Title : Unclear Creature
Crossover : Naruto x DxD
Chapter 2
Sejak kecil Rias memiliki kehidupan yang bisa dibilang sempurna, dia di anugrahi kecantikan, kekayaan, bakat seorang iblis murni dan kekuasaan. Sejauh ini hidup nya selalu mudah, apa yang dia inginkan selalu ia dapatkan, dan jika ia mendapati suatu masalah ia selalu bisa menemukan jalan keluar nya.
Namum pada saat ini, untuk pertama kali dalam hidup nya, ia merasa tidak berguna. Semua hal yang dia miliki, kekuatan, kecerdasan, dan para pearege kesayangannya tidak mampu berbuat apa - apa, dan dia benci akan hal itu.
Dia sangat benci ketika tidak bisa berbuat apa - apa, dia sangat benci berada dalam kondisi tidak berdaya.
'Aku sangat pengecut'
Ia bahkan tidak memiliki keberanian untuk melihat datang nya kematian, ia menyerah begitu cepat disaat sahabatnya berjuang hingga akhir untuk melindungi mereka.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, dan rasa sakitnya kematian belum juga ia rasakan. Mungkinkah Sona berhasil menghentikan serangan Kokabiel? atau mungkin ia sudah mati tanpa disadari?
Rias membuka matanya perlahan dan...
"Ehh?"
Betapa terkejut ia melihat apa yang terjadi di depan nya. Sosok mahluk astral raksasa sedang menahan tombak cahaya Kokabiel dengan sebelah tangannya, dan di dalam tubuh mahluk astral itu nampak seseorang bertopeng yang sedang membenamkan Sona dalam pelukannya.
Rias mengerutkan kening nya memikirkan apa yang sebenarnya terjadi? dan siapa orang itu? apakah ia adalah musuh? atau mungkin sekutu? dalam hati kecilnya ia berharap semoga saja orang itu datang untuk menolong mereka. Karena jika bukan, sudah tidak ada lagi kesempatan bagi mereka.
.
.
.
Naruto sang pria bertopeng yang baru saja menghentikan serangan Kokabiel, menatap Iblis yang ada di pangkuannya dengam lembut, hampir saja ia terlambat menyelamatkan teman masa kecil nya ini.
Jika bukan karena kekkai yang Sona ciptakan, mungkin saat ini temanya sudah lenyap menjadi abu. Meskipun kekkai nya hanya bertahan selama beberapa detik, itu cukup memberi Naruto,waktu untuk mengaktifkan Sihirnya
"Kau...!"
Topeng yang familiar, dan sihir langka yang hanya satu orang yang ia ketahui dapat menggunakan nya, tanpa perlu bertanya lagi, Kokabiel sudah tahu siapa orang yang sudah berani mengganggu nya.
"Ossan! berikan aku sedikit waktu"
Tanpa menunggu tanggapan Kokabiel, Naruto berjalan menjauh sambil membawa Sona dalam pankuannya.
"Kurama, cari healer terbaik di antara mereka"
'Baik tuan' Suara robotik yang menggema dari balik topeng nya.
Topeng yang Naruto gunakan sejatinya adalah sebuah alat yang Naruto ciptakan dengan sebuah kecerdasan buatan bernama 'Kurama' didalamnya, untuk membantunya dalam menganalisis situasi pertempuran, dan memberikan berbagai opsi bila di perlukan.
'Gadis berambut pirang di ujung sana memiliki Secread Gear tipe penyembuhan yang cukup kuat Tuan'
"Bagaimana kodisinya?"
'Ia hanya mengalami syok, sedikit rangsangan pada otak akan membangunkannya'
"Analisis kondisi iblis yang lain.Hitung kerusakan mereka, dan buatkan daftar berdasarkan prioritas"
'Baik tuan'
Rias menatap Naruto yang berjalan ke arah nya dengan penuh kewaspadaan.
"A-apa yang akan kau lakukan?"
Tanya Rias saat melihat Naruto berjalan mendekati Asia.
Namun Naruto mengabaikannya seolah itu hanya angin lalu.
"Hei! jangan abaikan aku!!!"
Naruto menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Rias. Mata merah darahnya menatap gadis itu dengan menambahkan sedikit aura intimidasi.
"Diamlah! kau berisik sekali, aku sedang mencoba menolong temanmu!"
