Misi hari ini telah selesai, bola kuasa yang tertawan telah kembali dan badut raksasa bernama Jugglenaut itu telah dikalahkan, berkat bantuan Fang dan Kapten Kaizo yang datang ketika teman-temannya hampir kehilangan kesempatan untuk menang.

Dan tentu saja, karena Halilintar.

Kini para anggota TAPOPS tengah beristirahat di kamar pesawat angkasanya masing-masing karena kelelahan.

"..Boboiboy.."

"Pstt.. Boboiboy"

"..Boboiboy, bangun"

"Engh?" Netranya perlahan terbuka, bayangan seseorang masih terlihat kabur di pandangannya.

"Boboiboy!"

"Eh? Ying?"

"Shhh..."

Gadis itu memberikan isyarat agar sahabatnya tidak mengeluarkan suara dan memintanya untuk mendekat.

Pemuda itu merasa kebingungan karena Ying tiba-tiba datang ke kamarnya dan mengendap-endap di tengah malam seperti ini. Tapi tetap ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu tempat gadis itu berada.

"Ada apa?" Langkahnya masih gontai, ia mengucek matanya khas orang bangun tidur. "Kenapa? Ada apa?"

"Ikut aku, a-aku ingin bicara.." Sahutnya, mencoba sebisa mungkin untuk tenang.

Pemuda itu melirik jam tangannya sekilas, garis yang melingkar di bawah matanya menjadi sebuah tanda nyata bahwa dirinya memang sedang kelelahan dan butuh istirahat.

"Ini sudah malam Ying, kita bicara lagi besok ya? Kau juga pasti kelelahan" Jawabnya seraya menguap.

Gadis itu menggeleng, ia menarik lengan Boboiboy dan menyeretnya keluar karena Gopal hampir terbangun.

"Eee-ehhh!"

Dan dengan terpaksa ia harus mengikutinya.

.

.

.

.

.

Disclaimer : Boboiboy Animonsta

Story by Drazilla

Warning(s) : One shot, romance, HalixYing, typos, etc

Enjoy!

.

.

.

.

.

"...Um, jadi?" Pemuda itu menggaruk pipinya yang tak gatal, tidak mengerti dengan pikiran sahabatnya yang satu ini. Kenapa ia membawanya ke bagian perpustakaan pesawat di tengah malam begini?

"Ying aku tau kita perlu belajar, tapi ini sudah-"

"Aku tidak mengajakmu belajar Boboiboy, ada... a-ada yang ingin aku katakan."

Jantungnya berdebar, Ying tak yakin apakah ia bisa mengatakannya..

Pemuda itu sedikit memiringkan kepalanya, menunggu Ying untuk berbicara.

"Katakan saja.." Ujarnya seraya tersenyum canggung.

Ying memalingkan wajahnya ke arah lain, pipinya bersemu merah.

"Aku.. aku ingin bertemu dengan H-Halilintar.."

"Eh?"

.

.

.

.

.

Sudah bertahun-tahun, ia mengagumi sosok lain Boboiboy yang hanya keluar sesekali. Sosoknya yang sempat hilang dan membuatnya sedih karena takut tidak bisa bertemu dan melihatnya lagi. Dan karena kejadian hari ini, Halilintar akhirnya kembali muncul setelah sekian lama.

"Jadi?"

Sahabat bertopi oranye-nya kini telah berubah wujud menjadi seorang pemuda berartribut serba merah. Sorot mata yang lembut dan bersahabat kini berubah menjadi dingin dan tajam.

Boboiboy berhasil mengeluarkan elemental tingkat keduanya, Halilintar.

"Kau tahu kan aku lelah. Aku harus istirahat. Jangan lama-lama."

Ying meneguk ludah, ia tersenyum gugup pada pemuda yang tengah menyilangkan tangannya di atas dada itu.

"..Ah, H-Halilintar.. um, apa kabar?" Sapanya gugup, kata-kata yang sudah ia persiapkan selama ini hilang begitu saja karena perasaan campur aduk yang bergemuruh di dalam hatinya.

Apa kabar?

Aduh. Pertanyaan bodoh!

