COMPLICATED
EPISODE 5
Shikamaru memakirkan mobilnya di halam rumah Ino, ia keluar dari mobil dan membuka pintu penumpang tempat dimana Ino terduduk lemas. Shikamaru langsung menggendong Ino ala bridal style kedalam rumah.
"Pak tolong bukakan pintu rumah" titah Shikamaru pada Security yang berjaga di rumah Ino
Security itu pun langsung bergegas membukakan pintu, saat masuk Shikamaru di sambut oleh Ayah Ino. Inoichi yang sepertinya akan pergi untuk menjemput Ino.
"Ada apa ini Shikamaru?" Inoichi berlari menghampiri Shikamaru yang menggendong Ino.
"Trauma Ino kambuh Ji-san" jawab Shikamaru.
"Bawa Ino ke kamarnya" titah Inoichi
Shikamaru langsung membawa Ino pergi ke Kamarnya.
Inochi buru-buru menghubungi dokter yang yang menangani Ino ketika traumanya kambuh.
"Moshi Moshi Tsunade sensei. bisakah kau kerumahku? trauma Ino kambuh kembali" ucap Inoichi kepada Tsunade melalui telepon
"Hai, Arigatou gozaimasu" Inoichi menutup telepon dan pergi ke kamar Ino
Di dalam kamar Ino sudah di baringkan di tempat tidurnya.
Inoichi duduk di pinggir tempat tidur dan mengelus kepala Ino lembut.
"Bagaimana bisa trauma Ino kembali kambuh Shikamaru?" tanya Inoichi pada Shikamaru
Shikamaru bingung harus jawab bagaimana, soalnya tidak ada yang tau mengenai hubungan antara Ino dan Sasuke.
"Besok adalah hari peringatan kematiannya, mungkin Ino tiba-tiba teringat dan traumanya kembali muncul" jelas Shikamaru sedikit berbohong
"Ternyata besok yaa.." Inoichi menatap sendu kearah Ino yang terlelap tapi dengan raut wajah gelisah.
Dari arah pintu muncul Choji yang membawa tas Ino dan di susul Tsunade di belakangnya.
"Tsunade sensei" sapa Inoichi
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Tsunade
"Ino masih belum sadar" jawab Shikamaru
Tsunade mendekati Ino dan memeriksa keadaannya, pemeriksaan memakan waktu hampir 20 menit lebih.
"Apa putriku baik-baik saja?" tanya Inoichi cemas
"Apa kalian mengungkit masalah tentang trauma Ino?" tanya Tsunade
"Tidak Tsunade sensei, sepertinya Ino teringat besok adalah hari-Nya." jawab Shikamaru
Tsunade memijit pangkal hidungnya, "untuk saat ini jauhkan Ino dari segala hal yang dapat memunculkan traumanya, biarkan dia beristirahat beberapa hari ini" jelas Tsunade
"Ah, karena besok adalah hari-Nya. jangan biarkan Ino pergi kesana" larang Tsunade
"Tapi, setiap tanggal itu Ino pasti akan pergi kesana" ucap Inoichi
"Aku sudah bilang untuk menjauhkan Ino dari sumber Traumanya. Kau ingin putrimu kembali ke-keadaan seperti tahun lalu?" Ucap Tsunade sedikit keras.
Inoichi terdiam mendengar perkataan Tsunade, sebenarnya dia setuju dengan usul Tsunade tapi Ino, dia pasti tetap nekat untuk pergi.
"Aku tau kecemasan mu, jika Ino bangun segera beri dia obatnya. dan jika Ino tetap ingin pergi biar aku yang hadapi" jelas Tsunade
"Baiklah, aku mengerti" ucap Inoichi pasrah
"Aku pergi dulu" pamit Tsunade
"Hai, Arigatou gozaimasu" balas Inoichi
"Biar aku mengantarmu sampai depan sensei," tawar Shikamaru, Akhirnya Shikamaru mengantar Tsunade keluar.
