"hah... Kenapa jadi begini...'

Naruto menghela nafas pelan saat ia mengingat kejadian saat pertukaran tempat duduk. Orang lain mungkin akan senang karena bisa duduk bersebelahan dengan dua perempuan paling populer di sekolah, tapi bagi dirinya itu hanya membuatnya sakit kepala. Bayangkan saja baru semenit setelah pertukaran tempat duduk selesai diputuskan, ia langsung menerima tatapan tajam dari hampir seluruh siswa laki-laki di kelasnya, ia yakin jika tatapan seseorang bisa membunuh, ia sudah mati puluhan kali.

Naruto menghela nafas sekali lagi dan kembali menatap vanding machine didepannya, ia memutuskan untuk melupakan kejadian sebelumnya dan menengak sekaleng kopi, ia butuh kafein untuk membuat moodnya kembali seperti semula. Setelah memasukkan koin dan memilih merk kopi tertentu, ia langsung menengaknya sedikit.

"Puhaa... Nikmatnya..."

"Heh~ apa itu seenak itu?"

Naruto yang baru saja menikmati kopi miliknya tiba-tiba berhenti saat ia mendengar suara dari sebelahnya dan ketika ia menoleh kearah asal suara seketika ekspresi Naruto menjadi sedikit pucat, bagaimana tidak? Tepat disebelahnya, Arcueid melirik kearahnya dengan senyuman tipis yang memikat.

"Yo, kita bertemu lagi, Uzumaki."

"A-Ah, ya..."

Naruto menganggu kecil dan tersenyum pahit dalam hatinya, demi tuhan, kenapa dari segala tempat yang ada di sekolah ini, dari sekian banyaknya orang yang ada di sekolah ini, kenapa ia harus bertemu dengan Arcueid di tempat ini? Apa ini? Apa seseorang sedang berusaha membuat dirinya stress berat dan akhirnya stroke karena tekanan mental yang semakin memburuk? Naruto menyesap kopi miliknya dan memutuskan untuk segera meninggalkan Arcueid yang menatap Vanding machine, sepertinya ia bingung memilih minuman mana yang akan ambil.

"hmm~ ini sulit, stroberi atau anggur? Yang mana yang enak... Hey, Uzumaki."

"Y-Ya?"

"apa kau punya rekomendasi minuman apa yang enak?"

"A-Aku rasa Stroberi, mungkin?"

"Stroberi ya..."

Naruto meringis dalam hati melihat reaksi Arcueid yang nampak terlihat bosan, ia harus cepat pergi dari sini! Naruto kembali menyesap kopi miliknya sampai habis, ia tidak ingin berlama-lama ditempat ini, semakin lama ia bersama Arcueid semakin besar kemungkinan masalah akan mendatanginya, Naruto melempar kaleng kopi yang sudah habis lalu dengan cepat ia menarik diri.

"Brunestud-san, maaf, tapi aku kembali ke kelas lebih dulu."

"Eh? Ah, ya... Sampai nanti Uzumaki."

Setelah mendapat balasan yang terlihat sedikit bingung dari Arcueid, Naruto langsung bergegas pergi, namun ketika ia mengambil langkah ketiga, ia tiba-tiba mendengar suara decitan dan gumaman yang tak ubahnya sebuah bisikkan.

"dasar nerd..."

Naruto menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang yang ia yakin merupakan asal suara tadi, tapi yang ia lihat hanya punggung Arcueid yang melihat Vanding Machine dengan bingung. Naruto menaikkan alisnya dengan bingung sebelum ia mengangkat bahu.

'mungkin aku salah dengar...'

Ia membatin sebelum melanjutkan langkahnya tanpa menyadari jika Arcueid menatap punggungnya dengan tatapan dingin.

-Change Scene-

Pelajaran telah selesai, bel sekolah yang menandakan jam pulang sekolah telah berbunyi, para siswa segera membereskan barang mereka dan bergegas untuk meninggalkan sekolah, tak terkecuali Naruto, yang membereskan peralatan belajarnya dengan ekspresi lelah, tidak ada cahaya diwajahnya, ia terlihat lemas dan lesu, bagaimana tidak? Ia sejak melarikan diri dari Arcueid dan kembali kekelas, ia mendapati bisikkan yang tidak mengenakkan tentang dirinya yang disebut sebagai bajingan yang beruntung karena mendapati dua orang dewi berada di kedua sisinya, Naruto tersenyum pahit, ingin sekali ia berteriak.

'jika kalian mau aku akan memberikan kalian tempat dudukku! Agaknya tolong bertukarlah denganku!'

Naruto menghela nafas pelan, tidak ada gunanya mengatakan hal itu sekarang, ia memasukkan buku teks miliknya dan segera menggendong tasnya, teman sekelasnya sudah meninggalkan kelas sejak tadi, Naruto sengaja tinggal dibelakang sebab ia tahu jika ia pergi bersama siswa yang lain ia akan mendapati ejekkan dan hinaan yang diarahkan padanya, Naruto menghela nafas sekali lagi dalam hatinya dan pergi meninggalkan kelas, saat ia berjalan menuju gerbang sekolah, dari kejauhan ia melihat sosok perempuan bersurai putih keperakan yang terkuncir rapi sedang bersandar pada gerbang sekolah sambil membaca sebuah buku, suasana disekitarnya terlihat tenang dan damai, orang mungkin akan terlihat tenang saat melihat perempuan itu, namun bagi Naruto yang melihat perempuan itu, ia hanya bisa merasakan masalah besar akan datang menghantam wajahnya, Naruto memutuskan untuk pura-pura tidak melihat perempuan itu dan berjalan melewatinya.

