Tanggal 5 Juli adalah hari ulang tahun Yaya, bertepatan dengan hari Jum'at dan hari terakhir liburan mereka di Bumi. Oleh karena itu, perayaan ulang tahun sang sahabat merah muda harus ditunda sampai usai Solat Jumat, sekaligus menjadi acara perpisahan sebelum mereka kembali ke luar angkasa.
Selagi menunggu anggota acara lengkap (Tok Aba dan BoBoiBoy masih dalam perjalanan pulang dari masjid), Fang, Gopal, Pak Cik Kumar, dan Mak Cik Wawa menuntaskan menghias Kokotiam, tempat acara diselenggarakan. Sementara Mak Cik Yang, Ying, dan ibu Gopal mengurus cemilan dan makanan untuk acara nanti.
Yaya sendiri diminta untuk duduk manis saja di kedai, karena ini memang acaranya. Namun, sang pengendali gravitasi tak bisa diam saja saat melihat semua orang sibuk ke sana ke mari. Maka, bertanyalah dia pada bagian konsumsi, apakah di sana butuh bantuan mengingat personelnya lebih sedikit dari pengurus hiasan.
Buru-buru, Ying mengarang alasan agar Yaya tak perlu ikut campur di bagian dapur sebab mereka sedang membuat kue kering. Bahaya kalau Yaya ikut campur, bisa-bisa dia menambahkan "sesuatu" tanpa sepengatahuan yang lain, membuat kue kering andalannya. Dengan motif yang sama pula, Mak Cik Yang "mengusir" Mak Cik Wawa dari dapur tadi. Oleh karena itulah beliau menjadi satu-satunya tenaga perempuan di kedai.
"Oh, sebentar, Nak. Tolong sekalian bawa beberapa kue ke kedai untuk cemilan. Mereka yang disana sudah bekerja keras sejak tadi."
Ujaran ibu Gopal menghentikan langkah kaki Yaya yang akan keluar dari dapur luas rumah Gopal, rumah yang paling dekat dengan kedai. Dengan wajah sumringah, Yaya pun menunggu dengan hati berbunga di ruang makan. Setidaknya, dia sedikit berguna di sini.
Selesai menata kue dan biskuit dalam keranjang, ibu Gopal pun memberikan wadah anyaman itu pada Yaya sekaligus pesan singkat jika makan siang akan segera siap. Bersamaan dengan pesan itu, ibu Gopal meminta bantuan satu-dua orang di kedai untuk membawa perlengkapan makan dari rumah ke sana. Tentu saja Yaya menyanggupinya dengan senang hati.
Di perjalanan menuju ke kedai, rupanya Yaya berpapasan dengan Tok Aba dan BoBoiBoy. Maka, Yaya pun menyampaikan pesan dari ibu Gopal tadi saat BoBoiBoy bertanya, "apa yang bisa dibantu?" Mulanya, BoBoiBoy ingin pergi sendiri karena tidak ingin kakeknya kecapekan. Namun, karena Tok Aba memaksa, akhirnya mereka berdua pun pergi beriringan ke rumah Gopal.
.
.
.
Gift For Our Epitome
Dedicate to #HappyBirthdayYaya
Story length: over than 3000 words
Genre: friendship, family, slice of life. Slight romance and humour
Note: latar waktunya BoBoiBoy Galaxy season 1
Summary: Hari ini, Yaya berulang tahun dan beruntung, mereka sempat merayakannya sebelum kembali ke luar angkasa. Setelah acara usai, Ying berinisiatif untuk menambah satu acara lagi, yakni buka kado. Apa saja hadiah yang diterima Yaya kali ini dan apa makna epitome sebenarnya?
BoBoiBoy belongs to Animonsta
and happy reading
.
.
.
"Cemilan dah datang!"
"Woah! Akhirnya ada makanan juga!" sambut Gopal antusias. Tapi, sedetik kemudian, setelah melihat wadah yang Yaya bawa, Gopal mengurungkan niatnya untuk menyerbu makanan ringan tersebut.
"Err, apa itu biskuit buatanmu, Ya?" tanya Gopal takut-takut, khawatir jika dugaannya benar.
Yaya terkekeh kecil, paham kenapa nada bicara Gopal yang awalnya bersemangat seketika berubah menjadi bergetar. "Bukan, ini buatan ibumu, Mak Cik Yang, dan Ying. Seratus persen aman untuk dimakan," jawab Yaya, meyakinkan.
