COMPLICATED

EPISODE 6


10 September 2xxx

Hari ini seharusnya Ino pergi menemuinya, tapi. lihatlah sekarang, dirinya hanya bisa terduduk menyedihkan diatas kasurnya. pandangan kosong kedepan, di dalam kepalanya terus berfikir bagaimana caranya agar dia bisa pergi dari rumah dan pergi menemuinya.

Tapi jika dia sudah berhasil pergi pun, dia tidak akan bisa pergi untuk menemuinya. pasti Tousan-nya sudah menempatkan beberapa penjaga di tempat yang akan dia kunjungi.

"Kau menyedihkan Ino," gumam Ino pelan

drrtt drttt

Handphone Ino berbunyi menandakan ada pesan masuk, Ino langsung meraih handphonenya dan membaca pesan yang baru dikirim padanya.

isi pesan:

Ada apa Ino-chan? apa hari ini kau tidak datang?

apa kamu sakit lagi?

Ino ingat jika bukan hanya dirinya yang sering mengunjungi tempat itu, tapi ada satu orang lagi yang sering mengunjunginya. dengan cepat Ino membalas pesannya.

Ino: Baa-san, bisakah kita bertemu di Akatsuki Cafe?

Tak perlu menunggu lama pesan Ino segera di balas.

Anonim: Baiklah, Baasan akan kesana

Setelah mendatap balasan Ino cepat-cepat bersiap, tidak perlu waktu lama bagi Ino kini ia sudah selesai berpakaian. Yang jadi masalahnya sekarang adalah bagaimana caranya dia keluar dari rumah, Ayahnya pasti tidak akan mengizinkannya untuk pergi.

"Benar, Shikamaru!" Ino segera menghubungi Shikamaru untuk meminta bantuan.

"Moshi Moshi, Shika. tolong bantu aku." ucap Ino pada Shikamaru melalui telepon.

"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Shikamaru.

"Jemput aku di rumah, dan antar aku ke Akatsuki Cafe. kau mengertikan?" ucap Ino, ia yakin Shikamaru mengerti apa yang dimaksudnya.

"Mendokusai, aku kesana." Shikamaru menutup telepon

Ino turun dari kamarnya menuju pintu rumahnya, tapi saat melewati ruang tamu, Ino melihat ayahnya sedang berbincang dengan salah satu koleganya.

"Ino," panggil Inoichi saat melihat Ino, "Kamu mau kemana?" tanya Inoichi saat melihat Ino sudah sangat rapi

"Aku ingin keluar dengan Shikamaru" jawab Ino

"Kemana?"

"Akatsuki cafe?"

"Kenapa?" tanya Inoichi menuntut

"Aku bosan terus berada di kamar" jawab Ino

"Ingat, jangan pergi kesana" ucap Inoichi mengingatkan Ino

"Aku tau," jawab Ino pelan, "Aku pergi dulu, ittekimasu" pamit Ino

"Itterasshai," jawab Inoichi

Ino sudah sampai di depan rumahnya, dan terlihat mobil shikamaru sudah terpakir disana. Ino langsung memasuki mobil Shikamaru dan duduk di kursi penumpang bagian depan.

"Kau yakin ingin menemuinya?" Shikamaru bertanya untuk memastikan

"Aku yakin, ayo kita pergi" putus Ino

Shikamaru hanya bisa menuruti keinginan Ino dan mereka pun pergi menuju Akatsuki cafe.


Akatsuki Cafe.

Mobil Shikamaru sudah terpakir di parkiran Akatsuki Cafe, Shikamaru dan Ino turun dari mobil.

"Kamu tunggu disini saja Shika," ucap Ino

"Tidak, aku akan menemanimu" Shikamaru menolak

"Demo-"

"Aku ikut masuk atau aku melaporkan ini ke Inoichi Jiisan?" ancam Shikamaru

"Che! Oke kamu ikut" Ino membiarkan Shikamaru untuk ikut bersamanya

Ino dan Shikamaru memasuki Akatsuki Cafe, tanpa menuju ke bagian resepsionis, Ino langsung pergi ke area private room.

Saat sampai di depan pintu salah satu private room, sebelum membuka pintu ruangan itu Ino menarik nafas lalu menghembuskan,nya.

Setelah siap, Ino membuka pintu itu dan masuk kedalam di ikuti Shikamaru.

"Baasan," panggil Ino saat melihat seorang wanita paruh baya sedang duduk menunggunya.

"Ino-chan, Shikamaru-kun" sapa wanita itu

Ino dan Shikamaru duduk di kursi yang bersebrangan dengan wanita itu.

"Mau Baasan pesankan minuman?" Wanita itu menawarkan untuk memesan minum

"Tidak perlu Mikoto-baasan" tolak Ino halus, dan wanita yang ada di hadapan Ino dan Shikamaru adalah Mikoto Uchiha, ibu dari Sasuke Uchiha.

