6. Italia
Sebuah kapal motor kecil membelah luasnya Laut Adriatik yang memisahkan daratan utama sisi Eropa dengan kota Venice. Ukuran kapal itu memang tidak besar, namun cukup untuk berfungsi sebagai feri pengantar penumpang mengarungi Laut Adriatik. Hampir dua puluh menit yang lalu, kapal motor itu mengangkat sauh dari pelabuhan di kota Fusina dan berlayar menuju pulau Venice.
Di haluan kapal kecil itulah Solar berdiri. Tubuhnya bersandar condong ke depan pada rel pegangan tangan melawan terpaan angin saat kapal yang ditumpanginya melaju pada kecepatan penuh. Surai putih diantara rambut hitam yang memjadi ciri keluarga Solar berkibar dengan gemulainya diterpa angin yang berlalu dengan begitu cepatnya.
Tatapan netra perak Solar terpaku pada sebuah daratan di kejauhan. Bangunan-bangunan berarsitektur kuno namun sangat terawat terilhat bertengger di atas daratan seakan telah menanti dan siap menyambut kedatangan Solar dan kakaknya, Taufan.
Venice adalah sebuah kota yang unik. Tidak ada mobil lalu-lalang di kota kecil itu. Tidak ada jalanan yang mampu menampung besarnya mobil, namun kota itu dianugerahi aliran kanal-kanal yang dipergunakan sebagai sarana bepergian dari satu daerah ke daerah lain. Sebagai pengganti mobil para penduduk kota Venice menggunakan perahu bermotor kecil atau perahu dayung yang disebut gondola untuk bepergian. Bonus dari tidak adanya mobil di kota Venice adalah tidak adanya jalanan beraspal. Seluruh jalanan di kota itu berlapiskan marmer alami Italia yang tersohor karena tekstur dan kekuatannya.
Namun sebagai kota yang juga merupakan tujuan wisata terkenal di belahan bumi Eropa, kota Venice tidak luput dari permasalahan. Jalanan kota Venice yang memang berukuran kecil masih pula dipersempit dengan adanya tenda-tenda dan kios-kios penjual cinderamata. Tidak jarang keberadaan kios dan tenda para penjual cinderamata itu membuat jalan yang bisa dilalui oleh pejalan kaki menjadi sedemikian kecil sehingga hanya bisa dilewati oleh satu atau dua orang saja.
Beruntung kota itu tidak dipenuhi bangunan tinggi atau pencakar langit. Dikombinasikan dengan tidak adanya mobil di kota itu, udara di kota Venice terasa jauh lebih segar, bercampur dengan aroma laut yang samar-samar mampir di indera penciuman para pengunjungnya.
"Ah, Venice," ucap Solar saat ia menjejakkan kakinya di atas dermaga. Setelah mengarungi Laut Adriatik selama dua puluh lima menit dari kota Fusina, Solar dan Taufan akhirnya tiba di kota tujuan mereka.
"Wuah ... Bangunannya ... antik-antik." Kekaguman terlihat di wajah Taufan selagi ia memandangi bangunan-bangunan kuno yang menghampar di sekeliling dermaga. Tak henti-hentinya remaja bernetra biru safir itu menoleh kesana-kemari sembari mencerna pemandangan yang dilihatnya.
Ponsel pun dikeluarkan oleh Taufan dari saku celananya. Segara saja dia mengabadikan pemandangan bangunan-bangunan kuno, kanal-kanal yang membelah-belah kota kecil itu dan tidak lupa selfie dirinya sendiri.
Tidak lama berselang Solar mulai merasakan getaran-getaran lembut di saku celananya. Tanpa memeriksa sakunya pun Solar tahu bahwa getaran-getaran itu berasal dari ponsel miliknya yang menerima notifikasi secara beruntun.
