e)(0

"Baek! Kau dengar itu? Chanyeol akan segera pulang" seru Victoria penuh sukacita kepada Baekhyun yang duduk di sisinya dengan hati berdebar-debar.

e)(0

Raut muka Baekhyun sebentar pucat, sebentar ar berseri-seri, tetapi apakah sebabnya demikian? Entah siapa yang tahu.

Baekhyun sedikit terkejut, matanya bersinar-sinar, dengan wajahnya yang pucat.

" Chanyeol akan segera pulang?" katanya dengan perlahan-lahan. "Bukankah Chanyeol bilang ia hendak meneruskan Study Magisternya disana" kata Baekhyun seraya memandang kepada Ibu angkatnya itu.

"Betul, betul, niatku mula-mula ia harus menjadi seorang dokter. Akan tetapi semenjak aku sakit, pikiranku sudah berubah. Kehendakku, ia tak boleh jauh dari pandangan mataku lagi, Ia harus tinggal di mansion ini bersama kita"

"tak ada terbayang didalam pesan yang dikirimkannya kepadaku bahwa ia akan segera pulang." Jawab Baekhyun

"Hahaha..Mungkin ini sebuah kejutan, asalkan ia mau tinggal kembali di mansion ini bersama kita – ah, dan ia harus segera menikah dengan perempuan pilihanku, kemudian istrinya harus tinggal di sini bersama kita, demikian kita boleh bercengkrama setiap hari, bagaimana pikiranmu tentang hal itu Baek?"

Dengan sebab yang tak nyata air muka Baekhyun pun semakin bertambah pucat. Ia berdiri dari tempat duduknya, lalu pergi ke jendela, seakan-akan hendak mengambil udara yang sejuk. Kemudian ia balik duduk ke dekat ibu angkatnya-Victoria, sambil menahan hati dan berkata dengan senyuman manis.

"Aku setuju ibu, selama keputusan ini menurutmu tepat untuknya"

"Hei, mengapa mukamu pucat dan dadamu turun naik, Nak?" katanya dengan tiba-tiba, ketika ia memandang kepada anak laki-laki itu.

"Tidak apa-apa ibu"jawab anak itu dengan kemalu-maluan sambil berdiri disisi ranjang. "Sebabnya tidak lain, seperti kata ibu tadi karena 'terkejut suka' akan bertemu dengan ... saudara ku, kalau begitu aku harus membantu bibi Yoora mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangannya."

Ia berjalan ke ruang tengah dengan perlahan-lahan, pikirannya sangat kusut serta bercampur dukacita karena Chanyeol akan segera pulang dan... terlebih lagi akan dijodohkan, Chanyeol akan memiliki seorang istri ... Wahai, bagaimana nanti nasibnya jika sudah terjadi demikian? Dan terlebih bagaimana nanti rasa hatinya jika Chanyeol tinggal di mansion ini beserta istrinya? Akankan ia sanggup melewati hari-hari dengan memandang kemesraan antara Chanyeol dengan istrinya kelak?

"Tidak, tidak," kata batinnya, "daripada hidup harus menyaksikan itu semua, lebih baik aku pergi dari sini sejauh-jauhnya ..." Demikian perasaan Baekhyun, giginya yang putih seperti gading itu digigitkan ke bibirnya yang merah, mulutnya bergerak-gerak, sebab menahan pedih dihati. Akan tetapi ketika ia sudah hampir sampai di dapur, secepat mungkin diubah raut wajahnya berganti dengan senyuman manis.

e)(0

"Bibi!" seru baekhyun dengan suara yang nyaring sambil menghadap ke arah dapur. Perempuan muda yang tengah memasak di dapur itu menoleh ke belakang, dilihatnya Baekhyun berdiri di dekat pintu dapur.

"Baekhyun, kemarilah nak" katanya seraya menghapus peluh di dahinya, karena hawa panas yang bersumber dari masakannya.

"Apakah Chanyeol jadi kembali hari ini?

"Tentu saja baek"

"Jadi semua hidangan ini untuk menyambut kedatangan kakakku?"

Perempuan muda yang tengah memasak itu tertawa. "Tetapi ia tentu ingin memakan masakan adiknya juga, mari kita siapkan hidangan ini bersama-sama."

"Seharusnya aku sendiri yang melakukan ini semua, bibi tak usah ikut serta. Akan tetapi ...