Sikutan diterima Gopal dibarengi dengan bisikan geram. "Kau ini! Hargai perasaan Yaya sedikit lah! Kalau dia tersinggung, bagaimana? Lagipula, kalaupun itu benar biskuit Yaya, kau bisa mengubahnya jadi biskuit enak kan?"
Gopal mencibir. Belum tahu saja Fang, sang penyikut, kalau rasa biskuit Yaya sebegitu kuatnya. Sampai-sampai, meski penampilan dan strukturnya berubah seutuhnya dengan kekuatan yang dia miliki, rasanya tetap sama, mematikan.
"Dasar caper (cari perhatian)," cibir Gopal, yang akhirnya dikeluarkan juga, saat matanya menangkap sang pemuda ungu mendekati sang gadis merah muda, menawari bantuan untuk membawanya ke meja kedai serta menyicip salah satu biskuit di dalamnya.
"Hey, Yaya! Pak Cik pun mau makan biskuit buatan istri Pak Cik tu! Meh, sini!" Dan seruan Pak Cik Kumar pun menginterupsi percakapan yang terjalin di antara Fang dan Yaya.
.
.
.
"Aik, siapa yang buat Ice Choco selama Atok dan BoBoiBoy pergi?" tanya Tok Aba, sesampainya beliau dan rombongan di Kedai Kokotiam miliknya, sebab mendapati beberapa kaleng cokelat yang kosong.
Pasalnya, tidak ada seorang karyawan pun ada di kedai, termasuk Ochobot. Robot kuning-hitam itu kelelahan setelah membersihkan rumah seorang diri atas perintah BoBoiBoy. Mungkin, sekarang dia dalam perjalanan menuju ke mari setelah dayanya terisi penuh.
"Gopal la, Tok!" sahut Gopal bangga, tak lupa dengan busungan dadanya.
"Heleh. Kau pintar buat, tapi cuma buat untuk diri sendiri," balas Fang, pedas. "Fang yang buat, Tok. Kasihan, Mak Cik Wawa dan Pak Cik Kumar panas-panasan seharian, menyiapkan semua ini, tapi tidak ada minum. Akhirnya Fang buatkan. Err, nanti Fang ganti uangnya," lanjut Fang, mengaku.
"Ooh. Kalau begitu, tak perlu, Fang. Atok yang traktir."
Mendengar kata "traktir" keluar dari mulut Tok Aba, tak hanya mata dan wajah Fang saja yang berbinar, tapi Gopal juga.
"Punyaku juga, Tok?" tanya Gopal antusias.
"Hmm, ye la, ye la. Khusus hari ini saja."
"YEAY!"
"Nah, tunggu apa lagi? Ayo kita mulai acaranya!" ajak Tok Aba saat melihat semua hal telah tertata dan Ochobot telah sampai di kedai.
"Jom!" balas geng kokotaim dengan semangat.
.
.
.
"Huh~ Kenyangnya~" keluh Gopal sambil mengusap perutnya yang semakin besar itu.
"Tu la. Sudah dibilangi, makan secukupnya," balas Yaya, memberi nasihat.
"Memang secukupnya pun. Kan makanannya cukup kumasukkan ke dalam perut semua. Hehe," jelas Gopal tanpa dosa sekaligus menunjukkan piringnya yang bersih. Bahkan sisa saos atau sebutir nasi tidak ada di piring itu.
"Menjawab pula," cibir Fang, merebut piring kotor itu dari tangan Gopal.
Bukan tanpa alasan dia melakukannya. Ini memang tugasnya untuk mengumpulkan peralatan makan yang kotor, membantu ibu Gopal yang kini sedang membereskan sisa makanan yang ada. Kalau kalian menanyakan kemana Mak Cik Wawa dan Mak Cik Yang, mereka di kitchen sink kedai Tok Aba, membersihkan gelas serta piring kue dari acara sebelumnya, yakni potong dan bagi kue.
Sang pemilik kedai beserta kedua cucunya, BoBoiBoy dan Ochobot, sendiri sedang bahu membahu membongkar hiasan yang ada. Cucu-cucunya begitu perhatian, tidak mau membuat Tok Aba kesusahan membongkar hiasan ini sendiri besok, sebelum membuka kedai seperti biasa, karena sang penghias alias Gopal dan Pak Cik Kumar menolak untuk segera merapikannya.
