WARNING : OOC, Modern-AU

Disclaimer : karakter sepenuhnya milik Masashi Kishimoto

Note :

Akhirnya ke NS lagi. Kalian bisa lega karena beberapa bab seterusnya penuh sama mereka, dan drama tentu saja.

Enjoy!

X.x.x.x.x.x.x.

X.x.x.x.x.x.x.

X.x.x.x.x.x.x.

Shi mengukir senyum penuh penyesalan. Ia tahu betapa menyakitkannya ini bagi Sakura, ia mengerti, namun ia tidak memiliki pilihan selain membuat janji manis ke dia, "Aku akan mengganti ini di lain hari. Hati-hati di jalan. Oke?"

Mata Sakura perlahan naik, mengamati Shi yang sekarang tengah bertelanjang dada, lalu menunduk murung lagi.

"Sakura ...," Shi tahu dia sakit hati lagi mendengar percakapan mesranya dengan Ino. Tapi ia tidak dapat berbuat apa pun karena—

"Shi!? Kau sudah selesai mempersiapkan kejutanmu!? Lama sekali sih!?"

Itulah alasannya.

"Iya, sebentar!" Shi menyahut keras kemudian kembali fokus pada Sakura, "Dengar, aku akan membayar ini. Lebih dari dua kali lipat. Oke?"

Sakura masih menolak merespon. Janji Shi bukan pertama kalinya ia dengar, jadi ia tidak lagi antusias. Ia memilih pergi menjauh tanpa mengatakan apa pun, daripada lebih banyak mendengar atau berpikir apa yang akan terjadi dengan tunangannya di kamar mandi bersama Ino.

Shi tidak mengejarnya, melainkan terdengar bunyi suara pintu, yang berarti dia lebih memilih Ino

'Apa yang aku pikirkan? Ini bukan pertama kalinya. Harusnya aku sudah terbiasa, tapi ... setiap kali mereka bersama ... menunjukan cinta mereka ... aku merasa tidak ada celah untukku?'

Sakura menghela napas panjang.

Drrt! Drrt! Drrt!

"Hm?"

Ponselnya bergetar.

Dari: Naruto

Jangan pulang malam-malam, hey! Ada pesawat yang harus kita kejar~

Membaca pesan dari Naruto memunculkan senyum kecil di bibir Sakura tanpa sadar. Ia dapat mendengar suara berat dia bernada jahil dari tulisan saja.

Drrt! Drrt! Drrt!

Pesan lain.

Dari: Naruto

Ah ... kalau kau tidak pulang, maka aku pun juga~

Memangnya enak tidur memeluk guling yang dingin~?

Sakura tertawa kecil.

'Dasar.'

Sejak dulu, Naruto tidak pernah tidur sendirian, Sakura tahu itu, ia yakin dia sudah mengincar wanita seksi di bar untuk menghabiskan malam panjang bersama.

'Sendirian ...'

Tiba-tiba muncul ide di kepala Sakura, dan ia tidak menolak ide tersebut meskipun berhubungan dengan Naruto. Ia mengetik balasan dengan antusias.

Untuk: Naruto

Hey, pria sok keren. Jangan banyak berbohong~

Aku tahu kau terlalu dalam. Kebohongan mu tidak ada gunanya.

Daripada terus menggoda. Aku mau bertanya dengan segala kehormatan ku.

Apakah tawaranmu masih ada?

'Dan kirim.'

Sakura tertawa lagi selesai mengirimnya, langkah kakinya yang tadi lambat dan lesu berubah kuat tanpa disadarinya.

Drrt! Drrt! Drrt!

'Oh, cepat sekali.'

Sakura mengecek balasan dari Naruto dengan senyum kecil di bibirnya.

Dari: Naruto

Ya.

Mata Sakura melebar tidak percaya, jari jempolnya menggeser layar ponselnya ke bawah mengharapkan ada perkataan lain, nyatanya tidak ada!

'Apa? Dasar lelaki sok.'

Meskipun mengeluh, Sakura tertawa kecil lagi yang membuat wanita asing mulai bertanya apakah ia gila tertawa sendiri.

Jelas sudah.

Ia akan makan dan minum banyak malam ini~!

Naruto meneguk canggung air di gelasnya hingga menyisakan batu es berbentuk kotak saja. Ia melirik wanita yang belum lama ini menjadi istrinya dengan tatapan tak percaya.

Pipi tirus Sakura yang telah bersemu merah bukan lagi efek blush on menandakan dia mulai mabuk, namun tidak ada tanda-tanda dia akan berhenti minum, tangan kurusnya terus mengisi gelas dengan alkohol.