'Aku angin, Aku udara, Aku oksigen, Aku Karbondioksida!'

Naruto terus bergumam dalam hatinya, berharap Perempuan itu akan mengabaikan keberadaan, namun seakan tuhan tidak ingin hambanya yang satu itu mendapatkan ketenangan pikiran, saat Naruto baru selangkah melewatinya, perempuan itu membuka mulutnya.

"Selamat Sore, Uzumaki-san..."

'sialan...'

Naruto merutuk dalam hatinya, tidak bisakah kau mengabaikan keberadaanku? Aku sedang mencoba menjadi udara disini! Naruto mengumpat dalam hatinya dan dengan kikuk menoleh kearah perempuan itu, ia mencoba yang terbaik untuk tersenyum namun yang terlihat diwajahnya hanyalah senyuman kikuk yang terlihat aneh.

"Se-Selamat Sore, Grayfia-san..."

"berusaha mengabaikan teman sekelasmu, itu tidakkan yang tidak sopan, Uzumaki-san."

'jadi kau tahu, huh...'

Sebulir keringat meluncur bebas dari pelipis Naruto. Ia mencoba yang terbaik untuk membalas perkataan Grayfia.

"Aku tidak mencoba mengabaikanmu, Grayfia-san, hanya saja aku harus pulang cepat karena ada sesuatu yang harus aku lakukan di rumah."

Ucap Naruto, Grayfia menatap Naruto sesaat sebelum ia membaca bukunya lagi.

"Begitu kah?"

"Ya, jadi aku permisi dulu, sampai jumpa lagi, Lucifuge-san."

"Ya, sampai jumpa lagi..."

Setelah mendengar itu Naruto segera berjalan cepat meninggalkan Grayfia, namun baru saja ia mengambil langkah keempat ia tiba-tiba mendengar suara gumaman yang sangat kecil namun masih bisa terdengar olehnya.

"sampah rendahan..."

Naruto berhenti sejenak lalu menoleh kebelakang dan melihat Grayfia masih membaca buku ditangannya dengan anggun, Naruto menaikan alisnya dengan bingung sebelum ia mengangkat bahu dan melanjutkan perjalanannya, ia sepertinya salah dengar, mungkin mentalnya telah menerima damage yang cukup parah dari teman-teman sekelasnya hingga ia mulai mendengar cemoohan dari orang-orang yang ia temui. Tanpa Naruto sadari Grayfia menatap dingin punggung Naruto dan terlihat ada sedikit rasa jijik di matanya, Grayfia menatap kepergian Naruto sampai tak terlihat lagi sebelum ia menutup buku ditangannya saat mendengar langkah kaki.

"bukankah aku sudah mengatakan berkali-kali untuk tidak menungguku lagi..."

Suara yang nampak tak senang membuat Grayfia melirik kearah samping, dan ia melihat Arcueid menatap kearahnya dengan tatapan tajam bercampur tak suka, sesuatu yang sangat jarang terlihat diwajah Arcueid. Grayfia melirik sekilas sebelum ia menatap kedepan.

"aku tidak menunggumu, aku sedang menunggu jemputanku, dia terlambat hari ini."

"Oh? Benarkah? Sepertinya Supir dari Keluarga Lucifuge hanyalah supir kasta ketiga karena membuat ratu egois sepertimu menunggu disini."

Setelah Arcueid mengatakan itu, suasana tenang dan damai disekitar Grayfia mendadak berubah, Grayfia menoleh kearah Arcueid dan kali ini bukan tatapan lembut nan bersahabat yang terukir disana melainkan tatapan tajam, setajam es yang siap menusuk siapapun yang ia lihat.

"jaga ucapanmu, Brunestud."

"heh~ dan jika aku tidak mau? Apa yang akan kau lakukan, Lucifuge?"

Ucap Arcueid dengan senyuman mengejek. Keduanya saling bertukar tatapan tajam, suasana berat menyelimuti keduanya yang nampak membenci satu sama lain.

And Cut~

Ha'i, Phantom disini, apa kabar kalian semua? Kembali lagi dengan Author Gaje yang satu ini. Kemarin setelah lolos dari kematian, aku kembali membawakan kelanjutan dari fic yang satu ini.

Bagaimana? Membosankan bukan? Atau malah menarik? Aku tinggalkan kesan fic ini pada kalian, kalian pembacanya, jadi bagaimana kesan kalian pada fic ini, itu terserah kalian. Oh, aku lupa mengatakan, atau mungkin sudah? Ah, biarlah, aku membuat fic ini sebagai bahan untuk mengembalikan moodku dalam hal menulis, yang yah, kalian sudah melihat sendiri seberapa dropnya tulisanku sekarang, 4 tahun menghilang membuat tulisanku semakin memburuk, tapi aku ingin kalian memaklumi hal itu, aku sedang berusaha kembali menulis, dan fic ini ada sebagai jalan untuk aku kembali menulis lagi... Dan, oh! Aku lupa bilang kalau fic ini bukan fic panjang seperti fic-ficku yang lain, ini mungkin akan tamat dalam waktu dekat karena aku tidak memikirkan fic ini secara mendalam, jadi yah, nantikan saja bagaimana fic singkat ini akan berakhir!

Untuk para pembaca setiaku, aku cukup terharu melihat kalian masih menantikan Author nggak jelas sepertiku, itu membuatku serius untuk kembali menulis, setidaknya selama aku bernafas aku akan mencoba menulis terus, dan doakan agar aku bisa melanjutkan kembali seri ficku yang telah stuck untuk beberapa waktu belakangan ini, jadi tetap di tunggu ya!

Mungkin itu saja, Phantom Out!

Next Chapter: Minta Maaf!?