WARNING : OOC, Modern-AU bersetting teknologi di mana banyak robot pintar, di sini sendiri Naruto adalah CEO di perusahaan robot pintar keluarga Yamanaka

Disclaimer : karakter sepenuhnya milik Masashi Kishimoto

Note :

Saya dapet notif review guest di email, tapi ga muncul di ffn :o dan pas dicek ternyata saya ga ngijinin orang tanpa akun ngasih komen, jadi sekarang kalian bisa komen tanpa perlu log-in ya.

Oh ... ini full Saku-Shi, kalian bisa skip. Seperti yang saya bilang, cerita ini sebetulnya novel :/

Naru mungkin terkesan playboy, tapi kalian harus inget dia baru balik ke New York jadi karismanya belom keluar apalagi langsung 'nempel' sama Saku.

Anyway ...

Enjoy!

X.x.x.x.x.x.x.

X.x.x.x.x.x.x.

X.x.x.x.x.x.x.

Naruto menghela napas gusar. Tidak pembicaraan ini lagi, "Kau mau ikut atau tidak sih?" Ia mengembalikan arah topik pembicaraan yang melebar ke mana-mana.

Ditraktir Naruto bukan sesuatu yang buruk dari pengalaman yang pernah Sakura alami.

'Mungkin aku juga butuh penenang ...?'

Drrt! Drrt! Drrt!

Ponsel Sakura bergetar di tasnya. Ia mengecek sekilas dari siapa, bila dari keluarga ataupun temannya, ia berniat menghiraukannya sebab ia sudah puas mendapatkan pesan 'selamat' dari mereka. Namun melihat nama Shi di sana membawa perasaannya kembali campur aduk.

Dari : Shi

Bisa kita berbicara berdua, Haruno?

Kurasa kau berhutang penjelasan padaku.

Sakura menolak ajakan Naruto begitu saja setelah mendapatkan pesan dari Shi. Ia tahu banyak yang harus dibicarakan setelah pernikahannya benar-benar resmi.

Di luar dugaan, Naruto memprotes penolakan tersebut memakai alasan tidak ada gunanya mendiskusikan hal sudah telah terjadi, lalu dia untuk kedua kalinya menawarkan kembali dengan tambahan menggiurkan dibolehkan memilih tempat yang diinginkannya.

Sakura ingin sekali, terlebih ada banyak restoran dessert yang ingin dikunjunginya, tetap saja ia harus menahan keinginannya demi Shi.

'Apartemen nomor 100, huh ...?'

Apartemen yang kemarin menjadi saksi bisu perdebatannya dengan Shi sebelum ia pergi dengan perasaan emosi yang menggebu-gebu untuk mendaftarkan pernikahannya.

Pertengkaran mereka berakhir sangat buruk, namun Shi tetap bersedia menjadi saksi pernikahannya dengan Naruto.

Shi meskipun diam dengan ekspresi wajah sulit dibaca selama proses sumpah janji, ia bertepuk tangan paling keras dibanding Ino yang antusias dengan pernikahannya.

Sakura dapat merasakan frustasinya Shi ingin mendapat perhatiannya setelah selama proses pernikahan ia menolak melihat atau sekedar melirik, iris matanya terfokus pada wajah Naruto yang tampan berbalut tuksedo silver disertai senyum lebar di bibir dia.

'Dia tidak mengajukan keberatan meski begitu.'

Sakura sungguh berharap besar Shi mengajukan keberatan, kemudian seperti film-film romantis yang ditontonnya, dia menggenggam tangannya erat, mengajak berlari bersama, menggagalkan rencananya.

Betapa salahnya ia.

Sakura mengembuskan napas panjang, matanya yang letih menatap kosong cincin berlian pink yang melingkar di jari manisnya. Sebelum ini semua terjadi, ia selalu bahagia melihat cincin tersebut, cincin yang membuat hubungannya yang jalan di tempat selama lima tahun pada akhirnya masuk ke tahap lebih dalam.

Siapa yang menyangka cincin yang membuat senyum di bibirnya setiap bangun pagi menjadi malapetaka awal dari pernikahannya dengan Naruto?

Sakura mengembuskan napas panjang lagi, kemudian menatap lurus pintu cokelat yang memiliki nomor di atasnya: 100. Tangannya terangkat bersiap mengetuk, tapi terlambat, pintunya terbuka terlebih dahulu sedikit.

Tidak terlihat Shi mengintip atau menyambutnya. Terlihat dia membuka saja kemudian kembali masuk ke dalam.

Hanya dari cara membukakan pintu, Sakura sadar perasaan Shi sama sepertinya. Ia pun masuk ke dalam, lalu pintu terkunci otomatis setelahnya.

Tidak jauh darinya, Shi duduk di ranjang membelakanginya.

Sakura mendekati dengan berat hati, dan tanpa mengatakan apa-apa, ia memeluk dari samping tubuh pria yang dicintainya lemah, ketika tidak mendapat penolakan, tangannya semakin erat memeluk, menumpahkan semua kesedihannya dengan harapan besar dapat melupakan apa yang terjadi.