Tanpa memperhatikan respon dari Rias, Naruto meletakan Sona dengan sangat hati - hati di samping Asia. Naruto menyentuh dahi Asia dengan telunjuknya, dan dengan sedikit aliran mana dia memberikan sedikit serangan kejut otak padanya.
"Uwaaa!!!" Asia berteriak kaget merasakan sedikit setruman kecil pada kepala nya, di tambah melihat sosok asing yang sedang berjongkok di sampingnya.
"Berisik bodoh!!"
"Ma-maafkan aku err-tuan" Asia menundukan kepalanya sebagai permintaan maaf.
'Gadis yang terlalu polos' entah mengapa gadis sepolos ini bisa menjadi iblis, dia adalah tipe orang yang akan menjadi beban terbesar dalam sebuah pertempuran nyata. Meskipun memiliki kemampuan penyembuhan, itu tidak sebanding dengan kerugian yang di dapatkan.
'Iblis bodoh' pikir Naruto melihat Asia yang masih menundukan kepalanya, sambil sesekali mencuri curi pandangan padanya. Rias yang melihat salah satu pearege nya di bully di hadapannya merasa tidak terima. Namun kengerian yang Naruto berikan tadi masih terbayang di kepalanya, dan disamping itu ia ingin percaya bahwa orang itu memang datang untuk menolong mereka.
"Angkat kepalamu! dan cepat sembuhkan dia!" Naruto berkata sambil menunjuk Sona yang sedang berbaring tak sadarkan diri.
"Eh, Kaicho-san!!"
"Dia kehabisan mana, dan menderita beberapa luka dalam. Jika tidak segera ditangani mungkin akan sangat berbahaya"
"Ba-baik serahkan padaku" meskipun tidak memahami apa yang sebenarna terjadi, dengan sigap Asia melakukan pengobatan pada Sona. Karena baginya hanya ini yang bisa ia lakukan untuk menolong teman - temannya.
Naruto pergi tanpa mengatakan apapun, tugas pertamanya sudah selesai.
"Sekarang tinggal menghentikan orang itu"
Dengan Sharingan miliknya Naruto menatap tajam Kokabil yang sedari tadi diam memperhatikannya.
"Oi, Iblis merah! apa kau masih bisa bergerak?" Tanya Naruto yang entah sejak kapan sudah berdiri disampingnya.
"Jika hanya bergerak mungkin masih bisa, Tapi aku sudah hampir kehabisan mana"
"Bagus! kalau begitu pindahkan semua orang ke sana!" Naruto menunjuk kesalah satu sudut paling jauh dari posisi mereka, dimana disana ada Asia yang sedang menyembuhkan Sona
"Hah!!! apa kau bercanda? bukankah sudah ku bilang Mana ku hampir tidak tersisa"
"Tentu saja tidak bodoh! lagi pula siapa yang menyuruh mu memindahkan mereka dengan sihir!"
Kening Rias berdenyut menerima perintah orang ini. apakah maksudnya dia menyuruh nya menggendong semua orang satu-persatu?
"Jangan pasang wajah kesal seperti itu! dalam pertarungan nanti aku tidak bisa menjamin kalian tidak terkena serangan nyasar"
Orang ini ada benarnya, dengan posisi teman - temannya yang tersebar besar kemungkinan aka ada muntahan serangan nyasar yang menghantam mereka. Tapi jika mereka masih berada dihalaman sekolah bukankah kemungkinan itu masih ada? bahkan akan jauh lebih beresiko, karena satu serangan saja akan langsung membinasakan mereka semua?
"Ini," Naruto melemparkan sebuah remot kecil pada Rias
"Benda apa ini?"
Rias memperhatikan benda yang orang itu berikan padanya.
"Jika kau sudah mengumpulkan semua orang tekan tombol berwarna hijau, dan jika aku kalah tekan tombol berwarna merah. Apa kau mengerti?"
"Tentu saja! aku ini tidak bodoh, tapi apa gunanya benda ini"
"Lakukan saja apa yang aku perintahkan jika kau ingin selamat"
Setelah mengatakan itu Naruto mengeluarkan sepasang sayap hitam dan terbang meninggalkan Rias yang sepertinya sedang mengumpat nya dengan ribuan umpatan. Yah, dia tidak terlalu peduli juga. Lagi pula masih ada hal yang lebih penting harus ia lakukan.
.
.
.
"Kau sudah selesai dengan urusanmu?" Tanya Kokabiel
"Ya, maaf membuatmu menunggu"
"Tidak apa, lagi pula aku ingin melihat potensi penuhmu. Jadi bisakah kita mulai?"