"Kak Taufan baru upload foto di group Whatsapp keluarga kita ya ...?" tanya Solar sembari mengamati Taufan yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Pasti!" balas Taufan dengan riangnya. "Kapan lagi aku bisa jalan-jalan ke Eropa begini?"
Solar hanya menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya saja. Dia tidak ingin merusak mood si kakak yang sedang teramat sangat baik. "Ya sudah, foto-foto deh sana. Tapi jangan lupa kita kesini untuk mencari Kak Gempa."
Air muka Taufan mendadak bertukar menjadi serius. "Ah ya ... Bagaimana dengan orangnya Gamma yang akan menemui kita?"
"Aku ngga tahu," jawab Solar sembari mengedikkan bahunya.
"Lho? Gimana sih?" ketus Taufan. Kedua netra biru safirnya mendelik terarah kepada Solar.
Belum sempat Solar menjawab ketika terdengar suara seorang perempuan memanggil. "Kamu Cahaya BoBoiBoy Solar?"
Suara perempuan itu langsung menarik perhatian Solar beserta Taufan. Keduanya langsung menolehkan kepala ke arah sumber suara yang memanggil mereka.
Terlihatlah Seorang perempuan yang berusia tidak jauh dari Solar sendiri. Penampilan perempuan itu cukup sederhana dengan balutan jaket hitam, kemeja merah muda dan dikombinasikan dengan celana panjang abu-abu.
Manik netra merah delima nyaris tersembunyi oleh kelopak mata perempuan itu sementara garis alis matanya mempertegas paras orientalnya.
Perempuan itu berjalan mendekati Solar dan Taufan sembari mengibaskan surai rambutnya yang sedikit ikal. Tangan perempuan itu terulur kepada Solar saat ia sudah berada dekat dengan si remaja bernetra perak.
"Ngga salah, kamu pasti Solar ... Kamu mirip sekali dengan kakakmu, Gempa." Perempuan itu menatap Solar tanpa berkedip. Tatapan netra merahnya terarah lurus bertemu dengan tatapan netra perak lawan bicaranya. "Aku AyuYu. Gamma memintaku untuk menemui kamu dan memberi update terakhir mengenai kakakmu."
Tanpa ragu-ragu Solar langsung mengamit dan menyalami tangan AyuYu yang terulur. "Ya aku Solar, adiknya Gempa. Terima kasih sudah menyambut kami." Kemudian Solar menunjuk ke arah Taufan dan memperkenalkan kakaknya itu kepada AyuYu. "Ini Taufan, kakakku juga dan kakaknya Gempa."
"Sa-salam kenal, AyuYu ... A-aku Taufan," ucap Taufan sedikit terbata-bata ketika ia memperkenalkan diri sembari menyalami tangan AyuYu.
"Senang bertemu dengan kalian," ucap AyuYu ketika Taufan menyalami tangannya. "Kalian bertiga memang ... Sangat mirip-mirip," ucapnya lagi setelah berkenalan dengan Taufan.
"Iya, begitulah keluarga kami." Solar menganggukkan kepalanya sembari menebar senyum. Sayangnya senyum itu hanya di bibir saja karena gerak-gerik bahasa tubuhnya dan tatapan netra peraknya mencerminkan kekhawatiran.
"Kamu sempat bekerja bersama dengan Kak Gempa?" Solar lanjut bertanya.
AyuYu mengedikkan kepalanya ke arah sebuah bangunan tua dengan gerbang kayu. Walaupun tua, bangunan itu tetap terlihat megah berdiri di pinggir sebuah plaza terbuka di tengah kota Venice. "Ya, ayo ikut aku. Di dalam perpustakaan itu Gempa terakhir kulihat."
Kedua alis mata Solar mengernyit selagi ia melihat ke arah bangunan yang dimaksud AyuYu. "Perpustakaan? Tapi itu lebih mirip dengan gereja."
