HALILINTAR sedang dalam perjalanannya menuju sekolah. Ia bersama salah satu dari elemental BoBoiBoy, Taufan. Sekarang mereka berdua berada di halte. Suasana pagi ini memang sedikit ramai mengingat hari ini adalah hari senin di mana para manusia di bumi mulai beraktivitas seperti biasa. Di halte, beberapa orang yang sedang menunggu bus memilih berbincang untuk menghilangkan rasa bosan.
Termasuk Halilintar yang sedang menunggu bus sekolah sambil mendengarkan Taufan yang tengah bercerita. Ada kejadian aneh yang kemarin malam menimpanya. Itu adalah Sleep Paralysis. Ia bilang Tok Aba dan Elemental lainnya sangat terkejut dan takut karena baru pertama kali melihat kejadian seperti ini.
"Aku orang pertama di keluarga yang mengalaminya!" Ujar Taufan dengan sedikit menyunggingkan senyum angkuh membuat Halilintar menyengrit heran. "Dan kau bangga akan hal itu?"
Taufan mengangguk mantap dan menjawab dengan lantang, "Tentu saja! Itu kejadian langka asal kau tahu!"
Bus sekolah tiba. Halilintar segera naik, tentunya dengan Taufan serta ocehannya. Ia memang banyak bicara. Bahkan pemuda bersurai cokelat itu bisa menghabiskan jam istirahat hanya dengan membicarakan skateboard kesayangannya.
Mereka memilih tempat duduk paling belakang, dekat pintu bus kedua.
"Kau tau?"
Taufan mulai berceloteh kembali
"Aku selalu membayangkan bagaimana jadinya jika aku mempunyai tongkat ajaib. Mengucapkan mantra dan, WUSH~ Bibidi babidi abracadabra! Maka apa yang aku inginkan terkabul!"
Halilintar sedikit tertawa geli. Taufan mengucapkannya sambil mempraktikan gerakkan mengayunkan tongkat ala Harry Potter. Untung saja murid yang menaikki bus sekolah ini belum banyak. Tingkah mereka tidak akan menjadi pusat perhatian.
"Kalau aku... ingin ketempat indah, seperti taman eden. Tenang dan damai," Pemuda beriris ruby itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela. "Jauh dari dunia luar. Sendirian."
BEL sudah berbunyi. Penghuni sekolah yang masih sibuk berlalu-lalang di koridor mulai tak terlihat. Semua murid masuk ke dalam kelasnya masing-masing, begitupun dengan Halilintar. Pemuda bertopi hitam itu tadinya sedang berada di kantin, membeli susu strawberry. Tiba-tiba saja bel berbunyi membuat ia panik dan buru-buru pergi tanpa membawa susu kotaknya. Sayang sekali.
Halilintar berjalan cepat menuju kelas, yang sialnya kelas sebelas berada di lantai dua. Ia tak bersama Taufan. Pemuda berisik itu tengah menyalin pr milik Gempa, Si Ketua OSIS dan juga salah satu elemental.
Kriet
Halilintar membuka pintu kelas. Keadaan kelas masih ramai. Dengan napas terengah ia segera menuju kursinya, yang berada di paling ujung. Di samping tempat duduknya ada Taufan yang masih menyalin.
"Belum selesai?" Tanya halilintar sambil bersender pada tembok dan membuka kaca jendela agar ada angin masuk. Ia gerah dan keringatan karena berlarian sepanjang jalan menuju kesini.
"Yah... kau tau sendiri bukan kalau guru itu selalu memberi catatan geofisika yang PANJANG sekali" Sahut Taufan. Pemuda itu lebih banyak menyumpah serapahi soal-soal dibanding mengerjakannya.
Kenapa harus sebanyak ini?
Ini jawaban atau skripsi kuliah?!
Tanganku pegal!
Kira-kira seperti itu protesan Taufan ketika ada tugas yang menurutnya tidak 'manusiawi'
"SELESAI!"
Halilintar menoleh, bisa ia lihat pemuda yang merangkup sebagai teman sekelas sekaligus 'saudara' itu sedang merentangkan kedua tangannya setinggi mungkin.
"Bu Daisy saja memang, buku ini jadi terlihat seperti laporan hasil penyelidikkan daripada sebuah catatan sekolah!" Taufan mengangkat buku tulisnya, "Lintar, menurutmu juga begitu kan?"
"Ya" Halilintar menjawab seadanya. Setelahnya pemuda itu mengeluarkan buku dari tas, mempersiapkan diri sebelum mulai belajar.
Keadaan kelas masih sama, berisik. Bahkan jabatan 'Ketua kelas' pun tak berguna di kelas ini karena sang Ketua itu sendiri, Blaze, yang juga salah satu elemental BoBoiBoy lainnya justru sedang berjoget ria di depan kelas. Ialah penyebab kelas menjadi ramai. Tolong jangan bertanya kenapa ia bisa terpilih menjadi ketua kelas.
Tap tap tap
Tiba-tiba terdengar suara yang sangat khas membuat keadaan kelas menjadi hening. Murid-murid yang sedang berjoget segera duduk kembali kebangku masing-masing. Tak lama, pintu kelas terbuka. Di sana, berdiri seorang wanita muda dengan tangan yang sedang menenteng beberapa buku. Dia Bu Daisy. Guru geofisika kelas sebelas.
Kegiatan pembelajaran sudah dimulai. Para murid fokus mendengarkan, kecuali si pemuda petir.
Masih terngiang jelas dipikirannya tentang perkataan Taufan saat di bus.
Hm, tongkat sihir? Memang, ada hal semacam itu didunia ini?
Halilintar menggelengkan kepala. Tidak mungkin, gumamnya, lalu mencoba fokus memperhatikan Bu Daisy yang sedang menjelaskan sejarah orang Babilonia tentang bintang.
Tunggu, bintang? apakah guru geofisika itu sedang membahas astronomi?
Bicara soal astronomi, menurut Halilintar sendiri, ilmu itu lebih susah ketimbang ilmu geofisika. Ilmu astronomi sangat kompleks. Berbeda dengan geofisika yang lebih analisis. Walaupun keduanya tetap memiliki banyak persamaan dengan matematika, yang demi apapun Halilintar benar-benar tidak menyukainya.
'Pemberi Harapan Palsu' begitu kata Taufan. Karena materi yang dipelajari dengan soal latihan kadang berbeda.
"Dengar, kita seperti dipermainkan oleh Si Matematika itu. Saat menerangkan Pak Johnny memberi contoh A, sedangkan di soal latihan menjadi B. Tapi di soal ulangan harian berubah lagi menjadi C. Aku benar-benar kecewa,"
Oke, cukup membahas Taufan dengan pendapatnya tentang matematika. Karena sekarang sepertinya mendengarkan Bu Daisy lebih seru.
Dan Halilintar benar-benar melupakan Si Tongkat ajaib, tanpa tahu, bahwa sebenarnya itulah yang menjadi awal dari perjalanan besar yang akan dihadapinya nanti.
༻ ༺ ༻ ༺ ༻ ༺
Tbc.
Ini cerita pertamaku /ea. Semoga aja ada dan banyak peminatnya
Ini bukan story yg bikin mikir kok
Segini panjang banget ga sih? Atau malah pendek? tkut panjang bat woy ah entar malah eneg bacanya:(
Oh ya ini belum ke inti ya msih prolog gtu
Dan buat yg baca makasih bgt udh luangin waktunya ke-book ini
So wdyt?
Next Or Stop?
