Summary : Sakura Haruno adalah Chef profesional di restoran Namikaze selama dua tahun, ia yakin bisa diangkat menjadi Manajer oleh Kushina Uzumaki dengan kerja kerasnya selama ini.

Sakura juga berharap kekasihnya, Shi bisa diangkat menjadi CEO di perusahaan Yamanaka supaya ia tidak lagi menjadi wanita simpanan dia.

Sayangnya di hari H, semua harapannya hancur semenjak teman masa kecilnya kembali, Naruto Namikaze. Terlebih lagi, ia harus menjalani pernikahan kontrak juga karena kepergok menguntit Shi yang sedang menghadiri sebuah pernikahan di Las Vegas.

Sakura tidak mempermasalahkan pernikahan kontraknya karena ia hanya melihat Naruto sebagai sahabat kecilnya. Ia bisa melewati ini, dan menikah dengan Shi ... benar?

"Kau datang tiba-tiba, lalu sorotan orang-orang, dan sekarang menjadi CEO yang seharusnya milik Shi yang susah payah menaikan pemasukan perusahaan. Berikan sahabatmu ini kebahagiaan, Naruto ...!"

WARNING : OOC, Modern-AU bersetting teknologi di mana banyak robot pintar, di sini sendiri Naruto adalah CEO di perusahaan robot pintar keluarga Yamanaka

Disclaimer : karakter sepenuhnya milik Masashi Kishimoto

Halo, sebetulnya ini novel saya, tapi saat saya scroll pesan Facebook ada obrolan yang menarik perhatian saya, obrolan yang bikin saya teringat temen terbaik saya di ffn ini, yang sangat saya rindukan sekali bernama gui gui, saya harap dia bisa baca ini karena Fb dia sendiri ga aktif :')

Saya harap dia baik-baik saja, kalian juga ya :)

Mungkin, pasti ada typo semacam nama karakter yang belum saya ubah, namanya juga saya buat novel dulu.

Anyway ...

Enjoy!

x.x.x.x.x.x.x.

x.x.x.x.x.x.x.

x.x.x.x.x.x.x.

"Silakan tanda tangan di sini, Nona Haruno."

Mata beriris hijau wanita yang sembab sehabis menangis meratapi nasibnya terfokus ke dokumen pernikahan yang telah ditanda tangani oleh pihak ketiga, dan calon pengantin pria yang duduk tegap tanpa ekspresi di sampingnya.

Di kertas putih bertinta hitam tersebut tertulis:

Marriage Certificate

Clark Country, NEVADA

Melihat nama lengkapnya tertulis di sana mengeluarkan impian terpendamnya dalam melaksanakan pernikahannya.

Sakura Haruno selalu bermimpi pernikahannya akan dilaksanakan di gereja atau taman berumput hijau dengan hiasan pita-pita putih beserta bunga-bunga mawar berjatuhan di setiap langkah kecilnya menuju altar. Namun siapa yang menyangka ia hanya melakukan pendaftaran pernikahan tanpa perayaan besar, tanpa kedua orang tuanya menyaksikan hari bahagianya. Hanya ada kedua temannya sebagai saksi pernikahannya.

Teman?

Sakura tertawa pahit di hatinya.

Bisakah pria yang menemaninya setiap malam, memeluk penuh kehangatan sehabis memadu kasih bisa dikatakan teman? Yang menyeka air matanya saat ia bersedih.

Pria yang selama lima tahun menjalin kasih dengannya.

"Nona Haruno?" suara serak petugas bertanya menyadarkan Sakura.

Sakura mengedipkan matanya, berharap kecil nama yang tertulis di samping namanya bukan Naruto Namikaze melainkan Shi. Tapi mau sebanyak apa pun ia mengedipkan mata, nama yang tertulis tetaplah sama.

Ini realita yang harus diterimanya.

Ia menikah dengan teman masa kecilnya. Ironisnya, Naruto baru kembali setelah tinggal dua tahun di Jepang, merebut satu per satu mimpinya yang tinggal selangkah lagi dicapainya.

