Mempertahankan Kedaulatan
.
BoBoiBoy Monsta
A Fanfict by @Cuzhae
Warning: Pertempuran Ambarawa inside, Husband!Army!BoBoiBoy x Wife!Yaya
.
.
.
Indonesia telah merdeka pada 17 Agustus 1945, begitulah apa yang tersiarkan lewat radio, bahwa Ir. Soekarno telah membacakan proklamasi dengan tegasnya.
Namun, kemerdekaan itu belum pasti bagi Ambarawa, Jawa Tengah. Entah bagaimana caranya, para tawanan perang Belanda tiba-tiba saja kabur dari tempat tahanan.
"Dengar, Yaya. Ambarawa sedang tidak aman sekarang ini. Para tawanan berhasil kabur dan sepertinya Belanda memanggil Sekutu kemari. Para b*jingan itu berencana ingin merebut Ambarawa," ucap BoBoiBoy, "jadi untuk sementara waktu, pergilah bersama anak-anak untuk selamatkan diri."
Ingin Yaya menahan suaminya agar tidak pergi berjuang sudah cukup perangkat yang sebelum-sebelumnya.
"Kamu juga ikutlah melarikan diri, Mas. Aku sungguh takut apabila harus kehilangan kamu," ujar Yaya sembari membelai sebelah pipi sang suami.
Mau apa dikata. Bagaimana pun kemerdekaan ini harus dipertahankan. Susah payah bisa bebas dari belenggu, tetapi justru ingin dikekang dan rampas kembali? Tentu tidak akan dibiarkan begitu saja.
"Tidak perlu risau. Mas dengan pejuang lain akan berusaha mempertahankan Ambarawa sampai akhir," gigih BoBoiBoy.
BoBoiBoy siap mati untuk melawan para pendatang asing itu. Biar taruhannya nyawa sekalipun, terpenting keluarganya bisa hidup bebas. Sudah cukup penderitaan penduduk Ambarawa selama ini, jangan lagi ada luka yang bertambah.
"Tanggal 12 Desember nanti, aku dan pasukan TKR akan mencoba menolak mundur Belanda. Aku mohon bantuanmu untuk menggiring para penduduk ke tempat aman. Mengerti, Dek?"
Yaya hanya mampu menyetujui arahan suaminya tersebut. Dia harus yakin, Ambarawa mampu mendapatkan kemerdekaan mutlak. Tempat kelahirannya ini harus kembali aman, apalagi kini ia sudah memiiki dua anak dari BoBoiBoy. Si sulung usianya empat tahun dan anak kedua masih dalam buaian.
"Kakak tolong jaga Ibu dan Adik, ya. Ayah mau pergi berjuang dulu."
Halilintar, si sulung, yang belum terlalu mengerti arti ucapan ayahnya hanya membalas dengan angggukan kecil.
--
Malam, 11 Desember, Yaya sambil menuntun si sulung dan mengendong yang paling kecil, bersama para penduduk mereka lekas mengungsikan diri. Berpindah ke tempat yang lebih aman dan bisa terhindar dari pertempuran dengan Belanda yang belum usai tersebut.
Ya Tuhan, kumohon jaga suamiku. Janganlah engkau timpakan kesulitan baginya. Selalu amankan Ambarawa dari segala hal yang merugikan, batin Yaya seraya berdoa.
Aku merasa bodoh tak bisa mencegahnya pergi. Kisahku dengannya baru saja dimulai. BoBoiBoy di sana tengah melawan musuh, di sini aku berdoa untuknya.
Apakah kamu tidak ingin cepat pulang, BoBoiBoy? Sudah dua hari ini belum ada kabar mengenai pertarungan memperebutkan Ambarawa ini. BoBoiBoy ... Halilintar mencemaskanmu. Ia jadi tidak nafsu makan dan menanyakan di mana ayahnya jatuh sakit. Itu karena ia rindu denganmu, BoBoiBoy ...
Bersyukur aku bisa menjadi wanita pilihannya, yaitu istri dari pahlawan baik hati yang tanpa pamrih dalam menolong semua. Namun, terkadang aku sedih karena BoBoiBoy tidak bisa selalu bersama di sisiku. Waktu kami terganggu oleh panggilan misi, demi kemerdekaan yang utuh. Tidak apa, aku harus mengerti. Dia adalah seorang prajurit.
Tugasku ialah berdoa, menunggu, dan menyambut dirinya sepulang menjalankan pertempuran ini dengan senyuman lebar. Terus bersabar menanti suamiku, BoBoiBoy.
Aku harap kamu baik-baik saja.
--
Keadaan semakin darurat. Awalnya hanya bertamu beralih menjadi penjajahan. Semulanya berdagang, kini merajalela ingin berkuasa. Pasukan telah dikerahkan guna mengendalikan musuh yang kian membrutal. Menjatuhkan banyak nyawa dikarenakan ego mereka terhadap kekuasaan.