Pemuda itu terlihat bingung, "..begitulah..?"

Sahut Halilintar singkat, sebenarnya tidak mengerti maksud pertanyaan basa-basi Ying itu. Ia memandang keluar jendela pesawat dan menikmati batu-batuan angkasa yang di lewatinya.

"Maaf aku membangunkanmu di tengah malam begini"

"Hm"

Ying menggigit bibir bawahnya. Merasa tidak berdaya dan hanya bisa berdiam seribu bahasa di hadapan laki-laki ini.

Keheningan cukup lama menyelimuti mereka, Ying kehilangan kata-kata.

"Jika tidak ada yang ingin di katakan,-"

"S-sebentar!"

Baru saja ia akan kembali ke sosok aslinya, Ying membatalkan niatnya.

"A-aku menyukaimu, Halilintar!"

Sebelah alisnya terangkat, keningnya berkerut bingung

"Aku tau ini bodoh.. t-tapi aku benar-benar menyukaimu. A-aku juga tidak mengerti.. t-tapi ugh!"

Gadis itu menjatuhkan dirinya di atas sofa dan menekuk kaki, mencoba untuk menyembunyikan rona di wajahnya.

Halilintar belum berkomentar, ia hanya memperhatikan Ying.

"Aku sudah menyukaimu sejak lama, sejak pertama kali kau keluar, saat kita masih di sekolah dasar.." ungkapnya. Gadis itu masih belum mau mendongkak dan memilih untuk bersembunyi di balik lengannya.

Ia menyukainya, mengagumi salah satu persona Boboiboy yang satu ini, lebih dari seorang teman.

Dulu ia sering melihatnya, ketika Boboiboy berpecah untuk bertarung melawan musuh.

Dan hanya dengan melihatnya saja ia sudah senang, tidak ada alasan khusus kenapa ia bisa menyukai sosoknya yang satu ini. Padahal, dia juga Boboiboy kan?

Lalu kenapa jantungnya tidak berdegup kencang ketika melihat Boboiboy? Tapi kehilangan seribu bahasa saat bersama Halilintar? Apa itu masuk akal?

"Aku selalu menunggu saat-saat kau keluar. Ku pikir mengagumimu saja sudah cukup, tapi ternyata perasaanku padamu lebih dari perasaanku ke Boboiboy sendiri.." Ujar Ying pelan, ia menenggelamkan wajahnya yang semakin memerah.

Dan sejak pertarungan terakhir mereka, sejak rusaknya jam tangan kuasa Boboiboy, sejak itulah juga Ying tak pernah melihatnya lagi.

Jujur... ia sangat merindukan sosoknya dan sangat takut akan kemungkinan terburuk bahwa Halilintar tidak akan bisa kembali.

Dan pertempuran hari ini adalah titik awal kembalinya salah satu elemental yang terkuat. Ya, Halilintar.

Jika saja ia sudah kehilangan akal dan rasa malunya, ia pasti sudah berlari dan memeluknya dengan erat.

"Lalu..?" Sahut Halilintar dengan dingin, dan..

..bingung?

Gadis berkuncir itu merasakan adanya aliran listrik yang mengalir dan menyengat di dalam tubuh, darahnya berdesir dan jantungnya berdegup tak karuan. Membuat rona merah muncul kembali ke permukaan pipinya.

Ia tidak sanggup membalas tatapan Halilintar yang kini terlihat semakin tampan.

Sudah lama mereka tidak bertemu ..

"A-aku, tidak tahu. Aku j-juga.." suaranya keluar dengan terbata-bata, otaknya sibuk menyusun kata namun mulutnya terasa begitu berat untuk bicara.

Pemuda berartribut serba merah itu menunggu dengan sabar-masih melipat kedua tangannya sejajar dengan dada.

"Haaa.. oke aku menyerah!" Ying terlihat kesal, tentu saja kesal pada dirinya sendiri. Ia kembali menyembunyikan wajahnya, perasaannya benar-benar campur aduk.