Pernyataan Solar itu membuat AyuYu tersenyum puas seakan telah menemukan sesuatu yang berharga. "Kamu ngga salah, Solar," ucap AyuYu sembari terus berjalan menuju perpustakaan yang dimaksudnya. "Bangunan itu memang bekas gereja yang sekarang dipakai jadi perpustakaan."
"Disitu terakhir kalinya aku melihat kakakkmu," lanjut AyuYu. Perempuan itu tetap berjalan tanpa memperlambat langkahnya. "Waktu itu dia terlihat ... ceria? Sangat bersemangat. Sepertinya dia menemukan sesuatu dan sudah sangat dekat dengan petunjuk mengenai Cawan Suci."
"Dan biasanya itu saat ketika tanah di bawahmu amblas ...," komentar Solar setelah dia mendengar kronologi singkat mengenai hilangnya Gempa.
AyuYu menghela napas panjang. "Ya, begitulah yang terjadi ... Gempa memintaku untuk mengambil denah kuno kota ini, tapi dia menghilang waktu aku kembali. Tinggal ini saja yang ada di mejanya." AyuYu mengeluarkan secarik kertas dari dalam saku jaketnya dan menyerahkan kertas itu kepada Solar.
"Hm?" Solar menggumam saat ia memeriksa sehelai kertas yang baru saja ia terima dari AyuYu. "Angka Romawi sepuluh? Apa maksudnya?" tanya Solar sembari melirik ke arah AyuYu.
"Entahlah," jawab AyuYu. "Gempa ngga sempat memberi aku tahu apa artinya."
"Gempa ngga sempat menelponmu? Atau mengirim pesan Whatsapp?" tanya Taufan yang sedari tadi menyimak pembicaraan antara AyuYu dengan Solar.
Pertanyaan Taufan itu dijawab dengan gelengan kepala oleh AyuYu. "Ngga ada sama sekali. Kita juga sudah coba mencari lewat GPS ponselnya, tapi hasilnya nihil."
"Yah siapa tahu kita bisa menemukan petunjuk di tempat itu," ucap Taufan.
Solar dan Taufan berjalan semakin mendekat ke bangunan perpustakaan di tengah kota Venice dengan dipandu oleh AyuYu. Setelah berjarak cukup dekat barulah terlihat bahwa gereja yang diubah menjadi perpustakaan itu berukuran cukup besar. Pintu utama perpustakaan itu berupa gerbang kayu kokoh berplat besi dengan tinggi hampir dua kali lipat tinggi orang dewasa. Dinding bangunan itu berbalut limestone putih kokoh yang tak lekang digerus oleh jalannya waktu. Ciri-ciri gereja jaman renaissance pun masih terlihat kental dengan adanya jendela bermozaik kaca yang dipasang membentuk gambar.
Seperti bangunan kuno pada umumnya, hawa di dalam perpustakaan itu terasa lembab. Hawa yang lembab itu bercampur dengan aroma kertas yang menguar dari buku-buku tua koleksi perpustakaan. Walaupun tua, perpustakaan dimana Solar, Taufan dan AyuYu berada tetap terjaga kemegahannya. Dari lantai marmer hitam yang mengkilap sampai tembok batu yang bebas debu, semuanya mencerminkan betapa teliti warga Venice menjaga bangunan-bangunan kuno bersejarah. Disitulah letak kebanggaan warga kota itu akan peninggalan budaya mereka.
Setibanya di dalam perpustakaan, AyuYu langsung membawa Solar dan Taufan menuju bagian perpustakaan dimana terakhir kalinya dia melihat Gempa. Mereka semua tiba di sudut perpustakaan yang cukup luas dan berbataskan barisan rak-rak buku.
Sebuah jendela mozaik besar menghias dinding sudut perpustakaan. Berbagai spektrum warna dari pembiasan cahaya matahari yang mengenai jendela mozaik itu dan menerangi sudut perpustakaan yang memang minim pencahayaan.
