7. Necropolis.
"Wah iya benar juga, itu angka sepuluh Romawi yang kita cari-cari." Dari lantai dua perpustakaan, Taufan bisa melihata angka sepuluh Romawi yang dimaksud oleh adiknya. ubin marmer hitam besar di atas lantai yang membentang di depan jendela mozaik perpustakaan itu memang membentuk huruf X, atau angka sepuluh dalam bilangan Romawi. Ukuran huruf X yang terbentuk oleh ubin marmer hitam itu cukup besar sehingga sulit dilihat dari jarak dekat. Hanya dengan berada di lantai dua saja huruf X itu bisa terlihat.
Tepat di tengah-tengah ubin marmer hitam yang membentuk angka sepuluh Romawi, Solar mencoba menjejakkan kakinya. Walaupun sangat sedikit sekali, Solar tetap bisa merasakan bahwa ubin marmer itu bergoyang. Dengan bertiarap di atas lantai, Solar bisa melihat celah di antara sambungan ubin marmer itu yang berbeda dari celah sambungan ubin yang lain.
"Ada sesuatu di bawah ubin ini," komentar AyuYu selagi ia memperhatikan Solar.
"Ya, artinya kita harus membalik ubin ini." Solar menganggukkan kepalanya. Terdorong rasa penasaran, dia mencoba untuk mengorek sambungan antar ubin marmer dengan ujung jari telunjuknya. Tidak hanya mengorek, Solar juga mencoba meniupi sambungan antar ubin yang dikoreknya.
Debu tipis langsung berhamburan terbang terkena hembusan udara dari mulut Solar. Sayangnya celah sambungan antar ubin yang ditiupnya itu tidak menjadi semakin lebar. Sedemikian sempitnya celah itu bahkan ujung kuku jari telunjuk Solar sulit untuk menyelip. "Kita harus membuka ubin ini."
Kedua netra kelabu Solar langsung bergerak mencari benda yang bisa membantunya untuk memindahkan ubin lantai perpustakaan. Masalahnya Solar membutuhkan alat khusus untuk memindahkan ubin marmer yang panjang dan lebarnya hampir setinggi tubuh Solar sendiri. Tidak mungkin alat seperti itu bisa ditemukan di dalam perpustakaan.
"Kak Ufan ada ide?" Solar menengok ke arah si kakak yang berdiri di dekatnya.
Kedua tangan Taufan melipat di depan dada. Raut wajahnya serius dengan dahi berkerut-kerut. "Ngga mungkin membuka ubin ini," ucap Taufan. Sama seperti Solar, ia segera mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk membuka ubin yang ditunjuk oleh adiknya.
Sebuah tiang setinggi pinggang orang dewasa yang biasa dipakai untuk menyangkutkan pita pembatas ruangan menarik perhatian Taufan. Tiang berbahan logam itu terpasang di depan bagian perpustakaan yang tidak boleh dilalui di dekat rak buku yang sedang direnovasi.
Tanpa berpikir panjang, Taufan langsung mengambil tiang logam yang dilihatnya "Minggir, Sol," perintah Taufan sembari menyeret tiang logam yang diambilnya menuju ubin marmer dimana Solar berdiri.
"Hah?" Solar tercengang ketika melihat Taufan tengah membawa-bawa tiang pita pembatas di tangannya. Lebih mencengangkan lagi ketika Taufan mengangkat tiang itu setinggi mungkin dan menghujamkan ujung kepala tiang itu sekuat tenaga ke tengah-tengah ubin marmer perpustakaan.
"Astaga!" Solar memekik terkejut. Suara benturan antara ujung kepala tiang pita pembatas yang dipegang Taufan dengan ubin marmer menyerang indera pendengaran Solar.
Taufan tidak memedulikan adiknya. Sekali lagi ia menghantamkan ujung kepala tiang yang ia pegang pada ubin marmer perpustakaan. Hantaman yang kedua itu cukup kuat karena tanda-tanda keretakan mulai terlihat pada ubin itu.
Pada hantaman ke tiga, ubin marmer itu menggeretak pecah dan runtuh. Terlihatlah sebuah lubang besar di bawah ubin yang telah pecah oleh hantaman Taufan.
Hawa dan bau lembab segera menguar dari lubang besar yang menganga setelah ubin penutupnya berhasil dijebol oleh Taufan. Secara samar-samar, dasar lubang itu bisa terlihat dari atas dan dasar lubang itu terhubung dengan sebuah lorong berdinding batu.
"Tunggu apalagi, ayo kita turun." AyuYu tidak bisa lagi menahan diri dan segera menurunkan dirinya ke dalam lubang yang menganga.
