin pulang, menemui keluarga dan rekan tim delapan namun ia juga tidak sanggup melihat wajah pujaan hatinya itu setiap hari. Ia berpikir bahwa dari jarak sejauh Suna dan Konoha saja ia bisa mengingat wajah Naruto dengan jelas, apalagi jika ia harus pulang di desa kelahirannya itu.
Kedua bahu Hinata bergidik kaget begitu ia mendengar deheman dari wanita tua dan seorang gadis cantik bersurai pirang kuncir empat yang memasuki kamar tamu, kamar yang Hinata tempati.
"Nona Temari, Nenek Chiyo..." gumam Hinata yang melangkahkan kakinya yang sedikit pincang karena perlahan-lahan ia bisa berjalan dan hanya perlu sedikit waktu agar kakinya bisa berjalan normal yang diakibatkan pergelangan kakinya yang patah semenjak kejadian yang hampir merenggut nyawanya itu, "Silahkan duduk." Hinata menggeser satu kursi yang berada di kamarnya untuk Temari selaku tuan rumah di kediaman Sabaku itu. Namun Temari hanya menunjukkan raut wajah dingin dan Hinata sadar betul bahwa gadis yang lebih tua tiga tahun darinya ini menampakkan ketidaksukaan pada dirinya.
Hinata hanya bisa tertunduk hingga poni ratanya menutupi mata lembayungnya yang indah.
"Tidak perlu." Temari menolak kursi yang disediakan oleh Hinata, "Aku hanya ingin mengetahui kondisimu saja, makanya aku membawa Nenek Chiyo untuk memeriksa fisikmu. Sepertinya kau sudah lumayan membaik." ujar gadis itu membuang muka ke arah kiri. Chiyo yang dari tadi melihat raut sang nona yang masam hanya bisa diam dan menunggu instruksi dari Temari selanjutnya.
"Ba-bagaimana dengan Tuan Gaara?" tanya Hinata menanyakan keberadaan adik bungsunya itu, alis Temari menekuk mendengar nama Gaara disebut-sebut oleh Hinata.
"Gaara sibuk," jawab Temari ketus, "Lagi pula kenapa juga selalu Gaara yang menemanimu? Memangnya dia perawat pribadimu?" tanya Temari mendelikkan iris hijaunya. Menunggu Hinata untuk menjawab.
"Ti-tidak, bukan begitu." sanggah sang pewaris Hyuuga itu dengan pelan. Hinata berpikir bahwa Temari telah salah paham padanya.
"Sebenarnya aku heran. Kenapa Gaara begitu menahanmu di sini? Padahal bukan dia yang melukaimu, tapi dia harus merawatmu sampai benar-benar pulih. Terlebih lagi dia tidak mau mengirimkan surat untuk Hokage agar bisa menjemputmu. Apakah semua ini adalah idemu?!" tanya Temari dengan segala asumsi negatifnya. Hinata yang mendengar semua itu hanya mematung. Rembulannya berubah menjadi berkaca-kaca begitu mengetahui bahwa seperti inilah dirinya di mata Temari.
Tubuh Hinata bergetar. Ia begitu sedih mendengar semua itu secara langsung. Bahkan Gaara tak pernah mengatakan apa-apa tentang Temari atau Kankurou kepadanya. Ia selalu mengatakan bahwa kedua saudaranya juga menerima kedatangannya di sini. Memang selama di sini Hinata merasa bahwa di antara Temari dan Kankurou, perlakuan mereka berdua pada dirinya cenderung berbalik. Kankurou memperlakukannya sebagai tamu dan teman, sementara Temari memperlakukannya sebagai orang asing.
"Tolong periksa keadaannya, Nenek." pinta Temari kepada Chiyo untuk memeriksa kondisi fisik Hinata hari ini. Chiyo memeriksa dari suhu, detak jantung, denyut nadi serta bagian tubuh Hinata yang sakit.
"Kondisi Nona Hinata baik-baik saja. Nona hanya perlu beberapa hari lagi agar rasa ngilu di bekas cidera serta Nona bisa berjalan dengan normal lagi.