Di tepi kanan dan kiri jendela mozaik itu pula berdiri beberapa tiang pilar batu megah penyokong atap bangunan perpustakaan. Tidak seperti pilar modern, pilar batu di tepi kanan dan kiri jendela mozaik perpustakaan itu terbuat dari pahatan batu alam. Patung mahluk berbentuk singa menghias masing-masing puncak pilar di perpustakaan itu.
"Seperti yang kubilang, perpustakaan ini dulunya gereja. Bahkan pilar ini diambil dari Kerajaan Byzantium saat Perang Crusade ke dua." AyuYu menunjuk pada kedua pilar di tepi jendela.
"Uh ... Byzantium? Crusade?" tanya Taufan sembari menggaruk-garuk kepalanya setelah ia mendengar keterangan AyuYu.
"Byzantium itu kerajaan penerus kekaisaran Romawi di bagian timur, Kak. Daerah Turki dan sekitarnya. Ibukotanya Constantinople, yang sekarang namanya jadi Istanbul." Solar menjelaskan secara singkat kepada Taufan. "Perang Crusade itu terjadi waktu prajurit Katolik, Crusader, menyerbu Yerusalem untuk merebut kota itu."
"Seharusnya kerajaan Byzantium itu sekutu para serdadu Crusader tapi karena jumlah yang banyak dan mereka kehabisan makanan, jadilah beberapa daerah kerajaan Byzantium dijarah habis oleh sekutu sandiri." Solar menyelesaikan penjelasannya kepada Taufan. "Nah, pilar ini adalah salah satu hasil jarahan mereka ..."
AyuYu mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku. Dia melihat pada jam yang tertera di layar ponselnya. "Perpustakaan ini sudah hampir tutup. Biar aku minta ijin pada penjaganya supaya kita bisa disini sedikit lebih lama."
Solar menjawab dengan anggukkan kepalanya. Dia membisu saat mengamati sudut perpustakaan tempat dimana AyuYu terakhir kalinya melihat Gempa.
"Uh ... Jadi? Apa yang bisa kita temukan disini?" tanya Taufan kepada Solar sembari bertolak pinggang. Dia mencoba untuk mengikuti arah kemana Solar menengok namun tidak menemukan apa-apa yang menarik perhatiannya.
"Jendela ini, Kak ..." Solar menunjuk pada jendela mozaik besar di hadapannya, yang menghias dinding perpustakaan. "Aku seperti pernah melihat jendela ini ..."
Jendela mozaik yang dimaksud Solar memperlihatkan relief dua malaikat yang berdiri saling berhadapan di tepi kanan dan kiri jendela. Di tengah-tengah jendela itu terdapat relief berbentuk perisai dengan relief kepala manusia di atas relief perisai itu.
Taufan terperanjat mendengar kata-kata adiknya. "Hah? Dimana kamu melihatnya?" tanya Taufan dengan kedua netra biru safirnya yang membelalak.
"Di sini." Solar mengeluarkan buku notes milik Gempa dari dalam saku jaketnya. Dia membolak-balik halaman buku notes itu sampai menemukan sebuah gambar terselip di antara halaman-halamannya.
Walaupun tidak berwarna, gambar yang pada buku notes milik Gempa itu menggambarkan jendela mozaik dengan detail yang sama dengan jendela mozaik yang ada di hadapan Solar dan Taufan.
"Lalu ini, angka Romawi." Perhatian Solar beralih pada kertas bertuliskan angka sepuluh Romawi yang ia terima dari AyuYu.
"Lihat." Solar menunjuk pada pilar di dekat jendela. Walaupun samar, ukiran angka-angka Romawi masih terlihat cukup jelas pada permukaan pilar yang sudah tua itu.
"Angka Romawi satu," ucap Solar sembari menunjuk pada sebuah pilar. "Dua," ucapnya lagi sembari menunjuk pilar yang lain.