"Baru juga jadi, Tok, masa harus langsung dibongkar? Agak nantilah. Ya?" Begitu alasan Gopal yang kembali mendapat sikutan, kali ini pelakunya adalah Ying.
Sisanya, yang tak melakukan apa-apa, hanya mengobrol ringan sambil duduk lesehan, tempat mereka melangsungkan acara terakhir, yakni makan siang. Sesekali tangan mencomot kue kering yang dibawa Yaya sebelum acara dimulai tadi, karena masih tersisa banyak, dan diselingi dengan minum air mineral jika tenggorakan terasa kering.
"Eh, Yaya! Kau tidak mau membuka kadomu sekarang?" celutuk Ying, bertanya, saat matanya tak sengaja menangkap tumpukan hadiah di dekat kasir kedai.
"Eh?" Yaya yang tak menyangka topik Ying akan se-banting setir ini pun refleks bergumam bingung. "Err, boleh?" tanya Yaya kemudian setelah otaknya mampu mencerna seratus persen celutukan sang sahabat.
"Memangnya ada yang melarang?" tanya Gopal balik sembari mencomot satu lagi kue kering untuk dikunyahnya.
"Lagipula, kau tidak penasaran dengan isinya?" bujuk Ying. Tak ketinggalan matanya ikut mengerling menggoda, membuat Yaya yang semula tak begitu tertarik dengan hadiah dari para sahabatnya pun menjadi sangat tertarik dan penasaran.
"Oke," putus Yaya setelah sekian detik hening, berpikir. Ying dan Gopal pun diam-diam bertos ria saat Yaya memberikan punggungnya pada mereka, berniat mengambil kado-kado itu dari belakang sana. Pak Cik Kumar hanya tersenyum geli. Baginya, tingkah para remaja ini masih terlihat sama kekanakannya dengan mereka versi beberapa tahun lalu.
.
.
.
Akhirnya, pada acara selanjutnya —yang di luar rencana—, para orang tua dan remaja pun membuat kubu masing-masing. Yang lebih tua memberikan mereka privasi, memilih menetap di kedai sembari bercengkerama dengan sesamanya, sementara yang lebih muda berkumpul di tikar tempat mereka semua makan siang tadi.
"Nah, jadi, mau buka dari yang mana dulu?" tanya Ochobot antusias, membuka acara tambahan ini.
Yaya berdehem panjang sembari berpikir, padahal hadiah yang diterimanya tak sebanyak itu. Lagipula, tak akan begitu berpengaruh meski dia memilih asal kado yang ingin dia buka pertama kali. Toh, pada akhirnya, semua akan dibuka dan semuanya adalah milik sang gadis merah muda, kan?
"Oke, aku mulai dari yang ini dulu!" putus Yaya sembari mengambil kado yang dibalut dengan kertas kado bercorak bunga-bunga. Dari luarnya saja, dia tahu siapa yang memberikan ini padanya.
Tebakannya tidak salah. Sesaat setelah dia mengambil kado itu, mata Ying berbinar. Perasaan bangga dan bahagia terpancar jelas dari kedua mata biru jernihnya.
"Kalau begitu, bukalah!" pinta Ying bersemangat dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.
Jenis wadah kado ini simpel. Cukup buka tutupnya dan voila, isinya sudah tampak. Yaya tak perlu mengeluarkan tenaga lebih untuk menyobek-nyobek bungkus luarnya.
Mendapati mata Yaya yang berbinar, senyum Ying kini mengembang lebih lebar. Dia tahu sahabat merah mudanya ini pasti menyukai hadiahnya!
"Cantik sekali, Ying!" puji Yaya sembari mengeluarkan dress yang didominasi warna pink itu dari kotak tersebut. Refleks, Yaya berdiri lalu menilai pakaian tersebut pada tubuhnya, terlihat cocok dan pantas atau tidak. Gopal berbaik hati mengubah tikar yang sudah dilipat rapi di dekatnya menjadi cermin, mempermudah Yaya untuk menilai penampilannya sekarang.
"Tentu saja! Aku mendesainnya sendiri lalu Mama yang memilihkan kain dan menjahitnya! Baguslah kalau kau menyukainya!" balas Ying sembari mengamati Yaya dari atas sampai bawah kemudian mengangguk-angguk. Prediksinya memang tidak meleset. Gadis kesayangannya kini sangat cantik jika dipadukan dengan dress itu!