Detik demi detik berlalu, mereka tetap seperti itu.

Sakura sendiri di tengah kesedihannya dapat mendengar degup jantung berdebar-debar Shi mengobati sedikit luka di hatinya, berarti dia masih menganggapnya spesial.

"Aku tidak tahu harus mulai dari mana," Shi bergumam murung, terlalu kecewa dengan yang terjadi dua hari belakangan ini.

Sakura mengeratkan sedikit lingkaran tangannya di pinggang ramping dia, "Kalau begitu jangan," bisiknya memohon.

"Kau tahu tidak bisa," Shi menolak halus, "sesakit hati pun ini, aku ingin mendengar apa yang kau rencanakan setelah pernikahanmu."

Rencana setelah menikah? Jujur saja Sakura belum memikirkannya, Naruto tidak meminta sesuatu padanya juga. Pernikahan mereka terjadi begitu saja. Tentu dia memprotes kecil, namun tidak merubah kemauan menikah dengannya.

"Apakah itu penting?" Sakura bertanya.

"Tentu saja," Shi menyahut cepat tidak suka, "aku yakin dia merencanakan sesuatu. Aku tahu Naruto bagaimana, dia bukan pria yang dapat dengan mudahnya setuju dengan hubungan serius macam ini."

Sakura setuju, tapi ia teringat perkataan Naruto sebelum ke sini, "Dia beralasan punya harga diri yang harus dia jaga, terlebih lagi ini terjadi karena Ino mencurigai hubungan kita."

Shi seketika teringat alasan Sakura ke Las Vegas, alis hitam tebalnya mengkerut jengkel, "Kau bertanya padaku, bukan melakukan hal bodoh seperti itu."

Sakura melepaskan pelukan, alisnya sama mengkerut jengkel juga, "Kau yang harusnya mengaktifkan ponselmu sejak awal ...!"

"Aku? Kalau saja kau bersabar sedikit, tidak terpancing gosip murahan mereka."

"Gosip murahan ...!?" Sakura berteriak sekuat tenaga hingga pipinya memerah, "kau memberikan cincin ke dia, dan merespon ke teman-teman kantormu untuk bersabar melihat kelanjutan hubunganmu setelah ke Las Vegas. Kau berpikir aku akan tenang mendengar semua itu!? Pikirkan bagaimana jika kau berada di posisiku!"

Amarah Shi meredup mendengar teriakan Sakura yang menggema ke seluruh ruangan, berdengung sakit di telinganya. Ia tersadar mereka membicarakan topik yang sama seperti kemarin, "Dengar," Ia memegang bahu dia yang tegang oleh amarah, menatap selembut mungkin agar situasi terkendali lagi, "aku tidak menampik gosip itu untuk semakin memperbesar aku dipromosikan sebagai CEO."

"Tapi kau tidak dipromosikan," Sakura bergumam lemah, "haruskah kau tetap mengembuskan gosip itu?"

"Tidak semua yang kau katakan tampak mudah. Ino adalah pemilik perusahaan tempatku bekerja," Shi berkata, "kau harus mengerti situasi."

Sakura sudah mengerti, sejak lima tahun yang lalu. Ia kurang pengertian apa lagi? "Apa kau akan menikahi Ino karena aku menikahi Naruto?" tanyanya lemah. Ia takut dia akan melakukannya sebagai bentuk balas dendam padanya.

"Apa? Tidak," Shi menolak tegas, "hanya ada satu wanita yang akan bersamaku di altar nanti, itu kau, Sakura."

Pipi Sakura bersemu merah, tersentuh oleh perkataan kekasihnya, "Aku juga," katanya antusias.

Wajah Shi seketika berubah tidak tertarik, "Kau juga? Aku tidak melihatnya saat kau mengucap sumpah bersama Naruto menggunakan cincin lamaran ku." katanya menyindir dengan suara tenangnya walaupun hatinya terbakar amarah.

"Shi ..." Sakura terpaksa menggunakan cincin pemberian dia karena pernikahan yang diadakan secara mendadak, terlebih ia terbawa emosi setelah bertengkar makanya ia tidak berpikir panjang.

Naruto berkata akan segera menggantinya dengan cincin yang baru agar tidak terus menambahkan garam di atas luka Shi.

Wajah Shi kembali tenang lagi, "Menyakitkan, tapi sudah terjadi. Dia mungkin mendapatkan mu, tapi tidak dengan hatimu."

Sakura mengangguk malu-malu, mengiyakan.

Shi membelai pipi Sakura yang bersemu merah, tampak manis di pantulan iris mata hitam miliknya menggunakan punggung telapak tangannya, "Dengarkan aku, Sakura."

"Hmm~?" Sofia bergumam bersenandung, menikmati sentuhan Shi yang lembut.

"Selama tinggal bersama Naruto, jangan sampai kau membiarkan dia terlalu dekat denganmu," Shi berkata penuh penekanan di setiap kata-katanya, "aku tak percaya alasan dia. Aku yakin ada yang lain, seperti dia diam-diam menyukaimu."