"Solar, itu huruf X, bukan angka sepuluh," keluh Taufan sembari menggelengkan kepalanya.
"Angka sepuluh dalam abjad Romawi itu ditulis X, Kak Ufan ... Sama seperti angka lima ditulis dengan huruf V atau angka lima puluh ditulis dengan huruf L, angka seratus dengan huruf C." Solar menjelaskan apa yang ada di kepalanya kepada si kakak yang kurang mengerti. "Nah, sekarang coba bantu aku cari angka sepuluh, huruf X."
"Oke." Taufan langsung tersenyum lebar. Dengan sangat antusias ia mencari angka yang dimaksud oleh Solar. Satu demi satu Taufan mencari angka itu pada permukaan pilar-pilar yang ada di dalam perpustakaan.
Ketika sedang melakukan pencarian, Taufan bertemu dengan AyuYu yang baru saja meminta ijin untuk mereka supaya bisa tinggal sedikit lebih lama di .
"Kamu mencari apa?" tanya AyuYu. Raut wajah gadis berparas oriental itu terlihat sedikit kebingungan selagi ia melihat Taufan yang sibuk memutari pilar-pilar di dalam perpustakaan.
"Ah, huruf X, angka Romawi sepuluh, kata Solar," jawab Taufan sembari menunjuk ke arah Solar dengan jempolnya.
Kedua kelopak mata AyuYu kontan membelalak. "Astaga, iya betul juga!" seru AyuYu sembari menepuk dahinya. "Angka Romawi. Kenapa aku bisa buta begitu!" Segera AyuYu menghampiri Solar yang juga sedang mencari keberadaan angka Romawi sepuluh di dalam perpustakaan.
Hampir setengah jam mereka bertiga mencari keberadaan benda-benda yang berunsur angka Romawi sepuluh. Seluruh penjuru bangunan perpustakaan itu mereka telusuri. Dari rak-rak buku, dinding, pilar-pilar, bahkan sampai ke lantai dua perpustakaan.
Ibarat fatamorgana di padang gurun pencarian mereka begitu dekat terasa, namun apa yang mereka cari tidak kunjung ditemukan. Tidak ada satu pun benda di dalam perpustakaan yang menunjukkan huruf X atau pun angka sepuluh.
Dengan bertangan hampa, Solar, Taufan dan AyuYu kembali bertemu di tempat semula, di depan jendela mozaik, tempat AyuYu terakhir kali melihat Gempa.
"Ngga ada angka sepuluh yang kita cari," keluh Taufan sembari melemparkan kedua tangannya lebar-lebar ke samping. Dengan berat hati ia melaporkan hasil pencariannya kepada Solar dan AyuYu.
"Pasti ada. Ayo cari lagi," ucap Solar tanpa patah semangat. Raut wajahnya terlihat kaku dan tegang sementara tatapan kedua netra kelabunya tajam penuh konsentrasi.
"Mau cari kemana lagi, Sol?" dengkus Taufan. "Kita sudah mencari semua sudut, tepi, ruangan dan lantai perpustakaan ini. Ngga ada yang berhubungan dengan angka sepuluh."
Mendadak tatapan tajam netra kelabu Solar tertuju kepada si kakak. "Oh? Jadi Kak Taufan menyerah begitu saja? Segitu saja perhatian Kak Taufan ke Kak Gempa?"
Kata-kata si adik itu terdengar demikian pedas dan tajam di telinga Taufan. Begitu tajamnya sampai terasa menusuk hati. "Apa kau bilang, Solar?" Kedua netra biru safir Taufan menyipit. Manik matanya tertuju kepada Solar. Ditengah rasa lelah dan kebingungan, darah Taufan mulai terasa naik ke ubun-ubun.
"Bukan cuma kau yang punya perhatian ke Gempa, Solar," desis Taufan diantara kedua rahang yang terasa kaku. "Jangan sekali-kali kau bilang kalau aku atau yang lainnya ngga perhatian ke Gempa."
