Tahukah kau pendirianku Baek? maka aku berbuat seperti itu, seakan-akan aku tidak sudi lagi, akan persaudaraan yang mengikat kita?
Bukan aku kebarat-baratan, Ilmu Barat hanya keinginanku, akan ganti serba kejadian, yang telah ditelan zaman, Jiwaku tetap mengabdi padaMu, Dan aku pun tetap Timur.
-—-
"Eonni" kata seorang perempuan muda memanggil dengan lembut kepada seorang Perempuan paruh baya yang gelisah berbaring di atas tempat tidurnya, "minumlah obat ini! Mudah-mudahan ...". Belum habis lagi perkataan Yoora, perempuan paruh baya itu sudah berkata dengan bentakannya.
"Ah, pergi dari sini, Yoora! Segera keluar! Takkan memberi manfaat obatmu itu kepadaku."
"Jika Eonni tidak meminumnya, tentu saja takkan ada manfaat" jawab Yoora dengan sabar, sambil memilih duduk di sisi kanan Perempuan yang dipanggilnya 'Eonni'. Di atas nampan yang dipegangnya, terletak sebuah mangkuk dan di dalam mangkuk itu terdapat obat rebusan herbal yang masih hangat, sedangkan uapnya naik ke udara dengan selesai.
"Menciumnya saja pun aku sudah hendak muntah," kata Perempuan itu membantah kehendak adiknya.
"Tak usah kau cium, minum saja cepat-cepat! Obat ini sangat mujarab, sudah banyak orang yang sembuh olehnya."
"Ah, suka sekali kau membantah perkataan ku, berapa kali ku katakan tak suka, Masa obat serupa itu dapat menyembuhkan sakit kakiku ini. Bawa keluar dan suruh Baekhyun kemari. Lekas!" yang disuruh tidak beringsut dari tempat duduknya.
"Baekhyun pergi ke Supermarket, dan ia hendak mampir sebentar ke rumah sakit menjenguk Nana. Kabarnya, perempuan itu akan melahirkan ."
Dengan amarah perempuah paruh baya itu menghempaskan tangannya ke kasur. "Apa?" katanya seraya bangkit dan ketika ia mengangkat tangannya tiba-tiba nampan itu tersentuh, mangkuk beserta isinya tertumpah serta meleleh ke karpet permadani.
"Eonni" seru Yoora dengan muka sedih sambil memandang ke bajunya yang basah terkena air obat tersebut.
Perempuan itu tersenyum. "Lebih baik begitu" katanya. "Dan apa katamu tadi? Kau membiarkan Baekhyun pergi ke Supermarket, sedangkan ia sangat berguna untukku? – Aduh, bengkak jahanam! Keluar, Yoora! Sakit ..., Baekhyun! Kemana anakku itu? wajahnya akan menjadi obat bagiku Yoora, bukan parasmu yang buruk dan jahat ini."
Yoora menggosok dan mengeringkan air rebusan itu dari permadani dan bajunya. "Hm, seolah-olah parasmu sendiri lebih baik, bercerminlah dahulu, Eonni!"
"Apa katamu? Cermin?"
"Ya, kalau Eonni memandang ke cermin itu ... Tapi lihat, bajuku saja sudah sembuh terkena obat yang mujarab ini."
Perempuan itu tertawa masam "Sungguh, tapi aku hanya ingin melihat wajah Baekhyun, bukan wajahmu dan bukan pula wajahku sendiri, Mana dia?"
"Tentu ia akan segera kembali, tetapi biarkan Baekhyun melepas lelah dan merasakan hawa sejuk sebentar. Sudah tiga hari ia terkurung di dalam kamarmu ini"
"Terkurung? Baekhyun mengeluh demikian?" tanyanya dengan nada gelisah.
"Tidak! Belum pernah anak itu mengeluh atau mengatakan lelah jika ia berbuat baik kepada orang lain. Tidak sekali-kali! Akan tetapi kalau ia duduk seharian, di tempat yang gelap dan tertutup ini, tentu ia juga akan sakit. Ketika Eonni tertidur tadi, aku menyuruhnya sedikit menghirup udara segar di luar."