"Sepertinya aku harus menghubungi pihak sekolah kalau Ino akan absen untuk beberapa hari kedepan" ucap Inoichi
"Itu tidak perlu paman" Ujar Choji
"Tidak perlu?" tanya Inoichi tidak mengerti
"Aku dengar Ino di skors selama tiga hari" jelas Choji
"Ino di skors???" tanya Inoichi kaget, "Tapi kenapa?"
"Eum, Ino bertengkar dengan Sasuke" jelas Choji ragu-ragu
"Bocah Uchiha itu selalu saja mencari gara-gara dengan putriku!" guman Inoichi kesal, tangannya mengepal erat.
BRAKK!!
Pintu kamar Ino terbuka kasar dan menampilkan Akari, ibu Ino. dengan penampilan berantakan serta napas tak teratur, ia menghampiri Inoichi dan Ino.
"Anata, kenapa Ino jadi seperti ini?" tanya Akari pada Inoichi
Inoichi menggeser tubuhnya agar sang istri bisa mendekat pada Ino
"Traumanya Ino kembali, dia hanya terkejut saja" jelas Inoichi
Akari menggenggam tangan Ino dan menciumnya lembut.
"Ino, Kaasan ada disini. bangun sayang" ucap Akari dengan air mata yang sudah meleleh di pipinya.
"Tenanglah Akari, Ino sudah di periksa Tsunade sensei, dia sebentar lagi pasti siuman" Inoichi mencoba menenangkan Akari.
"Bagaimana bisa traumanya kembali? padahal selama ini Ino baik-baik saja" Akari menatap Inoichi penuh tanya
Dengan lembut Inoichi menghapus air mata di pipi Akari, "Besok adalah hari-Nya, Ino pasti teringat kembali kejadian yang lalu" jelas Inoichi
"Tidak mungkin hanya itu Anata, Setiap bulan di tanggal yang sama, Ino pasti pergi menemuinya. Tapi, tidak sampai traumanya kembali kambuh seperti ini." sangkal Akari
"Pasti ada yang menekan Ino untuk mengingat kejadian buruk itu" duga Akari
Inoichi mulai memikirkan perkataan Akari, jika Ino sampai pingsan seperti ini pasti ada sesuatu salah.
Shikamaru yang sudah berada di kamar Ino menghampiri pasangan Yamanaka, "Jiisan, Baasan, aku pamit pulang karena ada yang harus aku kerjakan" pamit Shikamaru
"Aku juga," sahut Choji
"Baiklah, terimakasih sudah mengantarkan Ino" ucap Inoichi
"Jiisan, tidak perlu berterima kasih. Ino adalah sahabat yang sudah kami anggap saudrara" Ucap Shikamari dan Choji menganggukinya.
Inoichi memberikan senyum bangga pada Shikamaru dan Choji, mereka pun pergi dari kamar Ino dan pulang kerumah mereka.
Tak berselang lama setelah Shikamaru dan Choji pergi, Ino mulai tersadar dari pingsannya.
"Ungh.." gumam Ino, perlahan matanya terbuka dan menampilkan siluet orang tuanya yang masih samar.
"Ino, ini kaasan sayang" ucap Akari saat melihat putrinya sudah mulai membuka mata
"Kaasan..?" tanya Ino pelan
"Iya sayang, Bagaimana keadaan mu? apa ada yang sakit?" Tanya Akari beruntun.
"Akari, jangan memberikan Ino banyak pertanyaan. biarkan dia minum dulu" ucap Inoichi dengan segelas air yang sudah ada di tangannya.
"Minum dulu Ino,"
Akari membantu Ino untuk duduk, Ino menerima gelas yang berisikan air yang diberikan ayahnya.
"Pelan-pelan," ucap Akari.
"Terimakasih, Kaasan, Tousan" ucap Ino
"Ini, minum obatnya" Inoichi menyodorkan pil obat kepada Ino, Ino menatap obat itu lama dan sadar jika itu adalah obat yang tidak ingin dia minum lagi.
"Aku tidak mau." tolak Ino
"Kamu harus meminumnya Ino, Tsunade sensei menyuruh mu untuk meminumnya" jelas Inoichi
"Aku tidak mau Tousan! Jika aku meminumnya aku tidak bisa pergi menemuinya." Ino tetap kekeh untuk tidak meminum obatnya.
