Title : Unclear Creature
Crossover : Naruto x DxD
Genre : Action, Romance, Humor (sedikit)
Rate : T - M (buat jaga-jaga buat kedepannya)
Warning : OC, OOC, Typo, Miss-Typo, Penulisan - Tanda baca ngaco, dan masih banyak kesalah yang lain.
.
.
.
.
Sona menangis di dalam hati apa ini akan menjadi akhir dari segalanya, akhir dari semua yang telah ia bangun bahkan sebelum dia menggapai apa yang di cita-citakan. Dia melirik kesahabat merahnya yang tengah bersusah payah menjaga kesadaran dirinya, memang tak bisa dipungkiri dari sekian pearage miliknya dan sahabat, hanya mereka berdua yang masih memilik kesadaran, berterimakasih-lah kepada darah murni mereka yang membuat tubuh mereka sedikit lebih kebal dibanding iblis reinkarnasi.
Sementara musuh mereka yakni kokabile hanya menatap mereka dengan pandangan merendahkan
"apa hanya ini yang kalian miliki? Mengecewakan! Tidak kusangka adik dari maou lucifer dan leviatan selemah ini"
Sona menatap ke asal suara tadi. 'Kokabiel' ia bersumapah tidak akan pernah memaafkan orang itu, meskipun ia juga tidak yakin apakah malaikat laknat itu akan meminta maaf. Ia melirik kearah pearegenya, yang sedang terkapar tak berdaya sungguh ia merasa telah gagal sebagai seorang raja, melihat para angotanya seperti ini entah mengapa membuat batinnya tersikisa, meskipun dia terkenal oleh orang-orang sebagai wanita dingin dan minim ekspresi namun sebenarnya dia adalah wanita yang hangat dan sangat peka terhadap sekitarnya, hanya saja otaknya yang selalu mengikuti apa kata logika membuatnya sulit mengekspresikan apa yang dia rasakan.
"Hahhh membosankan, sepertinya hanya sampai disini, anak-anak..." Kokabiel menghentiak perkataannya sambil memandang remeh kearah iblis-iblis kecil yang hampir tidak ada yang sadarkan diri setelah mengatakan itu Kokabiel menciptakan tombak cahaya dengan ukuran yang tidak main-main, sepertinya dia memang ingin segera mengakhiri mereka semua
"Bergembiralah, karena kalian akan menjadi pondasi awal lahir nya sebvah era baru"
'Apa ini akan menjadi akhir bagiku'
hanya dia dan Rias yang masih memiliki kesadaran, ia melirik Rias yang tengah tersenyum dengan tulus yang tersurat perpisahan, dia mencoba menguatkan dirinya dengan tersenyum dalam hati setidaknya dia sudah melakukan yang terbaik.
'Bukan, kau hanya ingin lari dari kenyataan' ucap sang rubah kepada sang tuan putri
'Tidak aku sudah benar-benar melalukannya, apa kau tidak lihat bagaimana aku sudah berjuang sekuat tenaga sampai saat'
'Yah kau benar Puteri, tapi sayangnya semua usaha yang kau katakan terbaik itu sudah musnah sekarang'
'Kau satu-satunya orang yang tidak menghargai usahaku' jawab rang Putri penuh amarah
'Bukannya aku tidak menghargai usahamu Putri, tapi apakah kau tidak malu'
Ujar sang rubah menggantungkan ucapannya
',kau berkata telah melakukan yang terbaik sambil berputus asa seperti ini' lanjut sang rubah yang membuat sang Putri terdiam memikirkan ucapannya
' Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku sudah berusaha semampuku bahkan melampaui batasanku'
'Teruslah berusaha Putri, sampai kakimu tak sanggup lagi untuk berpijak,tanganmu tak sanggup lagi menggapai apa yang ingin kau gapai,matamu tak sanggup lagi melihat dunia,dan ingat lah pada saat itu tiba aku akan datang menjadi kakimu untuk berpijak,menjadi tanganmu untuk menggapai apa yang selama ini ingin kau gapai,menjadi matamu untuk melihat bahwa semua yang telah kau lakukan tidaklah sia sia'?
'jadi bangkitlah! karena aku akan selalu bersamamu'
Entah kenapa cerita itu kembali terngiang dikepalanya, cerita tentang seorang putri yang mencoba melawan dunia bersama sahabatnya si rubah yang bijak, cerita yang selalu dibacakan oleh 'dia', seseorang yang telah mengajarinya banyak hal mulai dari yang sepele hingga hal yang terpenting, bahkan karna orang itu ia bisa menjadi seperti Sona yang sekarang.
Sona tertawa dalam hati hanya dengan mengingat cerita singkat itu tiba-tiba semangatnya untuk hidup kembali berkobar, jika saja orang itu ada disini mungkin dia akan memberikan ceramah yang panjang atau bahkan memukul pelan kening seperti yang sering orang itu lakukan ketika dia membuat kesalahan. Sona kembali mencoba bangkit perlahan mengabaikan rasa nyeri yang menjalar di seluruh tubuhnya, yah semuanya masih belum berakhir, dia akan terus berjuang seperti sang Putri dalam cerita itu yang tak pernah menyerah bagaimanapun situasinya.
Kokabiel yang telah selesai menciptakan sebuah tombak cahaya seukuran bus sekolah menyeringai keji melihat salah satu mangsanya ada yang kembali bangkit.
" Aku tidak mau mati! karna itu aku akan takkan menyerah!"
Sona mengepalkan tangannya mencoba mengatur kembali Mana milik nya yang tak beraturan, karna efek dari elemen suci milik malaikat jatuh itu.