Halilintar tidak merespon apa-apa, ia asik memperhatikan deretan buku yang terjejer rapi di rak perpusatakaan. Suara deru pesawat ruang angkasa yang terdengar bergemuruh menemani mereka.

Ying tahu meskipun Boboiboy merupakan seorang laki-laki yang lembut dan baik, tapi semua elementalnya memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Termasuk Halilintar.

Ia paham betul kalau elemental yang satu ini tidak banyak bicara. Biasanya ia hanya keluar untuk bertarung, kemudian kembali menjadi satu. Tidak banyak berinteraksi dengan orang lain. Termasuk dengannya.

Berbeda saat ia masih menjadi elemen tingkat satu, yakni Petir.

"Aku tahu pasti kau berpikir aku ini bodoh" gumam Ying pelan dari balik tangannya yang terlipat.

"Aku... hanya ingin kau tahu saja. Aku tidak minta apa-apa" sahut gadis itu masih dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Meski tentu saja kalimat yang keluar dari mulutnya didominasi oleh kebohongan. Jauh dalam hatinya, ia ingin lebih dari ini. Egonya berkata bahwa ia ingin-

..bersama Halilintar.

Anak laki-laki itu mendengus, ia menyapu wajahnya menggunakan telapak tangan yang terbungkus sarung tangan hitam.

"Kau tahu kan kalau aku ini tidak nyata?"

Deg

Ying terperangah, mendengar kalimat yang Halilintar tuturkan membuat hatinya berdenyut sakit.

Tentu saja ia tahu itu.

"Aku ini Boboiboy. Halilintar hanyalah nama panggilanku karena aku memiliki kekuatan ini" ia mengepal tangannya dengan erat, mengeluarkan desir aliran listrik berwarna merah pekat yang berkeliling di sekitar tangan dan tubuhnya. "Dan sikapku jadi terpengaruh karena kekuatan yang aku miliki" terangnya dengan suara pelan.

"Meski aneh rasanya saat aku berpecah, aku sadar bahwa aku ini satu, aku orang yang sama. Tapi saat yang bersamaan aku merasa... hidup di tubuh yang berbeda." Gumamnya, masih terpaku pada tangannya yang terkepal erat.

Ying menyimak dan mendengarkan Halilintar dengan seksama. Takjub karena baru kali ini ia mendengarnya berbicara banyak.

Halilintar berjalan mendekat ke arah jendela, memperhatikan bebatuan angkasa yang berterbangan pelan tanpa arah.

"..aku ingin hidup"

Sorot matanya meredup. Ada sebongkah kesedihan yang tertaut di sana.

"Aku bingung kenapa tiap kali berpecah aku selalu ingin berlama-lama mengendalikan tubuhku yang satu ini dengan bebas." Ujarnya. "Dan tiap kali aku kembali, aku merasa.. marah"

Tidak akan ada orang yang bisa mengerti bagaimana perasaanya saat ini, karena hanya dia satu-satunya manusia yang bisa berpecah menjadi tiga.. bahkan tujuh sekaligus.

Tidak akan ada yang bisa memahami bagaimana rasanya seperti terjebak, seperti hidup namun sebenarnya fana. Seperti terkunci dan terkekang namun ada gejolak dalam dirinya yang ingin memberontak keluar dan mencari kebebasan.

Padahal dia adalah orang yang sama.

Halilintar merasa konyol karena sudah menceritakan hal bodoh ini kepada Ying.

Dan sekarang ia mendapatkan sebuah pengakuan rasa dari temannya? Halilintar.. entahlah.. merasa bingung sekaligus heran. Bagaimana bisa?

Bagaimana bisa Ying menyukainya tapi tidak kepada Boboiboy

..yang jelas-jelas adalah dirinya?

atau mungkin.. setidaknya begitu yang ia tahu.

"Haha" Ia tertawa hambar.

Gadis bermata empat itu mengerjap beberapa kali. Masih asing melihat Halilintar yang berekspresi seperti itu.

"Sudahlah. Anggap saja aku tidak pernah bicara begitu."

Laki-laki itu kemudian berbalik, menatap Ying yang tengah terpaku memandang lantai di bawahnya dengan raut wajah.. entahlah? Sedih? Marah? Khawatir?

