Disclaimer : Harry Potter! J.K. Rowling
Mata hijaunya menatap ke luar jendela kereta. Sesekali ia akan menatap Orion, lalu Corvus, Abraxas dan Avery. Sesekali juga ia akan mengikuti obrolan mereka, ke arah mana pembicaraan mereka dan tertawa ketika Corvus atau Avery melontarkan candaan konyol mereka.
Cincin yang melingkari jari manisnya— Orion mengatakan kalau cincin itu sangat cocok untuknya karena mengingatkan Orion akan dirinya. Harry mulai termenung, bagaimana bisa cincin mengingatkanmu pada seseorang?
Apa sama kasusnya ketika ia menerima firebolt dari Sirius? Firebolt itu mengingatkan dirinya pada Sirius setiap kali Harry menggunakannya di pertandingan Quidditch.
Hatinya kembali berdenyut sakit yang seharusnya tidak seperti ini. Ia sudah melakukan hal yang seharusnya. Harry sudah menyelamatkan Orion Black. Akan tetapi, Harry merasa ada yang salah.
Apa karena Tom Riddle? Bagaimana keadaan horcruxnya? Ada berapa banyak horcrux yang sudah ia buat saat ini?
Harry tidak menyukai bagaimana perasaan cemas yang ia alami dan kepalanya menoleh ke samping tempat Orion duduk, ia sedang membicarakan entah apa dengan Abraxas, obrolannya kedengaran serius. Sehingga Harry memilih untuk tertidur dengan kepala bersender pada jendela— ia mengurungkan niatnya menggunakan bahu Orion sebagai bantal dengan alasan konyol kalau itu akan mengganggunya.
"Hadrian."
"Hadrian kau harus bangun." Dengan sedikit linglung Harry mengerjapkan matanya dan berusaha untuk menaikkan kacamata yang selalu ia pakai— dan baru menyadari kalau dirinya sebagai Peverell tidak mengenakan kacamata sama sekali.
"Maaf aku tertidur."
Corvus memiringkan kepalanya menatap Harry, "kenapa harus minta maaf? Aku melihatmu seperti lelah sekali, seperti habis melakukan pertempuran."
Pertempuran? Pikir Harry aneh.
"Tidak, hanya saja— kata-katanya terhenti apa yang tadi mau ia katakan? Harry menggelengkan kepalanya dan hanya tersenyum pada Corvus.
Melihat kecanggungan yang aneh itu, Abraxas membuka pintu kompartemen, "ayo nyaris semuanya sudah turun kecuali kita."
Harry mengikuti tepat di barisan paling belakang, ia memperhatikan kalau Orion sengaja memperlambat langkahnya seperti memastikan kalau tunangannya itu tidak terlalu jauh darinya. Harry tanpa sadar tersenyum dan menyelipkan tangan kanannya pada tangan kiri Orion yang segera ia genggam erat.
"Ada yang mengganggumu?" Harry menatap Orion sesaat sebelum menggelengkan kepalanya.
Mata peraknya menatapnya ragu tapi segera teralihkan ketika mereka sudah tiba di aula besar dan duduk di meja mereka masing-masing.
Harry merasa aneh sepanjang makan malam di aula besar matanya tidak bisa lepas dari Orion. Bukan karena dirinya yang cinta mati dengan pewaris Black atau karena ia sangat menawan malam ini bahkan dengan tampilan yang sedikit acak-acakan— bukan karena itu.
"Hadrian." Panggil Avery.
"Ya?"
"Aku tahu Orion adalah tunanganmu," katanya. "Tapi apa harus kau menatapnya terus seperti itu?"
Wajah Harry memerah, suara Avery yang tergolong keras membuat perkataannya terdengar nyaris oleh separuh meja yang diduduki Slytherin.
Harry menyapukan padangannya ke sekeliling dan matanya menangkap gadis dari tahun kedua dan ketiga yang tertawa malu dan berbisik satu sama lain.