Naruto sebetulnya tidak mau menjadi sopir 'pribadi' Sakura malam ini, namun karena ini perayaan dia naik pangkat jadi Manajer, ia cuma mampu mengeluarkan protes kecil dari bibirnya.

Sakura bahkan terus saja mengisi gelas Naruto dengan alkohol, meski beberapa kali ia mengganti dengan gelas baru sebagai bentuk penolakan halus.

Sayangnya, kata penolakan sangat sensitif malam ini.

Sakura mencibir penolakan Naruto, menyinggung untuk tidak seperti Shi. Ia ingin diprioritaskan sebagai nomor satu di perayaan ini.

Naruto tidak bergeming awalnya, terus mengganti gelas alkohol dengan air putih, namun sindiran Sakura yang tiada hentinya membuatnya kesal, alhasil ia pun minum, bedanya ia minum sampanye yang tidak memiliki kadar alkohol terlalu tinggi.

Sampanye yang diminum Naruto pun lebih murah, ia berhemat di sini dikarenakan Sakura memesan anggur merah paling mahal di klub malam.

'Kenapa aku harus menawari mentraktir dia juga?'

Naruto mengeluh melihat Sakura mengangkat gelas yang kosong di genggaman tangan kanan dia, meminta bartender mengisi penuh lagi. Ia merenung atas sikapnya tadi.

'Dia bersedih pun bukan urusanku. Kami menikah juga karena dia tidak bisa menahan diri dari pancingan Ino.'

Naruto melipat tangan di dadanya, tidak habis pikir dengan pemikirannya. Ia adalah sahabat kecil Sakura, apa yang dilakukannya tadi adalah bentuk dari kepeduliannya sebagai sahabat.

'Ino, dia pikir dia bisa mengontrol ku? Hah.'

Naruto teringat alasan lain selain pergi ke klub malam menghabiskan pesta lajangnya yang 'telat'. Ia berniat menghilangkan rasa kesal di hatinya terhadap Ino, tapi kedatangan Sakura yang tiba-tiba membuat rencananya berantakan termasuk penari telanjang yang dipesannya.

'Penari ...!'

Naruto sontak bangkit dari duduknya teringat berapa banyak dollar yang telah dikeluarkannya demi menyewa penari striptis.

Sakura yang berniat minum menurunkan gelasnya ke atas meja, menoleh ke arah Naruto yang terlihat syok? "Ada apa?"

Naruto mengeluarkan helaan napas gusar mendapat pertanyaan dari wanita yang telah mengacaukan rencananya, "Kau tidak apa-apa aku tinggal sebentar, kan?"

"Kau mau ke mana memangnya ...?" Sakura bertanya kikuk melihat tubuh tegap Naruto tampak berbayang-bayang di pantulan mata sayunya.

"Kau tahu awalnya aku ke sini untuk merayakan pesta 'lajang'-ku, bukan?" Naruto bertanya setenang mungkin.

Sakura terkesiap, sebelum mengeluarkan komentar pedas, "Kau sungguh akan pergi demi penari-penari murahan itu? Meskipun ada aku di sampingmu?"

Naruto tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan pedas Sakura. Apa hubungannya dia dengan penari striptis yang disewanya coba? "Aku menghabiskan dua puluh ribu dollar, Nona Haruno. Kau tahu aku tidak suka menyia-nyiakan uang yang aku hamburin."

Lagipula menonton Sakura mabuk sangat membosankan.

"Oh begitu~?"

Naruto mengangguk dengan polosnya, "Kau bisa memesan juga kalau mau."

"Apakah aku terlihat seperti itu?"

"Eh?" Naruto membuka matanya, dan menyadari Sakura tidak lagi berada di seberangnya melainkan dihadapannya.

Mata mereka saling beradu pandang dalam diam.

Naruto sendiri kebingungan, tatapan mata Sakura sayu, namun tajam seakan tidak suka ide ia bersenang-senang tanpa dia. Ia tidak ada maksud berbangga diri, namun ketika kedua tangan dia terulur untuk menyentuh bahunya, kemudian menekan kuat di sana supaya ia duduk, ia tahu dugaannya benar, "Aku sudah bilang jangan minum banyak," ia memprotes lagi sambil mematuhi kemauan dia tanpa melawan, duduk dengan kedua tangan terlipat di dada.

"Aku sadar kok."

Naruto memutar bola matanya. Arah tatapan mata Sakura tidak tertuju padanya melainkan kursi di sebelahnya yang kosong, bagaimana ia bisa percaya? "Aku akan meminta Sh—"

"Jangan kau berani menyelesaikan nama laknat itu, Naruto!" Sakura membentak dengan jari telunjuk masih ke arah kursi kosong di sebelah Naruto.