Solar terkekeh sinis setelah mendengar jawaban Taufan. "NATO ... No Action, Talk Only," sindir Solar sembari memalingkan wajah dan tubuhnya dari Taufan.
Kedua tangan Taufan mengepal erat. Sensasi perih karena ujumg kuku jari-jarinya menggerus permukaan telapak tangannya pun sudah tidak terasa lagi. Namun Taufan tetap berusaha menahan diri karena apa pun yang terjadi, Solar adalah adiknya yang paling bisa diandalkan pada saat-saat seperti ini.
Taufan menarik napas panjang beberapa kali untuk menenangkan pikirannya. Hal terakhir yang ia inginkan adalah perselisihan yang tidak produktif dan membawa mereka semakin jauh dari misi awal, yaitu mencari Gempa.
Beberapa saat lamanya Solar dan Taufan berdiam diri. Tidak ada kata-kata yang terucap di antara kedua kakak beradik yang kini berdiri saling menjauh satu sama lain. Aura di sudut perpustakaan begitu kental menjepitnya sampai AyuYu bisa merasakan ketegangan di antara kedua bersaudara itu.
"Kalian berdua sudah selesai?" tanya AyuYu dengan nada jengkel. "Kita masih harus mencari Gempa," lanjut gadis itu dengan tegas. Tatapan matanya menatap kepada Solar dan Taufan secara bergantian.
Beberapa saat lamanya Solar dan Taufan saling berdiam diri sebelum tatapan mata keduanya saling bertemu.
"Maaf, Kak ..." Solar akhirnya memecah kebekuan diantara dirinya dengan si kakak. "Aku ... khawatir dengan Kak Gempa ..."
Taufan menghela napas panjang. Perlahan tapi pasti, sorotan netra biru safirnya yang tajam melembut. "Iya ...," ucap Taufan sambil menganggukkan kepala. "Aku juga khawatir ..."
Dengan langkah gontai, Taufan berjalan mendekati Solar. Tangan kanannya terulur kepada si adik dan telapak tangannya terbuka. "Ayo kita cari sama-sama lagi. Pasti ada yang-"
Belum sempat Taufan menyelesaikan kata-katanya ketika secara mendadak dirinya kehilangan keseimbangan. Kalau saja bukan refleksnya yang cukup baik, sudah pasti Taufan jatuh terjerembab ke atas lantai.
"A-apa itu?" Taufan langsung melihat ke bawah.
Tidak hanya Taufan, Solar pun ikutan melihat ke bawah dan memperhatikan lantai yang tadi dipijak oleh si kakak. "Marmernya sudah ngga rata, Itu ada yang menonjol," gumam Solar saat ia mengamati lantai marmer perpustakaan.
Beberapa saat lamanya Solar menatap lantai marmer yang sudah tidak lagi rata karena termakan usia. Semakin lama ia mengamati lantai itu, semakin berkerut pula dahinya karena sesuatu mengenai lantai marmer itu telah menarik perhatiannya.
"Astaga," dengkus Solar. Dia berlari menuju tangga dan mengamati lantai marmer itu dari atas dengan sudut pandang yang lebih jauh.
Terlihatlah apa yang dicari oleh Solar, Taufan dan AyuYu. Lantai marmer hitam berpadu putih pada bagian perpustakaan dimana mereka berada membentuk angka sepuluh Romawi.
"Sepertinya aku harus mengubah caraku mengajar ..." Sebuah senyuman mengulas di wajah Solar. Air mukanya jelas sekali menunjukkan kepuasan bercampur grogi.
"X memang menujukkan tempatnya," ucap Solar kepada dirinya sendiri sembari mengedikkan bahu.
.
.
.
Bersambung.
Terima kasih sudah meluangkan waktumu untuk membaca, semoga berkenan. Mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan.
Nantikan kelanjutan ceritanya.
"Love all, hate none."