"Terima kasih..." gumam Hinata membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat. Ia merasa lega setelah sang nona sulung dan Chiyo pergi dari kamarnya.
Sepertinya Hinata memang harus memutuskan untuk pulang ke Konoha. Ia tidak mau terus-terusan membebani Gaara dan keluarganya. Ia hanya perlu menunggu Gaara untuk berpamitan.
Sementara itu di lorong ke kamar Temari, gadis itu dihentikan oleh suara Chiyo yang bertanya mengenai perasaannya.
"Temari. Mengapa kau begitu membenci anak itu? Aku dapat merasakan bahwa dia adalah anak yang baik." ujar Chiyo menggoyahkan perasaan dari sang gadis.
"Aku tahu," Temari hanya bisa menghembuskan napas berat, "Tapi karena kebaikannya aku takut akan terjadi hal buruk untuk Gaara..."
:chacha:
Safir pemuda itu tak dapat terpejam walau sebentar. Naruto benar-benar tidak bisa tidur. Padahal ia sendiri yang ngotot agar dapat bergabung di tim penyelamat agar bisa memperbaiki hubungannya dengan Hinata. Namun kenyataannya tidak semudah itu.
Naruto pun bangkit dari tidurnya. Hidungnya menarik dan menghembuskan napasnya berulang kali. Sepertinya dia perlu keluar untuk mencari angin, melihat keempat temannya sudah tidur dan Sakura berada di tenda yang lain, Naruto pun berjinjit untuk keluar dari tenda mereka.
Cukup lama Naruto termenung dekat batu besar hutan sana, Naruto dikejutkan oleh langkah kaki yang mendekatinya. Bahu pemuda jabrik itu bergidik, namun mengetahui siapa yang datang ia pun mengela napasnya.
"Oh, kau Neji..."
Iris lembayung yang serupa dengan Hinata itu hanya menatap Naruto dengan datar, Neji pun mengangkat bicara, "Aku masih ingin mendengar apa hubunganmu dengan Hinata. Sepertinya ada hal aneh yang kau sembunyikan dariku."
Naruto hanya menunduk pasrah, "Baiklah..."
.
.
.
"Jadi...kau menolak pernyataan cinta dari Nona Hinata?" tanya Neji yang mendengar semua alasan hubungan Naruto dan Hinata menjadi memburuk, namun Neji juga tidak kelihatan marah seperti di kantor Hokage seperti waktu itu.
"Kau tidak marah padaku?" tanya Naruto yang keheranan akan respon Neji yang seolah-olah itu hal yang biasa.
"Mana bisa aku marah padamu. Itu bukan salahmu. Mungkin waktu itu Nona Hinata begitu terpukul atas penolakanmu. Karena dia...betul-betul menyukaimu..." ujar Neji memandang langit kelam dengan sedikit bintang di sana.
"Aku yakin Nona Hinata tidak kabur. Aku rasa sesuatu yang buruk terjadi padanya," Neji pun merangkul pundak Naruto yang duduk di sisi kanannya, "Jadi untuk nanti kau harus betul-betul berusaha membantu menemukan Nona Hinata jika kau benar ingin memperbaiki hubungan kalian." Neji pun kemudian berdiri dan melangkah menuju tenda mereka kembali untuk tidur.
"Neji..." panggil Naruto menghentikan kedua kaki Neji untuk sementara, sang empunya nama pun menolehkan kepalanya, "Kenapa?"
"Terima kasih sudah mengerti." tersungging senyuman di bibir Naruto walaupun tidak selebar biasanya. Ia merasa sedikit lega dengan mengeluarkan semua uneg-uneg yang lama menggumpal di hatinya.
:chacha:
Hinata bosan berada di kamarnya selama seminggu hari dan akhirnya berjalan-jalan di sekitar rumah sang kazekage. Ia merasa tubuhnya sudah lebih membaik. Obat-obatan yang diberikan oleh Chiyo juga manjur meskipun teknik pengobatannya masih di bawah nona hokage di desanya.
Sesekali Hinata memandang ke langit malam, ia kepikiran dengan keluarganya yang di desa. Namun ia juga telanjur nyaman di negeri angin ini.
