WARNING : OOC, Modern-AU bersetting teknologi di mana banyak robot pintar, di sini sendiri Naruto adalah CEO di perusahaan robot pintar keluarga Yamanaka

Disclaimer : karakter sepenuhnya milik Masashi Kishimoto

Note :

Masih full Saku-Shi

Sorry.

Anyway,

Enjoy!

X.x.x.x.x.x.x.

X.x.x.x.x.x.x.

X.x.x.x.x.x.x.

Mata Sakura terbuka syok dengan analisa Shi, "Huh ...!? Naruto? Suka? Padaku?" katanya, yang tidak lama setelahnya bibirnya mengeluarkan tawa keras, "Kau bergurau?"

Ia dan Naruto berteman sejak kecil, tidak ada sama sekali tanda-tanda benih cinta di antara mereka bahkan saat dulu mereka tinggal satu apartemen, dan setelah kejadian 'itu' pun tidak.

Kenapa?

Karena Naruto sibuk menggoda wanita selain dirinya atau mengurus percintaan dia yang putus-nyambung dengan Sara ketika kuliah. Setelah mereka lulus, dia langsung terbang ke Jepang untuk menjalankan bisnis keluarga Namikaze di sana.

Ketika Sakura menyambut Naruto di bandara John F Kennedy pun, kata pertama yang keluar dari bibir dia di saat mereka berpelukan adalah Sara, bukan betapa rindunya dia pada dirinya.

"Tidak mungkin." Sakura menyimpulkan setelah selesai mengenang 'reuninya' dengan Naruto.

"Hm ...," Bagaimanapun juga Shi tetap pada pemikirannya, "kau tahu, terkadang di balik setiap senyuman, tersimpan rahasia yang tidak kau ketahui, babe."

Sakura tidak menyangkal itu sebab ia sendiri memiliki rahasia. Ia memberi pengecualian untuk Naruto.

"Kita lihat ...," Shi bergumam sembari mendekatkan bibirnya di telinga Sakura untuk membisikan cintanya di sana, "satu hal yang pasti, jangan percaya pada dia. Percaya hanya padaku. Aku yang sangat mencintaimu sampai sulit dibendung perasaan ini."

"Shi ...," Sakura bergumam malu, setiap inci kulit tubuhnya bangun oleh bisikan pengakuan cinta dia. Ia hendak berkata lain, membalas bahwa ia memiliki perasaan yang sama, tapi ketika kepalanya menoleh, bibirnya disegel oleh ciuman manis dia. Ia tidak ada pilihan selain menjawab dengan membalasnya, mencurahkan perasaannya di setiap gerakan ciuman lambat mereka.

'Aku merasa hidup kembali.'

Sakura ketagihan oleh ciuman Shi yang membuatnya haus akan cinta setelah dua hari belakang ini mereka bertengkar. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher panjang dia untuk memperdalam ciuman mereka.

Ketika ciuman mereka akhirnya berakhir, Shi mengutarakan ke posesifannya, "Kau mau aku menunjukan cintaku lebih lagi, babe? Haruskah kita memenuhi ruangan ini dengan desahan namaku?"

Sakura tidak menjawab menggunakan perkataan, melainkan menyatukan bibir mereka lagi sambil menarik Shi berbaring di ranjang.

Sentuhan Shi lebih kasar dan intens dari biasanya. Normalnya Sakura akan menghentikan karena bukan tipe yang suka 'disiksa', namun ia memberi pengecualian malam ini sebab dia tampak begitu bernafsu padanya, seakan mau menunjukan bahwa ia hanya milik Shi seorang.

Betapa intensnya Shi menyentuh setiap inci tubuhnya menghapus kekecewaan di hati Sakura yang sebelumnya berharap dia bertindak keberatan di tengah janji pernikahannya. Ia mendesah tiada henti di permainan dia hingga akhirnya ia mendapatkan puncak kenikmatan yang membuat napasnya terengah-engah dan seluruh ototnya rileks.

Kerongkongan Sakura terasa kering oleh teriakan dan ciuman panas yang tiada hentinya membungkam bibirnya.

Meskipun begitu, Shi yang sudah dikuasai insting lelakinya dan rasa posesifnya, tidak membiarkan Sakura beristirahat lama. Ia mulai lagi menyentuh liar di titik terdalam dia, mengeluarkan desahan-desahan kecil keluar dari bibir pink yang basah dan gemetaran.

Sungguh erotis di mata Shi, membuatnya semakin liar lagi dan berpikir melakukan berbagai hal baru dikarenakan Sakura mengijinkannya berbuat agak kasar.

Sakur perlahan kembali tersapu oleh gelombang gairah yang diciptakan Shi. Ia benar-benar terbawa sampai suara bel pintu tidak terdengar di telinganya yang berdengung keras.