"Baiklah," Mikoto tersenyum melihat Ino

"Apa Baasan, pergi kesana?" Ino bertanya ragu-ragu

"Hai, tapi saat sampai disana Baasan tidak melihatmu. makanya Baasan langsung mengirimi mu pesan" jelas Mikoto

Setelah mendengarnya Ino langsung bernafas lega.

"Syukurlah, Baasan kesana" ucap Ino lega.

"Apa terjadi sesuatu?" Mikoto menatap Ino khawatir, soalnya tidak biasa Ino akan absen dari kegiatan rutinya setiap bulan.

Ino menutup matanya sebentar untuk menghalau air matanya meleleh, "Daijoubu Baasan," jawab Ino sambil memaksakan untuk tersenyum

Mikoto menyentuh lembut punggung tangan Ino yang ada di atas meja, "Apa Sasuke mengganggu mu lagi?" tebak Mikoto

Ino tertegun sebentar, "Sasuke masih marah padaku Baasan" Ino mengepalkan tangannya yang masih di genggam Mikoto.

"Apa tidak sebaiknya menceritakan hal yang sebenarnya pada Sasuke?"

"Tidak Baasan, aku tidak ingin hubungan Sasuke dan Fugaku Jiisan merenggang lagi" Ino menggeleng, matanya sudah berkaca-kaca siap menumpahkan air mata yang terbendung sejak tadi.

"Gomen ne, Aku tidak bisa melakukan apapun saat itu," sesal Mikoto. "Jika saja aku bisa membujuk Fugaku, kamu pasti tidak akan kehilangannya"

Air mata Ino yang sejak tadi terus ia tahan meluruh keluar, "Baasan tidak salah apapun, aku yang salah karena terlalu egois"

"Tidak Ino-chan," Mikoto menggeleng pelan, "Jika Fugaku tidak melakukan hal itu pasti Nobu sudah ada di pelukanmu"

Mendengar itu, Ino semakin terisak. air matanya mengalir deras, isakannya terdengar begitu pilu, Shikamaru yang berada di samping Ino, langsung membawa Ino kedalam pelukannya.

Mikoto sangat menyesal melihat keadaan Ino sekarang, dulu Ino yang ia kenal adalah gadis yang ceria dan tangguh. tapi, yang ia lihat hari ini begitu rapuh.

"Kamu tenang saja, meski kamu tidak bisa menemuinya Baasan akan menggantikanmu untuk mengunjunginya."

"Arigatou Baasan" lirih Ino.

"Bagaimana pun, Nobu adalah cucu Baasan" Mikoto memberikan senyum khas keibuan.

"Nande? padalah dia tidak pernah dilahirkan," Ino menatap kosong kearah Mikoto

"Dilahirkan atau tidak, kamu tetap menyayanginya, kan?" Ino mengangguk mengiyakan pertanyaan Mikoto

"Begitu juga Baasan, dia tetaplah cucu Baasan. anakmu dan Sasuke, Baasan sangat bersyukur dia pernah hidup didalam rahimmu." Mikoto melihat Ino menatapnya dengan airmata yang masih terus mengalir di pipinya.

"Beruntung sekali Nobu memiliki ibu sepertimu, ibu yang sangat menyayanginya. kamu bahkan memilihkan tempat yang sangat indah sebagai rumahnya, jadi, Nobu tidak akan pernah bosan berada disana" Mikoto bangun dari duduknya dan menghampiri Ino.

"Saat pagi hari, dia bisa melihat matahari terbit yang indah. di siang harinya, burung-burung dan angin akan menemaninya bermain, di sore hari dia akan di temani senja yang menenangkan. Dan, dimalam hari dia tidak perlu merasa takut akan kegelapann, karena langit malam akan ditaburi ribuan bintang dan bulan yang akan terus menjaganya" Mikoto menghapus air mata Ino dan membawa Ino kedalam pelukannya.

"Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk Nobu, Ino-chan. jadi, jangan menyalahkan dirimu sendiri."

Tangis Ino kembali pecah mendengar perkataan Mikoto

"Dakara, berhenti menangis dan tersenyumlah, Nobu pasti ingin melihat ibunya tersenyum dan bukannya menangis"

Ino mengangguk di dalam pelukan Mikoto

"Arigatou Mikoto-baasan" Ino membalas pelukkan Mikoto

Butuh setengah jam bagi Ino untuk berhenti dari tangisannya, kini Ino sudah kembali tenang.

"Sudah lebih baik?" tanya Mikoto dan dibalas anggukan kecil dari Ino

"Kalau begitu Baasan pamit, Fugaku sudah menanyai Baasan ada dimana" ucap Mikoto

"Hai, terima kasih sudah mau datang" Ino berdiri dari duduknya di ikuti Shikamaru

"Baasan pergi dulu" pamit Mikoto

"Hai," ucap Ino dan Shikamaru.

Shikamaru menatap Ino yang masih menatap pintu yang baru saj di lalui Mikoto.

"Kita pulang?" tanya Shikamaru

"Eum, Arigatou Shika" Ino berterima kasih pada Shikamaru

"kau ini," Shikamaru mengacak pelan rambut Ino, "Ayo kita jalan-jalan sebentar, aku tidak mau ditanyai yang aneh-aneh oleh Inoichi-jiisan saat dia melihatmu dengan mata yang sembab itu" ucap Shikamaru dengan tampang bosan.