Alih-alih menjejak dasar bebatuan yang padat, kedua kaki AyuYu menjejak genangan air. Beruntung gemangan air itu tidak terlalu dalam, bahkan dalamnya tidak mencapai lutut.
Sementara di atas lubang, Solar berkonsultasi dahulu dengan Taufan. "Kak Ufan sebaiknya ngga ikut dengan aku dan AyuYu ... Sebaiknya, lebih baik Kak Ufan pergi dulu dari perpustakaan ini."
Saran adiknya itu membuat Taufan bingung. "Kenapa? Aku juga mau ikut," tegas Taufan sembari bersiap-siap menuruni lubang di lantai perpustakaan.
Solar memutar bola matanya ke atas dan menunjuk ke arah lubang yang menganga di lanrai perpustakaan. "Kak Ufan lihat 'kan? Lubang itu terlalu kecil untuk tiga orang."
"Iya sih ...," gumam Taufan setelah melihat dan memperhatikan lubang di . "Jadi bagaimana ini?"
"Seperti kubilang tadi," jawab Solar. "Mendingan Kak Ufan keluar dari sini dulu, daripada Kak Ufan ditagih biaya perbaikan marmer ini."
"Iya juga ya?" Kepala Taufan mengangguk-angguk. Ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Solar. "Ya sudah, aku kembali ke hotel kita di Fusina ya? Telpon aku kalau kalian menemukan sesuatu."
Solar tersenyum tipis setelah berhasil membujuk kakaknya yang satu itu. "Oke, aku kabari nanti kalau sudah selesai urusanku di sini," ucap Solar sebelum ia bersiap turun ke dalam lubang yang menganga di lantai perpustakaan.
Taufan langsung mengamit tangan Solar erat-erat. "Hati-hati, Sol," ucap Taufan sembari membantu Solar turun ke dalam lubang.
"Tenang saja, Kak Ufan. Nanti aku kabari kalau aku menemukan sesuatu." Sebuah senyuman tipis mengukir di bibir Solar yang dibarengi dengan kedipan sebelah matanya. Tanpa ragu-ragu, Solar melepaskan tangan Taufan dan melompat turun ke dalam lubang yang menganga.
Sama seperti AyuYu, kedua kaki Solar mendarat pada sebuah genangan air. Tanpa penerangan, Solar hanya bisa membayangkan genangan air yang dipijaknya itu pastilah menjijikkan.
Dari dalam saku celana, Solar mengeluarkan ponsel miliknya. Seperti dugaannya, ponselnya itu sama sekali tidak bisa menangkap sinyal. Namun menelpon bukan alasan mengapa Solar mengeluarkan ponselnya. Lampu kilat belakang ponsel itu kini beralih fungsi menjadi sumber penerangan yang cukup baik.
Dengan bantuan cahaya lampu kilat LED ponsel, Solar kini bisa mengamati keadaan lubang dan lorong dimana ia dan AyuYu berada.
Pemandangan pertama yang menyambut Solar dan AyuYu adalah cekungan-cekungan yang dipahat dengan tangan pada dinding lorong. Kedua penjelajah itu meneguk ludah mereka adalah kerangka-kerangka manusia yang terbaring di dalam semua cekungan pada dinding lorong. Tidak sedikit pula kerangka manusia yang menggeletak terendam di dalam lorong yang penuh dengan genangan air.
"I-ini ..." AyuYu meneguk ludahnya lagi saat ia mengamati tulang-belulang manusia yang berserakan itu. Semua tulang-belulang kerangka manusia yang terlihat oleh AyuYu nampak sudah menghijau diliputi lumut, sementara tulang-belulang yang tidak tenggelam oleh genangan air tampak sangat kering.
"Ini ... necropolis ... Kota orang mati." Solar memperhatikan seonggok kerangka manusia yang terbaring di dalam cekungan pada dinding lorong.
Dari sela-sela tulang kerangka manusia di dalam cekungan dinding lorong itu Solar menarik sebatang tulang yang sebagian terbungkus kain. "Entah sudah berapa ratus tahun ... Kain pembungkus mayat dan baju yang dikenakan pada mayat-mayat ini sudah hancur, yang tersisa pun sudah sangat lapuk." Kain pembungkus tulang yang dipegang Solar pun dengan mudahnya hancur ketika ditarik dengan jari. "Dari cara penguburan seperti ini, necropolis ini mungkin dipakai saat peralihan kepercayaan paganisme Romawi ke Katolik."
"Semoga saja petunjuk dari Gempa benar," ucap AyuYu. Dia menunjuk ke arah hamparan tulang-belulang kerangka manusia dalam cekungan pada dinding lorong. "Aku tidak mau bergabung dengan ... mereka," lanjutnya lagi sebelum meneruskan penjelajahannya beesama Solar.