"Sekali lagi, selamat ulang tahun, our Epitome!" sambung Ying, mengulang entah untuk keberapa kalinya ucapan selamat itu diucapkan hari ini.
"Epitome?" tanya BoBoiBoy, menangkap satu kata asing dari kalimat Ying barusan.
"Seseorang yang menjadi contoh sempurna dari kualitas atau tipe tertentu," jawab Fang. "Menurut mesin telusur, sih, begitu."
BoBoiBoy yang semula terpesona –dia tahu kalau Fang pintar, tapi dia tidak tahu kalau alien sepertinya jago berbahasa Inggris juga— pun seketika menatap malas Fang. Terima kasih sudah menghancurkan kekaguman BoBoiBoy terhadapmu dalam satu detik!
Selesai mengagumi keindahan dress barunya, Yaya pun memasukkan kembali hadiah dari Ying dan ibunya itu ke kotak. Masih ada banyak hadiah yang harus dia buka.
"Ini dari siapa?"
Dilihat dari penampilannya, jelas bungkus kado ini sangat rentan robek. Tapi, tak mengapa. Sang pembungkus juga menyiapkan tali yang melintangi sang kado, mungkin berjaga-jaga agar isinya tidak tercecer kemana-mana semisal bungkus sang kado robek. ATAU, mungkin saja sang pemberi menambahkan tali itu untuk alasan yang lebih sederhana; agar mudah dibawa dan dipindah mengingat beratnya yang lumayan.
"Itu dariku dan Tok Aba! Bukalah!" jawab Ochobot dengan layar LED yang menunjukkan jika dirinya tengah tersenyum hangat.
Selagi Yaya merobek beberapa lapis bungkusan tersebut, Ochobot pun menjelaskan. "Sebenarnya, aku mau memberimu versi yang lebih simpel, versi digitalnya. Tapi, kata Tok Aba, hadiah akan lebih berkesan jika berbentuk fisik, apalagi kalau hadiahnya 'itu'. Karena aku tidak punya uang sepeser pun, akhirnya Tok Aba memberiku uang untuk membeli 'mereka'."
Sekali lagi, mata Yaya berbinar. Tidak salah kalau Ochobot berniat memberikannya dalam bentuk digital daripada bentuk fisik karena buku ini pasti mahal. Ensiklopedia dunia, satu set lengkap, dan hard-cover. Kini terjawab sudah mengapa hadiah dari Ochobot dan Tok Aba bisa sebegitu beratnya.
"Sekali lagi, selamat ulang tahun, Yaya!"
"Terima kasih, Ochobot! Akan kujaga buku-buku ini sebaik-baiknya! Ah, mungkin, nanti dalam perjalanan ke Markas TAPOPS, aku akan menyicil membacanya. Kau mau ikut, Ying?"
Sebagai penyuka ilmu pengetahuan, tentu saja Ying tak melewatkan kesempatan emas ini. "Tentu saja!"
Sementara di sisi lain, Gopal mual melihatnya. Bukan, bukan melihat kekompakan Yaya dan Ying, tapi buku-buku itu! Astaga, tebal sekali! Gopal jamin isinya hanya tulisan, tulisan, dan tulisan. Sangat minim atau bahkan tidak ada gambar sama sekali di dalamnya. Bagaimana bisa kedua sahabat gadisnya itu justru bersemangat dan betah berlama-lama membaca mereka?
"Sudah, sudah. Ayo lanjut. Keburu sore nih," celutuk Gopal, memecah antusiasme duo Y itu.
"Nah, kado dariku. Bukalah!"
Dan alih-alih membiarkan Yaya memilih kado yang selanjutnya akan dia buka, Gopal justru memberikan kadonya. Walau begitu, Yaya tetap menerimanya, tidak menolak pilihan sang sahabat gempal.
Tipe wadah kado Gopal seperti Ying, terdapat penutup di atasnya sehingga tak menyulitkan Yaya untuk membukanya. Oh, dan sepertinya, ibu Gopal juga ambil bagian jika dilihat dari warna bungkus kadonya. Yaya tahu, Gopal bukanlah tipe yang akan repot-repot mencari bungkus bernuansa kemilau seperti ini. Kalau bisa, yaa, bungkus kado apapun yang pertama kali ditangkap oleh matanya, itulah yang akan dia pilih dan beli. Se-simpel itu memang prinsip hidup Gopal.
