All characters belongs to GMMTV and family. Did not take any advantage in making this fanfiction. Made just for fun.
warning; shounen-ai.
Main Pair: Singto/Krist.
Selamat membaca.
.
[ Musim Gugur dan Dua Cangkir Teh ]
by
Dianzu
.
Beginilah akhirnya—Singto mencelupkan sesendok gula ke dalam cangkir berisikan teh.
Adukan pertama, adukan kedua, sampai adukan ketiga belum membuatnya larut—masih terambai-ambai mengikuti poros, belum menyatu dengan air berwarna kecokelatan. Singto masih setia memegangi sendoknya sembari mengembuskan napas sedikit—terlihat uap-uap mengelilingi pandangannya; bisa saja dari dalam teh, bisa saja dari udara dingin yang setia menyelimuti kota Leipzig yang sedang dilanda musim gugur. Benar, musim gugur pertama di tahun ini. Singto masih setia mengaduk.
Seseorang pernah mengatakan; usap kedua tanganmu itu, maka kehangatan akan datang. Singto melakukannya—mengusap kedua tangan yang mulai dingin, sedikit memberinya kehangatan walaupun pada kenyataannya tidak cukup untuk tetap membuat tubuhnya menghangat. Duduk sendiri di halaman belakang rumahnya membuat suasana menjadi lebih tenang, damai, dan relaksasi. Teh sudah siap; gula telah menyatu dengan air. Singto menyicipinya sedikit—membiarkan sang indra merasakan bau harum daun melati serta panasnya air. Panas, Singto menghentikan aksi meminum teh—lalu kembali menatap halaman rumah yang mulai berguguran daun-daun.
"Phi, lagi-lagi sendiri."
Pria itu menolehkan kepala—melihat sesosok pria manis berambut cokelat tua datang disertai senyum yang begitu dalam, "Aku bawa daging."
"Merusak suasana."
Krist hanya terkekeh pelan melihat reaksi sahabatnya. Singto memang begitu; lebih senang memikmati suasana dengan secangkir teh hangat—padahal Krist ingin sekali memperkenalkan beberapa minuman hangat lainnya yang tak kalah nikmat dari sebuah teh, "Lihat, kau minum teh lagi."
Singto mencibir pelan, ia menatap si manis segera duduk di kursi yang masih kosong, "Untuk apa kau ke sini? Tidak punya rumah?"
"Jahat sekali. Padahal aku merindukanmu."
Singto kembali mengembuskan napas, Krist terkikik geli melihat ekspresi kawannya, "Jangan terlalu sering meminum teh manis, kau bisa kena diabetes."
"Kau bukan dokter, Kit."
"Oke, oke, I got it."
Kini keduanya terdiam. Singto terlalu sibuk menikmati suasana, sedangkan Krist terlalu sibuk dengan daging yang ia bawa. Dua manusia yang begitu bertolak belakang sifatnya disatukan dalam satu situasi—menciptakan afiliasi yang lama-kelamaan membuat keduanya dekat.
"Mau minum teh?"
Singto menawarkan, Krist melebarkan mata.
"Kenapa ekspresimu begitu, Kit?"
"Tidak, aku hanya terkejut."
Singto mulai menuangkan teh ke dalam cangkir satu lagi. Sudah menjadi suatu kebiasaan bagi Singto untuk menyediakan dua cangkir di atas meja bundar kecil yang berada di halaman belakang rumahnya. Ia tidak mau repot-repot kembali masuk ke dapur hanya untuk mengambilkan si bawel Krist sebuah cangkir. Tiga sendok gula dimasukkan, lalu kembali diaduk hingga beberapa putaran. Krist memerhatikan gerak-gerik Singto; begitu tenang, pendiam, dan juga tampak dingin—kedua pipinya memerah, mungkin karena efek udara yang dingin.
"Thanks." Krist menerima teh buatan Singto, lalu meminumnya, "Panas!"
Singto menyunggingkan senyum miring, "Bocah bodoh, itu masih panas."
Krist segera menaruh cangkir teh berwarna putih di atas meja—lalu menatap wajah Singto dengan ekspresi yang begitu menyebalkan, "Akan kubalas perbuatanmu suatu saat nanti."
Singto tidak peduli. Ia lebih memerdulikan tehnya yang semakin lama semakin dingin.
"Phi."
"Hm?"
"Menurutmu, dunia ini seperti apa?"
Singto melihat Krist sedang menatap langit-langit yang tampak tidak cerah. Seulas senyum ia tampilkan sesaat sebelum kembali bertanya, "Aku merasa kita hidup di sebuah permainan."
Uap masih berterbangan sesuka ria. Udara dingin semakin menggerogoti tulang-belulang. Singto jadi ingin menatap langit; yang konon katanya awan-awan indah di atas sana terbuat dari kapas suci para dewa. Entah siapa yang menciptakan mitos seperti itu, tapi Singto tidak terlalu memerdulikannya.
"Phi, kalau kau boleh memilih—kau ingin hidup sebagai apa?"
"Sebagai teh."
Krist terkekeh, "Dasar maniak."
"Kau?"
"Hah?"