Perempuan itu menggeleng. "Biarkan aku membantumu, ah-sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan keponakanku yang satu itu, sehingga aku terlalu bersemangat rupanya"

Baekhyun tersenyum mendengar penuturan sang bibi.

"Baek, apa kau tidak merindukan Chanyeol? Terakhir kali kami bertemu anak itu berubah semakin tampan" Yoora mengedipkan matanya ke arah Baekhyun, bermaksud menggoda anak itu.

Samar-samar muncul semburat merah dikedua pipi Baekhyun, Demi didengar olehnya perkataan bibinya yang demikian.

"Tentu bi, aku merindukannya...sangat" sahutnya sambil tersenyum manis, kelewat manis sembari mengimbangi detak jantungnya yang berdetak hebat.

———

Sepertinya Baekhyun dan Bibinya Yoora terlampau asik berkutat dengan kegiatan masak memasak mereka didapur,hingga sebuah suara menginterupsi kegiatan mereka.

"Kalian berdua kemarilah"

Victoria bersandar di pintu dapur, dengan balutan coat berwarna coklat muda selutut yang membungkus tubuhnya, dua orang yang lebih terlihat seperti kakak beradik tersebut tengah asik berkutat didekat counter dapur sampai tidak menyadari kehadirannya.

"Chanyeol akan segera datang, biarkan para Ahjumma yang melanjutkan pekerjaan kalian "

Yoora dan Baekhyun serentak menolah kepada sumber suara yang memanggil nama mereka.

Penampilan perempuan itu tampak lebih segar dari hari sebelumnya, mungkinkah kondisi kesehatannya membaik berhubungan dengan suasana hatinya yg sedang berbahagia.

Sesaat kemudian beberapa pelayan wanita memasuki dapur dan dengan segera mengambil alih pekerjaan yang ditugaskan kepada mereka.

———

Baekhyun buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah jendela, tangannya gemetar dan hatinya berdebar-debar dengan keras tatkala sebuah mobil hitam metalik perlahan memasuki halaman mansion keluarga Park, otaknya berputar mencari cara agar dapat pergi dari tempatnya berdiri sekarang. Dengan diam-diam ia pun berjalan pelan menuju ruang tengah dan kemudian hilang lewat pintu belakang ke dalam kebun buah-buahan dan sayur-sayuran, lalu berdiri di dekat sebuah bangku panjang tempat ia senantiasa duduk bersama Chanyeol semasa mereka kecil.

Ia tidak mau mengganggu pertemuan Ibunya dengan Chanyeol, demikian selalu jika Chanyeol pulang Baekhyun sangat sadar diri bahwa ia tidak berhak dipandang sebagai bagian dari keluarga Park. Betul tidak ada orang yang menyuruhnya untuk berpikiran seperti itu, tapi ia sudah disiksa oleh perasaan dan pikirannya sendiri.

Pandangan Victoria semata-mata sudah fokus kepada mobil yang datang. Matanya tidak lepas-lepas daripada pintu mobil yang perlahan terbuka, sehingga ia tidak menyadari jika Baekhyun sudah tidak lagi berada disekitarnya.

Sebelum Baekhyun jauh dari rumah itu, terdengarlah olehnya suara Chanyeol memanggil ibunya, beberapa saat terdengar pula suara tawa, rupanya pertemuan Ibu dengan anak yang dicintai itu mendatangkan kebahagiaan besar kepada kedua belah pihak.

—————————

Beberapa saat lamanya ibu dan anak itu pun saling berpelukan melepas rindu, sejurus kemudian barulah Chanyeol memberi salam kepada Yoora bibinya.

"Sekarang- .." katanya "aku sudah kembali di sisi Ibu, adakah obat paling mujarab dibandingkan kehadiranku?"

Ibunya tertawa.

"Kini pun obat itu sudah memberi berkat, saat ibu telah melihat wajahmu."

Chanyeol memandang sekeliling seperti tengah mencari sesuatu.

"Di mana dia sekarang? Melarikan diri lagi?"

"Rupanya demikian, tadi ia masih ada di sini, kau pasti tahu tabiatnya, tidak suka sekali-kali mengganggu pertemuan kita."

Chanyeol menggelengkan kepalanya.

"Sungguh tidak sopan bocah itu, Ia harusnya hadir di sini jika saudaranya datang. Jika begitu aku izin sebentar Ibu, aku akan mengganti pakaian, akan tetapi aku terlebih dahulu ingin bertemu dengan Baekhyun"

"Baiklah."

