Ada 20 Siswa yang berada di dalam kelas 1-A, mereka semua adalah 20 orang yang diterima di kejuruan pahlawan dan tentu saja berkeinginan untuk menjadi salah satunya setelah lulus. Namun yang menjadi pertanyaannya adalah 'apakah mereka mempunyai potensi untuk menjadi seorang pahlawan?'

Jika mereka berpikir bisa singgah ke MCD setelah pulang sekolah maka sebagai seorang guru jurusan ini ia bisa mengeluarkan mereka tak peduli seberapa sulitnya tes masuk sekolah terkenal ini.

Ia mengeluarkan seluruh murid kelas 1-A tahun lalu dan ia tidak akan segan untuk mengeluarkan murid tahun ini di hari pertama mereka.

Dan sejauh ini pahlawan yang berjulukan Eraserhead dapat melihat potensi dan keseriusan mereka dari kedelapan tes yang telah ia berikan, walau karakter mereka perlu sedikit dibentuk lagi agar mereka bisa menjadi pahlawan yang sesungguhnya, tentu saja ada beberapa dari mereka yang menarik matanya.

Yaoyorozu Momo adalah salah satu dari empat siswa yang direkomendasikan ke U.A, walaupun performanya tidak mendapatkan nilai tertinggi tapi kreativitasnya tetap sebuah nilai plus dan dapat diterapkan saat ia menjadi pahlawan nantinya.

Di sisi lain ada Midoriya Izuku yang pada awalnya ia anggap tidak memiliki potensi apa pun, setelah melihat video tes masuk dua minggu yang lalu ia menanggap orang yang hanya bisa menyelamatkan satu orang dan babak belur tidak cocok untuk menempuh profesi ini.

Tapi di tes kelima Midoriya mengejutkannya dengan memusatkan kemampuan supernya ke jari telunjuk untuk menambah kekuatan lemparan bola bisbol, walau berakibat jarinya yang patah tetapi lebih baik dibandingkan tangannya yang patah.

'Anak ini punya potensi' pikir Shota setelah melihat Izuku yang memaksa dirinya untuk tersenyum sambil menggenggam tangan kanannya di mana jari telunjuknya terluka.

Namun Shota tidak buta dengan performa Izuku setelah tes kelima, karena sambil menahan rasa sakit yang ia rasakan ia harus memaksa dirinya untuk tiga tes terakhir di mana performanya sangat buruk menjadikan dirinya berada di peringkat terakhir dari dua puluh siswa.

Sesuai janjinya ia akan mengeluarkan siswa dengan peringkat terakhir, namun setelah melihat potensi Izuku ia mulai berbohong dan menjelaskan kalau apa yang ia ucapkan sebelumnya hanyalah bohong.

Shota lalu mendekati Izuku lalu memberikan sebuah surat izin UKS yang telah ia tanda tangani.

"Midoriya ini surat izin UKS, suruh nenek itu untuk merawat jarimu," ucapnya.

"T-tidak apa-apa Aizawa-sensei, jariku sudah sembuh." Izuku menunjukkan jari telunjuk kanannya yang seharusnya terluka tapi tidak sama sekali, ia sudah memperhatikan Izuku dan ia tak akan berpikir kalau Izuku berbohong soal lukanya atau punya quirk lain yang tidak ditulisnya di kertas biodata.

Berarti ada seseorang di kelas yang menyembuhkan lukanya, dan walau sulit untuk diakui tetapi Shota tidak memperhatikan apa yang muridnya lakukan selain dari mereka yang sedang menunjukkan kebolehan mereka.

Tapi Shota tidak punya banyak waktu, jam masa orientasi sudah habis dan daftar mata pelajaran juga sudah dibagikan di bangku masing-masing, ia lalu menyimpan kertasnya dan mulai berjalan ke ruang guru.

Matanya melihat warna yang mencolok di balik dinding salah satu kelas, dan ia hanya bisa mendesah dan berharap warna mencolok itu tidak mencoba untuk mengganggunya.


Berakhirnya jam sekolah adalah waktu di mana Izuku bisa menghela nafasnya, hari pertamanya di U.A adalah sesuatu yang berada di luar bayangannya dan sampai sekarang ia tidak tahu kenapa ia masih berada di sini.