"Jadi kau jauhkan dia dariku? Ah, kejam sekali kau ini Yoora."
"Supaya ia tetap sehat, Eonni!" Perempuan yang dipanggilnya eonni itu terdiam sejenak, kemudian ia pun berkata dengan tenang.
"Apa yang salah dengan kamar ini?"
"Sesak napas di sini."
"Tidak terasa olehku!"
"Tangan sendiri pun hampir tidak kelihatan di sini."
"Jadi katamu hal itu tidak baik bagi kesehatannya?"
"Bagi Eonni sendiri pun berbahaya!"
"Kalau begitu, bukalah jendela itu! – Cepat, supaya bertukar udara buruk dengan hawa yang bersih."
Yoora meletakkan nampan yang masih berada ditangannya ke atas meja, kemudian perlahan mulai membuka satu persatu jendela besar yang mengelilingi ruangan, dan menyibak satu persatu gorden sutra besar yg tergantung indah di jendela, sehingga hawa yang sejuk menyeruak masuk ke dalam kamar tersebut.
Perempuan itu menarik napas dengan senangnya. "Hm, – betul, hawa di dalam kamar ini sudah terlalu sesak, mengapa tidak dari dulu kau katakan hal itu?"
"Tapi kau marah dan berteriak jika jendelanya kubukakan. Seolah-olah aku hendak membunuhmu, padahal hawa di luar sangatlah bagus untuk kesehatanmu"
"Benar, jika hal itu baik untuk Baekhyun dan aku , dan segera hubungi Baekhyun untuk segera kembali"
Saat itu juga kelihatanlah seorang laki-laki menaiki tangga mansion besar kediaman keluarga Park, wajahnya yang tirus terlihat kemerahan karna berjalan dengan tergesa, matanya yang sipit seperti bulan sabit bersinar-sinar di bawah alisnya yang tebal lagi hitam, rambut hitamnya sedikit bergoyang tertiup angin dikarenakan ia agak sedikit berlari kecil menaiki tangga menuju kamar utama dilantai dua mansion.
"Ibu, aku kembali" daun pintu terbuka seorang laki-laki muda masuk dengan senyum riang di wajahnya, sehingga terlihat lesung pipit pada kedua belah pipinya. Giginya yang putih bagaikan gading itu kelihatan sejajar dengan indahnya. Ia pun duduk di atas kursi di sisi ranjang ditempat perempuan paruh baya yang sedang berbaring
Wajah perempuan paruh baya itu pun mulai berseri-seri seperti matahari yang baru terbit. "kau kembali anakku! Senang sekali rasanya bisa melihat wajahmu."
"Ibu merindukanku?" kata anak laki-laki itu dengan riangnya, sambil memandang kepada Yoora-bibinya.
"Tentu saja, Yoora hendak meminumkanku racun, Baekhyun-ah"
"Ibu tidak mau? Sehingga, eh-mengapa baju bibi bisa basah?"
"Sebab meminum obat ibumu itu ..."
"Lebih baik begitu, bukan?" selanya sembari tertawa. "akan tetapi aku bersyukur kau telah kembali Baekhyun-ah, hatiku sudah senang."
Baekhyun tersenyum manis "aku segera kembali setelah bibi mengirimi pesan, ibu tidak perlu khawatir lagi, tetapi meskipun obat yang bibi buatkan sudah ditumpahkan, aku akan tetap memberikan obat lain, tujuanku agar ibu segera sembuh, dan aku akan pastikan obat itu tidak ditumpahkan lagi" katanya sembari tersenyum lembut.
"Ya, malaikat!" seru perempuan paruh baya itu.
Baekhyun mengambil sebuah gelas dan sebuah botol dari dalam lemari kaca di dalam kamar, isi botol itu yakni obat yang agak kental dan hitam warnanya ia tuangkan ke dalam gelas sepertiga penuh dan dibawanya ke mulut Ibunya sambil memeluk lehernya dengan lemah lembut.
"Nah, ibu– telan cepat-cepat! Tutup mata dan bayangkan seperti meminum iced cappucino kesukaanmu."