Pemuda itu masuk ke ruang tengah diikuti oleh ibunya dari belakang, betapa tampan rupa anaknya itu, ia memakai setelan jas semi formal terbuka, berkemeja sutra, berdasi pendek, dan celana berwarna senada dengan baju yang menggantung indah di piggulnya, sepatu kulit pantofel hitam, Rambutnya tersisir kebelakang memperlihatkan kening tinggi yang menantang semakin memancarkan ketampanan dari Pria 26 tahun tersebut. Dengan semangat ia pun berjalan di ruang tengah terus ke belakang bertemu dengan Yoora yang tengah menyiapkan makanan.

"Apa semua makanan ini sengaja dipersiapkan untuk menyambut kepulanganku? Sudah sangat lama aku merindukan masakan Korea, kebetulan aku sangat lapar. Akan tetapi dimana Baekhyun, bi?"

"Baekhyun? Apa kau sudah mencarinya dikamar?"

"Tidak ada, baiklah aku akan mencarinya terlebih dahulu."

Setelah berkata demikian Chanyeol segera berjalan menuju ke dalam kebun kecil dibelakang mansion mereka. Matanya dilayangkan kesekeliling, baekhyun tidak terlihat dimanapun. ia terus berjalan menyusuri kebun buah yang agak sedikit rimbun, kemudian beberapa saat dari jauh terlihatlah sosok yang dicarinya sedari tadi, Baekhyun menumpukan dagunya dengan kedua tangan bersandar di atas pagar sebuah gazebo sambil memandang ke arah kolam ikan didepannya.

Chanyeol memperlambat langkahnya kemudian berjalan sambil mengendap-endap menghampiri anak laki-laki yang tengah asik dengan dunianya sendiri sehingga tidak menyadari seseorang telah berdiri tepat dibelakangnya. Mata Chanyeol bersinar dengan riang sebab akan berhadapan dengan adik yang selama ini dirindukannya, diraihnya kedua tangan Baekhyun dan diputarnya tubuh itu sehingga sekarang mereka jadi berhadap-hadapan.

"Baekhyun-ah" kata Chanyeol tersenyum tampan. "Mengapa kau tidak menantikan kedatangan ku didalam rumah?"

Baekhyun masih dengan muka terkejut yang pucat menatap Pria didepannya, setelah tau orang tersebut tak lain dan tak bukan ialah chanyeolnyatambatan hatinya, sekaligus kakaknya, seketika air mukanya kembali bersinar dan ia berkata dengan girang.

"Selamat datang kembali Channie" ujarnya dengan senyum dan mata indah yang bersinar seperti bulan sabit, Salam Chanyeol dibalasnya dengan tangan yang gemetar, ia menatap ke dalam mata Chanyeol dengan tenang. Kemudian ia menundukkan kepala dan dilepaskannya tangannya dari genggaman Kakaknya, Chanyeol jadi heran terlebih saat ia hendak mencium kening anak itu, Baekhyun buru-buru mundur ke belakang menghindar. Kemudian berjalan melewatinya dan duduk diatas sebuah bangku panjang.

"Hei, kenapa kau menghindariku?" kata Chanyeol mengikuti Baekhyun duduk di bangku panjang tersebut, "apa kau tidak senang aku kembali?"

Baekhyun tersenyum.

"karena kau datang dengan sembunyi-sembunyi, seperti ... pencuri!" jawab baekhyun sambil tertawa.

"Hahahah...Akan tetapi ...Tak melukai hati, bukan? Untuk apa aku mencuri jika aku bisa memintanya kepadamu"

Dahi Baekhyun berkerut penuh tanda tanya dengan maksud dari perkataan kakaknya, yang mana hanya dibalas dengan usapan dipucuk kepala Baekhyun.

Perasaan bahagia jelas terlukis diwajah keduanya, sukacita hati setelah sekian lama tidak berjumpa dengan saudara yang dikasihi, sesudah bercerai beberapa tahun lamanya.

Setiap negara memiliki khasnya tersendiri dalam menyambut pertemuan, ada yang dengan perkataan, perbuatan, dan ada pula yang cukup dengan pandangan mata saja. Orang Eropa misalnya, ciri khas disetiap perjumpaan dinyatakan dengan peluk dan cium.

