Uchiha Akane adalah seorang manusia yang tak luput dari kesalahan entah tak disengaja ataupun disengaja, tapi menurutnya hari ini ia telah melakukan kesalahan terbesarnya yang bisa membuat seluruh anggota klannya yang sudah mati menepuk kepala mereka di atas sana.
Sejak beberapa bulan yang lalu ia hidup di Musutafu sebagai seorang manusia dengan quirknya yang tak mencolok yang ia sebut dengan nama Airwalk, dimana ia bisa membuat pijakan di udara dan berjalan di antaranya, ia bahkan mendaftar ke U.A dan berhasil lulus tesnya karena quirk ini.
Tentu saja dari jenis cerita ini bisa diketahui kalau Akane berbohong dengan bertujuan untuk menutupi kemampuan aslinya sebagai seorang ninja.
Dan pagi ini ia baru saja membuka rahasianya hanya untuk menolong satu orang, ditambah lagi orang itu melihat bagaimana cara ia menyembuhkannya.
Ia sama sekali tidak bisa berkata apapun saat dihampiri oleh Izuku karena ia sibuk memikirkan jalan terbaik untuk tetap menyembunyikan kemampuannya.
Dan akhirnya ia menyerah dan memutuskan untuk tidak akan menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan kemampuannya selain dari yang ia akan tunjukkan selama di sekolah.
'Jam dua pagi, sudah waktunya untuk tidur…'
Akane yang menghabiskan waktunya berjalan malam di tengah kota memutuskan untuk pulang dan tidur agar tidak mengantuk di sekolah nantinya.
"Aku tidak menyangka akan ada seorang siswi yang masih berjalan di larut malam seperti ini." Sebuah suara menghentikan Akane dan membuatnya menoleh ke arah asal suara tersebut.
"Terlebih lagi seorang murid dari U.A, bukankah sekarang sudah waktunya untuk tidur Uchiha-san." Pemilik suara tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Aizawa Shota, guru homeroom nya.
'Sebaiknya kau bercermin dulu sebelum memberi nasihat itu…' jawab Akane dalam pikirannya, tentu saja ia tak ingin memprovokasi gurunya yang mungkin membuatnya semakin mencolok.
"Aku memutuskan untuk berjalan malam hari karena tidak bisa tidur." Alasan yang ia berikan juga sebenarnya bukanlah sebuah kebohongan.
Lagipula Aizawa-sensei juga tak punya waktu untuk mengecek apakah salah satu muridnya memiliki penyakit insomnia atau tidak.
"Apapun alasanmu sebaiknya kau pulang dan beristirahat, aku sudah bilang kemarin kalau kalian takkan punya waktu bersantai jika bersekolah di U.A, jika aku mendapati nilai mu tidak memenuhi standar maka aku akan langsung mengeluarkan mu begitu saja."
"Baik sensei…"
Akane yang tadi sudah mau berjalan pulang kini mulai berjalan menuju apartemennya, jaraknya hanya 5 menit jika berjalan kaki dan ia bisa saja lewat jalan pintas yaitu atap rumah warga.
Ia hanya berharap bisa tidur dengan nyenyak setelah sampai di apartemennya.
Hari kedua di U.A, berjalan dengan sangat normal, jika tidak karena pahlawan pro yang mengajar materi kelas Izuku tidak melihat perbedaan antara guru SMPnya dulu dan bagaimana Present Mic menjelaskan materi bahasa Inggris (walau terkadang dia akan berteriak jika tak ada respon dari siswanya.)
Pada saat jam istirahat dia bersama Iida dan Uraraka pergi ke kantin sekolah dimana ia bisa merasakan masakan kelas atas dengan uang sakunya, tentu saja ini kabar yang sangat baik sehingga ia tidak perlu memasak bento tiap pagi hanya karena masakan kantin tidak enak.
Kualitas makanan tersebut sudah bukan tandingan lagi karena pahlawan pro Lunch Rush lah yang bekerja sebagai koki kantin, Izuku yang sibuk mengagumi pahlawan di depannya tidak sadar bahwa Akane sudah berada di dekatnya.
"Permisi, apakah aku boleh duduk disini?" tanya Akane yang menyadarkan Izuku dari aktivitas sebelumnya.
"Ah… ya tidak apa-apa." Izuku menggeserkan dirinya dan jika piringnya untuk memberikan Akane di meja kantin.