"Makanan?" tanya Yaya impulsif saat menemukan wadah makanan di dalam kotak tersebut. Gopal hanya tersenyum lalu mengangguk. Tak butuh waktu lama, Yaya segera membuka penutup wadah tersebut, penasaran dengan isinya.
"Oh!"
Keterkejutan itu diikuti kekehan kemudian. Yaya sama sekali tak menyangka jika isinya adalah biskuitnya! Oh, ralat. Penampilannya saja yang sama, tapi yang ini rasanya pasti enak. Ini kan buatan ibu Gopal!
"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Sekedar info saja. Aku ikut membuat kue-kue itu. Jadi, yaa, itu hadiah dariku dan Amma."
"Wei! Kenapa Appa tak disebutkan juga?" celutuk Pak Cik Kumar, men(curi) dengar penjelasan singkat Gopal.
"Aik. Kan Appa tidak bantu apa-apa."
"Appa bantu ya! Tak ingat siapa yang membeli bahan-bahan untuk membuat kue? Terus, siapa yang pergi saat Amma kamu minta belikan bahan tambahan?"
"Iye la, iye la," balas Gopal pada akhirnya, menyerah pun mengalah pada pendapat sang ayah. "Itu hadiah dari aku, Amma, dan Appa," ulang Gopal, menjelaskan pada sang sahabat merah muda.
"Nah, itu baru terbaik," sahut Pak Cik Kumar dengan slogan kebanggaan BoBoiBoy.
"Hmm," gumam Gopal sambil menatap sang ayah dengan tatapan mata malas.
"Selamat ulang tahun, ya, teladan kami. Jangan bosan-bosan menghadapi sikapku dan yang lain, hehe. Kalau tak ada kau dan Ying, apalah daya kami bertiga ini," sambungnya sambil merangkul kedua sahabat jingga dan ungunya, sementara yang dirangkul saling tatap, bingung kenapa mereka dilibatkan pada masalah pribadi sang sahabat gempal. Kan yang sulit dibilangi dan ceroboh 24/7 itu Gopal, kenapa mereka dibawa-bawa juga?
"Tinggal dua lagi nih. Mau buka yang mana?" tanya Ochobot, berinisiatif melanjutkan acara mereka.
Sekali lagi, Yaya berpikir. Keduanya sama-sama menarik dengan tipe kado yang sama pula, bukaan atas. Bungkus kadonya pun berwarna sama, merah muda. Pembedanya hanya pita penghias dan ukuran mereka. Yang lebih besar berpita jingga dan yang agak kecil berpita ungu.
"Buka saja hadiah dari BoBoiBoy dulu. Punyaku yang terakhir tak apa," saran Fang, membantu Yaya memutuskan pilihan.
Sang pengendali gravitasi mengangguk paham lalu mengambil kado berpita jingga. Menurut sang pemberi, BoBoiBoy, jangan memangku hadiah tersebut. Buka saja di atas tikar agar tidak ribet dan "mengganggu". Meski bingung, Yaya tetap menuruti perkataan sang sahabat jingga.
Tutup dibuka dan seketika dinding-dinding kado tersebut jatuh. Rupanya, penutup tadi adalah pengunci dan beberapa hal yang ditempel di tiap dinding kadonya menjadi alasan sang dinding, yang terbuat dari kertas, jatuh lebih cepat dari seharusnya.
Oh, rupanya hadiah dari BoBoiBoy berupa kado berlapis! Pada lapis pertama dan paling luar, ditempel rapi berbagai jenis makanan ringan. Satu sisi berisi makanan manis, satu sisi berisi makanan asin, dan di kedua sisi lainnya berisi makanan pedas.
Pada lapis kedua sekaligus lapisan tengah, banyak foto mereka berenam tertempel di sana, dengan berbagai pose dan latar belakang. Tak hanya itu, foto-foto mereka juga dibubuhi kalimat singkat yang membuat sang pembaca merasa bernostalgia saat membacanya. Salah satunya ini, foto mereka berenam setelah berhasil mengalahkan Bora Ra. "Selagi kita bersama, kita bisa atasi segalanya."
Kenangan yang indah tapi menyedihkan, sebenarnya, mengingat saat itu mereka kehilangan Klamkabot dan nyaris kehilangan Ochobot juga.
