(Obey Me bukan hak cipta saya)

Tetangga sekitar tahu. Angeline dan Diavolo merupakan jodoh yang ditakdirkan Tuhan. Pasangan sempurna bak Romeo dan Juliet karya Shakespeare. Partner hidup yang saling melengkapi layaknya Jekyll dan Hyde.

Hewan peliharaan milik tetangga bisa mengerti. Dua insan ini ibarat tulang rusuk dan tulang dada. Tidak dapat dipisahkan. Meskipun berbeda ras, cinta antara Angeline dan Diavolo terus menyala–seperti api abadi.

Bahkan seluruh warga di dunia mengakui, meresmikan ikatan cinta mereka. Siapa yang tidak mendambakan pasangan setampan Diavolo? Atau pasangan secantik Angeline? Tidak hanya saling mencintai, tapi juga setia hingga maut memisahkan.

Hanya saja–Angeline masih sulit untuk berterus terang. Mulutnya boleh berkata ia tidak tertarik pada Diavolo, sementara hatinya berkata lain. Angeline sangat takut digunjing, karena kekasihnya bukan manusia.

"Pagi, Sayang!" Diavolo mendekap Angeline dari belakang. Melihat calon istrinya gelisah ia cemas. "Kamu kenapa?"

Maaf, Diavolo. Ini bukan waktu yang tepat untuk aku sampaikan padamu. "Tidak apa-apa,"

"Kalau ada masalah jangan dipendam. Ceritakan saja padaku. Oke?"


Tatkala berbelanja di pasar Borough, Angeline risih dengan obrolan ibu-ibu di sampingnya. Tanpa henti mereka membicarakan tentang kemesraan Angeline dan Diavolo, bagaimana pernikahan mereka nanti, anak mereka mirip siapa, dsb. Masih ada aja yang gemar mengurus kehidupan orang lain. Menyebalkan!

Alih-alih menegur para penggosip, wanita bersurai hitam itu memilih menghindar. Angeline tidak suka memancing keributan. Lebih baik mencari kios lain. Secara tiba-tiba ia menabrak seseorang.

"Aduh!"

"Serahkan uangmu!" bentak preman berwajah sangar. Tubuhnya besar dan memiliki tato di lengan kiri. Ia mengeluarkan pisau, mendekati benda tajam ke leher Angeline.

"Atau kau akan mati,"

Dari jarak dua ratus meter, Diavolo mendengar suara yang ia kenali. Segera ia menuju TKP–tempat di mana kekasihnya ditodong. Dengan mudah pria bersurai merah itu menarik lengan si preman. Lalu mematahkan tulangnya.

"Angel! Syukurlah kamu tidak apa-apa. Aku takut preman itu mencabut nyawamu,"

Angeline menangis sesenggukan. Bulir-bulir air matanya terus mengalir. Seolah hilang arah. Tidak bisa hidup tanpa jantung hati.

"Setelah berbelanja aku ingin mengatakan sesuatu. Aku harap kamu tidak tersinggung nanti,"

Kini dua sejoli itu berada di tempat paling sepi. Tidak ada seorangpun yang bisa mendengarkan percakapan rahasia mereka. Angeline berdeham dan berkata,

"Sejujurnya–aku khawatir dengan hubungan kita yang tidak biasa ini,"

"Eh? Apa maksudmu?" tanya Diavolo tidak paham.

"Kamu tahu, kan? Kalau kita berdua beda ras. Aku manusia biasa. Kamu calon raja baru kerajaan Devildom. Aku yakin kamu pasti bukan manusia,"

"Aku… takut. Takut kalau tidak semua manusia di Bumi mau menerima dirimu,"

Iblis tampan itu tersenyum. "Ah, begitu rupanya. Sekarang aku tanya–apa kamu tulus mencintaiku? Kalau memang tulus, untuk apa takut dengan omongan orang? Tidak ada gunanya,"

"Aku paham maksudmu. Memang, ada juga orang yang tidak suka melihat kita begitu mesra. Tapi kalau kita hidup mengikuti ekspetasi orang lain, tiada habisnya juga. Mending jadi diri sendiri," imbuhnya.

Angeline mengangguk pelan. "T-tentu saja… aku tulus mencintaimu, Diavolo. Hati ini hanya untukmu. Dan maaf–aku baru mengakuinya sekarang,"

"Hahaha." Diavolo tertawa. "Tidak perlu minta maaf. Sebelum pulang, kita lihat-lihat cincin pernikahan kita dulu, yuk!"

Mendengar kata pernikahan, Angeline terkejut. Kedua tangannya refleks menutup mulut. Wajahnya panas dan memerah.

"Ayo!"

"Kamu bebas memilih bentuk cincinnya,"

Terima kasih, Sayang. Cintamu terbukti, tidak main-main. Kini aku siap merajut kehidupan rumah tangga bersamamu. Batin Angeline.

TAMAT