Dan sekarang Naruto merebut dirinya juga.

"Nona Haruno? Anda baik-baik saja?" suara petugas kembali terdengar, kali ini bernada cemas.

Sakura menutup matanya, kemudian menjawab dengan anggukan kecil pasrah mengeluarkan aktingnya bahwa ia baik-baik saja.

"Baiklah, silakan tanda tangan supaya kita bisa ke tahap berikutnya."

Sakura membuka matanya yang terasa berat, melirik ke arah pulpen panjang hitam yang tergeletak lurus di samping kertas sertifikat pernikahannya. Tangannya yang gemetar terulur mengambilnya, ia mengubah sedikit posisi duduknya yang kaku agak membungkuk supaya bisa melakukan tanda tangan yang cukup sempurna di mata petugas, "Selesai," ia berkata pelan disertai senyum kecil terpaksa di bibirnya yang hanya dilapisi lip gloss senada dengan warna rambut merah jambunya.

"Terima kasih, dengan ini semuanya telah selesai."

Tidak ada sorak atau tangis kebahagian keluar dari bibir Sakura maupun Naruto, mereka sama-sama berdiri dari kursi lalu berpelukan tanpa antusias sama sekali.

Pelukan yang dingin.

Sakura hanya dapat menghela napas panjang di dada Naruto.

Begitu keluar dari gedung, Sakura memisahkan diri dari Naruto, melepaskan genggaman tangan mereka yang sejak tadi tidak terasa hangat sama sekali seperti yang biasa dilakukannya bersama Shi.

"Kau pulang saja terlebih dahulu," Naruto berkata datar, "aku mau menghabiskan kebebasanku yang hanya tinggal malam ini saja."

Sakura tidak ada niatan menghentikan toh ia tidak peduli dengan urusan Naruto, dan sudah tahu kebiasaan buruk dia bagaimana untuk melampiaskan frustrasi, namun ia memberi peringatan kecil, "Aku harap kau tak telat, ada pesawat yang harus kita kejar besok."

"Untuk apa? Kumpul dengan keluarga kita?" Naruto memprotes kecil, "Kau tahu sejak awal ini kesalahan. Aku lebih baik langsung pergi bekerja."

"Bekerja," Sakura bergumam pahit, mengingat impiannya yang telah hancur dua hari yang lalu dengan terpilihnya Naruto sebagai CEO, "kau pasti senang sekali bekerja tanpa usaha keras. Huh?" Ia tidak dapat menahan sindirannya, kondisi hati serta pikirannya betul-betul tidak stabil sekarang ini.

"Berhenti mengeluh," Naruto menjawab dingin, "kau tidak tahu kerja kerasku, ada baiknya diam. Aku kira kau pintar? Kalau berniat memprotes, katakan pada 'Board Of Director' dirapat nanti." Ia menjelaskan yang kemudian disusul tawa meremehkan, "ah ... kau tidak termasuk pegawai di perusahaan kami. Bagaimana bisa aku lupa? Aku sarankan bertanya pada Ino, kekasih sah Shi." lanjutnya menekan kata 'kekasih sah' untuk menyadarkan wanita yang baru satu jam jadi istri sahnya tersebut.

Sakura mengeluarkan tatapan tajam akan sindiran-sindiran keluar dari bibir Naruto, terlebih ketika dia menyinggung kekasih sah, amarahnya memuncak, dan perkataan yang keluar dari bibirnya berupa bentakan kasar, "Kau pikir kau sempurna? Hah!? Kau yang suka tidur dengan wanita tanpa memberi harapan pasti tidak pantas mengkritik aku!"

"Honey, sebelum aku melakukannya, aku memastikan partner-ku tahu aku tidak ada niatan ke tahap lebih. Jangan salahkan aku bila mereka kembali ke pelukanku," Naruto membalas tidak kalah panas, suara beratnya tenang mengintimidasi, "setidaknya aku bukan pria yang mengklaim: wanita itu adalah 'belahan jiwa'-ku, dijadikan wanita simpanan saja ah ..."