Orang tua itu mengeluh panjang, tetapi pelukan itu terasa nyaman.
"Tidak, tidak baek..!"
"Minum saja, ibu, ini Manis ..."
Ibunya menampakkan muka yang sedih dan masam. Akan tetapi, walaupun ia masih mengeluh dan menarik napas, obat itu tetap diminumnya sampai habis, pipinya dicium oleh Baekhyun.
"Bibi Yoora biarkan aku sendiri yang menjaga ibu, pekerjaan bibi tentu sangat banyak, bukan?"
"Betul Baek, Dan aku akan mengganti pakaianku yang basah ini. Mungkin saja obatmu itu lebih mujarab daripada obatku tadi" kata Yoora, dengan wajah sedikit masam.
Baekhyun memandang bibi Yoora dengan senyum manis, seraya berbisik dengan gembira
"Bawa kemari obat itu semangkuk lagi, aku akan membujuk ibu untuk meminumnya.
Baekhyun tertawa dengan jenaka, Seo Yoora keluar dari dalam kamar sambil membawa gelas dan mangkuk yang telah kosong itu berserta nampan.
Dengan hati yang penuh kasih sayang Baekhyun,mulai bekerja membuka perban dan membersihkan bengkak pada kaki Ibunya serta mengganti perban yang membalut kaki ibunya dengan yang baru, kemudian diletakkannya sebuah bantal di bawah kaki, diperbaikinya letak sandaran kepala.
"Apakah rasanya sudah nyaman?" Perempuan paruh baya itu mengerang, seakan ia telah keluar dari dalam lembah kesengsaraan.
"Dengar, Baekhyun-ah! Bekerja dikantor tentu lebih senang bagimu, daripada duduk di dalam kamar ini, di tempat aku terpenjara dalam tiga hari ini. Ngeri sekali! Sedangkan cahaya matahari saja menjadi pengganggu bagiku. Padahal di luar terlalu banyak hal yang mesti dikerjakan."
"Ibu...Tidak usah terlalu dipikirkan."kata Baekhyun menyela perkataan perempuan yang telah mengurusnya belasan tahun ini "Ada aku dan bibi Yoora yang akan membantumu menyelesaikannya, semua karyawan di perusahaan telah bekerja dengan baik dan hormat kepadamu, mereka tidak akan berani lalai, jadi tidak ada salahnya jika Anda beristirahat sebentar" Perempuan itu tersenyum masam.
"Beristirahat? Terima kasih banyak akan cara beristirahat semacam ini! Adakala terasa sangat sulit untuk bangun di pagi hari dari tempat tidurku. — Akan tetapi, mendekatlah kepadaku Baekhyun-ah biarkan Aku melihat wajahmu, -Ah jika Chanyeol ada di sini hal itu akan lebih menyenangkan hatiku, tetapi ia saat ini sedang tidak berada dirumah. Tahukah kau kehendakku Baekhyun? Aku suka, jika Chanyeol keluar dari kampusnya,pulang dan tinggal di sini. Aku hanya ingin tinggal bersama dengannya beberapa tahun lagi." Perempuan paruh baya itu terdiam sejenak
"Baekhyun-ah, aku hanya ingin kita berkumpul sedikit lebih lama." Mata Baekhyun bersinar-sinar. Tapi ia tiba-tiba menghela napas panjang.
"Benar ibu— akan baik begitu,"katanya perlahan. "Jika ibu menyatakan kehendakmu itu kepadanya, tentu Chanyeol dengan senang hati akan menyanggupi."
Orang tua itu duduk kemudian menyalakan lilin terapi beraroma Lavender yang berada dinakas samping tempat tidurnya, Ia pun bertanya sambil menatap mata baekhyun dalam "apa betul kau tidak tahan berlama-lama dikamar ini bersamaku?"
"Mengapa tidak ibu, jika itu suatu keharusan?"
"Yoora menyusahkan pikiranku, katanya hawa di sini tidak baik bagi tubuhmu."
"Bukankah jendelanya sudah terbuka?"
"Ya, baru saja! kau selalu duduk dikamar ini sepanjang hari tanpa sedikitpun mengeluh." Baekhyun beringsut duduk ke atas kasur, ke sisi ibunya.