Tak ingin berlama-lama mengingat satu kenangan sedih tersebut, Yaya pun beralih pada lapis ketiga atau lapis paling dalam, dimana di dinding-dindingnya terdapat tulisan tangan BoBoiBoy, Ochobot, dan Tok Aba. Tulisan-tulisan tangan itu berisi ucapan selamat, harapan, dan doa untuknya yang dapat dia rasakan ketulusannya. Di tengah kado berlapis itu, dikelilingi oleh surat dari penghuni rumah Tok Aba, terdapat sebuket bunga mawar yang telah hilang tangkainya, menyisakan mahkotanya dan sedikit batangnya untuk ditancapkan pada sterofoam.
"Selamat ulang tahun, Yaya, panutan kami. Bisa dibilang, ini hadiah dariku, Ayah, dan Emak. Emak yang menyarankanku untuk membuat kado berlapis dan isinya, dan Ayah ... yang menyarankanku untuk menambahkan buket bunga di tengahnya," ucap BoBoiBoy dengan wajah merona saat mengatakan bahwa buket bunga itu ide "jahil" sang ayah.
"Oh, terus, surat ucapan Ochobot dan Tok Aba juga ada di dalam kado itu. Itu ideku. Yaa, sekalian saja agar tidak ada ruang kosong di sana sekaligus agar mereka tidak perlu repot-repot membuatnya sendiri," sambung BoBoiBoy setelah sesaat dilanda kebingungan, tidak tahu ingin mengucapkan apa. Beruntung matanya yang jeli menangkap gesture Ochobot yang menunjuk-nunjuk surat tulisan tangan mereka.
"Terima kasih, BoBoiBoy. Ini manis sekali," puji Yaya, membuat BoBoiBoy dilanda kikuk. Terbukti dari gerak tangannya yang tiba-tiba menggaruk pipi, senyum canggung, dan mata yang tak mau menatap sang lawan bicara.
"Oh ya, Yaya, kadoku juga ada kartu ucapannya, loh. Jangan lupa dibaca," celutuk Ying, teringat jika kartu ucapannya tadi tak di-notice oleh sang sahabat merah muda. "Aku juga!" sambung Gopal, mengamini perkataan Ying.
"Oke, oke. Akan kubaca nanti," balas Yaya sembari terkekeh pelan. "Nah sekarang, kado terakhir," lanjutnya sambil memangku kado dari Fang. Mengetahui bahwa sang sahabat ungu tak protes melihatnya, Yaya pun melanjutkan kegiatan buka kadonya.
"Ah, lucunya~" seru Yaya sesaat setelah mengangkat penutup kado dari Fang itu. Sahabatnya yang lain tak perlu berlama-lama ditimpa rasa penasaran karena sedetik kemudian, dia mengeluarkan hadiah Fang dari wadahnya. Se-pot kecil tanaman kaktus lengkap dengan bunga pink-nya yang mekar dan tetap tampak segar meski dia berada dalam tempat tertutup selama beberapa jam terakhir.
"Happy birthday, our epitome. Wish you all the best not just for this year, but in the following years too. (Selamat ulang tahun, teladan kami. Aku berharap yang terbaik untukmu tak hanya untuk tahun ini, tapi untuk tahun-tahun berikutnya juga)" ucap Fang dengan raut wajah santai, nada tenang, dan senyum tulus di wajah.
Serta merta, Yaya pun membalas senyum manis Fang dengan senyuman yang tak kalah manis lagi. "Thanks. I hope your wish comes back to you too."
"Jangan lupa baca kartu ucapanku, ya."
"Tentu! Aku sudah melihat kartu itu sejak membuka kadomu, kok. Jadi, jangan khawatir."
"Ehem!" Sela Ying dengan deheman keras, berusaha menghilangkan suasana pink-pink di sekitar yang terasa amat kuat, padahal kedua sahabatnya ini hanya bercakap dengan kalimat "biasa".
"So, menurutmu, kado siapa yang paling berkesan?" tanya Ying setelah perhatian sang sahabat pink dan ungu teralih padanya.
"Semuanya berkesan bagiku," jawab Yaya apa adanya.
"Oh~, ayolah! Pilih satu saja, yang menurutmu paling berkesan," desak Ying, tak terima dengan jawaban biasa sang sahabat merah muda.