Chanyeol sudah beberapa tahun berada di Amerika, bercampur, bergaul dan beramah-tamah dengan mereka dari berbagai negara. Baik dengan laki-laki maupun dengan perempuan. Karena rasa kasih sayangnya kepada Baekhyun dan betapa ia sangat menyukai anak itu.

"Ada apa dengan sikapmu hari ini?" Chanyeol bertanya penuh dengan nada selidik.

"Apa maksudmu?" tanya baekhyun

"Kenapa sikapmu berubah terhadapku? Dulu saat aku baru sampai di rumah, bukan buatan senang hatimu, kau peluk dan cium pipiku, tapi sekarang kenapa seakan-akan kau menghindariku, pikiranmu terbang menerawang entah kemana, atau ..."

Demi didengar Baekhyun perkataan demikian, ia pun memandang menatap lama kepada Chanyeol. Ya, jika menuruti kehendak hatinya sendiri, mungkin saat itu juga ia ingin menjatuhkan dirinya ke dalam pangkuan pemuda itu. Akan tetapi ia tahu, perasaan pemuda itu kepada Baekhyun hanyalah perasaan sebagai saudara, sedangkan di dalam hatinya sudah lama timbul perasaan lain, yang lebih panas dan gairah. Chanyeol tidak boleh mengetahui hal itu, ia pun berkata dengan manis.

"Channie! Bukan hati yang berubah, melainkan saat ini kita telah beranjak dewasa, jarak telah menjadi penghalang bagi kita."

"Ah, tapi dimataku kau selamanya tetap menjadi adik kecil ku yang manis, takkan pernah berubah baek, sekalipun jarak sebagai pemisahnya, haruskah dua orang yang bersaudara seperti kita bertingkah layaknya orang lain? Apa salahnya aku berjabat tangan dan bersuka-sukaan dengan adikku sendiri?"

"Bersuka-sukaan?"

"Ya, seperti kakak dengan adik kandung"

"Itu menurutmu Chan, tapi sekarang kau dan aku tidak akan bisa seperti dulu lagi"

"Apa katamu?" tanya Chanyeol dengan terperanjat. "Tidak, kau tidak boleh berpikir seperti itu, kau selamanya adalah saudaraku, apa jadinya aku jika tidak memiliki saudara sepertimu? Kepada siapa aku harus mengeluarkan isi hatiku kalau bukan kepadamu? Dengan siapa lagi aku akan bercengkerama jika tidak dengan adikku?"

Baekhyun merasa menyesal sudah telanjur mengeluarkan perkataan yang kurang pikir itu, ditahannya kuat-kuat hatinya, lalu ia tertawa.

"Ya, tentu kau tetap boleh melakukan itu kepadaku," katanya dengan manis sambil memandang lewat sudut mata kepada Chanyeol.

"Baek, Hatiku lurus, aku suka berkata berterus terang dan tak menaruh segan serta malu kepada saudaraku sendiri, Aku tak mengerti apa sebabnya aku tak dapat mengeluarkan perasaan hatiku kepadamu – lebih-lebih perasaan senang saat kita sudah sekian lama tidak bertemu. Rasanya hatiku, kesukaanku tidak dapat diutarakan hanya dengan pandangan dan perkataan saja."

Baekhyun tidak lagi menjawab, pikirannya terharu biru, dengan segera dialihkan oleh nya topik percakapan mereka. Dengan muka yang riang dia mulai bertanya kepada Chanyeol mengenai hari-hari yang dilewatinya selama di luar negeri, kemudian semua pertanyaan demikian dijawab oleh Chanyeol dengan senang hati, Ia mulai bercerita dan Baekhyun yang mendengarkan dengan antusias perihal perkuliahan dan kegiatan pemuda itu, akhirnya sampailah cerita kepada persoalan cinta.

"Jadi, Adakah kakakku ini ada menaruh cinta kepada salah satu gadis disana?" tanya Baekhyun dengan tiba-tiba, sedang napasnya jadi sesak dan warna mukanya yang sedikit pucat ditahannya, sehingga tidak kelihatan oleh Chanyeol

"Ada, Baek" jawabnya. "Hampir aku bertunangan dengan seorang gadis."

"Oh ya, lalu apa yang terjadi?"

tanya Baekhyun dengan senyuman diwajahnya.