Sakura terkesiap. Otaknya tidak bisa berpikir, tidak bisa membela harga dirinya yang sedang dijatuhkan sebab apa yang dikatakan Naruto benar adanya ia adalah wanita gelap Shi, "Kau tidak mengerti ..." Ia melawan lemah, "hubungan kami rumit sejak awal."

"Ya," Naruto menjawab singkat, "aku tidak ada niatan menyinggung. Kita sudahi sampai sini. Aku mau bersenang-senang, bukan berdebat." Ia menggelengkan kepala tidak habis pikir.

Sakura tidak menjawab, hanya menatap murung ke trotoar jalan yang basah oleh air hujan.

"Kau boleh ikut jika mau," Naruto menyarankan dengan senyum lebar.

Sakura tidak menyambut dengan hangat ajakan Naruto. Bersenang-senang bersama dia adalah pilihan terakhir yang dipilihnya saat ini. Ia menolak tegas dengan menggelengkan kepala kuat.

"Sayang sekali, padahal aku yang traktir," kata Naruto.

"Kau yang akan bayar!?" Sakura terkejut mendapatkan penawaran langka dari Naruro yang terkenal pelit bahkan pada dirinya yang merupakan sahabat sejak kecil dia, "Fix sudah, dunia tidak baik-baik saja jika seorang Naruto Namikaze bermurah hati."

"Hey, aku di sini, kau tahu," kata Naruto, "aku mau karena kau belum lama ini diangkat jadi Manajer di restoran Mamaku," lanjutnya, "dan wajahmu menyedihkan sekali saat ini."

Perasaan Sakura yang sejak tadi bercampur aduk, sedikit baikan saat mendengar penjelasan Naruto, kembali hancur setelah dia menjelaskan ekspresi wajahnya sekarang bagaimana, "Aku begini karena siapa juga. Hah?" tanyanya berdecak pinggang jengkel.

Naruto bertopang dagu berpikir dengan tatapan mata biru langit hangatnya ke wajah dia dalam-dalam.

Sakura sedikit salah tingkah ditatap begitu, "Kau memikirkan apa sih?"

"Hm ...," Naruto bergumam, "biar aku beri summary sedikit. Kau menderita karena kau ketahuan menguntit Ino dan Shi, dan tanpa sadar kau menyeretku, pria polos dan tampan ini yang hanya berniat menghadiri pernikahan temanku sebagai calon tunanganmu tanpa ijin dariku. Karena terbawa suasana, kita menikah secepat ini, dan lihatlah kita sekarang."

Pipi Sakura merona merah, bercampur aduk antara kesal dan malu Naruto menjabarkan kejadian yang terjadi selama mereka berada di Las Vegas, "K-kau sendiri kenapa setuju!? Kau juga salah!"

Naruto memutar bola matanya, "Ada harga diri yang harus aku jaga."

Sakura akhirnya bisa mendengar alasan kenapa Naruto setuju menikah dengannya, "Oh? Kau punya harga diri? Aku kira sudah hilang dua tahun yang lalu."

x.x.x.x.x.x.x.

x.x.x.x.x.x.x.

x.x.x.x.x.x.x.

Saya udah berhenti nonton anime Naruto sebelum manga-nya tamat, jadi saya ga tau karakter baru yang ganteng/cantik

Saya ingin tambahin kata dattebayo, tapi Naruto di sini kan tinggal di New York, dia harus nyesuain diri, meski dia aslinya orang Jepang sih.

Ada kemungkinan ini bakal saya hapus juga seperti cerita NS yang Naru jadi boyband Saku jadi writer

Tapi kita liat nanti aja ya.

Ini bener-bener random sih, saya kangen banget sama temen seperjuangan saya di ffn, gui gui :')

Review adalah semangat saya lanjutin.

Trims.