Seolah merasakan ketidaknyamanan Harry, Orion menatap Avery tajam. "Aku kan hanya bertanya." Avery menyengir dan Orion masih setia dengan tatapan mematikannya.
Harry menundukkan kepalanya, ia benar-benar ingin mengubur dirinya menjauh dari kermaian saat ini, seperti apa tadi aku menatap Orion? Batinnya panik.
Orion menghela napasnya, "mau kembali?"
Mendengar pertanyaan yang diajukan untuknya Harry mendongak dan mengangguk.
Harry duduk di tepi tempat tidurnya dan memperhatikan Orion yang sedang mengganti bajunya— ya, pewaris Black itu sedang mengganti bajunya— hanya kemejanya sebenarnya, dan Harry malu setengah mati ketika membayangkan kalau Orion membuka seluruh pakaiannya tepat di depannya.
Setelah mengutuk dirinya karena berpikir yang tidak-tidak, Harry menguburkan wajahnya di bantal miliknya dan sedikit bergeser ke tengah ketika merasakan tekanan di tempat tidurnya. "Kau bertingkah sedikit aneh hari ini."
Harry terdiam benar-benar tidak tahu bagaimana harus menjawab itu. Ia merasa normal, sangat nomal, sampai-sampai kata normal itu terasa asing di mulutnya. Harry bangkit dan duduk di tempat tidurnya, melonggarkan dasi hijau Slytherin yang melingkari lehernya dan membuangnya ke lantai.
Ia bergerak melingkari lengannya di leher Orion dan menyentuh wajahnya agar ia berbalik menatapnya. "Hadrian?" Kedua alis Orion terangkat.
Jari-jari Harry yang dingin mengelus pipi Orion dan turun ke kedua bibirnya yang terbuka. Ia menekan bibir bawahnya dan mendekatkan wajahnya untuk menciumnya. Orion terdiam sesaat sebelum berbalik dan memiringkan kepalanya memperdalam ciuman mereka.
"Kau benar-benar aneh hari ini." Ujar Orion gusar. Ia mengacak-acak rambutnya dan terhenti ketika Harry menyentuh pergelangan tangannya dan menariknya hingga mereka berdua berbaring di atas tempat tidurnya.
Kedua mata yang berbeda itu saling terkunci satu sama lain. "Apa kau mau mengatakan sesuatu Hadrian? Kau sudah diam—
Kata-kata Orion terhenti ketika Harry menariknya ke bawah dan menciumnya lagi. Terkejut dengan gerakan yang tiba-tiba dan sedikit meringis ketika bibir mereka berbenturan dengan cara yang sedikit kasar. Tapi Orion tidak menjauh dan memperhatikan kedua pipi Harry yang memerah.
Aneh.
Kata-kata itu terus terngiang di dalam kepalanya seperti kaset rusak. Kata-kata itu sering ia dengar dulu tapi entah kenapa ia tidak ingat siapa yang pernah mengatakan itu kepadanya.
Dan setetes air mata lolos begitu saja dari matanya. Orion yang merasa kalau pipinya basah segera menjauh dan menatap Harry panik. "Apa aku menyakitimu?"
"Tidak. Sama sekali tidak."
Orion mengusap kedua pipi Harry dan mencium puncak kepalanya, "tidurlah, kau membutuhkan itu."
"Tetap berada di sampingku." Harry merasa kebutuhannya akan keberadaan Orion di sisinya semakin meningkat.
Tanpa ada sepatah kata lagi yang keluar dari mulut keduanya. Orion membaringkan dirinya di samping Harry dan memeluknya erat.
Harry berkedip dengan tenang ketika ia menyadari kalau dirinya saat ini sedang tidak berada di atas tempat tidurnya atau di Hogwarts. Tempat yang tidak asing ini, yang dipenuhi kegelapan, namun ia masih bisa melihat sekelilingnya dengan jelas.
"Lama tidak berjumpa, Tuan." Harry mendongak dan tersenyum ketika melihat siapa yang sedang berbicara dengannya.