Udara di dalam lorong pun terasa lembab dan menghimpit. Entah mengapa, udara stagnan di dalam lorong itu mengingatkan Solar akan gudang belakang rumahnya yang penuh lumut dan barang bekas. Beruntung bahwa sisa-sisa jasad manusia di dalam cekungan-cekungan lorong itu sudah jauh melewati proses penguraian sehingga tidak lagi tercium aroma daging yang membusuk.
Namun ada bau yang sangat dikenal oleh Solar. Indera penciumannya segera diserang oleh bau menyengat yang membuat Solar bergidik. Bukan hanya bau menyengat itu yang membuat Solar bergidik, namun juga salah satu sumber bau itu. Malang bagi Solar, penghasil bau menyengat itu terasa menyeruduk kakinya.
"Aahh! Tikus!" Menjeritlah Solar ketika ia mendapati beberapa ekor tikus lalu lalang di sekitar kakinya. Tanpa perintah dari otaknya, kedua laki Solar secara reflek berjingkrak menghindar dari kerumunan hewan pengerat berbulu hitam yang lalu lalang di sekitaran kakinya.
AyuYu yang melihat rekannya itu berjingkrak-jingkrak memutar bola matanya ke atas. "Hey, hey, hey, stop!" seru gadis itu karena terkena percikan dari genangan air dimana Solar berjingkrak-jingkrak.
Melayanglah tangan AyuYu ke arah pundak partner-nya yang masih melompat-lompat menghindar dari kerumunan tikus. "Kamu gimana sih? Umur sudah hampir kepala tiga tapi takut tikus!"
"Aku benci tikus hitam!" seru Solar setengah menjerit. Dia mencoba mengusir gerombolan tikus-tikus di sekitarnya dengan cara menendang-nendang liar tanpa tentu arah.
Untungnya usaha Solar berhasil dan tidak beruntungnya adalah usahanya itu berhasil pula membuat tubuhnya dan tubuh AyuYu basah kuyup oleh air di dalam lorong itu yang berbau menyengat.
"Tunggu." Ujung hidung AyuYu berkedut. Dia membaui aroma lain yang juga mampir di indera penciumannya dari air kotor di tubuh dan bajunya. "Ini bau-"
Bau yang sama juga menyerang indera penciuman Solar. "Bau kerosin ... Pasti ada pipa minyak yang bocor. Atau rembesan bensin dari pom bensin perahu. Hati-hati saja, jangan nyalakan api."
Semakin lama dan dalam Solar dan AyuYu menjelajah lorong di bawah kota Venice yang dipenuhi tulang-belulang kerangka manusia, semakin terbiasa pula paru-paru mereka dengan udara yang lembab di dalam lorong itu. Kelokan demi kelokan ditelusuri oleh kedua penjelajah itu tanpa mengenal gentar, kecuali Solar yang sesekali mengusir beberapa ekor tikus hitam yang lalu lalang.
Beruntung bagi Solar. Semakin dalam ia menjelajah lorong, semakin sedikit pula jumlah tikus yang berkeliaran. Namun buka berarti penjelajahan Solar dan AyuYu itu tanpa hambatan. Semakin lama, genangan air di dasar lorong menjadi semakin dalam. Dari ketinggian air yang tadinya hanya setinggi mata kaki, kini ketinggian genangan air di dalam lorong necropolis itu sudah mencapai pinggang.
Butuh kehati-hatian ekstra bagi Solar dan AyuYu untuk menjaga ponsel yang mereka andalkan untuk menerangi jalan supaya tidak terjatuh ke dalam air.
Tidak hanya semakin dalam, genangan air di dasar lorong itu juga semakin jernih. Air laut yang mengelilingi kota Venice tersaring oleh bebatuan pondasi bangunan hingga menjadi bersih, kecuali oleh lapisan tipis minyak yang terlihat seperti pelangi mengambang di permukaan air.
"Lihat." Mendadak AyuYu mengalihkan cahaya lampu ponselnya ke arah sebuah cekungan makam yang belum tersentuh oleh genangan air.
Solar menengok ke arah yang disorot AyuYu dengan lampu ponselnya.
"Woaaah ..." Solar terkesima melihat cekungan makam yang diisi oleh jasad manusia yang sudah tinggal tulang-belulang saja. Kerangka jasad yang sudah jauh melewati masa penguraian itu tersusun dalam posisi berbaring sempurna dengan kain pemakaman yang sudah koyak dan hancur digerus oleh jalannya waktu.