Kokabiel menciptakan dua buah pedang cahaya di kedua tangannya, dan mulai memasang kuda - kuda nya.
"Sebelum itu, Ossan mengapa kau melakukan ini?"
Itu adalah sebuah pertanyaan yang selalu mengganya sejak menerima tugas ini. Naruto mengenal Kokabiel sejak pertama kali ia datang ke Grigori, dan sejauh yang ia tahu Kokabiel bukanlah orang bodoh penggila pertarungan. Sebaliknya, Kokabiel adalah sosok yang cinta damai. Terlebih lagi kecintaannya pada manusia membuatnya membenci segala macam pertikaian yang bisa membuat manusia terlibat.
"Ini sangat bertolak belakang dengan kepribadianmu Ossan"
Kokabiel menatap Naruto, bocah yang Azazel pungut 10 tahun yang lalu. seorang bocah dari Ras incubus yang selalu ia pertanyakan keberadaan nya, perasaan aneh yang ia rasakan saat pertemuan pertama dengan bocah ini, ia masih ingat tatapan kosong yang menggambarkan kesedihan, rasa putus asa, dan amarah yang entah kepada siapa harus di tumpahkan, tatapan yang seharusnya tidak dimiliki oleh anak seusianya.
Dan kini bocah itu telah tumbuh menjadi pemuda yang kuat, dan tidak akan mudah dikalahkan lagi oleh dunia. Ada sedikit perasaan bangga yang Kokabiel rasakan pada anak ini. Kokabiel adalah salah satu instruktur yang di tunjuk oleh Azazel untuk melatih Naruto kecil dan seorang bocah yang menjadi host dari Hakuryuu Albion.
Dan setelah 10tahun berlalu, secara perlahan Kokabiel merasakan kedekatan emosional pada dua orang muridnya itu. Karena itu Kokabiel membiarkan Naruto menolong para iblis itu, karena ia ingin bertaruñg dengan Naruto dalam performa terbaiknya, dan melihat mampukah ia bertahan dari bencana yang akan terjadi di masa depan.
"Mengapa? Karena aku mengetahui apa yang tiak kau ketahui Naruto..."
"Apa yang tidak aku ketahui? Jangan bodoh Ossan!! kau tahu betapa rapuhnya dunia ini!!"
Benar, dunia yang mereka tempati adalah dunia yang rapuh. Sedikit saja ada percikan api itu akan menyulut kesegala arah dan membinasakannya. Andaikan perang antar Tiga fraksi pecah, itu akan menyebar ke dunia manusia. Dan pada akhirnya para mahluk suprantural ini akan meanfaatkan situasi ini, dan membuat semuanya semakin runyam.
"Aku tahu itu! karena itu aku melakukan ini, Dunia ini memang sangat rapuh Naruto.. Bahkan tanpa aku melakukan ini, cepat atau lambat dunia ini akan hancur dengan sendirnya!"
Naruto bisa merasakan rasa frustasi dari kata - kata Kokabiel. Naruto paham akan apa yang Kokabiel rasakan, hidup ribuan tahun melihat keruntuhan dunia ini tanpa bisa melakukan apa - apa. Bagi orang seperti Kokabiel itu adalah hal yang paling memuakkan. Tapi Naruto masih tidak mengerti alasan ia melakukan semua ini.
"Apa kau tahu Naruto, penyebab utama dari rapuhnya dunia ini? Itu adalah kita!!! para mahluk supranatural!"
"Keberadaan kitalah yang membuat dunia menjadi seperti ini!!!"
Sudah cukup. Naruto sudah tidak mengerti apa yang sebenarnya Kokabiel pikirkan. Kemana tujuan akhir yang ingin ia tuju, dan apa yang ingin ia capai. Naruto sudah tidak bisa mengerti lagi. Kalau begitu hanya satu hal lagi yang bisa Naruto lakukan untuk gurunya itu.
"Ossan! Aku mohon hentikan semua ini!"
"Bagaimana jika aku tidak mau?"
" Maka aku akan menghentikanmu dengan paksa!"
Seperti yang Kokabiel perkirakan, bocah ini tidak akan mengerti maksud dan tujuannya. Yah, lagi pula Naruto tidak tahu apa - apa tentang kebenaran dunia ini, dan oleh karena itu Kokabiel akan sedikit menunjukan bagaimana kejamnya dunia ini.
"Kalau begitu, Majulah Bocah!!!"
TBC
yö akhirn