"Kamu traktir ya, aku tidak bawa uang sepersen pun" ucap Ino sambil menatap Shikamaru

"Hai, Hai, apapun untukmu Heirs Yamanaka-san" Shikamaru selalu mengalah pada Ino, karena Ino sudah dia anggap sebagai adiknya.

Ino dan Shikamaru keluar dari private room, saat mencapai pintu keluar Akatsuki Cafe mereka berpapasan dengan Temari dan Gaara.

"Temari-san" sapa Ino saat melihat Temari

"Oh, Ino, Shikamaru" ucap Temari saat melihat Ino dan Shikamaru kekasihnya.

"Apa tempat berkumpulnya disini?" tanya Shikamaru pada Temari.

"Yeah," jawab Temari

"Apa kamu ada acara disini?" tanya Ino

"Sebenarnya aku akan berkumpul dengan teman-teman lamaku waktu di Suna, sekalian mengenalkan Shikamaru, tadinya.." jelas Temari, diakhir kata dia mengatakan 'tadinya' dengan pelan. tapi masih bisa di dengar oleh Ino.

"Aaa.. Gomenasai, aku sudah meminjam Shikamaru, aku kira dia sedang free" ucap Ino menyesal, ia jadi tidak enak pada Temari.

"Daijoubu, Shikamaru sudah menjelaskannya padaku" Temari memakluminya karena ia tau keadaan Ino.

"Tidak bisa begitu, mumpung kita bertemu disini kau pergilah bersama Shikamaru." Ino mendorong Shikamaru kearah Temari, "Shika, pergilah bersama Temari. lain kali kalau kamu ada acara bersama Temari bilang aja, aku, kan, jadi tidak enak jika mengganggu acaramu" ucap Ino pada Shikamaru

"Lalu bagaimana kamu pulang?" tanya Shikamaru

"Aku pulang dengan Gaara!" cetus Ino

"Hai?" Gaara yang sedari tadi diam langsung kaget saat namanya di sebut oleh Ino

"Iya, kau akan mengantarkan, ku, pulangkan?" Ino memberi sinyal supaya Gaara menyetujui perkataannya.

"Wakatta," Ucap Gaara pasrah

Ino langsung menggaet tangan Gaara agar lebih meyakinkan Shikamaru.

"Pergilah, aku akan pulang kerumah dengan selamat" Ucap Ino meyakinkan Shikamaru.

"Gaara, tolong antar Ino sampai ke rumahnya " Pesan Temari pada Gaara.

"Hai, aku mengerti." Gaara dan Ino berjalan keluar Cafe dengan tangan Ino yang masih menggandeng lengan Gaara.

Sesampainya diluar Ino langsung melepaskan kaitan tangannya pada lengan Gaara.

"Dimana mobilmu terparkir?" tanya Ino

"Disana," Gaara menunjuk kearah dimana mobilnya terparkir.

"Motor???" tanya Ino kaget saat yang di lihatnya bukan mobil melainkan motor.

"Nani? kau tidak mau pulang denganku karna aku membawa motor bukannya mobil?"

"Ahou! kalau naik motor itu artinya aku harus duduk berdempetan denganmu!" Ino menatap kesal kearah Gaara.

"Kalau tidak mau yasudah," Gaara melengos pergi meninggalkan Ino.

'Gaara no baka! tapi, jika aku pulang sendirian Tousan pasti curiga' pikir Ino

"Chotto matte, Gaara," Ino menyusul Gaara

"Oke, aku pulang denganmu" putus Ino dengan wajah dongkolnya.

"Good girl, pakai helm mu" Gaara melemparkan sebuah helm pada Ino.

Ino langsung memakai helm itu tanpa kesusahan, ia langsung naik keatas motor dan berpegangan pada pundak Gaara.

"Kenapa tidak jalan juga?" tanya Ino setengah jengkel pasalnya dari tadi Gaara tidak juga melajukan motornya.

"Kalau kau peregangan seperti itu, kau akan jatuh Ino" jawab Gaara dengan tenang

"Lalu? aku harus berpegang kemana?" tanya Ino dengan polosnya.

Gaara berdecih pelan, ia memegang tangan kedua tangan Ino dan melingkarkannya pada perutnya.

Ino syok dengan pergerakan Gaara yang tiba-tiba, wajahnya sudah memerah karena malu.

"Disini yang benar, ingat jangan memeluk terlalu erat. aku tidak mau mati dipeluk oleh mu" Ucap Gaara disertai smirk andalannya, meski terhalang oleh helm full facenya.

'SIAPA JUGA YANG SUDI MEMELUKMU ERAT! GAARA NO ECCHI!!!!!' jerit Ino dalam hati


hei hei hei

kembali lagi dengan Capricorngirl12, gimana 3 part ini cukup untuk memenuhi rasa keingin Tahuan kalian mengenai masalah Ino dan Sasuke kan?

di tunnggu Review nyaa3