Jika apa yang Aizawa-sensei katakan benar berarti bukan tidak mungkin ia akan dikeluarkan di hari kedua atau seterusnya setelah melihat kalau potensi dirinya yang sebenarnya itu dangkal, Izuku tidak bisa membiarkan dirinya tetap berada di bawah.

Oleh karena itu tujuannya hanya satu, ia harus menguasai One For All secepatnya atau impiannya menjadi seorang pahlawan hanyalah sekedar impian.

Tapi sebelum itu ia harus pergi menemui seseorang sebelum orang itu pulang.

"Tunggu Sebentar Uchiha-san!"

Orang itu ialah seorang perempuan berkacamata yang lebih tinggi beberapa sentimeter darinya dan itu membuat Izuku sangat gugup, meskipun sudah berbicara dengan Iida dan Uraraka (Dia sebenarnya tidak berbicara sama sekali) tapi berbicara dengan orang baru saja ia kenal ditambah lagi seorang perempuan membuatnya gugup sekali.

Meskipun begitu ada hal yang harus ia lakukan.

"Terima kasih telah mengobati jariku sebelumnya," ucapnya sambil membungkukkan badannya.

Ia masih mengingat apa yang terjadi sebelumnya, walau kelihatannya sedikit aneh dan ia juga tidak punya kemampuan otak yang cukup untuk mengerti apa yang sudah terjadi, tapi ia akan mencoba menjelaskan apa yang sudah ia lihat.

Di saat tes sudah selesai tiba-tiba saja sebuah api biru membakar jari telunjuknya, ia hampir saja berteriak jika ia tidak merasakan rasa sakit jarinya berkurang dan warnanya kembali seperti semula, ia mencari siapa pemilik api tersebut dan melihat sekilas Uchiha yang mengendalikan api ini dari jari telunjuknya.

Api itu kemudian hilang dan Izuku bisa melihat jarinya sudah sembuh total, ia baru saja ingin mengucapkan terima kasih namun Aizawa-sensei sudah menyuruh siswa untuk berkumpul, sehingga sekarang adalah kesempatannya.

Tapi Uchiha tidak menjawab sama sekali dan hanya melihat dirinya, ekspresinya tidak berubah sama sekali, tidak ada dari mereka yang bergerak sama sekali selama beberapa menit.

"Deku-kun!"

"Midoriya-kun!"

Sampai dua suara yang ia kenal datang menghampiri mereka, di saat itulah Izuku mendengar suara langkah kaki Uchiha yang berbalik dan berjalan pulang.

Izuku sama sekali tidak bergerak, tapi ia bisa merasakan sesuatu yang retak dalam dirinya.

Apakah ini perasaan yang orang lain rasakan saat ditolak? pikir Izuku.

Menahan rasa baru yang menyangkut di dadanya ia kemudian tegak dan menoleh kepada kedua teman barunya.

"Tadi itu apa Midoriya-kun?" tanya Iida.

"Tidak ada apa-apa Iida-kun, hanya saja tadi dia menyembuhkan jariku."

"Heee? Kapan dan bagaimana dia menyembuhkannya?"

"Saat tes tadi, aku hanya melihatnya sekilas tetapi dia menggunakan quirk yang aneh."

"Aneh?" Iida dan Uraraka tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran mereka.

Di masa ini di mana 80% manusia di dunia terlahir dengan berbagai jenis quirk, menyebut sebuah quirk aneh bukanlah sesuatu yang wajar.

Izuku sendiri menyadari apa yang ia ucapkan, namun ia tidak bisa memikirkan apapun untuk menjelaskan apa yang terjadi.

Bagaimana bisa quirk api dapat menyembuhkan lukanya? Terlebih lagi api tersebut memiliki warna yang berbeda.

Api hanya bisa berwarna biru jika suhu api tersebut mendekati seribu derajat celcius, tetapi apa yang ia rasakan tidak sama sekali cocok dengan kata panas.

Pada akhirnya ia memutuskan untuk menuliskan quirk teman sekelasnya di dalam buku catatan kepahlawanannya yang baru dan berharap agar dapat melihat bagaimana quirk tersebut bekerja di masa depan.

To Be Continued