"Kneel."
Kyungsoo menurut, kedua lututnya sudah ia tumpukan di lantai.
"Good."
Kai berjalan memutari Kyungsoo; yang masih mengenakan seragam SMAnya, yang kini berkeringat dingin, yang kepalanya tertunduk, dan yang diliputi rasa takut. Tanpa sadar, Kai sudah menyunggingkan seringainya.
"Jadi, coba kamu jelaskan maksudmu menemui saya apa."
Kyungsoo baru saja kepayahan menelan ludahnya, ia gugup setengah mati sekarang. Tapi, jika ingin keinginannya terwujud, dia harus menjawab pertanyaan itu, kan? "A—aku tidak punya pilihan lain selain ke sini."
"Terus, kamu milih saya tujuannya apa? Memang saya mau apain kamu?"
Kyungsoo mengembuskan nafasnya sebentar, baru terbata menyahut, "A—aku bisa melayani Anda."
"Bahasamu amburadul, Bocah. Aku dan Anda? Kamu pikir itu pantas?"
"Ah, maksudku—maksud saya, saya." Kyungsoo buru-buru meralat, merasa kelimpungan sendiri. "Bapak Kai—"
"—Bapak?"
"Mm, Mas?"
"Ya, Mas aja. Saya masih 30 tahun, kok."
"Mas Kai, sa—saya butuh uang. Saya liat di internet, Mas lagi buka lowongan jadi pelayan apa pembantu, ya? Pokoknya, itu. Saya mau ngisi posisi itu, Mas. Kriterianya juga cocok sama saya; masih muda, cekatan, terampil, tanggung jawab, dan maaf saya narsis dikit, ganteng. Kata temen-temen saya di sekolah, saya lumayan ganteng—"
"—shhh." Kai berdesis tiba-tiba, merasa terganggu dengan ocehan Kyungsoo. "Saya ngga butuh resume kaya gitu."
"Maaf, Mas." Kyungsoo akhirnya mendongak karena dia barusan menangkap ujung sepatu pantofel Kai melalui intipan matanya, dia jadi penasaran—dan ternyata karisam orang ini memang tidak main-main. "Mas ngga akan kecewa kalau mempekerjakan saya."
"Uangnya mau buat apa?"
"Mm," Kyungsoo bergumam sambil berpikir, "Ibu saya sakit—"
"—klise."
"Tapi, saya belum selesai ngomong, Mas. Itu tadi niatnya prolog cerita."
"Ya udah, lanjutin."
"Ibu saya sakit parah dua tahun lalu, setahun kemaren baru meninggalnya."
"Oh, sori."
Kyungsoo terlihat tidak masalah dengan kesalahan Kai tadi, jadi dia meneruskan, "Ayah saya udah ngga ada dari saya lahir. Ibu saya ninggal utang, nunggak biaya pengobatan di rumah sakit, jadi saya harus lunasin itu."
"Kamu ngarang, ya? Masuk akal, dong. Terus, yang biayain sekolah sama kebutuhan sehari-hari?"
Kyungsoo mengerjap, kini mata bulatnya memandangi rahang tegas Kai. "Kalo saya jago ngarang, saya udah jadi penulis, Mas. Ya, saya kebetulan pinter, sih. Jadi, dapet beasiswa setahun dari sekolah, ngga tau tahun depan. Buat nyambung hidup, saya serabutan aja."
"Ngapain?"
Kyungsoo seketika bingung, "Nga—ngapain maksudnya?"
"Ngapain aja kerjanya?"
Kyungsoo malah mengedarkan pandang ke seluruh penjuru ruangan. Tempatnya berlutut sekarang adalah rumah kelewat mewah yang dihiasi furnitur mahal dan dilapisi ornamen berkelas. Jadi, dia kagum sebentar sebelum dengan mantap membalas, "Mm, yang jelas kerjaannya jauh lebih berat dari pada di sini. Saya cuci piring, cuci baju, bersihin gudang, bersihin kandang ternak, banyak, deh, Mas."
"Kenapa kamu bisa yakin kerja di sini enak?" Kai bersedekap, lagi-lagi meneliti bocah polos di depannya. "Karna liat saya baik?"
Kyungsoo mengerjap, dia tidak bisa berbohong. "Kata orang, don't judge the book by its cover. Jadi, kalo Mas sekarang keliatan baik, berarti aslinya jahat, ya?"
"Saya juga ngga tau."
"Loh." Kyungsoo malah mendelik, suaranya bahkan naik satu oktaf tanpa dia sadari. "Mas masa ngga kenal sama diri sendiri?"
"Kalau kamu diterima, kamu siap terima semua konsekuensinya? Ibaratnya, kamu udah jadi milik saya. Jadi, apapun perintah saya—"
"—SIAP, MAS!" Kyungsoo, tanpa ragu, sudah menyambar. Tiba-tiba menggesturkan salah satu tangannya menjadi bentuk hormat tanda patuh. "Asalkan boleh tinggal di sini? Soalnya, saya udah ngga mampu bayar sewa kontrakan, Mas."
"Kalau kamu masih suka motong-motong omongan saya kaya gitu, lama-lama saya yang motong leher kamu. Kamu pikir saya ngga bisa—"
"—hahaha!" Kyungsoo malah tergelak, telak membuat Kai jadi memendam kembali amarahnya. "Mas ini kelamaan hidup sendiri, ya? Masa ngelucunya bawa-bawa genre thriller gitu."
Kai menghela nafas, "Ya udah, kamu saya terima kerja di sini. Kata kuncinya, apapun yang saya perintahkan ke kamu, kamu ngga bisa nolak. Apapun itu."
Kyungsoo setuju, dia sudah tidak peduli apa-apa lagi selain rasa senangnya bisa diterima kerja di sini. "Makasih, Mas, makasih."
Kai mendengus sekali, "Ingat, ya. Kamu di sini pelayan, kamu ngga berhak seenaknya akrab sama saya. Karna pertemuan pertama aja, saya maklumin. Mulai besok, ngga ada ampun."
Kyungsoo akhirnya mulai sadar—kalau dia memang keterlaluan sejak tadi. Bagaimanapun, Kai sekarang bosnya, majikannya, tuannya. Dia harus tunduk seperti anjing, kan? Selama uang mengalir, Kyungsoo tidak ada masalah.
"Panggil saya Master, bukan Mas."
"Tapi, Mas kan emang tiga huruf awal kata Master?"
"Jangan ngebantah! Master, ya, master! Panggil lengkap, ngga pake dipenggal-penggal!"
Kyungsoo jadi terkejut karena gelegaran mengerikan itu. Dia tidak tahu apa keputusannya kerja di sini akan jadi mimpi indah atau mimpi buruk, apa dia harus senang seperti sebelumnya atau malah merutuk dan menyesal? Sepertinya, dia memang tidak seberuntung itu.
"Ma—maaf, Mas—ter." Kyungsoo menunduk lagi, menyembunyikan tatap matanya yang sarat ketakutan. "Maaf, Master, kaki-kaki saya mulai kesemutan—"
"Apa peduliku?"
Kyungsoo terkejut lagi.
"Tetap di posisi itu sampai saya membolehkan kamu berdiri."
TO BE CONTINUED
Haloooo!
Ada yang masih inget aku di lapak ini ngga?
KAISOOIST R U STILL THERE?