Berbeda dengan Shi yang berada di atas Sakura, ia menyadari bel apartemen berbunyi. Ia berhenti menyentuh dan langsung keluar erangan memprotes dari dia.

"Shi ...," Sakura merengek lemah, meminta dilanjutkan.

Shi tidak mengabulkan permintaan Sakura yang membangkitkan gairahnya, ia tetap pada pikiran logisnya, bangkit dari ranjang bergegas mengecek siapa yang mengetuk pintu, "Sh*t!"

Sakura bangun dari tidurnya mendengar umpatan Shi yang tidak pernah didengarnya. Se-marah apa pun, dia tidak pernah mengumpat jika bersamanya.

Shi beralasan tidak ingin berkata kasar di depannya.

"Ada apa?" Sakura bertanya penasaran melihat Shi menghampirinya dengan wajah yang pucat seakan melihat hantu.

"Kau harus bersembunyi, babe," Shi memerintah panik, "Ino di luar."

Mata Sakura melebar.

Ino!?

Shi mengambil pakaian Sakura yang tergeletak acak di lantai berbahan granit biru langit, kemudian menyerahkannya ke dia, "Maafkan aku harus berakhir seperti ini, babe."

Sakura hanya menatap dalam mata Shi menunjukan kekecewaannya. Inilah alasan besar kenapa ia ingin hubungan mereka tak lagi rahasia. Ia benci tak bisa berbuat bebas, selalu was-was setiap bersama bila Ino berada di sekitaran mereka, "Aku sembunyi di mana?" tanyanya tanpa antusias sama sekali.

Shi bingung juga harus menyembunyikan Sakura di mana. Kepulangan Ino begitu tiba-tiba, padahal sebelumnya dia bilang tidak pulang malam ini, "Di bawah ranjang. Cepat!" teriaknya panik mendengar pintu apartemen kembali berbunyi dalam jarak cepat yang berarti dia mulai kehilangan kesabaran.

"Tapi ...," Sakura memprotes, bersembunyi di bawah ranjang yang sangat sempit dan gelap tanpa ada penerangan yang membuatnya dapat melihat ada makhluk apa saja di sana.

Apakah Shi lupa bahwa ia takut kecoak!?

Sepertinya benar lupa, sebab Shi tetap memaksa Sakura bersembunyi di sana tanpa mempedulikan erangan memprotes keluar dari bibir tunangannya.

Sakura menggerutu pelan pada akhirnya ia tetap bersembunyi di bawah ranjang dalam posisi terlungkup. Mata tajamnya yang menyiratkan kekesalan hanya bisa melihat kaki Shi yang bergegas membukakan pintu yang bel nya terus berbunyi.

Berada di posisi yang memunculkan ketakutannya, menyadarkan Sakura ada satu lagi yang dibencinya yaitu menjadi wanita yang harus dinomorduakan.

Nomor dua.

Sakura menggigit bibir bawahnya, menahan segala sakit yang menjalar di hatinya. Ia pun menutup rapat-rapat pembicaraan Shi dengan Ino. Menyedihkannya, semakin ia tidak ingin, semakin jelas telinganya menangkap perbincangan mereka.

"Kau mau memijat tubuhku?"

"Ya," suara Shi terdengar merayu, "aku yakin kau lelah sekali makan malam bersama keluargamu, bukan?"

"Ya, tapi ..."

"Baby, jangan menahan diri. Biarkan aku memanjakan mu. Bukankah kau menyukainya?" Shi melancarkan lagi rayuannya.

Sakura mengepalkan tangannya menahan air matanya tidak keluar.

Rayuan Shi saat ini sama persis ketika dia mengajaknya mandi bersama setiap kali ia selesai bekerja melakukan dinner service yang melelahkan.

Sakura kira itu hanya untuknya, nyatanya tidak?

'Apa yang aku harapkan sebagai wanita simpanan?'

Hati Sakura terlalu hancur, ia tidak peduli lagi dengan sekitarnya atau ketakutannya hingga tangan besar yang dingin menyentuh kepalan tangannya.

"Hey, ini kesempatanmu kabur," Shi berbisik.

"Uh ...?" Sakura menatap lemah Shi yang berjongkok di depannya.

"Ayo keluar. Ini kesempatan satu-satunya," Shi mengulangi ucapannya menyadari Sakura melamun dengan wajah murung. Ia sadar ada sesuatu yang mengganggu dia. Ia memutuskan membantu keluar dari bawah ranjang, mengecek seluruh tubuh dia apakah ada kecoak atau semacamnya kemudian merangkul lembut bahu dia yang gemetaran, "Maafkan aku, babe," bisiknya di tengah langkah cepatnya menuju pintu.

Sakura tidak merespon, hanya menatap kosong ke depan, membiarkan Shi menuntunnya ke luar apartemen, seperti yang sudah-sudah.