"Ibu, Aku tidak pernah sekalipun mengeluh, dan kau sendiri tahu."katanya dengan riang dan manis
Rambut Baekhyun diraba oleh orang tua itu, dipandanginya wajah cantik untuk seukuran anak laki-laki itu dengan lamat. Rupawan sekali wajahnya, hatinya suci dan pikirannya yang tajam tergambar pada matanya yang sipit bagai bulan sabit.
"Tadi ketika ibu tertidur, aku bermaksud pergi ke Supermarket, kemudian mampir sebentar ke rumah sakit menjenguk Nana, aku dapat kabar kalau anaknya sudah lahir. Ya, anak itu laki-laki; tampan, sehat dan gemuk. Tetapi ...,"ujarnya, sambil menahan napas, sedang mulut serta kerongkongannya seakan-akan terkunci. Warna mukanya yang berseri-seri seketika berubah menjadi suram, ia ketakutan, tanpa sadar air matanya berlinang di pipi.
Tentu saja Perempuan itu merasa cemas, ia bertanya dengan terengah-engah, " Tetapi bagaimana, Baek? Tidak sempurnakah kelahirannya? Apakah Nana baik-baik saja?"
"Ya ibu-," jawab Baekhyun dengan suara tertahan serta menghapus air mata dengan tangannya yang halus dan putih.
"Bayinya sehat, tidak kurang suatu apapun. Seperti yg aku katakan, badannya besar dan sehat, pipinya bulat penuh, dan ia menangis sekuat-kuatnya, ... tetapi kondisi Nana pingsan dan belum sadarkan diri sampai sekarang, aku takut kalau-kalau ..." Baekhyun tidak dapat meneruskan kalimatnya lagi.
Perempuan itu terdiam dengan air mata meleleh di pipi dan dadanya seketika sesak. Ia teringat kejadian belasan tahun lalu yang menimpa Baekhyun, ia segera menoleh ke dinding sambil mengeringkan air mata di pipi kemudian memandang Baekhyun serta berkata dengan manis
"Tahun ini kau genap 22 tahun Baek, pekerjaan dikantor mungkin terasa berat bagimu. Kau tahu tidak sebatang kara di dunia ini, bukan?"
Baekhyun Mendengar perkataan demikian membuat hatinya menghangat, dipegangnya tangan ibunya dan dibawa ke pipinya yang halus, kemudian ia berkata
"Ya ibu, terimakasih sudah mau merawatku selama ini, rasanya aku tidaklah pantas menerima kemurahan hati dari Tuan Park dan ibu, boleh dikatakan semua hal yang ada padaku adalah pinjaman, dan aku harus bekerja keras untuk membayar hal yang sudah aku dapatkan selama ini"
"Anak bodoh, jangan pernah keluar lagi perkataan itu dari mulutmu Baek!"
"Semenjak Tuan Park meninggal, tidak pernah adalagi yang menceritakan tentang seperti apa sosok orang tua kandungku, tidak sekalipun ibu pernah mengungkitnya"
"Untuk apa diingat kembali jika hal itu hanya akan membuat mu sedih Baek?, kau harus tetap menjadi anakku yang riang"
"Tidak ibu, ku mohon ceritakan" baekhyun menatap Perempuan itu dengan berharap, pandangan demikian yang tidak dapat terelakkan.
"Sebenarnya aku tak suka menceritakan hal sedih itu anak manis, akan tetapi aku tidak tahan dengan tatapanmu itu, Dulu saat Chanyeol berusia tiga tahun, aku dan Park Kyuhyun melahirkan seorang bayi perempuan prematur, namun karna kondisi tubuh yang sangat lemah, dia hanya mampu bertahan hidup beberapa hari. Sejak kejadian itu aku selalu saja bersedih hati, dan kian lama kondisi kesehatan ku menurun, salah satu Bibinya Kyuhyun yang bernama Hyeri tidak tega melihat kondisiku, dia memiliki dua anak kembar perempuan yang diberi nama 'Sunbin' dan 'Bitna', dan ia menyarankan agar salah satunya tinggal bersamaku, yaitu "bitna"
"Apakah dia ibu kandungku.?"