"Terima kasih…"
Akane lalu duduk dan memulai makan makanannya yang terdiri dari nasi, telur dan saus tanpa ada apapun yang menghiasinya, sebuah makanan yang terlihat sangat datar.
Izuku sendiri menjadi gugup karena duduk dekat dengan seorang perempuan, terlebih lagi itu Uchiha Akane yang kemarin sama sekali tidak merespon ucapannya.
Tidak ada dari mereka yang mencoba memulai pembicaraan dan hanya memakan makanan mereka, Izuku tidak bisa berhenti memperhatikan Akane hingga Akane tiba-tiba menoleh ke arahnya.
"Apakah ada sesuatu di wajahku?"
"Ah… ti-tidak ada apa apa kok.."
Izuku bingung, di satu sisi ia sangat gugup dengan keadaan sekarang tapi di sisi lain ia ingin bertanya mengenai quirk yang dimiliki oleh Akane.
Pertanyaannya adalah apakah sekarang waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu? Izuku tidak menemukan jawabannya sampai jam istirahat berakhir.
Jam ketiga adalah waktunya jam pelajaran khusus kejuruan, dari daftar pelajaran yang diberikan kemarin maka hari ini adalah jam Heroics 101, yang akan dibimbing oleh pahlawan pro veteran.
"AKU DATANG…"
Sebuah suara gagah yang sangat terkenal tiba-tiba langsung muncul di depan pintu kelas, di sana pahlawan nomor satu Jepang berdiri sambil memegang gagang pintu.
"LEWAT PINTU SEPERTI ORANG BIASA!"
Berdirinya All Might di sana membuat seluruh siswa di kelas bersemangat, Midoriya yang gugup menunjukkan sinar kekagumannya, Bakugo yang liar juga ikut tersenyum bahkan Todoroki sekalipun yang sejak kemarin terlihat tidak tertarik mulai fokus memperhatikan guru mereka.
Bagi Akane yang tidak terlalu mengetahui All Might selain dari cuplikan di internet ataupun beberapa poster yang menempel di jalanan ia tertarik untuk melihat bagaimana pahlawan ini akan mengajarkan dasar-dasar kepahlawanan kepada mereka.
"Hari ini kalian akan mempelajari dasar-dasar kepahlawanan, walau agak terlalu cepat tapi langsung saja…" All Might mengambil sebuah kartu lalu menampilkannya kepada seluruh kelas. "Latihan bertarung!"
Aizawa-sensei tidak berbohong soal bahwa hari ini akan lebih sulit dibandingkan kemarin, terutama pada Midoriya yang sangat gugup berbeda dengan hampir seluruh anggota kelas yang bersemangat.
"Tak lupa pula… kostum pahlawan yang sudah kalian pesan dari tim support." beberapa koper tiba-tiba saja muncul dari dinding kelas saat All Might menekan tombol remot, koper-koper itu diberikan nomor sesuai posisi meja siswa kelas 1-A.
"Baiklah sekarang silahkan ganti baju kalian setelah itu langsung saja pergi ke medan latihan Beta, aku akan menunggu disana."
All Might dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti dengan mata langsung pergi meninggalkan seluruh siswanya.
Kostum yang ia desain tidak terlihat sangat mencolok dibandingkan teman-temannya namun memiliki sebuah arti yang penting baginya, dan beruntungnya tim support dapat merealisasikan permintaannya.
Ia memakai replika baju standar ninja desa Konoha ditambah dengan rompi berwarna hijau yang mereka pakai di perang dunia ninja ketiga dengan sedikit modifikasi, lambang spiral yang berada di punggung rompinya ia ganti dengan kipas tradisional putih berujung merah sebagai lambang klannya, ia juga memesan sarung tangan yang memiliki pelindung tangan terbuat dari besi.
Ia tak bisa memesan kunai ataupun shuriken kepada tim support jadi ia harus mencari cara lain untuk mengisi kantong senjatanya yang kosong, ia mungkin bisa meminta temannya Yaoyorozu Momo untuk memproduksinya, beruntungnya ia bisa melakukan sedikit fuinjutsu walau hanya untuk menyimpan benda-benda mati berukuran kecil dan juga merakit bom kertas.
Di depan gerbang medan latihan All Might menyambut seluruh siswanya yang kini sudah berpakaian kostumnya masing-masing.
"Bersemangat lah anak-anak muda, mulai hari ini kalian semua…" All Might terlihat sangat senang dilihat dari senyumnya yang semakin melebar.
"Adalah pahlawan!"
To Be Continued