"Lihat matanya." Solar menunjuk ke arah tengkorak jasad manusia dalam cekungan dinding lorong. "Aku bertaruh kalau benda kehijauan di atas mata jasad itu adalah koin perak."
Pernyataan Solar itu membuat AyuYu tersenyum. "Darimana kamu bisa pasti begitu?"
"Adat kepercayaan orang Yunani kuno." Solar menjelaskan. "Itu koin upah kepada Charon, tukang perahu sungai yang membawa roh orang mati itu melewati sungai Styx untuk bertemu dewa Hades."
Jawaban yang dilontarkan Solar membuat AyuYu puas. "Hebat juga kamu, Solar," puji gadis itu sembari tersenyum dan terkekeh ringan. "Ngga heran banyak cerita mengenai kamu yang kudengar dari kakakmu ... termasuk phobia kalian akan tikus."
"Aku benci tikus hitam, tapi aku suka tikus putih. Kalau Kak Gempa ngga suka dua-duanya." Enggan terlihat memalukan, Solar buru-buru membela diri dan menambahkan informasi ekstra mengenai phobia tikusnya. Informasi ekstra itu pula disampaikan dengan bergidik ketika Solar mengingat gerombolan tikus-tikus hitam di bagian lorong yang sudah dilewati, jauh di belakang.
Sedemikian jauhnya Solar dan AyuYu menjelajahi lorong di bawah kota Venice itu sampai cahaya lampu ponsel mereka tidak lagi terlihat oleh Taufan yang mengintip ke dalam lubang di lantai perpustakaan. Taufan pun mencoba bergelayut terbalik di tepian lubang dengan menggunakan kedua kakinya, namun ia tidak bisa melihat apa-apa ke dalam lubang yang gelap.
Merasa tidak ada lagi yang bisa ia perbuat, Taufan berdiri dari tepian lubang di lantai perpustakaan. Dia menepuk-nepuk baju dan tubuhnya untuk mengusir debu yang sempat menempel selagi ia bergelayut di tepian lubang. "Semoga berhasil, Sol," gumam Taufan seorang diri sebelum dia melangkahkan kakinya menjauh dari tempat ia berdiri.
Namun ...
Belum sempat Taufan berjalan jauh dari sudut perpustakaan itu ketika langkahnya dihentikan oleh beberapa orang berpakaian jas dan celana panjang hitam lengkap dengan kopiah fez merah. Raut wajah Timur Tengah berpadu Afrika orang-orang itu kaku dan tegas. Tidak ada senyum atau keramahan sedikit pun yang terpampang di wajah mereka.
"Ah ... Ex-excuse me?" Taufan mencoba menyapa orang-orang berpakaian serba hitam dan berkopiah fez merah yang berjalan mendekatinya.
Perasaan Taufan semakin tidak menentu saat rombongan orang-orang berpakaian serba hitam itu mendekati dirinya. Jarak Taufan dan rombongan orang-orang itu sudah demikian dekatnya sampai sebuah tato kecil di bawah jakun salah seorang dari mereka terlihat jelas.
"Ca-can I help you?" tanya Taufan kepada orang-orang yang bergerak mendekatinya. Mengikuti insting dan suara hatinya, Taufan bergerak mundur dan berusaha membuat jarak dengan orang-orang itu.
"We are sorry," ucap salah seorang dari rombongan pria berpakaian serba hitam yang kini berjarak sangat dekat dan mulai mengelilingi Taufan.
"What are-" Hal berikutnya yang terasa oleh Taufan adalah sebuah pukulan keras yang mendarat di bagian belakang lehernya.
Pengelihatan Taufan langsung mengabur. Kedua kakinya langsung terasa lemas saat kesadarannya mendadak lenyap akibat hantaman di bagian belakang leher. Hal terakhir yang terlihat oleh Taufan adalah wajah orang yang menyerangnya dan berhasil meruntuhkan kesadarannya.
.
.
.
Bersambung
Author note:
-Paganisme:
Sistem kepercayaan yang mempercayai dan menyembah dewa/dewi di luar agama yang umum mayoritas dunia.
-Necropolis:
Berasal dari kata bahasa Yunani necro yaitu mayat dan polis yaitu kota. Sesuai dengan namanya, necropolis adalah sebuah daerah khusus untuk kompleks pemakaman besar di luar daerah kota. Sedemikian besarnya necropolis sehingga disebut sebagai kota untuk orang yang sudah meninggal. Pada umumnya, sebuah necropolis hanya untuk kepentingan pemakaman saja dan bukan daerah tempat tinggal. Tidak harus selalu berbentuk wilayah kota, necropolis juga bisa memanfaatkan struktur alami seperti gua.
-Kopiah fez
Sejenis penutup kepala dari daerah Maroko.