"Ya, kau benar" Perempuan itu mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan kembali ceritanya, "tapi itu tidaklah lama, karena beberapa tahun kemudian 'bitna' menikah dengan pemuda tampan bernama 'Byun Seung Ho', satu tahun setelah pernikahan mereka dikarunia seorang anak"
"Apakah anak itu adalah aku..?"
Perempuan itu mengangguk kemudian kembali bercerita, "hari itu langit sangatlah cerah, seolah menyambut kelahiran seorang bayi mungil itu ke dunia ini, saat itu Seung Ho sedang berada diluar kota karna ada urusan bisnis, mendengar kabar bayinya akan lahir lebih cepat dari perkiraan, ia pun bergegas kembali dari perjalanan bisnisnya, tapi malang musibah menimpanya, menurut laporan dari kepolisian, mobil yang dikendarai Seung Ho saat itu mengalami disfungsi rem, sehingga mobil menabrak trotoar jalan dengan kecepatan tinggi, ia dinyatakan-"
"Meninggal dunia?" Anak laki-laki itu menyambung perkataan ibunya dengan nafas terengah serta air mata yang sudah tidak terbendung lagi.
"Baru sampai disini ceritaku, kau sudah menangis seperti ini, inilah sebabnya aku tak ingin membawa kesedihan padamu Baekhyun"
"Tidak ibu, aku ingin mendengarkan lebih banyak"
Perempuah paruh baya itu menghela nafas, "tidak sampai disitu, setelah engkau lahir disusul oleh kematian ibumu yg sebelumnya pernah memiliki riwayat hipertensi" tangan perempuan itu terangkat berusaha menghapus lelehan air mata yang mengalir dipipi laki-laki yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri. "Hari itu disaat pertama kali aku melihatmu di rumah sakit, aku teringat akan adiknya Chanyeol yang telah meninggal, begitupun dengan Chanyeol ia sangat senang melihat parasmu yg lucu dan riang, maka semenjak saat itu aku dan Chanyeol tidak bisa lagi berpisah denganmu, dan aku pun meminta Kyuhyun agar hak asuh terhadapmu diberikan kepada kami, semakin besar semakin nyata ku lihat kasih sayang Chanyeol terhadapmu, sampai diawal diapun mengiri kau adalah adik kandungnya sendiri"
Sang ibu menarik nafas panjang kemudian diganggamnya tangan halus itu dengan erat. "Demikianlah ceritanya Baek, maka sesudah ini jangan pernah kau ungkit lagi kisah yang tidak seharusnya kau ingat, dan pandanglah aku seperti ibu kandungmu sendiri, serta Chanyeol sebagai Kakak yang akan selalu menjagamu" perempuan itu membawa tubuh mungil yang masih terisak kedalam pelukannya.
"Ya ibu, tidak akan dapat aku membalas segala kebaikan yang keluarga ini berikan kepadaku, kasih sayang serta perlakuan tulus yang selama ini aku dapat, aku akan berhutang seumur hidup"
"Diam baekhyun, jangan membuatku marah, perkataan mu itu darimana kau mempelajarinya? Jika bukan kau siapa lagi selama ini yang menghibur ku setelah ayah Chanyeol meninggal?, siapa lagi yang menjadi saudara setia bagi Chanyeol?, tidak kah kau berfikir Chanyeol akan sedih mendengar perkataanmu itu, mengingat betapa sayangnya Chanyeol itu kepadamu.?"
Demi didengar oleh Baekhyun nama kakaknya itu, langsung memerahlah muka laki-laki itu, matanya seolah memandang ke tempat yang jauh dengan tenang, seperti orang yang tengah bermimpi.
e)(0
Tidak lama kemudian masuklah Yoora dengan nampan ditangan berisi semangkuk obat herbal yang telah terisi kembali, perempuan paruh baya itu mengernyit heran, bukan...bukan karena obat sialan yang dibawa perempuan muda itu, tetapi ekspresi sumringah dari wajah Seo Yoora yang membuatnya demikian.