Mereka terdiam sesaat dan Harry hanya menatap Death dengan tatapan yang sulit diartikan. "Anda telah melakukan sesuatu yang luar bisa."
Luar biasa?
"Aku tidak merasa seperti melakukan apa-apa."
Dibalik tudungnya yang menutupi sebagian besar wajahnya Death tersenyum. "Tentu saja anda sudah melakukan sesuatu yang luar biasa."
Death melambaikan tangannya dan keadaan sekeliling mereka berdua berubah. Harry bisa melihat Ayahnya— James Potter, Sirius Black, Remus Lupin, dan Peter Pettigrew bersama dalam sebuah foto. Lalu adegan itu berubah menjadi kelahirannya dan tepat di tanggal 31 Oktober adalah hari di mana kedua orang tuanya meninggal.
Adegan itu terus berputar di sekitarnya sampai di hari kematiannya di tahun kelima— Harry merasakan deja vu. Seperti baru saja memasuki pensieve miliknya sendiri atau memasuki kenangan milik Tom Riddle melalui buku hariannya.
Death menarik kembali potongan-potongan ingatan itu dan menggantinya dengan kejadian yang tidak pernah dia ingat sebelumnya— atau lebih tepatnya tidak pernah terjadi. Karena Death tidak sedang menunjukkan ingatan kepadanya melainkan sebuah masa depan.
Ia bisa melihat dirinya yang lebih tua memangku seorang anak kecil yang usianya tidak lebih dari tiga tahun. Dia benar-benar mirip seperti Sirius versi mini. Apa itu Sirius? Anak itu tersenyum lebar dan dengan mata bulatnya yang memiliki kemiripan dengan Orion menatapnya seolah-olah ia adalah dunianya— satu-satunya kebahagiaan miliknya.
"Apa anda melihat itu, Tuan?" Harry berusaha mengatur napasnya, meredam emosi yang berkecamuk dalam dirinya.
"Kau menunjukkan sesuatu seperti ini padaku, seperti bukan kau yang biasanya."
"Anda sudah berada di tahun ke-5 anda." Harry mengangguk.
"Itu artinya anda tidak memiliki kenangan apa-apa lagi setelah tahun ke-5 anda."
Harry mengerutkan keningnya, "apa artinya itu?"
"Anda akan mengerti ketika waktunya sudah tiba, Tuan. Apa anda membutuhkan bantuan saya untuk membunuh Tom Riddle?"
Harry tersenyum, "mungkin. Aku akan memanggilmu jika aku membutuhkanmu."
Death tersenyum, "saya sudah terlalu lama menahan anda di sini, sudah waktunya anda bangun, Tuan."
Saat bangun, Harry mengerutkan keningnya ketika melihat ekspresi ketakutan di wajah Orion. Wajahnya pucat dan napasnya sedikit memburu, "Orion, ada apa?"
"Kau membuatku ketakutan setengah mati." Harry menatapnya bingung, apa aku baru saja melakukan sesuatu yang salah?
"Aku tidak mengerti."
"Kau tidak bangun-bangun, tidak peduli seberapa keras usahaku untuk membangunkanmu." Harry terdiam ia sama sekali tidak merasakan guncangan atau apapun itu yang membuatnya bangun dari tidurnya.
Sepertinya ulah Death. Pikir Harry.
"Aku baik-baik saja. Pukul berapa sekarang?"
"9."
Harry terkesiap dan segera bangun dari tempat tidurnya, "kita terlambat!"
Orion menarik tangan Harry yang secara praktis membuatnya kembali ke tempat tidur. "Aku sudah meminta Abraxas untuk mengatakan bahwa kau sakit dan aku bersikeras untuk merawatmu."
"Membolos di hari pertama kita masuk." Harry terkekeh. "Dan aku membuat pewaris Black juga ikut membolos."
Orion mendengus, "dan semakin lama aku akan mengikuti kebiasaan burukmu itu."