"Kau tidak boleh pergi kesana besok." ucap Inoichi tegas
Mata Ino terbelalak terkejut, "Kenapa? kenapa aku tidak boleh pergi kesana? kenapa Tousan?" Ino bertanya dengan nada cemas
"Tsunade sensei melarang mu untuk mendekati sumber trauma mu, kau tidak di perbolehkan pergi kesana."
"TIDAK MAU! AKU AKAN TETAP PERGI KESANA!" ucap Ino dengan suara keras.
"Jangan membantah Ino, turuti ucapan Tousan. atau kamu selamanya tidak akan pernah bisa pergi kesana." Ucap Inoichi final.
"Tidak, aku akan tetap kesana" Ino tetap kekeh ingin pergi, ia menatap Inoichi dengan sungguh-sungguh
"kamu ingin Tousan memindahkannya ke tempat yang jauh? tempat dimana kamu tidak akan pernah bisa menemukannya" ancam Inoichi.
Ancaman Inoichi sepertinya berhasil, Ino terdiam dengan tubuh gemetar.
"Tidak.. jangan Tousan, aku mohon jangan" Ucap Ino yang sudah menangis.
Akari menatap sedih kearah Ino, lalu ia merengkuh Ino kedalam pelukannya. Sebenarnya Inoichi tidak tega harus mengancam Ino, tapi ini semua demi kebaikan Ino sendiri.
"Sekarang minum obatnya"
"Aku tidak mau Tousan" Ino menggeleng dalam pelukan Ibunya.
"Ino–"
"Inoichi, berhenti memaksa Ino. jika dia tidak mau meminumnya biarkan saja" Akari menatap Inoichi dengan sedikit memohon.
Inoichi hanya bisa menghela nafas, apalagi Istrinya itu sudah memanggil dia dengan namanya. Jika dia tetap memaksa Ino, maka dia harus bersiap-siap perang dingin dengan istrinya itu.
"Kau keluarlah, biarkan Ino beristirahat" Ucap Akari pada Inoichi, terdengar seperti usiran secara halus kepada Inoichi.
Inoichi menuruti ucapan Akari dan pergi dari kamar Ino.
"Tousan, mu sudah pergi. kamu bisa jelaskan apa yang terjadi?" tanya Akari dengan nada sehalus mungkin
"Aku, aku hanya teringat kejadian yang lalu Kaasan" jawab Ino
"Hanya itu?" Akari masih belum percayalah jika hanya itu alasannya.
"Aku berpikir, akulah yang telah benar-benar membunuhnya." Ino berusaha menahan air matanya, ia lelah terus menerus menangis
"Itu bukan salahmu Ino, kenapa kamu terus menyalakan dirimu sendiri" Akari mencoba meyakinkan Ino jika itu bukanlah salahnya.
"Tapi, jika bukan karena ulahku. aku tidak akan kehilangannya Kaasan," percuma saja menahannya, air matanya kembali mengalir, "Jika saja aku sedikit berhati-hati dan menuruti perkataan Tousan untuk tidak pergi, dia pasti masih hidup sekarang." Ino kembali menangis di pelukan Ibunya.
Akari mengelus rambut Ino lembut, dia tau bagaimana hancurnya Ino saat itu. dia tidak ingin putrinya kembali ke sosok seperti tahun lalu, dia tidak sanggup melihat sosok Ino yang rapuh.
"Aku, aku ingin menemuinya Kaasan. dia pasti kesepian dan marah jika aku tidak datang" ucap Ino di sela tangisannya
"Kau bisa menemuinya, tapi tidak besok Ino. kita tunggu sampai keadaanmu pulih kembali yaa," bujuk Akari.
Ino hanya mengangguk, dia tidak bisa apa-apa jika Tousan, nya sudah membuat keputusan.
'Aku harap, kamu tidak kesepian. maaf aku tidak bisa menemuimu tepat waktu. maafkan aku, Nobu.' – Ino
.
.
.
.
.
Nobu
Nama ini artinya memiliki keyakinan pada sesuatu atau untuk memperpanjang hubungan