"Agaknya hal apa yang membuatmu tersenyum seperti itu adikku?, belum puaskah kau mengerjai ku dengan racun yang kau namai obat itu?"
Yoora tertawa gemas dengan tingkah dramatis kakaknya tersebut, lebih baik ia berhadapan dengan Sosok kakaknya yang arogan daripada berhadapan dengan Kakaknya dalam mode sakit tak berdaya, bukan hanya arogan tetapi menyebalkan sekaligus.
Park Yea Ji lebih akrab dikenal sebagai Victoria merupakan kakak kandung Seo Yoora, menikah dengan keturunan bangsawan bermarga Park yang memiliki banyak aset besar, menjadi pewaris tunggal setelah suaminya Park Kyuhyun meninggal dunia akibat tumor ganas yg menggerogoti otak.
Seo yea ji dan seo Yoora sendiri merupakan keturunan bangsawan, meskipun sepeninggal Suaminya, Victoria tetap ditakuti oleh kolega-kolega bisnis serta semua karyawan Park Corp tetap tunduk patuh dibawah pimpinan wanita elegan tersebut.
Seo yoora yang mulanya berprofesi sebagai presenter di salah satu stasiun televisi besar, dipaksa mundur dan ikut ambil andil bersama Victoria dalam mengurus perusahaan dikarenakan kondisi kesehatan kakaknya yang tiba-tiba menurun.
Segera diserahkannya mangkuk berisi obat herbal tersebut ke tangan Baekhyun, ia paham betul hanya sikap lemah lembut Baekhyun seorang yang mampu meluluhkan keras kepala kakaknya itu.
"Jika kali ini kau habiskan, maka aku berjanji setelah ini akan memberikanmu obat paling mujarab yang telah kau tunggu selama ini" sahut Yoora dengan senyuman yang tak dapat ditahan diwajahnya.
"Apa maksudmu Yoora, jangan berani-berani denganku"
Mulanya perempuan itu menolak, tapi setelah termakan rayuan dan bujukan dari Baekhyun, luluh juga hatinya.
"Astaga, pahit sekali Baek, aku yakin Yoora pasti ingin membunuhku"
Baekhyun tertawa, "jadi obat apa yang bibi maksud?"
"Chanyeol!!"
Kedua anak dan ibu itu saling pandang tidak mengerti dengan maksud perkataan Yoora, ada apa dengan Chanyeol? Bukankah kakak nya itu sedang berada di Amerika melanjutkan study-nya?
"Astaga, Chanyeol besok akan pulang, ia baru saja memberitahuku lewat telepon, sepertinya kalian berdua terlalu asik mengobrol, Baek-ah coba kau cek ponselmu, Chanyeol bilang ia sudah menghubungi mu beberapa kali."
Deg
.
.
Deg
.
.
Deg
.
.
.
Baekhyun bisa mendengar suara degup jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, sekian lama ia menantikan sosok itu kembali hadir di mansion ini.
Sosok yang lima tahun ini pergi setelah ia memutuskan untuk melanjutkan study di luar negeri.
Semenjak itu Baekhyun memang belum pernah bertemu Chanyeol, walaupun Ibu-nya Victoria sesekali berkunjung kesana, tetapi Baekhyun selalu menolak ajakan Victoria untuk ikut serta.
Selama itu juga Baekhyun hanya bisa mengetahui kabar kakaknya itu dari sosial media, tak jarang juga mereka bertukar kabar melalui pesan dan bertelepon.
Bohong jika iyaa tidak merindukan sosok Chanyeol yang telah lama tidak ditemuinya, sungguh ia sangat penasaran seperti apa sosok Kakaknya itu sekarang.
"Baek! Kau dengar itu? Chanyeol akan segera pulang" seru Victoria penuh sukacita kepada Baekhyun yang duduk di sisinya dengan hati berdebar-debar.
Raut muka Baekhyun sebentar pucat, sebentar ar berseri-seri, tetapi apakah sebabnya demikian? Entah siapa yang tahu.
e)(0
Next or nah...????
Hai..kenalin aku author baru disini, aku butuh review kalian untuk kelanjutan ceritanya yaa