'Sring'
Sebuah lingkaran sihir besar dengan corak khas Sitri muncul dibawah kaki Sona menyebar mengelilingi anggota pearegenya dan Rias, beberapa saat kemudian muncul kekkai tipis yang saking tipisnya hingga sebuah batu yang dilontarkan dari ketapelpun dapat menembusnya dengan mudah
"Aku akan terus berjuang! Walau kaki ku sudah tak sanggup lagi untuk berdiri, tanganku sudah tak mampu lagi tuk menggapai sesuatu. Aku akan terus berjuang, agar semua kerja kerasku selama ini tidak sia - sia, dan..."
"... agar kau mengakui ku dan menepaati janjimu! Rubah bodoh!!!!"
Meskipun tidak jelas untuk siapa kata - kata itu terlontar, namun semangat juang nya yang sudah padam kembali berkobar. Dan secar ajaib nya, kekkai yang serapuh kaca milik nya kembali bersinar dan terĺhat jauh lebih kokoh dari sebelum nya.
Di dalam hati nya Kokabiel tidak bisa untuk tidak terkesan melihat perjuangan iblis kecil yang ada di depan nya, meskipun berada dalam situasi yang jelas - jelas tidak ada kesempatan baginya untuk bertahan dari pertemupuran yang sejak awal memang mustahil untuk dia menangkan.
Tapi, dengan sisa Mana dan tenaga yang dia miliki, meskipun ia tahu itu tidaklah berguna, dia tetap maju dan menolak kematian dengan seluruh hal yang ia punya.
"Baka!! dari pada membuang sisa tenaga hanya untuk membuat kekkai ini, lebih baik kau gunakan untuk lari dengan sihir teleportasi mu," ujar Rias dengan panik saat meilhat sahabatnya dengan mati-mati membuat kekkai.
Bukannya ia tidak menghargai usaha !sahabat nya itu, hanya saja ia berharap bahwa setidaknya sahabat nya itu bisa bersikap egois dan pergi meninggalkan tempat itu. Karna meskipun itu hanya satu orang, ia ingin ada orang yang selamat dari pertempuran ini, setidaknya itu bisa mengurangi sedikit rasa bersalah di hatinya. Karna bagaimanapun semua ini adalah salah nya, jika ia tidak ngotot untuk bertarung dan mengikuti rencana dari Sona semua ini tidak akan terjadi.
"Dari pada kau berkomentar yang tak penting lebih baik kau diam saja" jawab Sona dengan wajah kesal kepada sahabatnya ini, sungguh dia merasa usahanya benar-benar tak dihargai.
"Dan satu lagi! Jangan panggil aku baka, karna Aku tidak akan terima dipanggil bodoh oleh orang yang lebih bodoh dariku" jawab Sona dengan seringai mengejek di wajahnya.
"Kau mendapat respek dariku Sitri"
"Dan sebagai penghormatan atas aksi heroik mu ini, " Kokabiel menggantungkan ucapannya kemudian dia memadatkan tombak cahayanya yang sebesar bis tadi menjadi seukuran tombak pada umumnya, namun sialnya tombak itu memiliki intensitas yang lebih giĺa dari sebelum nya.
"Akan kubuat kalian mati tanpa rasa sakit"
'Wushh' Kokabiel langsung melesatkan tombak cahayanya
Sona sudah bersiap-siap dengan segala kemungkinan buruk yang terjadi, sementara Rias menutup matanya tak sanggup melihat kelanjutan terburuk dari skenario ini.
'Prang'
Seperti dugaannya Sona, Kekkainya tidak bisa menghentikan laju dari serangan Kokabiel.
Tombak cahaya itu terus maju mengincar tepat kearah Sona yang hanya bisa menatap tomabak yang tengah melesat kearahnya dengan pandangan menantang, tak ada sedikit pun ketakutan yang di pancarkan oleh matanya
'Hahh padahal aku masih berharap bisa bertemu dengan mu lagi di dunia ini, sekadar memastika bahwa kau masih hidup'
Gumam Sona sambil tetap menatap tombak yang semakin mendekat, berbeda dari yang tadi gumaman ini tidak terbesit sedikitpun ketakutan maupun keputusasaan, melainkan sebuah kerinduan besar yang telah ia pendam sejak lama yang entah kenapa rindu ini kembali memuncak disaat-saat seperti ini, tak terasa air mata perlahan keluar dari kelopak mata indah miliknya, dan senyum manis terukir dari bibir indahnya, kesadaran perlahan-lahan mulai meredup, ia menguras habis seluruh mana yang tersisa ditubuhnya untuk menciptakan kekkai tadi.
Yah, kali ini mungkin akan benar - benar menjadi akhir baginya, semoga saja keradaran nya menghilang sebelu tombak itu menghujam tubuhnya.
"Kau sudah berjuang dengan baik Sona"
Suara itu? Dia sangat mengenal suara itu, apakah suara itu miliknya? Dengan segenap kesadaran dan kekuatan yang tersisa Sona mencoba melihat sosok pemilik suara itu, meskipun pada akhirnya ia terjatuh dalam pelukan orang itu tanpa sempat melihat wajahnya.
"Mulai dari sini serahkan saja padaku Hime"
Tbc
yo selamat malam semua
buat yg masih inget ini gw
Platobaskom-sama.
tentunya dengan akun baru,
tadinya gw mau lanjutin cerita ini, tapi karena gw lupa email sma sandi gw yang dulu, maklum lah udah 3 thn gw gk buka fanfic
Jdi terpaksa gw mulai dari awal lagi,
sekalian gw pindahin fandom nya kesinï biar lebih rame,
ok sekian buat minggu ini