Bayangan rupawan si surai merah pun terpampang di langit kelam itu.
Sontak, Hinata langsung menggeleng-gelengkan kepala indigonya. Ia merasa tidak pantas memikirkan pemuda itu. Hinata berpikir bahwa itu adalah hal yang tidak etis, apalagi Gaara adalah orang yang telah menyelamatkannya.
"A-apa-apaan aku ini..." gumamnya seraya menyentuh pipi kanannya yang memanas, "Aku tidak boleh begini." kemudian gadis itu merubah arah tujuannya dari balkon ke ruang baca untuk membaca sesuatu yang bagus. Namun ketika gadis itu menelusuri koridor menuju ruang baca, ia berpapasan dengan pemuda bermata panda yang baru saja keluar dari sana.
"Hinata?" gumam Gaara melihat sang gadis berhadapan dengannya dalam jarak tiga meter, "Ada perlu apa?"
Sontak sang gadis membalikkan badannya, "A-aku ingin membaca, aku tak tahu kalau Tuan Gaara ada di sana. Permisi." pamit Hinata yang melangkah terseok-seok meninggalkan sang Kazekage.
Mata giok Gaara mendelik dan melangkah cepat ke Hinata, "Biar kubantu," Gaara pun meraih lengan Hinata untuk membantu memapah.
"-!" betapa kagetnya pemuda itu takkala mendapat respon penolakan dari Hinata. Gadis Hyuuga itu menepis tangannya.
"Ti-tidak usah. Aku bisa sendiri..." gumam Hinata menunduk menyembunyikan sorot matanya. Gaara tidak tahu mengapa sikap gadis itu padanya tiba-tiba berubah. Padahal menurut Gaara beberapa jam yang lalu Hinata masih memberikan respon yang baik waktu ia berbicara.
Bila diingat, Gaara termenung akan sikap Hinata yang mengubah sorot matanya di ujian chunin beberapa tahun yang lalu. Sorot mata yang tajam dari seorang gadis yang pemalu. Apakah sorot mata yang seperti itu yang tadi Hinata berikan waktu menolak bantuannya tadi?
Tidak jauh dari tempat Gaara bermenung. Hinata mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang. Gadis itu gelisah karena ia merasa telah berbuat kasar kepada Gaara, orang yang telah menolongnya. Ia tahu bahwa tidak seharusnya ia berkata seperti itu. Ia memang sedih atas sikap Temari kepadanya, tetapi bukan berarti ia harus melampiaskannya ke Gaara.
"Bila bertemu lagi, aku harus meminta maaf pada Tuan Gaara." ujar Hinata bermonolog. Kemudian ia melangkah menuju kamar dimana ia dirawat.
:chacha:
"Akamaru, kau mengendus sesuatu?" tanya Kiba kepada anjing ninjanya. Akamaru membalas dengan sebuah gonggongan.
"Bagaimana, Kiba?" tanya Shikamaru menghentikan langkahnya. Sakura, Naruto dan Neji ikut berhenti.
"Berhubung Akamaru hapal dengan bau Hinata, sepertinya kita mendapatkan sedikit petunjuk." ujar Kiba dengan yakin.
"Baguslah kalau begitu." gumam Shino terdengar lega begitu mengetahui Hinata masih dapat dilacak.
Neji mengaktifkan byakugan-nya. Ia melacak keberadaan Hinata. Tapi matanya tidak menangkap chakra apapun.
"Kiba, kau berada di baris depan bersama Akamaru. Kami butuh bantuan hidungmu." ujar Shikamaru menepuk bahu kiri pemuda Inuzuka itu. Kiba melebarkan senyumannya karena ia merasa dipercayai.
"Serahkan padaku!"
"Baiklah, karena kita sudah mendapat titik terang, mari kita berangkat!" ujar Sakura dengan semangat. Kelima pemuda itu membalas gadis itu dengan anggukan pertanda setuju akan perkataan barusan. Kemudian mereka meningkatkan tenaga mereka dengan berlari menuju arah yang Akamaru tentukan.
'Hinata...' gumam Naruto dalam larinya.
'Tunggu aku.'
To Be Continued