"Kau ingin jadi apa?"
Krist memasang ekspresi berpikir. Singto terlihat tidak suka, "Tidak usah memasang ekspresi serius begitu. Wajahmu tidak cocok, bodoh."
Lagi-lagi Krist tertawa. Pria manis berlesung pipi itu tidak pernah merasa sakit hati mendengar ucapan pria yang kini tengah duduk di kursi sebelahnya, "Oke, oke. Sepertinya aku ingin menjadi cangkir."
"Kenapa begitu?"
"Biar aku bisa menampungmu, Phi."
Singto menggelengkan kepala. Bisa-bisanya si bodoh itu menjawab pertanyaannya begitu.
"Kalau aku tidak ada di sini, apa kau akan kesepian, Phi?"
Singto berpikir keras—ia tidak suka berada di suasana yang bising serta berkumpul dengan orang-orang banyak tingkah. Singto lebih senang menyendiri di belakang rumah dengan meminum secangkir teh setiap hari (atau kadang-kadang sembari bermain piano tidak terlalu buruk). Tapi ia tidak pernah merasa risih jika berada di dekat Krist—si manis yang periang, banyak bicara, dan banyak tingkah. Entah kenapa Singto merasa nyaman, padahal sifat mereka berbeda seratus delapan puluh derajat.
"Maybe? I don't know, Kit."
"Kenapa?"
"Karena kau selalu ada di dekatku, bodoh."
Krist terdiam. Benar, selama ini ia selalu menempel pada Singto kapan pun dan di mana pun. Krist menganggap hubungan mereka serperti sahabat sejati—tapi Singto malah menganggap hubungan mereka layaknya majikan dan hewan peliharaan. Tentu saja Singto majikan, Krist hewan peliharaan. Pria angkuh itu mana mau disamakan dengan hewan peliharaan.
Sometimes, Krist want to choke Singto's neck.
"Tehmu semakin dingin, Kit."
Krist terlalu banyak berpikir—hingga tidak sadar uap yang sejak tadi mengepul di dekat cangkir tehnya pun sudah sirna. Pria manis itu segera meminumnya hingga habis, "Tehnya sudah dingin, tidak terlalu nikmat."
Singto tidak banyak komentar. Memang benar; keunggulan teh manis ada pada ketika uapnya masih mengepul hingga menembus kulit. Di situlah titik kenikmatannya, tapi terkadang menjadi titik kecelakaan karena akan menyebabkan lidah terbakar ketika menyicipinya.
Daun kembali berguguran, semakin banyak—membuat jalan di beberapa tikungan tertimbun. Singto masih terdiam, tidak ada ekspresi kentara. Wajahnya semakin memerah akibat udara yang dengan tidak sopannya menerjang kulit. Singto mengingat ucapan Krist; usaplah kedua tanganmu ketika dingin, itu akan menghangatkan tubuhmu. Singto terkekeh pelan, lalu mengusap kedua telapaknya beriringan.
"Bocah bodoh, kenapa aku mengikuti ucapanmu. Tapi ini hangat."
Satu cangkir berisikan teh manis hangat mengeluarkan uap, dan satu cangkir kosong berisikan satu daun yang telah gugur.
Sama seperti pemiliknya—Krist, yang telah gugur melawan penyakit.
Singto menarik napas dalam, mengambil cangkir miliknya, lalu menyicip kembali teh hangat yang setiap hari menjadi candu.
Ia menatap langit—masih sama seperti biasanya; tidak cerah, namun tidak gelap juga. Angin berembus semakin kencang, membuat beberapa daun gugur terbang berkeliling angkasa. Singto memikirkan banyak hal—dan salah satunya adalah pertanyaan Krist kala itu.
Apakah ia akan merasa kesepian jika Krist tidak ada?
Jawaban Singto adalah; iya. Pria itu akan merasa kesepian.
"Ck, Kit. Kau pasti sedang menertawakanku dari atas sana karena melihatku kesepian."
Singto menunjukkan afeksinya pada langit yang tidak tahu-menahu permasalahan hidup pria berambut hitam itu. Tak berselang lama, Singto kembali menyunggingkan senyum.
"Kau bahkan lebih payah karena tidak bisa melawan penyakitmu itu, Kit. Dasar bocah bodoh."
Diambilnya daun gugur yang masuk ke dalam cangkir milik Krist—Singto menatapnya dalam. Tidak ada penyesalan dalam dirinya untuk saat ini. Ia senang karena Krist selalu menemaninya meminum secangkir teh ketika musim gugur tiba di halaman belakang rumahnya.
Dua cangkir berukiran angsa, musim gugur, dan ocehan yang keluar dari bibir manis Krist,
adalah sekian hal di dunia yang Singto sukai.
.
the end.
Cirebon, 23 Januari 2021 – 11:46 AM
edited.
Cirebon, 24 Januari 2021 – 07:51 AM
posted.
Tangerang, 07 Agustus 2022 - 14:14 PM
note: hai, sebenarnya fanfik ini sudah dibuat satu tahun yang lalu, hanya saja saya lupa untuk upload dikarenakan banyaknya tugas T.T