Kembali memejamkan matanya, Harry teringat akan gambaran masa depan yang diperlihatkan Death padanya. Bayi yang sangat manis dan lucu tanpa sadar ia meletakkan tangannya di perutnya yang datar. Tersenyum membayangkan betapa alaminya perutnya membuncit dan merasakan tendangan pertama bayi seperti yang Harry sering dengar di lingkungan mugglenya dulu.
"Kita harus sarapan. Kau makan sedikit sekali tadi malam."
"Aku harus mandi. Kau tidak mau kan berjalan dengan tunanganmu yang bau." Harry melompat dari tempat tidurnya sebelum mengecup pipi Orion singkat.
Orion menggelengkan kepalanya terheran-heran dengan perubahan suasana hatinya yang drastis
Saat minggu-minggu telah berlalu, Harry melatih sihirnya tanpa diketahui oleh siapapun, ia sempat ingin memberi tahu Orion tapi segera mengurungkan niatnya. Sihir Peverell miliknya jauh lebih kuat dibandingkan dirinya saat menjadi Potter.
Harry bisa merasakan gelombang energi sihir yang menyelimuti tubuhnya. Terlepas dari seberapa hebat sihirnya bahkan dengan menjadi Master of Death sekalipun, mengendalikan sihirnya sampai batas tertentu adalah salah kesulitan yang ia alami. Karena ia masih menjadi manusia.
Tom Riddle bukanlah orang yang sabar dan sejauh yang bisa Harry yakini, Tom berada di gubuk Gaunt. Tempat di mana ibunya pernah dibesarkan. Keluarga Gaunt bukanlah keluarga yang bahagia, mereka telah jatuh miskin dan tidak bisa mempertahankan kekayaan mereka sendiri.
Meskipun seperti itu, mereka masih memiliki beberapa pusaka tua dan salah satunya adalah cincin Morvolo Gaunt.
"Death." gumam Harry.
Kematian akan selalu kembali kepadanya karena bagaimanapun ia adalah seseorang yang mengendalikan kematian.
Tidak akan ada Lord Voldemort di masa depan.
Tidak akan ada perang dunia sihir setelah kekalahan Grindelwald.
Karena memang seperti itulah takdirnya.
Orion tidak bisa menyangkal kalau ada yang mengganjal pikirannya saat ini. Belakangan ini, ia merasa Harry menjadi cenderung pendiam dan tenggelam dalam pikirannya. Lalu, setelahnya dia akan tersenyum cerah seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Seperti menghadapi dua sisi dari Hadrian Peverell yang berbeda dan bertolak belakang. Dalam upaya untuk menenangkan pikirannya, Orion berkutat dengan pekerjaan rumah Arithmancynya bersama dengan Abraxas.
"Abraxas." Panggil Orion.
"Ya?" Sekian lama Abraxas menunggu, Orion tidak melanjutkan apa yang ingin ia bicarakan.
Abraxas mengangkat bahunya dan kembali menulis di atas perkamennya. "Abraxas."
"Ya?"
Dengan kesal Abraxas menendang kaki Orion yang duduk di seberangnya. "Untuk apa kau lakukan itu?!"
"Kau memanggilku dua kali! Dan tidak mengatakan apa-apa! Apa yang mau kau bicarakan, hah?!"
"Kalian bedua! Tidak membuat keributan di perpustakaanku!" Teriak madam Pince.
Orion mengelus tulang keringnya yang sakit dan Abraxas mendengus tidak senang.
Ada di mana Abraxas merasa bahwa berteman dengan Orion membuat kewarasannya berada di ujung tanduk. Sebagai pewaris dari keluarga darah murni membuatnya harus menjalin hubungan dengan keluarga yang sama kuat dengan Malfoy. Dan Black adalah salah satunya.