Mempertahankan Ambarawa untuk kedamaian semuanya. Kubu musuh semakin menguat. Pikiran positif selalu BoBoiBoy tanamkan pada dirinya. Ia yakin bahwa kebajikanlah yang akan menang dan mereka yang salah akan kalah.
Dalam lengahnya, musuh ambil kesempatan menyerang BoBoiBoy dalam sekali serang. Untung saja Fang yang berada tak jauh darinya segera menangkis serangan tersebut.
"Kau harus serius, BoBoiBoy. Jangan terlalu banyak melamun! Yang ada kau mati terbunuh." Seraya menyadarkan BoBoiBoy, Fang melawan musuh yang mendekat ke arah mereka berdua.
"Baiklah," jawabnya lesu. Matanya ia edarkan menyeluruh. Dulu tempat ini begitu damai sentosa. Namun, seberapa pun indahnya tempat ini, tetap saja menjadi tempat yang mengerikan.
Tembakan di mana-mana. Dan yang memiliki kekuatan adu kuat sampai nanti salah satunya mati. Tidak ada yang mau mengalah antara pasukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) maupun pihak Belanda. Pada puncaknya bakal sama-sama hancur.
Luka sayatan memenuhi tubuh BoBoiBoy, tak jarang pula darah mengalir di beberapa sisi. Penciumannya penuh dengan bau metalik. Meski rasanya sudah remuk, BoBoiBoy tekadkan untuk melawan selagi kesadaran masih ada ia tak akan menyerah.
"Aku tidak boleh terbunuh di sini ...," lirih BoBoiBoy menguatkan diri.
Bagus, musuh sudah banyak yang tumbang dan kemenangan sudah di depan mata. Menatap tajam musuh, kemudian mengepalkan tangannya kuat. Pikirannya kalut. Kondisinya tidak bisa dikatakan bagus. Tidak, BoBoiBoy tak akan pernah menyerahkan sesuatu yang berharga ke tangan para pasukan Belanda.
"Akan aku akhiri semuanya," tekad BoBoiBoy.
Ada rasa bangga saat mampu menghabisi musuh. Dengan susah payah BoBoiBoy melawannya. Napasnya tersengal begitu berhasil dari duel tersebut. Netranya juga memburam dikarenakan rasa sakit di kepalanya semakin menjadi. Apakah ini batasannya?
Tidak jauh dari Fang, musuh terlihat mengambil ancang-ancang untuk menembaknya. Dengan sisa kekuatan yang ada, BoBoiBoy mendorong Fang guna menghindarkan dari peluru yang akan dilepaskan.
Dor!
Naas, timah panas itu langsung tertancap tepat di jantung BoBoiBoy. Darah pun merembas dari dada pria tersebut.
Fang terbelalak, pupilnya mengecil mendapatkan sahabatnya terkapar lemah. "BoBoiBoy!"
Benar, ini adalah batasan BoBoiBoy. Perwira yang diagungkan kini berpamit dari dunia fana. Dia telah tewas dalam keadaan mulia, menciptakan Ambarawa agar tetap damai.
Selamat tinggal, Perwira.
--
15 Desember 1945.
Berita bahwa pasukan TKR mampu memukul mundur pasukan Belanda sampai ke Semarang merupakan berita membahagiakan. Sayangnya tidak bagi Yaya. Suaminya dinyatakan gugur dan dipastikan tidak bisa kembali ke keluarga kecilnya.
.
.
.
Seorang anak kecil berlari menghampiri ibunya lalu menarik bajunya pelan. "Ibu ... Ibu," panggilnya.
"Ada apa, Nak?" sahut Yaya–ibu dari bocah tadi. Dialah Halilintar, si sulung, dengan tatapan polosnya.
"Ayah itu seperti apa, Bu?" tanya dia penasaran.
Napas Yaya tercekat sesaat. "Ayahmu itu pahlawan hebat yang suka menolong orang tanpa pamrih, tidak peduli bagaimana dengan dirinya. Tapi dia itu pelupa dan kadang ceroboh. Ada satu yang Ibu tahu, dia adalah orang kuat," jawabnya seraya menjajarkan tingginya dengan anaknya.
Mata anak kecil itu berbinar mendengarnya. "Wah! Kalau begitu aku juga mau menolong orang." Ia tersenyum lebar. "Terus topi ini punya siapa?"
Topi yang sedari tadi disembunyikannya, ia tunjukkan pada ibunya. Sebuah topi oranye yang masih terlihat bagus.
"Kalau yang ini," [Name] mengambil topi itu dari anaknya. " ... topi punya ayahmu." Mengelus sebentar topi kesayangan almarhum suaminya itu.
"Topinya buat aku aja ya, Bu?"
"Boleh."
Lihat anak kecil ini, BoBoiBoy. Dia begitu mirip denganmu. Aku harap kau bisa melihat kami bahagia di sana, batin Yaya.
# Finish #
A/N:
*kicep*
Aku buat apa ini?! Feel-nya terasa kurang ... Terima kasih udah sudi baca fanfict ini *elap ingus* /jorok.
Semoga tidak menyesal setelah membaca ini :')