"Tapi, aku berterima kasih karena.. ya.. kau sudah"

Semburat merah muncul di pipinya, wajahnya terasa panas.

Kok dia jadi sulit bicara sih?

"Ya.. ehm. Sudah, menyukaiku"

Gumam Halilintar yang kembali berbalik menatap jendela raksasa, membelakangi Ying dengan telinga yang merona merah.

"Itu membuatku.. kau tahu, merasa.. benar-benar hidup"

Ying mendongak, pipinya ikut terbakar.

"Haaa aku bicara apa ya."

Halilintar mengurut keningnya karena merasa bingung dengan semua ini.

"Huh?"

Sebuah tangan menarik rompinya dari belakang, ia refleks berbalik dan mendapati Ying menunduk dengan mata yang berkaca-kaca.

"Aku tahu ini konyol. Tapi.." Ying mencoba mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan kata-katanya.

"Bolehkah aku menyukaimu terus seperti ini?" Suaranya bergetar, tidak berani mendongak dan menatap Halilintar. "Sampai... ya.. sampai mungkin kita bisa menemukan power sphera yang bisa membuatmu benar-benar hidup."

Halilintar terperangah.

"Kau tahu, menurutku kau bukan hanya sekedar elemental, atau kepingan lain dari Boboiboy" ujarnya. "Kau adalah Halilintar. Kau punya keperibadian, kau punya pikiran dan cara berpikirmu sendiri, kau punya emosi, kau punya perasaan, dan yang paling penting.."

"..kau punya keinginan."

Perlahan ia mulai memberanikan diri untuk membalas tatapan laki-laki itu.

"Menurutku.. kau memang hidup, Halilintar. Kau bukanlah sebuah ketiadaan. Kau nyata."

"..begitu juga.. dengan perasaanku.. untuk kamu. Itu bukan sebuah kesalahan, kan?"

Halilintar masih terpaku mendengar penuturan Ying. Kedua netra mereka terpaut cukup lama, menikmati waktu yang terkikis di antara keduanya.

Life is full of sweet mistakes

Tak lama kemudian, Halilintar menunduk, bibirnya melengkungkan senyum. "Begitu ya." Gumamnya.

And love's an honest one to make

"Kurasa kau benar."

Mungkin perasaan dan keinginannya selama ini bukanlah semata-mata milik Boboiboy, tapi memang perasaan dan keinginan yang tercipta karena dirinya sendiri.

Karena seorang Halilintar.

Time leaves no fruit on the tree

"Tentu saja boleh. Kau boleh menyukaiku selama apapun itu"

Tangannya meraih puncak kepala Ying, kemudian mengelusnya dengan lembut.

But you're gonna live forever in me

Keduanya tahu kalau mereka hanya sedang saling menghibur satu sama lain. Jika memang benar Halilintar adalah sebuah ketiadaan, dan semua yang mereka katakan adalah sebuah ketidakmungkinan,

Maka Ying benar. Perasaanya tidaklah salah.

I guarantee, it's just meant to be

Tidak ada yang tahu kepada siapa perasaan seseorang akan berlabuh.

Dan Halilintar,

Akan selamanya hidup

..dalam hatinya.

.

.

.

.

.

end

.

.

.

.

.

A/N

Heheheheheh halo semuanya ... apa kabar? Udah lama gak publish story di FFN... aku kangen.. :'

Senernya cerita ini udah jadi batu di draft, udah lama aku tulis dan tadinya gak niat aku publish, tapi setelah aku baca ulang dan aku perbaiki dikit ya akhirnya aku puruskan untuk up cerita ini. Terinspirasi dari Boboiboy Galaxy Eps 14 dimana pertama kali Halilintar muncul lagi. Maaf ya yang gak suka sama ship-shipan, aku masih gemes sama mereka soalnya. Oiya bait lagu yang aku tulis pasti udah pada tau kan. Yaps, lagunya John Mayer You're Gonna Live Forever in Me.

Oke segitu aja... terima kasih banyak untuk yang sudah menyempatkan baca..!

Salam hangat,
Drazilla