Kesan pertama di usianya yang ke-9 ketika pertama kali bertemu dengan Orion Black adalah dia pewaris yang sempurna, tidak ada celah yang diperlihatkan oleh Orion yang menjadi kelemahannya— kata-kata sempurna yang Abraxas agungkan itu runtuh begitu saja ketika Orion bertemu dengan Hadrian Peverell.
Orion seperti dibuat bertekuk lutut dihadapan pewaris Peverell. Jika ada sesuatu yang salah dengan Hadrian maka yang pertama kali bergerak adalah Orion.
Sifat dingin dan angkuh yang dilihat Abraxas sebelum mereka resmi masuk ke Hogwarts perlahan mulai hilang tergantikan oleh senyuman tipis dan tidak ada lagi hinaan terhadap kelahiran muggle— seperti darah lumpur keluar dari mulutnya. Karena entah bagaimana Harry benar-benar membenci kata-kata hinaan itu dan tidak segan untuk mengutuk siapa saja yang menyebutnya.
Meskipun ia, Corvus, dan Avery masih sering menghina kelahiran muggle tapi ia tidak pernah melakukannya tepat di depan Harry. Karena memancing kemarahan Peverell adalah satu dari sekian banyak hal yang tidak ingin dilakukan olehnya.
"Apa kau melihat di mana Hadrian hari ini?" Tanya Orion tiba-tiba.
Abraxas menggelengkan kepalanya, "selain saat sarapan tadi aku sama sekali belum melihatnya."
"Menurutmu ada di mana dia?"
"Kau yang bertunangan dan kelak akan menikahinya kenapa kau bertanya padaku?"
Orion menatapnya kesal, "kalau aku tahu aku tidak akan bertanya."
"Terkadang kau ada benarnya. Dan untuk menjawab pertanyaanmu tadi, aku tidak tahu ada di mana Hadrian saat ini." Katanya sambil mendongak menatap langit-langit perpustakaan, "mungkin sedang bersama dengan Corvus?"
Orion terdiam sesaat sebelum mengemasi barang-barangnya, memasukkannya ke dalam tas dan pergi begitu saja meninggalkan Abraxas dalam kebingungan.
Mata peraknya berbinar ketika menemukan Corvus yang berjalan berdampingan dengan Nott, Avery, dan segera muram ketika tidak ada tanda-tanda keberadaan Harry di sana.
"Orion?" Corvus mengerutkan keningnya ketika melihat pewaris Black itu berlari ke arahnya, "ada apa?"
"Kau tidak bersama dengan Hadrian?" Orion menatap ketiga orang di depannya dan serentak mereka menggelengkan kepalanya.
"Apa kau melihat Hadrian sepanjang hari ini?"
"Aku tidak melihatnya kecuali saat sarapan." Ujar Corvus dan Avery bersamaan.
Nott memiringkan kepalanya, "bukannya kau sekelas dengan Hadrian?"
Corvus mengangguk, "ya, tapi aku tidak melihatnya di kelas hari ini."
"Memangnya ada apa?" Tanya Avery bingung.
Tidak memiliki keinginan untuk menjawab pertanyaan Avery, Orion kembali melangkahkan kakinya untuk kembali ke asrama mereka.
Tidak banyak orang yang berdiam diri di asrama saat ini, di common room Orion juga tidak menemukan jejaknya sama sekali. Beberapa tahun pertama yang ada di sana juga menggelengkan kepalanya.
Ketika ia sudah sampai di kamar mereka, sprai kasur Harry dingin menandakan kalau ia tidak kembali. Orion tidak bisa menenangkan detak jantungnya yang bergemuruh. Perasaan tidak nyaman menguasai dirinya.
Orion mendekati meja belajar Harry dan melihat adanya buku yang terbuka dan secarik kertas yang terselip. Diambilnya secarik kertas itu dan melihat ada tulisan Harry di atasnya.
Aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Aku akan kembali kepadamu— Orion Black, ketika aku sudah menyelesaikan tugasku.
Hadrian Peverell.
Napas Orion memburu ketika membaca pesan singkat itu, "Hadrian telah pergi."
tbc.