"Sungguh, semuanya sangat berkesan! Kapan lagi aku mendapat hadiah dari kalian sekaligus orang tua kalian? Sepertinya ini yang pertama kali."
Raut tak puas ditunjukkan oleh Ying kemudian. Matanya melirik ke sana ke mari, mencari ide, dan berhasil menemukannya hanya dalam hitungan detik!
"Kalau begitu, antara kado dari BoBoiBoy dan Fang, mana yang paling berkesan untukmu?"
"Eh?!" Refleks, Yaya dan kedua orang yang disebut Ying barusan berseru, tak menyangka nama mereka dibawa-bawa untuk menjawab rasa penasaran si paling muda.
"Ayolah~ Mudah bukan, hanya harus pilih satu dari dua dibanding pilih satu dari lima?"
Yaya tampak berpikir sembari mengamati kedua hadiah yang dia buka terakhir. Sepertinya, tanpa balasan vokal pun Yaya menyetujui omongan Ying. Maka, mereka bertiga (Ying, Fang, dan BoBoiBoy) menunggu dengan tegang mengenai keputusan akhir dari yang berulang tahun.
"Maaf, BoBoiBoy, tapi aku lebih memilih kado dari Fang."
Di saat mata kedua pendengar putusan itu berbinar, satu lainnya justru menyorotkan kekecewaan sekaligus bahu yang melemas.
"Kenapa?"
"Karena aku mencintai sesuatu yang cantik, salah satunya bunga," buka Yaya dengan senyum dewasanya. "Dan cara mencintai bunga yang tepat adalah merawatnya sepenuh hati, dengan kasih sayang, bukan memetiknya demi rasa kagum sesaat."
"Sudah kubilang, hadiahmu pasti berkesan untuknya," bisik Ying setelah menyikut ringan lengan Fang.
"Hm. Terima kasih, Ying, sudah membantuku memilihkan hadiah yang tepat untuknya," bisik Fang, membalas, dengan senyum tulus lagi-lagi hadir di wajahnya.
"Bukan masalah. Lagipula, kau kan sudah janji mau jadi objek uji coba masakanku."
"Err, okay."
Dan, sepertinya Fang baru menyadari sefatal apa janji yang diucapkannya waktu itu.
A/N : Alhamdulillah, projek ini selesai tepat waktu TT
And happy birthday, Yaya, our Pink Queen, Gravity Manipulator, also Epitome for Kokotaim Gang! Wish you all the best not just for this year, but in the following years too! (Copas kalimatnya Fang).
Dan terima kasih buat yang udah mampir, baca, kasih review, bahkan favorite book ini (nanti)!
Btw, ada sedikit bonus di bawah ini. Jangan keburu pencet back dulu!
Omake
"Kau tidak mau jadi objek rebutan mereka?" tanya Gopal sembari mengamati tingkah kedua sahabat lelakinya yang berebut ingin membantu Yaya membawakan barang bawaannya ke dalam kapal angkasa.
Astaga! Gopal bahkan sangat yakin, meski bawaannya banyak dan berat sekalipun, Yaya tak butuh bantuan mereka sama sekali! Dia kan punya kekuatan manipulasi gravitasi! Lagipula, Yaya bukan orang yang suka dimanja seperti itu!
Ying, yang hendak mengomel sebab Gopal tak membantunya membawakan sisa makan siang tadi atas paksaan ibu Gopal, pun berdiri di samping sang sahabat gempal. Tak lupa rantang dan keranjang makanan di tangannya ditaruh di tanah sebentar, sekadar melemaskan tangannya yang pegal.
"Tidak. Menggelikan," jawab Ying serta-merta pun tanpa filter.
Tapi, memang, membayangkannya saja menggelikan. Diperebutkan oleh kedua sahabat yang dia tahu bagaimana seluk beluk diri mereka. Oh, bukan, bukannya penampilan atau sikap mereka jelek atau lainnya. Hanya ... bukan tipenya saja. Untuk saat ini, dia lebih tertarik pada ilmu pengetahuan, cowok fiksi, dan teman lelakinya (ambil contoh saja, Sai) daripada tertarik pada sahabatnya sendiri.
"Dan harusnya, aku yang bertanya di sini; Kau tidak ikut mereka memperebutkan Yaya?" sambung Ying, bertanya balik.
"Tidak. Menggelikan," jawab Gopal dengan kalimat yang sama, membuat gelak tawa lolos dari belah bibir Ying.