"Ia terlalu angkuh dan arrogant, mana mungkin aku dapat menjalin hubungan dengan seorang gadis yang bersifat seperti itu"

Baekhyun memandang kepadanya dengan diam-diam.

"Bagaimana pendapatmu?" tanya Chanyeol.

"Yang mana? Tentang gadis yang kau sebut arrogant atau sifatmu yang suka naik darah dan gampang tersinggung itu?" Baekhyun berkata sejujur itu, dipegangnyalah tangannya dengan riang.

"Jadi tidak ada yang lebih mengerti diriku dibanding dirimu adikku" katanya. "Tak mudah bagi orang lain mendapatkan hatiku, ku kira dia hanya berharap akan hartaku saja, hati dan jiwaku hampir tak berharga baginya. Berbeda sekali dengan dirimu!"

Baekhyun menarik napas panjang, Dadanya yang terasa menghimpit barusan menguap begitu saja, seperti terlepas dari tekanan suatu benda yang berat. Ia tersenyum lembut memandang Chanyeol.

"Aku yakin kau pasti telah membuat beberapa gadis patah hati dengan sikapmu itu"

Chanyeol tertawa dengan keras.

"Nanti, Baekhyun...jika aku telah menikah kau akan melihatnya, aku akan menjadi seorang suami yang mengutamakan istri." Chanyeol terdiam sejenak sembari memandang Baekhyun dihadapannya. "Kabarnya, Ibu akan menjodohkan aku dengan gadis pilihannya. – Ah, rupanya Ibu tidak tahu akan keinginanku, aku ingin menikah dengan orang yang aku cintai, bukan karena perjodohan. Karena aku kelak yang akan menjalani kehidupan pernikahan ku, aku yang akan mengalami baik buruknya, tentu harus aku yang memilih dan menerima dia!"

Baekhyun menggelengkan kepalanya tidak dapat berkata-kata.

"Benar, Baek" kata Chanyeol pula, "setiap aku berkenalan dengan beberapa gadis, selalu aku bandingkan mereka itu dengan kau, dan aku pun berkata didalam hatiku: kau sangatlah berbeda, kau begitu sehat dan cantik! Hatimu suci dan baik. Kamu sangat indah, sungguh. Dan lebih lagi daripada itu baek, bolehkah aku mengatakannya?"

Baekhyun mengangguk masih berdiam diri, sungguh ingin rasanya ia berteriak dengan sukacitanya mendengar pujian yang dilontarkan Chanyeol kepadanya, jika saja ia tidak ingat dimana mereka saat ini berada, serta hubungan saudara yang sudah terikat lama diantara keduanya.

"Benar sekali, pikiran ku hanya kepada kau seorang Baek! Saat aku akan melakukan suatu hal, ya apapun hal itu, selalu aku bertanya di dalam hati terlebih dahulu: 'apakah hal aku lakukan ini sudah benar? Jadi bisa kau bayangkan betapa berpengaruhnya dirimu terhadapku, nyata sudah bahwa aku berdiri dibawah kuasamu, meskipun kita tidak dekat."

Mata Baekhyun bersinar-sinar, tetapi basah, perkataan Chanyeol terngiang-ngiang sekaligus terdengar menyedihkan. Bahagia besar, kalau kalau cinta yang terpatri di dalam kalbunya selama ini diketahui oleh Chanyeol, dan hendak dibalasnya. Sedih, jika pengakuan itu hanya karena ketulusan hati seorang kakak kepada adik.

"Aku tidak tahu, apakah aku pantas menerima semua pujian itu, Chan" katanya

Chanyeol mengangguk. "Sekarang, besok ataupun nanti, selamanya kau teramat pantas untuk menerima itu semua, maka maafkanlah jika aku pernah menyakiti hatimu" jawabnya.

Demi didengar Baekhyun perkataan saudaranya itu, ia pun memandang dengan manis kepada Chanyeol serta meraih tangan pemuda itu kedalam genggamannya. Ia berkata dengan riang dan senyum.

"Sungguh tidak pernah satu hal pun darimu yang menyakitiku, Chan." Air muka Chanyeol menjadi bersinar terang mendengar perkataan Baekhyun.

Setelah agak lama berbincang dengan sukacita kedua saudara itu pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.

Baekhyun masuk ke dalam rumah menuju dapur, dan Chanyeol masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaian dengan yang biasa dikenakan dirumah.

e)(0

TBC